Menjala Cahaya Kota London
Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu
Sejauh mata memandang serta ditemani oleh kaki yang berjalan menapaki sebagian sudut ruang Kota London, sedekat ini pula hati senantiasa terhibur karena segala pesona yang dihadirkan di sana. Setiap detik sesaat kamera akan menangkap cahaya, jantung pun serasa berdegup kencang seolah tengah menanti kekasih pujaan yang lama tak bersua dalam adegan keseharian melalui tubuh kota ini.
London yang merupakan ibu kota inggris dan britania raya ini memang layak dijuluki sebagai kota kreatif dunia. Kota tua yang yang telah menjadi pemukiman utama selama dua milenium sejak didirikan oleh Romawi pada abad ke-1 dengan sebutan Londinium, kini menjelma menjadi pusat pendidikan terbesar di eropa yang memiliki lebih dari 40 universitas. Kota megah yang berdiri kokoh di sepanjang Sungai Thames ini memiliki keunggulan kelas dunia di berbagai bidang diantaranya kesenian, bisnis, hiburan, kesehatan, mode, pariwisata, transportasi, dan media.
Jaringan kereta api bawah tanah (underground) yang dimiliki Kota London merupakan jejak peninggalan yang tertua di dunia. Rumah penduduk zaman Victoria yang masih ditinggali pun tersebar di berbagai belahan Kota London. Belum lagi berbagai bangunan sejarah yang dengan indahnya menghiasi kota, turut menciptakan karakter Kota London sebagai Kota Heritage Dunia.
Sebagai orang yang baru pertama kali menghirup udara di Kota London, kesan modern dan kuno bercampur aduk menjadi satu dalam kasat mata awam. Pemandangan di depan Buckingham Palace penuh dengan turis-turis dari berbagai negara yang ingin menyaksikan istana megah yang dihuni oleh Ratu Inggris Elizabeth beserta atraksi Penjaga Ratu (Queen’s Guard). Tentara inggris yang mengenakan seragam berwarna merah menyala, celana panjang hitam dengan topi hitam besar yang ditutupi dengan kulit beruang asli ini, menjadi penjaga istana dengan berdiri tegak sambil sesekali berjalan dengan gerakan berbaris di depan pintu istana.
Kota London juga memiliki situs warisan dunia yang bernama Tower Bridge dengan ukuran panjang 244 m dan tinggi 65 m. Jembatan dengan gaya arsitektur khas Victoria ini menjadi salah satu ikon Kota London yang menopang sebuah jalan raya yang melintasi Sungai Thames. Setiap tahunnya lebih dari 600.000 orang dari seluruh penjuru dunia datang mengunjungi lambang kemegahan Kota London tersebut.
Selain itu Kota London masih menyimpan berbagai destinasi wisata yang sangat menarik. Sebut saja dari mulai British Museum, museum terbesar di dunia yang menyimpan barang-barang artefak dari seluruh penjuru dunia ; Trafalgar Square, alun-alun terbesar dan terkenal di London ; Camden Market, kawasan belanja dengan harga barang yang murah ; China Town, pusat kuliner Cina & Asia ; St. Anne’s Churchyard, sebuah taman untuk umum yang disebut juga St. Anne’s Gardens ; hingga Stamford Bridge, markas besar klub sepakbola Chelsea.
Ingin sekali rasanya berdansa lebih lama bersama waktu di sana. Sembari mensyukuri betapa agung karya ciptaan-Nya. Langit, buana semesta, beserta udara yang kuhirup bersama mentari. Terima kasih kepada cahaya yang telah menuntunku ke sana. Kiranya ada masa yang akan membawaku kembali dalam ribuan kenangan itu.
London – England, 30-31 August & 7 September 2019





























































Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
“Who Wants To Live Forever” | A Photography Project by galih sedayu
Pada mulanya peradaban.
Peradaban yang mewariskan jejak karya.
Karya agung manusia yang meniru arsitek Semesta.
Semesta memberi berkat dan terang.
Terang agar menjadi saksi bisu sejarah.
Sejarah adalah guru sejati bagi waktu.
Waktu berjalan merangkai kisah dan cerita.
Cerita konservasi dan edukasi bagi semua.
Semua insan agar sadar dan merasa memiliki.
Memiliki sebuah artefak kebudayaan yang luhur.
Luhur dan mulia sehingga harumnya abadi.
Abadi dalam diam namun senantiasa tegak berdiri.
***
In the beginning was civilization.
Civilization that give us a creation.
Creation that imitating the architect of Universe.
Universe give us the blessing and the light.
Light to be a silent witness to history.
History was a true teacher of time.
Time goes by assembling stories.
Stories about conservation and education for all.
All of us to be aware and feel belonging .
Belonging a cultural artifact that so great.
Great and noble so that the fragrance will last forever.
Forever in silence but always standing still.
***
Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu
Thanks to Queen for the Inspiring Song, “Who Wants To Live Forever”
#17KaryaFoto #17Photographs

“Larantuka Kingdom” | Larantuka, Flores Island, Indonesia | 5 October 2022

“Reinha Rosari Church” | Larantuka, Flores Island, Indonesia | 4 October 2022

“Rumah Marga Tjhia (1901)” | Singkawang, West Kalimantan, Indonesia | 5 October 2021

“Taman Ujung / Sukasada (1909)” | Karangasem, Bali, Indonesia | 28 November 2020

“Gereja Batu / Santo Willibrordus (1523)” | Ternate, North Maluku, Indonesia | 19 December 2019

“St. Anne’s Churchyard (1677-1686)” | Wardour Street, London, United Kingdom | 7 September 2019

“Blewcoat School (1709)” | Caxton Street, London, United Kingdom | 7 September 2019

“Pier Head: The Liver Building (1771)” | Liverpool, United Kingdom | 3 September 2019

“Benteng Kastela (1522)” | Ternate, North Maluku, Indonesia | 17 November 2018

“Benteng Tolukko (1540)” | Ternate, North Maluku, Indonesia | 17 November 2018

“Gereja Katholik Bebas (1920)” | Banda Street, Bandung, West Java, Indonesia | 11 August 2018

“Dakken Cafe (1930)” | Bandung, West Java, Indonesia | 18 June 2014

“Keraton Surakarta Hadiningrat (1744)” | Surakarta, Central Java, Indonesia | 4 March 2014

“Gedung Gas Negara (1930)” | Bandung, West Java, Indonesia | 15 November 2012

“Taman Sari Keraton Yogyakarta (1758-1765)” | Yogyakarta, Central Java, Indonesia | 12 October 2011

“Taman Sari Keraton Yogyakarta (1758-1765)” | Yogyakarta, Central Java, Indonesia | 12 October 2011

“Vila Isola (1933)” | Setiabudi Street, Bandung | 4 February 2008
Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
“It’s Oh So Quiet” | A Photography Project by galih sedayu
Pada mulanya berjalan.
Berjalan menapaki ruang interaksi manusia.
Manusia pun tak selalu mesti terlihat.
Terlihat hadir kadang menjadi jenuh.
Jenuh karna ada kalanya kita butuh ketenangan.
Ketenangan batin yang cukup hanya merasakan.
Merasakan bagaimana kosong bukan berarti hampa.
Hampa dari makna dan arti sebuah waktu.
Waktu terus berputar meniru bumi.
Bumi sebagai tempat menumbuhkan peradaban.
Peradaban mengubah pikiran dan pengetahuan.
Pengetahuan abadi bahwa jiwa akan senantiasa ada.
***
In the beginning was walking.
Walking through the interaction space of human.
Human is not always to be seen and looks.
Looks sometime can be bored.
Bored because all we need is peace.
Peace that only feels.
Feels how a blank doesn’t mean empty.
Empty for meaning of time.
Time keeps turning just like the earth.
Earth as a place to grow civilization.
Civilization can change a mindset and knowledge.
Knowledge that the soul will always exist eternally.
***
Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu
Thanks to Bjork for the Inspiring Song, “It’s Oh So Quiet”
#12KaryaFoto #12Photographs

Kupang, East Nusa Tenggara, Indonesia | 29 March 2022

Singkawang, West Kalimantan, Indonesia | 5 October 2021

Albert Dock, Liverpool, United Kingdom | 4 September 2019

Manchester, United Kingdom | 31 August 2019

Sanur, Bali, Indonesia | 19 August 2014

Malioboro, Jogjakarta, Indonesia | 20 August 2014

Malioboro, Jogjakarta, Indonesia | 20 August 2014

Malioboro, Jogjakarta, Indonesia | 20 August 2014

Penang, Malaysia | 3 August 2014

Solo, Indonesia | 5 March 2014

Ubud, Bali, Indonesia | 9 March 2013

Museum Sunda Kelapa, Jakarta, Indonesia | 13 March 2008
Salam Pesona Kota Nagoya
Teks & Foto : galih sedayu
Nagoya, kota terbesar keempat di negara Jepang setelah Tokyo, Yokohama, dan Osaka dalam jumlah penduduk ini memang menawarkan sebuah pesona tersendiri. Ibukota dari Prefektur Aichi ini letaknya di sekitar pesisir Samudra Pasifik Wilayah Chubu. Lokasi Nagoya menjadi strategis karena berada di antara Kota Tokyo & Kyoto. Beruntung saya bisa melangkahkan kaki di sana dan beroleh kesempatan untuk merekam denyut jantung Kota Nagoya yang sangat teratur. Kota yang bersih, bangunan yang sangat terawat, serta beragam makanan lezat yang dijajakan menjadikan saya kerasan untuk menghuni kota ini meski hanya beberapa saat saja. Tak seperti di Indonesia, kawanan burung gagak hitam yang dibiarkan hidup liar di kota ini tidak menjadikan Nagoya berkesan angker. Citra polisi pun menjadi lebih terhormat dan tidak mengintimidasi karena mereka hanya menggunakan sepeda saat melakukan patroli keamanan meski sesungguhnya sangat jarang sekali terjadi tindakan kriminal di sana. Seperti kultur orang jepang pada umumnya, hampir setiap waktu saya melihat aktivitas keseharian warga yang berjalan kaki dan bersepeda. Sesekali saya menangkap momen warga yang menggembalakan anjing piarannya di pagi hari. Di Nagoya saya seperti menghirup oksigen bersih tanpa polusi asap maupun polusi suara. Dan akhirnya hanya kalimat ini yang pantas menjadi penutup cerita singkatnya. Ke Nagoya aku kan kembali.
Nagoya, Jepang ; Februari, April, Mei 2018


















































Copyright (c) 2018 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Jejak Kreativitas Wawan Juanda

“GELAR KRIYA KULIT JAWA BARAT”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Gedung Sate, Bandung, 8 Agustus 2010

“GELAR BATIK JAWA BARAT”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Gedung Sate, Bandung, 3 Juli 2010

“SPICE FEST”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Gedung Sate, Bandung, 8 Desember 2007

“BRAGA FESTIVAL”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Braga, Bandung, 28 Desember 2006

“MAD QUARTER MUSIC FESTIVAL”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Bumi Sangkuriang, Bandung, 17 September 2006

“BRAGA FESTIVAL”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Braga, Bandung, 30 Desember 2005

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
10 Mimpi Masa Depan Bandung
“10 Mimpi Masa Depan Bandung”
Oleh : Ridwan Kamil
26 September 2008
Dari tahun ke tahun, Bandung merayakan hari jadinya, selalu ada yang diimpikan namun tak pernah hadir. Yang jarang hadir itu bernama inovasi. Bahkan mungkin sejak kemerdekaan 63 tahun lalu, inovasi-inovasi untuk kepentingan publik Bandung jarang terlihat. Tidak ada stadion olah raga atau gedung konser yang dibanggakan juga tak ada taman kota atau jalur pejalan kaki yang dirindukan.
Jika kita berdiskusi tentang Bandung dengan orang luar, yang diapresiasi umumnya hanya dua hal: energi kreativitas warganya dan kemeriahan wisata belanja. Sisanya adalah komplain tentang kemacetan, ketidaknyamanan, masalah sampah, dan hareudang-nya udara Bandung. Oleh karena itu, merevitalisasi Bandung dengan inovasi kebijakan adalah sebuah kebutuhan.
Padahal berkat semangat inovasi, konsep murah busway Kota Bogota di Colombia ditiru di mana-mana termasuk Jakarta. Karena dorongan inovasi, Kota Boston dipuji karena menghancurkan jalan tol kota untuk dijadikan taman terpanjang di dunia. Dengan energi inovasi, kota kecil Curitiba di Brazil terpuji sebagi kota terbaik sedunia. Untuk itu, inilah saatnya Bandung pun berinovasi. Tidak usah banyak-banyak. Satu saja namun gaungnya mendunia.
Ada sekitar sepuluh ide pembangunan kota yang penulis ingin sampaikan dalam konteks mengembalikan Bandung menjadi kota yang nyaman dan mengangkat Bandung menjadi kota dunia.
[1] , Merancang taman kota senyaman ruang keluarga.
Perbanyak ruang-ruang terbuka hijau dengan memanfaatkan ruang-ruang sisa seperti kolong Pasupati. Atau membeli lahan-lahan pribadi di kampung-kampung padat seperti dilakukan Pemerintah Kota Yogyakarta. Meningkatkan kualitas ruang terbuka hijau menjadi taman aktif yang dirancang dengan baik. Tiap taman dilengkapi dengan keteduhan, tempat duduk senyaman ruang keluarga, fasilitas wi-fi untuk menggoda warga bekerja di ruang luar, menyediakan panggung kecil untuk mengamen , dan kios makan minum kecil.
[2], Merekayasa lalu lintas untuk kenyamanan warga.
Penyediaan jalur sepeda di jalan-jalan utama untuk memotivasi warga mengurangi ketergantungan kepada mobil. Menyediakan kantung atau zona gedung parkir umum yang dikombinasikan dengan kendaraan bus kecil terbuka gratis khusus untuk turis. Menerapkan pajak kemacetan bagi fungsi komersial yang membebani parkirnya ke jalan umum. Bahkan mungkin busway, monorail, atau kereta gantung sebagai alternatif transportasi publik sekaligus daya tarik wisata bisa dipertimbangkan.
[3] Menyediakan bangunan publik modern yang berkualitas.
Sudah saatnya Bandung memiliki gedung konser musik multifungsi yang berkelas. Gelora Saparua bisa menjadi lokasi yang tepat. Puluhan band yang lahir tiap dekade layak mendapat tempat yang baik. Juga Stadion Siliwangi bisa direvitalisasi untuk menghidupi Persib, di mana lantai dasarnya digabungkan fungsinya untuk restoran, ritel, atau fungsi lain. Modernisasi pasar-pasar tradisional di mana pedagangnya tidak disingkirkan malah menjadi pemilik saham projeknya seperti di India. Lawan budaya nongkrong di mal dengan menghadirkan gedung perpustakaan yang modern lengkap dengan kafe, ruang bermain, dan internet gratis.
[4] Mengaplikasikan seni pada elemen kota.
Seni hadir agar nilai-nilai kehidupan bisa kita renungkan. Oleh karena itu, kehadiran instalasi seni di ruang publik seperti di perempatan jalan atau taman kota menjadi penting. Misalnya, hadirnya huruf DAGO raksasa yang permanen di taman Cikapayang atau desain gerbang istimewa di tiap titik masuk ke kota Bandung, seperti gerbang tol Pasteur. Halte-halte kendaraan umum, bisa dirancang dengan tema humoris berbentuk flora atau fauna. Angkot-angkot bisa dihias dengan desain grafis modern seperti kita lihat di Helarfest. Seni membuat hati kita riang, apalagi hadir gratis di ruang publik.
[5] Menyediakan gedung Creative Corner dan Development Center
Untuk energi kreativitas sekelas Kota Bandung, kebutuhan adanya gedung pusat kreativitas warga menjadi krusial. Fasilitas berupa ruang pameran, ruang konferensi, meeting room, maupun ruang-ruang yang bisa disewakan untuk menjual produk-produk kreativitas sangatlah dibutuhkan dan membantu akselerasi ekonomi kreatif di Kota Bandung. Gedung atau ruang maket projek kota dan poster projek-projek pembangunan Kota Bandung (development center) juga penting sebagai perwujudan inovasi transparansi dari pemkot.
[6] Memotivasi kegiatan berjalan kaki untuk kehangatan interaksi sosial.
Kembalikan Bandung sebagai surga pejalan kaki. Karenanya, jalur pedestrian yang lebar, teduh, dan nyaman lengkap dengan street furniture seperti kursi kayu yang hangat atau lampu yang romantis dengan cantelan pot bunga menjuntai seperti di London bisa jadi hal yang menyenangkan. Projek pedestrianisasi di Jalan Tamansari bisa diteruskan sebagai percontohan yang baik untuk ruas-ruas jalan yang lain.
[7] Merayakan kebersamaan dengan keragaman festival.
Festival adalah perayaan identitas. Semakin banyak festival semakin menunjukkan kotanya hangat dalam kebersamaan. Jika mungkin tiap bulan di Bandung ada festival berskala internasional. Festival Bunga di bulan Januari, Festival Dago di Februari, Festival Dunia Islam di Maret, Festival Kreativitas Helarfest di Agustus, dan seterusnya. Orang mendatangi kota karena sejarahnya, keunikan fisik/arsitektur kotanya, dan juga karena acara festival-festivalnya. Seperti Rio Carnaval di Brazil dan Flower Carnaval di Pasadena. Keduanya berkelas dunia.
[8] Mengembalikan Sungai Cikapundung ke fitrahnya.
Sungai Cikapundung adalah saksi zaman. Ia mengalir melewati kisah-kisah sejarah Kota Bandung. Sungai Cikapundung sejatinya adalah ruang terbuka publik. Sudah saatnya, ia dikembalikan dari pembangunan fisik yang merusak akal sehat dan melanggar aturan alam. Revitalisasi sungai di Seoul bisa jadi contoh bagaimana visi dan keberanian wali kota bisa mewujudkan sungai sebagai ruang publik utama. Jika pembebasan lahan di daerah padat masih jadi kendala, 100 m ruas sungai yang masih alami yang dilintasi jalan Siliwangi bisa jadi projek pertama.
[9] Menata wajah kota dari papan reklame yang semrawut.
Susah mencari logikanya bagaimana banyak stuktur reklame raksasa tiba-tiba bisa hadir berdiri di sembarang tempat. Jalur-jalur historis termasuk Jalan Dago sebaiknya dibebaskan dari struktur reklame. Untuk melawan budaya konsumerisme, bisa saja sebulan sekali seluruh papan reklame diwajibkan menayangkan iklan layanan masyarakat yang menggugah akal sehat dan semangat hidup.
[10] Meramahi lingkungan dengan green policy.
Bumi semakin panas. Salah satu penyebab terbesar adalah panas yang dihasilkan bangunan-bangunan di perkotaan. Peraturan kota yang mewajibkan konsep green building harus dihadirkan. Atap datar yang ditanami rumput sangat dianjurkan. Kewajiban menanam minimal satu pohon peneduh untuk satu rumah atau menghijaukan bukit-bukit gundul di utara Bandung bisa membantu menurunkan suhu barang 1-2 derajat dan memperbanyak suplai oksigen. Menanami pohon di seluruh ruas jalan di Bandung harus dilakukan segera. Terutama di wilayah selatan Bandung yang cenderung gersang. Mengganti suplai listrik seluruh lampu penerangan jalan di Bandung dengan energi surya (photovoltaic), seperti di tol Cipularang, juga sudah sangat dimungkinkan.
Demikianlah sejumput udunan ide-ide yang mungkin bisa didengar Pemkot Bandung untuk bisa menjadi sumber ide-ide yang bisa membawa harkat dan citra Bandung menjadi kota yang bermartabat.
Selamat ulang tahun Bandung. Karena hidup adalah udunan
Hidup adalah ‘udunan’
Hidup adalah ‘udunan’
Oleh : Ridwan Kamil
26 September 2008
[1] Kekhawatiran di Sabtu mendung itu akhirnya terjadi juga. Jam 5 sore acara konser musik Bandung Youth Park Fest dihentikan polisi. Alasannya tidak begitu jelas. Seluruh panitia bingung dan panik, terutama sang ketua panitia, Edi Brokoli. Bagaimana tidak, belasan ribu penonton yang datang di lapangan Saparua masih berjubel dan bersemangat, berharap aksi panggung terus berlanjut hingga larut malam. Namun harapan mereka pupus sudah, karena polisi bersikukuh.Panitia dengan keberanian seadanya langsung bergerak menggiring kerumunan massa untuk bubar. Di tengah keriuhan mengamankan itu seorang panitia, Fian, menjadi korban. Ia terjatuh dari pagar pengaman dengan kepala dibawah. Kakinya cedera dan satu telinganya tidak bisa mendengar. Dan di luar dugaan, belasan ribu remaja tanggung itu bubar dengan tertib. Tidak ada kerusuhan.
Acara konser 40-an band yang direncanakan untuk menutup Helarfest, festival terbesar
kreativitas anak muda Bandung, menjadi anti klimaks. Harapan menjadikan hari itu menjadi momen kebangkitan kreativitas musik underground di Bandung pupus sudah. Ada yang merampoknya.
Selidik punya selidik, ternyata sore itu ada orang teramat penting sedang melawat ke kota kembang untuk acara perhelatan perkawinan. Prosedur pengamanan memaksa polisi untuk menghalau kerumunan dalam radius tertentu dari jalur rombongan Presiden Republik ini. Ya betul, karena SBY lewat untuk resepsi, maka acara kreativitas yang disiapkan berbulan-bulan dibubarkan paksa.
Kini Edi dan sahabat-sahabatnya harus menanggung rugi moril materil. Padahal acara yang tidak bersponsor ini didanai dari hasil pinjaman dan saweran (bahasa Sunda = uduna) para pekerja kreatif Bandung. Ada pinjaman uang pribadi dan orang tua. Ada sisihan uang nonton dan pacaran. Ada pinjaman tanpa bunga dari kas beragam perusahaan kreatif. Bahkan, ada yang rela melego motor Harley Davidson kesayangannya untuk dijadikan agunan. Bubarnya acara sebelum waktunya ini mengakibatkan panitia dililit hutang beberapa ratus juta rupiah yang tidak semestinya.
Prosedur paranoid keamanan di negeri keruh ini ternyata telah merampok energi kreativitas dan memutus keriangan ribuan hati. Menyakitkan dan mengiris hati.
***
[2] Saweran dalam bentuk urun rembuk ide, waktu dan uang adalah semangat `survival’ para pekerja kreatif di Tatar Parayangan ini. Komunitas musik cadas di Bandung yang menyelenggarakan konser Death Fest 3 yang diemohi sponsor adalah contohnya. Tidak ada bantuan pemerintah dan sponsor, masyarakat umum pun bergerak membantu. Pak Yusep, pedagang beras di pasar Guntur di Garut, ikhlas menyisihkan keuntungan jualan berasnya untuk konser kreatif ini. “Ini buat bantu-bantu biaya sound system,” ujarnya. Di minggu yang sama, komunitas Arsitektur juga menunjukan solidaritasnya dengan menyisihkan sebagian uang sponsor seminar arsitektur untuk membantu komunitas Death Metal yang jumlahnya 30-an ini (sebuah jumlah yang melebihi Jepang atau Amerika yang hanya belasan).
Acara-acara kreatif anak muda Bandung dalam payung Helarfest yang berjumlah 31 acara ini umumnya dilaksanakan dengan modal seadanya. Namun kebersamaan alhamdulillah mengalahkan keputusasaan. Bantuan dana dari pemerintah yang diharapkan hadir ternyata hampir semuanya meleset. Dana bantuan resmi dari Pemerintah Kota Bandung ternyata baru akan diusahakan cair bulan Oktober depan. Janji Gubernur Jawa Barat yang baru pun, ternyata nol besar. “Kasnya kosong,” kilah bendaharanya. Satu-satunya bantuan dating dari Menteri Mari Pangestu, itu pun baru dibayarkan setengahnya dan datang di saat acara Helarfest sudah selesai.
Namun kesuksesan hidup harus dimulai dari kegigihan, bukan dengan keluhan. Dengan segala kekurangannya, Helarfest berhasil menorehkan psikologis positif bagi masyarakat kota Bandung. Dibalik berita-berita negatif tentang Bandung (macet, sampah, kualitas lingkungan), isu kreativitas dan Helarfest ternyata menjadi satu-satunya berita baik (Kompas, sabtu 4/9).
Selamat datang di negeri ironi. Helarfest yang menyumbang pergerakan ekonomi kota Bandung selama satu setengah bulan sampai 100 milyar ini, harus berakhir dengan berhutang karena ada rombongan sang maha penting lewat di jalan sebelah. Ironi adalah sarapan pagi kita di negeri sejuta koruptor ini.
Minggu iniadalah minggu-minggu melelahkan bagi Edi Brokoli dan para sahabatnya di Bandung Creative City Forum (BCCF). Barisan dirapatkan untuk bekerja keras mengembalikan hutang dan pinjaman yang cukup besar. Jika anda punya ide kreatif atau tangan terulur untuk membantu, silakan kontak mantan VJ kribo di MTV ini di 0817832346. Karena hidup adalah kebersamaan.
Tulisan ini didedikasikan untuk puluhan Pak Yusep, pedagang beras di pasar Guntur, juga untuk puluhan Fian yang terpincang berkorban untuk sebuah mimpi bersama. 700 kata ini diguratkan untuk api semangat generasi muda Bandung yang tidak boleh padam dan jiwa kreativitas yang tidak boleh mati.
Karena hidup adalah udunan


