I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘Fotografi Bandung

News at DetikBandung

with 2 comments

Kamis, 01/04/2010 10:03 WIB

Galih Sedayu, Buka Konsultasi Fotografi Gratis
Ema Nur Arifah – detikBandung

Bandung – Bagi penggiat fotografi, nama Galih Sedayu mungkin bisa ditempatkan sebagai pupuhunya komunitas fotografi. Pria kelahiran Bogor, 35 tahun silam ini, boleh dibilang sebagai motor penggerak bermunculannya acara-acara fotografi di Kota Bandung.

Galih pun tak enggan berbagi ilmu. Lewat Air Photography yang didirikannya 17 Agustus 2004 lalu, dia membuka konsultasi gratis untuk mahasiswa yang ingin menggelar acara-acara fotografi. Sebanyak 20-an relawan pun siap membantu sebagai konsultan.

Padahal pendidikan formal Galih tidak berasal dari fotografi. Secara otodidak, setelah lulus dari Tekhnik Indstri Unjani di tahun 1999, Galih belajar dari perusahaan-perusahaan foto tempatnya bekerja.

“Saya pernah bekerja di beberapa studio foto, kemudian berinisiatif untuk membuat usaha foto sendiri,” ujarnya.

Belajar dari pengalaman, dia membuka Air Photography bersama dua kawannya. Galih bisa membuktikan kalau membuka usaha tidak harus berpikir modal yang besar.

Dengan cara mencicil modal, satu per satu sarana dan pra sarana studio dilengkapi. Dalam perjalanannya kemudian, manajemen Air Photography dipegangnya sendiri dan dua kawannya kini hanya sebagai freelancer.

Keseimbangan atau balance manjadi filosofi Galih dalam mengembangkan Air Photography. Tidak semata-mata komersil tapi juga memunculkan sisi sosial.

“Antara komersil dan sosial harus balance,” ujar Galih usai gelaran Photo Speak di garasi Detikbandung Jalan Lombok 33, Rabu (31/3/2010).

Meski awalnya Air Photography didirikan untuk tujuan komersil. Namun keinginan berbagi Galih membuatnya tergerak untuk membuat program-program yang bisa menunjang sisi komersil tadi.

Salah satunya adalah Photo Speak, ajang sharing ilmu fotografi yang digelarnya sejak tahun 2005. Melalui Photo Speak, Galih bisa membangun jaringan komunitas di kalangan mahasiswa. Ruang terbuka konsultasi gratis diberikan pada mereka untuk yang berkaitan dengan event-event fotografi.

“Kalau dengan perusahaan-perusahaan, kita lakukan secara profesional,” jelas pria yang akan melepas masa lajangnya di bulan Mei mendatang ini.

Galih mencontohkan kerjasamanya dengan PT Pos Indonesia yang hampir setiap tahun mengelar photo contest. Setidaknya Galih ingin menunjukan kalau dunia akademisi mash memiliki pe er. Seharusnya, adalah tugas para pengajar untuk memberikan ilmu mengelola event fotografi untuk mahasiswanya.

(ema/avi)

Written by Admin

April 4, 2010 at 2:09 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

Fotografer Abadikan 200 Tahun Kota Bandung

leave a comment »

(c) Forum Fotografi untuk Bandung 200 Tahun

Photography News about Program Launching “Fotografi Untuk Bandung 200 Tahun” (Pikiran Rakyat – 2nd August 2009)
http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=90064

Written by Admin

February 27, 2010 at 3:33 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

Selamatkan Karst Citatah

leave a comment »

Photography News about Selamatkan Karst Citatah Photo Exhibition (Pikiran Rakyat – 19th February 2009)
http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=60209

Written by Admin

February 27, 2010 at 3:26 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

Pos Indonesia Photo Contest

leave a comment »

Photography News about Pos Indonesia Photo Contest 2008 (Kompas – 29th Oktober 2008)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/29/14424246/rendah.kesadaran.masyarakat.ri

Written by Admin

February 27, 2010 at 3:24 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

Galih Sedayu

leave a comment »

Photography Interview about me & Community (Pikiran Rakyat – 5th June 2008)
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=16276

Written by Admin

February 27, 2010 at 3:22 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

sedikit mata & harapan untuk alam

leave a comment »

oleh galih sedayu

Sejauh mata kita memandang terhadap apa yang tengah menimpa lingkungan kita saat ini, rasanya kehancuran menjadi sedekat mata kita menatap terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada alam tempat manusia berpijak. Hampir setiap hari kita disuguhi oleh berbagai berita tentang peristiwa yang mengenaskan akibat ketidakseimbangan alam dan lingkungan. Di Kota Bandung misalnya. Menginjak usia Kota Bandung yang ke-200 tahun pada bulan september 2010 ini, Kota ini hampir setiap harinya diguyur hujan lebat, hujan angin & hujan petir. Akibatnya sudah pasti. Banjir, tanah longsor, pohon-pohon besar yang tumbang, kecelakaan lalu-lintas pun datang menjemput dengan arogan. Agaknya semuanya itu menjadi sebuah karma tersendiri bagi kita karena bencana tersebut ada akibat perbuatan manusia yang tak pernah berhenti merusak lingkungannya.

Fotografi yang hadir pada tahun 1839 silam dapat menjadi sebuah alternatif media bagi kita yang ingin mengumandangkan kepedulian mengenai lingkungan hidup. Dengan kemampuan fotografi yang dapat ‘mencitrakan’ & ‘memberi pesan’, kita memiliki harapan untuk menyampaikan informasi tentang kepedulian lingkungan melalui gambar. Sebagai contoh, kita patut bersyukur kepada Kelompok asal Kota Bandung yaitu Wanadri & Rumah Nusantara yang menggagas pembuatan buku “Garis Depan Nusantara” yaitu sebuah ekspedisi untuk memetakan sejumlah pulau terluar di Indonesia. Dimana  buku tersebut berisi tentang tulisan serta foto pulau-pulau yang menjadi garda depan negara Indonesia yang bukan tidak mungkin suatu saat akan tenggelam akibat meningkatnya permukaan air laut sebagai salah satu dampak pemanasan global. Tujuannya tak lain adalah agar kita lebih peduli dan mau berbuat sesuatu meski kecil bagi lingkungan & alam Indonesia. Meski kelompok Wanadri & Rumah Nusantara tersebut terdiri dari orang-orang gunung, tetapi latar belakang tersebut tidak mempengaruhi semangat mereka untuk mengarungi samudra dan menjadi orang-orang maritim. Tentunya demi sebuah harapan dan optimisme akan keberlangsungan alam Indonesia.

Karena hakekat sejati sebuah foto adalah cermin visual dari segala peristiwa maka dari itu fotografi dapat menjadi alat komunikasi visual kepada masyarakat untuk melakukan perubahan. Sesungguhnya kita perlu menyadari bahwa melakukan hal yang sama setiap hari tidak akan memberikan hasil yang baru. Untuk mengubah hasil yang ingin kita peroleh, kita harus mengubah hal-hal yang kita lakukan. Dan perlu diingat pula bahwa setiap kali kita menghindari untuk melakukan hal yang benar, sebenarnya kita memberi bahan bakar bagi kebiasaan untuk melakukan hal yang salah. Untuk itu alangkah lebih bijak, terutama bagi masyarakat fotografi untuk terus menyampaikan sebuah demontrasi hening melalui gambar dan imaji yang terekam melalui lensa kamera sebagai bentuk kampanye visual. Meski mungkin itu tak akan pernah cukup, tetapi bagaimanapun nyala lilin harus terus bersinar dalam gelapnya sebuah peradaban.

*Tulisan ini diberikan pada saat “Seminar Fotografi Lingkungan Hidup” yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tanggal 19 Februari 2010 di Aula Barat ITB.

@galihsedayu | bandung, 20 februari 2010