I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘Nusa Tenggara Timur

Membangun NTT yang Kreatif, Inklusif, dan Berdaya Saing Melalui Event

leave a comment »

Di era ekonomi kreatif saat ini, pembangunan daerah tidak lagi hanya bergantung pada infrastruktur fisik dan sumber daya alam. Budaya, Kreativitas, Inovasi, serta kemampuan membangun empati, kolaborasi, dan orkestrasi telah menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing kabupaten/kota di sebuah wilayah. Salah satu instrumen yang semakin diakui mampu menggerakkan berbagai sektor pembangunan secara bersamaan adalah industri event. Event bukan sekadar kegiatan yang menghadirkan keramaian atau hiburan sesaat. Lebih dari itu, event merupakan ruang pertemuan antara budaya, ekonomi, kreativitas, komunitas, dan masyarakat. Melalui event yang dirancang dengan baik, sebuah daerah dapat memperkenalkan identitasnya, menggerakkan ekonomi lokal, memperkuat kohesi sosial, hingga menciptakan peluang bagi generasi muda untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Bagi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pengembangan industri event sejatinya harus selaras dan sejalan dengan Visi Pembangunan Daerah Tahun 2025–2029, yaitu “NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera dan Berkelanjutan.” Event tidak hanya dipandang sebagai kegiatan hiburan atau seremonial, melainkan sebagai sarana untuk menggerakkan ekonomi daerah, memperkuat identitas budaya, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Industri event memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu penggerak pembangunan daerah yang kreatif, inklusif, dan berdaya saing. Dengan kekayaan budaya yang beragam, keindahan alam yang mendunia, serta populasi generasi muda yang terus berkembang, NTT memiliki modal yang kuat untuk menjadikan event sebagai bagian dari strategi pembangunan jangka panjang.

Event sebagai Penggerak Ekonomi Daerah

Di berbagai negara dan daerah maju, event telah berkembang menjadi industri yang mampu menciptakan nilai ekonomi yang signifikan. Festival budaya, pameran ekonomi kreatif, kegiatan olahraga, konferensi, hingga event komunitas terbukti mampu menarik kunjungan wisatawan, meningkatkan transaksi ekonomi, dan menciptakan peluang usaha bagi masyarakat. Ketika sebuah event diselenggarakan, manfaat ekonominya tidak hanya dirasakan oleh penyelenggara. Pelaku ekonomi kreatif dan UMKM memperoleh pasar yang lebih luas, sektor transportasi mendapatkan peningkatan aktivitas, hotel dan penginapan mengalami peningkatan okupansi, sementara pelaku seni dan kreatif memperoleh ruang untuk menampilkan karya dan jasa mereka. Bagi NTT, event dapat menjadi jembatan yang menghubungkan potensi lokal dengan peluang ekonomi yang lebih besar. Festival tenun, festival kopi, festival musik etnik, festival gastronomi, hingga berbagai event berbasis desa wisata dapat menjadi sarana untuk meningkatkan nilai tambah produk dan layanan yang dimiliki masyarakat setempat. Dengan demikian, event bukan sekadar pengeluaran anggaran, melainkan investasi yang mampu menghasilkan dampak ekonomi berkelanjutan bagi daerah.

Mendorong Partisipasi dan Kepemimpinan Anak Muda

Salah satu tantangan pembangunan saat ini adalah bagaimana menciptakan ruang yang memungkinkan generasi muda terlibat secara aktif dalam proses pembangunan daerah. Dalam konteks ini, industri event menawarkan peluang yang sangat besar. Penyelenggaraan event membutuhkan beragam kompetensi, mulai dari manajemen event, strategi komunikasi event, desain kreatif event, pemasaran digital event, produksi konten event, hingga pengelolaan komunitas dalam sebuah event. Seluruh bidang tersebut merupakan ruang yang sangat dekat dengan minat dan potensi generasi muda. Melalui pelatihan, mentoring, dan program pengembangan kapasitas seperti Event Academy, anak-anak muda NTT dapat dipersiapkan menjadi penyelenggara event, kreator event, event organizer, festival manager, hingga pelaku usaha kreatif yang profesional di bidang event. Mereka tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi menjadi penggerak utama yang menciptakan nilai ekonomi dan sosial bagi daerahnya. Ketika anak muda diberikan kesempatan untuk berkreasi, berkolaborasi, dan memimpin, maka akan lahir generasi baru yang memiliki rasa kepemilikan terhadap pembangunan daerah serta kemampuan untuk bersaing di tingkat nasional maupun global.

Membangun Ekosistem Kota dan Kabupaten Kreatif

Konsep kota kreatif secara umum adalah kota yang mampu memanfaatkan kreativitas masyarakat sebagai sumber inovasi, pertumbuhan ekonomi, dan peningkatan kualitas hidup. Industri event memiliki peran penting dalam membangun ekosistem tersebut. Event mampu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, komunitas, pelaku usaha, akademisi, media, hingga masyarakat umum dalam satu ruang kolaborasi. Melalui event yang berkelanjutan, akan terbentuk jejaring kreatif yang kuat. Komunitas memperoleh ruang berekspresi, pelaku usaha mendapatkan peluang pasar, pemerintah memperoleh sarana promosi daerah, sementara masyarakat menikmati manfaat ekonomi dan sosial yang dihasilkan. Di NTT, pengembangan ekosistem kreatif dapat dilakukan melalui penguatan subsektor ekonomi kreatif seperti seni pertunjukan, fotografi, desain, musik, kriya, kuliner, film, serta fashion berbasis tenun dan budaya lokal. Event dapat menjadi wadah yang mempertemukan seluruh subsektor tersebut sehingga tumbuh secara bersama-sama.

Event sebagai Sarana Branding Daerah

Setiap daerah memiliki cerita, karakter, dan identitas yang unik. Tantangannya adalah bagaimana identitas tersebut dapat dikomunikasikan secara efektif kepada masyarakat luas. Dalam konteks ini, event merupakan salah satu alat branding daerah yang paling efektif. Banyak daerah di dunia berhasil dikenal bukan hanya karena destinasinya, tetapi karena event yang mereka miliki. NTT memiliki peluang besar untuk mengembangkan berbagai event unggulan yang mencerminkan kekayaan budaya dan keunikan daerahnya. Setiap kabupaten dan kota dapat membangun identitas melalui festival yang berakar pada potensi lokal, baik budaya, pariwisata, sejarah, maupun produk unggulan daerah. Apabila dikemas secara profesional dan berkelanjutan, event-event tersebut dapat menjadi magnet wisata, memperkuat citra daerah, sekaligus meningkatkan kebanggaan masyarakat terhadap identitas lokal mereka.

Mewujudkan Event yang Inklusif dan Berdampak

Pengembangan industri event di NTT juga perlu mengedepankan prinsip inklusivitas. Event harus menjadi ruang yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang usia, latar belakang sosial, gender, agama, maupun kondisi fisik. Event yang inklusif adalah event yang mampu melibatkan masyarakat sebagai bagian dari proses, bukan sekadar sebagai penonton. Masyarakat lokal harus memperoleh manfaat ekonomi, sosial, dan budaya dari setiap kegiatan yang diselenggarakan. Pendekatan ini penting agar event tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi benar-benar menjadi instrumen pembangunan yang memperkuat kualitas hidup masyarakat serta memperluas akses terhadap peluang ekonomi dan kreativitas.

Menuju NTT yang Lebih Berdaya Saing

Di tengah persaingan antar daerah yang semakin ketat, kemampuan menciptakan pengalaman, membangun identitas, dan mengembangkan ekonomi kreatif menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing wilayah. Daerah yang mampu mengelola kreativitas dan kolaborasi akan memiliki keunggulan yang sulit ditiru oleh daerah lain. Karena itu, pembangunan industri event perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah yang terintegrasi. Diperlukan dukungan kebijakan, penguatan kapasitas sumber daya manusia, pendanaan yang berkelanjutan, serta kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan generasi muda. Melalui langkah tersebut, event dapat berkembang menjadi lebih dari sekadar kegiatan. Event akan menjadi ruang pembelajaran, ruang inovasi, ruang kolaborasi, dan ruang penciptaan nilai bagi masyarakat. Pada akhirnya, membangun NTT melalui industri event bukan hanya tentang menciptakan festival atau perayaan. Ini adalah upaya membangun manusia yang kreatif, komunitas yang kuat, ekonomi yang tumbuh, dan daerah yang memiliki identitas serta daya saing yang tinggi. Dengan melibatkan generasi muda sebagai motor penggerak dan menjadikan kreativitas sebagai fondasi pembangunan, NTT memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi provinsi yang kreatif, inklusif, dan berdaya saing di masa depan.

Bandung, 30 Mei 2026

Galih Sedayu
Mentor Event dan Ketua Komite Ekraf Bandung

Warna Keagungan Semesta di Kelimutu

leave a comment »

Teks & Foto: galih sedayu

Gunung api menjadi bagian tubuh yang tak terpisahkan dari raga alam nusantara kita. Karena bumi pertiwi dengan segala keajaibannya termasuk ke dalam sabuk Cincin Api (Ring of Fire) dunia yakni rangkaian gunung berapi sepanjang 40.000 km dan situs aktif seismik yang membentang di samudera pasifik. Seperti halnya Kelimutu. Kelimutu merupakan sebuah gunung api di pulau Flores, tepatnya di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.  Gunung Kelimutu dengan ketinggian 1690 mdpl ini berada di dalam kawasan konservasi Taman Nasional Kelimutu (Kelimutu National Park). Meskipun luasnya sekitar 5.356,50 hektare, namun kawasan konservasi ini menjadi taman nasional terkecil dari 54 Taman Nasional yang ada di Indonesia. Di kawasan Taman Nasional Kelimutu ini terdapat pula Gunung Kelido dan Gunung Kelibara yang menjadi teman penghuni bagi Gunung Kelimutu sebagai kerucut alam tertua yang masih aktif.

Adapun magnet yang menjadi pesona Taman Nasional Kelimutu adalah 3 buah danau vulkanik dengan warna yang berbeda dan terkenal dengan sebutan Danau Tiga Warna. Danau Kelimutu dengan masing-masing warna yang berbeda tersebut memiliki makna tersendiri bagi penduduk lokal di sana. Danau yang berwarna biru memiliki nama “Tiwu Nuwa Muri Ko’ofai” yang dipercayai sebagai tempat berhimpunnya para arwah dan jiwa dari pemuda dan pemudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah memiliki nama “Tiwu Ata Polo” yang dipercayai sebagai tempat berhimpunnya para arwah dan jiwa dari orang-orang yang telah meninggal dimana selama hidupnya kerap melakukan kejahatan tenung. Danau yang berwarna putih memiliki nama “Tiwu Ata Mbupu” yang dipercayai sebagai tempat berhimpunnya para arwah dan jiwa dari orang tua yang telah meninggal. Walaupun cerita penduduk setempat menyatakan demikian, namun ketiga danau tersebut tidak selamanya tetap berwarna biru, merah, dan putih saja. Menurut catatan waktu, dari tahun ke tahun ketiga danau tersebut sudah pernah mengalami perubahan warna bahkan lebih dari sekali entah itu menjadi warna hijau, coklat, hitam, dan abu-abu. Perubahan warna yang terjadi pada danau Kelimutu sangat dipengaruhi oleh aktivitas vulkanis yang mendorong gas-gas di dalam bumi keluar ke permukaan dan kemudian bereaksi serta bercampur sehingga mengakibatkan perubahan warna pada air danau.

Perjalanan menuju ke kawasan Taman Nasional Kelimutu akan melewati Desa Moni yang berjarak sekitar 52 km dari Kota Ende. Sekitar dua jam lamanya, kita akan melalui jalan aspal yang berkelok-kelok dengan atmosfir bentangan alamnya yang begitu hijau. Sesampainya di Desa Moni, kita akan banyak temukan penginapan untuk bermalam dan beristirahat di kaki gunung Kelimutu. Saat itu saya menginap di sebuah penginapan yang bernama Ecolodge. Untuk mencapai puncak pemandangan agar dapat melihat keindahan danau 3 warna, kita harus berjalan kaki melakukan hiking dan trekking dari area parkir Taman Nasional Kelimutu yang pada umumnya ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit. Matahari terbit di gunung Kelimutu merupakan sabda alam tersendiri yang bisa dinikmati kala pagi menjelang. Bila ingin mendapatkan sunrise setelah malam yang panjang di pulau flores, sebaiknya kita mulai berjalan kaki dari sejak subuh sekitar pukul 4 pagi. Tak usah kuatir, karena perjalanan mendaki puncak Kelimutu saat waktu masih subuh sembari diterpa udara yang begitu dingin, akan terbayar seketika tatkala pada akhirnya kita dapat melihat momen pertama kalinya mentari pagi yang muncul dari balik awan sekaligus merasakan hangatnya sinar yang dipancarkan saat menyentuh tubuh kita. Setelah itu, karunia terbesar akan kita dapati dimana sejauh mata memandang, semesta alam danau Kelimutu akan menampakkan wajahnya yang begitu mempesona dengan keajaiban warna-warni alam yang dimilikinya. Bagaikan berada di sebuah nirwana, surga di atas awan yang menjadi penghuni abadi Sang Terang Dunia. Saat itulah yang kita sebut hanya namaNYA dengan ucapan serta seruan syukur yang tak terhingga.   

Taman Nasional Kelimutu, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia – 29 Mei 2022

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Kupang, Cendana Harum Dari Timur

leave a comment »

Teks & Foto: galih sedayu

Himpunan imaji mural menyapa saya dengan hangat saat melangkahkan kaki untuk pertama kalinya di Kota Kupang pada suatu pagi yang terik selepas mendarat di Pulau Timor. Goresan visual warna-warni tersebut memenuhi bangunan-bangunan tua peninggalan masa kolonial yang berada di kawasan Pantai Lahi Lai Bissi Kopan (LLBK) Kota Lama, dekat dengan Dermaga Lama Kupang yang kini sudah tidak berfungsi lagi. Area bersejarah ini menjadi saksi bisu serta mewariskan ribuan cerita perihal keharuman Kayu Cendana yang menjadi kemuliaan pulau Timor terutama Kupang. Dimana kota ini dahulu menjadi pusat perdagangan antar pulau dan mulai ramai dikunjungi oleh para pedagang dari Jawa pada abad ke-15. Karenanya Kota Kupang pun ditetapkan sebagai salah satu Kota Pusaka / Kota Warisan Budaya (Heritage City) di Indonesia pada tahun 2014. Mural ini bagi saya sangat merefleksikan jiwa semangat, identitas budaya, serta energi kreativitas yang dimiliki oleh pulau Timor dan seolah memanggil kita agar dapat berempati & berkolaborasi demi menyalakan kembali cahaya dari timur Indonesia.

Keseokan harinya saya kembali mengikuti mentari pagi yang membentuk wajah & bayang momen kehidupan di sekitar Pantai Kelapa Lima yang berlokasi di tepi Jalan Timor. Kawasan yang merupakan sentra penjualan ikan bagi masyarakat setempat ini rencananya akan dijadikan lokasi pusat kuliner Kota Kupang yang menawarkan berbagai sajian dan hidangan demi memuaskan dahaga lapar haus para wisatawan yang berkunjung ke sana. Ruang-ruang publik yang mencerminkan simbol kearifan lokal dapat terlihat dengan jelas di sana. Dari mulai gazebo berbentuk sasando (alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur), bangunan pusat kuliner dengan atap jerami yang menjorok ke laut, panggung budaya, hingga jetty atau dermaga untuk pedagang yang menjadi ikon ruang terbuka publik di kawasan tersebut.

Sungguh senang rasanya tatkala ruang-ruang publik seperti ini dapat dirasakan dan dinikmati oleh warga Indonesia di belahan timur. Percikan kreativitas yang dimiliki oleh warga sebuah kota tentunya mendambakan ruang-ruang untuk berekspresi. Sehingga dengan sendirinya nanti akan hadir pasukan semut komunitas yang berkerumun demi mengharumkan kotanya. Kiranya cahaya dari timur senantiasa bersinar terang di Kota Kupang agar menjadi bagi Indonesia keharuman abadi cendana yang sangat melegenda. “Uis Neno Nokan Kit”.

Kupang, 29-30 Maret 2022

***

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

April 5, 2022 at 11:20 am