I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for May 2015

Jalan Solidaritas Dari Bandung Untuk Dunia | Asian African Carnival 2015 | Bandung The Capital of Asia Africa

leave a comment »

Teks oleh galih sedayu | Foto oleh galih sedayu & Ruli Suryono

60 tahun perayaan Konferensi Asia Afrika (KAA) tentunya menjadi sebuah tonggak sejarah tersendiri bagi Kota Bandung. Di sinilah reuni akbar negara-negara Asia Afrika yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali, kembali menyambangi kota yang mengandung sejuta nafas dan energi kreatif tersebut. Berbagai kegiatan pun disumbangkan oleh warga Kota Bandung demi menguatkan citra Bandung sebagai ibu kota Asia Afrika. Total tercatat ada sekitar 60 kegiatan yang dipersembahkan bagi perayaan 60 tahun KAA tersebut.

Mewakili komunitas, Bandung Creative City Forum (BCCF) menghadirkan kegiatan Helarfest berupa rangkaian event yaitu Artefak.Bdg, Kampung Pande, Anak Bandung Berani Menggambar, Picnic Parenting, Lightchestra, Festival Kabaret, Pakoban 4-2015 Feat Gen-X, Festival Bioskop Rakyat, Sasab-Sprit of AA Youth, GameDev Bdg Gathering, Balik Bandung, Culture of Our Art, Start-Up Weekend, #1000 Wajah Bandung, Merchant of Emotion, Pride to Ride Heritage, Bandung Social Wave, Bandung Food Truck Festival, Culture Movement Project, Focal Point, SATU : Revolution of AA Sprit, Festival Taman Film Bandung, Ulinpiade-Colorful Harmony, Ulin-AAC Historical Treasure Hunt, The Last Colony Movie, Cibaduyut Mentas, Forte ITB, dan Creative Cities Conference.

Kemudian dari Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA) menggelar sejumlah kegiatan yakni Pengibaran 109 Bendera Negara KAA & PBB, Pawai Bendera Asia Afrika, Parade Asia Afrika, Kegiatan Pesta Rakyat, Kegiatan Peduli Lingkungan, Pameran Foto KAA 1955 bersama Arsip Nasional Republik Indonesia, Bandung Historical Study Games, Lomba & Pameran Foto Karya Perempuan bersama Komunitas Lubang Jarum, Indonesian International Photo Festival bersama Asian African Community, Senam 5000 Anak Asia Afrika, Afternoon Tea dan Asian African Students Conference.

Lalu ada sejumlah kegiatan berupa Asian African Solidarity Fun Run (Hijab Fun Run), Asian African Roadshow to School & Kampus, Asian African Gemstone Festival, Bandung Land Festival, Asia Africa NGO Summit, dan Festival Budaya Masyarakat Adat Jawa Barat yang turut dipersembahkan oleh kelompok masyarakat bandung serta Gelar Pesta Rakyat yang dilaksanakan oleh Kecamatan Se-Kota Bandung.

Mewakili pemerintah Kota Bandung, Bagian Ekonomi & Setda Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Creative Cities Network. Bagian Hukum & HAM Setda Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Human Rights City Conference. Dinas Komunikasi & Informasi Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Asia Africa Smart City Summit. Dinas KUKM & Perindag Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Bandung Art & Craft Expo. Terakhir dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung yang ditunjuk sebagai Leading Sector dan panitia perayaan 60 tahun KAA skala kota, menyuguhkan sebuah kegiatan puncak yang bernama Asian African Carnival.

Kegiatan Asian African Carnival ini sebenarnya merupakan rangkaian 6 buah event yang saling terintegrasi. Yang pertama adalah Bandung 1955 yang melahirkan jejak literasi visual perihal peristiwa KAA 1955 melalui pameran & buku fotografi karya Paul Tedja Surja (fotografer dan pelaku sejarah). Yang kedua adalah Solidarity Day (Tribute to Sukarno & Mandela) yang melahirkan jejak fisik gambar berupa mural karya Kampret Syndicate dan warga kampung setempat perihal tokoh-tokoh penggagas KAA dan tokoh-tokoh yang menjadi simbol solidaritas yang terlukis pada tiang-tiang jembatan di area taman Pasopati. Yang ketiga adalah Asian African Meet & Greet yang melahirkan jejak jejaring internasional. Yang keempat adalah Angklung for The World yang melahirkan jejak sejarah berupa rekor baru di dunia perihal permainan angklung dengan melibatkan 20 ribu orang. Yang kelima adalah Festival of Nations yang melahirkan jejak budaya berupa pertunjukkan seni skala internasional. Yang keenam dan yang menjadi puncak kegiatan perayaan 60 tahun KAA adalah Asian African Parade yang melahirkan jejak deklarasi berupa kegiatan tahunan bersifat internasional untuk pertama kalinya yang ada di Kota Bandung. Deklarasi ini diucapkan langsung oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia yang sekaligus disaksikan oleh ribuan warga Bandung yang memadati acara parade.

Parade ini diikuti oleh berbagai peserta baik dari dalam negeri maupun manca negara yang dilakukan sambil berjalan kaki dengan menggunakan kostum unik di sepanjang jalan Asia Afrika. Parade dibuka oleh pasukan berkuda, diikuti oleh pasukan pengibar bendera Asia Afrika dan disusul oleh Marching Band dari TNI AD. Gelombang parade pertama dimeriahkan oleh peserta manca negara yang turut hadir menyemarakkan acara ini yaitu Amman, Bangladesh, Cambodia, China (Liuzhou & Shenzen), Egypt, India, Iran, Japan, Myanmar, Phillipina, South Korea (Noreum Machi, Guk-Ak-Sa-Rang, Hansamo, Hanbapeh & Suwon City), Srilanka, dan Thailand. Kemudian gelombang parade kedua diisi oleh peserta dalam negeri. Selain Bandung, kota-kota seperti Cimahi, Denpasar, Kediri, Palembang, Pekalongan, Sukabumi, Solo, dan Yogyakarta turut memeriahkan acara tersebut. Sehingga kegiatan parade inilah yang barangkali dijadikan sebagai simbol puncak perayaan 60 tahun KAA di Kota Bandung.

Bila mengingat persiapan perayaan 60 tahun KAA yang hanya kurang lebih dua bulan lamanya, tentunya kita akan melihat pula sejumlah kekurangan dalam pelaksanaannya. Namun demikian, alangkah lebih bijaknya bila kekurangan tersebut tidak dijadikan celah untuk menurunkan derajat Kota Bandung. Biarlah segala kekurangan tersebut kita simpan sebagai bahan evaluasi ke depan dan menjadi otokritik bagi kita semua untuk tetap terus bergerak demi Bandung. Bukan untuk terus dipersoalkan dan diperdebatkan. Sudah saatnya kita bangkit untuk kemudian fokus menjaga berbagai jejak yang sekarang dimiliki oleh Kota Bandung baik itu jejak fisik, jejak sosial-budaya, dan jejak ekonomi.

Barangkali apa yang didapatkan oleh Bandung melalui perayaan 60 tahun KAA ini, merupakan jawaban dari seruan dan permohonan kita semua. Bahwa Sang Semesta selalu menaruh perhatiannya bagi kota ini. Sesungguhnya, yang kita butuhkan hanyalah kepedulian dan kekompakan untuk tetap bersama-sama menjaga kota ini. Kota dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Semoga selalu tangan keikhlasan yang ditadahkan oleh kita semua bagi kota ini dan semoga selalu doa kebaikan yang dibumbungkan oleh kita semua bagi kota ini. Sehingga segala apa yang diucapkan oleh mulut kita, kiranya selalu mewartakan kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Tentunya agar Kota Bandung yang kita cintai ini, selalu diselimuti oleh ruh solidaritas. Karena kita mesti percaya bahwa solidaritas itu membangun, bukan merusak.

@galihsedayu | Bandung, 25 April 2015

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2015 by Air Foto Network
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from Air Foto Network.

Advertisements

Persekutuan Anak & Hutan

leave a comment »

Teks & Foto oleh galih sedayu

Mengajari anak-anak tentang alam bukanlah dengan bercerita kepada mereka tentang alam, melainkan mengajak dan membawa mereka langsung untuk merasakan alam”. Barangkali pesan itulah yang semestinya diwartakan setiap saat kepada anak-anak kita di era yang serba instan ini. Untuk itulah Bandung Creative City Forum (BCCF) menyelenggarakan sebuah program yang bernama Ulin Piade yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan Ulin Tepi Ka Sasab. Adapun Helarfest 2015 yang diinisiasi oleh BCCF sejak tahun 2008 menjadi ibu kegiatan yang menaunginya. Ulin Piade sendiri adalah bukti nyata kegiatan yang menghidangkan makanan edukasi kepada anak-anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak melalui sebuah permainan ketangkasan di dalam hutan. Komunitas Ecoethno, Picu Pacu dan Relawan Simpul Institute menjadi motor penggerak acara tersebut. Di sinilah hutan kota dunia Babakan Siliwangi menjadi ruang publik di Kota Bandung yang disentuh serta dirasa oleh sekelompok anak kecil yang bermain di alam. Anak-anak tersebut mencoba menjelajahi hutan dari mulai berjalan melewati pohon yang tumbang, berlari di sela-sela akar pohon yang menggantung, merayap di tanah yang lembab, bersepeda di jalur yang sempit, hingga mendaki di tanjakan yang lumayan curam. Namun demikian, kondisi seperti itulah yang justru dicari oleh anak-anak tersebut. Hati mereka justru merasa tertantang untuk dapat melampaui segala rintangan yang ada. Tentunya aksi mereka didampingi pula oleh orang tua masing-masing. Barangkali, apa yang dialami dan dilakukan oleh anak-anak tersebut di dalam hutan, justru dapat menjadi pelajaran bagi kita orang dewasa di dunia nyata. Bahwa kadang di dalam hidup nyata, kita sesungguhnya sangat membutuhkan keberanian seperti yang dimiliki oleh anak-anak kecil tersebut. Jiwa yang lepas, bebas dan tetap bergerak.

@galihsedayu | Bandung, 3 Mei 2015

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

May 4, 2015 at 1:41 am