I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘10) SEMESTA TULISAN FOTOGRAFI’ Category

citra yang terhembus dari ruang, imaji & jiwa

leave a comment »

oleh galih sedayu

Berarsitektur yang sesungguhnya adalah tentang “Guna” dan “Citra” 
– Yusuf Bilyarta Mangunwijaya –

Sebelum munculnya peradaban yakni tatkala bumi ini gelap gulita, Tuhan sebagai Sang arsitektur kehidupan menjadikannya terang melalui tanganNya yang terus mencipta hingga detik ini. Sesungguhnya samudra biru yang luas, burung-burung yang beterbangan di udara, hutan belantara hijau yang menjadi oksigen dunia, hingga manusia yang terus beranak-cucu adalah buah karya arsitektur yang diciptakan olehNya dengan penuh cinta. Manusia yang menjadi mahluk kesayanganNya pun meneruskan proses penciptaan tersebut sehingga ruang-ruang kosong di permukaan bumi ini dengan cepat terisi. Dari mulai gubuk-gubuk kecil yang beratapkan jerami hingga sederet bangunan pencakar langit yang bak berlomba untuk menyentuh awan.

Arsitektur menjadi kata kunci yang tidak bisa lepas dari keberadaan sebuah ruang dan lingkungan dengan segala isinya. Pengertian kata arsitektur yang berasal dari Bahasa Yunani “Architectoon” yang memiliki arti tukang ahli bangunan yang utama, saat ini agaknya menjadi miskin dibanding dengan pemaknaan yang dapat digali secara lebih mendalam. Misalnya saja pemaknaan tentang arsitektur yang diusung oleh seorang Arsitek asal kota Ambarawa yang bernama Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau Romo Mangun (1929-1999). Bagi dia, arsitektur menjadi sebuah media perjuangan untuk tujuan kemanusiaan. Beliau pernah turun tangan dalam konflik sosial di kawasan Lembah Code Jogyakarta ketika muncul rencana penggusuran. Dimana beliau menggunakan arsitektur untuk membantu meredam konflik tersebut dengan mengajak masyarakat setempat untuk membersihkan serta membangun kawasan kali code yang kumuh. Dari hal tersebut kita melihat bagaimana sesungguhnya arsitek tidak hanya bertanggung jawab dalam hal mendesain rumah ataupun bangunan, tetapi juga bagaimana seorang arsitek dapat menjawab segala persoalan tentang kondisi lingkungan dan sosial yang ada di masyarakat.

Fotografi yang erat kaitannya dengan menciptakan sebuah citra, dapat menjadi sebuah media penyampaian pesan tentang segala hal yang terkait dengan citra arsitektur itu sendiri. Karenanya sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam wadah kreatif fotografi kampus Universitas Katolik Parahyangan yakni “Arsitektur Foto”, bermaksud menyampaikan citra dan pemaknaan arsitektur kepada publik melalui Pameran Foto yang mereka suguhkan dengan tajuk “Human & Architecture”. Ada sekitar 50 buah karya foto hasil kurasi yang dipamerkan yang berasal dari hasil bidikan berbagai komunitas kreatif fotografi yaitu Komunitas Kamera Lubang Jarum (KLJ), Kaskus Plastik & Toy Camera Community (Klastic), Komunitas poco-poco, Brigadepoto# dan Arsitektur Foto (AF).

Foto-foto seri dengan judul “Edifice Complex” karya Sandy Jaya Saputra, mencoba menggiring persepsi stereotipikal tentang arsitektur yang cenderung mewakili bentuk fisik menuju ke sebuah pemahaman psikologi, sosial dan budaya. Foto karya Salman Rimaldhi Zahrawan yang berjudul “I am where I live” dan “We are where we live”, mengajak kesadaran kita untuk memahami bahwa betapa erat korelasi antara arsitektur dengan individu, komunitas serta lingkungan yang menempatinya. Lain halnya dengan foto karya Anggoro yaitu “Straightlines”, yang mengkomposisikan secara sederhana tentang tangga yang memiliki pengertian filosofis tentang kehidupan yang kadang naik & turun.

Setidaknya beberapa gagasan tentang pencitraan manusia dan arsitektur yang dieksekusi melalui fotografi ini memberikan sebuah pemahaman lain. Bagaimana sebenarnya arsitektur dengan segala fungsinya selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Dimana arsitektur terjadi karena tuntutan dari jaman yang selalu berubah pula. Semisal isu pemanasan global yang menuntut desain arsitektur yang ramah lingungan. Ataupun isu lokalitas yang menuntut desain arsitektur yang kreatif sesuai kultur setempat. Sehingga kita semakin menyadari bahwa berarsitektur bukan hanya sekedar membangun secara fisik melainkan dengannya kita dapat menawarkan sejumlah solusi kepada dunia. Agar kehidupan di muka bumi ini semakin indah. Agar bumi ini selalu ada yang mempunyai. Dan tentunya fotografi selalu hadir untuk menyapa agar manusia tetap melihat bumi ini dengan keceriaan dan harapan.

*Tulisan ini diberikan sebagai kata pengantar Pameran Foto “Human and Architecture” yang diadakan oleh Arsitektur Foto (AF) Universitas Katolik Parahyangan pada tanggal 14 s/d 20 April 2010 di Galeri Kita, Jalan RE Martadinata 209 Bandung.

@galihsedayu | bandung, 18 mei 2010

Written by Admin

May 18, 2010 at 2:10 am

sedikit mata & harapan untuk alam

leave a comment »

oleh galih sedayu

Sejauh mata kita memandang terhadap apa yang tengah menimpa lingkungan kita saat ini, rasanya kehancuran menjadi sedekat mata kita menatap terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada alam tempat manusia berpijak. Hampir setiap hari kita disuguhi oleh berbagai berita tentang peristiwa yang mengenaskan akibat ketidakseimbangan alam dan lingkungan. Di Kota Bandung misalnya. Menginjak usia Kota Bandung yang ke-200 tahun pada bulan september 2010 ini, Kota ini hampir setiap harinya diguyur hujan lebat, hujan angin & hujan petir. Akibatnya sudah pasti. Banjir, tanah longsor, pohon-pohon besar yang tumbang, kecelakaan lalu-lintas pun datang menjemput dengan arogan. Agaknya semuanya itu menjadi sebuah karma tersendiri bagi kita karena bencana tersebut ada akibat perbuatan manusia yang tak pernah berhenti merusak lingkungannya.

Fotografi yang hadir pada tahun 1839 silam dapat menjadi sebuah alternatif media bagi kita yang ingin mengumandangkan kepedulian mengenai lingkungan hidup. Dengan kemampuan fotografi yang dapat ‘mencitrakan’ & ‘memberi pesan’, kita memiliki harapan untuk menyampaikan informasi tentang kepedulian lingkungan melalui gambar. Sebagai contoh, kita patut bersyukur kepada Kelompok asal Kota Bandung yaitu Wanadri & Rumah Nusantara yang menggagas pembuatan buku “Garis Depan Nusantara” yaitu sebuah ekspedisi untuk memetakan sejumlah pulau terluar di Indonesia. Dimana  buku tersebut berisi tentang tulisan serta foto pulau-pulau yang menjadi garda depan negara Indonesia yang bukan tidak mungkin suatu saat akan tenggelam akibat meningkatnya permukaan air laut sebagai salah satu dampak pemanasan global. Tujuannya tak lain adalah agar kita lebih peduli dan mau berbuat sesuatu meski kecil bagi lingkungan & alam Indonesia. Meski kelompok Wanadri & Rumah Nusantara tersebut terdiri dari orang-orang gunung, tetapi latar belakang tersebut tidak mempengaruhi semangat mereka untuk mengarungi samudra dan menjadi orang-orang maritim. Tentunya demi sebuah harapan dan optimisme akan keberlangsungan alam Indonesia.

Karena hakekat sejati sebuah foto adalah cermin visual dari segala peristiwa maka dari itu fotografi dapat menjadi alat komunikasi visual kepada masyarakat untuk melakukan perubahan. Sesungguhnya kita perlu menyadari bahwa melakukan hal yang sama setiap hari tidak akan memberikan hasil yang baru. Untuk mengubah hasil yang ingin kita peroleh, kita harus mengubah hal-hal yang kita lakukan. Dan perlu diingat pula bahwa setiap kali kita menghindari untuk melakukan hal yang benar, sebenarnya kita memberi bahan bakar bagi kebiasaan untuk melakukan hal yang salah. Untuk itu alangkah lebih bijak, terutama bagi masyarakat fotografi untuk terus menyampaikan sebuah demontrasi hening melalui gambar dan imaji yang terekam melalui lensa kamera sebagai bentuk kampanye visual. Meski mungkin itu tak akan pernah cukup, tetapi bagaimanapun nyala lilin harus terus bersinar dalam gelapnya sebuah peradaban.

*Tulisan ini diberikan pada saat “Seminar Fotografi Lingkungan Hidup” yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tanggal 19 Februari 2010 di Aula Barat ITB.

@galihsedayu | bandung, 20 februari 2010

Catatan Singkat Awal Kehadiran Fotografi Di Indonesia

with 4 comments

Teks : galih sedayu

Era masuknya fotografi di Indonesia dimulai pada tahun 1840 (setahun setelah fotografi ditemukan di Perancis tahun 1839 oleh Louis Jaques Mande Daquerre) yaitu tatkala seorang petugas medis Jurrian Munnich yang berasal dari negeri kincir angin memboyong fotografi untuk pertama kalinya di bumi pertiwi. Menurut Anneke Groeneveld yang tertuang dalam buku “Toekang Potret” (Fragment Uitgeverij, Amsterdam dan Museum voor Volkenkunde, Rotterdam, 1989), Jurrian Munnich diutus oleh Kementrian Urusan Wilayah Jajahan Belanda untuk merekam obyek di daerah Jawa Tengah. Sehingga sejarah akhirnya menulis bahwa “Kali Madioen” menjadi salah satu karya foto Munnich yang dianggap paling sukses pada saat itu (meski foto yang dibuatnya sangat kabur). Setelah itu penugasan diteruskan kepada Adolph Schaefer yang tiba di Batavia (saat ini bernama Jakarta) pada tahun 1844. Schaefer pun berhasil memotret obyek-obyek seperti foto patung Hindu-Jawa dan foto Candi Borobudur. Hingga hadirnya dua bersaudara kebangsaan Inggris yang bernama Albert Walter Woodbury dan James Page ke Tanah Air pada tahun 1857 menjadi titik terang dimulainya sejarah pendokumentasian Indonesia secara lengkap. Foto kenang-kenangan (carte de-visite) hasil rekaman Woodbury & Page seperti upacara-upacara tradisional, suku-suku pedalaman dan bangunan-bangunan kuno di Indonesia sangat digandrungi oleh para pelancong dari Eropa kala itu.

Pesona Indonesia makin mengilhami masyarakat dunia untuk singgah di Bumi Nusantara kita terutama setelah terbitnya novel “Max Havelaar” karya Multatuli pada tahun 1860. Sebut saja nama tokoh Franz Wilhem Junghun seorang ahli fisika yang membuat sekitar 200 foto tentang bunga dan bebatuan Indonesia sejak tahun 1860-1863. Lalu ada pula Isidore van Kinsbergen yang menggantikan tugas Adolf Schaefer untuk memotret seluruh benda kuno yang ada di Indonesia sejak tahun 1862. Berbicara tentang fotografer pribumi pertama yang merekam citra Indonesia, mau tidak mau tidak bisa lepas dari keberadaan seorang tokoh yang bernama Kassian Cephas. Kehadiran Kinsbergen di Jawa Tengah memikat ketertarikan Cephas untuk menekuni profesi fotografer. Sejak Cephas ditunjuk oleh Sultan Hamengkubuwono VII sebagai fotografer resmi keraton Yogjakarta pada tahun 1870, citra Indonesia yang mempesona seumpama tarian tradisional, upacara grebeg, situs-situs Hindu-Jawa kuno dan Candi Borobudur di Jawa Tengah pun menjadi jejak karyanya yang tak terlupakan. Misalnya saja buku tentang kehidupan keraton dan masyarakat jawa, “In den Kedaton te Jogjakarta, Oepatjara en Tooneeldansen” (Leiden, 1888) dan “De Wajang Orang Pregiwa in den Kedaton Jogjakarta” (Semarang, 1899) yang dibuat oleh Cephas bersama seorang ahli fisika, Isaac Groneman. Buah karya Cephas akhirnya memunculkan minat masyarakat pribumi untuk mempelajari dunia fotografi. Pada tahun 1893, Raden Ngabehi Basah Tirto Soebroto, seorang juru bahasa Jawa di Pengadilan Lanraad Batavia menerbitkan tutorial fotografi bahasa melayu “Hikajat Ilmoe Menggambar Photographie” (Soebroto, 1893). Hingga kini fotografi di Indonesia menjadi sebuah kitab peradaban cahaya bagi orang-orang yang tak pernah lelah untuk terus mengabadikan segala peristiwa yang kelak menjadi sejarah bangsa.

*Tulisan ini diberikan untuk artikel lepas Majalah D’Jugend edisi Januari 2010 sebagai salah satu bagian dari edukasi kecil fotografi.

Bandung, 24 Januari 2010

Kamera Saku + Jelly Lens + Mata Hati = Karya Kreatif

with 3 comments

Teks : galih sedayu

Tidak dapat dipungkiri bahwa akibat pertumbuhan pesat teknologi fotografi, sederet kreativitas visual pun bermunculan di negeri ini. Sejak fotografi ditemukan sekitar 170 tahun yang silam di Perancis oleh Louis Jacques Mande Daguerre, fotografi menjadi sesuatu yang terus melekat serta menjadi mata yang tak lelah merekam setiap peristiwa hidup kita sehari-hari. Dari mulai matahari terbit hingga terbenam. Dari mulai burung berkicau di pagi hari hingga suara jangkrik di waktu malam.

Aisyah Nurahmah. Seorang gadis belia yang berumur 18 tahun mencoba menjajal kreativitasnya dalam sebuah suguhan Pameran Foto yang bertajuk “Soul of Bandung”. Sekitar 35 buah karya foto tentang Kota Bandung yang dicuplik dengan mengunakan Kamera Saku dan “Jelly Lens” ditampilkan dengan sederhana olehnya. “Jelly Lens” sendiri merupakan sebuah lensa yang terbuat dari plastik dan memiliki sifat yang dapat menempel pada lensa kamera tetapi tidak akan mengotorinya. Model efek yang dihasilkan oleh “Jelly Lens” pada hasil karya foto pun berbeda-beda dari mulai Fish Eye, Strech, Hexa-image Mirage, Heart, Star, Polarized, Starbust, Shaking Vignette, Sparkle dan sebagainya.

Tetapi bagi seorang Aisyah, Kamera Saku dan “Jelly Lens” tersebut hanyalah sebuat alat semata yang digunakan sebagai media ekspresi kreatif. Efek-efek yang muncul dari hasil foto jepretannya hanya menjadi elemen unik lain yang memang cocok bagi selera dan jiwa mudanya. Baginya yang terpenting adalah mata personal dan kejujuran yang menangkap segala citra tentang Kota Bandung yang dicintainya. Sekelumit kejadian sederhana yang mengisi diari-diari visual hidupnya. Seorang polisi di sebuah taman, sepasang sahabat remaja yang tengah mengobrol hangat, sepenggal tulisan mars persib bandung di sebuah kaos, salah satu sudut bangunan heritage di braga dan sebagainya. Semua fotonya adalah cara melihat Aisyah tentang Kota Bandung. Terlebih karena Kota Bandung akan menginjak usianya yang ke dua abad pada tahun 2010 nanti. Ibarat kado kecil yang diperuntukkan bagi sebuah kota yang telah lama dipijak olehnya. Semoga kreativitas kecil ini selalu diasah dan tetap bergulir diantara kehausan-kehausan kreatif yang selalu menyelimuti Kota Bandung. Tak peduli oleh sang muda atau sang tua. Atas nama semangat dan cinta yang tak pernah kunjung padam.

*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto “Soul of Bandung” karya Aisyah Nurahmah yang berlangsung di Cafe Rumah 1930 Jalan Cibeunying Selatan No 37 Bandung tanggal 20-22 Desember 2009.

Bandung, 13 Desember 2009

(c) Aisyah Nurahmah

(c) Aisyah Nurahmah

copyright (c) 2009
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 24, 2010 at 6:57 am

Dari Neraka Kelam Menuju Surga Harapan

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Narkoba (Narkotik dan Bahan Berbahaya). Kata ini selalu mengusik bangsa kita yang memang sejak dulu gencar untuk memerangi penyalahgunaan benda-benda tersebut. Istilah Narkoba atau Candu sebenarnya pertama kali muncul dari orang-orang Bangsa Sumeria, yaitu sebuah bangsa kuno di kawasan Timur Tengah pada 3500 tahun Masehi yang terkenal dengan legenda air bah (banjir besar) dalam Mitologi Mesopotamia. Orang Sumeria menyebut candu dengan sebutan “Hul Gill” yang berarti “Tumbuhan yang menggembirakan”. Karena sifatnya yang analgesik (pereda rasa sakit), beberapa Filsuf dunia seperti Dioscorides, Hippocrates, Plinius & Theophratus menggunakan candu sebagai bagian dari pengobatan terutama dalam hal pembedahan. Meski begitu, pada awalnya candu tersebut tidak bisa dibawa ke Eropa karena Bangsa Eropa menganggap segala sesuatu yang berasal dari Timur adalah barang setan dan sangat berbahaya. Sampai pada akhirnya Ratu Elizabeth I memboyongnya ke Inggris karena sadar dengan kelebihan candu mentah (opium) tersebut. Sehingga pada akhir tahun 1800-an fenomena candu atau opium tersebut menjadi sebuah gejala epidemik. Ironisnya kala itu para pecandunya banyak dijumpai dikalangan serdadu dan wanita bersalin pada era Perang Dunia.Sebagai dampak efek candu yang fenomenal, perang candu pun berkobar di dunia. Dimulai pada tahun 1839 ketika pemerintahan Kaisar Tao Kwang memerintahkan Komisaris Lin Tse-Hsu untuk membakar serta memusnahkan candu ilegal di Guangzhou, Cina. Dimana tindakan kaisar tersebut membuat Inggris naik pitam karena dianggap menodai nota kesepakatan kebebasan perdagangan internasional sehingga memicu Perang Candu yang berlangsung selama 3 tahun (1839-1842). Lalu sejarahpun mencatat bahwa pada tahun 1970 Presiden Amerika Serikat ke-37 yaitu Richard Nixon pun turut mendeklarasikan perang terhadap Heroin. Hingga kini perang terhadap Narkoba pun selalu dikumandangkan di seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Paska kolonialisme, Indonesia mulai merumuskan Undang-Undang Narkotika pada tahun 1976 yang merupakan ratifikasi Kesepakatan Tunggal PBB tentang obat-obatan Narkotika tahun 1961.Fotografi yang ditabiskan ke seluruh antero jagat sejak tahun 1839, mempunyai kekuatannya sendiri untuk mengkomunikasikan segala isu yang menjadi permasalahan dunia. Termasuk isu Narkoba. Media Fotografi dapat digunakan sebagai kampanye visual untuk menyuarakan kepedulian dan gerakan Anti Narkoba kepada masyarakat. Agaknya daya pikat fotografi yang memukau tersebut dibaca dan menjadi sebuah kesadaran kreatif yang diusung oleh sekelompok mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha yang tergabung dalam DRACS (Drugs & AIDS Care Society). Melalui semangat kebersamaan yang dikemas ke dalam sebuah program edukatif fotografi, Pameran Foto yang bertajuk “DRUGS : Black Heaven Utopia” pun dipersembahkan untuk khalayak umum. Pameran Foto ini merupakan 20 buah hasil karya dari program kompetisi foto yang dirancang sebelumnya.

Ketika kita membaca foto-foto yang dipamerkan ini, ‘mindset’ kita hendaknya mulai dialihkan dari sebuah paradigma lama tentang penyampaian realitas permasalahan narkoba secara visual fotografi. Unsur-unsur yang (dahulu) kerap identik dengan pengguna Narkoba semacam Jarum Suntik, Darah dan Pil (Obat) kini secara perlahan mulai ditinggalkan. Citraan visual tentang kehidupan pengguna Narkoba yang dihadirkan melalui fotografi kini ditampilkan dengan sedikit lebih cerdas dan tidak vulgar. Semiotika visual pun mulai berani disuguhkan oleh para fotografer. Elemen-elemen yang ada di sekitar kita menjadi sebuah simbol bagi mereka untuk menangkap sejumlah komposisi fotografis. Semisal pojok sebuah kamar yang mencerminkan ruang paling pribadi para pengguna Narkoba serta saklar lampu yang memiliki tombol mati-hidup seolah-olah bak sebuah pilihan yang harus diambil oleh para pengguna Narkoba. Meski figur kaum hawa kebanyakan masih terus menjadi sebuah obyek yang mengisi bingkai-bingkai visual kreativitas mereka. Tetapi setidaknya secara keseluruhan foto-foto ini memaparkan sebuah optimisme baru dari sebuah metamorfosa kehidupan. Dari mendung menjadi terik. Dari muram menjadi cerah. Dari gelap menuju terang. Dari mati menjadi lahir. Oleh karena itu kita harus menyadari bahwa sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk memerangi masalah Narkoba dalam masyarakat.

Hendaknya kita dapat menyimak sebuah kalimat yang diucapkan William Wallace kepada Princess Isabelle dalam film “Brave Heart” sesaat sebelum Wallace dihukum mati oleh Raja Inggris yaitu “Setiap orang pasti akan mati, tetapi tidak semua orang yang sungguh hidup”. Pelajaran yang bisa diambil adalah bagaimana hidup kita dapat menjadi sesuatu dengan melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain. Seperti tindakan kecil yang dilakukan oleh para sahabat DRACS Fakultas Kedokteran Universitas Maranatha melalui Pameran Foto Anti Narkoba ini. Semoga buah karya mereka dapat menginspirasi tindakan-tindakan kecil lain. Karena walau bagaimanapun karya besar itu akan terwujud oleh rangkaian tindakan-tindakan kecil yang dibawa bersama-sama. Demi nama cinta, kasih dan harapan bagi dunia yang lebih baik tentunya.

*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto “DRUGS: Black Heaven Utopia” yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha yang berlangsung di Grha Widya Maranatha (GWM) UK Maranatha Jalan Suria Sumantri 65 Bandung tanggal 19-20 Desember 2009.

Bandung 5 Desember 2009

Written by Admin

January 24, 2010 at 6:44 am

Metamorfosa Citra Negeri Indonesia

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Kehadiran fotografi dalam konteks historis akan selalu mengisahkan sejumlah tokoh yang telah berjasa merekam berbagai citraan tentang Negeri Indonesia. Dimulai pada tahun 1840 (setahun setelah fotografi ditemukan di Perancis tahun 1839 oleh Louis Jaques Mande Daquerre) yaitu ketika seorang petugas kesehatan yang bernama Jurrian Munnich membawa fotografi untuk pertama kalinya ke Tanah Air. Munnich diutus oleh Kementrian Urusan Wilayah Jajahan Belanda untuk memotret citra Indonesia di daerah Jawa Tengah. Sejarah pun mencatat citra Indonesia yaitu Kali Madioen menjadi salah satu karya Munnich yang dianggap paling sukses pada saat itu (meski foto yang dibuatnya sangat kabur). Setelah itu penugasan diteruskan kepada Adolph Schaefer yang tiba di Batavia pada tahun 1844. Schaefer pun berhasil memotret beberapa citra Indonesia seperti foto patung Hindu-Jawa dan foto Candi Borobudur. Lalu kedatangan dua bersaudara kebangsaan Inggris yang bernama Albert Walter Woodbury dan James Page ke Tanah Air pada tahun 1857 menjadi penanda dimulainya sejarah pendokumentasian citra Negeri Indonesia secara lengkap. Foto kenang-kenangan (carte de-visite) hasil rekaman Woodbury & Page seperti upacara-upacara tradisional, suku-suku pedalaman dan bangunan-bangunan kuno di Indonesia sangat digemari oleh para pelancong dari Eropa pada masa itu.

Ketertarikan akan citra alam Indonesia makin mengilhami masyarakat dunia untuk datang ke Tanah Air kita terutama setelah terbitnya novel Max Havelaar karya Multatuli pada tahun 1860. Sebut saja nama tokoh Franz Wilhem Junghun yang membuat foto-foto tentang tanaman Indonesia dan Isidore van Kinsbergen yang memotret seluruh benda kuno yang ada di Indonesia. Berbicara tentang fotografer pribumi pertama yang merekam citra Negeri Indonesia, tidak bisa lepas dari keberadaan seorang tokoh yang bernama Kassian Cephas. Sejak Cephas ditunjuk oleh Sultan Hamengkubuwono VII sebagai fotografer resmi keraton Yogjakarta, citra Negeri Indonesia yang eksotis seumpama tarian tradisional, upacara grebeg, situs-situs Hindu-Jawa kuno dan Candi Borobudur di Jawa Tengah pun menjadi jejak karyanya yang tak terlupakan. Hingga kini berjuta citraan dan imaji tentang Indonesia pun telah banyak menghiasi buku-buku yang diterbitkan di seantero jagat. Meskipun sangat ironis ketika kita sadar benar bahwa hampir semua foto-foto tentang citra Indonesia yang dibukukan dibuat oleh fotografer-fotografer asing.

Indonesia365 : “Negeri Merona Insan Mencitra”. Adalah sebuah program Pameran Fotografi yang digagas oleh sekelompok mahasiswa/i kreatif asal Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung bernama Arsitektur Foto (AF). Program ini merupakan salah satu rangkaian dari “Fotografi Untuk Bandung 200 Tahun”. Dengan Pameran Foto ini diharapkan agar citra fotografi dapat membantu untuk menyampaikan pesan dan membuka cakrawala Insan Indonesia tentang kecintaan terhadap Negeri. Sekitar 40 buah karya foto ditampilkan dalam Pameran Foto yang berlangsung dari tanggal 4 s/d 9 Desember 2009 di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung. Karya foto yang dipamerkan pun dipilih berdasarkan dari dua buah proses kreatif, yaitu hasil sebuah penjurian (kompetisi fotografi) dan hasil sebuah kurasi foto.

Pameran Foto ini sebenarnya dapat merupakan sebuah pertanyaan besar tentang kekinian citra alam indonesia yang selalu memikat sekaligus menjadi misteri bagi bangsa kita. Dimana esensi fotografi yang merupakan sebuah cara melihat (the way of seeing) dari masing-masing individu dapat menjadi sebuah medium kontemplatif untuk menangkap citra alam Indonesia kini. Tentunya masing-masing pemotret memiliki genre fotografi tersendiri untuk membaca dan memaknai citra keindahan alam Indonesia dalam sebuah tema besar yang diusung oleh kawan-kawan Arsitektur Foto yaitu “Negeri Merona Insan Mencitra”. Dalam hal ini sudah semestinya kita perlu mengubah paradigma lama bahwa foto yang indah itu hanya mengacu kepada tampilan visual belaka. Saat ini perlu dibangun sebuah kesadaran kolektif bahwa pemaknaan karya foto yang indah dapat mengacu kepada sebuah isu, bobot dan kedalaman tertentu. Bahwasanya keindahan yang bermakna tersebut dapat memiliki sifat convulsive serta mampu mendobrak citraan klise ataupun citraan stereotipikal. Sehingga perspektif kita seolah-olah digiring untuk mampu melihat sebuah gambar maupun peristiwa sebagaimana kita membaca sebuah tanda. Dimana tanda tersebut terdiri dari Penanda, yakni obyek yang dilihat dan Petanda, yakni maknanya. Intinya adalah bagaimana secara cerdas kita dapat menyajikan kebaruan visual dan menjadi otonom melalui karya fotografi. Entah itu melalui berbagai simbolik dan konfigurasi yang menjadi bagian dari opini visual pemotret dalam proses merekam sebuah citra.

Susan Sontag pernah menulis kalimat ini dalam buku essay yang berjudul On Photography. “Nobody ever discovered ugliness through photographs. But many, through photographs, have discovered beauty”. Semoga suguhan Pameran Foto dengan sensibilitas visual yang dimiliki oleh masing-masing pemotret ini dapat menyiratkan segala yang indah tentang alam indonesia. Dengan harapan agar fotografi senantiasa hadir untuk terus dan terus menciptakan jejak bagi Negeri Indonesia yang kita cintai bersama. Atas nama peradaban cahaya. Dan keindahan. Dan kecintaan.

*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto “Negeri Merona Insan Mencitra” yang diadakan oleh Arsitektur Foto Universitas Katolik Parahyangan di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) pada tanggal 4 s/d 9 Desember 2009.

Bandung, 17 November 2009

Written by Admin

January 24, 2010 at 6:26 am

Fotografi Yang Merekam Warisan Bangsa

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Berbicara tentang keberadaan Bangsa Indonesia dalam kaitannya dengan sejarah perjalanan dan perkembangan warisan (budaya) bangsa, agaknya kehadiran seorang tokoh yang bernama Kassian Cephas (1844-1912) menjadi sangat penting. Sejarah pun mencatat bahwa Cephas adalah seorang fotografer pribumi pertama di Indonesia dan telah banyak mengabadikan momen-momen yang berkaitan dengan warisan bangsa. Sebut saja foto-foto tentang budaya jawa dalam buku yang berjudul In den Kedaton te Jogyakarta, foto-foto Candi Loro Jonggrang yang digunakan untuk kepentingan penelitian monumen kuno peninggalan zaman Hindu-Jawa dan foto-foto Candi Borobudur yang pada saat itu dasar tersembunyi candi tersebut baru saja ditemukan. Karya-karya foto Cephas pun kini menjadi jejak visual yang menjadi aset abadi bangsa kita.

Dengan melihat itu, agaknya sudah menjadi tanggung-jawab kita sebagai warga negara agar wajib memelihara serta menjaga segala warisan bangsa yang telah kita miliki sejak dulu kala. Dengan masuknya batik Indonesia dalam Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diumumkan dalam siaran pers di portal UNESCO pada 30 September 2009 lalu merupakan salah satu prestasi yang patut kita banggakan. Batik pun menjadi bagian dari 76 seni dan tradisi dari 27 negara yang diakui UNESCO dalam daftar warisan budaya tak benda melalui keputusan komite 24 negara yang pada saat itu tengah bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Oleh karena itu, sudah layak dan sepantasnyalah isu-isu yang mencuatkan tentang keberadaan warisan bangsa Indonesia perlu terus dikumandangkan oleh kita yang mengaku sebagai keturunan Bangsa Indonesia.

Sebagai salah satu wujud kepedulian terhadap Warisan (Kebudayaan) Bangsa Indonesia, PT Pos Indonesia bekerjasama dengan Air Photography Communications mengadakan program fotografi yang diberi nama Pos Indonesia Photo Contest 2009 dengan tema “Melestarikan Warisan Bangsa Yang Terlupakan”.

Karena disiplin fotografi yang salah satunya fungsinya adalah pencitraan, kami meyakini bahwa fotografi merupakan sebuah media komunikasi yang tepat secara visual untuk dapat memberikan sebuah edukasi yang positif kepada masyarakat luas bahwa betapa penting untuk menjaga kelestarian budaya yang telah menjadi warisan bangsa kita. Program ini juga merupakan rangkaian dari program “Fotografi Untuk Bandung 200 Tahun” dan “Helarfest 2009”.

*Tulisan ini diberikan pada saat acara Press Conference program “Pos Indonesia Photo Contest 2009” pada tanggal 23 November 2009 di Café The Palm Bandung.

Bandung, 10 November 2009