I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

I’LL FOLLOW THE SUN | Love, Light, Live by galih sedayu

leave a comment »

gals_rosid_square_blog

Pada mulanya cahaya. Cahaya kasih dan persaudaraan yang dengan tulus saya pancarkan dan haturkan bagi para sahabat. Sahabat sekalian yang telah berkenan meluangkan sepenggal waktunya untuk hadir. Hadir di kandang digital yang dibangun sejak tahun 2010 dengan nama “I’ll Follow The Sun”, sebagaimana saya menghargai matahari. Matahari dalam wujud syukur terhadap anugerah cinta, terang & hidup yang dilimpahkan oleh Sang Semesta. Sang Semesta yang sejak dulu kala bersabda pada manusia dan ruang. Ruang pun dimaknai melalui himpunan citra dan kata yang berjalan berdampingan bersama ide, kreativitas, dan empati. Empati yang terus mengasah keterampilan, wawasan, dan rasa dalam menjalani hidup. Hidup dalam laku perbuatan melalui belajar, berkarya, berjejaring, berdoa, berserah, bersyukur, dan berbagi. Berbagi mata waktu yang ada di jagat raya agar menjadi pelita. Pelita kecil yang terus menyalakan manfaat serta mewartakan kebaikan bagi siapapun yang ingin melihat dan membaca. Membaca catatan yang dinyatakan ke dalam ruang maya ini sehingga kelak menjadi jejak cerita. Cerita yang dipersembahkan teruntuk keluarga tercinta, para sahabat dan handai taulan, serta dunia. Dunia yang senantiasa menawarkan keajaiban. Keajaiban hubungan manusia beserta penciptanya. 

In the beginning it was light. The light of love and brotherhood that I give to my friends. Friends who have made a little time to come. Come to the digital cage that I have built since early 2010 with the name “Ill Follow The Sun”, as I appreciate the sun. The sun is in the form of gratitude for the gift of love, light & life bestowed by the Universe. The Universe who has long spoken to humans and space. Space is also interpreted through a collection of images and words that go side by side with ideas, creativity and empathy. Empathy that continues to hone skills, insights, and a sense of life. Life in action through learning, working, networking, praying, surrendering, giving thanks, and sharing. Sharing the eyes and the words of time in the universe in order to become torch. Torch that continues to ignite benefits and proclaim goodness to anyone who wants to see and read. Read the notes that are stated in this virtual space so that later they become traces of the story. Story that dedicated to beloved family, friends and friends, and the world. The world that always offers miracles. The miracles of the relationship between humans and their creators.

***

galih sedayu adalah putra pertama dari pasangan orang tua yang bernama Agustinus Kayat & Dorothea Komyana. Menikah dengan Tya (Alm) dan dikarunia tiga orang putri yang bernama Trima (Alm), Tara serta Thalia. Mulai meniti karir secara profesional di bidang ekonomi kreatif sejak tahun 1999. Saat ini tinggal dan menetap di Kota Bandung. Pendiri & Pemilik Perusahaan Ruang Kolaborasa dan Air Foto Network. Menjadi salah satu pendiri dan pengurus di berbagai organisasi diantaranya Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Masyarakat Fotografi Indonesia (MFI), Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI), Komite Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Barat, Bandung Creative City Forum (BCCF), dan Komite Ekonomi Kreatif Kota Bandung. Menerbitkan beberapa Buku diantaranya Bandung From Spaces To Places, Bandung Nu Urang, Home Of Creative Minds, Bandung 1955 dan Deus Providebit. Direktur & Inisistor berbagai Festival di luar negeri yaitu Indonesia Festival di Malaysia, Wonderful Indonesia Festival di Thailand, Indonesia Week di Jepang, Indonesia Genuine Festival di Inggris serta berbagai Festival Domestik seperti Asian African Carnival, Bandung Creative Hub Fest, Caang Fest, Crafashtival, Helar Fest, Light Fest, Milangkala Bandung Festivals, Ngora Bandung, Festival Rempug Jukung, Indonesia Creative Cities Festival, dan Rawayan World Music festival. Aktif menjadi Juri Kompetisi dan Kurator Pameran serta menjadi Nara Sumber di berbagai Kota di Indonesia. Berkolaborasi dan menjadi tim kreatif untuk mewujudkan berbagai Ruang Publik seperti Bandung Creative Hub, Perpustakaan AFN, Simpul Space, dan Taman Foto, serta berbagai program seperti Akademi Belajar Indonesia (AJAR), Ambon Kota Musik, Bandung Creative Belt, Bandung City of Design (UNESCO), Cijaringao Placemaking, City Branding Ternate, Kampung Kreatif Bandung, Mata Warga, UKM Award, dan lain sebagainya. Menyukai film, fotografi, musik, dan tanaman. Memiliki kandang digital berupa himpunan jurnal karya fotografi dan tulisan kecil di situs galihsedayu.com (I’ll follow the sun).

galih sedayu is the first son of an elderly couple named Agustinus Kayat & Dorothea Komyana. Married to Tya (RIP) and gifted with three daughters named Trima (RIP), Tara, and Thalia. Started a professional career in creative economy since 1999. Founder and Owner at Ruang Kolaborasa and Air Foto Network. Being one of the founders and work team in various organizations such as Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Indonesian Photography Society (MFI), Association of Indonesian Photography Profession (APFI), Bandung Creative City Forum {BCCF}, Bandung Creative Economy Committee, and West Java Creative Economy Committee. Publish several books such as Bandung From Spaces To Places, Bandung Nu Urang, Home Of Creative Minds, Bandung 1955 and Deus Providebit. Director and Inisiator of various festivals abroad such as Indonesia Festival in Malaysia, Wonderful Indonesia Festival in Thailand, Indonesia Week in Japan, and Indonesia Genuine Festival in England, and varios domestic festivals such as Asian African Carnival, Bandung Creative Fest, Caang Fest, Crafashtival, Helar Fest, Light Fest, Milangkala Bandung Festivals, Ngora Bandung Fest, Rempug Jukung Festival, Indonesia Creative Cities Festival, and Rawayan World Music Festival. Active as a Competition Judge and Exhibition Curator, as well a Keynote Speaker in various cities in Indonesia. Collaborate and become a work team to create various public spaces such as AFN Library, Bandung Creative Hub, Simpul Space, and Photography Park, as well as various creative programs such as Akademi Belajar Indonesia (AJAR), Ambon City of Music, Bandung Creative Belt, Creative Kampoong, Cijaringao Placemaking, Mata Warga, and Ternate City Branding. Loves film, music, photography, and plant. Has a digital enclosure in the form of a collection of photography journals and small writings on the site galihsedayu.com (I’ll Follow The Sun).

Written by Admin

December 12, 2017 at 5:31 am

Posted in Uncategorized

“Lost For Words” | A Photography Project by galih sedayu

leave a comment »

Pada mulanya cahaya.

Cahaya menjadi pokok utama serta kemuliaan pandangan mata.

Mata yang memiliki kuasa melihat, memejam, dan mencipta.

Mencipta dengan curahan empati, wawasan dan rasa.

Rasa membingkai momen waktu ke dalam sebuah citra.

Citra yang mengandung serta mencurahkan makna dan kata.

Kata pun tidak banyak ditulis untuk menemani karya.

Karya kelak akan senantiasa menjadi bahasa.

Bahasa yang terus berbunyi dan abadi.

Abadi berbicara dalam hening dan sunyi.

Sunyi berkata dalam diam dan sendiri.

Sendiri, namun tak sendirian.

***

In the beginning was the light.

The light is the main subject and the glory of the eyes.

Eyes that have a power to see, to close, and to create.

Create with an outporing the emphaty, insights and taste.

Taste take a moment of time into an image.

Image that contain meanings and words.

Words don’t have to be written too much often to accompany the works.

The works itself become the sound language.

Language that keeps ringing and eternal.

Eternal speaks & talks in silence, alone.

Alone, but not lonely.

***

Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu

Thanks to Pink Floyd for the Inspiring Song, “Lost For Words”

#178KaryaFoto #178Photographs

SIRING / 20 July 2022

BEKANTAN / 20 July 2022

ROPE / 20 July 2022

DISCUSS / 30 May 2022

AMSI / 30 May 2022

DIORAMA / 30 May 2022

EXILE / 30 May 2022

ENDE / 30 May 2022

WOLOGAI / 29 May 2022

BLESS / 29 May 2022

GRATEFUL / 29 May 2022

KELIMUTU / 29 May 2022

LODGE / 28 May 2022

LUXURY / 27 May 2022

FRONT / 27 May 2022

LAPRIMA / 26 May 2022

ESCAPE / 25 May 2022

TIMOR / 30 March 2022

SASANDO / 30 March 2022

KUPANG / 30 March 2022

LAMA / 29 March 2022

UDENG / 18 February 2022

STAY / 17 February 2022

CANANG / 16 February 2022

PATH / 1 January 2022

DREAM / 22 December 2021

SIT / 22 December 2021

FUTURE / 23 October 2021

SOMEWHERE / 23 October 2021

TIME / 5 October 2021

WAITING / 14 June 2021

HEALER / 14 June 2021

SHORE / 13 June 2021

ANVAYA / 12 June 2021

YELLOW / 9 May 2021

HEART / 9 May 2021

SAURON / 9 May 2021

SPECTRUM / 9 May 2021

DASAMUKA / 8 April 2021

HUNGRY / 28 March 2021

TUKAD / 29 November 2020

SAMSARA / 28 November 2020

AMAHUSU / 8 November 2020

TIAHAHU / 8 November 2020

GANDRUNG / 6 November 2020

JAZZ / 6 November 2020

ISLAND / 5 November 2020

URGENT / 5 November 2020

WANGI / 5 November 2020

BANYU / 5 November 2020

BREEZE / 4 November 2020

light

GREET / 17 September 2020

ilalang & biru

THATCH / 16 September 2020

what a bar

BAR / 8 September 2020

alat musik nusantara

SOUND / 18 August 2020

shadow stair

WARM / 18 July 2020

masker barong

BARONG / 26 June 2020

DSCF0649_blog

SHELL / 21 June 2020

light at poleng

CORNER / 26 February 2020

DSCF8170_blog

WIJAYAKUSUMA / 22 November 2019

vw beatles

BEATLE / 5 September 2019

DSCF6755_blog

RADIO / 4 September 2019

batu pelangi

RAINBOW / 2 September 2019

DSCF6385_blog

ALBERT / 2 September 2019

DSCF6254_blog

FAB4 / 2 September 2019

DSCF5895_blog

CROWD / 1 September 2019

DSCF4808

VICTORIAN / 30 August 2019

DSCF5183_blog

HIDE / 30 August 2019

DSCF3569_blog

NGADE / 30 July 2019

DSCF3006_blog

BARELANG / 22 June 2019

lukisan thalia

THALIA / 21 January 2019

BOTTLES / 13 December 2018

DSCF8635_blog

CONTEMPLATE / 17 November 2018

DSCF8570_blog

BATH / 17 November 2018

DSCF8389_blog

CARCASS / 15 November 2018

DSCF4636_blog

HANG / 24 August 2018

DSCF4527_blog

GREEN / 20 August 2018

WISNU / 20 August 2018

DSCF4370_blog

JEPUN / 18 August 2018

DSCF3129

WISDOM / 12 August 2018

DSCF2676_blog

TIGHT / 10 August 2018

DSCF1937

SHOW / 22 July 2018

DSCF1920

BAMBOO / 22 July 2018

DSCF1536_blog

MOONLITE / 18 July 2018

DSCF1485_blog

BRIDGE / 18 July 2018

DSCF9126_blog

STEP / 29 May 2018

DSCF9104_blog

DAWN / 29 May 2018

DSCF6177_blog

TALL / 29 April 2018

DSCF5406_blog

GUARDS / 26 April 2018

DSCF4346_blog

SPOT / 2 April 2018

DSCF3128

SNOW / 4 February 2018

DSCF2800_blog

TOWER / 2 February 2018

DSCF2315_blog

OHAYO / 2 February 2018

DSCF1860_blog

MAUNG / 12 January 2018

DSCF7528_blog

ARUN / 26 October 2017

DSCF6392_blog

HUB / 5 September 2017

DSCF0594_blog

RHYME / 25 January 2017

IMG_5209_blog

HOLY / 19 December 2016

IMG_5230_blog

SING / 19 December 2016

IMG_5285_blog

ALONE / 19 December 2016

IMG_4637_blog

LUNCH / 16 December 2016

IMG_4410_blog

LEAVING / 15 December 2016

DSCF3640_blog

KASTUBA / 15 March 2016

DSCF3479_blog

ECLIPSE / 9 March 2016

DSCF3581_BLOG

THIRSTY / 9 March 2016

DSCF2035_blog

SACRIFICE / 25 December 2015

IMG_8868_blog

BLUR / 19 December 2015

IMG_7927_blog

TRAVELING / 28 September 2015

IMG_7154_blog

COFFEE / 18 July 2015

BALANGAN / 2 July 2015

IMG_7518_blog

SIN / 2 July 2015

JOY / 1 July 2015

IMG_6171_blog

DRIED / 30 June 2015

IMG_7309_BLOG

LITE / 1 April 2015

TOMB / 29 March 2015

IMG_4049_BLOG

PROMISE / 3 February 2015

IMG_4292_blog

PATH / 28 January 2015

IMG_2158_blog

KEY / 22 January 2015

IMG_8842_blog

SPEED / 10 December 2014

IMG_7917_blog

PAINT / 10 December 2014

03 daun (f)_BLOG

SINDORO / 9 August 2014

IMG_6148_BLOG

FUN / 2 August 2014

IMG_5774_blog

DIFFERENT / 1 August 2014

IMG_1647_blog

LOOK / 2 March 2014

IMG_1503_blog

MISSING / 2 March 2014

IMG_1000_blog

SWEEP / 19 February 2014

IMG_0182

HALLO / 28 January 2014

IMG_9511

EAT / 11 January 2014

IMG_7504_BLOG

CROWD / 1 January 2014

IMG_7492_blog

NEW / 1 January 2014

IMG_7421_BLOG

YEAR / 31 December 2013

IMG_6567 2_BLOG

PASSING / 25 October 2013

bdg 02_2 hal_blog

ABOVE / 11 August 2013

IMG_2230_blog

BLIND / 29 July 2013

FALL / 28 July 2013

IMG_6187_blog

BARONG / 10 March 2013

IMG_7578_blog

STAIRS / 29 December 2012

rivercinema 03_blog

RAIN / 22 December 2012

ALWAYS / 9 October 2012

IMG_5610_blog

BUBBLES / 29 July 2012

IMG_2963_blog

DIAGONAL / 10 July 2012

IMG_2807_blog

WALK / 10 July 2012

IMG_4547_BLOG

LIGHT / 13 June 2012

RITE / 31 May 2012

IMG_8508_blog

SOUND / 28 May 2012

IMG_1750_BLOG

FLAG / 3 May 2012

IMG_1992_BLOG

SIT / 3 May 2012

APC_2351_blog

KISS / 12 October 2011

APC_2517_blog

SACRED / 12 October 2011

RAINDROP / 16 February 2011

DSC_8600_BLOG

LOST / 9 March 2010

SONY DSC

ENDEMIC / 14 November 2008

P1170157_blog

ARCH / 13 September 2008

gempa_BLOG

QUAKE / 4 September 2009

SONY DSC

OPPOSITE / 16 November 2008

P1160929_blog

SAIL / 28 August 2008

DSC_6227_blog

LUST / 4 June 2008

P1120860_blog

FREE / 14 May 2008

P1100703_blog

CLICK / 19 March 2008

P1090274_blog

RUN / 21 February 2008

P1080594_blog

DEW / 2 February 2008

fine art (165)_blog

STARE / 8 August 2007

fine art (121)_blog

FACE / 31 January 2007

fine art (133)_blog

WOOD / 6 November 2006

fine art (6)_blog

TIME / 4 March 2005

fine art (14)_BLOG

CLIMB / 22 April 2004

fine art (39)_blog

JOY / 2001

fine art (62)_blog

DISHES / 2001

fine art (65)_blog

BOND / 2001

fine art (50)_blog

GOD / 2001

fine art (40)_blog

BLOOM / 2001

jabar (18)_blog

YELLOW / 2001

fine art (52)_BLOG

HARMONY / 2000

fine art (43)_blog

OFFERING / 2000

fine art (9)_BLOG

BIMA / 1999

jabar (2)_BLOG

GOLD / 1998

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

September 25, 2017 at 7:28 am

“Shadows and Light” | A Photography Project by galih sedayu

leave a comment »

Pada mulanya bayangan.

Bayangan membersamai langkah.

Langkah mengikuti sinar mentari.

Mentari menghangatkan isi bumi.

Bumi yang tak henti berputar.

Berputar dalam harmoni keseimbangan.

Keseimbangan menjadikan kehidupan.

Kehidupan membentuk manusia seutuhnya.

Seutuhnya agar kita mampu memahami.

Memahami dan mengetahui sebuah tujuan.

Tujuan akan menentukan arah.

Arah yang lebih penting dari kecepatan.

***

In the beginning was shadow.

Shadow accompany steps.

Steps follow the sun.

The sun warms the earth.

The earth which never stop spinning.

Spinning with harmony in balance.

Balance makes life.

Life that create humans fully.

Fully so that we will be understanding.

Understanding and knowing a goal.

Goal will show the direction.

Direction is much more important than speed.

***

Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu

Thanks to Joni Mitchell for the Inspiring Song, “Shadows and Light”

#13KaryaFoto #13Photographs

Banjarmasin, South Kalimantan – 20 July 2022

Kuta, Bali – 12 June 2022

Kuta, Bali – 12 June 2022

Kuta, Bali – 12 June 2022

Kuta, Bali – 12 June 2022

Kuta, Bali – 12 June 2022

Kuta, Bali – 12 June 2022

Kuta, Bali – 12 June 2022

Liverpool, UK – 1 September 2019

Liverpool, UK – 1 September 2019

Liverpool, UK – 1 September 2019

Victoria Park, Hongkong – 31 January 2018

La Plancha Beach, Bali – 6 July 2015

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

July 23, 2022 at 12:20 pm

Warna Keagungan Semesta di Kelimutu

leave a comment »

Teks & Foto: galih sedayu

Gunung api menjadi bagian tubuh yang tak terpisahkan dari raga alam nusantara kita. Karena bumi pertiwi dengan segala keajaibannya termasuk ke dalam sabuk Cincin Api (Ring of Fire) dunia yakni rangkaian gunung berapi sepanjang 40.000 km dan situs aktif seismik yang membentang di samudera pasifik. Seperti halnya Kelimutu. Kelimutu merupakan sebuah gunung api di pulau Flores, tepatnya di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.  Gunung Kelimutu dengan ketinggian 1690 mdpl ini berada di dalam kawasan konservasi Taman Nasional Kelimutu (Kelimutu National Park). Meskipun luasnya sekitar 5.356,50 hektare, namun kawasan konservasi ini menjadi taman nasional terkecil dari 54 Taman Nasional yang ada di Indonesia. Di kawasan Taman Nasional Kelimutu ini terdapat pula Gunung Kelido dan Gunung Kelibara yang menjadi teman penghuni bagi Gunung Kelimutu sebagai kerucut alam tertua yang masih aktif.

Adapun magnet yang menjadi pesona Taman Nasional Kelimutu adalah 3 buah danau vulkanik dengan warna yang berbeda dan terkenal dengan sebutan Danau Tiga Warna. Danau Kelimutu dengan masing-masing warna yang berbeda tersebut memiliki makna tersendiri bagi penduduk lokal di sana. Danau yang berwarna biru memiliki nama “Tiwu Nuwa Muri Ko’ofai” yang dipercayai sebagai tempat berhimpunnya para arwah dan jiwa dari pemuda dan pemudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah memiliki nama “Tiwu Ata Polo” yang dipercayai sebagai tempat berhimpunnya para arwah dan jiwa dari orang-orang yang telah meninggal dimana selama hidupnya kerap melakukan kejahatan tenung. Danau yang berwarna putih memiliki nama “Tiwu Ata Mbupu” yang dipercayai sebagai tempat berhimpunnya para arwah dan jiwa dari orang tua yang telah meninggal. Walaupun cerita penduduk setempat menyatakan demikian, namun ketiga danau tersebut tidak selamanya tetap berwarna biru, merah, dan putih saja. Menurut catatan waktu, dari tahun ke tahun ketiga danau tersebut sudah pernah mengalami perubahan warna bahkan lebih dari sekali entah itu menjadi warna hijau, coklat, hitam, dan abu-abu. Perubahan warna yang terjadi pada danau Kelimutu sangat dipengaruhi oleh aktivitas vulkanis yang mendorong gas-gas di dalam bumi keluar ke permukaan dan kemudian bereaksi serta bercampur sehingga mengakibatkan perubahan warna pada air danau.

Perjalanan menuju ke kawasan Taman Nasional Kelimutu akan melewati Desa Moni yang berjarak sekitar 52 km dari Kota Ende. Sekitar dua jam lamanya, kita akan melalui jalan aspal yang berkelok-kelok dengan atmosfir bentangan alamnya yang begitu hijau. Sesampainya di Desa Moni, kita akan banyak temukan penginapan untuk bermalam dan beristirahat di kaki gunung Kelimutu. Saat itu saya menginap di sebuah penginapan yang bernama Ecolodge. Untuk mencapai puncak pemandangan agar dapat melihat keindahan danau 3 warna, kita harus berjalan kaki melakukan hiking dan trekking dari area parkir Taman Nasional Kelimutu yang pada umumnya ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit. Matahari terbit di gunung Kelimutu merupakan sabda alam tersendiri yang bisa dinikmati kala pagi menjelang. Bila ingin mendapatkan sunrise setelah malam yang panjang di pulau flores, sebaiknya kita mulai berjalan kaki dari sejak subuh sekitar pukul 4 pagi. Tak usah kuatir, karena perjalanan mendaki puncak Kelimutu saat waktu masih subuh sembari diterpa udara yang begitu dingin, akan terbayar seketika tatkala pada akhirnya kita dapat melihat momen pertama kalinya mentari pagi yang muncul dari balik awan sekaligus merasakan hangatnya sinar yang dipancarkan saat menyentuh tubuh kita. Setelah itu, karunia terbesar akan kita dapati dimana sejauh mata memandang, semesta alam danau Kelimutu akan menampakkan wajahnya yang begitu mempesona dengan keajaiban warna-warni alam yang dimilikinya. Bagaikan berada di sebuah nirwana, surga di atas awan yang menjadi penghuni abadi Sang Terang Dunia. Saat itulah yang kita sebut hanya namaNYA dengan ucapan serta seruan syukur yang tak terhingga.   

Taman Nasional Kelimutu, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia – 29 Mei 2022

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Mencambuk Buai Eksotisme Desa Liang Ndara

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu

Gagasan kebudayaan yang berisi norma-norma luhur untuk mengatur kehidupan manusia dalam sekelompok masyarakat, diwariskan secara turun-menurun ke dalam sebuah adat.  Adat pun menciptakan masyarakat dan ruangnya tersendiri yang kerap disebut sebagai desa adat. Seperti Liang Dara. Inilah nama desa adat yang terletak di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur. Desa adat ini jaraknya sekitar 20 km dari Kota Labuan Bajo. Adalah Kristoforus Nilson, Ketua Lembaga Budaya desa adat Liang Ndara yang mendirikan kawasan ekowisata ini. Awalnya bersama warga Kampung Cecer, ia mendirikan sebuah sanggar budaya pada tahun 2010 dan kemudian dilanjutkan membangun sebuah kampung wisata yang hingga kini terkenal dengan sebutan Liang Ndara.

Sejauh mata memandang, desa adat Liang Ndara merupakan kawasan hijau nan tradisional dengan udara yang sejuk dan menyegarkan. Apalagi tatkala kabut datang, menambah suasana magis yang sangat menenangkan hati. Sesampainya di sana, kita akan disambut oleh kepala desa adat beserta masyarakatnya yang ramah sembari dikalungi selendang tenun khas daerah Manggarai Barat. Setelah itu kita akan dibawa masuk menuju rumah adat yang terbuat dari kayu dan beratap jerami. Di dalam rumah tersebut kita akan menjumpai para tetua adat yang dengan hangat menyapa dan bercerita dengan menggunakan bahasa Manggarai. Setelah itu ketua desa adat menyerahkan sejumlah uang sebagai simbol perkenalan yang harus kita terima dan kita pun diwajibkan untuk memberikan sejumlah uang kembali secara ikhlas. Perjamuan dilanjutkan dengan makan buah pinang bersama. Buah pinang yang telah selesai dikunyah kemudian disimpan ke dalam sebuah wadah dari bahan bambu. Di akhir perjamuan ditutup dengan mencicipi minuman adat berupa tuak bernama sopi yang disuguhkan di dalam cawan terbuat dari bahan kelapa. Ritual dan tradisi penyambutan dengan minum tuak secara bersama-sama ini disebut Reis. Usai acara perjamuan dari rumah adat, kita akan diajak bergabung di area teras rumah untuk menyaksikan berbagai suguhan tarian adat yang memiliki filosofi berdampingan dengan tata cara hidup masyarakat desa adat Liang Ndara. Dari mulai tarian sirih pinang atau reis meka, tarian caci, akumawo, rangkuk alu hingga tarian sanda. Para penampil himpunan tarian tersebut dilakukan secara berkelompok oleh wanita dan pria warga desa adat secara bergantian.

Diantara berbagai suguhan tarian tersebut, yang sangat menarik perhatian adalah tarian caci. Tarian caci merupakan adu ketangkasan yang dilakukan oleh dua orang pemuda dengan menggunakan cambuk yang dipasang kulit kerbau tipis dan perisai dari kayu, dimana masing-masing akan mencambuk dan menangkis secara bergantian. Nama “Caci” yang digunakan sebagai tarian ini memiliki arti ujian satu lawan satu, yaitu “Ca” yang berarti satu dan “Ci” yang berarti uji. Kostum yang digunakan para penari ini terdiri dari 1) Panggal yang terletak pada bagian kepala, terbuat dari kulit kerbau, dilapisi kain khas adat Manggarai bermotif renda, berbentuk persegi empat, bagian atasnya menyerupai tanduk kerbau yang berhiaskan bulu ekor kambing ; 2) Nggorong atau giring-giring yang terbuat dari logam dan diikatkan pada pinggang pemain untuk menambah kegagahan para pemain karena suaranya yang berbunyi pada saat pemain bergerak ; 3) Lipa Songke atau kain songke Lipa berupa kain sarung berwarna hitam bersulam khas Manggarai (menggunakan benang yang disisipkan di tengah kain tenunan) yang dipakai hanya sebatas lutut dengan kombinasi warna-warni minim yang disebut lipa laco dan kombinasi sulaman yang disebut dengan Jok ; 4) Tubi Rapa berupa perhiasan manik-manik yang digunakan pada wajah bersamaan dengan Destar (pakaian adat laki-laki yang hampir mirip dengan sapu, dipakai dengan cara dililitkan pada kepala dan berfungsi sebagai pelindung wajah) ; 5) Selendang yang diikatkan di pinggang dan merupakan kain tenunan khas Manggarai ; 6) Ndeki yang merupakan aksesoris terbuat dari bulu ekor kambing dan berfungsi sebagai pelindung punggung serta melambangkan kejantanan. Pertunjukan tari Caci dibuka dengan tarian Danding atau Tandak Manggarai. Sebelum beradu, setiap penari pria terlebih dahulu melakukan gerakan pemanasan otot sambil menggerakan badannya bak gerakan kuda. Dengan destar atau ikat kepala dan sarung songket, para pemuda berjejer menari dan menyanyikan lagu daerah yang dinyanyikan dengan lantang untuk menantang lawannya. Dengan lincah dan gemulai penyerang menghentakkan pecutnya ke tubuh lawan sambil melompat tinggi, yang kemudian akan ditahan oleh lawannya dengan menggunakan perisai. Setiap pemain beresiko memiliki bekas sabetan, tapi meski begitu tidak ada dendam antar pemain. Seluruh tarian ini diiringi oleh alunan musik yang wajib dimainkan oleh para wanita masyarakat adat Liang Ndara sebagai simbol kelembutan.

Secara keseluruhan tarian caci merupakan kolaborasi unik antara keindahan gerak tubuh dan pakaian yang digunakan penari (Lomes), Seni Vokal (Bokak), dan ketangkasan mencambuk dan menangkis (Lime). Tarian ini menjadi bentuk ekspresi suka cita masyarakat adat Liang Ndara saat upacara perkawinan (tae kawing) serta acara syukuran (panti) baik itu syukuran menyambut tahun baru, syukuran membuka ladang, syukuran hasil panen, atau syukuran menerima tamu kehormatan. Namun sesungguhnya, makna yang lebih mendalam dari itu semua adalah bahwa tarian ini memiliki filosofi kontemplasi diri serta membawa simbol pertobatan manusia dalam hidup. Untuk itu marilah kita berbagi suka cita dengan berkunjung ke desa adat Liang Ndara yang ada di Kota Labuan Bajo. Menari dan bersorak sorailah bersama masyarakatnya karena kabut yang kelam akan lenyap dan surya yang redup akan kembali bersinar. Lambungkan segala pujian dan syukur bersama mereka agar kita senantiasa belajar perihal memperbaiki kesalahan diri dalam kehidupan sehingga hari esok akan lebih baik dari hari kemarin.

Desa Adat Liang Ndara, Labuan Bajo, Flores, NTT – 27 Mei 2022

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Museum Kehidupan Samsara: Ruang Keseimbangan Alam, Manusia & Semesta

leave a comment »

Teks & Foto: galih sedayu

Bagaikan masuk ke sebuah dimensi lain di bumi. Itulah yang saya rasakan ketika pertama kalinya menempatkan hati di kawasan Museum Kehidupan Samsara yang lokasinya berada dekat dengan Gunung Agung, tepatnya di Banjar Yeh Bunga, Desa Jungutan, Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali. Gapura yang terbuat dari bebatuan alami dengan atap dari alang-alang menjadi pesona pertama yang menjadi pintu utama untuk memasuki kawasan ini. Sapaan hangat dari para penerima tamu perempuan dan laki-laki yang mengenakan busana adat bali seraya mengucap kata “Om Swastiastu” pun menjadi awal perkenalan hati. Kemudian dilajutkan dengan ritual mengenakan selendang yang diikat di pinggang (kamben) serta membasuh tangan dengan mengambil air yang disimpan di sebuah gentong dan menggunakan gayung tradisional yang terbuat dari batok kelapa. Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara kayu beradu. Sambil menyusuri jalan setapak, tampak terlihat sekelompok ibu-ibu yang sedang menggunakan alat penumbuk padi dari kayu (alu dan lesung) di depan sebuah gubuk kayu sederhana. Benturan alu dan lesung tersebut menciptakan bunyi irama yang harmonis dan terdengar merdu di tengah suasana alam hijau yang banyak dikelilingi oleh pohon kelapa. Sungguh semua momen itu menjadi suguhan pembuka yang sangat berkesan di hati.

Di dalam kawasan Museum Kehidupan Samsara, terdapat sebuah ruang yang berisi adegan siklus hidup manusia di Bali berupa 14 rentetan upacara Hindu disajikan dalam bentuk foto, deskripsi, beserta peralatannya. Dimulai dari berbagai nilai serta tradisi yang melekat sejak bayi berada di dalam kandungan, kemudian lahir ke dunia, hidup dan mati bahkan hingga menyatu dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa hingga tercapainya kesempurnaan. Di ruang ini, siklus hidup manusia direkonstruksi ulang dalam bingkai ritual, pemaknaan simbol serta narasi kearifan lokal yang dapat menjadi pengetahuan dan pengalaman tersendiri. Sebentuk cerita perihal tahapan kehidupan yang ditandai dengan berbagai upacara dan ritual tradisional yang mengarah pada keyakinan akan tugas hidup sebagai manusia dalam kelahiran berulang menuju nirvana. Sistem pohon keluarga yang dianut oleh masyarakat bali pun dapat dilihat dan dibaca di ruang ini. Di sanalah kita bisa mengetahui bahwasanya pemilik Museum Kehidupan Samsara ini masih satu garis keturunan dengan Mpu Tantular, pencipta Kitab Sutasoma.

Aktivitas keseharian masyarakat pun menjadi bagian yang menyatu di dalamnya sehingga pengalaman mata & hati kita menjadi utuh tatkala kita hadir dalam kesadaran penuh di ruang ini. Dari mulai pembuatan arak secara tradisional, hingga memasak makanan tradisional. Salah satu pendiri Museum Kehidupan Samsara  ini adalah Ida Bagus Agung Gunarthawa. Beliau adalah seorang sahabat baik dan saat ini kami bersama-sama di Indonesia Creative Cities Network (ICCN). Menurut Gus Agung, bingkai kata “Museum Kehidupan” tidak diartikan sebagai sebuah tempat disimpannya benda-benda bersejarah dalam kehidupan masyarakat. Namun memiliki dimensi tempat bersemainya sebuah proses pemaknaan kembali nilai-nilai luhur sebagai pengetahuan lokal (local wisdom) yang dapat dijalankan sebagai pedoman hidup manusia Indonesia dan dapat ditransformasikan menjadi pengetahuan baru kepada masyarakat lain dalam konteks pembangunan keragaman budaya dan toleransi dalam kehidupan sosial. Pemaknaan atas istilah “Museum Kehidupan” juga dapat diartikan sebagai upaya pemeliharaan dan pelestarian ritual, tradisi dan budaya yang berkembang dalam masyarakat Indonesia sebagai praktik dalam konteks peradaban yang dinamis. Bagi saya tempat ini bukan sekedar destinasi wisata namun ia juga menawarkan sebuah ruang kontemplasi bahwasanya kita adalah segala apa yang kita lakukan bagi alam, sesama & semesta.

Karangasem, Bali, 27 November 2020

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

May 6, 2022 at 1:44 pm

Kupang, Cendana Harum Dari Timur

leave a comment »

Teks & Foto: galih sedayu

Himpunan imaji mural menyapa saya dengan hangat saat melangkahkan kaki untuk pertama kalinya di Kota Kupang pada suatu pagi yang terik selepas mendarat di Pulau Timor. Goresan visual warna-warni tersebut memenuhi bangunan-bangunan tua peninggalan masa kolonial yang berada di kawasan Pantai Lahi Lai Bissi Kopan (LLBK) Kota Lama, dekat dengan Dermaga Lama Kupang yang kini sudah tidak berfungsi lagi. Area bersejarah ini menjadi saksi bisu serta mewariskan ribuan cerita perihal keharuman Kayu Cendana yang menjadi kemuliaan pulau Timor terutama Kupang. Dimana kota ini dahulu menjadi pusat perdagangan antar pulau dan mulai ramai dikunjungi oleh para pedagang dari Jawa pada abad ke-15. Karenanya Kota Kupang pun ditetapkan sebagai salah satu Kota Pusaka / Kota Warisan Budaya (Heritage City) di Indonesia pada tahun 2014. Mural ini bagi saya sangat merefleksikan jiwa semangat, identitas budaya, serta energi kreativitas yang dimiliki oleh pulau Timor dan seolah memanggil kita agar dapat berempati & berkolaborasi demi menyalakan kembali cahaya dari timur Indonesia.

Keseokan harinya saya kembali mengikuti mentari pagi yang membentuk wajah & bayang momen kehidupan di sekitar Pantai Kelapa Lima yang berlokasi di tepi Jalan Timor. Kawasan yang merupakan sentra penjualan ikan bagi masyarakat setempat ini rencananya akan dijadikan lokasi pusat kuliner Kota Kupang yang menawarkan berbagai sajian dan hidangan demi memuaskan dahaga lapar haus para wisatawan yang berkunjung ke sana. Ruang-ruang publik yang mencerminkan simbol kearifan lokal dapat terlihat dengan jelas di sana. Dari mulai gazebo berbentuk sasando (alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur), bangunan pusat kuliner dengan atap jerami yang menjorok ke laut, panggung budaya, hingga jetty atau dermaga untuk pedagang yang menjadi ikon ruang terbuka publik di kawasan tersebut.

Sungguh senang rasanya tatkala ruang-ruang publik seperti ini dapat dirasakan dan dinikmati oleh warga Indonesia di belahan timur. Percikan kreativitas yang dimiliki oleh warga sebuah kota tentunya mendambakan ruang-ruang untuk berekspresi. Sehingga dengan sendirinya nanti akan hadir pasukan semut komunitas yang berkerumun demi mengharumkan kotanya. Kiranya cahaya dari timur senantiasa bersinar terang di Kota Kupang agar menjadi bagi Indonesia keharuman abadi cendana yang sangat melegenda. “Uis Neno Nokan Kit”.

Kupang, 29-30 Maret 2022

***

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

April 5, 2022 at 11:20 am

JENAMA, KESIMA & GEMA KOTA KREATIF

leave a comment »

Teks : galih sedayu

“My City, My Responsibility”

Sejatinya kota kreatif adalah sebuah kota yang memiliki karakter khas sehingga mampu melahirkan jenama, kota yang merefleksikan identitas diri sehingga mampu menciptakan kesima, serta kota yang mewartakan berita baik sehingga mampu menghasilkan gema ke seluruh penjuru dunia. Karenanya sejumlah kota kreatif pada umumnya berkomitmen untuk mencapai tujuan mulia yang telah ditetapkannya ; bersikap terbuka terhadap perubahan dan bersedia mengambil segala resikonya ; berprinsip teguh dan menerapkannya secara strategis dengan upaya taktisnya ; bersedia untuk mengenali dan memberdayakan sumber daya lokal dengan segala potensinya ; serta menumbuhkembangkan dan menyebarkan jiwa kepemimpinan secara lebih luas & visioner melalui keteladannya. Secara keseluruhan semua hal tersebut dapat disederhanakan ke dalam konsep “City as a personality”, yang tentunya menjadi sangat relevan dalam konteks membangun kota kreatif sekarang ini. Dimana konsep kota yang mencerminkan sebuah kepribadian didasarkan atas analogi antara individu manusia dan kotanya masing-masing. Kota itu sendiri adalah komunitas manusia. Maka dari itu lah, kita semua yang mewakili individu manusia serta menjadi bagian dari masyarakat luas harus ikut mengambil tanggung jawab dan peran demi memberikan yang terbaik bagi kota yang kita huni. Membangun kota bisa dimulai dengan membangun diri sendiri.

“Without Empathy, Creativity is Empty”

– Kang Ayip, Founder Rumah Sanur Creative Hub –

Himpunan individu melahirkan sebuah komunitas. Individu yang kreatif, produktif & solutif akan melahirkan komunitas yang kreatif, produktif, dan solutif pula. Sebab itulah komunitas sebagai salah satu stakeholder kota, sangat berperan dalam menentukan kompas pengembangan kota kreatif. Salah satu alasan terbesarnya adalah karena komunitas dengan daya & cara kreativitasnya, dianggap mampu untuk memecahkan solusi permasalahan kota sekaligus menjadikan bentuk kreativitas sebagai wajah dan ekspresi dari sebuah kota kreatif. Apalagi bahasa visual kota kerap dikomunikasikan oleh ekspresi wajah tertentu dari sebuah kota. Dari sanalah kita bisa menilai perihal nilai serta tanda-tanda psikologis dari sebuah kota kreatif. Memaknai kota kreatif harus disadari sebagai perpanjangan dari kreativitas kita masing-masing sebagai komunitas yang bertanggung-jawab secara kolektif demi mewujudkan kota yang bersih, sehat, indah, aman, dan bahagia. Apalagi didukung oleh “Political Will” yang nyata dihadirkan oleh para pemimpin kotanya. Namun demikian, kreativitas yang dipersembahkan oleh komunitas dapat menjadi bermanfaat bagi kotanya hanya karena satu alasan mendasar yang paling penting sebagai awal mula dari segalanya. Empati.

“Padamu Negeri Kami Berkolaborasi”

Indonesia Creative Cities Network (ICCN) merupakan perkumpulan independen yang terdiri dari jejaring kota / kabupaten kreatif serta menjadi entitas komunitas nasional yang berupaya mengembangkan kota kreatif di tanah air. Sejak berdiri pada tahun 2015, ICCN hingga kini terus memperjuangkan dan menjunjung tinggi “10 Prinsip Kota kreatif” yang menjadi roh utama dalam pergerakan sosialnya. 10 prinsip ini menjadi jala utama bagi ICCN untuk menjaring lebih banyak manusia beserta komunitas kreatifnya, untuk kemudian menebarkan kembali hasil tangkapannya agar dapat melebarkan serta menguatkan ikatan jala sebelumnya. Adapun butir-butir 10 prinsip kota kreatif ini terdiri dari kota yang welas asih ; kota yang inklusif ; kota yang melindungi hak asasi manusia ; kota yang memuliakan kreativitas masyarakatnya ; kota yang tumbuh bersama lingkungan yang lestari ; kota yang memelihara kearifan sejarah sekaligus membangun semangat pembaruan ; kota yang dikelola secara adil, transparan, dan jujur ; kota yang dapat memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya ; kota yang memanfaatkan energi terbarukan ; serta kota yang mampu menyediakan fasilitas umum yang layak untuk masyarakat. Salah satu implementasinya, setiap tahun ICCN menggelar sebuah pertemuan ruang dan waktu demi menghimpun unsur pemangku kepentingan kota kreatif yakni perwakilan pemerintah, komunitas, akademisi, bisnis, media, dan yang kini mulai digaungkan yaitu unsur aggregator. Sehingga pada akhirnya narasi kolaborasi kota kreatif yang sebelumnya disebut sebagai Penta Helix, saat ini mulai berubah menjadi Hexa Helix. Pada awal mulanya, pertemuan tahunan ini dinamakan Indonesia Creative Cities Conference (ICCC) yang kemudian berubah menjadi Indonesia Creative Cities Festival (ICCF). ICCF ini menjadi momentum yang sangat istimewa karena setiap kota / kabupaten diberi kesempatan untuk menjadi tuan rumah bagi para tamu undangan yang merupakan jejaring kota / kabupaten kreatif dari seluruh pelosok tanah air. Dari mulai Kota Surakarta (ICCC 2015) ; Kota Malang (ICCC 2016) ; Kota Makassar (ICCC 2017) ; Kota Jogjakarta & Kabupaten Sleman (ICCF 2018) ; Kota Ternate (ICCF 2019) ; Kota Denpasar & Kabupaten Karangasem (ICCF 2020) ; hingga Kota Pekanbaru & Siak (ICCF 2021). Berkat konsistensi ICCF inilah, jejaring kota kreatif yang ada di bumi nusantara ini senantiasa terhubung untuk saling belajar dan berbagi pengalaman yang saling bermanfaat.

Badai pandemi Covid 19 yang menghantam kota di seluruh dunia, tentunya menjadi tantangan bagi kota kreatif untuk melakukan perubahan agar lebih tangguh menghadapi masa depan. Karena sesungguhnya masa depan kota kreatif adalah kota senantiasa yang belajar dari pengalaman masa lalu, untuk kemudian menciptakan pengalaman baru dalam wujud yang baru. Dimana empati menjadi pemantiknya, dan kreativitas tetap menjadi nyala terangnya. Karena pertanyaan abadi yang menjadikan kontemplasi dari kreativitas itu adalah bagaimana caranya agar kita dapat menciptakan diri kita yang lebih baik dari sebelumnya serta bagaimana caranya agar kita dapat menggunakan kreativitas yang kita miliki sehingga dapat memberikan manfaat bagi cahaya sebuah kota. “From Liveable Cities to Loveable Cities”.

Bandung, 3 Desember 2021

Written by Admin

January 29, 2022 at 1:19 am

Museum Kehidupan Rumah Marga Tjhia: Ruang Toleransi

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Ribuan cerita perihal sejarah masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa, dapat kita temui di Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat. Julukan Kota Seribu Kelenteng yang melekat bagi Kota Singkawang, menjadi sihir yang memikat bagi para pengelana ruang dan waktu. Sejumlah artefak bangunan sejarah pun berhimpun di Kota Singkawang. Salah satunya adalah Rumah Marga Tjhia yang menjadi saksi bisu dari perjuangan leluhur masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa selama 119 tahun lamanya. Rumah Marga Tjhia yang telah menjadi cagar budaya Kota Singkawang ini tersembunyi di balik wajah ruko-ruko modern yang ramai, tepatnya di jalan Budi Utomo No. 35, Gang Mawar, Condong, Singkawang Barat.

Adalah Xie Shou Shi (Chia Siu Si dalam dialek Hakka Singkawang) yang menjadi tokoh penting di balik keberadaan Rumah Marga Tjhia ini. Chia sendiri merupakan seorang perantau muda dari Kota Xiamen, yang kemudian melarikan diri dari kemiskinan dan krisis pangan akibat bencana alam yang menimpa di China. Chia adalah seorang petani muda yang nekad mengarungi lautan demi mengadu nasib serta mencari harapan untuk kehidupan barunya. Namun dalam perjalanannya, ia terdampar di Semenanjung Malaya (Malaysia). Karena terjadi kerusuhan, Chia kembali mengarungi lautan dan tibalah di Kota Singkawang yang saat itu masih dalam kekuasaan Pemerintah Kolonial Belanda. Dari sinilah Chia mulai merintis kehidupan barunya untuk kemudian menggarap lahan pertanian Singkawang yang sangat subur. Chia kemudian memanfaatkan lokasi Singkawang yang strategis karena berseberangan langsung dengan Laut Natuna, dengan membangun sebuah armada khusus untuk mengangkut dan menjual hasil panen dari kebunnya terutama yang berupa kelapa dan karet untuk dikirim ke Malaysia dan Singapura. Lambat laun Chia menjadi sosok penting bagi masyarakat setempat maupun Pemerintah Kolonial Belanda karena kerja keras dan kesuksesannya dalam membangun perekonomian dan kehidupan sosial di Singkawang. Oleh karena itu Pemerintah Kolonial Belanda memberikan sebuah tanah hibah untuk Chia sebesar 5.000 meter persegi sebagai bentuk apresiasi atas segala hal yang dilakukannya.

Pada tahun 1902 Chia membangun tanah tersebut sebagai sebuah kawasan yang digunakan bagi rumah tempat tinggal baginya dan keluarganya, serta membangun sebuah kantor dagang miliknya yang bernama Chia Hiap Seng. Dengan mendatangkan langsung arsitek dari China, Chia membangun rumah di kawasan tersebut dengan bahan kayu ulin yang indah. Gaya arsitekturnya menggunakan campuran dari Timur dan Barat serta memiliki konsep si he yuan, yang berarti halaman yang dikelilingi oleh empat rumah. Sekitar 50 meter dari depan Rumah Marga Tjhia, terdapat sungai kecil yang dahulu digunakan sebagai sebagai jalur perdagangan menuju Malaysia dan Singapura.

Saat ini, Rumah Marga Tjhia ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Singkawang oleh pemerintah setempat sebagai usaha melestarikan dan melindungi kawasan yang telah dibangun oleh Chia. Bangunan ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010, Tentang Cagar Budaya. Registrasi Pusat Nomor 2/26-01/8/1 dan Registrasi daerah Nomor 6172/5/0001. Penduduk Tionghoa Singkawang mengenal rumah ini dengan sebutan “Thai Buk” yang artinya rumah besar. Bangunan ini terdiri atas ruang pertemuan, ruang berdoa, deretan kamar-kamar membentuk huruf “U”, serta taman-taman kecil. Ruang pertemuan berukuran luas berada di bagian depan rumah. Ruang berdoa berisi altar doa, abu leluhur, patung Budha dan dewa, serta papan nama leluhur. Deretan kamar merupakan tempat peristirahatan bagi keluarga keturunan Tjhia, yang masih ditempati hingga sekarang. Rumah marga Tjhia memiliki plang kayu bertuliskan kalimat mutiara Tionghoa kuno, dengan arti berbeda pada tiap ruangan rumah. Saat mengunjungi Kawasan Rumah Marga Tjhia, kita dapat menikmati pula suguhan Choi Pan (bahasa Hakka) atau Chai Kue (bahasa Tiociu) yang merupakan makanan khas Tionghoa di Singkawang. Choi Pan ini dijual di depan salah satu rumah milik keturunan Chia.

Bila kita menyambangi kawasan yang penuh dengan keunikan sejarahnya ini, kita akan disambut baik dan menjadi tamu yang selalu dipersilakan masuk meski tanpa janji terlebih dahulu. Kita pun dapat melihat serta merasakan detak jantung keseharian hidup yang berdenyut di rumah mereka tanpa ada rasa kuatir bahwa mereka terganggu dengan adanya kehadiran kita. Kiranya Rumah Marga Tjhia ini dapat menjadi ruang singgah bagi kita semua yang senantiasa menjunjung tinggi toleransi serta menghargai nilai sejarah agar pelita Bhineka Tunggal Ika tetap menyala terang selamanya bagi Indonesia.

Singkawang, 5 October 2021

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 26, 2021 at 1:55 pm