I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘Fotografer Indonesia

citra yang terhembus dari ruang, imaji & jiwa

leave a comment »

oleh galih sedayu

Berarsitektur yang sesungguhnya adalah tentang “Guna” dan “Citra” 
– Yusuf Bilyarta Mangunwijaya –

Sebelum munculnya peradaban yakni tatkala bumi ini gelap gulita, Tuhan sebagai Sang arsitektur kehidupan menjadikannya terang melalui tanganNya yang terus mencipta hingga detik ini. Sesungguhnya samudra biru yang luas, burung-burung yang beterbangan di udara, hutan belantara hijau yang menjadi oksigen dunia, hingga manusia yang terus beranak-cucu adalah buah karya arsitektur yang diciptakan olehNya dengan penuh cinta. Manusia yang menjadi mahluk kesayanganNya pun meneruskan proses penciptaan tersebut sehingga ruang-ruang kosong di permukaan bumi ini dengan cepat terisi. Dari mulai gubuk-gubuk kecil yang beratapkan jerami hingga sederet bangunan pencakar langit yang bak berlomba untuk menyentuh awan.

Arsitektur menjadi kata kunci yang tidak bisa lepas dari keberadaan sebuah ruang dan lingkungan dengan segala isinya. Pengertian kata arsitektur yang berasal dari Bahasa Yunani “Architectoon” yang memiliki arti tukang ahli bangunan yang utama, saat ini agaknya menjadi miskin dibanding dengan pemaknaan yang dapat digali secara lebih mendalam. Misalnya saja pemaknaan tentang arsitektur yang diusung oleh seorang Arsitek asal kota Ambarawa yang bernama Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau Romo Mangun (1929-1999). Bagi dia, arsitektur menjadi sebuah media perjuangan untuk tujuan kemanusiaan. Beliau pernah turun tangan dalam konflik sosial di kawasan Lembah Code Jogyakarta ketika muncul rencana penggusuran. Dimana beliau menggunakan arsitektur untuk membantu meredam konflik tersebut dengan mengajak masyarakat setempat untuk membersihkan serta membangun kawasan kali code yang kumuh. Dari hal tersebut kita melihat bagaimana sesungguhnya arsitek tidak hanya bertanggung jawab dalam hal mendesain rumah ataupun bangunan, tetapi juga bagaimana seorang arsitek dapat menjawab segala persoalan tentang kondisi lingkungan dan sosial yang ada di masyarakat.

Fotografi yang erat kaitannya dengan menciptakan sebuah citra, dapat menjadi sebuah media penyampaian pesan tentang segala hal yang terkait dengan citra arsitektur itu sendiri. Karenanya sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam wadah kreatif fotografi kampus Universitas Katolik Parahyangan yakni “Arsitektur Foto”, bermaksud menyampaikan citra dan pemaknaan arsitektur kepada publik melalui Pameran Foto yang mereka suguhkan dengan tajuk “Human & Architecture”. Ada sekitar 50 buah karya foto hasil kurasi yang dipamerkan yang berasal dari hasil bidikan berbagai komunitas kreatif fotografi yaitu Komunitas Kamera Lubang Jarum (KLJ), Kaskus Plastik & Toy Camera Community (Klastic), Komunitas poco-poco, Brigadepoto# dan Arsitektur Foto (AF).

Foto-foto seri dengan judul “Edifice Complex” karya Sandy Jaya Saputra, mencoba menggiring persepsi stereotipikal tentang arsitektur yang cenderung mewakili bentuk fisik menuju ke sebuah pemahaman psikologi, sosial dan budaya. Foto karya Salman Rimaldhi Zahrawan yang berjudul “I am where I live” dan “We are where we live”, mengajak kesadaran kita untuk memahami bahwa betapa erat korelasi antara arsitektur dengan individu, komunitas serta lingkungan yang menempatinya. Lain halnya dengan foto karya Anggoro yaitu “Straightlines”, yang mengkomposisikan secara sederhana tentang tangga yang memiliki pengertian filosofis tentang kehidupan yang kadang naik & turun.

Setidaknya beberapa gagasan tentang pencitraan manusia dan arsitektur yang dieksekusi melalui fotografi ini memberikan sebuah pemahaman lain. Bagaimana sebenarnya arsitektur dengan segala fungsinya selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Dimana arsitektur terjadi karena tuntutan dari jaman yang selalu berubah pula. Semisal isu pemanasan global yang menuntut desain arsitektur yang ramah lingungan. Ataupun isu lokalitas yang menuntut desain arsitektur yang kreatif sesuai kultur setempat. Sehingga kita semakin menyadari bahwa berarsitektur bukan hanya sekedar membangun secara fisik melainkan dengannya kita dapat menawarkan sejumlah solusi kepada dunia. Agar kehidupan di muka bumi ini semakin indah. Agar bumi ini selalu ada yang mempunyai. Dan tentunya fotografi selalu hadir untuk menyapa agar manusia tetap melihat bumi ini dengan keceriaan dan harapan.

*Tulisan ini diberikan sebagai kata pengantar Pameran Foto “Human and Architecture” yang diadakan oleh Arsitektur Foto (AF) Universitas Katolik Parahyangan pada tanggal 14 s/d 20 April 2010 di Galeri Kita, Jalan RE Martadinata 209 Bandung.

@galihsedayu | bandung, 18 mei 2010

Written by Admin

May 18, 2010 at 2:10 am

News at DetikBandung

with 2 comments

Kamis, 01/04/2010 10:03 WIB

Galih Sedayu, Buka Konsultasi Fotografi Gratis
Ema Nur Arifah – detikBandung

Bandung – Bagi penggiat fotografi, nama Galih Sedayu mungkin bisa ditempatkan sebagai pupuhunya komunitas fotografi. Pria kelahiran Bogor, 35 tahun silam ini, boleh dibilang sebagai motor penggerak bermunculannya acara-acara fotografi di Kota Bandung.

Galih pun tak enggan berbagi ilmu. Lewat Air Photography yang didirikannya 17 Agustus 2004 lalu, dia membuka konsultasi gratis untuk mahasiswa yang ingin menggelar acara-acara fotografi. Sebanyak 20-an relawan pun siap membantu sebagai konsultan.

Padahal pendidikan formal Galih tidak berasal dari fotografi. Secara otodidak, setelah lulus dari Tekhnik Indstri Unjani di tahun 1999, Galih belajar dari perusahaan-perusahaan foto tempatnya bekerja.

“Saya pernah bekerja di beberapa studio foto, kemudian berinisiatif untuk membuat usaha foto sendiri,” ujarnya.

Belajar dari pengalaman, dia membuka Air Photography bersama dua kawannya. Galih bisa membuktikan kalau membuka usaha tidak harus berpikir modal yang besar.

Dengan cara mencicil modal, satu per satu sarana dan pra sarana studio dilengkapi. Dalam perjalanannya kemudian, manajemen Air Photography dipegangnya sendiri dan dua kawannya kini hanya sebagai freelancer.

Keseimbangan atau balance manjadi filosofi Galih dalam mengembangkan Air Photography. Tidak semata-mata komersil tapi juga memunculkan sisi sosial.

“Antara komersil dan sosial harus balance,” ujar Galih usai gelaran Photo Speak di garasi Detikbandung Jalan Lombok 33, Rabu (31/3/2010).

Meski awalnya Air Photography didirikan untuk tujuan komersil. Namun keinginan berbagi Galih membuatnya tergerak untuk membuat program-program yang bisa menunjang sisi komersil tadi.

Salah satunya adalah Photo Speak, ajang sharing ilmu fotografi yang digelarnya sejak tahun 2005. Melalui Photo Speak, Galih bisa membangun jaringan komunitas di kalangan mahasiswa. Ruang terbuka konsultasi gratis diberikan pada mereka untuk yang berkaitan dengan event-event fotografi.

“Kalau dengan perusahaan-perusahaan, kita lakukan secara profesional,” jelas pria yang akan melepas masa lajangnya di bulan Mei mendatang ini.

Galih mencontohkan kerjasamanya dengan PT Pos Indonesia yang hampir setiap tahun mengelar photo contest. Setidaknya Galih ingin menunjukan kalau dunia akademisi mash memiliki pe er. Seharusnya, adalah tugas para pengajar untuk memberikan ilmu mengelola event fotografi untuk mahasiswanya.

(ema/avi)

Written by Admin

April 4, 2010 at 2:09 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

Pos Indonesia Photo Contest

leave a comment »

Photography News about Pos Indonesia Photo Contest 2008 (Kompas – 29th Oktober 2008)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/29/14424246/rendah.kesadaran.masyarakat.ri

Written by Admin

February 27, 2010 at 3:24 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

Galih Sedayu

leave a comment »

Photography Interview about me & Community (Pikiran Rakyat – 5th June 2008)
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=16276

Written by Admin

February 27, 2010 at 3:22 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,