I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Mencambuk Buai Eksotisme Desa Liang Ndara

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu

Gagasan kebudayaan yang berisi norma-norma luhur untuk mengatur kehidupan manusia dalam sekelompok masyarakat, diwariskan secara turun-menurun ke dalam sebuah adat.  Adat pun menciptakan masyarakat dan ruangnya tersendiri yang kerap disebut sebagai desa adat. Seperti Liang Dara. Inilah nama desa adat yang terletak di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur. Desa adat ini jaraknya sekitar 20 km dari Kota Labuan Bajo. Adalah Kristoforus Nilson, Ketua Lembaga Budaya desa adat Liang Ndara yang mendirikan kawasan ekowisata ini. Awalnya bersama warga Kampung Cecer, ia mendirikan sebuah sanggar budaya pada tahun 2010 dan kemudian dilanjutkan membangun sebuah kampung wisata yang hingga kini terkenal dengan sebutan Liang Ndara.

Sejauh mata memandang, desa adat Liang Ndara merupakan kawasan hijau nan tradisional dengan udara yang sejuk dan menyegarkan. Apalagi tatkala kabut datang, menambah suasana magis yang sangat menenangkan hati. Sesampainya di sana, kita akan disambut oleh kepala desa adat beserta masyarakatnya yang ramah sembari dikalungi selendang tenun khas daerah Manggarai Barat. Setelah itu kita akan dibawa masuk menuju rumah adat yang terbuat dari kayu dan beratap jerami. Di dalam rumah tersebut kita akan menjumpai para tetua adat yang dengan hangat menyapa dan bercerita dengan menggunakan bahasa Manggarai. Setelah itu ketua desa adat menyerahkan sejumlah uang sebagai simbol perkenalan yang harus kita terima dan kita pun diwajibkan untuk memberikan sejumlah uang kembali secara ikhlas. Perjamuan dilanjutkan dengan makan buah pinang bersama. Buah pinang yang telah selesai dikunyah kemudian disimpan ke dalam sebuah wadah dari bahan bambu. Di akhir perjamuan ditutup dengan mencicipi minuman adat berupa tuak bernama sopi yang disuguhkan di dalam cawan terbuat dari bahan kelapa. Ritual dan tradisi penyambutan dengan minum tuak secara bersama-sama ini disebut Reis. Usai acara perjamuan dari rumah adat, kita akan diajak bergabung di area teras rumah untuk menyaksikan berbagai suguhan tarian adat yang memiliki filosofi berdampingan dengan tata cara hidup masyarakat desa adat Liang Ndara. Dari mulai tarian sirih pinang atau reis meka, tarian caci, akumawo, rangkuk alu hingga tarian sanda. Para penampil himpunan tarian tersebut dilakukan secara berkelompok oleh wanita dan pria warga desa adat secara bergantian.

Diantara berbagai suguhan tarian tersebut, yang sangat menarik perhatian adalah tarian caci. Tarian caci merupakan adu ketangkasan yang dilakukan oleh dua orang pemuda dengan menggunakan cambuk yang dipasang kulit kerbau tipis dan perisai dari kayu, dimana masing-masing akan mencambuk dan menangkis secara bergantian. Nama “Caci” yang digunakan sebagai tarian ini memiliki arti ujian satu lawan satu, yaitu “Ca” yang berarti satu dan “Ci” yang berarti uji. Kostum yang digunakan para penari ini terdiri dari 1) Panggal yang terletak pada bagian kepala, terbuat dari kulit kerbau, dilapisi kain khas adat Manggarai bermotif renda, berbentuk persegi empat, bagian atasnya menyerupai tanduk kerbau yang berhiaskan bulu ekor kambing ; 2) Nggorong atau giring-giring yang terbuat dari logam dan diikatkan pada pinggang pemain untuk menambah kegagahan para pemain karena suaranya yang berbunyi pada saat pemain bergerak ; 3) Lipa Songke atau kain songke Lipa berupa kain sarung berwarna hitam bersulam khas Manggarai (menggunakan benang yang disisipkan di tengah kain tenunan) yang dipakai hanya sebatas lutut dengan kombinasi warna-warni minim yang disebut lipa laco dan kombinasi sulaman yang disebut dengan Jok ; 4) Tubi Rapa berupa perhiasan manik-manik yang digunakan pada wajah bersamaan dengan Destar (pakaian adat laki-laki yang hampir mirip dengan sapu, dipakai dengan cara dililitkan pada kepala dan berfungsi sebagai pelindung wajah) ; 5) Selendang yang diikatkan di pinggang dan merupakan kain tenunan khas Manggarai ; 6) Ndeki yang merupakan aksesoris terbuat dari bulu ekor kambing dan berfungsi sebagai pelindung punggung serta melambangkan kejantanan. Pertunjukan tari Caci dibuka dengan tarian Danding atau Tandak Manggarai. Sebelum beradu, setiap penari pria terlebih dahulu melakukan gerakan pemanasan otot sambil menggerakan badannya bak gerakan kuda. Dengan destar atau ikat kepala dan sarung songket, para pemuda berjejer menari dan menyanyikan lagu daerah yang dinyanyikan dengan lantang untuk menantang lawannya. Dengan lincah dan gemulai penyerang menghentakkan pecutnya ke tubuh lawan sambil melompat tinggi, yang kemudian akan ditahan oleh lawannya dengan menggunakan perisai. Setiap pemain beresiko memiliki bekas sabetan, tapi meski begitu tidak ada dendam antar pemain. Seluruh tarian ini diiringi oleh alunan musik yang wajib dimainkan oleh para wanita masyarakat adat Liang Ndara sebagai simbol kelembutan.

Secara keseluruhan tarian caci merupakan kolaborasi unik antara keindahan gerak tubuh dan pakaian yang digunakan penari (Lomes), Seni Vokal (Bokak), dan ketangkasan mencambuk dan menangkis (Lime). Tarian ini menjadi bentuk ekspresi suka cita masyarakat adat Liang Ndara saat upacara perkawinan (tae kawing) serta acara syukuran (panti) baik itu syukuran menyambut tahun baru, syukuran membuka ladang, syukuran hasil panen, atau syukuran menerima tamu kehormatan. Namun sesungguhnya, makna yang lebih mendalam dari itu semua adalah bahwa tarian ini memiliki filosofi kontemplasi diri serta membawa simbol pertobatan manusia dalam hidup. Untuk itu marilah kita berbagi suka cita dengan berkunjung ke desa adat Liang Ndara yang ada di Kota Labuan Bajo. Menari dan bersorak sorailah bersama masyarakatnya karena kabut yang kelam akan lenyap dan surya yang redup akan kembali bersinar. Lambungkan segala pujian dan syukur bersama mereka agar kita senantiasa belajar perihal memperbaiki kesalahan diri dalam kehidupan sehingga hari esok akan lebih baik dari hari kemarin.

Desa Adat Liang Ndara, Labuan Bajo, Flores, NTT – 27 Mei 2022

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Museum Kehidupan Samsara: Ruang Keseimbangan Alam, Manusia & Semesta

leave a comment »

Teks & Foto: galih sedayu

Bagaikan masuk ke sebuah dimensi lain di bumi. Itulah yang saya rasakan ketika pertama kalinya menempatkan hati di kawasan Museum Kehidupan Samsara yang lokasinya berada dekat dengan Gunung Agung, tepatnya di Banjar Yeh Bunga, Desa Jungutan, Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali. Gapura yang terbuat dari bebatuan alami dengan atap dari alang-alang menjadi pesona pertama yang menjadi pintu utama untuk memasuki kawasan ini. Sapaan hangat dari para penerima tamu perempuan dan laki-laki yang mengenakan busana adat bali seraya mengucap kata “Om Swastiastu” pun menjadi awal perkenalan hati. Kemudian dilajutkan dengan ritual mengenakan selendang yang diikat di pinggang (kamben) serta membasuh tangan dengan mengambil air yang disimpan di sebuah gentong dan menggunakan gayung tradisional yang terbuat dari batok kelapa. Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara kayu beradu. Sambil menyusuri jalan setapak, tampak terlihat sekelompok ibu-ibu yang sedang menggunakan alat penumbuk padi dari kayu (alu dan lesung) di depan sebuah gubuk kayu sederhana. Benturan alu dan lesung tersebut menciptakan bunyi irama yang harmonis dan terdengar merdu di tengah suasana alam hijau yang banyak dikelilingi oleh pohon kelapa. Sungguh semua momen itu menjadi suguhan pembuka yang sangat berkesan di hati.

Di dalam kawasan Museum Kehidupan Samsara, terdapat sebuah ruang yang berisi adegan siklus hidup manusia di Bali berupa 14 rentetan upacara Hindu disajikan dalam bentuk foto, deskripsi, beserta peralatannya. Dimulai dari berbagai nilai serta tradisi yang melekat sejak bayi berada di dalam kandungan, kemudian lahir ke dunia, hidup dan mati bahkan hingga menyatu dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa hingga tercapainya kesempurnaan. Di ruang ini, siklus hidup manusia direkonstruksi ulang dalam bingkai ritual, pemaknaan simbol serta narasi kearifan lokal yang dapat menjadi pengetahuan dan pengalaman tersendiri. Sebentuk cerita perihal tahapan kehidupan yang ditandai dengan berbagai upacara dan ritual tradisional yang mengarah pada keyakinan akan tugas hidup sebagai manusia dalam kelahiran berulang menuju nirvana. Sistem pohon keluarga yang dianut oleh masyarakat bali pun dapat dilihat dan dibaca di ruang ini. Di sanalah kita bisa mengetahui bahwasanya pemilik Museum Kehidupan Samsara ini masih satu garis keturunan dengan Mpu Tantular, pencipta Kitab Sutasoma.

Aktivitas keseharian masyarakat pun menjadi bagian yang menyatu di dalamnya sehingga pengalaman mata & hati kita menjadi utuh tatkala kita hadir dalam kesadaran penuh di ruang ini. Dari mulai pembuatan arak secara tradisional, hingga memasak makanan tradisional. Salah satu pendiri Museum Kehidupan Samsara  ini adalah Ida Bagus Agung Gunarthawa. Beliau adalah seorang sahabat baik dan saat ini kami bersama-sama di Indonesia Creative Cities Network (ICCN). Menurut Gus Agung, bingkai kata “Museum Kehidupan” tidak diartikan sebagai sebuah tempat disimpannya benda-benda bersejarah dalam kehidupan masyarakat. Namun memiliki dimensi tempat bersemainya sebuah proses pemaknaan kembali nilai-nilai luhur sebagai pengetahuan lokal (local wisdom) yang dapat dijalankan sebagai pedoman hidup manusia Indonesia dan dapat ditransformasikan menjadi pengetahuan baru kepada masyarakat lain dalam konteks pembangunan keragaman budaya dan toleransi dalam kehidupan sosial. Pemaknaan atas istilah “Museum Kehidupan” juga dapat diartikan sebagai upaya pemeliharaan dan pelestarian ritual, tradisi dan budaya yang berkembang dalam masyarakat Indonesia sebagai praktik dalam konteks peradaban yang dinamis. Bagi saya tempat ini bukan sekedar destinasi wisata namun ia juga menawarkan sebuah ruang kontemplasi bahwasanya kita adalah segala apa yang kita lakukan bagi alam, sesama & semesta.

Karangasem, Bali, 27 November 2020

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Kupang, Cendana Harum Dari Timur

leave a comment »

Teks & Foto: galih sedayu

Himpunan imaji mural menyapa saya dengan hangat saat melangkahkan kaki untuk pertama kalinya di Kota Kupang pada suatu pagi yang terik selepas mendarat di Pulau Timor. Goresan visual warna-warni tersebut memenuhi bangunan-bangunan tua peninggalan masa kolonial yang berada di kawasan Pantai Lahi Lai Bissi Kopan (LLBK) Kota Lama, dekat dengan Dermaga Lama Kupang yang kini sudah tidak berfungsi lagi. Area bersejarah ini menjadi saksi bisu serta mewariskan ribuan cerita perihal keharuman Kayu Cendana yang menjadi kemuliaan pulau Timor terutama Kupang. Dimana kota ini dahulu menjadi pusat perdagangan antar pulau dan mulai ramai dikunjungi oleh para pedagang dari Jawa pada abad ke-15. Karenanya Kota Kupang pun ditetapkan sebagai salah satu Kota Pusaka / Kota Warisan Budaya (Heritage City) di Indonesia pada tahun 2014. Mural ini bagi saya sangat merefleksikan jiwa semangat, identitas budaya, serta energi kreativitas yang dimiliki oleh pulau Timor dan seolah memanggil kita agar dapat berempati & berkolaborasi demi menyalakan kembali cahaya dari timur Indonesia.

Keseokan harinya saya kembali mengikuti mentari pagi yang membentuk wajah & bayang momen kehidupan di sekitar Pantai Kelapa Lima yang berlokasi di tepi Jalan Timor. Kawasan yang merupakan sentra penjualan ikan bagi masyarakat setempat ini rencananya akan dijadikan lokasi pusat kuliner Kota Kupang yang menawarkan berbagai sajian dan hidangan demi memuaskan dahaga lapar haus para wisatawan yang berkunjung ke sana. Ruang-ruang publik yang mencerminkan simbol kearifan lokal dapat terlihat dengan jelas di sana. Dari mulai gazebo berbentuk sasando (alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur), bangunan pusat kuliner dengan atap jerami yang menjorok ke laut, panggung budaya, hingga jetty atau dermaga untuk pedagang yang menjadi ikon ruang terbuka publik di kawasan tersebut.

Sungguh senang rasanya tatkala ruang-ruang publik seperti ini dapat dirasakan dan dinikmati oleh warga Indonesia di belahan timur. Percikan kreativitas yang dimiliki oleh warga sebuah kota tentunya mendambakan ruang-ruang untuk berekspresi. Sehingga dengan sendirinya nanti akan hadir pasukan semut komunitas yang berkerumun demi mengharumkan kotanya. Kiranya cahaya dari timur senantiasa bersinar terang di Kota Kupang agar menjadi bagi Indonesia keharuman abadi cendana yang sangat melegenda. “Uis Neno Nokan Kit”.

Kupang, 29-30 Maret 2022

***

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

April 5, 2022 at 11:20 am

JENAMA, KESIMA & GEMA KOTA KREATIF

leave a comment »

Teks : galih sedayu

“My City, My Responsibility”

Sejatinya kota kreatif adalah sebuah kota yang memiliki karakter khas sehingga mampu melahirkan jenama, kota yang merefleksikan identitas diri sehingga mampu menciptakan kesima, serta kota yang mewartakan berita baik sehingga mampu menghasilkan gema ke seluruh penjuru dunia. Karenanya sejumlah kota kreatif pada umumnya berkomitmen untuk mencapai tujuan mulia yang telah ditetapkannya ; bersikap terbuka terhadap perubahan dan bersedia mengambil segala resikonya ; berprinsip teguh dan menerapkannya secara strategis dengan upaya taktisnya ; bersedia untuk mengenali dan memberdayakan sumber daya lokal dengan segala potensinya ; serta menumbuhkembangkan dan menyebarkan jiwa kepemimpinan secara lebih luas & visioner melalui keteladannya. Secara keseluruhan semua hal tersebut dapat disederhanakan ke dalam konsep “City as a personality”, yang tentunya menjadi sangat relevan dalam konteks membangun kota kreatif sekarang ini. Dimana konsep kota yang mencerminkan sebuah kepribadian didasarkan atas analogi antara individu manusia dan kotanya masing-masing. Kota itu sendiri adalah komunitas manusia. Maka dari itu lah, kita semua yang mewakili individu manusia serta menjadi bagian dari masyarakat luas harus ikut mengambil tanggung jawab dan peran demi memberikan yang terbaik bagi kota yang kita huni. Membangun kota bisa dimulai dengan membangun diri sendiri.

“Without Empathy, Creativity is Empty”

– Kang Ayip, Founder Rumah Sanur Creative Hub –

Himpunan individu melahirkan sebuah komunitas. Individu yang kreatif, produktif & solutif akan melahirkan komunitas yang kreatif, produktif, dan solutif pula. Sebab itulah komunitas sebagai salah satu stakeholder kota, sangat berperan dalam menentukan kompas pengembangan kota kreatif. Salah satu alasan terbesarnya adalah karena komunitas dengan daya & cara kreativitasnya, dianggap mampu untuk memecahkan solusi permasalahan kota sekaligus menjadikan bentuk kreativitas sebagai wajah dan ekspresi dari sebuah kota kreatif. Apalagi bahasa visual kota kerap dikomunikasikan oleh ekspresi wajah tertentu dari sebuah kota. Dari sanalah kita bisa menilai perihal nilai serta tanda-tanda psikologis dari sebuah kota kreatif. Memaknai kota kreatif harus disadari sebagai perpanjangan dari kreativitas kita masing-masing sebagai komunitas yang bertanggung-jawab secara kolektif demi mewujudkan kota yang bersih, sehat, indah, aman, dan bahagia. Apalagi didukung oleh “Political Will” yang nyata dihadirkan oleh para pemimpin kotanya. Namun demikian, kreativitas yang dipersembahkan oleh komunitas dapat menjadi bermanfaat bagi kotanya hanya karena satu alasan mendasar yang paling penting sebagai awal mula dari segalanya. Empati.

“Padamu Negeri Kami Berkolaborasi”

Indonesia Creative Cities Network (ICCN) merupakan perkumpulan independen yang terdiri dari jejaring kota / kabupaten kreatif serta menjadi entitas komunitas nasional yang berupaya mengembangkan kota kreatif di tanah air. Sejak berdiri pada tahun 2015, ICCN hingga kini terus memperjuangkan dan menjunjung tinggi “10 Prinsip Kota kreatif” yang menjadi roh utama dalam pergerakan sosialnya. 10 prinsip ini menjadi jala utama bagi ICCN untuk menjaring lebih banyak manusia beserta komunitas kreatifnya, untuk kemudian menebarkan kembali hasil tangkapannya agar dapat melebarkan serta menguatkan ikatan jala sebelumnya. Adapun butir-butir 10 prinsip kota kreatif ini terdiri dari kota yang welas asih ; kota yang inklusif ; kota yang melindungi hak asasi manusia ; kota yang memuliakan kreativitas masyarakatnya ; kota yang tumbuh bersama lingkungan yang lestari ; kota yang memelihara kearifan sejarah sekaligus membangun semangat pembaruan ; kota yang dikelola secara adil, transparan, dan jujur ; kota yang dapat memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya ; kota yang memanfaatkan energi terbarukan ; serta kota yang mampu menyediakan fasilitas umum yang layak untuk masyarakat. Salah satu implementasinya, setiap tahun ICCN menggelar sebuah pertemuan ruang dan waktu demi menghimpun unsur pemangku kepentingan kota kreatif yakni perwakilan pemerintah, komunitas, akademisi, bisnis, media, dan yang kini mulai digaungkan yaitu unsur aggregator. Sehingga pada akhirnya narasi kolaborasi kota kreatif yang sebelumnya disebut sebagai Penta Helix, saat ini mulai berubah menjadi Hexa Helix. Pada awal mulanya, pertemuan tahunan ini dinamakan Indonesia Creative Cities Conference (ICCC) yang kemudian berubah menjadi Indonesia Creative Cities Festival (ICCF). ICCF ini menjadi momentum yang sangat istimewa karena setiap kota / kabupaten diberi kesempatan untuk menjadi tuan rumah bagi para tamu undangan yang merupakan jejaring kota / kabupaten kreatif dari seluruh pelosok tanah air. Dari mulai Kota Surakarta (ICCC 2015) ; Kota Malang (ICCC 2016) ; Kota Makassar (ICCC 2017) ; Kota Jogjakarta & Kabupaten Sleman (ICCF 2018) ; Kota Ternate (ICCF 2019) ; Kota Denpasar & Kabupaten Karangasem (ICCF 2020) ; hingga Kota Pekanbaru & Siak (ICCF 2021). Berkat konsistensi ICCF inilah, jejaring kota kreatif yang ada di bumi nusantara ini senantiasa terhubung untuk saling belajar dan berbagi pengalaman yang saling bermanfaat.

Badai pandemi Covid 19 yang menghantam kota di seluruh dunia, tentunya menjadi tantangan bagi kota kreatif untuk melakukan perubahan agar lebih tangguh menghadapi masa depan. Karena sesungguhnya masa depan kota kreatif adalah kota senantiasa yang belajar dari pengalaman masa lalu, untuk kemudian menciptakan pengalaman baru dalam wujud yang baru. Dimana empati menjadi pemantiknya, dan kreativitas tetap menjadi nyala terangnya. Karena pertanyaan abadi yang menjadikan kontemplasi dari kreativitas itu adalah bagaimana caranya agar kita dapat menciptakan diri kita yang lebih baik dari sebelumnya serta bagaimana caranya agar kita dapat menggunakan kreativitas yang kita miliki sehingga dapat memberikan manfaat bagi cahaya sebuah kota. “From Liveable Cities to Loveable Cities”.

Bandung, 3 Desember 2021

Museum Kehidupan Rumah Marga Tjhia: Ruang Toleransi

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Ribuan cerita perihal sejarah masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa, dapat kita temui di Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat. Julukan Kota Seribu Kelenteng yang melekat bagi Kota Singkawang, menjadi sihir yang memikat bagi para pengelana ruang dan waktu. Sejumlah artefak bangunan sejarah pun berhimpun di Kota Singkawang. Salah satunya adalah Rumah Marga Tjhia yang menjadi saksi bisu dari perjuangan leluhur masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa selama 119 tahun lamanya. Rumah Marga Tjhia yang telah menjadi cagar budaya Kota Singkawang ini tersembunyi di balik wajah ruko-ruko modern yang ramai, tepatnya di jalan Budi Utomo No. 35, Gang Mawar, Condong, Singkawang Barat.

Adalah Xie Shou Shi (Chia Siu Si dalam dialek Hakka Singkawang) yang menjadi tokoh penting di balik keberadaan Rumah Marga Tjhia ini. Chia sendiri merupakan seorang perantau muda dari Kota Xiamen, yang kemudian melarikan diri dari kemiskinan dan krisis pangan akibat bencana alam yang menimpa di China. Chia adalah seorang petani muda yang nekad mengarungi lautan demi mengadu nasib serta mencari harapan untuk kehidupan barunya. Namun dalam perjalanannya, ia terdampar di Semenanjung Malaya (Malaysia). Karena terjadi kerusuhan, Chia kembali mengarungi lautan dan tibalah di Kota Singkawang yang saat itu masih dalam kekuasaan Pemerintah Kolonial Belanda. Dari sinilah Chia mulai merintis kehidupan barunya untuk kemudian menggarap lahan pertanian Singkawang yang sangat subur. Chia kemudian memanfaatkan lokasi Singkawang yang strategis karena berseberangan langsung dengan Laut Natuna, dengan membangun sebuah armada khusus untuk mengangkut dan menjual hasil panen dari kebunnya terutama yang berupa kelapa dan karet untuk dikirim ke Malaysia dan Singapura. Lambat laun Chia menjadi sosok penting bagi masyarakat setempat maupun Pemerintah Kolonial Belanda karena kerja keras dan kesuksesannya dalam membangun perekonomian dan kehidupan sosial di Singkawang. Oleh karena itu Pemerintah Kolonial Belanda memberikan sebuah tanah hibah untuk Chia sebesar 5.000 meter persegi sebagai bentuk apresiasi atas segala hal yang dilakukannya.

Pada tahun 1902 Chia membangun tanah tersebut sebagai sebuah kawasan yang digunakan bagi rumah tempat tinggal baginya dan keluarganya, serta membangun sebuah kantor dagang miliknya yang bernama Chia Hiap Seng. Dengan mendatangkan langsung arsitek dari China, Chia membangun rumah di kawasan tersebut dengan bahan kayu ulin yang indah. Gaya arsitekturnya menggunakan campuran dari Timur dan Barat serta memiliki konsep si he yuan, yang berarti halaman yang dikelilingi oleh empat rumah. Sekitar 50 meter dari depan Rumah Marga Tjhia, terdapat sungai kecil yang dahulu digunakan sebagai sebagai jalur perdagangan menuju Malaysia dan Singapura.

Saat ini, Rumah Marga Tjhia ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Singkawang oleh pemerintah setempat sebagai usaha melestarikan dan melindungi kawasan yang telah dibangun oleh Chia. Bangunan ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010, Tentang Cagar Budaya. Registrasi Pusat Nomor 2/26-01/8/1 dan Registrasi daerah Nomor 6172/5/0001. Penduduk Tionghoa Singkawang mengenal rumah ini dengan sebutan “Thai Buk” yang artinya rumah besar. Bangunan ini terdiri atas ruang pertemuan, ruang berdoa, deretan kamar-kamar membentuk huruf “U”, serta taman-taman kecil. Ruang pertemuan berukuran luas berada di bagian depan rumah. Ruang berdoa berisi altar doa, abu leluhur, patung Budha dan dewa, serta papan nama leluhur. Deretan kamar merupakan tempat peristirahatan bagi keluarga keturunan Tjhia, yang masih ditempati hingga sekarang. Rumah marga Tjhia memiliki plang kayu bertuliskan kalimat mutiara Tionghoa kuno, dengan arti berbeda pada tiap ruangan rumah. Saat mengunjungi Kawasan Rumah Marga Tjhia, kita dapat menikmati pula suguhan Choi Pan (bahasa Hakka) atau Chai Kue (bahasa Tiociu) yang merupakan makanan khas Tionghoa di Singkawang. Choi Pan ini dijual di depan salah satu rumah milik keturunan Chia.

Bila kita menyambangi kawasan yang penuh dengan keunikan sejarahnya ini, kita akan disambut baik dan menjadi tamu yang selalu dipersilakan masuk meski tanpa janji terlebih dahulu. Kita pun dapat melihat serta merasakan detak jantung keseharian hidup yang berdenyut di rumah mereka tanpa ada rasa kuatir bahwa mereka terganggu dengan adanya kehadiran kita. Kiranya Rumah Marga Tjhia ini dapat menjadi ruang singgah bagi kita semua yang senantiasa menjunjung tinggi toleransi serta menghargai nilai sejarah agar pelita Bhineka Tunggal Ika tetap menyala terang selamanya bagi Indonesia.

Singkawang, 5 October 2021

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 26, 2021 at 1:55 pm

Kata Sambutan Menparekraf Sandiaga Uno di Acara Peluncuran Karisma Event Nusantara (KEN)

leave a comment »

Teks oleh: galih sedayu

***

KATA SAMBUTAN

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Pada Peluncuran Kharisma Event Nusantara (KEN) 2021

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum
 Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat
 Malam,
Salam
 Sejahtera bagi kita semua, Om Swastyastu,
Namo
 Buddhaya, Salam Kebajikan.

Salam Indonesia Maju, Salam Sehat Penuh Semangat

Pergi ke pasar naik delman istimewa

Membeli buah manis rasanya

Sungguh bangga Nusantara

Punya event yang berkharisma

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan karuniaNya pada hari ini kita bersama-sama dapat meluncurkan “Kharisma Event Nusantara (KEN) 2021”, yang kita laksanakan pada hari ini, Sabtu 10 April 2021.

Selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dan atas nama seluruh keluarga besar Kemenparekraf / Baparekraf RI, Kami menghaturkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Presiden Republik Indonesia yang terus mendorong penyelenggaraan kegiatan (events) sebagai salah satu upaya menggerakkan ekonomi nasional ; Kepada Kapolri dan jajarannya hingga ke daerah atas komitmennya memberikan ijin dan turut mengawal pelaksanaan kegiatan (events) yang telah menerapkan prinsip CHSE ; Kepada Satgas Covid-19 dan Kemenkes yang bersama kemenparekraf telah menyusun dan mengevaluasi panduan CHSE khususnya terkait event dan MICE ; Kepada asosiasi, penyelenggara event, komunitas, dan semua pekerja kreatif atas semangat juangnya yang tinggi untuk tetap kreatif serta terus mencari solusi terbaik agar dapat kembali menyelenggarakan kegiatan (events)khususnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dengan menerapkan prinsip CHSE.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) memiliki visi yaitu pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia yang maju, berdaya saing, berkelanjutan, serta mengedepankan kearifan lokal dalam mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong-royong.

Untuk itulah Kemenparekraf berencana mengembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif dengan menerapkan 3 hal yaitu inovasi, adaptasi, dan kolaborasi, termasuk tentunya dalam mengembangkan penyelenggaraan kegiatan (events) di Indonesia yang merupakan salah satu ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif.

Saudara-saudara yang kami cintai,

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak tahun 2020, menjadi masa yang sangat berat dan penuh tantangan bagi kita semua. Dampak pandemi ini begitu sangat pahit dirasakan bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, termasuk di dalamnya adalah penyelenggaraan kegiatan (events). Keadaan tersebut akhirnya memaksa kita semua untuk menekan semaksimal mungkin segala kegiatan (events) yang memiliki interaksi sosial bahkan juga mengharuskan kita untuk memencet tombol off. Akibatnya banyak kegiatan (events) yang terpaksa harus dibatalkan, demi mencegah terjadinya kerumunan orang.

Padahal penyelenggaraan kegiatan (events) sejatinya merupakan momentum yang paling dinanti dan diharapkan oleh seluruh masyarakat karena dapat menciptakan kesenangan (enjoyment), dapat menciptakan keterikatan (engagement), dapat menciptakan pengalaman (experience), serta dapat menciptakan pemberdayaan (empowerment). Sehingga pada akhirnya berbagai kegiatan (events) yang dilaksanakan akan menghasilkan dampak yang signifikan baik itu dari segi ekonomi, sosial & budaya, serta lingkungan. Hal-hal positif inilah yang membuat kita merindukan kembali penyelenggaraan kegiatan (events) di tanah air.

Saudara-saudara yang kami cintai,

Atas dasar itulah, Kemenparekraf telah menyusun dan merancang program Kharisma Event Nusantara (KEN) yang merupakan kalender event nasional, sebagai wujud nyata tindak lanjut arahan Bapak Presiden Republik Indonesia, agar kita bisa mulai melangkah demi membangkitkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif khususnya dalam mempertahankan jumlah lapangan kerja dan perputaran ekonomi imbas pandemi Covid-19.

Kharisma Event Nusantara (KEN) merupakan program strategis Kemenparekraf dalam mempromosikan destinasi pariwisata melalui penyelenggaraan kegiatan (events) yang bertujuan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara serta menggerakkan wisatawan nusantara agar berwisata di Indonesia.

Program ini sebenarnya menyempurnakan program Calendar of Events (CoE) yang telah dilaksanakan sebelumnya oleh Kemenparekraf/Baparekraf RI sejak tahun 2018, dimana dahulu Kemenparekraf memilih dan menentukan 100 events dan Top 10 events yang masuk ke dalam CoE.

Namun karena situasi pandemi Covid-19 serta perlunya menyesuaikan dengan bentuk adaptasi kebiasaan baru, maka program Kharisma Event Nusantara ini dirasa perlu dihadirkan untuk menjawab berbagai tantangan yang ada dalam wujud program yang baru.

Saudara-saudara yang kami cintai,

Pada Kharisma Event Nusantara kali ini Kemenparekraf memilih dan menentukan 10 kegiatan terbaik (Top 10 Events), 10 kegiatan terbaik skala internasional (Top 10 International Events), 10 kegiatan terbaik skala nasional (Top 10 National Events), 10 kegiatan terbaik skala regional (Top 10 Regional Events), serta kegiatan terbaik dari masing-masing provinsi di Indonesia (The Best Events of Province).

Kharisma Event Nusantara (KEN) diawali dengan pengajuan proposal kegiatan (events) melalui satu pintu yang diusulkan dari 34 provinsi di seluruh Indonesia. Agar proses pemilihan dan penentuan sejumlah kegiatan (events) terbaik Indonesia yang masuk ke dalam Kharisma Event Nusantara ini dapat berjalan dengan baik, maka dibentuklah tim kurator independen yang bertugas untuk untuk membantu menyusun dan menentukan kriteria pemilihan kegiatan (events), mengkaji dan menganalisa proposal kegiatan (events), serta melakukan komunikasi dan dialog dengan para penyelenggara dan pelaksana kegiatan (events).

Proses kurasi ini dilakukan untuk menyaring dan mendapatkan kegiatan (events) yang berkualitas, sehingga bentuk pendukungan yang akan diberikan kepada para penyelenggara kegiatan (events) nanti akan lebih jelas dan terukur. Baik itu pendukungan berupa perencanaan dan pendampingan kegiatan, promosi kegiatan, sarana dan prasarana kegiatan, pelaksanaan kegiatan, pengisi kegiatan, serta riset dan data kegiatan.

Seluruh kegiatan yang masuk ke dalam Kharisma Event Nusantara ini secara umum dipilih dan ditentukan berdasarkan tiga aspek yaitu aspek kreativitas berbasis teknologi digital dan inovasi (digital 4.0), aspek kolaborasi berbasis potensi lokal (local wisdom) dan pemberdayaan masyarakat (empowering), serta aspek adaptasi berbasis protokol CHSE (cleanliness, health, safety, dan environment sustainability).

Pada akhirnya penyelenggaraan kegiatan (events) yang dilaksanakan di Indonesia dan didukung oleh Kemenparekraf mulai saat ini akan sangat memperhatikan faktor kualitas ketimbang kuantitas. Oleh karena itu kami berharap bahwa setiap kegiatan (events) yang akan dilaksanakan nanti dapat menghasilkan dampak yang signifikan baik itu dari sisi ekonomi, sosial dan budaya, serta lingkungan”.

Saudara-saudara yang kami cintai,

Pada kesempatan yang berharga ini, kami menyampaikan apresiasi kepada para Pemerintah Daerah dan Dinas Pariwisata seluruh Indonesia atas konsistensinya untuk tetap melestarikan Calendar of Events daerahnya pada tahun 2021 ini. Hal ini menunjukkan adanya semangat untuk membangkitkan dan meningkatkan kembali industri pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah masing-masing.

Tentunya pelaksanaan kegiatan (events) ke depan perlu memperhatikan situasi dan kondisi yang terjadi di negara ini, mengingat pandemi masih berlangsung dan proses vaksinasi nasional sedang giat dilaksanakan.

Menurut saya pelaksanaan kegiatan (events) di masa pandemi sebaiknya mengacu kepada konsep Localize, Personalize, Costumize, dan Smaller in Size. Secara singkatnya bahwa setiap kegiatan (events) saat inisebaiknyadapat menggali potensi lokal dan memberikan manfaat bagi masyarakat lokal, dapat memberikan kesan dan pengalaman yang terbaik bagi wisatawan, dapat menentukan target dan sasaran pengunjung yang jelas, serta dapat menerapkan bentuk hybrid dengan ukuran yang lebih kecil.

Saya berharap bahwa pelaksanaan kegiatan (events) yang telah mulai dilakukan saat ini dengan memperhatikan protokol CHSE, dapat membantu untuk memantik kembali api kreativitas di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai upaya percepatan pemulihan ekonomi di Indonesia.

Madu manis tiada tara

Tetap enak disimpan lama

Kharisma Event Nusantara

Mari kita dukung bersama

Maju terus Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia!

Terima kasih,

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Om
 Shanti Shanti Shanti Om,
Namo
 Buddhaya,
Salam kebajikan.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia

Sandiaga Salahuddin Uno

Written by Admin

April 24, 2021 at 4:49 am

TAMAN FOTO BANDUNG : Aktivasi & Intervensi Taman Kota

leave a comment »

img_3958

Slide1

img_4056

Kolase Festival TFB

img_3770

poster-look-2_blog1

poster-kelas-taman-foto-bandung-5-small

kelas-taman-foto-bdg-4_blog

poster-kelas-taman-foto-bandung-3_blog (1)

kelas-taman-foto-bandung-revisi-011

Poster Taman Foto Kita Vers 4

Written by Admin

October 13, 2020 at 4:30 am