I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘Nagoya

Salam Pesona Nagoya

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Nagoya, kota terbesar keempat di negara Jepang setelah Tokyo, Yokohama, dan Osaka dalam jumlah penduduk ini memang menawarkan sebuah pesona tersendiri. Ibukota dari Prefektur Aichi ini letaknya di sekitar pesisir Samudra Pasifik Wilayah Chubu. Lokasi Nagoya menjadi strategis karena berada di antara Kota Tokyo & Kyoto. Beruntung saya bisa melangkahkan kaki di sana dan beroleh kesempatan untuk merekam denyut jantung Kota Nagoya yang sangat teratur. Kota yang bersih, bangunan yang sangat terawat, serta beragam makanan lezat yang dijajakan menjadikan saya kerasan untuk menghuni kota ini meski hanya beberapa saat saja. Tak seperti di Indonesia, kawanan burung gagak hitam yang dibiarkan hidup liar di kota ini tidak menjadikan Nagoya berkesan angker. Citra polisi pun menjadi lebih terhormat dan tidak mengintimidasi karena mereka hanya menggunakan sepeda saat melakukan patroli keamanan meski sesungguhnya sangat jarang sekali terjadi tindakan kriminal di sana. Seperti kultur orang jepang pada umumnya, hampir setiap waktu saya melihat aktivitas keseharian warga yang berjalan kaki dan bersepeda. Sesekali saya menangkap momen warga yang menggembalakan anjing piarannya di pagi hari. Di Nagoya saya seperti menghirup oksigen bersih tanpa polusi asap maupun polusi suara. Dan akhirnya hanya kalimat ini yang pantas menjadi penutup cerita singkatnya. Ke Nagoya aku kan kembali.

Nagoya, Jepang ; Februari, April, Mei 2018

DSCF2312

DSCF2331

DSCF2453

DSCF2485

DSCF2511

DSCF2531

DSCF2551

DSCF2641

DSCF2651

DSCF2654

DSCF2734

DSCF2737

DSCF2744

DSCF2751

DSCF2762

DSCF2766

DSCF3326

DSCF3357

DSCF3362

DSCF5327

DSCF5341

DSCF5357

DSCF5359

DSCF5371

DSCF5388

DSCF5395

DSCF5410

DSCF5413

DSCF5450

DSCF5456

DSCF5502

DSCF6164

DSCF6194

DSCF6935

DSCF6943

DSCF6948

DSCF6971

DSCF7808

DSCF7816

DSCF7822

DSCF7826

DSCF7829

DSCF7831

DSCF7834

DSCF7841

DSCF7849

DSCF7853

DSCF7859

DSCF7867

DSCF7869

Copyright (c) 2018 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Advertisements

Written by Admin

September 30, 2018 at 1:46 pm

Kepal Persaudaraan Indonesia Di Negeri Matahari Terbit | 2nd Indonesia Week ; 28 – 30 April 2018, Nagoya, Jepang

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Sejak ditandatanganinya Perjanjian Perdamaian pada tanggal 20 Januari 1958, Simpul hubungan diplomatik yang telah terjalin antara Indonesia dan Jepang pasca kemerdekaan, tak terasa tahun ini telah menginjak usianya yang ke 60 tahun. Meski sejarah sempat mencatat titik kisah yang kelam bagi memori bangsa kita pada saat masa penjajahan, namun luka itu pun lambat laun mampu terobati dan bisa dikatakan kini telah sirna. Apalagi saat ini kepal persaudaraan antara Indonesia & Jepang menjadi semakin kokoh dengan jejak politik, jejak ekonomi, jejak sosial, serta jejak budaya yang ditinggalkannya.

Kita pun menyadari bahwa Indonesia adalah sebuah negara dengan kekayaan alam dan sumber daya manusia yang sangat beragam. Himpunan potensi yang dimilikinya dapat menghasilkan nilai yang sangat berharga bagi tanah air. Karena itu sudah semestinya Mutiara Khatulistiwa yang dimiliki bangsa ini wajib disuarakan kepada masyarakat dunia. Dan negara Jepang adalah salah satunya mengingat hubungan historis yang telah lama ada. Karenanya melalui kegiatan yang diberi nama Indonesia Week, diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat bagi perayaan 60 tahun hubungan Indonesia-Jepang.

Indonesia Week adalah sebuah Festival Kolaborasi yang bertujuan Mewartakan Berita Baik perihal Indonesia ke seluruh dunia. Kegiatan ini digagas oleh “Be Indonesia”, sebuah Simpul Kolaborasi yang terdiri dari berbagai perwakilan Akademisi, Komunitas, Media, Pemerintah & Pekerja Kreatif dalam semangat mencintai dan memberikan yang terbaik bagi Indonesia. Indonesia Week yang kedua ini digelar di Kota Nagoya, Jepang, tepatnya persis di bawah Nagoya TV Tower, di area Mochinoki Hiroba (Central Park) pada tanggal 28 – 30 April 2018. Setelah sebelumnya, Indonesia Week pertama kali diselenggarakan di Kota Osaka, Jepang pada tahun 2016. 

Kegiatan Indonesia Week ini dibuka oleh Dr. Toto Pranoto selaku Dewan Pembina Be Indonesia dan Lembaga Manajemen FEB Universitas Indonesia, Windu Widjaya selaku Direktur Be Indonesia dan Ketua 2nd Indonesia Week 2018, Arifin Tasrif selaku Duta Besar RI di Tokyo, dan Ohmura Hideaki selaku Gubernur Aichi, Jepang. Saya selaku Creative Director kegiatan Indonesia Week ini, meramu beberapa konten kegiatan kreatif berupa Intimate Concert ; Story Telling Performances ; Culinary Bazaar ; Live Cooking Demo ; Community Parade ; Edu Talkshow ; Indonesia Green Action For Nagoya ; Indonesian Embassy of Tokyo Public Service & Travel Fair. Pembukaan Indonesia Week ini ditandai dengan membunyikan othok-othok secara bersama-sama. Othok-othok sendiri merupakan sebuah benda mainan tradisional asal Indonesia yang terbuat dari bambu dan mengeluarkan bunyi khas bila diputar. Bunyi yang dihasilkan dari othok-othok tersebut diharapkan dapat menjadi simbol suara kebersamaan & persaudaraan antara Indonesia-Jepang.

Sejumlah kolaborator yang tampil pada perhelatan Indonesia Week ini terlihat sangat antusias ditambah dengan puluhan ribu pengunjung yang memadati kegiatan ini selama 3 hari. Persembahan dari Indonesia disuguhkan oleh Indonesia Rock Star Empire (Isa Raja, Aria Baron, Sandy & Trisnoize Pas Band) ; Fashion Show oleh Doni Rahman ; Malang Amore Carnival ; Tari Pasambahan, Tari Payuang, Tari Rampak Baindang & Tari Hoyak Gandang Nan Batingkah dari Sumatera Barat ; Tari Remong, Tari Ronggeng Nyenyrik & Tari Gandrung Marsan dari Malang ; Tari Mojang Priangan dari Cianjur ; Pencak Silat Gajah Putih ; Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate ; serta Eka Kapti Dance dari ChiKieZie. Sementara persembahan dari Jepang disuguhkan oleh Sleaze Party (Tecchan, Masaya, Yuika, Kaorin, Max, Aska & Natsuo) ; Swamp Water (Toshimi Tsuruta & Takashi) ; Sugiyama Kyoko ; Matsumoto Machiko (Washoku Cooking Instructor) ; Tari Rejang Sari dari Taro Bali Masami San. Keseluruhan atmosfir kegiatan ini bertambah hangat dengan penampilan dari Indonesia-Japan Band Festival yaitu Tokyo Parahyangan Culture, YLKN, Heaven Soul, Stay Clasy, 42L, Kaizu, The Crew, Shinyu, God Slave, FS Band, Agung + The Crew, Rina + The Crew.

Indonesia Week ini didukung oleh Kementrian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia ; Kementrian Komunikasi & Informasi (Kominfo) Republik Indonesia ; Kementrian Perdagangan Republik Indonesia ; Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Osaka ; Indonesian Embassy of Tokyo ; Indonesia Creative Cities Network (ICCN) ; Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) ; Pemerintah Provinsi Sumatera Barat ; Pemerintah Kabupaten Cianjur ; Pemerintah Kabupaten Bekasi ; Bank Mandiri ; Sarinah ; Asgar Clan Japan ; Cianjur Jago ; Emhecee ; Ikatan Pengusaha Kenshuusei Indonesia (IKAPEKSI) ; IPI Japan ; Pasoepati Japan ; Viking Baraya Japan ; Lanus Japan / Solidaritas Japan ; Paguyuban Pasundan Japan ; Kinarya ; Ruang Kolaborasa ; PPI Nagoya. Tak lupa kami ucapkan terima kasih atas segala budi baik yang telah dihadirkan pada kegiatan Indonesia Week ini. Secara pribadi saya menghaturkan terima kasih kepada Bapak Windu Widjaya & Istri, Bapak Toto Pranoto & Istri, Kang Tubagus Kusumah + Teh Henny Kusumah + Neng Syafira, Alief Bean, Kang Alam Pirman, Kang Aryo, Mba Rahma, Mba Isti, Mba Riri, Mba Reni, Teh Wheny, Kang Jajat, Kang Rifai, Kang Tammy, Bang Aslam, Bang Angge, Bang Zinto, Bang Achank, Alloy, Masami Naruse, Kang Doddy, Mas Agung, Mas Ari, dan Maryanto. Senang bisa berkolaborasi dengan teman-teman semua.

Acara Penutupan Indonesia Week ini ditandai dengan menerbangkan pesawat kertas secara bersama-sama. Sebagai sebuah simbol ajakan bagi masyarakat jepang & turis asing lainnya untuk dapat berkunjung ke Indonesia. Kiranya kegiatan Indonesia Week ini dapat diselenggarakan secara konsisten mengingat inisiatif yang dihadirkan di sini bersifat “People to People”, bukan berasal dari Pemerintah ataupun satu pihak saja. Sehingga kekuatan komunitas dan jejaringnya sangat diperlukan bagi keberlangsungan kegiatan kolaborasi ini. Namun tak ada kunci kesuksesan dalam mencapai tujuan selain menikmati segala proses serta kekurangannya. Sembari tentunya terus mengevaluasi diri secara lebih terbuka. Karena curahan energi, waktu dan semua yang kami lakukan di sini hanyalah demi satu bangsa, demi satu tanah air, Indonesia. Selama hayat masih dikandung badan, tentunya kami senantiasa tak pernah letih untuk tetap mengumandangkan lagu Indonesia Raya ke seluruh pelosok dunia.

***

Since the signing of the Treaty of Peace on January 20, 1958, the diplomatic relations that have existed between Indonesia and Japan post-independence, this year has stepped on the age of 60 years. Although history record the dark story for the memory of our nation at the time of colonization, but the wound was gradually able to be remedied and can be said has now vanished. Especially at this time the fraternal faction between Indonesia & Japan become more solid with the traces of politics, economic footprint, social footprint, and cultural traces left behind.

We also realize that Indonesia is a country with a wealth of nature and human resources are very diverse. The set of potential it has can produce value for the homeland. Because it is supposed Mutiara Khatulistiwa owned this nation must be voiced to the world community. And the country of Japan is one of them considering the historical relationship that has long existed. Therefore, through activities called Indonesia Week, is expected to be the right momentum for the celebration of 60 years of Indonesia-Japan relations.

Indonesia Week is a Collaboration Festival that aims to proclaim Good News about Indonesia to the world. This activity was initiated by “Be Indonesia”, a Collaboration consisting of various representatives of Academics, Community, Media, Government & Creative Workers in the spirit of loving and providing the best for Indonesia. The second Indonesia Week was held in Nagoya City, Japan, below Nagoya TV Tower, in Mochinoki Hiroba (Central Park) area on 28 – 30 April 2018. After the first, Indonesia Week was held in Osaka City, Japan on year 2016.

This Indonesia Week event was opened by Dr. Toto Pranoto as the Board of Trustees of Be Indonesia & FEB University Management Institute of Indonesia, Windu Widjaya as Director of Be Indonesia and Chairman of 2nd Indonesia Week 2018, Arifin Tasrif as Ambassador of Indonesia in Tokyo, and Ohmura Hideaki as Governor of Aichi, Japan. Me as Creative Director of Indonesia Week activities, concocted some creative activity content in the form of Intimate Concert; Story Telling Performances; Culinary Bazaar; Live Cooking Demo; Community Parade; Edu Talkshow; Indonesia Green Action For Nagoya; Indonesian Embassy of Tokyo Public Service & Travel Fair. The opening of Indonesia Week is marked by sounding othok-othok together. Othok-othok itself is a traditional toy object from Indonesia made of bamboo and issued a distinctive sound when played. The sound produced from othok-othok is expected to be a symbol of the voice of togetherness & brotherhood between Indonesia-Japan.

A number of collaborators who appear on the event looks very enthusiastic with tens of thousands of visitors who crowded this activity for 3 days. From Indonesia served by Indonesia Rock Star Empire (Isa Raja, Aria Baron, Sandy & Trisnoize Pas Band); Fashion Show by Doni Rahman; Malang Amore Carnival; Pasambahan Dance, Payuang Dance, Rampak Baindang Dance & Hoyak Gandang Nan Batingkah Dance from West Sumatra; Remong Dance, Ronggeng Nyenyrik Dance & Gandrung Marsan Dance from Malang ; Mojang Priangan Dance from Cianjur; Pencak Silat Gajah Putih ; Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate ; and Eka Kapti Dance from ChiKieZie. While from Japan are served by Sleaze Party (Tecchan, Masaya, Yuika, Kaorin, Max, Aska & Natsuo); Swamp Water (Toshimi Tsuruta & Takashi); Sugiyama Kyoko; Matsumoto Machiko (Washoku Cooking Instructor); Rejang Sari Dance from Taro Bali Masami San. The overall atmosphere of this activity grew warmer with the appearance of the Indonesia-Japan Band Festival namely Tokyo Parahyangan Culture, YLKN, Heaven Soul, Stay Clasy, 42L, Kaizu, The Crew, Shinyu, God Slave, FS Band, Agung + The Crew, Rina + The Crew.

Indonesia Week is supported by the Ministry of Tourism Republic of Indonesia ; Ministry of Communication & Information Republic of Indonesia ; The Ministry of Trade of the Republic of Indonesia ; Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Osaka ; Indonesian Embassy of Tokyo; Indonesia Creative Cities Network (ICCN) ; Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) ; West Sumatera Provincial Government ; Government of Cianjur Regency ; Government of Bekasi Regency ; Mandiri Bank ; Sarinah; Asgar Clan Japan ; Cianjur Jago ; Emhecee; Ikatan Pengusaha Kenshuusei Indonesia (IKAPEKSI); IPI Japan ; Pasoepati Japan ; Viking Baraya Japan ; Lanus Japan / Solidaritas Japan ; Paguyuban Pasundan Japan ; Kinarya ; Ruang Kolaborasa ; PPI Nagoya. Not forgetting, we thank you for all the good things that have been presented in this Indonesia Week activity. Personally I would like to thank Mr. Windu Widjaya & Wife, Mr. Toto Pranoto & Wife, Kang Tubagus Kusumah + Henny Kusumah + Neng Syafira, Alief Bean, Kang Alam Pirman, Kang Aryo, Rahma Mba, Mba Isti, Mba Riri, Mba Reni, Wheny Tea, Kang Jajat, Kang Rifai, Kang Tammy, Bang Aslam, Bang Angge, Bang Zinto, Bang Achank, Alloy, Masami Naruse, Kang Doddy, Mas Agung, Mas Ari, and Maryanto. Glad to be collaborating with all friends.

The Closing event of Indonesia Week is marked by flying paper airplanes together. As a symbol of invitation for Japanese society & other foreign tourists to be able to visit Indonesia. Indonesia Week activities can be held consistently considering the initiatives presented here are “People to People”, not from the Government or one party only. So that the strength of the community and its network is indispensable for the sustainability of this collaborative activity. But there is no key to success in achieving the goal in addition to enjoying all the processes and shortcomings. While of course continue to evaluate themselves more openly. Because of the energy, time, and all that we do here is for the sake of one nation, for the sake of one homeland, Indonesia. During the life still contained the body, of course we always never tired to keep echoing Indonesia Raya songs to all corners of the world.

DSCF5518

DSCF5571

DSCF5580

DSCF5602

DSCF5635

DSCF5665

DSCF5684

DSCF6293

DSCF6306

DSCF6655

DSCF6317

DSCF5896

DSCF5938

DSCF5994

DSCF6460

DSCF5903

DSCF5905

DSCF7393

DSCF6706

DSCF7492

DSCF6030

DSCF6326

DSCF7430

DSCF7271

DSCF7428

DSCF6368

DSCF6365

DSCF6531

DSCF6689

DSCF6760

DSCF6728

DSCF6807

DSCF6862

DSCF6837

DSCF6867

DSCF6855

DSCF6906

DSCF6993

DSCF7063

DSCF7097

DSCF7134

DSCF7158

DSCF7184

DSCF6395

DSCF7209

DSCF7278

DSCF6908

DSCF7601

DSCF7617

DSCF7676