I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘foto cerita

Sudut Mata Kecil Kota Manchester

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Konon kota Manchester adalah kota tersukses di Inggris. Salah satu alasannya karena kota ini mampu mendatangkan banyak wisatawan dari belahan negara lain di dunia. Musik, sepak bola, dan fesyen yang dimiliki kota Manshester menjadi daya magnet utama bagi pengunjungnya. Meski jumlah populasi penduduk kota Manchester hanya sekitar 500 ribu jiwa lebih, namun warga kota ini dapat berbicara dalam 153 bahasa yang berbeda-beda. Maka julukan kota berbudaya tinggi pun sangat melekat bagi kota Manchester. Bahkan masyarakat kota Manchester mendapat predikat dan sebutan khas yakni “Mancunian” karena dianggap mewakili semua budaya di dunia. Sayangnya saya hanya sempat bercengkrama dengan kota ini selama satu hari saja. Hanya sebagian sudut kecil kota yang sempat disapa melalui bingkai visual yang saya rekam. Namun kesan megah & artistik yang ditunjukkan oleh kota ini melalui sebagian besar bangunan tua yang tinggi menjulang, kadang memaksa saya untuk terus menengadah ke arah langit. Bagi saya kota ini masih menyimpan sejuta misteri karena waktu perkenalan kami yang sangat singkat. Kiranya suatu saat saya akan kembali lagi ke kota Manchester seraya menguak tabir misteri kota ini yang cahayanya masih tersembunyi dan menunggu untuk dibekukan.

Manchester, 1 September 2019

DSCF5481

DSCF5466

DSCF5475

DSCF5479

DSCF5487

DSCF5494

DSCF5496

DSCF5498

DSCF5502

DSCF5504

DSCF5503

DSCF5505

DSCF5519

DSCF5523

DSCF5529

DSCF5531

DSCF5537

DSCF5542

DSCF5548

DSCF5553

DSCF5558

DSCF5568

DSCF5572

DSCF5575

DSCF5577

DSCF5588

DSCF5594

DSCF5620

DSCF5630

DSCF5638

DSCF5639

DSCF5643

DSCF5607

DSCF5633

DSCF5640

DSCF5623

DSCF5590

DSCF5599

DSCF5617

DSCF5631

DSCF5646

DSCF5540

DSCF5556

DSCF5584

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

April 15, 2020 at 7:21 am

Berlabuh di Pangkuan Kota Liverpool

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Bagi penggemar Grup Band legendaris The Beatles & penggemar Klub Sepak Bola legendaris Liverpool F.C (Kopites) dan Everton F.C (Evertonians), Liverpool tentunya menjadi nama sebuah kota yang sangat identik dengan keberadaan mereka di dunia musik dan olahraga. Liverpool sendiri merupakan merupakan sebuah kota pelabuhan yang terletak di sebelah tebing timur Muara Sungai Mersey di bagian barat laut Inggris serta merupakan distrik metropolitan di Merseyside, Inggris. Liverpool muncul sebagai sebuah wilayah sejak tahun 1207 dan baru diberikan status sebagai sebuah kota pada tahun 1880. Kapal Titanic yang sangat megah dengan kisah tragedinya yang sangat terkenal itu ternyata menyimpan cerita bahwa sebagian besar kru kapalnya merupakan penduduk asli Kota Liverpool. Penduduk kota Liverpool sering disebut sebagai Liverpudlians dan mendapat julukan “Scousers” yang berasal dari kata “Scouse” yaitu sebuah masakan yang dikukus dan kini dikaitkan dengan logat masyarakat kota Liverpool. Konon warga kota Liverpool dikenal sebagai warga yang paling ramah di dunia dan pernah pula dinobatkan sebagai “kota paling baik di dunia” karena mereka senantiasa menyambut orang lain yang datang ke kotanya dengan sikap yang baik dan penuh toleransi layaknya sebuah kota pelabuhan. Fakta ini saya alami sendiri ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kota Liverpool. Saya merasakan secara langsung keramahan serta kehangatan hati warga Kota Liverpool yang berada di stasiun kereta api, restoran dan hotel tempat saya menginap dari cara mereka menyapa, mengobrol dan tersenyum.

Saat berada di Kota Liverpool, saya menginap di sebuah hotel yang berada dekat sekali dengan kawasan wisata yang bernama Albert Dock. Albert Dock adalah sebuah bangunan yang berlokasi di Edward Pavilion Liverpool dan merupakan area komplek dermaga kapal bersejarah. Salah satu fungsi dermaga ini dahulu adalah menghubungkan Liverpool dengan beberapa kota seperti Birmingham dan Leeds. Menurut catatan sejarah, Albert Dock merupakan bangunan pertama di Inggris yang dididirikan tanpa menggunakan kayu namun dengan rangka baja, batu bata dan granit. Albert Dock pertama kali dibuka dan diresmikan oleh Prince Albert, suami Ratu Victoria pada tahun 1846 sekaligus menjadi saksi bisu kejayaan Kota Liverpool sebagai kota maritime terbesar di Inggris. The Beatles Story, museum grup musik legendaris asal Kota Liverpool yang berdiri tahun 1990 ini juga berada di kawasan Albert Dock. Berbagai pernak-pernik The Beatles, replika Cavern Club, Beatles Hidden Gallery, Kacamata John Lennon, Gitar pertama George Harison, dan benda bersejarah The Beatles lainnya berada di obyek wisata ini. Di museum ini kita dapat melihat dan mengetahui perihal sejarah The Beatles dari mulai cerita awal karir mereka manggung, cerita unik dibalik lagu-lagu yang mereka ciptakan, serta cerita kehidupan masing-masing personilnya. Di belakang museum ini terdapat pula Fab4store yakni sebuah toko yang menjual segala macam souvenir yang berhubungan dengan The Beatles seperti kaos, gelas, tas, buku, vinyl, dan lain sebagainya. Dari Albert Dock pula kita dapat melihat “Freij World Attractions” yang bentuknya menyerupai komedi putar raksasa yang tinggi menjulang.

Di Kota Liverpool ini berdiri pula dengan megah sebuah bangunan kuno yang memiliki dua buah menara unik yang bernama Royal Liver Building. Bangunan yang berlokasi di Pier Head Liverpool ini bentuknya sangat klasik namun masih cukup terawat dengan baik. Bangunan tua ini didampingi oleh 2 buah menara setinggi 98 meter yang dilengkapi dengan jam yang diameternya lebih lebar dari jam Big Ben di Kota London. Kedua menara tersebut sama-sama memiliki patung burung Liver Bird yang saling berseberangan arah, dimana patung yang satu menghadap ke arah kota dan patung yang lain menghadap ke arah laut. Liverbird sendiri sebenarnya merupakan hewan mitos yang berbentuk seperti angsa tetapi memiliki sayap seperti burung Phoenix. Menurut cerita warga lokal, konon Kota Liverpool akan hancur dan musnah bila salah satu dari kedua patung burung tersebut terbang dari tempatnya (dan kemudian saya menjadi tersenyum sendiri karena membayangkan patung burung Liverbird yang sedang terbang di angkasa). Saat ini Royal Liver Building yang tingginya mencapai 51 meter tersebut digunakan sebagai kantor perusahaan Royal Liver Assurance sejak tahun 1911. Kemudian di samping bangunan Royal Liver Building, masih di sekitar lokasi Pier Head Liverpool, terdapat patung empat personil The Beatles yakni patung Paul McCartney, George Harrison, Ringo Starr & John Lennon yang sedang berjalan kaki dan menghadap ke laut. Patung dengan berat 1,2 ton ini dibuat dari bahan dasar perunggu oleh pematung terkenal Kota Liverpool yang bernama Andy Edwards.

Bila kita ingin menghabiskan waktu di kawasan perbelanjaan Kota Liverpool, “Liverpool ONE” dapat menjadi salah satu tempat yang layak untuk dikunjungi. Selain tempat nongkrong & gaul bagi anak-anak muda, Liverpool ONE juga menyediakan beberapa ruang yang dapat digunakan sebagai tempat acara dari mulai musik, pameran, karnaval dan lain-lain. Salah satunya adalah Chavasse Park yang berupa taman terbuka hijau dengan suasana yang asri. Taman yang awalnya hanya seluas 1 hektar ini dibangun oleh sebuah keluarga Uskup di Kota Liverpool dan saat ini luasnya menjadi 2,2 hektar. Tak jauh dari kawasan Liverpool ONE ini terdapat pula Williamson Square yang terletak di pusat kota Liverpool. Pada tahun 1745 Williamson Square diposisikan sebagai alun-alun perumahan oleh tuan Williamson. Di kawasan alun-alun ini terdapat sejumlah air mancur yang dapat naik hingga ketinggian empat meter dan pada malam hari diterangi dengan lampu berwarna. Kawasan ini memiliki lapangan yang cukup luas dengan bangunan Liverpool Playhouse yang berdiri di sisi timur lapangan dan bangunan Teater Royal (yang sudah tidak berfungsi sejak tahun 1965) di sisi utara lapangan. Tak jauh dari kawasan ini, kita bisa melihat pula bangunan menara radio tinggi menjulang yang bernama Radio City Tower atau yang disebut juga sebagai St. John’s Beacon. Radio City Tower dengan tinggi 138 meter ini adalah radio dan menara observasi yang dibangun pada tahun 1969 dan dibuka oleh Ratu Elizabeth II.  Dari atas menara radio ini, sejauh mata memandang kita dapat melihat pemandangan kota Liverpool bagaikan melalui mata seorang burung yang sedang terbang tinggi di angkasa.

Kota Liverpool memiliki stadion sepak bola yang menjadi kebanggaan warganya. Anfield Stadium. Stadion yang dibangun sejak tahun 1884 ini merupakan salah satu stadion bola tertua di Inggris. Stadion ini berjarak sekitar 3 kilometer dari Stasiun Kereta Liverpool Lime Street. Anfield Stadium sejak lama telah menjadi markas utama legenda klub sepakbola Inggris, Liverpool F.C yang berdiri sejak tahun 1892, meskipun pada awalnya stadion ini adalah markas dari klub sepakbola kota Liverpool lainnya yakni Everton. Anfield Stadium sendiri dirancang oleh seorang Arsitek terkenal yang bernama Archibald Leitchd. Pada saat membangun stadion ini, Sang Arsitek sengaja meletakkan lampu berwarna merah dan putih di setiap sisi stadion yang menjadi keunikannya dan lampu tersebut biasanya dinyalakan pada malam hari. Saat ini Anfield Stadium memiliki empat buah tribun yaitu The Spion Kop, Main Stand, Anfield Road, dan Kenny Dalglish Stand, serta dapat menampung penonton sebanyak 54 ribu lebih.

Tak lengkap rasanya bila kita tidak menyambangi The Cavern Club selagi menyempatkan diri datang ke kota Liverpool. The Cavern Club adalah sebuah bar terkenal di dunia dimana The Beatles pernah tampil demi menghibur penonton sebanyak 292 kali selama kurun waktu tahun 1961 sampai dengan tahun 1963. Brian Epstein, Manajer Band The Beatles, menyaksikan penampilan The Beatles yang kala itu masih beranggotakan John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, Stuart Sutcliffe, dan Pete Best, untuk pertama kalinya manggung pada tanggal 9 November 1961 di The Cavern Club ini. Selain The Beatles, The Cavern Club pernah menghadirkan band dan musisi legendaris lainnya seperti The Rolling Stones, Queen, The Who, Stevie Wonder, Eric Clapton, Jimi Hendrix, Elton John, dan lain sebagainya. Dan itu dibuktikan dengan dibuatnya sebuah “Wall of Fame” yang memuat nama-nama tokoh musik kenamaan tersebut. The Cavern Club lokasinya berada di pusat kawasan perbelanjaan yang bernama Cavern Walks Shopping Centre tepatnya di 10 Mathew Street. Bangunannya sangat tua dan ditandai dengan lampu neon merah yang menyala terang dan bertuliskan nama bar “The Cavern Club” di depan pintu masuk. Tak jauh dari bar tersebut, kita bisa melihat patung perunggu John Lennon sang vokalis The Beatles yang tengah menyandarkan diri di sebuah pilar bangunan. Kemudian di sekitar sana terdapat satu patung perempuan yakni patung Eleanor Rigby salah satu karakter fiksi yang dijadikan salah satu judul lagu The Beatles. Eleanor Rigby adalah seorang wanita yang hidup pada tahun 1800-an di Woolton, sebuah kota yang tak begitu jauh dari Liverpool. Setelah Eleanor Rigby meninggal, jenazahnya dikuburkan di sebuah area gereja tempat John Lennon dan Paul McCartney sering bertemu untuk mencari inspirasi dalam membuat lagu. Barangkali hamper semua artefak dan cerita The Beatles dapat kita temui di kawasan Mathew Street ini. Tak heran saat ini Mathew Street dikukuhkan sebagai “The Bithplace of Beatles” dan menjadi surga bagi penggemar The Beatles dari seluruh penjuru dunia.

Bagi saya Liverpool adalah sebuah kota yang kuat dengan ribuan temboknya yang tak bosan bercerita. Dengan segenap jiwa, saya senantiasa bergairah demi mencari pagi sembari merekam momen cahaya serta memeluk malam sembari meneguk segelas bir di kota ini. Kota ini sungguh menyediakan damai bagi yang berkenan menghirup udaranya setiap saat. Kota ini bagaikan seorang kekasih hati yang layak untuk dikejar sepanjang masa. Sebab itulah, memori kota ini akan selalu saya simpan baik-baik agar selalu menjadi bingkai abadi yang dipaku pada dinding kehidupan dan kiranya tak kan pernah sirna untuk dikenang kembali.

Liverpool, 1-5 September 2019

DSCF6725

DSCF6755

DSCF6771

DSCF5944

DSCF5985

DSCF6110

DSCF6386

DSCF6067

DSCF6065

DSCF5956

DSCF5960

DSCF5957

DSCF6377

DSCF5964

DSCF5970

DSCF5978

DSCF6174

DSCF6233

DSCF6241

DSCF6252

DSCF6266

DSCF6150

DSCF6299

DSCF6313

DSCF6282

DSCF6288

DSCF6322

DSCF6331

DSCF6337

DSCF6350

DSCF6449

DSCF6401

DSCF6434

DSCF6459

DSCF6482

DSCF6854

DSCF6513

DSCF6532

DSCF6547

DSCF6797

DSCF6804

DSCF6801

DSCF6825

DSCF6839

DSCF6842

DSCF6846

DSCF6856

DSCF6881

DSCF6869

DSCF6572

DSCF6932

DSCF6939

DSCF6967

DSCF6974

DSCF6792

DSCF6692

DSCF5753

DSCF6653

DSCF6043

DSCF6038

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

April 13, 2020 at 2:17 am

Menjala Cahaya Kota London

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Sejauh mata memandang serta ditemani oleh kaki yang berjalan menapaki sebagian sudut ruang Kota London, sedekat ini pula hati senantiasa terhibur karena segala pesona yang dihadirkan di sana. Setiap detik sesaat kamera akan menangkap cahaya, jantung pun serasa berdegup kencang seolah tengah menanti kekasih pujaan yang lama tak bersua dalam adegan keseharian melalui tubuh kota ini.

London yang merupakan ibu kota inggris dan britania raya ini memang layak dijuluki sebagai kota kreatif dunia. Kota tua yang yang telah menjadi pemukiman utama selama dua milenium sejak didirikan oleh Romawi pada abad ke-1 dengan sebutan Londinium, kini menjelma menjadi pusat pendidikan terbesar di eropa yang memiliki lebih dari 40 universitas. Kota megah yang berdiri kokoh di sepanjang Sungai Thames ini memiliki keunggulan kelas dunia di berbagai bidang diantaranya kesenian, bisnis, hiburan, kesehatan, mode, pariwisata, transportasi, dan media.

Jaringan kereta api bawah tanah (underground) yang dimiliki Kota London merupakan jejak peninggalan yang tertua di dunia. Rumah penduduk zaman Victoria yang masih ditinggali pun tersebar di berbagai belahan Kota London. Belum lagi berbagai bangunan sejarah yang dengan indahnya menghiasi kota, turut menciptakan karakter Kota London sebagai Kota Heritage Dunia.

Sebagai orang yang baru pertama kali menghirup udara di Kota London, kesan modern dan kuno bercampur aduk menjadi satu dalam kasat mata awam. Pemandangan di depan Buckingham Palace penuh dengan turis-turis dari berbagai negara yang ingin menyaksikan istana megah yang dihuni oleh Ratu Inggris Elizabeth beserta atraksi Penjaga Ratu (Queen’s Guard). Tentara inggris yang mengenakan seragam berwarna merah menyala, celana panjang hitam dengan topi hitam besar yang ditutupi dengan kulit beruang asli ini, menjadi penjaga istana dengan berdiri tegak sambil sesekali berjalan dengan gerakan berbaris di depan pintu istana.

Kota London juga memiliki situs warisan dunia yang bernama Tower Bridge dengan ukuran panjang 244 m dan tinggi 65 m. Jembatan dengan gaya arsitektur khas Victoria ini menjadi salah satu ikon Kota London yang menopang sebuah jalan raya yang melintasi Sungai Thames. Setiap tahunnya lebih dari 600.000 orang dari seluruh penjuru dunia datang mengunjungi lambang kemegahan Kota London tersebut.

Selain itu Kota London masih menyimpan berbagai destinasi wisata yang sangat menarik. Sebut saja dari mulai British Museum, museum terbesar di dunia yang menyimpan barang-barang artefak dari seluruh penjuru dunia ; Trafalgar Square, alun-alun terbesar dan terkenal di London ; Camden Market, kawasan belanja dengan harga barang yang murah ; China Town, pusat kuliner Cina & Asia ; St. Anne’s Churchyard, sebuah taman untuk umum yang disebut juga St. Anne’s Gardens ; hingga Stamford Bridge, markas besar klub sepakbola Chelsea.

Ingin sekali rasanya berdansa lebih lama bersama waktu di sana. Sembari mensyukuri betapa agung karya ciptaan-Nya. Langit, buana semesta, beserta udara yang kuhirup bersama mentari. Terima kasih kepada cahaya yang telah menuntunku ke sana. Kiranya ada masa yang akan membawaku kembali dalam ribuan kenangan itu.

London – England, 30-31 August & 7 September 2019

DSCF4879

DSCF4882

DSCF4909

DSCF4920

DSCF4924

DSCF4947

DSCF4968

DSCF4994

DSCF4999

DSCF5008

DSCF5011

DSCF5030

DSCF5096

DSCF5110

DSCF5115

DSCF5118

DSCF5174

DSCF5125

DSCF5132

DSCF5142

DSCF5176

DSCF5180

DSCF5194

DSCF5215

DSCF5221

DSCF5228

DSCF5232

DSCF5243

DSCF5425

DSCF5434

IMG_8586_blog

DSCF7652

DSCF7099

IMG_8635_blog

DSCF7105

DSCF7144

DSCF7150

DSCF7158

DSCF7164

DSCF7180

DSCF7194

DSCF7204

DSCF7210

DSCF7223

DSCF7232

DSCF7233

DSCF7271

IMG_8602_blog

DSCF7455

DSCF7398

DSCF7511

DSCF7525

IMG_7697

DSCF4808

DSCF4764

DSCF4774

DSCF4791

DSCF5438

IMG_8606_blog

DSCF7059

DSCF7071

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 27, 2019 at 12:43 pm

Pasukan Hijau Penjaga Pantai Bali

leave a comment »

Teks & Foto oleh galih sedayu

Pulau Bali ternyata tidak hanya menyimpan destinasi wisata alam berupa laut & pantai saja. Ia pun menyuguhkan hamparan hutan mangrove atau bakau yang luas yakni sekitar 1.300 hektar. Letaknya di Jalan By Pass Ngurah Rai, Kuta, Bali, sekitar 100 meter dari Simpang Dewa Ruci. Untuk menelusuri hutan mangrove ini, jembatan kayu dengan panjang sekitar 2 km menjadi sahabat kita untuk melangkah tanpa harus menginjakkan kaki di rawa-rawa yang berlumpur. Pemandangan jalan tol dan birunya laut teluk Benoa dapat dipandang dari ujung jembatan hutan bakau bila kita sudi berjalan hingga ke ujung jembatan kayu tersebut. Di jalur keramaian Kabupaten Badung, Bali, kawasan hutan bakau ini menjadi saksi keseharian lalu-lintas yang bising sekaligus menjadi penyaring polusi udara yang ditimbulkannya. Pohon bakau ini tumbuh dengan gembira di atas rawa yang memiliki air payau (air tawar yang bercampur dengan air laut). Berkat hutan bakau ini pula, gelombang air laut yang masuk ke daratan dapat ditahan sehingga abrasi atau pengikisan tanah di pinggir pantai dapat dikurangi. Bayangkan apabila Pulau Bali yang dikelilingi oleh laut dan ombak yang besar di daerah selatan, tidak memiliki hutan bakau tersebut. Karenanya kita mesti percaya bahwa alam selalu mampu menyediakan cara untuk menjaga ekosistem yang ada, tidak seperti manusia yang kadang justru merusaknya.

@galihsedayu | Bali, 6 Juli 2015

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

July 15, 2015 at 4:56 pm

“Selfie Me Facere, Ergo Sum” | Personal Photo Project by galih sedayu

leave a comment »

Teks & Karya Foto : galih sedayu

Selfie atau Swafoto. Kini kegiatan tersebut seolah menjelma menjadi sebuah budaya baru yang sangat amat digandrungi terutama oleh kalangan anak muda yang kerap bergaya di depan kamera. Banyak yang mengatakan bahwa penggunaan kata selfie ini berasal dari kata Selca atau Self-Camera. Sesungguhnya selfie sendiri adalah sebuah jenis self-portrait foto, yang biasanya diambil dengan menggunakan kamera ponsel. Kegiatan ini sering dilakukan karena biasanya setelah ritual selfie tersebut, mereka secara berjemaah langsung menggugah foto karya narsis tersebut ke jejaring sosial seperti instagram, path, twitter atau facebook. Saat ini bahkan mereka melakukannya dengan menggunakan sebuah alat bantuan berbentuk tongkat yang dinamakan tongsis.

Menurut catatan sejarah, pada mulanya foto selfie diperkenalkan oleh Robert Cornelius, seorang berkebangsaan Amerika yang juga merupakan perintis fotografi. Ia membuat karya foto yang menggambarkan ekspresi dirinya sendiri pada tahun 1839. Teknik memotret diri sendiri tersebut kemudian semakin berkembang tatkala debut pertama portabel kamera kodak brownie, dimulai pada tahun 1900. Sehingga di tahun yang sama, muncul foto seorang wanita di era Raja Edward VII, Inggris yang mengabadikan foto selfie di depan cermin dengan menggunakan kamera kodak brownie. Lalu pada tahun 1914, putri keempat Tsar Nicholas II dari Rusia bernama Anastasia Nikolaevna, merekam foto selfie dan menjadi karya salah satu remaja pertama yang mengambil foto dirinya sendiri dengan menggunakan kamera kodak brownie untuk kemudian dikirim kepada temannya, di saat usianya baru menginjak 13 tahun. Di dalam surat yang menyertai fotonya itu, ia menuliskan hal ini “Saya mengambil gambar diriku sendiri dengan melihat cermin. Hal itu sangat mengagetkan dimana tangan saya gemetar”. Pada tahun 1935, ada pula seorang seniman Belanda yang bernama M.C. Escher, yang membuat potret dirinya yang diberi judul “Tangan dengan bola refleksi”.

Istilah selfie ini sebenarnya pernah dibahas oleh seorang fotografer yang bernama Jim Krause pada tahun 2005. Lalu pada tahun 2013, kata selfie dimasukkan ke dalam Online Oxford English Dictionary. Dan pada bulan november 2013, kata yang berasal dari negara Australia ini diumumkan sebagai “Word Of The Year” oleh Oxford English Dictionary. Tampaknya, foto selfie kini menyebar seperti virus ke seluruh dunia. Bahkan Presiden Barack Obama dan Perdana Menteri David Cameron pun melakukannya pada saat pemakaman Nelson Mandela. Tak ketinggalan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pun melakukannya di sela-sela kegiatan kampanye mereka terdahulu. Walaupun sesungguhnya, foto selfie ini terasa membosankan karena rata-rata dilakukan dengan berpose bibir manyun, mengangkat jari tangan sembari meniru simbol metal atau gaya bebas lain semaunya. Namun walaubagaimanapun, agaknya ada semacam Fun Theory ketika melakukan aktivitas selfie ini. Sehingga orang-orang yang melakukannya pun merasa gembira dan merasa lepas dari beban stres maupun pikiran yang penat.

Barangkali beberapa fotografer atau seniman menganggap bahwa foto selfie ini bukanlah termasuk ke dalam level mereka. Biarlah demikian adanya. Atau malahan genre fotografi ini mungkin sengaja hadir untuk menghibur kita semua agar polemik perihal diskusi foto seni atau bukan seni yang biasanya terus bergulir, dapat berhenti sejenak. Sembari menikmati suguhan karya foto selfie yang sarat dengan gaya narsis nan ambigu, namun demikian tak bisa lepas dari konteks perihal diri sendiri. Kalau seorang Descartes pernah bersabda Cogito Ergo Sum atau “Aku Berpikir, Maka Aku Ada”, barangkali para kelompok penyuka Selfie ini, dengan tidak berpikir punya filosofi seperti ini, “Aku Memotret Diri, Maka Seterusnya Aku Ada”.

“Personal Photo Project” sejak tahun 2014

#55KaryaFoto

DSCF3019_blog

Batam, Indonesia – 22 June 2019

DSCF0794_blog

Penang, Malaysia – 2015

galih sedayu

Kuta, Bali – 2015

galih sedayu

La Plancha, Seminyak, Bali – 2015

selfie

Blue Point, Jimbaran, Bali – 2015

selfie

Blue Point, Jimbaran, Bali – 2015

selfie

Blue Point, Jimbaran, Bali – 2015

selfie

Mangroove Forest, Bali – 2015

selfie

La Plancha, Seminyak, Bali – 2015

selfie

Pantai Balangan, Jimbaran, Bali – 2015

selfie

Pantai Balangan, Jimbaran, Bali – 2015

selfie

Pantai Padang-Padang, Jimbaran, Bali – 2015

galih sedayu

Taman Alun-Alun, Mesjid Agung, Bandung – 2015

galih sedayu

Parade Asia Afrika, Jalan Asia Afrika, Bandung – 2015

galih sedayu

Pantai Batu Karas, Pangandaran – 2015

galih sedayu

Monumen Asia Afrika, Jalan Asia Afrika, Bandung – 2015

galih sedayu

Angklung For The World, Stadiun Siliwangi, Bandung – 2015

galih sedayu

Jalan Cikapundung Timur, Bandung – 2015

galih sedayu

Jalan Cikapundung Timur, Bandung – 2015

galih sedayu

Jalan Asia Afrika, Bandung – 2015

galih sedayu

Dusun Bambu, Lembang – 2015

selfie

Taman Bunga Nusantara, Cipanas – 2014

selfie

Hamamatsu, Jepang – 2014

selfie

Jabar Ngagaya Fest, Jalan Diponegoro, Bandung – 2014

selfie

Area Paragliding, Puncak Pass – 2014

selfie

Taman Bunga Nusantara, Cipanas – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Pasar Seni, ITB, Bandung – 2014

selfie

Bdg Caang Fest, Jalan Diponegoro, Bandung – 2014

selfie

Jabar Ngagaya Fest, Jalan Diponegoro, Bandung – 2014

selfie

Area Paragliding, Puncak Pass – 2014

selfie

Taman Bunga Nusantara, Cipanas – 2014

selfie

Pasar Seni, ITB, Bandung – 2014

selfie

Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Bdg Caang Fest, Jalan Diponegoro, Bandung – 2014

selfie

Ngora Bdg Fest, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Jabar Ngagaya Fest, Jalan Diponegoro, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Pasar Seni, ITB, Bandung – 2014

selfie

Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Ngora Bdg Fest, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Ngora Bdg Fest, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Ngora Bdg Fest, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Kawasan Paragliding, Puncak Pass – 2014

selfie

Pawai Persib Juara | Patung Ajat Sudrajat, Lembong, Bandung – 2014

selfie

Pasar Seni, ITB, Bandung – 2014

selfie

Tebing Keraton, Bandung – 2014

selfie

Braga Culinary Night, Bandung – 2014

IMG_9834_blog

Kampung Daogo Pojok, Bandung – 2013

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

December 5, 2014 at 10:58 am

Kidung Kasih Kampung Cicadas

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Akar sebuah kota adalah kampung-kampung yang bermukim di sana. Meski ironisnya keberadaan kampung ini menjadi kering terbengkalai akibat ambisi pemerintah yang kerap membangun di pusat kota dengan mengatasnamakan kemajuan. Padahal sesungguhnya, di kampung-kampung inilah pusat energi sebuah kota menyeruak hadir demi menopang tubuh kota yang dulunya lemas tak berdaya. Kampung Akustik Cicadas adalah salah satu contoh akar kota yang memiliki energi ini. Kerap mendapat julukan kampung preman, kampung kumuh, kampung tawuran dan berbagai citra negatif lainnya…tidak lah membuat para pemuda kampung cicadas ini menyerah. Mereka terus menyuarakan semangat perubahan demi Kampung Cicadas yang lebih bermartabat. Nama-nama seperti Kang Guntur, Kang Ganjar Noor, dan Kang Rahmat Jabaril pun tercatat dalam noktah sejarah Kampung Cicadas yang mewakili para pemudanya. Meski berjuang di atas kursi rodanya, Kang Guntur tak pernah kehilangan asa untuk menyebarkan virus-virus kreatif di kampungnya. Lewat sentuhan jemari tangannya, kuas lukis pun menjadikan karya mural bertema musik di dinding-dinding gang Kampung Cicadas. Kang Ganjar Noor pun punya cara lain untuk menyampaikan pesan bagi kampungnya. Lewat alunan merdu gitar dan suaranya yang nyaring, Kang Ganjar Noor terus mengumandangkan tentang pentingnya mencintai kampung dan membuat sebuah perubahan berarti meski melalui langkah kecil. Belum lagi ide, pikiran dan kreativitas yang dipersembahkan oleh Kang Rahmat Jabaril bagi Kampung Cicadas ini. Dari mulai membuat advokasi, sarasehan ataupun sekedar mendengar curhat warga dilakoni oleh Kang Rahmat Jabaril demi menstimulan kekuatan Kampung Cicadas tersebut. Lambat laun kini Kampung Cicadas mulai menunjukkan sayapnya untuk terbang menuju citra yang lebih baik. Para preman di kampung ini sekarang mulai aktif mencipta lagu, bermain musik dan bahkan membuat kerajinan gitar. Tembok-tembok yang mengapit gang di Kampung Cicadas ini mulai berwarna dengan mural-muralnya yang kreatif. Saat ini Kampung Cicadas berharap dapat membangun sebuah studio musik untuk ajang latihan bagi para musisi kampung yang ingin tampil. Lewat sepenggal lagu yang diciptakan oleh Kang Ganjar Noor inilah semestinya kita bercermin. Bahwa pada kampung seperti Kampung Cicadas lah sesungguhnya kita tak boleh henti berharap. Demi sebuah Kota Bandung yang berdiri tegak hingga akhir masa.

Kembalilah Kampungku

Kampung, kampung…tempat bernaung
Ruang bercengkrama urai cerita
Melukis harapan di hampar tanah-tanah
Membakar semangat di jiwa merdeka

Kampung, kampung…terjamah kota
Kota, kota, kota, kota ubah cerita
Dimana persoalan menghempas kerinduan

Menncakar keheningan mengundang keriuhan

Apa yang tersisa selain rasa cinta
Pada kampung yang tlah tiada

Pada tanah, pada air, pada cerita
Apa yang tersisa selain kerinduan
Pada kampung yang kini kota

Berharap kampung-kampung masih ada
Tetap ada walau di tengah bising kota…

Pada jiwa semangat menyala
Bangun kampung-kampung cerita baru
Menghias tanah-tanah, mengukir dinding-dinding
Menggambar atap-atap, merubah kehidupan.

– Ganjar Noor – 

Bandung, 13 Oktober 2012

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 31, 2013 at 2:12 pm

Gua Pawon Memanggil

leave a comment »

Foto & Teks : galih sedayu

9 Desember 2000. Sudah layak & sepantasnya lah tanggal ini menjadi sebuah momen dan tonggak bersejarah bagi temuan dunia Arkeologi Indonesia khususnya di Jawa Barat. Tatkala Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) yaitu sebuah kumpulan kecil orang-orang sederhana yang merupakan peneliti independen, berhasil menemukan benda-benda prasejarah buah hasil penelitian mereka yang menggunakan metode geomagnetik di dalam sebuah situs hunian era manusia purba yang bernama Gua Pawon. Pasca awal penemuan tersebut, pada tahun 2003 Balai Arkeologi Bandung melakukan penggalian secara lebih sistematik dan berhasil mengungkap misteri kebesaran Gua Pawon dengan berbagai penemuan berharga. Salah satunya adalah kerangka manusia lengkap yang ditemukan dalam posisi meringkuk. Alhasil setelah temuan fenomenal itu, nama Gua Pawon pun kembali menjadi perbincangan yang hangat di kalangan para peneliti dan penjelajah sejarah. Sebenarnya keberadaan Gua Pawon itu sendiri sudah ada sejak lama dan pernah diberitakan oleh R. Prajatna Koesoemadinata (Guru Besar Emeritus & Ikatan Ahli Geologi Indonesia) dalam laporan survei geologi yang dilakukan pada tahun 1959. Meski begitu saat ini masih banyak masyarakat kita yang belum mengenal sama sekali atau bahkan mau peduli terhadap aset peradaban prasejarah tersebut.

Gua Pawon sebenarnya merupakan sebuah gua tebing yang berada di sekitar kawasan Danau Bandung Purba, tepatnya di daerah Pasir Pawon, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, sekitar 25 km sebelah Barat kota Bandung. Akses untuk menuju tempat ini sebenarnya relatif mudah meski harus memasuki kawasan karst citatah dengan kondisi jalan yang tidak mulus dan udara yang sangat berdebu akibat penggalian batu kapur di sekitarnya. Karena kondisinya yang gelap & lembab, Gua Pawon pun menjadi tempat bermukim yang menggembirakan bagi sekelompok binatang malam yaitu kelelawar. Tak heran maka sebagian masyarakat setempat masih ada yang menggantungkan nasib hidupnya demi sesuap nasi untuk mencari nafkah di Gua Pawon dengan cara mengambil pupuk dari kotoran kelelawar tersebut. Selain itu menurut masyarakat setempat, Gua Pawon juga menjadi salah satu persinggahan & daya magnet bagi para pencari ilmu gaib dengan melakukan tapa di situs prasejarah tersebut. Saat ini Gua Pawon menjadi salah satu obyek wisata yang menarik di daerah Jawa Barat berkat perjuangan gigih dari segelintir kelompok yang peduli terhadap pelestarian lingkungan diantaranya Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Bahkan tidak jauh dari lokasi Gua Pawon tersebut akhirnya pemerintah berinisiatif dan tengah dilakukan proses pembangunan Museum Gua Pawon.

Untuk itulah saya mencoba untuk menyampaikan melalui foto-foto ini, pesan visual yang menggema dari dinding-dinding batu Gua Pawon, yang tak pernah diam untuk selalu memanggil kita saat ini. Melalui fotografi, media yang sarat dengan keheningan ini, setidaknya ada sebuah suara kecil yang terdengar berupa cita & harapan besar bagi kelangsungan Gua Pawon. Sehingga muncul sejumlah kesadaran-kesadaran kecil manusia yang pada nantinya akumulasi kesadaran tersebut menjadi besar hingga mampu menciptakan sebuah sikap & tindakan nyata. Agar mereka selalu memiliki waktu untuk tetirah dan mencari jawaban dari misteri Gua Pawon yang kelak dapat kita wariskan kepada anak cucu kita. Kita akan selalu berharap, meskipun teriknya sinar matahari dan hujan badai yang menerjang tubuh Gua Pawon, namun ia akan tetap berdiri tegak dan menjadi saksi bisu bagi sebuah peradaban manusia yang panjang. Sampai suatu saat nanti.

Bandung, 7 Januari 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 12, 2012 at 6:22 am