Inilah Anfield, Kita Adalah Liverpool
Teks & Foto : galih sedayu
Tatkala memasuki Anfield Stadium untuk pertama kalinya, rasa takjub pun langsung melekat di hati karena saya bagaikan berada di sebuah dunia lain yang amat sangat keramat. Betapa tidak, stadion yang dibangun sejak tahun 1884 ini merupakan salah satu stadion bola tertua di Inggris. Stadion yang terletak di kota Liverpool, Marseyside, Inggris ini berjarak sekitar 3 kilometer dari Stasiun Kereta Liverpool Lime Street. Anfield Stadium sejak lama telah menjadi markas utama legenda klub sepakbola Inggris, Liverpool F.C yang berdiri sejak tahun 1892, meskipun pada awalnya stadion ini adalah markas dari klub sepakbola kota Liverpool lainnya yakni Everton. Anfield Stadium sendiri dirancang oleh seorang Arsitek terkenal yang bernama Archibald Leitchd. Pada saat membangun stadion ini, Sang Arsitek sengaja meletakkan lampu berwarna merah dan putih di setiap sisi stadion yang menjadi keunikannya dan lampu tersebut biasanya dinyalakan pada malam hari. Saat ini Anfield Stadium memiliki sempat buah tribun yaitu The Spion Kop, Main Stand, Anfield Road, dan Kenny Dalglish Stand, serta dapat menampung penonton sebanyak 54 ribu lebih.
Sesaat setelah memasuki gerbang pagar Anfield Stadium, patung manajer legendaris Liverpool periode 1959-1974, Bill Shankly terlihat menyambut kedatangan pengunjung di depan logo besar The Kop. Patung perunggu setinggi 2,4 meter ini didirikan pada tanggal 3 Desember 1997 yang menggambarkan Bill Shankly dengan pose terkenal yang ia lakukan ketika menerima tepuk tangan dari para penggemarnya. Di bawah patung ini tertulis kalimat “Bill Shankly – He Made The People Happy”. Patung ini memang layak berdiri kokoh di sana karena di bawah besutan manajer legendaris inilah, klub berjuluk ”The Reds” tersebut berhasil meraih 31 dari 63 piala bergengsi sepakbola.
Di luar stadion juga terdapat tugu peringatan tragedi Hillsborough yang selalu dihiasi dengan karangan bunga sebagai bentuk penghormatan kepada 96 orang suporter Liverpool yang tewas terjepit di antara penonton saat menyaksikan laga semifinal Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest pada tanggal 15 April 1989. Kemudian di luar stadion ini hadir pula patung John Houlding yang mengenakan seragam sebagai walikota di 96 Avenue, dimana ia merupakan tokoh pemilik Anfield Stadium pada saat pertama kali berdiri. Patung perunggu ini berukuran tujuh kaki dan dibuat oleh pematung asli Liverpool bernama Tom Murphy, yang juga merupakan pembuat patung Bill Shankly.
Bila kita masuk ke dalam stadion Anfield, kita akan banyak menemukan berbagai artefak visual dan ruang-ruang bersejarah perihal Liverpool F.C. Dari mulai himpunan bendera besar yang bertuliskan “Liverpool the Cream of Europe” ataupun “Liverpool FC Make the People Happy”. Hingga ke ruang ganti pemain dengan deretan kostum yang ditata sesuai tempat duduk pemain, dimana kaos para pemain tergantung rapi di tiga sisi dinding ruangan yang didominasi warna merah. Kemudian sebelum menuju lapangan hijau, terdapat lorong dengan sebuah plakat bergambar lambang Liverpool FC di dinding yang bertuliskan ”This Is Anfield”. Tulisan itu sendiri sesungguhnya memberi pesan peringatan sekaligus upaya intimidasi kepada pemain lawan bahwa mereka sedang bermain di kandang Liverpool FC.
Tak heran memang bila daya magnet Anfield Stadium ini dapat menarik pengunjung dari seluruh penjuru dunia untuk menginjakkan kakinya di sana. Bagi penganut agama sepakbola, mengunjungi Anfield tentunya ibarat melakukan ziarah ke tanah suci. Karena di tempat itulah berbagai doa dan harapan senantiasa dipanjatkan atas ribuan kisah manusia dengan berbagai ceritanya dalam nama sepakbola. Dan bagi saya, satu keajaiban yang paling sangat dirasakan tatkala datang ke Anfield Stadium ini adalah bahwa kita tak akan pernah merasa sendirian. This is Anfield, We are Liverpool.
Liverpool, 1 & 3 September 2019

























































Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
JOKER | Belantara Para Pecundang
Oleh : oscar motuloh
“I used to think that my life was a tragedy, but now I realize, it’s a comedy” -Arthur Fleck
Dalam persimpangan karir sebagai badut jalanan, Arthur Fleck, meniti langkah di atas puluhan undak anak tangga untuk menghantarnya ke dunia yang membelah masyarakat kota besar dalam ketakberdayaan pada strata kasta-kasta. Kalangan petinggi macam calon walikota, triliuner Thomas Wayne, dan kawula tikus got seperti; ibu, satu perangkat televisi, dan dirinya. Orang-orang marjinal yang tersudutkan di sepetak apartemen kusam kota Gotham. Megapolis yang kali ini terasa lebih gelap, pengab dipenuhi bau busuk dari tumpukan sampah-sampah di seantero sudut-sudut kota.
Dengan wajah tertunduk, tatapan hampa tak berbinar, disertai memar disana sini, Fleck menjinjing makanan dalam kertas kresek coklat untuk ibu, penderita delusi akut, namun dirawatnya dengan penuh kasih sayang. Pengarah kamera Lawrence Sher, teman seangkatan sutradara Todd Philips yang telah langganan bekerjasama, mengeksploitasi drama keberadaan undak tangga yang menghubungkan dua simbol kawasan itu dengan maksimal dan inspiratif. Dari sana ritme kehidupan datang dan pergi, naik dan turun seperti komedi kehidupan para antagonis yang berputar melawan jarum jam.
Sher memajang kamera sejajar pandangan, membiarkan Fleck meniti anak tangga pertama di kawasan 1150 Anderson Avenue, hingga siluetnya mengecil di ujung di atas sana. Kamera kemudian cut to ke undak tangga teratas, menanti wajah muram yang perlahan muncul dalam jangkauan kamera, perlahan sosoknya terlihat, sampai menyapa kaki Fleck melangkah gontai di atas aspal W 167th street, Bronx, New York. Philips tak memerlukan banyak upaya untuk menyulap lokasi itu ke dalam setting 1980-an, sebagaimana wajah Gotham City yang keburu melekat dalam ekspektasi kita.
Secara metafora, pada titian undak tangga ini, tonggak periodesasi tiga babak kehidupan Fleck ditakdirkan. Temaram senja menggiring langkah Fleck ke barat, di mana lokasi apartemen buramnya berada. Tempat yang menyimpan banyak kepingan gelap dalam kehidupan Fleck, sang badut malang dengan rangkaian nahas yang datang silih berganti. Dari sini awal mula pembabakan kisah gelap ini menggelinding. Kisah yang berangkat dari sudut pandang orang-orang pinggiran seperti Fleck dan ibunya.
Periode kedua adalah ketika Fleck melakukan pembunuhan perdana menggunakan pistol pemberian Randall, mitra kerja Fleck yang muna dan culas. Dalam posisi terdesak Fleck secara refleks menghabisi nyawa ketiga pegawai Thomas Wayne yang sebelumnya membully Fleck dengan brutal. Periode klimaks adalah babak penutup saat Fleck menarikan gerak koreografi yang ganjil, seraya menuruni tangga terjal, diiringi komposisi Rock’n’Roll (part 2) Gary Glitter, rocker medioker yang sekarang masih mendekam di bui karena fedofilia.
Di atas anak tangga demi anak tangga itu, Fleck menemukan janin identitasnya sebagai villain sejati kota Gotham. Sebentar lagi namanya akan menjelma sebagai Joker dalam Murray Franklin Show, sesuai permintaannya kala ditawari tampil sebagai bintang tamu dalam acara tv favorit masyarakat Gotham yang disiarkan ke seantero kota secara langsung. Sebelum dialog berakhir dengan pesan sponsor Murray agar Fleck menjaga etika penampilan dalam siaran langsung, Fleck sempat memanggil Franklin, begini percakapannya; Fleck: “Murray, satu permintaan kecil?”/Murray: “Ya?”/Fleck: “Bisakah kau memanggilku sebagai Joker, saat kau memperkenalkan aku di panggung?”.
Gotham menjelang gelap, Fleck tiba tepat waktu setelah pembunuhan agen polisi di subway. Di belakang panggung studio TV terlihat dirinya bersiap naik pentas. Layar terbuka, kamera mengarahkan lensa ke kerumunan penonton, deja vu Rupert Pupkin (Robert de Niro, King of Comedy, 1982) seolah tampil di arena. Tepuk tangan bergema saat Murray Franklin (Robert de Niro) memperkenalkan Fleck sebagai Joker.
Showtime!
Awalnya semua berjalan mulus, sampai Joker mengungkap alasannya membunuh tiga anak buah Thomas Wayne di sub beberapa hari silam. Gema tawa masih terdengar dari kerumunan penonton, perlahan keganjilan mulai terlihat, tiba detik-detik percakapan yang memperlihatkan Murray mulai kesal; Murray : “Saya rasa semua ini harus disudahi, sekarang, terima kasih”/Joker (dengan nada keras) : “….penyendiri yang sakit mental dengan masyarakat yang meninggalkannya, dan kau memperlakukannya seperti sampah?”/Murray (dengan nada sok kalem) : “Panggil polisi, Gene, panggil Polisi”/Joker (berdiri sambil berteriak) : ”Rasakan apa yang bakal kau terima ”/”Kau akan mendapatkan apa yang pantas kau dapatkan, jahanam!”.
Sekonyong-konyong pistol Joker telah terarah ke kening Murray. Ledakan terdengar satu kali. Cukup untuk menghempaskan komika favorit Gotham itu tewas seketika dengan kepala menengadah ke plafon studio, di sandaran kursi pentas acara. Percikan darah muncrat ke wallpaper studio, sebagian lainnya ke wajah dan rompi sang badut yang sedang murka. Satu tembakan lagi dilepaskan Joker dengan amarah ke dada mayat sang idola. Mimik dan mata berbinar puas terlihat di wajahnya. Semua terpana, siaran langsung terus mengudara, meracuni para pengunjuk rasa yang semakin bersemangat turun ke jalan.
Gotham mulai terbakar. Pesta-pesta mewah di kota bubar, orang-orang kaya kota terlihat berlarian berhamburan keluar guna menyelamatkan diri, termasuk pasangan Thomas Wayne dan bocah semata wayangnya, Bruce. Dalam kegelapan kota, salah seorang dari ribuan pria bertopeng badut, mengejar dan kemudian menembak mati Thomas dan istrinya, Bruce hanya dapat terperanjat dalam ketakutan yang luar biasa, sebelum dia berlutut menangisi jasad kedua orang tua yang tergeletak di aspal basah kota yang lumat oleh amarah. Lamat-lamat suara gumam dan umpatan warga, sirene, dan desing peluru masih terdengar lirih di latar belakang.
Pentas Philips sesungguhnya telah berakhir di sini, panggung yang memperlihatkan close-up wajah nelangsa Bruce. Bruce Wayne adalah bocah yang dikemudian hari menjadi seteru abadi Joker, sang Pangeran Kegelapan kota Gotham.
Gotham adalah New York 1980-an, megapolis dunia. New York merupakan backdrop simbol preokupasi dekandensi Amrik sekaligus kisah-kisah sinema para sutradara yang tinggal dan menetap di sana. Termasuk Philips yang memilih melanjutkan tradisi Sidney Lumet – sutradara exile kawakan New York – perihal layar latar tersebut. Lumet adalah sokoguru pembesut sinema AS (New York) seraya menolak memasukkan Hollywood sebagai peta kiblat kreativitas mereka. Sinema New York adalah khas, disana sinema beroleh rohnya sebagai rumahnya seni peran.
Rumah para pembesut se alma mater dengan Philips di NYU Tisch School of the Arts, sebut saja; Martin Brest, Woody Allen, Joel Coen, Jim Jarmusch, Oliver Stone, Spike Lee, dan tentu saja Martin Scorsese (pra-Hollywood). Philip dilahirkan di Brooklyn, New York, 20 Desember 1970. Bersama Sher dia telah bekerjasama untuk trilogi film Hangover (2009, 2011 dan 2013) yang sempat masuk kategori box office. Joker yang diproduksi dengan biaya sekitaran 55 juta dolar AS, berhasil meraup 96,202,337 juta dolar AS pada pekan pertama peluncurannya di AS saja. Sementara kumulatif pendapatan dari penonton secara global, terhimpun 248, 402,337 juta dolar AS. Saat ini (per 7 Oktober) Joker merajai box office versi Mojo.
Sementara Joaquin Phoenix, aktor kelahiran San Juan, Puerto Rico 28 Oktober 1974 itu sendiri sudah tiga kali meraih nominasi Oscar sepanjang karirnya di pentas perfilman, tanpa sekalipun mampu meraihnya. Karirnya selalu hanya dalam bayang-bayang sang kakak, mendiang River Phoenix, idola sinema Amrik yang wafat dalam usia muda (23) karena OD. Namun usai tampil premio dalam Joker besutan Philips, Phoenix bakal tak terbendung lagi untuk meraihnya kali ini. Joker adalah ujian sesungguhnya bagi seni peran.
Di penayangan salah satu ajang bergengsi, Venice Film Festival, Joker beroleh standing ovation sepanjang delapan menit! Joker pantas diapresiasi karena dia memanjakan cerita, mata dan telinga (musik arahan komposer muda Islandia, Hildur Gudnadottir). Jauh dari film superhero terdahulu yang kerap menistakan cerita dengan hanya mengandalkan teknologi untuk menghibur penonton. Layar dipenuhi scene CGI dan spesial efek lain yang sesungguhnya garing dan membosankan.
Philips berani memelintir pakem dengan meninggalkan pokok pikiran Alan Moore pencipta Killing Joke (DC comics, 1988) yang menjadi akarmula keberadaan Joker. Di tangan Philips yang juga adalah penulis tangguh dalam menggodok tafsir adaptasi Joker bersama Scott Silver, membuat para penggemar berat Joker (dan juga Batman tentunya) hanya bisa menggigit jari. Philips berhasil memandirikan Arthur Fleck sebagai Joker. Dia tak mempertemukan Joker dengan bebuyutannya, Batman seperti dalam komik Moore. Joker berdikari. Dia entitas merdeka sebagai villain yang berdaulat. Penjahat psikopat dalam arti sebenarnya.
Pelintiran Philips bahkan melampaui kenekatan Quentin Tarantino yang membunuh Hitler dalam bioskop yang sengaja dibakar (“Inglorious Basterds” 2009). Meskipun adalah keliru melihat Joker sebagai film yang memamerkan kekerasan, bahkan sampai dikritik pedas oleh sejumlah kalangan yang menginginkan agar film itu dilarang ditayangkan di AS karena dianggap dapat merangsang kekerasan yang dapat dicontoh anak anak muda. Joker justru mengingatkan pada kita bagaimana negara bisa gagal dan hanya menambah jumlah generasi anarkis dan radikal.
Saat pekan lalu Joker mulai tayang perdana di tanah air, aroma gas air mata dan percik kembang api unjuk rasa Senayan masih sengit dalam ingatan. Masih jelas terbayang siluet pasukan anti huru hara bertopeng dan gerakan pemuda yang menutup muka dengan balaclava dan selendang berwarna gelap berbaur dengan gerombolan kriminal jalanan ikutan meneriakkan tuntutan mereka. Darinya kita dapat merasakan deja vu scene kerusuhan Gotham di penghujung Joker, dengan relevansinya pada kenyataan politik kita yang lebih amburadul ketimbang Gotham secara konten.
Hidup adalah pilihan, bayangan pijar lampu berlalu dalam malam brutal kota Gotham. Lamat-lamat secara faded in, komposisi trio Cream, White Room memenuhi ruang; “In the white room with black curtains near the station/Black roof country no gold pavement/Tired starlings/Silver horses ran down moonbeams in your dark eyes/Dawnlight smiles on you leaving/My contentment/I’ll wait in this place where the sun never shines/Wait in this place where the shadows run from them selves.
Dalam Ruang Putih itu, kita tersadarkan bahwa penghujung verbal film telah tiba. Pertanyaan sama berulang-ulang yang disampaikan terapis perempuan berkulit hitam, kembali menggaung dalam waktu yang lain. Joker kini tampil dengan pede, dalam statusnya sebagai psikopat yang akut, kita melihat dia melangkah keluar ruangan dengan jejak merah di kakinya. Sudahlah, jika itu yang dikehendaki sutradara, maka tetap, inilah adaptasi twist terbaik sepanjang sejarah film-film yang diangkat dari karakter dua entitas dalam komik AS, Marvel dan DC comics.
Sementara itu di pinggiran surga abadi, dua aktor itu mengangkat cawan mereka masing-masing. Tanpa rias panggung mereka bercakap secara imajiner di hari-hari yang abadi. “Beruntung aku memaksa Joaquin menonton Raging Bull (Martin Scorsese, 1980) dalam dua hari berturut-turut, dan mengingatkannya bahwa, jangan pernah berhenti berakting”, ujar River Phoenix mengenang adiknya, Joaquin yang sempat putus asa untuk melanjutkan karirnya di pentas sinema.
Heath Ledger terlihat tersenyum mendengarnya, “mari kita bersulang untuk keberhasilan adikmu melanjutkan kisahku sebagai Joker, film yang membuatku berada di sini, menemanimu”, katanya kepada River. “Angkat cawanmu, kawan. kampai!”, ujar mereka berdua seraya membenturkan cawan-cawan anggur masing-masing, lalu menandaskannya dalam sekali teguk. Komposisi standar Smile, mengalun dengan halus, delapan belas anggota orkestra memainkan fungsinya dengan senyum lebar. Di panggung utama tampak Frank Sinatra menyanyikannya secara “live”. Di surga abadi.
Tak perlu ada kreditasi penutup untuk menyudahi sebuah film besar.
Menjala Cahaya Kota London
Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu
Sejauh mata memandang serta ditemani oleh kaki yang berjalan menapaki sebagian sudut ruang Kota London, sedekat ini pula hati senantiasa terhibur karena segala pesona yang dihadirkan di sana. Setiap detik sesaat kamera akan menangkap cahaya, jantung pun serasa berdegup kencang seolah tengah menanti kekasih pujaan yang lama tak bersua dalam adegan keseharian melalui tubuh kota ini.
London yang merupakan ibu kota inggris dan britania raya ini memang layak dijuluki sebagai kota kreatif dunia. Kota tua yang yang telah menjadi pemukiman utama selama dua milenium sejak didirikan oleh Romawi pada abad ke-1 dengan sebutan Londinium, kini menjelma menjadi pusat pendidikan terbesar di eropa yang memiliki lebih dari 40 universitas. Kota megah yang berdiri kokoh di sepanjang Sungai Thames ini memiliki keunggulan kelas dunia di berbagai bidang diantaranya kesenian, bisnis, hiburan, kesehatan, mode, pariwisata, transportasi, dan media.
Jaringan kereta api bawah tanah (underground) yang dimiliki Kota London merupakan jejak peninggalan yang tertua di dunia. Rumah penduduk zaman Victoria yang masih ditinggali pun tersebar di berbagai belahan Kota London. Belum lagi berbagai bangunan sejarah yang dengan indahnya menghiasi kota, turut menciptakan karakter Kota London sebagai Kota Heritage Dunia.
Sebagai orang yang baru pertama kali menghirup udara di Kota London, kesan modern dan kuno bercampur aduk menjadi satu dalam kasat mata awam. Pemandangan di depan Buckingham Palace penuh dengan turis-turis dari berbagai negara yang ingin menyaksikan istana megah yang dihuni oleh Ratu Inggris Elizabeth beserta atraksi Penjaga Ratu (Queen’s Guard). Tentara inggris yang mengenakan seragam berwarna merah menyala, celana panjang hitam dengan topi hitam besar yang ditutupi dengan kulit beruang asli ini, menjadi penjaga istana dengan berdiri tegak sambil sesekali berjalan dengan gerakan berbaris di depan pintu istana.
Kota London juga memiliki situs warisan dunia yang bernama Tower Bridge dengan ukuran panjang 244 m dan tinggi 65 m. Jembatan dengan gaya arsitektur khas Victoria ini menjadi salah satu ikon Kota London yang menopang sebuah jalan raya yang melintasi Sungai Thames. Setiap tahunnya lebih dari 600.000 orang dari seluruh penjuru dunia datang mengunjungi lambang kemegahan Kota London tersebut.
Selain itu Kota London masih menyimpan berbagai destinasi wisata yang sangat menarik. Sebut saja dari mulai British Museum, museum terbesar di dunia yang menyimpan barang-barang artefak dari seluruh penjuru dunia ; Trafalgar Square, alun-alun terbesar dan terkenal di London ; Camden Market, kawasan belanja dengan harga barang yang murah ; China Town, pusat kuliner Cina & Asia ; St. Anne’s Churchyard, sebuah taman untuk umum yang disebut juga St. Anne’s Gardens ; hingga Stamford Bridge, markas besar klub sepakbola Chelsea.
Ingin sekali rasanya berdansa lebih lama bersama waktu di sana. Sembari mensyukuri betapa agung karya ciptaan-Nya. Langit, buana semesta, beserta udara yang kuhirup bersama mentari. Terima kasih kepada cahaya yang telah menuntunku ke sana. Kiranya ada masa yang akan membawaku kembali dalam ribuan kenangan itu.
London – England, 30-31 August & 7 September 2019





























































Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
“Who Wants To Live Forever” | A Photography Project by galih sedayu
Pada mulanya peradaban.
Peradaban yang mewariskan jejak karya.
Karya agung manusia yang meniru arsitek Semesta.
Semesta memberi berkat dan terang.
Terang agar menjadi saksi bisu sejarah.
Sejarah adalah guru sejati bagi waktu.
Waktu berjalan merangkai kisah dan cerita.
Cerita konservasi dan edukasi bagi semua.
Semua insan agar sadar dan merasa memiliki.
Memiliki sebuah artefak kebudayaan yang luhur.
Luhur dan mulia sehingga harumnya abadi.
Abadi dalam diam namun senantiasa tegak berdiri.
***
In the beginning was civilization.
Civilization that give us a creation.
Creation that imitating the architect of Universe.
Universe give us the blessing and the light.
Light to be a silent witness to history.
History was a true teacher of time.
Time goes by assembling stories.
Stories about conservation and education for all.
All of us to be aware and feel belonging .
Belonging a cultural artifact that so great.
Great and noble so that the fragrance will last forever.
Forever in silence but always standing still.
***
Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu
Thanks to Queen for the Inspiring Song, “Who Wants To Live Forever”
#17KaryaFoto #17Photographs

“Larantuka Kingdom” | Larantuka, Flores Island, Indonesia | 5 October 2022

“Reinha Rosari Church” | Larantuka, Flores Island, Indonesia | 4 October 2022

“Rumah Marga Tjhia (1901)” | Singkawang, West Kalimantan, Indonesia | 5 October 2021

“Taman Ujung / Sukasada (1909)” | Karangasem, Bali, Indonesia | 28 November 2020

“Gereja Batu / Santo Willibrordus (1523)” | Ternate, North Maluku, Indonesia | 19 December 2019

“St. Anne’s Churchyard (1677-1686)” | Wardour Street, London, United Kingdom | 7 September 2019

“Blewcoat School (1709)” | Caxton Street, London, United Kingdom | 7 September 2019

“Pier Head: The Liver Building (1771)” | Liverpool, United Kingdom | 3 September 2019

“Benteng Kastela (1522)” | Ternate, North Maluku, Indonesia | 17 November 2018

“Benteng Tolukko (1540)” | Ternate, North Maluku, Indonesia | 17 November 2018

“Gereja Katholik Bebas (1920)” | Banda Street, Bandung, West Java, Indonesia | 11 August 2018

“Dakken Cafe (1930)” | Bandung, West Java, Indonesia | 18 June 2014

“Keraton Surakarta Hadiningrat (1744)” | Surakarta, Central Java, Indonesia | 4 March 2014

“Gedung Gas Negara (1930)” | Bandung, West Java, Indonesia | 15 November 2012

“Taman Sari Keraton Yogyakarta (1758-1765)” | Yogyakarta, Central Java, Indonesia | 12 October 2011

“Taman Sari Keraton Yogyakarta (1758-1765)” | Yogyakarta, Central Java, Indonesia | 12 October 2011

“Vila Isola (1933)” | Setiabudi Street, Bandung | 4 February 2008
Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
“It’s Oh So Quiet” | A Photography Project by galih sedayu
Pada mulanya berjalan.
Berjalan menapaki ruang interaksi manusia.
Manusia pun tak selalu mesti terlihat.
Terlihat hadir kadang menjadi jenuh.
Jenuh karna ada kalanya kita butuh ketenangan.
Ketenangan batin yang cukup hanya merasakan.
Merasakan bagaimana kosong bukan berarti hampa.
Hampa dari makna dan arti sebuah waktu.
Waktu terus berputar meniru bumi.
Bumi sebagai tempat menumbuhkan peradaban.
Peradaban mengubah pikiran dan pengetahuan.
Pengetahuan abadi bahwa jiwa akan senantiasa ada.
***
In the beginning was walking.
Walking through the interaction space of human.
Human is not always to be seen and looks.
Looks sometime can be bored.
Bored because all we need is peace.
Peace that only feels.
Feels how a blank doesn’t mean empty.
Empty for meaning of time.
Time keeps turning just like the earth.
Earth as a place to grow civilization.
Civilization can change a mindset and knowledge.
Knowledge that the soul will always exist eternally.
***
Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu
Thanks to Bjork for the Inspiring Song, “It’s Oh So Quiet”
#12KaryaFoto #12Photographs

Kupang, East Nusa Tenggara, Indonesia | 29 March 2022

Singkawang, West Kalimantan, Indonesia | 5 October 2021

Albert Dock, Liverpool, United Kingdom | 4 September 2019

Manchester, United Kingdom | 31 August 2019

Sanur, Bali, Indonesia | 19 August 2014

Malioboro, Jogjakarta, Indonesia | 20 August 2014

Malioboro, Jogjakarta, Indonesia | 20 August 2014

Malioboro, Jogjakarta, Indonesia | 20 August 2014

Penang, Malaysia | 3 August 2014

Solo, Indonesia | 5 March 2014

Ubud, Bali, Indonesia | 9 March 2013

Museum Sunda Kelapa, Jakarta, Indonesia | 13 March 2008
Salam Pesona Kota Nagoya
Teks & Foto : galih sedayu
Nagoya, kota terbesar keempat di negara Jepang setelah Tokyo, Yokohama, dan Osaka dalam jumlah penduduk ini memang menawarkan sebuah pesona tersendiri. Ibukota dari Prefektur Aichi ini letaknya di sekitar pesisir Samudra Pasifik Wilayah Chubu. Lokasi Nagoya menjadi strategis karena berada di antara Kota Tokyo & Kyoto. Beruntung saya bisa melangkahkan kaki di sana dan beroleh kesempatan untuk merekam denyut jantung Kota Nagoya yang sangat teratur. Kota yang bersih, bangunan yang sangat terawat, serta beragam makanan lezat yang dijajakan menjadikan saya kerasan untuk menghuni kota ini meski hanya beberapa saat saja. Tak seperti di Indonesia, kawanan burung gagak hitam yang dibiarkan hidup liar di kota ini tidak menjadikan Nagoya berkesan angker. Citra polisi pun menjadi lebih terhormat dan tidak mengintimidasi karena mereka hanya menggunakan sepeda saat melakukan patroli keamanan meski sesungguhnya sangat jarang sekali terjadi tindakan kriminal di sana. Seperti kultur orang jepang pada umumnya, hampir setiap waktu saya melihat aktivitas keseharian warga yang berjalan kaki dan bersepeda. Sesekali saya menangkap momen warga yang menggembalakan anjing piarannya di pagi hari. Di Nagoya saya seperti menghirup oksigen bersih tanpa polusi asap maupun polusi suara. Dan akhirnya hanya kalimat ini yang pantas menjadi penutup cerita singkatnya. Ke Nagoya aku kan kembali.
Nagoya, Jepang ; Februari, April, Mei 2018


















































Copyright (c) 2018 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Jejak Kreativitas Wawan Juanda

“GELAR KRIYA KULIT JAWA BARAT”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Gedung Sate, Bandung, 8 Agustus 2010

“GELAR BATIK JAWA BARAT”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Gedung Sate, Bandung, 3 Juli 2010

“SPICE FEST”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Gedung Sate, Bandung, 8 Desember 2007

“BRAGA FESTIVAL”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Braga, Bandung, 28 Desember 2006

“MAD QUARTER MUSIC FESTIVAL”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Bumi Sangkuriang, Bandung, 17 September 2006

“BRAGA FESTIVAL”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Braga, Bandung, 30 Desember 2005

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.



