I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for October 2016

Kala Fotografi Indonesia

with 2 comments

 

KALA FOTOGRAFI INDONESIA
Penyusun : galih sedayu | Air Foto Network [AFN]

Catatan kecil perihal sejarah perkembangan fotografi di Indonesia yang saya buat ini sebenarnya bertujuan untuk menggali & mengungkap fakta yang belum hadir sehingga dengan kekuatan kolaborasi, catatan ini diharapkan bisa menjadi oase bagi kandungan fotografi Indonesia yang kaya. Sejak fotografi ditahbiskan pada tahun 1839 oleh Louis Jacques Mande Daquerre melalui sebuah konferensi internasional di Paris, virus kebaikan fotografi ini langsung menyebar tak terbendung termasuk di Indonesia. Karena bangsa kita banyak melalui sebuah masa dari mulai masa penjajahan hingga masa kemerdekaan, catatan ini saya coba bagi menjadi beberapa babak agar kita lebih mudah merunut sejarah fotografi di bumi pertiwi ini. Sudi kiranya para sahabat mau menambahkan atau mengkoreksi apabila terdapat kekeliruan dalam catatan yang saya buat ini. Karena dengan begitulah isinya dapat menjadi kebenaran yang dapat kita gunakan secara bersama.

* Masa Hindia-Belanda 1840-1942

1840
Juriaan Munich
, seorang petugas kesehatan diutus oleh Kementrian Urusan Wilayah Jajahan (Ministerie van Kolonien) Kerajaan Belanda untuk mengabadikan tempat dan obyek yang paling terkenal di daerah Jawa Tengah. Namun misi ini mengalami kegagalan.

1844
Pada bulan juni 1844, Adolf Schaefer, seorang Daguerretypist dari Kota Dresden tiba di Batavia untuk menggantikan Juriaan Munich dan ditugaskan memotret patung Hindu-Jawa koleksi Lembaga Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenshapen). Schaefer berhasil menunaikan tugas ini sekaligus menjadi orang pertama yang berhasil membuat foto di Hindia-Belanda.

1853
Saurman’s Daguerrian Galery, studio foto komersial pertama didirikan di Hindia-Belanda yang beralamat di Rijswijk, Marine Hotel No.1 Batavia.

1857
Albert Woodbury & James Page, dua orang bersaudara berkebangsaan inggris datang ke Hindia-Belanda dan mendirikan studio foto komersial. Studio Woodbury & Page ini merupakan studio foto komersial paling terkenal dan sukses secara finansial di seluruh Hindia-Belanda.

1860-1863
Antara kurun waktu tersebut, Franz Wilhelm Junghunhn, seorang ahli obat-obatan yang telah bekerja di Jawa sejak tahun 1835 dan terkenal sebagai perintis penanaman kina, membuat seri foto tanaman pertama di Hindia-Belanda sekaligus menandai dimulainya ketertarikan pada obyek foto tanaman.

1862
Isidore van Kinsbergen, fotografer sekaligus pelukis yang tinggal di Batavia, ditunjuk menggantikan Adolf Schaefer. Tugas pertamanya adalah memotret seluruh benda kuno yang ada di Hindia-Belanda.

1865
H.R. Olland Jr & P.H. Van der Burght, dua orang fotografer profesional asal Belanda hadir mendirikan studio foto di Batavia.

1873
Pada bulan april 1873, Pemerintah Hindia-Belanda menugaskan Isodore van Kinsbergen untuk memotret Candi Borobudur guna melengkapi penulisan buku tentang Borobudur yang dilakukan oleh Dr. C. Leemans, seorang kepala museum benda kuno di Leiden.

1875
Boroboedoer Album, dua belas album foto, yang masing-masing berisi 40 foto mengenai borobudur karya dari Isodore van Kinsbergen diterbitkan.

1861-1870
Selama kurun waktu ini, Simon Willem Camerik, seorang pelukis dan fotografer yang banyak mendapatkan pekerjaan memotret di dalam lingkungan Kraton Yogjakarta, aktif memotret di daerah Jawa Tengah. Simon banyak memotret pemandangan alam di berbagai pelosok Surakarta, Yogjakarta, Magelang dan Prambanan untuk dijual ataupun dikirimkan sebagai hadiah kepada kawan-kawannya di Eropa.

1863-1875
Selama kurun waktu ini, Kassian Cephas, orang Indonesia yang dianggap sebagai fotografer pribumi pertama, belajar fotografi untuk pertama kalinya kepada Isodore van Kinsbergen. Chepas juga belajar fotografi kepada Simon Willem Camerik.

1870
Kassian Cephas ditunjuk oleh Sultan Hamengkubuwono VII sebagai pelukis & fotografer resmi Kraton Yogjakarta. Chepas juga membuka studio foto di daerah Loji Kecil (sekarang di Jl. Mayor Suryotomo) dekat sungai conde dan memiliki seorang asisten yang bernama Damoen.

1886
Pada tanggal 1 Juni 1886, Dr. R.D.M. Verbeek berhasil mendokumentasikan foto-foto Gunung Krakatau di Selat Sunda atas penugasan dari pemerintah Hindia-Belanda.

1888
Buku berjudul In den Kedaton te Jogjakarta dan De garebeg’s te Ngayogyakarta diterbitkan oleh penerbit komersial Brill di Kota Leiden. Buku ini dibuat oleh Isaac Groneman, seorang dokter resmi Sultan Yogjakarta, dimana semua foto di dalamnya adalah karya Kassian Cephas.

1889
C.K. Kleingrothe membuka studio foto pertama di Medan, Sumatera.

1891
Kassian Cephas berhasil memotret relief Karmavibhanga Candi Borobudur. Jumlah foto yang direkam Cephas adalah 164 foto dasar tersembunyi, 160 foto relief dan 4 foto situs Borobudur secara keseluruhan.

1893
Raden Ngabehi Basah Tirto Soebroto, seorang juru bahasa Jawa di Pengadilan Lanraad Batavia, menerbitkan sebuah tutorial fotografi bahasa Melayu dengan judul Hikajat Ilmoe Menggambar Photographie.

1894
Karl Martin, seorang ahli geologi dari Leiden, mempublikasikan 288 foto tentang formasi batuan, spesies tanaman, hewan dan penduduk maluku dalam buku berjudul Reisen in den Molukken. Buku ini terbit setelah selama satu tahun ia melakukan ekspidisi fotografi.

1898
Jean Demmeni & Dr. A.W. Nieuwenhuis, melakukan ekspidisi geologi dan antropologi ke Kalimantan. Setelah ekspidisi ini berakhir tahun 1899 sebanyak 150 negatif foto tentang etnologi dibawa ke Jawa.

1899
Kamera buatan Kodak telah dapat ditemukan di Kalimantan.

1901
* Hasil foto liputan Kassian Cephas & Groeneman tentang pementasan Wayang Orang pada tahun 1899 yang disponsori oleh Gusti Raden Mas Putro (Hamengkunegara III), dibukukan dengan judul Wajang orang Pergiwa atas perintah Sultan Hamengkubuwono VII. Buku yang hanya dicetak satu buah dengan sampul bertahtakan emas permata ini kemudian dikirimkan Sultan sebagai hadiah kepada Ratu Wilhelmina dan Pangeran Hendrik di Istana Oranye Belanda.
* H.L Leydie adalah fotografer yang diberi tugas oleh Oudheidkundige Commissie (sebuah komisi arkeologi pemerintah Hindia-Belanda), untuk memotret aktivitas arkeologi di seluruh kepulauan Nusantara.

1902
Cristiaan Benjamin Nieuwenhuis, menerbitkan buku foto berjudul De Expeditie naar Salamanga, sebuah buku kumpulan foto Perang Aceh (1873-1914).

1902-1903
Antara kurun waktu tersebut, foto-foto tentang Papua banyak diabadikan. Alam Papua pertama kali direkam oleh F.C. Burst, penduduk asli Papua pertama kali direkam oleh Pieter Eliza Moolenburg, dan foto-foto awal penduduk Papua dalam jumlah banyak dibuat oleh Johan S.A van Dissel.

1906
Jonkheer H.M. van Weede mendokumentasikan peristiwa peperangan antara penguasa Bali dengan pemerintah kolonial yang terjadi pada bulan September 1906.

1907-1910
Ekspedisi fotografi ke Papua makin banyak dilakukan. Ekspedisi terbesar adalah yang dipimpin oleh H.A. Lorentz ke daerah pegunungan bagian tengah Papua. Tercatat tiga orang anggota yang bertugas memotret yaitu Van Nouhuys, Versteegh dan J.M. Dumas.

1910
Terdapat lebih dari 150 studio foto komersial yang beroperasi di seluruh Hindia-Belanda.

1911
Jean Jaques de Vink
, salah satu fotografer resmi Oudheidkundige Dienst (Komisi Arkeologi), menyelesaikan 2000 foto restorasi Borobudur yang telah berlangsung sejak tahun 1907.

1912
Kassian Cephas meninggal dunia pada tanggal 16 November 1912. Ia dimakamkan di kuburan Sasanalaya, dekat pasar Beringharjo. Studio fotonya diestafetkan kepada anaknya yakni Sem Cephas.

1917
* Thilly Weissenborn, seorang fotografer perempuan pertama di Hindia-Belanda dikontrak oleh pemerintah untuk memotret industri pariwisata.
* Kamera produksi Eastman Kodak Company dari amerika yang terkenal murah & mudah dioperasikan mulai masuk ke Hindia-Belanda. Dimana Kurkdjian, O & Co. NV. Ditunjuk oleh Eastman Kodak Company sebagai distributor tunggal untuk Hindia-Belanda.

1918
Pemerintah Hindia-Belanda memasukkan “gambar” ke dalam peraturan pers baru yang mereka keluarkan dan disebut sebagai Haatzaai Artikelen.

1920
* Awal tahun ini, foto seri romantik di Bali yang direkam oleh Thilly menjadi rujukan utama wisatawan yang ingin mengunjungi pulau tersebut.
* Dunia fotografi amatir mulai marak & berkembang. Dr. J. Vermeuleun menerbitkan majalah bulanan De Camera, Populair Technish Maanblaad voor den Amateur Photography in Nederlands-Indie.

1921
Cara beriklan di berbagai media cetak yang biasanya menggunakan photograms (cetak positif) sejak tahun 1914, kini mulai diganti dengan menggunakan foto.

1922
* Awal tahun ini, Anton Najoan, seorang pribumi yang bekerja di firma Charls & Van Es & Co pulang kampung ke daerah Tondegesan di Minahasa, Sulawesi. Kemudian ia membawa seorang bocah berumur 15 tahun untuk ikut mengadu nasib di Batavia. Bocah itu bernama Alexius Impurung Mendur. Kelak bocah inilah yang menjadi salah satu pelopor pendiri IPPHOS.
* Perkumpulan fotografer amatir yang bernama Eerste Nederlandsch Indische Amateur Fotografen Vereeniging (ENVIAF) dibentuk pertama kali di Weltevreden, Batavia.

1924
* Preanger Amateur Fotografen Vereeniging (PAFV), sebuah perkumpulan fotografer amatir pertama kali dibentuk di Kota Bandung pada tanggal 15 Februari 1924. Prof. Schemerhorn dan Prof. CP. Wolff Schoemaker, guru besar arsitektur di Technische Hoogeschool (sekarang ITB) menjadi motor penggerak klub foto yang tertua di Indonesia tersebut. Saat ini berganti nama menjadi Perhimpunan Amatir Foto (APF) Bandung.

1927
Alexius Impurung Mendur bekerja di Charls & Van Es & Co, sembari memperdalam ilmu fotografi ke Anton Najoan dan H. Bodom.

1929
Java Bode
merupakan media pertama di Hindia-Belanda yang menerbitkan suplemen khusus yang menggunakan foto sebagai material utama berita. Rozema, seorang pribumi yang sangat kaya menjadi kepala bagian foto media tersebut.

1930-1935
Dalam kurun waktu ini, studio foto di Hindia-Belanda mulai didominasi oleh orang-orang Cina. Tercatat ada 27 buah studio foto komersial milik orang Cina, 4 buah studio foto milik orang Jepang, 8 buah studio foto milik orang Eropa & 2 buah studio foto milik orang Pribumi. Salah satu studio foto milik orang Pribumi ini bernama “Studio Indonesia” yang beralamat di Pasarpon Tel. 182, Surakarta

1933
Foto Jurnalistik yang biasanya menyajikan karya foto berupa spot photo atau foto tunggal, kini mulai bervariasi dengan munculnya genre baru yakni photo essay, yakni foto-foto yang terdiri lebih dari satu foto namun dalam satu tema.

1934
Frans Soemarto Mendur
mulai belajar ilmu fotografi kepada kakaknya Alexius Impurung Mendur.

1935
Kodak Brownie
, produk fotografi yang dikeluarkan oleh Eastman Kodak Company USA mulai mendominasi pasar Hindia-Belanda. Setahun berikutnya, jumlah pelanggan setia produk-produk Kodak di seluruh Hindia-Belanda telah mencapai ribuan orang.

1940
Pada masa ini, terdapat 149 studio foto komersil yang masih aktif di Hindia-Belanda. Sebagian besar dimiliki oleh orang Cina, kedua oleh orang Jepang & sejumlah kecil lagi dimiliki oleh orang Eropa.

* Masa Pendudukan Jepang 1942-1945

1942
* Sejak pendudukan Jepang yang dimulai pada tanggal 8 Maret 1942, fotografi di Indonesia terpaksa melayani satu matra yakni propaganda perang.
* Pada bulan Mei 1942, Pemerintah militer Jepang mengeluarkan Undang Undang No.16 yang mengatur tata cara publikasi & komunikasi di daerah Jawa dan Madura. Pemerintah militer Jepang menerapkan peraturan yang mengharuskan setiap fotografer untuk mengirimkan negatif yang telah digunakan kepada bagian sensor di Barisan Propaganda Jepang. Akibat peraturan ini, semua surat kabar jaman Hindia-Belanda tidak mungkin lagi untuk terbit. Para fotografer Eropa lebih memilih keluar dari Indonesia daripada dijadikan tawanan perang.
* Pada bulan Agustus 1942, untuk keperluan propaganda perang, pemerintah militer Jepang kemudian membentuk Sendenbu (Departemen Propaganda).
* Pada bulan Oktober 1942, dua biro khusus Sendenbu pertama dibentuk yakni Jawa Hoso Kanrikyoku (Biro Pengawas Siaran Jawa) dan Domei (Kantor Berita). Setelah itu, kantor berita Antara pun bergabung dengan Domei.
* Pada tanggal 6 Oktober 1942, pemerintah militer Jepang di Jakarta menetapkan harga pembuatan pas foto sebesar f 0,75 per tiga buah lembar foto. Di beberapa daerah, bahkan keluar peraturan larangan jual beli peralatan fotografi.
* Pada masa ini, Alex Impurung Mendur menjabat sebagai Kepala Bagian Foto Kantor Berita Domei.
*
Selain memperkejakan fotografer profesional, selama Perang Dunia II militer Jepang juga melakukan cara pendokumentasian perang dengan cara membekali para perwira maupun prajuritnya sebuah kamera yang telah siap dipakai untuk memotret.
*
Frans Sumarto Mendur {Adik Alexius Impurung Mendur} bekerja di Koran Asia Raya dan majalah bergambar Djawa Baroe. Untuk Soeara Asia yang terbit di Surabaya, fotografer yang ditugaskan adalah Abdoel Wahab Saleh.

1944
Domei kembali merekrut 7 pemuda berumur 16-22 tahun untuk dijadikan anggota Barisan Propaganda Bagian Potret. Dua di antara 7 pemuda ini bernama Sajuti Melik & Moerdiyanto. Di bawah bimbingan instruktur dari Jepang yang bernama Tsunoda, mereka diberikan kursus fotografi.

1945
*Awal bulan agustus 1945, Abdoel Kadir Said direkrut untuk memperkuat Barisan Propaganda bagian Potret.
* Pada periode ini Frans Soemarto Mendur juga terlibat secara aktif dalam gerakan kelompok pemuda Angkatan Baru.

* Tanggal 17 Agustus 1945 jam 10 pagi di Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi 56) Jakarta dilaksanakan upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Alex Impurung Mendur & Frans Soemarto Mendur merekam peristiwa itu dengan menggunakan kamera Leica.
 

* Masa Kemerdekaan 1945 – sekarang

1946
Pada tanggal 2 Oktober 1946 Kantor berita independen yang bernama Indonesian Press Photo Services (IPPHOS) didirikan oleh J.K. Umbas, F.F. Umbas, Alex Mamusung & Oscar Ganda (Mendur Bersaudara).

1948
Klub Foto yang bernama Lembaga Fotografi Candra Naya (LFCN) berdiri di Jakarta. Sebelumnya klub ini bernama “Sin Ming Hui”. 

1955
Pada tanggal 28-30 Oktober 1955, GAPERFI mengadakan kongres di Semarang.

1956
*
Pada bulan Februari 1956, GAPERFI menerbitkan majalah bulanan foto pertama di Indonesia yang bernama Kamera ; Majalah Untuk Penggemar Foto. Namun majalah ini hanya terbit sekali saja.
* Pada bulan Juli 1956, GAPERFI mengadakan kongres di Kota Bandung dan jumlah anggotanya menjadi 13 Klub Foto dari seluruh Indonesia.
* Salon Foto Indonesia I atau yang dikenal dengan nama 1st International Photosalon of Indonesia diselenggarakan di Kota Bandung.

1967
PAF Bandung menerbitkan Buletin-nya (stensilan) yang pertama.

1969
Pada bulan Februari 1969, majalah Foto Indonesia (FI) terbit perdana yang merupakan majalah satu-satunya di Asia Tenggara pada masa itu.

1969
Sebuah komite yang bersifat sementara yang bernama Sekretariat Bersama (SB) lahir. Tugasnya adalah menghubungi & membuat daftar semua klub foto yang ada di Indonesia untuk bergabung dan melaksanakan musyawarah nasional guna pembentukan sebuah wahana foto nasional.

1973
* Pada tanggal 28-29 Desember 1973, SB menggelar musyawarah nasional fotografi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

* Pada tanggal 30 Desember 1973, Munas yang dihadiri oleh 8 Klub Foto dari seluruh Indonesia sepakat untuk mendirikan 
Federasi Perkumpulan Seni Foto Indonesia (FPSI) atau Federation of Photographic Societies Indonesia. Ketua FPSI yang ditunjuk adalah Prof. Dr. R.M. Soelarko.

1986
M
ajalah Foto Indonesia (FI) berhenti terbit.

1989
Pada tanggal 8 Agustus 1989, Association of Professional Photographers Indonesia (APPI) dibentuk.

1992
* Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) didirikan oleh Kantor Berita Antara.
*
Dibentuknya pendidikan fotografi di Indonesia (IKJ)

1998
Pada tanggal 8 Desember 1998, Pewarta Foto Indonesia (PFI) didirikan.

2014
* Pada tanggal 28-30 April 2014 , Pra Konvensi Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) bidang fotografi diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan & Kebudayaan Republik Indonesia, Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak dan Usia Dini, Nonformal dan Informal, di Hotel Banana Inn, Bandung.
* Pada tanggal 24-25 Juni 2014, Konvensi Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) bidang fotografi diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan & Kebudayaan Republik Indonesia, Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak dan Usia Dini, Nonformal dan Informal, di Hotel Banana Inn, Bandung.
 
* Pada tanggal 25 Juni 2014, Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI) dideklarasikan di Harris Hotel Batam Center.
 pendidikan fotografi di Indonesia (IKJ)
* Pada tanggal 10-12 Oktober 2014, Kongres Fotografi Indonesia diselenggarakan di Hotel Amaris, Jakarta.
 
* Pada tanggal 12 Oktober 2004, Masyarakat Fotografi Indonesia (Indonesian Photography Society) dideklarasikan di Hotel Amaris, Jakarta setelah Kongres Fotografi Indonesia selesai dilaksanakan.
 

SUMBER PUSTAKA
* Arsip IPPHOS
*
Ajidarma, Seno Gumira. 2005. Kisah Mata; Fotografi antara Dua Subyek, Perbincangan tentang ada. Yogyakarta: Galang Press
Douwes Dekker, N.A. (Tt). Tanah Air Kita. Bandung/’s Gravenhage: N.V. Penerbitan W. van Houve

Knaap, Gerit. 1999. Chepas, Yogyakarta; Photography in the service of the Sultan. Leiden: KITLV Press.

Zoelverdi, Ed. 1985. Mat Kodak : Melihat Untuk Sejuta Mata. Jakarta: Graffiti Press.

* Buletin PAF, April 2004.

Soerjoatmodjo, Yudhi. 2013. IPPHOS; Indonesian Press Photo Service; Remastered Edition. Jakarta: Galeri Foto Jurnalistik Antara.

* Majalah Foto Media: Fotografi Indonesia 150 Tahun, Tahun II No.9, Februari 1994.

Risdianto, Michael. 2006. Skripsi Kantor Berita Foto Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) 1946-1980.*
* Katalog Pameran Foto: 100 x France, Desember 2008. Jakarta: Galeri Foto Jurnalistik Antara.

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this writting may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Advertisements

Written by Admin

October 17, 2016 at 12:59 am