I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

I’LL FOLLOW THE SUN | Love, Light, Live by galih sedayu

leave a comment »

gals_rosid_square_blog

Salam kasih dan persaudaraan bagi kita semua. Terima kasih telah sudi meluangkan waktunya untuk berkenan mampir dan bertamu di kandang maya saya. Sebuah situs website yang telah saya bangun sejak awal tahun 2010 dan saya namakan “I’ll Follow The Sun” [ Nama ini terinspirasi dari salah satu judul lagu karangan band kesayangan saya sepanjang masa yakni “The Beatles” ]. Ruang digital ini ada sebagai wujud syukur terhadap anugerah Cinta, Terang & Hidup yang senantiasa dilimpahkan kepada saya oleh Sang Semesta. Pada umumnya kamar virtual ini berisikan himpunan tulisan serta imaji visual karya pribadi, yang menurut saya bersentuhan dengan empati, ide, dan kreativitas. Karenanya saya merasa memiliki kesempatan untuk terus mengasah ketrampilan, wawasan, dan sikap dalam membuahkan karya dimana rasa menjadi roh pelapisnya. Tujuh prinsip kehidupan yang begitu penting bagi saya yaitu Belajar, Berkarya, Berjejaring, Berdoa, Berserah, Bersyukur, dan Berbagi, menjadi entitas yang coba dijalankan dan sebagian coba dicurahkan ke dalam blog ini. Meski isinya hanya secuplik pikiran dan kejadian yang saya alami di Jagat Raya yang sangat luas ini, namun harapannya ia dapat menjadi pelita kecil yang terus menyalakan manfaat serta mewartakan kebaikan bagi siapapun yang telah melihat dan membaca segala sesuatu yang diunggah di sini. Kiranya kumpulan catatan digital yang telah saya tulis dan nyatakan di dalam buku maya ini, dapat menjadi sepenggal jejak cerita atau setidaknya menjadi sebuah persembahan kecil yang kekal dari saya teruntuk keluarga tercinta, para sahabat dan handai taulan, serta dunia. Karena sesungguhnya kisah seorang manusia selalu menawarkan keajaiban di bumi. 

Greetings of love and brotherhood to all of us. Thank you for taking the time to stop by and visit me in my virtual cage. A website that I have built since the beginning of 2010 and I call it “I’ll Follow The Sun” [This name is inspired by one of my favorite band song titles of all time “The Beatles”]. This digital space exists as a form of gratitude towards the grace of Love, Light & Life that is always given to me by the Universe. In general, this virtual room contains a set of writing as well as visual images of personal work, which I think is in touch with empathy, ideas, and creativity. Therefore I feel have the opportunity to hone skills, insights, and attitudes in producing works where the sense of being is the spirit of the coating. The seven principles of life that are so important to me are Learning, Working, Networking, Praying, Surrender, Gratitude, and Sharing, becoming entities that try to run and some try to be poured into this blog. Though its contents are only a mere clarity of thoughts and events that I experienced in this vast Universe, it is hoped that it can be a little torch that keeps on turning the benefits and proclaiming the good for those who have seen and read everything that is inspired here. It may be that the collection of digital notes I have written and stated in this virtual book can be a story footprint or at least become an eternal little gift from me to my beloved family, to friends, and to the world. Because the true story of a man always offers a miracle on earth.

***

galih sedayu adalah putra pertama dari pasangan orang tua yang bernama A.M. Kayat & Dorothea Komyana. Menikah dengan Christine Listya (Alm) dan dikarunia tiga orang putri yang bernama Ancilla Trima Sedayu (Alm), Eufrasia Tara Sedayu serta Eleonora Thalia Sedayu. Mulai menggeluti dunia kerja kreatif sejak tahun 1999. Saat ini tinggal dan menetap di Kota Bandung. Pendiri & Pemilik Air Foto Network (Perusahaan Jasa & Pendidikan Fotografi) dan Ruang Kolaborasa (Perusahaan Konsultan & Manajemen Kreatif). Bergabung di berbagai organisasi diantaranya menjadi Wakil Deputi Pengembangan Bisnis di ICCN (Indonesian Creative Cities Network), Masyarakat Fotografi Indonesia (MFI), Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI), Komite Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Barat, Bandung Creative City Forum (BCCF), dan Deputi Sumber Daya Kreatif di Komite Ekonomi Kreatif Kota Bandung. Menerbitkan beberapa Buku diantaranya Bandung From Spaces To Places, Bandung Nu Urang, Home Of Creative Minds, Bandung 1955 dan Deus Providebit. Direktur & Konsultan Kreatif berbagai Festival Skala Internasional seperti Asian African Carnival di Bandung Ibu Kota Asia Afrika, Indonesia Festival di Malaysia & Wonderful Indonesia Festival di Thailand serta berbagai Festival Skala Nasional seperti Caang Fest, Crafashtival, Helar Fest, Light Fest, Milangkala Bandung Festivals & Ngora Bandung Fest. Menjadi Nara Sumber, Juri Kompetisi & Kurator Pameran di berbagai Kota di Indonesia yakni Bandung, Bogor, Cimahi, Denpasar, Depok, Garut, Jakarta, Kendari, Mataram, Pekalongan, Pontianak, Sumedang & Tasikmalaya. Perintis berbagai Ruang Publik seperti Perpustakaan AFN, Simpul Space, dan Taman Foto di Kota Bandung. Menyukai barang bekas, film, fotografi, musik rock, dan tanaman. Membuat jurnal fotografi dan kumpulan tulisan di situs galihsedayu.com (I’ll follow the sun).

galih sedayu is the first son of an elderly couple named A.M Kayat & Dorothea Komyana. Started his activities in creative works since 1999. Married to Christine Listya (RIP) and gifted with three daughters named Ancilla Trima Sedayu (RIP), Eufrasia Tara Sedayu and Eleonora Thalia Sedayu. Currently lived and settled in Bandung City. He is the owner and founder at Ruang Kolaborasa (Creative Consulting Agency Company) and Air Foto Network (Photography Services & Education Company). Join in various organizations such as Business Development Vice President at Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Indonesian Photography Society (MFI), Association of Indonesian Photography Profession (APFI), Bandung Creative City Forum {BCCF}, Creative Resources Deputy at Bandung Creative Economy Committee, Community Development Deputy at West Java Creative Economy Committee. Publish several book such as Bandung From Spaces To Places, Bandung Nu Urang, Home Of Creative Minds, Bandung 1955 and Deus Providebit. Director & Creative Consultant of various International Scale Festivals such as Asian African Carnival in Bandung The Capital of Asia Africa, Indonesia Festival in Malaysia & Wonderful Indonesia Festival in Thailand as well as various National Scale Festivals such as Caang Fest, Crafashtival, Helar Fest, Light Fest, Milangkala Bandung Festivals & Ngora Bandung Fest. Being a Keynote Speaker, Competition Judge & Exhibiton Curator in various cities in Indonesia namely Bandung, Bogor, Cimahi, Denpasar, Depok, Garut, Jakarta, Kendari, Mataram, Pekalongan, Pontianak, Sumedang & Tasikmalaya. Pioneers of various public spaces such as AFN Library, Simpul Space, and Photography Park in Bandung. He loves films, music, photography, scarps, and plants. He has been regularly writting & make a photography journal at his site galihsedayu.com (I’ll Follow The Sun).

Advertisements

Written by Admin

December 12, 2017 at 5:31 am

Posted in Uncategorized

“Lost For Words” | A Personal Photo Project by galih sedayu

leave a comment »

Teks & Karya Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Bagi saya, Fotografi adalah sebuah Kuasa, Cara & Seni Melihat. Melihat itu sendiri merupakan hasil kolaborasi antara rasa, wawasan dan empati yang dimiliki oleh seorang petualang cahaya atau pemotret. Bagaimana kita menciptakan bingkai-bingkai komposisi dari berbagai bentuk, garis, perspektif, tekstur, warna serta elemen visual lainnya untuk kemudian dilahirkan ke dalam janin sebuah citra. Citra yang berisi pixel-pixel visual sekaligus himpunan makna yang ditafsirkan di sana. Karenanya kadang sebuah karya foto menjadi multi arti. Namun demikian bukan berarti mesti banyak kata atau kalimat yang diungkapkan bagi karya foto tersebut. Biarlah gambar itu sendiri yang menjadi bahasa universal. Yang berbicara dalam hening, yang berdialog dalam sunyi, yang berkata dalam diam. Sendiri, tapi tak sendirian.

#74KaryaFoto

***

For me, Photography is a Power, Ways & Art of Seeing. Seeing itself is the result of a collaboration between the feelings, insights and empathy possessed by a light adventurer or photographer. How do we create frames of compositions of different shapes, lines, perspectives, textures, colors and other visual elements to be born into the fetus of an image. Images that contain visual pixels as well as the set of meanings interpreted there. Therefore sometimes a photograph to be multi meaning. However, that does not mean many words or sentences are expressed for the photographs. Let the image itself be the universal language. Who speaks in silence, dialoque in silence & talks in silence. Alone, but not lonely.

#74Photographs

DSCF3128

SNOW / 4 February 2018

DSCF2800_blog

TOWER / 2 February 2018

DSCF2315_blog

OHAYO / 2 February 2018

DSCF2046_blog

PATH / 30 January 2018

DSCF1860_blog

MAUNG / 12 January 2018

DSCF7528_blog

ARUN / 26 October 2017

DSCF6392_blog

HUB / 5 September 2017

DSCF0594_blog

RHYME / 25 January 2017

IMG_5209_blog

HOLY / 19 December 2016

IMG_5230_blog

SING / 19 December 2016

IMG_5285_blog

ALONE / 19 December 2016

IMG_4637_blog

LUNCH / 16 December 2016

DSCF3640_blog

KASTUBA / 15 March 2016

DSCF3479_blog

ECLIPSE / 9 March 2016

DSCF3581_BLOG

THIRSTY / 9 March 2016

DSCF2035_blog

SACRIFICE / 25 December 2015

IMG_8868_blog

BLUR / 19 December 2015

IMG_7927_blog

TRAVELING / 28 September 2015

IMG_7154_blog

COFFEE / 18 July 2015

IMG_7518_blog

SIN / 2 July 2015

IMG_6171_blog

DRIED / 30 June 2015

IMG_7309_BLOG

LITE / 1 April 2015

IMG_4049_BLOG

PROMISE / 3 February 2015

IMG_8842_blog

SPEED / 10 December 2014

03 daun (f)_BLOG

SINDORO / 9 August 2014

IMG_6148_BLOG

FUN / 2 August 2014

IMG_2685_blog

NIRVANA / 4 March 2014

IMG_1647_blog

LOOK / 2 March 2014

IMG_1503_blog

MISSING / 2 March 2014

IMG_0182

HALLO / 28 January 2014

IMG_9511

EAT / 11 January 2014

IMG_7504_BLOG

CROWD / 1 January 2014

IMG_7492_blog

NEW / 1 January 2014

IMG_7421_BLOG

YEAR / 31 December 2013

IMG_6567 2_BLOG

PASSING / 25 October 2013

bdg 02_2 hal_blog

ABOVE / 11 August 2013

IMG_2230_blog

BLIND / 29 July 2013

IMG_6187_blog

BARONG / 10 March 2013

IMG_7578_blog

STAIRS / 29 December 2012

IMG_8908_blog

JUNGLE / 26 December 2012

rivercinema 03_blog

RAIN / 22 December 2012

IMG_5610_blog

BUBBLES / 29 July 2012

IMG_2963_blog

DIAGONAL / 10 July 2012

IMG_2807_blog

WALK / 10 July 2012

IMG_4547_BLOG

LIGHT / 13 June 2012

IMG_1750_BLOG

FLAG / 3 May 2012

IMG_1992_BLOG

SIT / 3 May 2012

APC_2351_blog

KISS / 12 October 2011

APC_2517_blog

SACRED / 12 October 2011

DSC_8600_BLOG

LOST / 9 March 2010

SONY DSC

ENDEMIC / 14 November 2008

P1170157_blog

ARCH / 13 September 2008

gempa_BLOG

QUAKE / 4 September 2009

P1160929_blog

SAIL / 28 August 2008

DSC_6227_blog

LUST / 4 June 2008

P1120860_blog

FLY / 14 May 2008

P1100703_blog

CLICK / 19 March 2008

P1090274_blog

RUN / 21 February 2008

P1080695_blog

ARTDECO / 4 February 2008

P1080594_blog

DEW / 2 February 2008

fine art (165)_blog

STARE / 8 August 2007

fine art (121)_blog

FACE / 31 January 2007

fine art (133)_blog

WOOD / 6 November 2006

fine art (6)_blog

TIME / 4 March 2005

fine art (14)_BLOG

CLIMB / 22 April 2004

fine art (39)_blog

JOY / 2001

fine art (62)_blog

DISHES / 2001

fine art (65)_blog

SAILING / 2001

fine art (50)_blog

GOD / 2001

fine art (40)_blog

BLOOM / 2001

fine art (52)_BLOG

HARMONY / 2000

fine art (43)_blog

OFFERING / 2000

fine art (9)_BLOG

BIMA / 1999

jabar (2)_BLOG

GOLD / 1998

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

September 25, 2017 at 7:28 am

Warisan Leluhur Dunia Di Shirakawa-go

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Negara yang besar tentunya tak akan abai terhadap warisan budaya yang dimilikinya. Karena di sanalah sesungguhnya kita dapat menemukan jejak karya bangsa yang diciptakan oleh para leluhurnya. Shirakawa-go, salah satu desa bersejarah yang dimiliki oleh Negeri Matahari Terbit, Jepang adalah salah satunya. Rumah-rumah tradisional yang berusia sekitar 200 tahun telah menjadi saksi biksu bagi keberadaannya. Dengan ciri yang unik, yakni atap rumah yang membentuk segitiga sama kaki, terbuat dari jalinan jerami yang ditumpuk hingga tebal, menjadikan rumah dengan model yang disebut gassho-zukuri (tangan yang berdoa) itu menjadi magnet wisatawan dunia. Terletak di lembah Sungai Shogawa dan dikelilingi pegunungan, Shirakawa-go selalu mengalami musim dingin dengan hujan salju yang hebat. Letak persisnya berada di pegunungan Hakusan yang membentang dari prefektur Gifu hingga prefektur Yoyama. Dengan atap yang memiliki kemiringan sekitar 60 derajat itu, tumpukan salju tentunya akan cepat runtuh. Apalagi perancang rumah gassho-zukuri di masa lampau memang sangat memikirkan bentuk rumah dengan kondisi alam tersebur. Salah satunya adalah semua atap rumah di desa tersebur menghadap ke timur dan barat yang bertujuan agar salju yang menumpuk bisa segera mencair bila terkena sinar matahari. Karena atap menghadap arah matahari, semua ventilasi yang terletak di loteng mengarah ke selatan dan utara. Dengan begitu aliran udara dan angin bebas keluar masuk sehingga menciptakan sistem ventilasi yang terbaik. Seperti kebanyakan rumah tradisional Jepang lainnya, rumah gassho-zukuri menggunakan kayu. Uniknya, untuk menyatukan antara bagian satu dengan yang lain tidak satupun paku yang digunakan. Semua disatukan dengan tali yang terbuat dari jerami yang dijalin atau neso, istilah untuk menyebut cabang pohon yang dilunakkan. Pada tanggal 9 Desember 1995, UNESCO menetapkan rumah gassho-zukuri di Shirakawa-go dan Gokayama sebagai bagian dari Situs Kebudayaan Dunia. Shirakawa-go memiliki jumlah rumah bergaya gassho-zukuri terbanyak dibanding dengan dua desa bersejarah lainnya. Hingga saat ini, rumah-rumah gassho-zukuri ini masih digunakan sebagai tempat tinggal. Kuil Buddha, gubuk, itakura (gudang), Kuil Shinto, dan saluran air, adalah beberapa objek lain yang wajib dijaga dan dipertahankan. Bagi siapapun yang ingin melihat & belajar perihal kearifan bangsa Jepang, Shirakawa-go adalah tempatnya. Sebuah perkampungan kecil nan indah yang menawarkan perasaan syukur dan kebahagiaan.

Shirakawa-go, Jepang, 4 Februari 2018

***

A Great Country certainly will not ignore the cultural heritage it has. Because that’s where we can actually find traces of the works of the nation created by the ancestors. Shirakawa-go, one of the historic villages owned by the Land of the Rising Sun, Japan is one of them. Traditional houses of about 200 years have been a monk’s witness to its existence. With a unique feature, the roof of a house that forms an equilateral triangle, made of straw braids stacked to the thickness, making the house with a model called gassho-zukuri (praying hands) it becomes a magnet of world tourists. Located in the Shogawa River valley and surrounded by mountains, Shirakawa-go always experiences winter with great snowfall. The exact location is in the Hakusan mountains stretching from Gifu prefecture to Yoyama prefecture. With a roof that has a slope of about 60 degrees, the pile of snow will certainly quickly collapse. Moreover, the designer of gassho-zukuri house in the past is very thinking about the shape of the house with the natural conditions. One of them is all the roof of the house in the village facing east and west which aims to accumulate snow that can immediately melt when exposed to the sun. Because the roof is facing the sun, all the vents located in the attic are heading south and north. That way the air and wind flow freely in and out, creating the best ventilation system. Like most other traditional Japanese houses, gassho-zukuri houses use wood. Uniquely, to unite between one part with another none of the nails are used. All put together with a strap made of straw woven or neso, a term to refer to softened tree branches. On December 9, 1995, UNESCO designated gassho-zukuri houses in Shirakawa-go and Gokayama as part of the World Cultural Site. Shirakawa-go has the largest number of gassho-zukuri-style houses compared to two other historic villages. Until now, these gassho-zukuri houses are still used as shelter. Buddhist temples, huts, itakura (warehouse), Shinto Temple, and waterways, are some other objects that must be maintained and maintained. For anyone who wants to see & learn about Japanese wisdom, Shirakawa-go is the place. A small, beautiful village that offers a feeling of gratitude and happiness.

Shirakawa-go, Japan, February, 4, 2018

DSCF2855

DSCF2863

DSCF2906

DSCF2867

DSCF2869

DSCF2889

DSCF2895

DSCF2899

DSCF2908

DSCF2912

DSCF2917

DSCF2919

DSCF2924

DSCF2925

DSCF2938

DSCF2941

DSCF2953

DSCF2959

DSCF2962

DSCF2966

DSCF3005

DSCF3008

DSCF3029

DSCF3050

DSCF3053

DSCF3054

DSCF3070

DSCF3090

DSCF3091

DSCF3076

DSCF3092

DSCF3098

DSCF3100

DSCF3108

DSCF3115

DSCF3118

DSCF3122

DSCF3128

DSCF3141

DSCF3152

DSCF3197

DSCF3208

DSCF3220

DSCF3224

DSCF3241

DSCF3245

DSCF3252

DSCF3257

DSCF3259

DSCF3171

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

February 15, 2018 at 11:24 am

Sensasi Menyengat Bangkok

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

กรุงเทพมหานคร อมรรัตนโกสินทร์ มหินทรายุธยา มหาดิลกภพ นพรัตนราชธานีบูรีรมย์ อุดมราชนิเวศน์มหาสถาน อมรพิมานอวตารสถิต สักกะทัตติยวิษณุกรรมประสิทธิ์ (Krungthepmahanakhon Amonrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharatratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphimanawatansathit Sakkathattiyawitsanukamprasit). Kota Malaikat, Kota Besar Yang Abadi, Kota Megah Dari Sembilan Permata, Singgasana Raja, Kota Istana Kerajaan, Rumah Para Dewa Yang Berinkarnasi. Begitulah mereka menyebut Kota Bangkok yang merupakan ibukota Negara Thailand atau Negeri Gajah Putih ini. Kota yang dalam bahasa Thai disebut dengan Krung Thep Maha Nakhon ini memiliki populasi penduduk di atas 8 juta jiwa dengan luas area sekitar 1568,7 m². Kota yang rata-rata memiliki cuaca panas sepanjang tahun ini terkenal akan atmosfir jalanannya yang memikat para turis mancanegara. Dari mulai kuliner, budaya, fesyen, hingga kehidupan malamnya yang menjadi magnet setiap orang. Ribuan cerita bisa kita peroleh di sana. Pedagang kaki lima hampir menyerupai dekorasi yang menghiasi setiap sudut Kota Bangkok. Tuk Tuk atau “Sam Lor”, kendaraan roda tiga yang menyerupai bajaj kalau di Indonesia, merupakan transportasi khas di kota ini yang paling cocok untuk menghindari kemacetan. Pasar Chatuchak yang hanya buka setiap hari Sabtu & Minggu juga merupakan salah satu destinasi yang kerap dikunjungi oleh para pendatang. Kota yang murah & ramah adalah kesan yang saya dapatkan tatkala menginjakkan kaki di sana meski kadang kota ini terkesan berantakan. Dan saya pun baru menyadari betapa masyarakatnya sangat mencintai Sang Raja terutama Raja Bhumibol Adulyadej atau Raja Rama IX yang juga menyukai fotografi. Setelah Raja Bhumibol memimpin Thailand selama 60 tahun sejak tanggal 9 Juni 1946, ia pun wafat di usia 88 tahun pada tanggal 13 Oktober 2016. Selama satu tahun warga Thailand berduka atas kepergiannya. Saat ini tahta kerajaan digantikan oleh putranya yang bernama Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn. Ah…Momen singgah di Kota Bangkok memang sangat membekas di hati. Barangkali itupun yang menjadi alasan grup Band Rush menciptakan lagu A Passage To Bangkok. “We’re on the train to Bangkok. Aboard the Thailand Express. We’ll hit the stops along the way. We only stop for the best”.

Bangkok, 16 – 17 Desember 2016 ; 26 – 28 Oktober 2017 ; 15 – 20 November 2017

#47KaryaFoto

***

กรุงเทพมหานคร อมรรัตนโกสินทร์ มหินทรายุธยา มหาดิลกภพ นพรัตนราชธานีบูรีรมย์ อุดมราชนิเวศน์มหาสถาน อมรพิมานอวตารสถิต สักกะทัตติยวิษณุกรรมประสิทธิ์ (Krungthepmahanakhon Amonrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharatratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphimanawatansathit Sakkathattiyawitsanukamprasit). The City of Angels, The Immortal Great City, The Magnificent City Of The Nine Gems, The King’s Throne, The City Of The Royal Palace, The House Of The Incarnate Gods. That’s how they call the City of Bangkok which is the capital of the State of Thailand or the State of the White Elephant. The city is in Thai called Krung Thep Maha Nakhon has a population of over 8 million people with an area of ​​about 1568.7 m². The average city that has hot weather all the year is famous for its street atmosphere that attracts foreign tourists. From the start of culinary, culture, fashion, to the night life that became the magnet of everyone. Thousands of Stories we can get there. Street vendors almost resemble the decoration that adorns every corner of Bangkok City. Tuk Tuk or “Sam Lor”, a three-wheeled vehicle that resembles a bajaj if in Indonesia, is a typical transportation in this city is best suited to avoid traffic. Chatuchak market which is only open every Saturday & Sunday is also one of the destinations frequented by migrants. The cheap & friendly city is the impression I get when I set foot there although sometimes the city seems messy. And I just realized how much the people love the King especially King Bhumibol Adulyadej or King Rama IX who also love photography. After King Bhumibol led Thailand for 60 years from June 9, 1946, he died at the age of 88 on October 13, 2016. For one year the Thai citizens mourned his departure. Today the royal throne is replaced by his son, Crown Prince Maha Vajiralongkorn. Ah … The moment of transit in the city of Bangkok is very imprinted in the heart. Perhaps that’s why the Band Rush group created the song A Passage To Bangkok. “We’re on the train to Bangkok. Aboard the Thailand Express. We’ll hit the stops along the way. We only stop for the best “.

Bangkok, 16 – 17 December 2016 ; 26 – 28 October 2017 ; 15 – 20 November 2017

#47Photographs

DSCF9061

DSCF8418

IMG_4172_blog

IMG_4161_blog

IMG_4145_blog

DSCF7563

DSCF8214

IMG_4200_blog

DSCF8223

DSCF8226

IMG_4211_blog

DSCF8235

DSCF8402

DSCF8423

DSCF8428

IMG_4740_blog

DSCF8828

DSCF7752

DSCF7760

DSCF9492

DSCF9496

DSCF9483

DSCF9321

DSCF9329

DSCF9344

DSCF9351

DSCF9363

DSCF9389

DSCF9394

DSCF9411

DSCF7541

DSCF7546

DSCF7545

DSCF7575

DSCF7677

DSCF7669

DSCF7608

DSCF7946

DSCF7952

DSCF7953

DSCF9119

DSCF9174

DSCF9200

DSCF9203

DSCF9209

DSCF9188

DSCF9098

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 27, 2018 at 3:08 am

3 April 2016 : Baptism of Thalia

leave a comment »

pembaptisan thalia

3 April 2016.


Tepat hari ini putriku terkasih dibaptis.

Eleonora menjadi nama baptisnya yang abadi. Sehingga genaplah nama yang diberikan oleh mendiang Sang Ibu, “Eleonora Thalia Sedayu”.

Eleonora memiliki arti sinar atau terang. Dengan harapan agar sinarnya mengandung kehangatan sang ibu Christine Listya Sedayu.
Thalia memiliki arti tumbuh dengan baik serta sedayu memiliki arti siap sedia demi melakukan kebaikan.

Kiranya kelak thalia tumbuh dewasa sehingga menjadi terang bagi sesamanya & selalu mewartakan kebaikan bagi dunia.

Nak, imanmu lah kelak yang akan menjadikan dirimu manusia sesungguhnya. Perlakukanlah sesamamu dengan rasa adil. Jangan pernah melihat pribadi siapapun hanya dari suku, agama maupun status sosialnya.

Hadirkan lah empati dalam setiap detak jantung kehidupanmu. Niscaya hidupmu selalu penuh syukur dan bahagia.

Meski ibumu telah tiada, namun jangan pernah kuatir karna ayah akan selalu menjagamu dan akan selalu ada bersamamu dalam suka dan duka.

Spread your wings…thalia /m\

 

Written by Admin

December 24, 2017 at 4:11 am

23 Desember : Doa Kepulangan Tya & Kelahiran Thalia

leave a comment »

23 Desember 2017

Dear Tya…

Tetaplah menjadi sang pewarta kehangatan,
Tetaplah menjadi sang pengingat syukur,
Tetaplah menjadi sang penghantar tawa,
Tetaplah menjadi sang penawar rindu,
Tetaplah menjadi sang penguat hati,
Tetaplah menjadi sang pengisi cinta,
Tetaplah menjadi sang pelipur lara,
Yang dihembuskan dari surga.

Dear Thalia…

Karena engkau adalah api kehangatan,
Kerana engkau adalah gelombang syukur,
Karena engkau adalah sumber tawa,
Karena engkau adalah mentari rindu,
Karena engkau adalah cahaya hati,
Karena engkau adalah lubuk cinta,
Karena engkau adalah penghapus lara,
Yang dititiskan ke bumi.

Allah, Sang Semesta, & Sumber Segala Kasih…

Aku panjatkan doa & harapan bagi kedua bidadariku,
Dengan segenap hati dan segenap jiwa,
Bagi sang istri tersayang yang telah bersamaMu,
Bagi sang putri tersayang yang sedang bersamaku,
Kiranya berkat dan rahmat Ilahi senantiasa menyertai mereka berdua,
Baik dalam keabadian maupun dalam masa kehidupan,
Sebagaimana kehendak & rencana yang sesungguhnya menjadi misteri abadiMu.

Terima kasih Sang Kuasa, Pencipta langit & bumi.

23 Desember 2015, Mengenang kepergian & kedatangan.
23 Desember 2017, Mengenang anugerah & karunia.

Panjang bahagianya serta mulia…
Christine Listya Sedayu

Panjang syukurnya serta mulia…
Eleonora Thalia Sedayu

#2TahunKepulanganTya
#2TahunKelahiranThalia

Written by Admin

December 24, 2017 at 3:56 am

Agar Menjadi Tubuh Kota | My Personal Book Project : Bandung From Spaces To Places

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Manusia dimana pun akan selalu membutuhkan ruang. Tak terkecuali warga yang menghuni sebuah kota. Baik secara komunal maupun individual, mereka mendambakan ruang yang menjadi tempat untuk berpijak dan menciptakan peradaban. Ruang yang kemudian digunakan untuk berkoloni, berinteraksi dan berekspresi agar mereka tetap dapat menggerakkan sebuah kota. Bandung adalah contoh nyata sebuah kota yang selalu bergerak. Dengan menyandang predikat sebagai kota kreatif, tentunya Bandung memiliki banyak ruang publik yang sangat inspiratif. Dari mulai bangunan bersejarah beserta jalan-jalan kotanya, hutan, taman, kampung beserta lapangan dan sungainya yang menggenapkan keutuhan sebuah kota. Coba kita simak sedikit cerita, fakta dan pandangan perihal ruang-ruang publik yang ada di Kota Bandung tersebut.

Sebuah kota tanpa bangunan bersejarah ibarat tubuh manusia tanpa kepala & ingatannya”

Karenanya tatkala sekelompok manusia yang congkak dan dungu berlomba untuk merubuhkan bangunan-bangunan bersejarah kotanya hanya demi uang, maka aksi perlawanan terhadap mereka pun sudah semestinya muncul. Wajar saja memang karena gerakan yang ingin menyelamatkan gedung-gedung tua itu mesti terus selamanya didukung agar kota yang kita huni tetap menjadi waras. Salah satu yang menjadi magnet bagi Kota Bandung adalah keberadaan gedung-gedung tua yang tak kunjung henti selalu mempesona mata manusia. Gedung-gedung tua yang menawan tersebut tersebar di berbagai kawasan Kota Bandung. Dalam buku “100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung” yang disusun & diterbitkan oleh Harastoeti DH pada tahun 2011, gedung-gedung tua tersebut dibagi ke dalam kawasan pusat kota, kawasan pecinan/perdagangan, kawasan pertahanan & keamanan/militer, kawasan etnik sunda, kawasan perumahan villa & non-villa serta kawasan industri. Sesungguhnya saat ini perlu adanya upaya-upaya aktif warga untuk kembali menghidupkan bangunan-bangunan tua & bersejarah di Kota Bandung yang telah lama terbengkalai. Untuk kemudian memperkenalkannya kepada anak-anak kita supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian. Supaya anak-anak yang lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka. Supaya mereka menaruh kepercayaan kepada setiap kotanya dan dengan teguh melestarikannya. Karenanya kita perlu menyadari bahwa cinta tidak bisa diberitakan di dalam kubur bangunan tua sebuah kota. Ia akan hidup ketika seluruh warga dapat dengan bebas mengunjungi dan menaruh harapan-harapannya pada gedung-gedung tua sebuah kota. Hingga Kota Bandung akan ada untuk selama-lamanya dan takhtanya seperti matahari & bulan di depan mata, sebagai saksi yang setia di awan-awan.

Sebuah kota tanpa hutan ibarat tubuh manusia tanpa jantung & paru-parunya”

Kawasan Babakan Siliwangi (Lebak Siliwangi) yang terletak di bagian utara kota Bandung tepatnya di jalan Babakan Siliwangi (tembusan jalan Tamansari melewati jalan Ganesha) adalah hutan kota satu-satunya yang masih tersisa di kota ini. Bila kita berbicara perihal hutan kota Babakan Siliwangi, beberapa fakta pun hadir secara nyata di sana. Di masa lalu, terdapat dua belas mata air di kawasan hutan kota Babakan Siliwangi, dimana kini hanya tersisa satu mata air saja. Di kawasan hutan kota ini terjadi pula penurunan permukaaan air tanah, dari 22,99 meter menjadi 14,35 meter (data tahun 1999). Bila lahan hutan kota ini menghilang, akan menyebabkan semakin menurunnya permukaan air tanah karena berkurangnya lahan resapan. Fakta yang lain berbicara bahwasanya hutan kota Babakan Siliwangi merupakan habitat bagi 120 jenis tumbuhan dan 149 jenis hewan serta merupakan tempat singgah bagi enam jenis burung migrasi. Bila kawasan hutan kota ini menghilang, maka jalur migrasi burung-burung ini akan terpotong. Pepohonan yang tumbuh di kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi antara lain adalah Pohon Cola (Cola nitida) dan Pohon Sempur (Dillenia Indica L.), dan Pohon Flamboyan (Delonix Regia) yang paling dominan tumbuh di sana. Tumbuhan yang ada di kawasan hutan kota ini berfungsi sebagai penyaring polusi dan suara. Siapa pun warga yang berada di tengah hutan kota ini, dapat merasakan ketenangan, meskipun jaraknya sangat dekat ke jalan raya yang ramai. Luas kanopi dari pepohonan yang tumbuh di lahan hutan kota ini mencapai hingga 5 Hektar, sementara luas dari Babakan Siliwangi adalah 3,8 Hektar. Tutupan kanopi ini merupakan peneduh, dan sebenarnya dapat menjadi pengurang stress pada manusia yang berada di sekitarnya, karena pepohonan ini menghasilkan udara yang kaya dengan oksigen. Fungsi pepohonan di hutan kota dunia Babakan Siliwangi adalah sebagai penyerap CO2 terhitung hingga 13.680 Kg per hari, sementara melepaskan pula O2 sebesar 9.120 Kg per harinya. Bila harga O2 murni mencapai Rp.25.000,- per liter, maka nilai ekonomis dari hutan kota Babakan Siliwangi mencapai Rp.148.000.000,-. Dari perhitungan ini, dapat diperkirakan bahwa bila kawasan hutan kota Babakan Siliwangi berkurang bahkan hingga 20%-nya saja, maka kerugian Kota Bandung dapat mencapai 10 Milyar Rupiah.

Kemudian sudah sejak lama sebenarnya warga Kota Bandung berjuang demi menyelamatkan Hutan Babakan Siliwangi dari sekelompok pengusaha yang akan menjadikannya sebagai ruang komersil. Berbagai upaya warga pun telah dikerahkan demi mengembalikan pengelolaan hutan kota tersebut dari pihak swasta ke pihak pemerintah dan warga Bandung. Dari mulai aktivasi ruang publik hutan yang dilakukan oleh jejaring komunitas hingga deklarasi Hutan Babakan Siliwangi menjadi Hutan Kota Dunia (World City Forest) yang telah disepakati bersama antara United Nations Environment Programme (UNEP) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia dan Pemerintah Kota Bandung. Dan di tahun ini kabar gembira pun datang menjemput dimana Hutan Kota Dunia Babakan Siliwangi telah dikembalikan pengelolaannya sehingga kembali menjadi milik warga Kota Bandung. Namun demikian, fakta penting yang memiliki nilai bagi Kota Bandung sesungguhnya adalah bagaimana sebenarnya hutan kota dunia Babakan Siliwangi ini menjadi sebuah tempat untuk membangun hubungan manusia dengan alam seutuhnya. Maka dari itu sudah sepatutnya warga Kota Bandung mengucap syukur atas pemberian Sang Semesta dengan sekian banyak kelimpahan yang dimiliki oleh hutan kota dunia Babakan Siliwangi. Karenanya kabarkanlah keselamatan hutan kota ini dari hari ke hari, ceritakanlah kemuliannya kepada semua orang dan bersatulah untuk terus menjaganya dari keserakahan para penguasa yang bodoh. Sebab keagungan dan semarak selalu ada di dalamnya. Sebab kekuatan dan kehormatan ada di tempatnya yang tersembunyi. Sebab anak cucu kita perlu diajari dan merasakan rindangnya hutan.

Sebuah kota tanpa taman ibarat tubuh manusia tanpa hati & sanubarinya”

Bandung juga merupakan sebuah kota yang memiliki begitu banyak taman. Bahkan julukan Bandung sebagai “Parijs van Java” konon didapat karena taman-taman yang dimiliki kota ini sangat menyerupai Kota Paris. Bila kita melihat sejarahnya, taman kota yang lahir pertama kali di kota Bandung adalah “Pieters Park” yang dibangun pada tahun 1885 oleh Meneer R.Teuscher. Kala itu untuk menjaga kesuburan dan kelembaban tanah di sekitar “Pieters Park”, maka dibangunlah sebuah kanal yang memanjang di tepi utara taman. Air yang mengalir pada saluran kanal tersebut bersumber dari sungai cikapayang. Kemudian air dari cikapayang tersebut dialirkan menuju 4 buah taman di kota Bandung yaitu Ijzerman Park (Taman Ganesa), Pieters Park (Taman Merdeka), Molukken Park (Taman Maluku) dan Insulide Park (Taman Nusantara). Saat ini nama “Pieters Park” berubah menjadi Taman Merdeka dengan ciri khas patung badak putih yang menghuni taman kota tersebut. Menurut data dari Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung, ada sekitar 604 buah Taman di Kota Bandung dan baru sekitar 40% yang bisa dikelola oleh pemerintah. Tak heran memang bila saat ini kita masih melihat begitu banyak taman kota yang menganggur. Bila malam datang, taman-taman itu kerap melahirkan citra negatif seperti gelap, rawan, tempat maksiat, dan lain sebagainya. Untuk itulah semestinya kita hadir di sini bukan untuk mengeluh. Warga kota Bandung sudah semestinya menyikapi masalah ini dan turut mengambil peran demi keberlangsungan taman kota yang semakin terabaikan ini. Sesungguhnya taman-taman kota itu sama seperti kita manusia. Ia tak mau kesepian di tengah panas teriknya sinar mentari. Ia tak mau sendirian di dalam gelap malam & dinginnya sinar rembulan. Ia tak mau meratap sedih dengan kertak gigi yang ketakutan. Karena baginya cinta kita semua adalah lampu taman yang abadi. Demikianlah hendaknya kita sebagai warga mesti selalu mau membuka mata sebagai pelita tubuh demi menjaga dan merawat taman-taman kota yang ada. Setiap pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Begitu pula setiap taman yang dirawat dengan penuh kasih akan menciptakan kota yang bahagia. Celakalah kota Bandung ini bila para warganya tidak mau peduli terhadap tamannya sendiri. Karenanya tatkala taman kota meniup seruling bagi kita, hendaknyalah kita menari. Dan taman-taman itulah yang sesungguhnya menjadi ruang masa depan bagi anak cucu kita nanti.

Sebuah kota tanpa kampung ibarat tubuh manusia tanpa jiwa & raganya”

Pemantik semangat perubahan kota itu sesungguhnya tidak hanya datang dari otak-otak masyarakat kreatif yang tinggal di pusat kota saja. Himpunan Kampung Urban yang biasanya terpinggirkan dan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, ternyata dapat menjadi sebuah pusat energi kreatif pula yang membentuk peradaban kota. Kampung pun dapat menjadi ruang publik yang eksotis. Meski kadang kelompok kampung ini terpaksa hidup terhimpit oleh tembok arogansi yang mengatasnamakan pembangunan kota. Mereka inilah sebenarnya yang diharapkan mampu untuk melawan segala superioritas dan rasa kecongkakan sekelompok orang/pengusaha yang berfikiran dangkal yang hanya memikirkan bagaimana menciptakan sejumlah ruang komersil di sebuah kota. Keberadaan Kampung Kota adalah sebentuk kesadaran kolektif yang menawarkan sebuah pemikiran sekaligus getaran emosional bagi masyarakat kota dimanapun. Bahwa nun di kaki langit urban sebuah kota, masih ada dimensi lain yang merindukan keintiman di sana serta masih ada artefak peradaban yang merindukan sebuah perubahan. Karena sesungguhnya persoalan yang ingin mereka komentari adalah sebentuk masa depan yang terhalang. Masa depan sebuah kampung yang mungkin tertutup oleh tembok, debu & suara bising pembangunan. Serta ketidak adilan bagi mereka yang hendak membungkam suara-suara protes warga. Walaubagaimanapun hari esok dan keberlangsungan Kampung Kota hanya ada pada upaya keras yang diperlihatkan oleh warganya. Juga solidaritas dan empati dari komunitas kotanya. Dan tentunya kemauan baik serta tindakan nyata dari pemerintahnya. Dalam kekuatan itulah semestinya kita percaya.

Sebuah kota tanpa sungai ibarat tubuh manusia tanpa darah & nadinya”

Sungai merupakan salah satu ruang publik kota yang memiliki pesona & keindahan menawan bila dikelola dengan baik. Karena di sanalah kita dapat mensyukuri bahwasanya air sungai yang mengalir jauh tersebut dapat memiliki sejumlah fungsi bagi warga sebuah kota. Dari mulai drainase, penggelontor kotoran limbah, obyek wisata, penyedia air baku, pemanfaatan energi air serta sarana irigasi pertanian. Namun sayang bahwa keberadaan Sungai di Kota Bandung malahan kerap menghamilkan bencana dan melahirkan musibah bagi warganya. Terutama ketika musim penghujan tiba. Luapan air dari sungai-sungai yang membelah Kota Bandung justru membawa teror banjir bagi warganya. Belum lagi genangan sampah yang dibawa serta oleh air sungai tersebut. Tentunya kita tidak bisa serta merta menyalahkan alam dalam hal bencana tersebut. Karena ironisnya, banjir itu timbul justru akibat ulah kita sendiri. Entah itu karena warga yang kerap membuang sampah ke sungai ataupun karena penebangan pohon secara membabi buta sehingga menghilangkan daerah resapan air. Menurut data, ada sekitar 61 sungai dan 46 anak sungai dengan total panjang 252,55 km yang terdapat di Kota Bandung. Bila kita menyebut nama sungai di Kota Bandung, tentunya nama sungai Cikapundung tidak bisa dilupakan dalam memori kita. Sungai Cikapundung adalah salah satu sungai besar yang membelah Kota Bandung dengan panjang sekitar 15,5 km. Sungai Cikapundung memiliki luas daerah tangkapan di bagian hulu sebesar 111,3 Km2, di bagian tengah seluas 90,4 Km dan di bagian hilir seluas 76,5 Km2. Sedangkan panjang sungai Cikapundung dari hulu Maribaya sampai hilir Citarum mencapai 28 km. Untuk itulah perlu ada upaya untuk menjaga dan mengaktivasi sungai-sungai yang ada di Kota Bandung dengan melibatkan kekuatan kreatif warganya. Tentunya kita tidak bisa melakukan hal itu semua sekaligus. Hanya dengan metoda seperti akupuntur lah, secara realistis dapat kita lakukan terhadap sungai-sungai yang kita miliki saat ini. Semestinya upaya untuk mengaktivasi sungai kota tersebut mesti sejalan dengan upaya untuk menjaga kebersihan sungai. Sungai yang bersih dan jernih sesungguhnya adalah ruang dan tempat kita bercermin. Dan harapannya cermin dari air sungai itu merefleksikan tawa, canda dan keceriaan warga kota ketika mengunjungi sungainya. Siapakah yang akan mendengar jikalau sungai berteriak karena kering atau banjir serta alur alirannya menangis bersama-sama karena kotoran sampah? Karena tentunya kita pun tak ingin air sungai naik sampai ke leher dan kita tenggelam ke dalam sungai yang penuh lumpur. Oleh karena itu bila kita ingin berbuat sesuatu, mulailah keluar dari rumah dan datanglah ke sungai. Kenalilah sungai-sungai yang ada di kotamu dengan melihat dan menyentuhnya. Niscaya setelah itu rasa sayang akan muncul sebagaimana kisah cinta anak manusia. Dan kemudian rasa sayang itu lah yang akan membuat kita untuk melahirkan sikap peduli dan menjaga sungai. Sehingga pada akhirnya kita akan melihat sungai-sungai yang diserbu oleh para warganya. Yang menanti untuk dihamili oleh sebuah budaya baru. 

Untuk itulah melalui buku foto ini, berbagai cuplikan imaji perihal sebagian ruang publik dan aktivasi yang dilakukan oleh warga Kota Bandung dicatat kembali secara visual. Sekaligus menawarkan harapan di sana agar dapat menjadi awal bagi kita untuk mulai menciptakan sebuah budaya perubahan yang dilakukan di ruang publik. Sekiranya masih ada warga yang mau keluar rumah untuk melihat dan menyentuh ruang-ruang kotanya, maka di sanalah terdapat kota yang bahagia. Kota Bandung menganugerahkan sejumlah energi dan kekuatan sosial melalui komunitas yang dimilikinya. Hal ini mengajarkan bahwasanya kita tidak bisa sendirian untuk membangun ruang publik yang nyaman dan bernilai bagi Kota Bandung. Langkah laku manusia selalu terbentang dan terbuka lebar di Kota Bandung. Warga Bandung yang memilih hidup untuk selama-lamanya harus mau menciptakan segala-galanya bersama-sama. Karena Bandung Kita adalah segala pikiran kita yang menjadi tindakan kita.

bdg from spaces to places_gs

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

December 21, 2017 at 2:10 am

Mata Warga : Kolaborasi & Blusukan Fotografi Warga Kampung

leave a comment »

Teks : galih sedayu
Foto : Air Foto Network [AFN]

Bila kita menganalogikan Kota Bandung sebagai sebuah pohon yang besar, maka akar-akar pohon yang dimilikinya dapat diumpamakan sebagai himpunan Kampung Kota yang tentunya bertugas menopang batang pohon tersebut agar tetap berdiri tegak dan memastikan daunnya tumbuh dengan baik. Oleh karenanya, kampung dan kota itu sejatinya selalu hidup bersama, tak ada yang lebih unggul, tak ada yang lebih diutamakan, tak ada yang lebih dinomor satukan. Namun pada praktiknya, khususnya dalam konteks pembangunan sebuah kota, terkadang perhatian terhadap ruang kampung seolah-olah menjadi seperti anak tiri, sehingga kerap jarang tersentuh serta cenderung diabaikan. Untuk itulah keroyokan program-program kreatif yang mengangkat isu perihal keberadaan kampung atau wilayah kecil di sebuah kota, perlu dihadirkan agar azas pemerataan pembangunan dapat terwujud.

Berita baiknya, saat ini mulai hadir program-program yang bersinggungan dengan kampung di Kota Bandung. Salah satunya adalah program Kampung Kreatif yang diinisiasi oleh komunitas / warga Bandung berkolaborasi dengan pihak pemerintah, pihak akademisi, pihak bisnis dan pihak media. Sinergitas “Penta Helix” inilah yang diharapkan mampu mendobrak ketiadaan konektivitas antar warga dalam membangun kotanya. Program Kampung Kreatif ini sesungguhnya merupakan gagasan universal, sehingga rasanya tidak perlu lagi diperdebatkan dengan mempertanyakan kembali, siapakah yang pertama kali melahirkan program ini ataupun siapakah yang berhak menjalankan program ini. Selama tujuannya baik, rasanya siapapun dapat melakukannya bagi Kota Bandung.

Seiring dengan waktu berjalan, sadar atau tidak, Kampung Kreatif ini ibarat menjadi lokomotif bagi program kreatif yang lain. Letupan-letupan kecil yang disuarakan ke dalam bentuk program demi merespon ruang kampung ini pun menjadi gerbong-gerbongnya. Namun rel ataupun jalurnya tetap sama serta memiliki tujuan yang sama pula. Salah satunya adalah program “Mata Warga”. Program yang diinisiasi oleh Bandung Creative City Forum {BCCF}, Air Foto Network {AFN}, Komite Ekonomi Kreatif Kota Bandung, dan Karang Taruna Kota Bandung ini merupakan sebuah program kolaborasi warga melalui fotografi. Dimana program Mata Warga ini menggunakan sebuah metodologi atau cara yang melibatkan komunitas / warga kampung secara aktif melalui media fotografi, dengan tujuan untuk melakukan perubahan sosial terhadap lingkungan sekitarnya secara kreatif. Di dunia fotografi, program ini biasa dikenal dengan sebutan “Participatory Photo Project”.

Karena salah satu fitrah disiplin dalam ilmu maupun bidang apapun adalah kebermanfaatannya bagi masyarakat, maka fotografi pun dipilih sebagai jembatan penghubung komunikasi warga kampung tersebut. Proses program Mata Warga ini dimulai dengan (1) Pelatihan dasar memotret bagi warga kampung ; (2) Diskusi untuk mengumpulkan data & analisa sederhana mengenai lingkungan sekitar ; (3) Melibatkan komunitas & persiapan pemotretan ; (4) Memotret sebuah isu yang ada di lingkungan sekitar ; (5) Presentasi karya foto hasil warga ; (6) Kurasi foto & pembuatan buku ; yang pada akhirnya diharapkan muncul proses diseminasi & perubahan sosial dari warganya. Tujuan program Mata Warga ini adalah membantu warga kampung untuk merekam dan merefleksikan potensi kampung serta menghadirkan perhatian komunitas terhadap lingkungannya ; Menyampaikan pengetahuan yang baik sekaligus kritik yang membangun perihal isu lingkungan melalui diskusi fotografi ; serta Menyentuh dan menjangkau pembuat kebijakan (dalam hal ini adalah pemerintah).

Lima (5) Kampung yang terdapat di Kecamatan Cijawura, Kecamatan Arcamanik, Kecamatan Lengkong, Kecamatan Batununggal, dan Kecamatan Kiaracondong di Kota Bandung, menjadi titik-titik akupuntur yang disasar melalui program Mata Warga ini. Pelatihan foto warga kampung dalam program Mata Warga pertama kali dimulai pada tanggal 27 Oktober 2016 di Kecamatan Cijawura, yang kedua digelar pada tanggal 10 Juni 2017 di Kecamatan Arcamanik, yang ketiga digelar pada tanggal 11 Juni 2017 di Kecamatan Lengkong, yang keempat digelar pada tanggal 15 Juli 2017 di Kecamatan Batununggal, dan yang kelima (terakhir) digelar pada tanggal 22 Juli 2017 di Kecamatan Kiaracondong. Program ini dibantu pula oleh sejumlah relawan yang menjadi pengajar dan fasilitator warga kampung tersebut. Para relawan tersebut adalah Alfian Widiantono, galih sedayu, Ruli Suryono & Sudarmanto Edris yang bertindak sebagai relawan pengajar fotografi, serta Agung Yunia, Kandi Sekar Wulan, Pandu Putra Pranawa & Shinta S Putri yang bertindak sebagai relawan fasilitator.

Banyak fakta, tempat & peristiwa menarik yang didapat dari masing-masing wilayah tersebut. Misalnya saja kue ondel-ondel yang sangat enak bisa kita rasakan di wilayah kampung Kecamatan Cijaura ; Jurig Walungan atau pasukan pembersih sampah sungai bisa kita temukan di wilayah kampung Kecamatan Arcamanik, Gang Ronghok yakni sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh seorang saja bisa kita alami di wilayah kampung Kecamatan Lengkong, Lomba ketangkasan burung merpati bisa kita saksikan di wilayah kampung Kecamatan Batununggal ; Wahana permainan anak yang dikemas seperti pasar malam di samping tempat pembuangan sampah bisa kita lihat di wilayah kampung Kecamatan Kiaracondong. Belum lagi puluhan cerita warga yang membuat kita terpesona bak menyimak sebuah dongeng yang dituturkan oleh seorang kakek kepada cucunya.

Sebagai bentuk pertanggung-jawaban moral kepada Kota Bandung, maka seluruh cuplikan mata yang telah menjadi imaji hasil karya warga kampung tersebut, kami persembahkan ke dalam sebuah jejak literasi berupa buku. Buku ini kiranya dapat menjadi sumber ingatan & pengetahuan abadi, agar kelak setiap warga dapat selalu memberikan yang terbaik bagi kampungnya masing-masing. Sehingga perubahan sosial dapat terus dilakukan demi mengurai berbagai permasalahan yang ada dengan mengacu kepada informasi & gambar yang terekam dalam buku tersebut. Meski fotografi tak kan dapat mengubah sebuah kota, namun sesungguhnya fotografi dapat mengubah cara kita melihat sebuah kota. Dan itu semua dapat dimulai dari mata kita masing-masing. Karena dari mata, kemudian turun ke hati dan kemudian lahir menjadi empati.

Bandung, 7 Desember 2017

***

Text : galih sedayu
Photography : Air Foto Network [AFN]

If we analyze the city of Bandung as a big tree, then the roots of the tree can be likened to the set of Kampong / Village which certainly in charge of supporting the tree trunk to remain standing upright and ensure the leaves grow well. Therefore, the kampong and the city are actually always living together, no one is superior, no one takes precedence, no one is more united. But in practice, especially in the context of the development of a city, sometimes the attention to the kampong space seems to be like a stepchild, so it is often rarely touched and tends to be ignored. For that reason the creative programs that raise the issue of the existence of a kampong or a small area in a city, need to be presented so that the principle of even distribution of development can be realized.

The good news, currently starting to present programs that intersect with Kampong in the city of Bandung. One of them is the “Creative Kampong” program initiated by the community / citizens of Bandung in collaboration with the government, the academics, the business side and the media. This “Penta Helix” Synergy is expected to break the lack of connectivity between citizens in building the city. This Creative Kampong program is actually a universal idea, so it does not need to be debated anymore by questioning who was the first to give birth to this program or who is eligible to run this program. As long as the goal is good, it feels anyone can do it for the city of Bandung.

Along with running time, consciously or not, Creative Kampong is like a locomotive for other creative programs. Small explosions voiced into the form of a program to respond to this kampong space became his carriages. But the rail or track remains the same and has the same goal. One is the “Mata Warga / Citizen Eye” program. Program that initiated by Bandung Creative City Forum {BCCF}, Air Foto Network {AFN}, and Bandung Creative Economy Committee is a citizen collaboration program through photography. Where this Program uses a methodology or a way that involves the community / villagers actively through the media of photography, with the aim to make social changes to the surrounding environment creatively. In the world of photography, this program is commonly known as “Participatory Photo Project”.

Because one of the nature of discipline in science and any field is its usefulness for the community, then photography was chosen as a bridge connecting communications residents of the village. This Mata Warga program process begins with (1) basic training of photographing for the villagers ; (2) Discussion to collect simple data & analysis on the surrounding environment ; (3) Involving community & photographing preparation; (4) Taking pictures of an existing issue in the neighborhood ; (5) Presentation of photographs of residents’ results ; (6) Curation photo & book making ; which in turn is expected to appear dissemination process & social change from its citizens. The objective of this program is to help villagers to record and reflect the potential of the village and to bring the community’s attention to the environment ; Convey good knowledge as well as constructive criticism of environmental issues through photography discussions; and Touch and reach policy makers (in this case is government).

Five (5) Kampong in Cijawura District, Arcamanik District, Lengkong District, Batununggal District, and Kiaracondong District in Bandung City, become acupuncture points targeted through Mata Warga program. Photo training of the villagers in the Mata Mata program was first started on 27 October 2016 in Cijawura District, the second was held on 10 June 2017 in Arcamanik District, the third was held on 11 June 2017 in Lengkong District , the fourth was held on the 15th July 2017 in Batununggal District, and the fifth (last) was held on July 22, 2017 in Kiaracondon District. This program is also assisted by a number of volunteers who became teachers and facilitators of the villagers. The volunteers are Alfian Widiantono, galih sedayu, Ruli Suryono & Sudarmanto Edris who acts as volunteer of photography lecturer, and Agung Yunia, Kandi Sekar Wulan, Pandu Putra Pranawa & Shinta S Putri who act as volunteer facilitators.

Many interesting facts, places and events gained from each of these areas. For example, Delicious ondel-ondel cakes that we can feel in the Cijawura Kampong area ; Jurig Walungan or river rubbish cleaning troops can be found in the Arcamanik Kampong area : Gang Ronghok a narrow alley that can only be passed by a person we can experience in the Lengkong Kampong Area, pigeon dexterity race that we can see in the Batununggal Kampong area ; Children’s games are packed like a night market next to a landfill that we can see in the Kiaracondong Kampong area. Not to mention dozens of stories of citizens who make us fascinated like listening to a fairy tale told by a grandfather to his grandson.

As a form of moral responsibility to the city of Bandung, then the entire footage of the eye that has become the image of the work of the villagers, we dedicate into a literacy trail of books. This book may be a source of lasting memory & knowledge, so that every citizen can always give the best for his or her own village. So that social change can continue to be done in order to parse various existing problems with reference to information & images recorded in the book. Although photography can not change a city, photography can actually change the way we see a city. And it can all start from our own eyes. Because from the eye, then down to the heart and then born into empathy.

Bandung, December 7, 2017

* Mata Warga Kecamatan Cijawura

06

08

15

12

13

22

18

24

* Mata Warga Kecamatan Arcamanik

DSCF3346

DSCF3374

DSCF3364

DSCF3388

DSCF3423

DSCF3437

DSCF3366

* Mata Warga Kecamatan Lengkong

DSCF3508

DSCF3522

DSCF3534

DSCF3538

DSCF3537

DSCF3550

DSCF3526

* Mata Warga Kecamatan Batununggal

DSCF4445

DSCF4479

DSCF4500

DSCF4506

DSCF4492

* Mata Warga Kecamatan Kiaracondong

DSCF4668

DSCF4701

DSCF4883

DSCF4910

DSCF4899

DSCF4985

DSCF4730

Copyright (c) by galih sedayu & AFN
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer & AFN.