I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘galih sedayu

Warisan Leluhur Dunia Di Shirakawa-go

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Negara yang besar tentunya tak akan abai terhadap warisan budaya yang dimilikinya. Karena di sanalah sesungguhnya kita dapat menemukan jejak karya bangsa yang diciptakan oleh para leluhurnya. Shirakawa-go, salah satu desa bersejarah yang dimiliki oleh Negeri Matahari Terbit, Jepang adalah salah satunya. Rumah-rumah tradisional yang berusia sekitar 200 tahun telah menjadi saksi biksu bagi keberadaannya. Dengan ciri yang unik, yakni atap rumah yang membentuk segitiga sama kaki, terbuat dari jalinan jerami yang ditumpuk hingga tebal, menjadikan rumah dengan model yang disebut gassho-zukuri (tangan yang berdoa) itu menjadi magnet wisatawan dunia. Terletak di lembah Sungai Shogawa dan dikelilingi pegunungan, Shirakawa-go selalu mengalami musim dingin dengan hujan salju yang hebat. Letak persisnya berada di pegunungan Hakusan yang membentang dari prefektur Gifu hingga prefektur Yoyama. Dengan atap yang memiliki kemiringan sekitar 60 derajat itu, tumpukan salju tentunya akan cepat runtuh. Apalagi perancang rumah gassho-zukuri di masa lampau memang sangat memikirkan bentuk rumah dengan kondisi alam tersebur. Salah satunya adalah semua atap rumah di desa tersebur menghadap ke timur dan barat yang bertujuan agar salju yang menumpuk bisa segera mencair bila terkena sinar matahari. Karena atap menghadap arah matahari, semua ventilasi yang terletak di loteng mengarah ke selatan dan utara. Dengan begitu aliran udara dan angin bebas keluar masuk sehingga menciptakan sistem ventilasi yang terbaik. Seperti kebanyakan rumah tradisional Jepang lainnya, rumah gassho-zukuri menggunakan kayu. Uniknya, untuk menyatukan antara bagian satu dengan yang lain tidak satupun paku yang digunakan. Semua disatukan dengan tali yang terbuat dari jerami yang dijalin atau neso, istilah untuk menyebut cabang pohon yang dilunakkan. Pada tanggal 9 Desember 1995, UNESCO menetapkan rumah gassho-zukuri di Shirakawa-go dan Gokayama sebagai bagian dari Situs Kebudayaan Dunia. Shirakawa-go memiliki jumlah rumah bergaya gassho-zukuri terbanyak dibanding dengan dua desa bersejarah lainnya. Hingga saat ini, rumah-rumah gassho-zukuri ini masih digunakan sebagai tempat tinggal. Kuil Buddha, gubuk, itakura (gudang), Kuil Shinto, dan saluran air, adalah beberapa objek lain yang wajib dijaga dan dipertahankan. Bagi siapapun yang ingin melihat & belajar perihal kearifan bangsa Jepang, Shirakawa-go adalah tempatnya. Sebuah perkampungan kecil nan indah yang menawarkan perasaan syukur dan kebahagiaan.

Shirakawa-go, Jepang, 4 Februari 2018

***

A Great Country certainly will not ignore the cultural heritage it has. Because that’s where we can actually find traces of the works of the nation created by the ancestors. Shirakawa-go, one of the historic villages owned by the Land of the Rising Sun, Japan is one of them. Traditional houses of about 200 years have been a monk’s witness to its existence. With a unique feature, the roof of a house that forms an equilateral triangle, made of straw braids stacked to the thickness, making the house with a model called gassho-zukuri (praying hands) it becomes a magnet of world tourists. Located in the Shogawa River valley and surrounded by mountains, Shirakawa-go always experiences winter with great snowfall. The exact location is in the Hakusan mountains stretching from Gifu prefecture to Yoyama prefecture. With a roof that has a slope of about 60 degrees, the pile of snow will certainly quickly collapse. Moreover, the designer of gassho-zukuri house in the past is very thinking about the shape of the house with the natural conditions. One of them is all the roof of the house in the village facing east and west which aims to accumulate snow that can immediately melt when exposed to the sun. Because the roof is facing the sun, all the vents located in the attic are heading south and north. That way the air and wind flow freely in and out, creating the best ventilation system. Like most other traditional Japanese houses, gassho-zukuri houses use wood. Uniquely, to unite between one part with another none of the nails are used. All put together with a strap made of straw woven or neso, a term to refer to softened tree branches. On December 9, 1995, UNESCO designated gassho-zukuri houses in Shirakawa-go and Gokayama as part of the World Cultural Site. Shirakawa-go has the largest number of gassho-zukuri-style houses compared to two other historic villages. Until now, these gassho-zukuri houses are still used as shelter. Buddhist temples, huts, itakura (warehouse), Shinto Temple, and waterways, are some other objects that must be maintained and maintained. For anyone who wants to see & learn about Japanese wisdom, Shirakawa-go is the place. A small, beautiful village that offers a feeling of gratitude and happiness.

Shirakawa-go, Japan, February, 4, 2018

DSCF2855

DSCF2863

DSCF2906

DSCF2867

DSCF2869

DSCF2889

DSCF2895

DSCF2899

DSCF2908

DSCF2912

DSCF2917

DSCF2919

DSCF2924

DSCF2925

DSCF2938

DSCF2941

DSCF2953

DSCF2959

DSCF2962

DSCF2966

DSCF3005

DSCF3008

DSCF3029

DSCF3050

DSCF3053

DSCF3054

DSCF3070

DSCF3090

DSCF3091

DSCF3076

DSCF3092

DSCF3098

DSCF3100

DSCF3108

DSCF3115

DSCF3118

DSCF3122

DSCF3128

DSCF3141

DSCF3152

DSCF3197

DSCF3208

DSCF3220

DSCF3224

DSCF3241

DSCF3245

DSCF3252

DSCF3257

DSCF3259

DSCF3171

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Advertisements

Written by Admin

February 15, 2018 at 11:24 am

Sensasi Menyengat Bangkok

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

กรุงเทพมหานคร อมรรัตนโกสินทร์ มหินทรายุธยา มหาดิลกภพ นพรัตนราชธานีบูรีรมย์ อุดมราชนิเวศน์มหาสถาน อมรพิมานอวตารสถิต สักกะทัตติยวิษณุกรรมประสิทธิ์ (Krungthepmahanakhon Amonrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharatratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphimanawatansathit Sakkathattiyawitsanukamprasit). Kota Malaikat, Kota Besar Yang Abadi, Kota Megah Dari Sembilan Permata, Singgasana Raja, Kota Istana Kerajaan, Rumah Para Dewa Yang Berinkarnasi. Begitulah mereka menyebut Kota Bangkok yang merupakan ibukota Negara Thailand atau Negeri Gajah Putih ini. Kota yang dalam bahasa Thai disebut dengan Krung Thep Maha Nakhon ini memiliki populasi penduduk di atas 8 juta jiwa dengan luas area sekitar 1568,7 m². Kota yang rata-rata memiliki cuaca panas sepanjang tahun ini terkenal akan atmosfir jalanannya yang memikat para turis mancanegara. Dari mulai kuliner, budaya, fesyen, hingga kehidupan malamnya yang menjadi magnet setiap orang. Ribuan cerita bisa kita peroleh di sana. Pedagang kaki lima hampir menyerupai dekorasi yang menghiasi setiap sudut Kota Bangkok. Tuk Tuk atau “Sam Lor”, kendaraan roda tiga yang menyerupai bajaj kalau di Indonesia, merupakan transportasi khas di kota ini yang paling cocok untuk menghindari kemacetan. Pasar Chatuchak yang hanya buka setiap hari Sabtu & Minggu juga merupakan salah satu destinasi yang kerap dikunjungi oleh para pendatang. Kota yang murah & ramah adalah kesan yang saya dapatkan tatkala menginjakkan kaki di sana meski kadang kota ini terkesan berantakan. Dan saya pun baru menyadari betapa masyarakatnya sangat mencintai Sang Raja terutama Raja Bhumibol Adulyadej atau Raja Rama IX yang juga menyukai fotografi. Setelah Raja Bhumibol memimpin Thailand selama 60 tahun sejak tanggal 9 Juni 1946, ia pun wafat di usia 88 tahun pada tanggal 13 Oktober 2016. Selama satu tahun warga Thailand berduka atas kepergiannya. Saat ini tahta kerajaan digantikan oleh putranya yang bernama Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn. Ah…Momen singgah di Kota Bangkok memang sangat membekas di hati. Barangkali itupun yang menjadi alasan grup Band Rush menciptakan lagu A Passage To Bangkok. “We’re on the train to Bangkok. Aboard the Thailand Express. We’ll hit the stops along the way. We only stop for the best”.

Bangkok, 16 – 17 Desember 2016 ; 26 – 28 Oktober 2017 ; 15 – 20 November 2017

#47KaryaFoto

***

กรุงเทพมหานคร อมรรัตนโกสินทร์ มหินทรายุธยา มหาดิลกภพ นพรัตนราชธานีบูรีรมย์ อุดมราชนิเวศน์มหาสถาน อมรพิมานอวตารสถิต สักกะทัตติยวิษณุกรรมประสิทธิ์ (Krungthepmahanakhon Amonrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharatratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphimanawatansathit Sakkathattiyawitsanukamprasit). The City of Angels, The Immortal Great City, The Magnificent City Of The Nine Gems, The King’s Throne, The City Of The Royal Palace, The House Of The Incarnate Gods. That’s how they call the City of Bangkok which is the capital of the State of Thailand or the State of the White Elephant. The city is in Thai called Krung Thep Maha Nakhon has a population of over 8 million people with an area of ​​about 1568.7 m². The average city that has hot weather all the year is famous for its street atmosphere that attracts foreign tourists. From the start of culinary, culture, fashion, to the night life that became the magnet of everyone. Thousands of Stories we can get there. Street vendors almost resemble the decoration that adorns every corner of Bangkok City. Tuk Tuk or “Sam Lor”, a three-wheeled vehicle that resembles a bajaj if in Indonesia, is a typical transportation in this city is best suited to avoid traffic. Chatuchak market which is only open every Saturday & Sunday is also one of the destinations frequented by migrants. The cheap & friendly city is the impression I get when I set foot there although sometimes the city seems messy. And I just realized how much the people love the King especially King Bhumibol Adulyadej or King Rama IX who also love photography. After King Bhumibol led Thailand for 60 years from June 9, 1946, he died at the age of 88 on October 13, 2016. For one year the Thai citizens mourned his departure. Today the royal throne is replaced by his son, Crown Prince Maha Vajiralongkorn. Ah … The moment of transit in the city of Bangkok is very imprinted in the heart. Perhaps that’s why the Band Rush group created the song A Passage To Bangkok. “We’re on the train to Bangkok. Aboard the Thailand Express. We’ll hit the stops along the way. We only stop for the best “.

Bangkok, 16 – 17 December 2016 ; 26 – 28 October 2017 ; 15 – 20 November 2017

#47Photographs

DSCF9061

DSCF8418

IMG_4172_blog

IMG_4161_blog

IMG_4145_blog

DSCF7563

DSCF8214

IMG_4200_blog

DSCF8223

DSCF8226

IMG_4211_blog

DSCF8235

DSCF8402

DSCF8423

DSCF8428

IMG_4740_blog

DSCF8828

DSCF7752

DSCF7760

DSCF9492

DSCF9496

DSCF9483

DSCF9321

DSCF9329

DSCF9344

DSCF9351

DSCF9363

DSCF9389

DSCF9394

DSCF9411

DSCF7541

DSCF7546

DSCF7545

DSCF7575

DSCF7677

DSCF7669

DSCF7608

DSCF7946

DSCF7952

DSCF7953

DSCF9119

DSCF9174

DSCF9200

DSCF9203

DSCF9209

DSCF9188

DSCF9098

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 27, 2018 at 3:08 am

3 April 2016 : Baptism of Thalia

leave a comment »

pembaptisan thalia

3 April 2016.


Tepat hari ini putriku terkasih dibaptis.

Eleonora menjadi nama baptisnya yang abadi. Sehingga genaplah nama yang diberikan oleh mendiang Sang Ibu, “Eleonora Thalia Sedayu”.

Eleonora memiliki arti sinar atau terang. Dengan harapan agar sinarnya mengandung kehangatan sang ibu Christine Listya Sedayu.
Thalia memiliki arti tumbuh dengan baik serta sedayu memiliki arti siap sedia demi melakukan kebaikan.

Kiranya kelak thalia tumbuh dewasa sehingga menjadi terang bagi sesamanya & selalu mewartakan kebaikan bagi dunia.

Nak, imanmu lah kelak yang akan menjadikan dirimu manusia sesungguhnya. Perlakukanlah sesamamu dengan rasa adil. Jangan pernah melihat pribadi siapapun hanya dari suku, agama maupun status sosialnya.

Hadirkan lah empati dalam setiap detak jantung kehidupanmu. Niscaya hidupmu selalu penuh syukur dan bahagia.

Meski ibumu telah tiada, namun jangan pernah kuatir karna ayah akan selalu menjagamu dan akan selalu ada bersamamu dalam suka dan duka.

Spread your wings…thalia /m\

 

Written by Admin

December 24, 2017 at 4:11 am

Seruput Kehangatan Di Warung Kopi Asiang

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Jika kita berkesempatan mampir ke Kota Pontianak, “Warung Kopi Asiang” adalah salah satu kunjungan wajib terutama bagi para penggemar kopi nusantara. Berdiri sejak tahun 1958, warung ini diberi nama sesuai dengan nama pemilik warung & penyeduh kopinya yakni “Asiang”. Orangnya nyentrik, usianya sekitar 63 tahun, berbadan tinggi besar, berkepala plontos, mimiknya nyaris tanpa ekspresi, punya kebiasaan tidak mengenakan baju dan hanya bercelana pendek saja, serta tatonya tampak terlihat jelas di dada & lengan bahu kanannya. Jarang sekali kita melihat Pak Asiang beristirahat karena sibuk meladeni para pelanggan yang memesan kopi. Warung Kopi ini terletak di Jalan Merapi No.193 Pontianak. Buka setiap hari dari jam 3 subuh sampai jam 2 siang. Harga yang dipatok Warung Kopi Asiang bervariasi. Kopi hitam seharga Rp 5.000 dan kopi susu seharga Rp 7.000. Sedangkan untuk aneka kue seperti kue pisang, roti tawar, kue apem dihargai Rp 3.000, kecuali untuk roti selai seharga Rp 5.000. Silakan kunjungi Warung Kopi Asiang ini bagi siapapun yang mendambakan kehangatan & aroma kopi yang dimiliki oleh Kota Khatulistiwa ini.

Pontianak, 30 Oktober 2017

***

If we have the opportunity to stop by the city of Pontianak, “Asiang Coffee Shop” is one of the mandatory visit, especially for fans of coffee archipelago. Established since 1958, this shop is named after the name of the owner of the coffee shop “Asiang”. He was a quirky man, 63 years old, tall, big-headed, his expression barely expressionless, had the habit of not wearing clothes and only shorts, and his tattoos were clearly visible on the chest & arm of his right shoulder. Rarely do we see Asiang rest because of busy serving customers who order coffee. This Coffee Shop is located at Jalan Merapi No.193 Pontianak. Open daily from 3am to 2pm. Prices are pegged Warung Kopi Asiang vary. Black coffee for Rp 5,000 and milk coffee worth Rp 7,000. As for the various cakes such as banana cake, bread, apple cake priced at Rp 3,000, except for bread jams for Rp 5,000. Please visit this Asiang Coffee Shop for anyone who crave the warmth & aroma of coffee owned by this Equatorial City.

Pontianak, October 30, 2017

DSCF7828

DSCF7801

DSCF7833

DSCF7842

DSCF7880

DSCF7864

DSCF7835

DSCF7897

DSCF7883

DSCF7905

DSCF7884

DSCF7888

DSCF7899

DSCF7928

DSCF7913

DSCF7933

DSCF7820

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Kolaborasa Merah Putih Di Negeri Pagoda | Wonderful Indonesia Festival | 17-19 November 2017, Bangkok, Thailand

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Indonesia adalah sebuah negeri dengan jutaan cerita yang tak akan ada habisnya. Pesonanya begitu memikat hingga ia kerap dijuluki permata khatulistiwa. Ribuan pulau dengan segala keajaiban yang dimilikinya menjadi potensi pariwisata yang sangat berharga di mata dunia. Namun bukan berarti kita hanya berdiam diri dan berleha-leha saja menanti turis asing yang menyambangi tanah air. Menjemput bola kadang menjadi kunci jawaban di tengah pertanyaan mengenai bagaimana mengatasi persaingan yang sengit demi menarik wisatawan datang ke sebuah negara.

Wonderful Indonesia Festival adalah aksi nyata yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia demi meraih kunjungan wisata yang diharapkan. Karena di sanalah hadir berbagai alasan mengapa Indonesia patut untuk dikunjungi, dirasakan & dinikmati. Melalui program promosi yang digagas oleh Kementrian Pariwisata Republik Indonesia, festival ini menjadi salah satu ajang yang mengusung tugas mulia yakni mewartakan berita baik perihal Indonesia kepada dunia.

Negara Thailand yang menyandang sebutan negara gajah putih, merupakan salah satu celah pasar di Asia Tenggara yang disasar oleh Indonesia demi mendatangkan turis asing ke tanah air. Karenanya segala upaya perlu dilakukan demi menarik perhatian masyarakat Thailand agar mereka sudi merogoh koceknya untuk terbang dan berlibur ke Indonesia. Terlebih saat ini ada tiga buah “Direct Flight” yang memudahkan rute kunjungan wisata dari Thailand ke Indonesia. Medan, Jakarta & Bali adalah kota yang menjadi simpul penerbangan langsung dari Thailand menuju Indonesia. Demi mencermati hal tersebut, Wonderful Indonesia Festival digelar di CentralWorld Square, Bangkok, Thailand yang berlangsung dari tanggal 17 – 19 November 2017. Dengan konsep Branding, Advertising & Selling (BAS), kegiatan ini diharapkan mampu mendobrak jumlah wisatawan manca negara khususnya pasar Thailand yang akan menyapa Indonesia.

Merupakan suatu kehormatan bagi saya, karena ditunjuk dan dipercaya untuk menjadi “Creative Director” kegiatan Wonderful Indonesia Festival di Thailand tersebut. Dengan mengambil tema “Indonesia : The Never Ending Story of Magical Lands & Legends”, sejumlah agenda kegiatan yakni “Art & Culture Performances ; Clothing & Craft Market ; Culinary Bazaar ; Interactive Activity & Workshop ; Intimate Music Concert dan Travel Fair”, menjadi bumbu-bumbu yang diolah ke dalam sebuah masakan Indonesia. Dalam merancang konsep dan mendesain festival ini, saya menggunakan pendekatan “Story Telling” sebagai jembatan komunikasi agar segala aktivitas yang hadir di sana dapat terhubung intim dengan pengunjung serta tercapai pesan yang diharapkan. Lima zona destinasi wisata yang menjadi pasar Thailand yakni Medan (1) ; Jakarta & Bandung (2) ; Jogjakarta, Solo & Semarang (3) ; Surabaya & Malang (4) ; serta Bali (5), semuanya dikemas ke dalam bentuk 5 cerita rakyat asal negeri khatulistiwa, Indonesia. Cerita Legenda Danau Toba dihadirkan demi menarik turis asing menyambangi Medan ; Legenda Lutung Kasarung demi menyasar Jakarta & Bandung ; Legenda Roro Jonggrang demi menyasar Jogjakarta, Solo & Semarang ; Legenda Keris Mpu Gandring demi menyasar Surabaya & Malang ; serta Legenda Barong demi menyasar Bali. Semuanya menjadi himpunan cerita yang akan didongengkan kepada masyarakat Thailand oleh para musisi, seniman, penari serta semua penampil melalui karya kreatifnya masing-masing.

Sejumlah nama yang mewakili Indonesia pun turut mencurahkan energi kreatifnya di Negeri Pagoda tersebut. Meski diserang terik panasnya cuaca Kota Bangkok yang sangat menyengat, namun para Kolaborator Indonesia tetap semangat menyuguhkan persembahan terbaiknya. Dari Bandung tercatat ada DJ Destiny, Kartwel Noesantara (Dadi Firmansyah / Karinding & Percussion, Arief Hendrawan / Percussion, Rian Andriawan / Percussion, Ariya Iim Nugraha / Wing Instrument & Percussion & Mohammad Nizar Novian / Percussion), Patrakomala (Ammy Kurniawan / Violin & Guitar, Opik Bape / Guitar, Arnie Christanti / Bass, Adisty Sofie Anggia / Drum, Rahma Sekar Savitri / Vocal & Ukulele Guitar, Kris Takarbessy /Vocal & Guitar. Dari Banten tercatat ada Sanggar Bina Seni Tari Raksa Budaya. Dari Cirebon tercatat ada Project Qiu (Nurhadi Nugroho / Rapper, Ivan Suwarno Putera / Rapper, Ajeng Rahayu / Rapper, Mayasari / Vocal, Ridzqy Marajuang Nasution / Rapper. Dari Jakarta tercatat ada Kamila (Ava Victoria / Alto & Violin, Mia Ismi Halida / MezzoSopran & Violin, Ana Achjuman / Sopran & Violin. Dari Jogajakarta tercatat ada Papermoon Puppet Theater & Jogja Fest. Dari Malang tercatat ada Malang Amore Carnival (Yoseph Agus Kristian / Carnival Player & Dancer, Leonardo Yofi Galih Fernando / Carnival Player & Dancer. Dan dari Thailand tercatat ada nama Artis & Penyanyi Pinky Sawika Chaiyadech.

Persatuan Mahasiswa Indonesia yang ada di Thailand (Permitha) pun turut bersinergi dengan menjadi relawan di kegiatan Wonderful Indonesia Festival ini. Mereka bahu membahu membantu dengan penuh ikhlas agar pelaksanaan kegiatan ini berlangsung dengan lancar. Syukurnya festival ini banyak dipadati oleh ribuan pengunjung baik itu yang berasal dari masyarakat lokal Thailand hingga turis asing yang sedang berlibur di Thailand. Booth pameran yang berisi informasi serta “pop up” perihal wayang, batik, kain tenun, angklung dan bumbu masakan Indonesia laris dinikmati oleh pengunjung. Belum lagi booth kuliner, workshop, travel wishlist, foto dan travel fair pun menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Plus himpunan hiburan serta atraksi yang disajikan di area panggung utama menjadi menu spesial yang menjadi magnet bagi para pengunjung yang hadir di sana.

Kiranya segala jejak kolaborasi yang telah dihadirkan serta ditinggalkan di kegiatan Wonderful Indonesia Festival ini, dapat menjadi obor yang menyala abadi agar kemudian dapat terus diestafetkan kepada siapapun yang mencintai tanah air. Karena negeri kita tercinta ini memang sangat layak untuk diwartakan sehingga cahyanya tak kan berakhir padam, tak kan berakhir pudar, tak kan berakhir sirna. Selama ada pelita hati dan pelita jiwa bangsa Indonesia yang terus menerangi, sudah semestinya kita percaya bahwa negeri ini akan tetap menjadi taman bermain dan surga dunia.

***

Indonesia is a country with millions of stories that will never end. His charm is so enthralled that he is often called the jewel of the equator. Thousands of islands with all its magic has become a valuable tourism potential in the eyes of the world. But that does not mean we just sit back and relax just waiting for foreign tourists who visited the country. Picking up the ball is sometimes the key answer in the middle of the question of how to overcome fierce competition in order to attract tourists come to a country.

Wonderful Indonesia Festival is a real action undertaken by the Government of Indonesia in order to achieve the expected tourist visit. Because there are many reasons why Indonesia should be visited, felt & enjoyed. Through a promotional program initiated by the Ministry of Tourism of the Republic of Indonesia, this festival became one of the arena that carries the noble task of proclaiming good news about Indonesia to the world.

Thailand country that bears the title of white elephant country, is one of the market gaps in Southeast Asia targeted by Indonesia to bring foreign tourists to the country. Therefore all efforts need to be done to attract the attention of the Thai people so they willing to spend their money to fly and take a vacation to Indonesia. Especially now there are three “Direct Flight” which facilitate the route of tourist visits from Thailand to Indonesia. Medan, Jakarta & Bali is the city that became the direct flight node from Thailand to Indonesia. Look at these things, Wonderful Indonesia Festival held at CentralWorld Square, Bangkok, Thailand from 17 to 19 November 2017. With the concept of Branding, Advertising & Selling (BAS), this activity is expected to break down the number of foreign tourists, especially the Thai market will greet Indonesia.

It is an honor for me appointed and trusted to be the “Creative Director” of the Wonderful Indonesia Festival in Thailand. With the theme “Indonesia: The Never Ending Story of Magical Lands & Legends”, a number of activities agenda that is “Art & Culture Performances; Clothing & Craft Market; Culinary Bazaar; Interactive Activity & Workshop; Intimate Music Concert and Travel Fair “, all this agenda become the spices that are processed into an Indonesian cuisine. In designing the concept and designing this festival, I use the “Story Telling” approach as a bridge of communication so that all activities present there can be intimately connected with visitors as well as achieved the expected message. The five destinations of Thailand’s tourism destinations are Medan (1); Jakarta & Bandung (2); Jogjakarta, Solo & Semarang (3); Surabaya & Malang (4); as well as Bali (5), all packaged into the form of 5 folklore of the equator country of Indonesia. Legend story Lake Toba presented to attract foreign tourists visited Medan; Legend of Lutung Kasarung for targeting Jakarta & Bandung; Legend Roro Jonggrang for targeting Jogjakarta, Solo & Semarang; Legend Keris Mpu Gandring for targeting Surabaya & Malang; and Legend Barong to target Bali. Everything becomes a collection of stories that will be told to the people of Thailand by the musicians, artists, dancers and all the performers through their creative work.

A number of names that represent Indonesia also helped to devote creative energy in the Pagoda Country. Despite the blazing heat of Bangkok City’s stinging weather, but the Indonesian Collaborators keep the spirit of presenting his best offerings. From Bandung we have DJ Destiny, Kartwel Noesantara (Dadi Firmansyah / Karinding & Percussion, Arief Hendrawan / Percussion, Rian Andriawan / Percussion, Ariya Iim Nugraha / Wing Instrument & Percussion & Mohammad Nizar Novian / Percussion), Patrakomala (Ammy Kurniawan / Violin & Guitar, Opik Bape / Guitar, Arnie Christanti / Bass, Adisty Sofie Anggia / Drums, Rahma Sekar Savitri / Vocal & Ukulele Guitar, Kris Takarbessy / Vocal & Guitar. From Batam we have Studio Bina Dance Mercury Culture. From Cirebon we have Project Qiu (Nurhadi Nugroho / Rapper, Ivan Suwarno Son / Rapper, Maya Rahayu / Rapper, Mayasari / Vocal, Ridzqy Marajuang Nasution / rapper. From Jakarta we have Kamila (Ava Victoria / Alto & Violin, Mia Ismi Halide / MezzoSopran & Violin, Ana Achjuman / Soprano and Violin. From Jogajakarta we have Papermoon Puppet Theater and Jogja Fest. From Malang we have Malang Amore Carnival (Yoseph Agus Kristian / Carnival Player and Dancer, Leonardo Yofi Galih Fernando / Carnival Player & Dancer. And from Thailand there is the name of Artist & Singer Pinky Sawika Chaiyadech.

Indonesian Student Association in Thailand (Permitha) also joined together to become a volunteer in the activities of Wonderful Indonesia Festival. They work together to help sincerely so that the implementation of this activity goes smoothly. Thankfully this festival is crowded by thousands of visitors either coming from local Thai people to foreign tourists who are on holiday in Thailand. The exhibition booth that contains information and “pop up” about wayang, batik, woven cloth, angklung and spices of Indonesia’s best-selling cuisine enjoyed by visitors. Not to mention the culinary booth, workshop, travel wishlist, photos and travel fair was a special attraction for visitors. Plus the set of entertainment and attractions are presented in the main stage area into a special menu that becomes a magnet for the visitors who are present there.

May all the traces of collaboration that has been presented and abandoned in the activities of Wonderful Indonesia Festival, can be a torch that burns eternally so that later can continue to give by to anyone who loves the homeland. Because our beloved country is very worthy to be proclaimed so that the light will not end off, will not end up faded, will not end disappear. As long as there are lights of the heart and light of the soul of the nation that continues to illuminate, we should believe that this country will remain a playground and a paradise of the world.

poster WIF

DSCF8254

DSCF9299

DSCF9963

DSCF9351

DSCF9354

DSCF8696

DSCF8812

DSCF8568

DSCF9575

DSCF8646

DSCF8600_blog

DSCF8683

DSCF8500_blog

DSCF9952

DSCF8689

DSCF9595

DSCF9741

DSCF9997

DSCF9836

DSCF0241

DSCF0577

DSCF9872

DSCF9902_blog

DSCF8912

DSCF0222

DSCF0326

DSCF0466

DSCF0140_blog

IMG_1008_blog

DSCF0544

DSCF9178

DSCF9093_blog

DSCF9774

IMG_1040_blog

IMG_1931

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

“Woman : Simplicity Of Life” | A Personal Photo Project by galih sedayu

leave a comment »

IMG_0646_blog

Pulosari Village | 17 July 2013

IMG_0544_blog

Pulosari Village | 17 July 2013

IMG_9458_blog

Pasir Impun Village | 31 May 2012

IMG_9151_blog

Pasir Impun Village | 31 May 2012

IMG_9462_blog

Pasir Impun Village | 31 May 2012

P1080494_blog

Banceuy Village | 2 February 2008

P1060401_blog

Banceuy Village | 9 January 2008

kampung banceuy_blog

Banceuy Village | 9 January 2008

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 18, 2017 at 1:00 am

“In The Name Of The Festivals” | Personal Photo Project by galih sedayu

leave a comment »

DSCF6080_blog

Asian African Carnival | Asia Africa, Bandung, West Java | 14 August 2016

IMG_0981_blog

Jabar Ngagaya | Diponegoro, Bandung, West Java | 20 September 2014

IMG_1024_blog

Jabar Ngagaya | Diponegoro, Bandung, West Java | 20 September 2014

IMG_1063_blog

Jabar Ngagaya | Diponegoro, Bandung, West Java | 20 September 2014

IMG_0905_blog

Jabar Ngagaya | Diponegoro, Bandung, West Java | 20 September 2014

street (84)_blog

Braga Festival | Asia Africa, Bandung, West Java | 26 December 2006

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 14, 2017 at 5:34 am