I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘foto cerita

Pasukan Hijau Penjaga Pantai Bali

leave a comment »

Teks & Foto oleh galih sedayu

Pulau Bali ternyata tidak hanya menyimpan destinasi wisata alam berupa laut & pantai saja. Ia pun menyuguhkan hamparan hutan mangrove atau bakau yang luas yakni sekitar 1.300 hektar. Letaknya di Jalan By Pass Ngurah Rai, Kuta, Bali, sekitar 100 meter dari Simpang Dewa Ruci. Untuk menelusuri hutan mangrove ini, jembatan kayu dengan panjang sekitar 2 km menjadi sahabat kita untuk melangkah tanpa harus menginjakkan kaki di rawa-rawa yang berlumpur. Pemandangan jalan tol dan birunya laut teluk Benoa dapat dipandang dari ujung jembatan hutan bakau bila kita sudi berjalan hingga ke ujung jembatan kayu tersebut. Di jalur keramaian Kabupaten Badung, Bali, kawasan hutan bakau ini menjadi saksi keseharian lalu-lintas yang bising sekaligus menjadi penyaring polusi udara yang ditimbulkannya. Pohon bakau ini tumbuh dengan gembira di atas rawa yang memiliki air payau (air tawar yang bercampur dengan air laut). Berkat hutan bakau ini pula, gelombang air laut yang masuk ke daratan dapat ditahan sehingga abrasi atau pengikisan tanah di pinggir pantai dapat dikurangi. Bayangkan apabila Pulau Bali yang dikelilingi oleh laut dan ombak yang besar di daerah selatan, tidak memiliki hutan bakau tersebut. Karenanya kita mesti percaya bahwa alam selalu mampu menyediakan cara untuk menjaga ekosistem yang ada, tidak seperti manusia yang kadang justru merusaknya.

@galihsedayu | Bali, 6 Juli 2015

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

hutan mangrove bali

Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Advertisements

Written by Admin

July 15, 2015 at 4:56 pm

“Selfie Me Facere, Ergo Sum” | Personal Photo Project by galih sedayu

leave a comment »

Teks & Karya Foto : galih sedayu

Selfie atau Swafoto. Kini kegiatan tersebut seolah menjelma menjadi sebuah budaya baru yang sangat amat digandrungi terutama oleh kalangan anak muda yang kerap bergaya di depan kamera. Banyak yang mengatakan bahwa penggunaan kata selfie ini berasal dari kata Selca atau Self-Camera. Sesungguhnya selfie sendiri adalah sebuah jenis self-portrait foto, yang biasanya diambil dengan menggunakan kamera ponsel. Kegiatan ini sering dilakukan karena biasanya setelah ritual selfie tersebut, mereka secara berjemaah langsung menggugah foto karya narsis tersebut ke jejaring sosial seperti instagram, path, twitter atau facebook. Saat ini bahkan mereka melakukannya dengan menggunakan sebuah alat bantuan berbentuk tongkat yang dinamakan tongsis.

Menurut catatan sejarah, pada mulanya foto selfie diperkenalkan oleh Robert Cornelius, seorang berkebangsaan Amerika yang juga merupakan perintis fotografi. Ia membuat karya foto yang menggambarkan ekspresi dirinya sendiri pada tahun 1839. Teknik memotret diri sendiri tersebut kemudian semakin berkembang tatkala debut pertama portabel kamera kodak brownie, dimulai pada tahun 1900. Sehingga di tahun yang sama, muncul foto seorang wanita di era Raja Edward VII, Inggris yang mengabadikan foto selfie di depan cermin dengan menggunakan kamera kodak brownie. Lalu pada tahun 1914, putri keempat Tsar Nicholas II dari Rusia bernama Anastasia Nikolaevna, merekam foto selfie dan menjadi karya salah satu remaja pertama yang mengambil foto dirinya sendiri dengan menggunakan kamera kodak brownie untuk kemudian dikirim kepada temannya, di saat usianya baru menginjak 13 tahun. Di dalam surat yang menyertai fotonya itu, ia menuliskan hal ini “Saya mengambil gambar diriku sendiri dengan melihat cermin. Hal itu sangat mengagetkan dimana tangan saya gemetar”. Pada tahun 1935, ada pula seorang seniman Belanda yang bernama M.C. Escher, yang membuat potret dirinya yang diberi judul “Tangan dengan bola refleksi”.

Istilah selfie ini sebenarnya pernah dibahas oleh seorang fotografer yang bernama Jim Krause pada tahun 2005. Lalu pada tahun 2013, kata selfie dimasukkan ke dalam Online Oxford English Dictionary. Dan pada bulan november 2013, kata yang berasal dari negara Australia ini diumumkan sebagai “Word Of The Year” oleh Oxford English Dictionary. Tampaknya, foto selfie kini menyebar seperti virus ke seluruh dunia. Bahkan Presiden Barack Obama dan Perdana Menteri David Cameron pun melakukannya pada saat pemakaman Nelson Mandela. Tak ketinggalan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pun melakukannya di sela-sela kegiatan kampanye mereka terdahulu. Walaupun sesungguhnya, foto selfie ini terasa membosankan karena rata-rata dilakukan dengan berpose bibir manyun, mengangkat jari tangan sembari meniru simbol metal atau gaya bebas lain semaunya. Namun walaubagaimanapun, agaknya ada semacam Fun Theory ketika melakukan aktivitas selfie ini. Sehingga orang-orang yang melakukannya pun merasa gembira dan merasa lepas dari beban stres maupun pikiran yang penat.

Barangkali beberapa fotografer atau seniman menganggap bahwa foto selfie ini bukanlah termasuk ke dalam level mereka. Biarlah demikian adanya. Atau malahan genre fotografi ini mungkin sengaja hadir untuk menghibur kita semua agar polemik perihal diskusi foto seni atau bukan seni yang biasanya terus bergulir, dapat berhenti sejenak. Sembari menikmati suguhan karya foto selfie yang sarat dengan gaya narsis nan ambigu, namun demikian tak bisa lepas dari konteks perihal diri sendiri. Kalau seorang Descartes pernah bersabda Cogito Ergo Sum atau “Aku Berpikir, Maka Aku Ada”, barangkali para kelompok penyuka Selfie ini, dengan tidak berpikir punya filosofi seperti ini, “Aku Memotret Diri, Maka Seterusnya Aku Ada”.

“Personal Photo Project” sejak tahun 2014

#54KaryaFoto

DSCF0794_blog

Penang, Malaysia – 2015

galih sedayu

Kuta, Bali – 2015

galih sedayu

La Plancha, Seminyak, Bali – 2015

selfie

Blue Point, Jimbaran, Bali – 2015

selfie

Blue Point, Jimbaran, Bali – 2015

selfie

Blue Point, Jimbaran, Bali – 2015

selfie

Mangroove Forest, Bali – 2015

selfie

La Plancha, Seminyak, Bali – 2015

selfie

Pantai Balangan, Jimbaran, Bali – 2015

selfie

Pantai Balangan, Jimbaran, Bali – 2015

selfie

Pantai Padang-Padang, Jimbaran, Bali – 2015

galih sedayu

Taman Alun-Alun, Mesjid Agung, Bandung – 2015

galih sedayu

Parade Asia Afrika, Jalan Asia Afrika, Bandung – 2015

galih sedayu

Pantai Batu Karas, Pangandaran – 2015

galih sedayu

Monumen Asia Afrika, Jalan Asia Afrika, Bandung – 2015

galih sedayu

Angklung For The World, Stadiun Siliwangi, Bandung – 2015

galih sedayu

Jalan Cikapundung Timur, Bandung – 2015

galih sedayu

Jalan Cikapundung Timur, Bandung – 2015

galih sedayu

Jalan Asia Afrika, Bandung – 2015

galih sedayu

Dusun Bambu, Lembang – 2015

selfie

Taman Bunga Nusantara, Cipanas – 2014

selfie

Hamamatsu, Jepang – 2014

selfie

Jabar Ngagaya Fest, Jalan Diponegoro, Bandung – 2014

selfie

Area Paragliding, Puncak Pass – 2014

selfie

Taman Bunga Nusantara, Cipanas – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Pasar Seni, ITB, Bandung – 2014

selfie

Bdg Caang Fest, Jalan Diponegoro, Bandung – 2014

selfie

Jabar Ngagaya Fest, Jalan Diponegoro, Bandung – 2014

selfie

Area Paragliding, Puncak Pass – 2014

selfie

Taman Bunga Nusantara, Cipanas – 2014

selfie

Pasar Seni, ITB, Bandung – 2014

selfie

Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Bdg Caang Fest, Jalan Diponegoro, Bandung – 2014

selfie

Ngora Bdg Fest, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Jabar Ngagaya Fest, Jalan Diponegoro, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Pasar Seni, ITB, Bandung – 2014

selfie

Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Ngora Bdg Fest, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Ngora Bdg Fest, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Ngora Bdg Fest, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Kawasan Paragliding, Puncak Pass – 2014

selfie

Pawai Persib Juara | Patung Ajat Sudrajat, Lembong, Bandung – 2014

selfie

Pasar Seni, ITB, Bandung – 2014

selfie

Tebing Keraton, Bandung – 2014

selfie

Braga Culinary Night, Bandung – 2014

IMG_9834_blog

Kampung Daogo Pojok, Bandung – 2013

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

December 5, 2014 at 10:58 am

Kidung Kasih Kampung Cicadas

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Akar sebuah kota adalah kampung-kampung yang bermukim di sana. Meski ironisnya keberadaan kampung ini menjadi kering terbengkalai akibat ambisi pemerintah yang kerap membangun di pusat kota dengan mengatasnamakan kemajuan. Padahal sesungguhnya, di kampung-kampung inilah pusat energi sebuah kota menyeruak hadir demi menopang tubuh kota yang dulunya lemas tak berdaya. Kampung Akustik Cicadas adalah salah satu contoh akar kota yang memiliki energi ini. Kerap mendapat julukan kampung preman, kampung kumuh, kampung tawuran dan berbagai citra negatif lainnya…tidak lah membuat para pemuda kampung cicadas ini menyerah. Mereka terus menyuarakan semangat perubahan demi Kampung Cicadas yang lebih bermartabat. Nama-nama seperti Kang Guntur, Kang Ganjar Noor, dan Kang Rahmat Jabaril pun tercatat dalam noktah sejarah Kampung Cicadas yang mewakili para pemudanya. Meski berjuang di atas kursi rodanya, Kang Guntur tak pernah kehilangan asa untuk menyebarkan virus-virus kreatif di kampungnya. Lewat sentuhan jemari tangannya, kuas lukis pun menjadikan karya mural bertema musik di dinding-dinding gang Kampung Cicadas. Kang Ganjar Noor pun punya cara lain untuk menyampaikan pesan bagi kampungnya. Lewat alunan merdu gitar dan suaranya yang nyaring, Kang Ganjar Noor terus mengumandangkan tentang pentingnya mencintai kampung dan membuat sebuah perubahan berarti meski melalui langkah kecil. Belum lagi ide, pikiran dan kreativitas yang dipersembahkan oleh Kang Rahmat Jabaril bagi Kampung Cicadas ini. Dari mulai membuat advokasi, sarasehan ataupun sekedar mendengar curhat warga dilakoni oleh Kang Rahmat Jabaril demi menstimulan kekuatan Kampung Cicadas tersebut. Lambat laun kini Kampung Cicadas mulai menunjukkan sayapnya untuk terbang menuju citra yang lebih baik. Para preman di kampung ini sekarang mulai aktif mencipta lagu, bermain musik dan bahkan membuat kerajinan gitar. Tembok-tembok yang mengapit gang di Kampung Cicadas ini mulai berwarna dengan mural-muralnya yang kreatif. Saat ini Kampung Cicadas berharap dapat membangun sebuah studio musik untuk ajang latihan bagi para musisi kampung yang ingin tampil. Lewat sepenggal lagu yang diciptakan oleh Kang Ganjar Noor inilah semestinya kita bercermin. Bahwa pada kampung seperti Kampung Cicadas lah sesungguhnya kita tak boleh henti berharap. Demi sebuah Kota Bandung yang berdiri tegak hingga akhir masa.

Kembalilah Kampungku

Kampung, kampung…tempat bernaung
Ruang bercengkrama urai cerita
Melukis harapan di hampar tanah-tanah
Membakar semangat di jiwa merdeka

Kampung, kampung…terjamah kota
Kota, kota, kota, kota ubah cerita
Dimana persoalan menghempas kerinduan

Menncakar keheningan mengundang keriuhan

Apa yang tersisa selain rasa cinta
Pada kampung yang tlah tiada

Pada tanah, pada air, pada cerita
Apa yang tersisa selain kerinduan
Pada kampung yang kini kota

Berharap kampung-kampung masih ada
Tetap ada walau di tengah bising kota…

Pada jiwa semangat menyala
Bangun kampung-kampung cerita baru
Menghias tanah-tanah, mengukir dinding-dinding
Menggambar atap-atap, merubah kehidupan.

– Ganjar Noor – 

Bandung, 13 Oktober 2012

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 31, 2013 at 2:12 pm

Gua Pawon Memanggil

leave a comment »

Foto & Teks : galih sedayu

9 Desember 2000. Sudah layak & sepantasnya lah tanggal ini menjadi sebuah momen dan tonggak bersejarah bagi temuan dunia Arkeologi Indonesia khususnya di Jawa Barat. Tatkala Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) yaitu sebuah kumpulan kecil orang-orang sederhana yang merupakan peneliti independen, berhasil menemukan benda-benda prasejarah buah hasil penelitian mereka yang menggunakan metode geomagnetik di dalam sebuah situs hunian era manusia purba yang bernama Gua Pawon. Pasca awal penemuan tersebut, pada tahun 2003 Balai Arkeologi Bandung melakukan penggalian secara lebih sistematik dan berhasil mengungkap misteri kebesaran Gua Pawon dengan berbagai penemuan berharga. Salah satunya adalah kerangka manusia lengkap yang ditemukan dalam posisi meringkuk. Alhasil setelah temuan fenomenal itu, nama Gua Pawon pun kembali menjadi perbincangan yang hangat di kalangan para peneliti dan penjelajah sejarah. Sebenarnya keberadaan Gua Pawon itu sendiri sudah ada sejak lama dan pernah diberitakan oleh R. Prajatna Koesoemadinata (Guru Besar Emeritus & Ikatan Ahli Geologi Indonesia) dalam laporan survei geologi yang dilakukan pada tahun 1959. Meski begitu saat ini masih banyak masyarakat kita yang belum mengenal sama sekali atau bahkan mau peduli terhadap aset peradaban prasejarah tersebut.

Gua Pawon sebenarnya merupakan sebuah gua tebing yang berada di sekitar kawasan Danau Bandung Purba, tepatnya di daerah Pasir Pawon, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, sekitar 25 km sebelah Barat kota Bandung. Akses untuk menuju tempat ini sebenarnya relatif mudah meski harus memasuki kawasan karst citatah dengan kondisi jalan yang tidak mulus dan udara yang sangat berdebu akibat penggalian batu kapur di sekitarnya. Karena kondisinya yang gelap & lembab, Gua Pawon pun menjadi tempat bermukim yang menggembirakan bagi sekelompok binatang malam yaitu kelelawar. Tak heran maka sebagian masyarakat setempat masih ada yang menggantungkan nasib hidupnya demi sesuap nasi untuk mencari nafkah di Gua Pawon dengan cara mengambil pupuk dari kotoran kelelawar tersebut. Selain itu menurut masyarakat setempat, Gua Pawon juga menjadi salah satu persinggahan & daya magnet bagi para pencari ilmu gaib dengan melakukan tapa di situs prasejarah tersebut. Saat ini Gua Pawon menjadi salah satu obyek wisata yang menarik di daerah Jawa Barat berkat perjuangan gigih dari segelintir kelompok yang peduli terhadap pelestarian lingkungan diantaranya Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Bahkan tidak jauh dari lokasi Gua Pawon tersebut akhirnya pemerintah berinisiatif dan tengah dilakukan proses pembangunan Museum Gua Pawon.

Untuk itulah saya mencoba untuk menyampaikan melalui foto-foto ini, pesan visual yang menggema dari dinding-dinding batu Gua Pawon, yang tak pernah diam untuk selalu memanggil kita saat ini. Melalui fotografi, media yang sarat dengan keheningan ini, setidaknya ada sebuah suara kecil yang terdengar berupa cita & harapan besar bagi kelangsungan Gua Pawon. Sehingga muncul sejumlah kesadaran-kesadaran kecil manusia yang pada nantinya akumulasi kesadaran tersebut menjadi besar hingga mampu menciptakan sebuah sikap & tindakan nyata. Agar mereka selalu memiliki waktu untuk tetirah dan mencari jawaban dari misteri Gua Pawon yang kelak dapat kita wariskan kepada anak cucu kita. Kita akan selalu berharap, meskipun teriknya sinar matahari dan hujan badai yang menerjang tubuh Gua Pawon, namun ia akan tetap berdiri tegak dan menjadi saksi bisu bagi sebuah peradaban manusia yang panjang. Sampai suatu saat nanti.

Bandung, 7 Januari 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 12, 2012 at 6:22 am

Tears Of The Cow

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Sebagian masyarakat menganggap bahwa seekor hewan yang bernama sapi memang ditakdirkan untuk mati disembelih demi simbol sebuah tradisi kurban bagi setiap umat muslim yang merayakan hari raya Idul Adha setiap tahunnya. Padahal kita sadari benar bahwa setiap hari pun sapi-sapi tersebut disembelih dan dengan mudahnya kita mendapatkan daging tersebut di pasar. Foto cerita tentang hewan sapi yang disembelih pada saat hari raya Idul Adha ini dibuat sebagai cuplikan realitas yang sungguh terjadi meski sebenarnya adegan-adegan tersebut dapat dilihat setiap harinya semisal di tempat-tempat penjagalan. Hanya saja cerita penyembelihan sapi ini menjadi berbeda tatkala ada sebuah hari yang dikenang oleh masyarakat muslim. Semoga tangisan para sapi ini menjadikan kita untuk lebih berani berkorban (lebih daripada sapi tentunya) demi sebuah langgengnya kehidupan yang damai di bumi. Sehingga tak ada lagi kata korban korupsi, korban ketidakadilan dan korban kesemena-menaan yang hingga kini masih saja terjadi di bumi pertiwi ini.

Bandung, 17 November 2010

copyright (c) 2010 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

November 19, 2010 at 8:47 am

Balada Para Anjing Tomohon

with 5 comments

Teks & Foto : galih sedayu

“Aku punya anjing kecil
Kuberi nama Helly
Dia senang bermain-main
Sambil berlari-lari
Helly! Guk! Guk! Guk!
Kemari! Guk! Guk! Guk!
Ayo lari-lari…
Helly! Guk! Guk! Guk!
Kemari! Guk! Guk! Guk!
Ayo lari-lari”

-Lagu Anjing Kecil-

Foto cerita tentang penjualan daging anjing ini diambil di daerah yang bernama Pasar Tomohon di Sulawesi Utara. Kota Tomohon sendiri berada pada 1°15′ Lintang Utara dan 124°50′ Bujur Timur. Letaknya yang diapit oleh tiga gunung aktif yaitu Lokon, Mahawu, dan Masarang menjadikan wilayah ini sebagai daerah yang subur dan menjadi daerah wisata karena hawanya yang sejuk. Pasar Tomohon merupakan salah satu pasar tradisional terbesar di Minahasa.

Sulawesi Utara, Tomohon, 16 November 2008

copyright (c) 2008 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

November 6, 2010 at 1:31 pm

Menunggu Sebuah Perayaan

with one comment

Teks & Foto : galih sedayu

Sejak tahun 2004 yang lalu, setiap tahunnya kota bandung selalu ditunjuk dan dipercaya oleh pemerintah indonesia lewat kementrian pariwisata dan budayanya sebagai tempat untuk dilangsungkannya sebuah helaran akbar seni & budaya tanah air yang bertajuk Kemilau Nusantara. Termasuk tahun 2010 ini ketika kota bandung merayakan hari jadinya yang ke-200 tahun. Helaran Kemilau Nusantara tahun ini diadakan di Monumen Perjuangan Jawa Barat tepatnya pada tanggal 23 Oktober 2010 yang hanya diikuti oleh 5 propinsi dari seluruh indonesia. Tentunya hal ini menjadi sorotan yang patut dipertanyakan karena data yang ada menunjukkan dari tahun ke tahun peserta helaran Kemilau Nusantara selalu cenderung menurun. Mengapa demikian? Sepertinya kita semua telah mengetahui apa jawaban pasti dari pertanyaan tersebut terlebih ketika menyangkut segala sesuatu yang erat kaitannya dengan urusan pemerintahan atau birokrasi. Tetapi biarlah kita kesampingkan sejenak masalah itu.

Agaknya segala permasalahan seni & budaya pun setidaknya ikut dipikirkan oleh para petualang cahaya atau yang lebih akrab dengan sebutan fotografer/pemotret. Setidaknya kaum ini tidak pernah bosan untuk merekam segala atraksi dan pertunjukkan yang digelar pada saat acara Kemilau Nusantara tersebut. Entah itu hanya sekedar hunting, mengikuti lomba foto, tugas liputan atau mungkin sebuah proyek pribadi sang pemotret. Termasuk oleh saya sendiri yang mencoba untuk membuat sebuah Photo Story tentang aktivitas lain para peserta helaran sebelum mereka tampil. Karena bagi saya di sanalah kerap hadir momen-momen menarik yang merangsang jari untuk menekan shutter kamera. Bagai melihat sebuah kehidupan lain di belakang layar. Seperti kasih sayang seorang kakek yang rela untuk mengantar cucunya melihat helaran kemilau nusantara. Pemanasan dan latihan para peserta sebelum mereka mendapat giliran tampil. Dan lain sebagainya.

Untuk itulah fotografi dengan kesederhanaannya membekukan semua adegan tersebut untuk dapat dibagikan kembali ke dalam bentuk visual foto yang abadi. Sehingga di dalamnya selalu ada informasi, komunikasi dan pesan dari sang pemotret agar terjadi dialog yang bergulir demi kelangsungan fotografi dan isu yang diangkatnya. Yang tidak pernah ada kata salah atau benar melainkan kata “yang selalu ada”. Yang kelak menjadi jejak, kenangan dan pertanda kehadiran dari sebuah peristiwa apapun di dunia. Hingga akhir menutup mata.

Bandung, 24 Oktober 2010

copyright (c) 2010 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 31, 2010 at 2:13 pm