I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘oscar motuloh

JOKER | Belantara Para Pecundang

leave a comment »

Oleh : oscar motuloh

“I used to think that my life was a tragedy, but now I realize, it’s a comedy” -Arthur Fleck

Dalam persimpangan karir sebagai badut jalanan, Arthur Fleck, meniti langkah di atas puluhan undak anak tangga untuk menghantarnya ke dunia yang membelah masyarakat kota besar dalam ketakberdayaan pada strata kasta-kasta. Kalangan petinggi macam calon walikota, triliuner Thomas Wayne, dan kawula tikus got seperti; ibu, satu perangkat televisi, dan dirinya. Orang-orang marjinal yang tersudutkan di sepetak apartemen kusam kota Gotham. Megapolis yang kali ini terasa lebih gelap, pengab dipenuhi bau busuk dari tumpukan sampah-sampah di seantero sudut-sudut kota.

Dengan wajah tertunduk, tatapan hampa tak berbinar, disertai memar disana sini, Fleck menjinjing makanan dalam kertas kresek coklat untuk ibu, penderita delusi akut, namun dirawatnya dengan penuh kasih sayang. Pengarah kamera Lawrence Sher, teman seangkatan sutradara Todd Philips yang telah langganan bekerjasama, mengeksploitasi drama keberadaan undak tangga yang menghubungkan dua simbol kawasan itu dengan maksimal dan inspiratif. Dari sana ritme kehidupan datang dan pergi, naik dan turun seperti komedi kehidupan para antagonis yang berputar melawan jarum jam.

Sher memajang kamera sejajar pandangan, membiarkan Fleck meniti anak tangga pertama di kawasan 1150 Anderson Avenue, hingga siluetnya mengecil di ujung di atas sana. Kamera kemudian cut to ke undak tangga teratas, menanti wajah muram yang perlahan muncul dalam jangkauan kamera, perlahan sosoknya terlihat, sampai menyapa kaki Fleck melangkah gontai di atas aspal W 167th street, Bronx, New York. Philips tak memerlukan banyak upaya untuk menyulap lokasi itu ke dalam setting 1980-an, sebagaimana wajah Gotham City yang keburu melekat dalam ekspektasi kita.

Secara metafora, pada titian undak tangga ini, tonggak periodesasi tiga babak kehidupan Fleck ditakdirkan. Temaram senja menggiring langkah Fleck ke barat, di mana lokasi apartemen buramnya berada. Tempat yang menyimpan banyak kepingan gelap dalam kehidupan Fleck, sang badut malang dengan rangkaian nahas yang datang silih berganti. Dari sini awal mula pembabakan kisah gelap ini menggelinding. Kisah yang berangkat dari sudut pandang orang-orang pinggiran seperti Fleck dan ibunya.

Periode kedua adalah ketika Fleck melakukan pembunuhan perdana menggunakan pistol pemberian Randall, mitra kerja Fleck yang muna dan culas. Dalam posisi terdesak Fleck secara refleks menghabisi nyawa ketiga pegawai Thomas Wayne yang sebelumnya membully Fleck dengan brutal. Periode klimaks adalah babak penutup saat Fleck menarikan gerak koreografi yang ganjil, seraya menuruni tangga terjal, diiringi komposisi Rock’n’Roll (part 2) Gary Glitter, rocker medioker yang sekarang masih mendekam di bui karena fedofilia.

Di atas anak tangga demi anak tangga itu, Fleck menemukan janin identitasnya sebagai villain sejati kota Gotham. Sebentar lagi namanya akan menjelma sebagai Joker dalam Murray Franklin Show, sesuai permintaannya kala ditawari tampil sebagai bintang tamu dalam acara tv favorit masyarakat Gotham yang disiarkan ke seantero kota secara langsung. Sebelum dialog berakhir dengan pesan sponsor Murray agar Fleck menjaga etika penampilan dalam siaran langsung, Fleck sempat memanggil Franklin, begini percakapannya; Fleck: “Murray, satu permintaan kecil?”/Murray: “Ya?”/Fleck: “Bisakah kau memanggilku sebagai Joker, saat kau memperkenalkan aku di panggung?”.

Gotham menjelang gelap, Fleck tiba tepat waktu setelah pembunuhan agen polisi di subway. Di belakang panggung studio TV terlihat dirinya bersiap naik pentas. Layar terbuka, kamera mengarahkan lensa ke kerumunan penonton, deja vu Rupert Pupkin (Robert de Niro, King of Comedy, 1982) seolah tampil di arena. Tepuk tangan bergema saat Murray Franklin (Robert de Niro) memperkenalkan Fleck sebagai Joker.

Showtime!

Awalnya semua berjalan mulus, sampai Joker mengungkap alasannya membunuh tiga anak buah Thomas Wayne di sub beberapa hari silam. Gema tawa masih terdengar dari kerumunan penonton, perlahan keganjilan mulai terlihat, tiba detik-detik percakapan yang memperlihatkan Murray mulai kesal; Murray : “Saya rasa semua ini harus disudahi, sekarang, terima kasih”/Joker (dengan nada keras) : “….penyendiri yang sakit mental dengan masyarakat yang meninggalkannya, dan kau memperlakukannya seperti sampah?”/Murray (dengan nada sok kalem) : “Panggil polisi, Gene, panggil Polisi”/Joker (berdiri sambil berteriak) : ”Rasakan apa yang bakal kau terima ”/”Kau akan mendapatkan apa yang pantas kau dapatkan, jahanam!”.

Sekonyong-konyong pistol Joker telah terarah ke kening Murray. Ledakan terdengar satu kali. Cukup untuk menghempaskan komika favorit Gotham itu tewas seketika dengan kepala menengadah ke plafon studio, di sandaran kursi pentas acara. Percikan darah muncrat ke wallpaper studio, sebagian lainnya ke wajah dan rompi sang badut yang sedang murka. Satu tembakan lagi dilepaskan Joker dengan amarah ke dada mayat sang idola. Mimik dan mata berbinar puas terlihat di wajahnya. Semua terpana, siaran langsung terus mengudara, meracuni para pengunjuk rasa yang semakin bersemangat turun ke jalan.

Gotham mulai terbakar. Pesta-pesta mewah di kota bubar, orang-orang kaya kota terlihat berlarian berhamburan keluar guna menyelamatkan diri, termasuk pasangan Thomas Wayne dan bocah semata wayangnya, Bruce. Dalam kegelapan kota, salah seorang dari ribuan pria bertopeng badut, mengejar dan kemudian menembak mati Thomas dan istrinya, Bruce hanya dapat terperanjat dalam ketakutan yang luar biasa, sebelum dia berlutut menangisi jasad kedua orang tua yang tergeletak di aspal basah kota yang lumat oleh amarah. Lamat-lamat suara gumam dan umpatan warga, sirene, dan desing peluru masih terdengar lirih di latar belakang.

Pentas Philips sesungguhnya telah berakhir di sini, panggung yang memperlihatkan close-up wajah nelangsa Bruce. Bruce Wayne adalah bocah yang dikemudian hari menjadi seteru abadi Joker, sang Pangeran Kegelapan kota Gotham.

Gotham adalah New York 1980-an, megapolis dunia. New York merupakan backdrop simbol preokupasi dekandensi Amrik sekaligus kisah-kisah sinema para sutradara yang tinggal dan menetap di sana. Termasuk Philips yang memilih melanjutkan tradisi Sidney Lumet – sutradara exile kawakan New York – perihal layar latar tersebut. Lumet adalah sokoguru pembesut sinema AS (New York) seraya menolak memasukkan Hollywood sebagai peta kiblat kreativitas mereka. Sinema New York adalah khas, disana sinema beroleh rohnya sebagai rumahnya seni peran.

Rumah para pembesut se alma mater dengan Philips di NYU Tisch School of the Arts, sebut saja; Martin Brest, Woody Allen, Joel Coen, Jim Jarmusch, Oliver Stone, Spike Lee, dan tentu saja Martin Scorsese (pra-Hollywood). Philip dilahirkan di Brooklyn, New York, 20 Desember 1970. Bersama Sher dia telah bekerjasama untuk trilogi film Hangover (2009, 2011 dan 2013) yang sempat masuk kategori box office. Joker yang diproduksi dengan biaya sekitaran 55 juta dolar AS, berhasil meraup 96,202,337 juta dolar AS pada pekan pertama peluncurannya di AS saja. Sementara kumulatif pendapatan dari penonton secara global, terhimpun 248, 402,337 juta dolar AS. Saat ini (per 7 Oktober) Joker merajai box office versi Mojo.

Sementara Joaquin Phoenix, aktor kelahiran San Juan, Puerto Rico 28 Oktober 1974 itu sendiri sudah tiga kali meraih nominasi Oscar sepanjang karirnya di pentas perfilman, tanpa sekalipun mampu meraihnya. Karirnya selalu hanya dalam bayang-bayang sang kakak, mendiang River Phoenix, idola sinema Amrik yang wafat dalam usia muda (23) karena OD. Namun usai tampil premio dalam Joker besutan Philips, Phoenix bakal tak terbendung lagi untuk meraihnya kali ini. Joker adalah ujian sesungguhnya bagi seni peran.

Di penayangan salah satu ajang bergengsi, Venice Film Festival, Joker beroleh standing ovation sepanjang delapan menit! Joker pantas diapresiasi karena dia memanjakan cerita, mata dan telinga (musik arahan komposer muda Islandia, Hildur Gudnadottir). Jauh dari film superhero terdahulu yang kerap menistakan cerita dengan hanya mengandalkan teknologi untuk menghibur penonton. Layar dipenuhi scene CGI dan spesial efek lain yang sesungguhnya garing dan membosankan.

Philips berani memelintir pakem dengan meninggalkan pokok pikiran Alan Moore pencipta Killing Joke (DC comics, 1988) yang menjadi akarmula keberadaan Joker. Di tangan Philips yang juga adalah penulis tangguh dalam menggodok tafsir adaptasi Joker bersama Scott Silver, membuat para penggemar berat Joker (dan juga Batman tentunya) hanya bisa menggigit jari. Philips berhasil memandirikan Arthur Fleck sebagai Joker. Dia tak mempertemukan Joker dengan bebuyutannya, Batman seperti dalam komik Moore. Joker berdikari. Dia entitas merdeka sebagai villain yang berdaulat. Penjahat psikopat dalam arti sebenarnya.

Pelintiran Philips bahkan melampaui kenekatan Quentin Tarantino yang membunuh Hitler dalam bioskop yang sengaja dibakar (“Inglorious Basterds” 2009). Meskipun adalah keliru melihat Joker sebagai film yang memamerkan kekerasan, bahkan sampai dikritik pedas oleh sejumlah kalangan yang menginginkan agar film itu dilarang ditayangkan di AS karena dianggap dapat merangsang kekerasan yang dapat dicontoh anak anak muda. Joker justru mengingatkan pada kita bagaimana negara bisa gagal dan hanya menambah jumlah generasi anarkis dan radikal.

Saat pekan lalu Joker mulai tayang perdana di tanah air, aroma gas air mata dan percik kembang api unjuk rasa Senayan masih sengit dalam ingatan. Masih jelas terbayang siluet pasukan anti huru hara bertopeng dan gerakan pemuda yang menutup muka dengan balaclava dan selendang berwarna gelap berbaur dengan gerombolan kriminal jalanan ikutan meneriakkan tuntutan mereka. Darinya kita dapat merasakan deja vu scene kerusuhan Gotham di penghujung Joker, dengan relevansinya pada kenyataan politik kita yang lebih amburadul ketimbang Gotham secara konten.

Hidup adalah pilihan, bayangan pijar lampu berlalu dalam malam brutal kota Gotham. Lamat-lamat secara faded in, komposisi trio Cream, White Room memenuhi ruang; “In the white room with black curtains near the station/Black roof country no gold pavement/Tired starlings/Silver horses ran down moonbeams in your dark eyes/Dawnlight smiles on you leaving/My contentment/I’ll wait in this place where the sun never shines/Wait in this place where the shadows run from them selves.

Dalam Ruang Putih itu, kita tersadarkan bahwa penghujung verbal film telah tiba. Pertanyaan sama berulang-ulang yang disampaikan terapis perempuan berkulit hitam, kembali menggaung dalam waktu yang lain. Joker kini tampil dengan pede, dalam statusnya sebagai psikopat yang akut, kita melihat dia melangkah keluar ruangan dengan jejak merah di kakinya. Sudahlah, jika itu yang dikehendaki sutradara, maka tetap, inilah adaptasi twist terbaik sepanjang sejarah film-film yang diangkat dari karakter dua entitas dalam komik AS, Marvel dan DC comics.

Sementara itu di pinggiran surga abadi, dua aktor itu mengangkat cawan mereka masing-masing. Tanpa rias panggung mereka bercakap secara imajiner di hari-hari yang abadi. “Beruntung aku memaksa Joaquin menonton Raging Bull (Martin Scorsese, 1980) dalam dua hari berturut-turut, dan mengingatkannya bahwa, jangan pernah berhenti berakting”, ujar River Phoenix mengenang adiknya, Joaquin yang sempat putus asa untuk melanjutkan karirnya di pentas sinema.

Heath Ledger terlihat tersenyum mendengarnya, “mari kita bersulang untuk keberhasilan adikmu melanjutkan kisahku sebagai Joker, film yang membuatku berada di sini, menemanimu”, katanya kepada River. “Angkat cawanmu, kawan. kampai!”, ujar mereka berdua seraya membenturkan cawan-cawan anggur masing-masing, lalu menandaskannya dalam sekali teguk. Komposisi standar Smile, mengalun dengan halus, delapan belas anggota orkestra memainkan fungsinya dengan senyum lebar. Di panggung utama tampak Frank Sinatra menyanyikannya secara “live”. Di surga abadi.

Tak perlu ada kreditasi penutup untuk menyudahi sebuah film besar.

Written by Admin

November 2, 2019 at 11:38 am

(No) Tears in Heaven

leave a comment »

“(No) Tears in Heaven”
Oleh : Oscar Motuloh
Desember 2010

Banyak jalan ke Roma. Rutenya menjadi putusan hati. Galih Sedayu memilih fotografi untuk mengungkap ekspresi dan berbagi pengalaman spiritualnya perihal kepergian salah satu dari putri kembarnya saat dilahirkan. Dalam genre dokumenter, Galih menuangkan ungkapan hatinya dengan merekam perjuangan buah hatinya yang masih diperkenankan Ilahi beroleh kehidupan yang indah di bumi yang fana ini. Eufra, sang penyintas, menjadi simbol kekuatan keluarga, saat duka menyelimuti waktu hingga tangan mungilnya menghentak dan seringai senyuman untuk pertama kali menghiasi wajahnya.

Dengan kamera saku Galih mencatat simbol-simbol waktu dan tanda-tanda kehidupan., level yang terus bergerak pada inkubator, tangan kaku yang perlahan bergerak menandakan harapan. 

Ranah personal juga menjadi sub genre yang didekati Galih. Suatu cara untuk mengaitkan langsung kisah dan pencatatan visual Eufra dari mata Galih sebagai kata ganti orang pertama. Medium hitam putih terbaca sebagai metronome kehidupan dimana detak jantung berfungsi sebagai sebentuk momentum keyakinan. Mari simak apa yang dilakukan Nan Goldin dengan proyek-proyek aku sebagai inti perhatian. Atau juga Robert Frank pada era sebelumnya. Pendekatan personal bukan soal individualistik yang narsis, dia lebih pada cara yang melibatkan siapapun yang mengapresiasi rangkaian karya-karya perihal simbol kehidupan Eufra, menjadi dirinya. Pendekatan ini lebih mengarahkan keterlibatan jiwa melalui kekuatan penglihatan.

Ketika kita menyimak sebentuk rangkaian requeim visual dari ekspresi seorang ayah yang tentunya mewakili kepedihan sang istri, maka sesungguhnya dia adalah bagian dari pernik kehidupan. Fotografi mengabadikan kefanaan untuk kita-kita yang masih menyisakan usia di bumi. Namun citra karya fotografi sesungguhnya bersifat kekal, karena dia menciptakan karya yang mengabadikan waktu, sama seperti kematian yang menjadi perantara keabadian. Tangisan di sorga?, seperti yang disedu-sedankan gitaris Eric Clapton? Tampaknya tidak, sorga nun tinggi di atas sana, adalah keabadian itu sendiri. “(No) Tears in Heaven”.

Written by Admin

September 7, 2018 at 1:46 am