I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for February 2010

Menggugat “Bobotoh” Persib

leave a comment »

Artikel Berita kegiatan Pameran Foto “Hidup Persib” Di Koran Suara Pembaruan

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/08/03/Fotograf/foto01.htm

Menggugat “Bobotoh” Persib

SP/Adi Marsiela

Seorang pengunjung memperhatikan dua buah foto karya Andri Gurnita dalam pameran “Hidup Persib!!!” di Gedung Indonesia Menggugat, Kota Bandung, awal bulan Juli lalu.

Puluhan polisi berdiri berjejer di sisi Jalan Asia Afrika, jalan utama yang membelah sisi utara dan selatan Kota Bandung. Mereka berdiri sembari menenteng senjata laras panjang. Sebagian lain memegang tongkat rotan yang panjangnya kira-kira satu meter.

Di jalanan itu, ribuan bobotoh atau pendukung setia Persib “Maung” Bandung melakukan konvoi dengan kendaraan masing-masing. Tanpa memedulikan aturan, mereka melambai-lambaikan bendera, syal, dan atribut lainnya. Kebanyakan dari bobotoh itu berdiri sembari dibonceng di atas motor yang berjalan tanpa mengenakan helm.

Pemandangan itu, masih lebih baik dibandingkan dengan kelakuan mereka pada tahun 2003. Waktu itu, masih di jalan yang sama, mereka melampiaskan kekesalan, kekecewaan, dan kemarahannya dengan merusak sarana dan fasilitas umum.

Pot-pot bunga berukuran besar pun sengaja dihancurkan dan disimpan begitu saja di tengah jalanan. Batu-batu yang ukurannya sekepalan tangan orang dewasa pun berserakan di sana. Peristiwa itu mewarnai perjalanan Persib di Liga Indonesia (LI) IX yang melewati 12 pertandingan tanpa kemenangan sekalipun.

Rasa egois dari bobotoh itu tidak hanya ditunjukkan saat mereka seusai menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Buktinya, saat Persib menjamu Persija di Stadion Siliwangi, 22 Mei 2005, tidak sedikit anak kecil yang terpaksa dievakuasi oleh petugas dari tribun penonton. Mereka terdesak dan terimpit oleh penonton yang lebih dewasa.

Kebanyakan dari anak-anak itu diangkat setelah petugas berhasil menjebol kawat pagar yang membatasi tempat penonton dengan lapangan. Duel kedua tim memang berakhir imbang, tapi anak-anak itu bukanlah pihak yang harus dikorbankan dalam sebuah pertandingan sepakbola.

Ketiga potongan kejadian ini cukup mencuri perhatian. Pasalnya, dari 75 foto yang ditampilkan dalam pameran tunggal bertajuk “Hidup Persib!!!” karya Andri Gurnita itu, sekitar 10 persen menampilkan pencitraan serupa.

Pastilah ada pesan yang ingin disampaikan dalam pameran yang digelar sejak 1-10 Juli 2008 di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. “Kadang ada cara mencintai yang salah,” kata Galih Sedayu, salah satu dari tiga kurator dalam pameran foto itu.

Buat Gurni, begitu pewarta foto Harian Umum Pikiran Rakyat itu akrab dipanggil, membuat pameran tunggal dengan tema Persib itu sudah menjadi obsesinya sejak lama. “Semoga ini bisa menjadi motivasi buat Persib dalam Liga Super Indonesia 2008,” tuturnya.

Jarang Terjadi

Pameran yang menampilkan 75 foto itu diambil dari ribuan foto Persib dalam lima tahun terakhir. “Saya rasa ini cukup mewakili perjalanan Persib dengan berbagai dinamika, antusiasme bobotoh-nya, dan juga rasa bangga,” tutur Gurni, yang menekuni profesinya sejak tahun 1994.

Dalam pameran itu juga terekam semangat para pemain dalam berlatih. Sembari tertawa mereka beradu cepat. Tampak tidak ada beban dalam keseharian mereka di foto bertajuk Siapa Tercepat.

Padahal, jika dilihat latar belakangnya, latihan yang digelar pada 17 Juni 2007 itu cukup berat. Tim itu baru saja menyelesaikan putaran pertama liga, sehingga pelatih Arcan Iurie Anatolievici memberikan porsi tambahan latihan fisik. Kondisi itu terlihat juga dalam foto Tidur di Lapang, yang menggambarkan para pemain tidur telentang di lapangan seusai digenjot fisiknya.

Sangat disayangkan apabila perjuangan itu dibalas dengan tindakan yang merugikan Persib sendiri. Misalnya, saat penyerang asing Persib asal Kamerun, Christian Bekamenga, harus menenangkan bobotoh ketika menjamu Persema pada 14 Maret 2007. Penonton turun hingga ke sisi lapangan membuat pertandingan dihentikan selama 45 menit.

Hal itu berdampak ke Persib sendiri. Komisi Disiplin akhirnya memutuskan pertandingan melawan PSSB Bireun di Stadion Siliwangi harus diselenggarakan tanpa penonton. Padahal, penonton itu merupakan pemain ke-12 dalam sebuah tim sepakbola.

Gurni mengabadikan momentum itu dengan menggunakan lensa lebar yang memungkinkannya memotret dengan sudut pandang lebih luas. Dia memakai seorang petugas polisi yang duduk di salah satu kursi VIP stadion sebagai latar depan. Sedangkan lapangan hijau, kursi di bagian VIP, dan tribun bagian barat dan selatan, dia abadikan sebagai latar belakang untuk menggambarkan “kesunyian” sebuah pertandingan sepakbola.

Selain bobotoh, ayah satu orang anak itu juga berhasil mengabadikan sejumlah momentum menarik lainnya. Misalnya, gambaran kecemasan, kekhawatiran dari pelatih Arcan Iurie Anatolievici ketika timnya bertamu ke Stadion Persikabo, Cibinong, Kabupaten Bogor.

Gurni mengambil citra Iurie yang tengah mengisap rokoknya dalam-dalam di bawah guyuran hujan. Meski basah, sorot mata Iurie terlihat tajam mengikuti jalannya pertandingan. Mungkin karena keseriusannya itu pula, Persib meraih angka kemenangan dengan kedudukan akhir 1-2.

Bicara foto duel antarpemain ketika berebut bola, Gurni memang memiliki “amunisi” cukup lengkap untuk memotret pertandingan Persib baik di kandang maupun saat bertandang. Wajar jika foto-foto duelnya terdokumentasikan dengan baik. Lensa dengan titik fokus 300 milimeter dan bukaan diafragma 2,8 sangat mumpuni untuknya menghasilkan sebuah duel yang sangat tajam fokusnya dengan latar belakang buram.

Pameran itu memang sangat menarik diperhatikan. Selain pameran tunggal yang dibuat seorang pewarta foto memang jarang terjadi, tiga kurator dalam pameran itu pun berbeda latar belakangnya, Galih (pegiat foto), Andi Sopiandi (perupa sekaligus fotografer), dan Harry Surjana (pewarta foto).

“Semoga saja bisa memotivasi fotografer muda yang masih banyak kesempatan di lapangan agar tambah semangat. Persib juga bisa meraih prestasi tertingginya, dan memotivasi bobotoh untuk menjadi lebih baik lagi,” ujar Gurni mengomentari pameran tunggal pertamanya. [SP/Adi Marsiela]

Advertisements

Written by Admin

February 27, 2010 at 3:44 pm

Posted in Uncategorized

Pameran Foto Samar

leave a comment »

(c) detikBandung

Berita Pameran Foto Samar karya Andri Krisdianto di detikBandung

http://bandung.detik.com/read/2010/02/17/085134/1301079/682/membaca-fotografi-buram

Bandung – Dalam seni, sah-sah saja ada inovasi dalam bentuk apapun. Meski itu harus keluar dari jalur aturan baku yang umum di mata publik. Andri Krisdianto, fotografer muda asal Bandung mencoba menampilkan beragam visual yang tidak biasa. Tak jelas, muram, pudar, abstrak, juga samar.

“Samar, Terkadang Samar Itu Jelas”, demikian judul yang diambil Andri dalam pamerannya di Galeri Esp’Art CCF Bandung, Jalan Purnawarman. Bagi penikmat foto, sebanyak 24 karya Andri akan memberikan pandangan baru tentang fotografi. Bahwa foto ‘tak selalu begitu’.

Tak harus digambarkan utuh, tak masalah si objek menjadi muram atau menjadi sesuatu yang abstrak. Misalnya potret yang menampilkan bayangan, setengah badan, foto objek tanpa kepala, atau hanya bagian kaki saja.

Memang bukan hal baru. Diakui Andri, sebelumnya tekhnik ini sudah digelutinya bersama rekan-rekan sesama penggiat foto. Tapi kali ini dia memberanikan diri untuk menggelar pameran tunggal pertamanya.

“Potret-potret ini visualisasi dari prosa dan puisi,” ujarnya di sela-sela pembukaan pameran, Senin 15 Februari 2010. Setiap judul terinspirasi dari kalimat yang dipungutnya dari puisi karyanya atau lirik lagu.

Dalam setiap potretnya, Andri menggunakan model tunggal. Dengan sentuhan digital yang kental, karya ditampilkan dalam warna monotone, dualtone dan saturasi rendah.

Di mata Galih Sedayu, penggiat fotografi dari Air Photography, pameran Samar ini memang beda dibandingkan pameran fotografi lainnya. “Teknis dikesampingkan, memang harus berani untuk seperti ini,” tutur Galih ditemui di acara yang sama.

Di sini, lanjut Galih, Andri juga memanfaatkan teknologi photoshop dan tone warna yang unik sebagai ciri khas. Namun Galih menyayangkan tidak adanya kejelasan apa yang ingin disampaikan sang fotografer. Pesan yang ingin disampaikan tidak secara jelas terepresentasikan lewat karya-karya tersebut.

“Secara keseluruhan belum diketahui maksudnya apa?,” tuturnya.

Selanjutnya Galih menyanyangkan ketiadaan kurasi yang seharusnya bisa menjadi jembatan antara penikmat dan karya yang dipamerkan. Agar pameran ini maksudnya menjadi lebih jelas.(ema/bbn)

Written by Admin

February 27, 2010 at 3:39 pm

Posted in Uncategorized

Isu Haram Foto Pre-Wedding

leave a comment »

“Chris & Sylvie” (c) galih sedayu

Artikel Berita tentang Isu Haram Foto Pre-Wedding di Koran Pikiran Rakyat (Sabtu, 27 Februari 2010)

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=123386

Written by Admin

February 27, 2010 at 3:37 pm

Posted in Uncategorized

Foto Bisa Jadi Sumber Inspirasi

leave a comment »

Photography News about Photo Seminar at HURAKUS event of Unpad (Padjajaran University Online – 18th November 2009)
http://www.unpad.ac.id/berita/foto-bisa-jadi-sumber-inspirasi/

Foto Bisa Jadi Sumber Inspirasi

18 November 2009

Laporan oleh: Ratih Anbarini

[Unpad.ac.id, 18/11] Rata-rata masyarakat Indonesia lebih mudah mencerna sesuatu dalam bentuk gambar dibanding tulisan. Belum membudayanya kegemaran membaca menjadi salah satu penyebab mengapa foto atau gambar lebih disukai masyarakat Indonesia. Fotografi dianggap sebagai jawaban dalam membantu masyarakat memahami sesuatu karena foto atau gambar sesungguhnya mampu berbicara.

Galih Sedayu ketika memaparkan materi tentang fotografi (Foto: Tedi Yusup)

Galih Sedayu ketika memaparkan materi tentang fotografi (Foto: Tedi Yusup)

Hal tersebut disampaikan pegiat foto, Galih Sedayu, yang juga pengelola Air Photography Communication saat menjadi pembicara dalam “Photo Speak: Fotografi sebagai Fungsi Komunikasi” di Grha Sanusi Hardjadinata, Rabu (18/11). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara memperingati Dies Natalis ke-52 Unpad dalam Pekan Ilmiah Unpad 2009.

Menurut Galih, foto berfungsi sebagai pencitraan visual, di mana foto mampu merekam kembali realitas yang ada. Foto juga dianggap sebagai sumber inspirasi bagi masyarakat. Galih mencontohkan saat foto karya Joe Rosenthal pada 1945 tentang pengibaran bendera Amerika Serikat di Gunung Suribachi, Iwo Jima, Jepang menginspirasi sutradara Clint Eastwood berjudul Flag of Our Father. “Film itu membuktikan bahwa foto yang dihasilkan fotografer dapat menjadi sumber inspirasi bagi sutradara dalam menghasilkan sebuah karya,” ujar Galih.

Selain itu, ia menyebut bahwa foto juga berfungsi sebagai arsip peristiwa atau perekam sejarah. “Di Indonesia, kantor berita pertama IIPHOS yang didirikan oleh Mendur bersaudara mengabadikan peristiwa-peristiwa bersejarah, seperti proklamasi. Foto-fotonya masih ada hingga saat ini dan menjadi arsip sejarah bangsa kita di masa lampau,” katanya.

Dalam paparannya, Galih juga menjelaskan mengenai sejarah foto pertama di dunia yang dihasilkan Joseph-Nicephone Niepce melalui alat bernama heligraf pada 1839. Ia juga menjelaskan tentang awal mula masuknya foto di Indonesia yang diperkenalkan oleh dua warga Inggris dan menjadi tonggak sejarah pendokumentasian di Indonesia. Saat itu, foto-foto yang dihasilkan masih bewarna hitam putih.

Dijelaskan Galih bahwa seiring waktu, foto tidak lagi berfungsi sebagai media visual semata, melainkan telah berfungsi sebagai media informasi, pesan, dan harapan. Melalui foto, kata Galih, masyarakat dapat menangkap makna yang terkandung di dalamnya. “Saya pernah punya pengalaman, ketika memotret kawasan cekungan Bandung yang kondisi sudah cukup memprihatinkan. Foto tersebut dipajang dalam pameran dan disaksikan oleh pejabat pemerintah. Setelah melihat foto tersebut, kawasan itu pun akhirnya dipagari,” ungkap Galih.

Galih menilai bahwa memproduksi foto yang menarik harus dilandaskan pada tiga hal penting. Pertama, foto harus sesuai dengan tema. Kedua, ide menarik dan berbeda, dan ketiga, melakukan eksekusi akhir. Ia juga menyarankan agar sebelum memotret sebaiknya sang fotografer memahami latar belakang objek yang akan diambilnya. “Misalnya, kita ingin memotret kehidupan kampung naga. Lebih baik kita membaca literatur tentang kampung naga, sehingga kita mengetahui latar belakangnya dan lebih mudah mencari sisi menarik,” saran Galih.

Lomba Foto
Selain seminar, dalam kegiatan itu diumumkan pula pemenang Lomba Foto KKNM 2009. Foto berjudul “Sekolahku Malang, Tempatku Menuntut Ilmu” karya Ice Kusumaningrum menjadi Juara I yang mendapat hadiah sebesar Rp 1.000.000. Sementar Juara II diraih oleh Oginawa Ramadhan dengan karyanya berjudul “Along The Way”. Foto berjudul “Ramai-Ramai Menggosok Gigi” karya Ihsan Raharjo meraih tempat ketiga. Ketiganya merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi.

Sementara juara favorit diraih Polimobin Andalas dari Fakultas Geologi dengan karyanya berjudul “Perjuangan Menuju Sekolah”. Penyerahan hadiah kepada para pemenang dilakukan oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unpad, Prof. Oekan S. Abdoellah, M.A., Ph.D. (eh)*

Written by Admin

February 27, 2010 at 3:34 pm

Posted in Uncategorized

Fotografer Abadikan 200 Tahun Kota Bandung

leave a comment »

(c) Forum Fotografi untuk Bandung 200 Tahun

Photography News about Program Launching “Fotografi Untuk Bandung 200 Tahun” (Pikiran Rakyat – 2nd August 2009)
http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=90064

Written by Admin

February 27, 2010 at 3:33 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

Fotografi untuk Bandung 200 Tahun (Antara Jabar)

leave a comment »

Photography News about Fotografi Untuk Bandung 200 Tahun (Antara Jabar On-Line – 1st Agustus 2009)
http://antarajawabarat.com/media.php?module=agenda&halaman=4

Written by Admin

February 27, 2010 at 3:31 pm

Posted in Uncategorized

Pentas Foto (Antara Jabar)

leave a comment »

Photography News about Pentas Foto (antara jabar – 12nd July 2009)
http://antarajawabarat.com/media.php?module=detailberita&id=6693

Written by Admin

February 27, 2010 at 3:29 pm

Posted in Uncategorized