I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for October 2011

Harapan Yang Nyata, Doa Yang Terjawab

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

A daughter is the happy memories of the past,
the joyful moments of the present,
and the hope and promise of the future.
– Unknown –

Sebelumnya…dua menjadi satu. Kadang peristiwa kelam itu masih menghantui diri ini, tatkala takdir yang bernama kematian itu datang menjemput putri kembar pertamaku, “Ancilla Trima Sedayu”, tepat sehari setelah kelahirannya pada tanggal 2 September 2010.  Pengalaman histeria itu bagaikan sebuah gelombang besar yang hampir meluluh-lantakkan kehidupanku yang tadinya tenang. Sampai akhirnya diri ini menyadari bahwa Tuhan masih menitipkan seorang bayi perempuan mungil yang cantik meski lemah tak berdaya dengan berat tubuh 1,1 kg karena lahir prematur dengan usia kandungan hampir 7 bulan. “Eufrasia Tara Sedayu”, bayi kecil yang tetap bertahan hidup ini menjadi sebuah alasan besar untuk dapat melupakan duka lara dan kepedihan akibat kepergian Ancilla kakak kembarnya. Dengan sebuah keyakinan bahwa sehabis lonceng kematian berdentang, setelah itu pula lah bunyi sangkakala kehidupan ditiupkan oleh Sang Ilahi.

Konsentrasilah terhadap yang hidup”, begitulah kira-kira ucapan menenangkan seorang sahabat kepada diriku saat itu. Hari demi hari akhirnya menjadi sebuah perjalanan lain yang ku jalani bersama istri tercinta, yang telah berjuang demi melahirkan kedua putri kembar kami. Hanya demi satu harapan yaitu kesembuhan Eufra, putri kami terkasih yang harus dirawat di ruang NICU rumah sakit karena beberapa organ tubuhnya yang belum berkembang sempurna. Benang-benang kusut itu pun satu persatu kami rajut dalam sebuah asa dan keyakinan bahwa bayi kecil itu adalah milik kami. Di dalam sebuah tabung kecil yang bernama inkubator, eufra dirawat. Mesin ventilator pun digunakan untuk memonitor kondisi dan perkembangan eufra, lengkap dengan selang-selang kecil oksigen sebagai alat bantu pernafasan beserta peralatan infus yang dipasang di sekujur tubuhnya. Tak tega rasanya melihat seorang bayi kecil dengan segala macam alat yang terpasang rumit di dalam sebuah ruang sempit. Setiap hari yang kami dengar adalah bunyi bunyi mesin yang membosankan dan terkadang membuat kami kuatir bila terjadi sesuatu yang buruk menimpanya. Berbagai kejadian getir dan pahit yang menimpa eufra pada saat perawatan telah kami alami segalanya. Dari mulai transfusi darah karena kadar hemoglobinnya yang rendah, tubuhnya yang tiba-tiba membiru karena kekurangan oksigen, infeksi yang tak kunjung sembuh, Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau kegagalan menutupnya ductus arteriosus yaitu arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal, chronic lung inflammation in premature infants atau radang paru-paru kronis pada bayi prematur, konflik dengan dokter, tagihan biaya perobatan yang terus menunggak, hingga kekuatiran besar saat melihat kematian bayi lain yang dirawat di ruangan yang sama. Puncaknya setelah 2 bulan 25 hari lamanya dirawat, dengan sangat terpaksa kami memindahkan eufra ke rumah sakit lain meski kondisinya masih belum stabil dengan alat bantu pernafasan yang masih terpasang di mulutnya. Kepindahan eufra kami lakukan karena kami nyaris putus asa dan timbul rasa tidak percaya terhadap dokter yang menangani eufra di rumah sakit sebelumnya. Tapi itu semua kami jalani dengan penuh rasa syukur dan kepasrahan yang mendalam demi kasih yang tak terhingga bagi putri kami.

You are my sunshine. My only sunshine. You make me happy when skies are gray. You’ll never know dear. How much I love you. Please don’t take my sunshine away”. Sepenggal bait lagu yang pertama kali dilantunkan oleh penyanyi country Jimmie Davis ini kerap dinyanyikan kembali oleh sang ayah bagi eufra setiap harinya. Sementara terkadang mata eufra yang hampa sesekali dipicingkan sembari bibir tipisnya yang tersenyum simpul saat ia mendengar suara ayahnya sayup-sayup di balik dinding kaca inkubator. Tak pernah bosan rasanya memandangi wajah bayi kecil yang memelas itu. Tuhan memang sungguh bekerja dan kuasanya benar-benar hadir bagi eufra. Perlahan-lahan berat tubuhnya bertambah seiiring dengan semakin banyak asupan asi dari sang ibu yang diserap olehnya meski harus melalui infus. Kulit tubuh yang tadinya pucat pasi lambat laun memerah sehingga menyerupai bayi sehat dan normal. Tulang-tulang tubuhnya yang dulu terlihat jelas kini menjadi tertutup oleh otot dan daging yang semakin terbentuk. Matanya yang dulu sembab dan sayu kini kelihatan bersinar dari kedua bola matanya yang bulat lucu. Alangkah indahnya kami menjadi saksi hidup keajaiban tersebut.

Setelah eufra dirawat di rumah sakit yang baru, akhirnya kesembuhan itu menyapanya dengan penuh sukacita. Penantian yang telah lama kami jalankan tidak berakhir dengan sia-sia. Berbagai kejadian yang menyejukkan hati pun kerap menyambangi kami setelah eufra dipindahkan ke rumah sakit yang baru. Dari mulai alat ventilator yang dapat dilepas pada hari ke-2 ia dirawat, kabar gembira dari dokter bahwa infeksinya telah hilang pada hari ke-4, melihat dokter melepas semua peralatan infusnya pada hari ke-7, hingga akhirnya kami dapat menggendong eufra ke pangkuan setelah menunggu sekian lamanya. Terlebih ketika mata sang ayah melihat eufra menyusui ibunya secara langsung untuk pertamakalinya. Bagaikan melihat surga yang damai. Ciuman kasih dan belaian lembut bagi eufra akhirnya kami alami dengan nyata.

Rangkaian cerita yang terjadi selama 99 hari itu dibekukan kembali oleh sang ayah lewat karya-karya fotonya. Foto-foto ini menjadi penyambung mata sang ayah dengan segala peristiwa yang sarat dengan kenyataan dan harapan. Imaji-imaji visual ini hadir untuk meyakinkan kita tidak ada hal yang mustahil. Untuk itulah sang ayah bersaksi lewat sentuhan jari pada tombol kameranya dengan menghasilkan sebuah epik kehidupan dengan figur sentral seorang bayi yang tadinya tak berdaya. Pelajaran berhargapun didapatkan oleh sang ayah bahwasanya kita tidak boleh menganggap remeh kekuatan seorang manusia yang kelihatan lemah dan menderita secara fisik. Kadang kekuatan besar timbul dari seorang yang lemah tersebut. Setidaknya sebentuk drama keseharian yang mengisahkan perjuangan hidup, cinta dan harapan melalui karya foto ini dapat kita resapi sebagai suatu cara menerima kenyataan tanpa menghilangkan semangat dan keyakinan dari sebuah impian. Meski tidak pernah sempurna, percayalah bahwa untaian doa-doa yang sering kita rajut suatu saat pasti akan terjawab. Dan foto-foto ini menjadi saksi bisu yang terus berucap dan bersemayam di dalam keabadian waktu. Semoga.

Dan kini…satu menjadi dua.
Cerita ini masih berlanjut.

I don’t need no one to tell me about heaven.
I look at my daughter, and I believe.
– Live –

Bandung, 3 Januari 2011

Advertisements

Puing-Puing Harapan Candi Ratu Boko

leave a comment »