I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for March 2013

Kidung Kasih Kampung Cicadas

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Akar sebuah kota adalah kampung-kampung yang bermukim di sana. Meski ironisnya keberadaan kampung ini menjadi kering terbengkalai akibat ambisi pemerintah yang kerap membangun di pusat kota dengan mengatasnamakan kemajuan. Padahal sesungguhnya, di kampung-kampung inilah pusat energi sebuah kota menyeruak hadir demi menopang tubuh kota yang dulunya lemas tak berdaya. Kampung Akustik Cicadas adalah salah satu contoh akar kota yang memiliki energi ini. Kerap mendapat julukan kampung preman, kampung kumuh, kampung tawuran dan berbagai citra negatif lainnya…tidak lah membuat para pemuda kampung cicadas ini menyerah. Mereka terus menyuarakan semangat perubahan demi Kampung Cicadas yang lebih bermartabat. Nama-nama seperti Kang Guntur, Kang Ganjar Noor, dan Kang Rahmat Jabaril pun tercatat dalam noktah sejarah Kampung Cicadas yang mewakili para pemudanya. Meski berjuang di atas kursi rodanya, Kang Guntur tak pernah kehilangan asa untuk menyebarkan virus-virus kreatif di kampungnya. Lewat sentuhan jemari tangannya, kuas lukis pun menjadikan karya mural bertema musik di dinding-dinding gang Kampung Cicadas. Kang Ganjar Noor pun punya cara lain untuk menyampaikan pesan bagi kampungnya. Lewat alunan merdu gitar dan suaranya yang nyaring, Kang Ganjar Noor terus mengumandangkan tentang pentingnya mencintai kampung dan membuat sebuah perubahan berarti meski melalui langkah kecil. Belum lagi ide, pikiran dan kreativitas yang dipersembahkan oleh Kang Rahmat Jabaril bagi Kampung Cicadas ini. Dari mulai membuat advokasi, sarasehan ataupun sekedar mendengar curhat warga dilakoni oleh Kang Rahmat Jabaril demi menstimulan kekuatan Kampung Cicadas tersebut. Lambat laun kini Kampung Cicadas mulai menunjukkan sayapnya untuk terbang menuju citra yang lebih baik. Para preman di kampung ini sekarang mulai aktif mencipta lagu, bermain musik dan bahkan membuat kerajinan gitar. Tembok-tembok yang mengapit gang di Kampung Cicadas ini mulai berwarna dengan mural-muralnya yang kreatif. Saat ini Kampung Cicadas berharap dapat membangun sebuah studio musik untuk ajang latihan bagi para musisi kampung yang ingin tampil. Lewat sepenggal lagu yang diciptakan oleh Kang Ganjar Noor inilah semestinya kita bercermin. Bahwa pada kampung seperti Kampung Cicadas lah sesungguhnya kita tak boleh henti berharap. Demi sebuah Kota Bandung yang berdiri tegak hingga akhir masa.

Kembalilah Kampungku

Kampung, kampung…tempat bernaung
Ruang bercengkrama urai cerita
Melukis harapan di hampar tanah-tanah
Membakar semangat di jiwa merdeka

Kampung, kampung…terjamah kota
Kota, kota, kota, kota ubah cerita
Dimana persoalan menghempas kerinduan

Menncakar keheningan mengundang keriuhan

Apa yang tersisa selain rasa cinta
Pada kampung yang tlah tiada

Pada tanah, pada air, pada cerita
Apa yang tersisa selain kerinduan
Pada kampung yang kini kota

Berharap kampung-kampung masih ada
Tetap ada walau di tengah bising kota…

Pada jiwa semangat menyala
Bangun kampung-kampung cerita baru
Menghias tanah-tanah, mengukir dinding-dinding
Menggambar atap-atap, merubah kehidupan.

– Ganjar Noor – 

Bandung, 13 Oktober 2012

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Advertisements

Written by Admin

March 31, 2013 at 2:12 pm

Pertarungan Abadi Di Balik Pementasan Tari Barong

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Kebudayaan Pra Hindu di Bali tentunya banyak mewariskan kekayaannya yang unik. Salah satunya adalah Tari Barong. Barong sendiri adalah sebuah karakter dalam mitologi negeri Pulau Dewata yang merupakan perwujudan raja dari roh-roh yang melambangkan sifat-sifat kebajikan (Dharma). Sebagai roh pelindung, Barong sering ditampilkan dalam wujud seekor singa. Ibarat seorang tokoh pahlawan dalam sebuah film, tentunya ia pun memiliki seorang musuh. Lawan abadi Barong adalah Rangda yang mewakili sifat-sifat kebathilan (Adharma). Dengan diiringi oleh musik Gamelan Semar Pagulingan, kita bisa menikmati drama 5 babak pementasan Tari Barong yang sarat dengan nilai cerita perkelahian abadi antara kebaikan dan kejahatan di dunia disertai guyonan yang membawa gelak tawa keceriaan. Hanya saja kali ini cuplikan fotografis yang saya rekam, bukan menangkap adegan-adegan di depan panggung pada umumnya, melainkan dari sisi lain yakni di belakang panggung yang barangkali masih belum banyak orang yang melihatnya. Karena menurut saya di sanalah sesungguhnya pertempuran yang abadi itu benar-benar terjadi. Dimana para pemain pementasan Tari Barong tersebut berjuang untuk tetap hidup demi sesuap nasi dan demi menafkahi para keluarga yang dicintainya. 

Bali, 10 Maret 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 24, 2013 at 4:29 pm

Kembali Cinta Di Pantai Virgin

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

In every outthrust headland, in every curving beach, in every grain of sand, there is the story of the earth” – Rachel Carson

Hampir setiap orang menyukai pantai. Karena di sanalah kita dapat melihat, mendengar dan merasakan berbagai keajaiban planet bumi. Mulai dari deburan ombak laut yang menderu jantung, semilir angin yang menyibakkan rambut, hingga pasir pantai yang menggelitik kaki. Pantai bisa menjadi sebuah ruang bagi kita untuk menenangkan diri, memutar otak demi secercah ide segar bahkan menyembuhkan. Dan di pantai-pantai itulah seluruh hati manusia berkumpul dalam balutan kedamaian dan penuh syukur.

Bali dengan julukan Pulau Dewata nya merupakan surga bagi terciptanya pantai-pantai yang indah nan menawan hati. Hanya saja, saat ini tidak semua pantai di Bali memiliki citra yang bersih dan tenang. Meski demikian selalu saja muncul pantai-pantai baru yang masih belum banyak terjamah oleh manusia. Pantai Virgin (Virgin Beach) adalah salah satunya. Sebenarnya pantai ini bernama Pantai Perasi, karena letaknya di Desa Perasi, Kabupaten Karangasem, Bali. Namun entah kenapa para wisatawan mancanegara lebih suka menyebutnya dengan nama Virgin Beach atau White Sand Beach. Untuk menggapai lokasi pantai ini, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari kawasan Candidasa di Karangasem. Setelah itu kita mesti menempuh jarak sekitar 100 meter dari jalan aspal dengan kondisi jalan yang cukup terjal. Pantai virgin ini diapit oleh dua buah tebing yakni Bukit Bugbug dan Bukit Perasi yang seolah-olah menjadi pengawal abadi yang melindungi kesucian Pantai Virgin.Tubuh fisik pantai ini sangatlah bersih dari sampah & masih tergolong sepi dari kunjungan manusia. Maka tak heran apabila Pantai Virgin ini mendapat predikat sebagai salah satu pantai terbaik yang pernah ada di Pulau Dewata.

Sebagai pengantar himpunan cuplikan hening perihal Pantai Virgin, demikianlah puisi ini saya buat.

*Teruntuk istriku tercinta Christine Listya Sedayu dan kedua putriku tersayang Eufrasia Tara Sedayu & Ancilla Trima Sedayu (Alm)

Tak ada lagi duka & benci
Tak ada lagi luka & sepi
Tatkala tubuh ini dibawa
Menuju pantai yang menghibur hati

Mendung mulai memanggil
Gerimis pun hadir perlahan
Hingga hujan yang terlepas bebas
Namun hati ini bahagia

Di pantai ini
Kita membuang pahit
Di pantai ini
Kita menyimpan manis

Atas nama cinta kita percaya dan selalu bersama 

Bali, 15 Maret 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 19, 2013 at 1:50 pm

Menyambut Sang Naga & Sang Singa

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Kebebasan Perayaan Cap Go Meh bagi kaum Tionghoa di Indonesia tentunya tidak bisa lepas atas jasa besar seorang tokoh pembela kaum minoritas yang bernama Gus Dur. Semasa Gus Dur menjadi presiden, ia membuat gebrakan baru yakni secara tegas mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 yang isinya memenjarakan kebebasan warga Tionghoa untuk merayakan kegiatan budayanya secara terbuka termasuk Imlek & Cap Go Meh. Gus Dur pun lalu mengganti Inpres tersebut dengan alasan bertentangan dengan UUD 1945 dan kemudian ia menerbitkan Keppres No. 6 tahun 2000 yang isinya menjamin kemerdekaan warga Tionghoa agar dapat menjalankan kegiatan keagamaan, kepercayaan & adat istiadatnya secara terbuka. Bahkan pada tahun 2001, Gus Dur menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional. Sejak saat itulah hingga saat ini warga Tionghoa di Indonesia dapat menghadirkan perayaan Cap Go Meh sekaligus menghibur sejumlah warga di sebuah kota termasuk Kota Bandung.

Cap Go Meh sendiri merupakan sebuah upacara yang dirayakan secara rutin setiap tahunnya pada tanggal 15 bulan pertama menurut penanggalan bulan yang merupakan bulan pertama dalam setahun oleh warga Tionghoa. Upacara ini dilakukan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai-yi yakni Dewa tertinggi di langit menurut Dinasti Han (206 SM – 221 M). Istilah Cap Go Meh (Cap = sepuluh ; Go = lima ; Meh = malam) sebenarnya berasal dari dialek Hokkien yang memiliki makna 15 hari atau malam setelah Imlek. Oleh karena itu Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas dan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi warga Tionghoa. Dahulu kala Cap Go Meh merupakan sebuah upacara tertutup yang hanya ditujukan bagi kalangan istana kerajaan China. Dalam perayaan Cap Go Meh tersebut, ikon sentralnya selalu identik dengan Liong (Naga) & Barongsai (Singa) yang menghibur warga dengan gerak tariannya.

Di Kota Bandung, kirab Cap Go Meh tahun 2013 ini dimulai dari Vihara Dharma Ramsi di Jalan Cibadak. Kemudian berkeliling melewati Jalan Astanaanyar, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Kelenteng, Pascal Hyper Square, Jalan Gardujati, lalu kembali ke Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Oto Iskandardinata, serta kemudian berakhir & kembali di Vihara Dharma Ramsi. Kirab Cap Go Meh ini diikuti oleh ribuan orang dan puluhan vihara dari berbagai kota selain Bandung seperti Jakarta, Banten, Bogor, Tegal, Ciamis, Tasikmalaya, dan lain sebagainya. Di sanalah warga Kota Bandung dapat melihat rombongan Liong & Barongsai mengiringi tiga patung yakni Patung Ma Kwan Im Pho Sat (Dewi Kasih Sayang), Hok Tek Ceng Sin (Dewa Rejeki) dan Hian Thian Siang Tee (Panglima Perang) yang diarak dengan menggunakan tandu. Sementara itu Liong (naga) menari dengan berliuk-liuk sambil mengejar bola api di depannya. Tak mau kalah para Barongsai pun berdansa dengan lincahnya sambil diiringi musik para pemain tambur, simbal & ling (bendi). Setelah tarian selesai, warga Tionghoa yang menyaksikan atraksi tersebut baik dari sisi jalan maupun depan rumah atau toko milik mereka pun berbondong-bondong memberikan angpau dalam sebuah amplop yang dimasukkan melalui mulut Liong & Barongsai tersebut sebagai simbol ucapan terima kasih.

Kita dapat menyaksikan di sana, bagaimana warga Tionghoa sungguh berbaur dengan warga dari berbagai suku bangsa yang ada di Kota Bandung. Tak sedikit para pemain Barongsai yang dilakoni oleh kaum pribumi. Lalu kesenian sunda yang diwakili oleh para pemain angklung & calung pun turut berkolaborasi pada kirab tersebut. Bahkan secara serentak musik & bunyi-bunyian yang dihantarkan pada kirab tersebut sepakat untuk berhenti sesaat manakala azan magrib berkumandang di Kota Bandung. Perbedaan budaya yang ada ternyata berujung menyatukan warga.

Untuk itulah kita seharusnya selalu berada di dalam simpul kebersamaan ini. Agar kemerdekaan & kebebasan yang diberikan bagi setiap warga dapat melahirkan tanggung-jawab sekaligus menjadi aksi solusi terhadap masalah sosial sebuah kota. Karena sesungguhnya kebebasan inilah yang memberi kita makanan pengertian dan memberi minum kebijaksanaan. Dan rasa takut akan sebuah perbedaan itulah yang semestinya harus kita singkirkan jauh-jauh. Bila kita mau mencari, dalam perbedaan lah warga mendapat kegembiraan dan puncak sukacita. Oleh karena itu, mulailah melayangkan pandangan kita ke dalam berbagai perbedaan. Perbedaan apapun itu entah budaya, agama, suku, adat istiadat, dan lain-lain. Kemudian wartakanlah semangat pluralisme, egaliter dan persaudaraan dalam perbedaan tersebut sebagai peringatan kebersamaan bagi setiap warga kota. 

Bandung, 2 Maret 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 3, 2013 at 5:43 pm