I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘10) SEMESTA TULISAN FOTOGRAFI’ Category

Gerakan Komunitas & Solusi Permasalahan Kota

leave a comment »

Teks : galih sedayu

We don’t heal in isolation, but in community”
-S. Kelley Harrell-

Sebuah Kota sejatinya bukan hanya menjadi sebuah ruang dan tempat bernaung semata dari sebuah tatanan komunitas atau masyarakat. Semestinya ia dapat menjadi sebuah energi dan harapan bagi komunitas yang memilih untuk tinggal di dalamnya. Sehingga roh kota tersebut dapat selalu bergerak, berubah dan mengalir tanpa batas yang ditunjukkan oleh sejumlah letupan kreativitas komunitas tersebut. Karenanya kehadiran komunitas ini menjadi sangat berharga bagi keberlangsungan sebuah kota. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya merekalah yang menjadi roda-roda yang membuat kota tersebut tetap berputar dan terus berjalan.

Bandung sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Barat adalah salah satu contoh kota dengan segudang komunitas yang terus menetas hingga menelurkan himpunan kreativitas yang unik dan beragam. Sebagaimana konsekuensi sebuah kota yang sedang berkembang, tubuh Kota Bandung saat ini mulai terkoyak dengan seabrek persoalan yang ada. Dari mulai isu kemacetan, ruang-ruang publik yang menganggur, polusi udara, konflik sosial, kemerosotan moral dan lain sebagainya. Disinilah sebenarnya komunitas memiliki peluang atau setidaknya (bagi mereka) hal tersebut melahirkan tantangan baru untuk mulai memikirkan cara kreatif memecahkan permasalahan kota tersebut. Karena walaubagaimanapun, komunitas harus menyadari bahwa mereka tidak bisa mengandalkan pemerintahan yang konservatif untuk membuat sebuah kota yang tenteram & nyaman. Perlu sebuah dobrakan-dobrakan kecil yang diekspresikan melalui cara-cara kreatif ala komunitas.

Tanpa disadari atau tidak, ternyata saat ini di Kota Bandung mulai bermunculan embrio-embrio gerakan komunitas yang memiliki tanggung-jawab serta mencirikan hasrat meraih cita-cita sosial bagi kotanya. Dari mulai Komunitas Bandung Berkebun dengan gerakan menanam tanaman produktif di lahan-lahan menganggur kota. Dimana setiap 3 bulan sekali komunitas ini mengajak warga kota dari mulai anak-anak, pemuda & orang tua untuk merayakan panen secara bersama-sama. Lalu ada Komunitas Metal Ujung Berung yang menghidupkan kembali kesenian musik tradisional sunda yang bernama karinding. Bahkan saat ini demam karinding sudah mulai menjalar kepada anak-anak muda yang sebelumnya ogah mempelajari alat musik tradisional apapun. Kemudian ada Komunitas Taman Foto Bandung yang kerap mengaktifkan taman-taman kota yang (biasanya) kesepian. Komunitas ini melakukan aktivitas kreatifnya dari mulai pameran, workshop, diskusi & sarasehan fotografi sehingga menjadikan taman tersebut sebagai rumah kreatif bagi komunitasnya. Lain halnya dengan Komunitas Bike Bdg yang mencoba menawarkan solusi kemacetan kota dengan bersepeda. Tidak hanya itu, mereka mampu untuk menggalang dana dan berhasil membangun sejumlah shelter sepeda di Kota Bandung dan kemudian mengelola jasa penyewaan sepeda bagi warga kota. Cerita lain dari sebuah komunitas yang bernama Bandung Inisiatip, dimana mereka menggagas sebuah gerakan menyelamatkan hutan kota. Pada awalnya mereka menyelenggarakan sebuah sayembara desain kawasan hutan Babakan Siliwangi. Hasil sayembara itu pun kemudian dilanjutkan & dikolaborasikan bersama Bandung Creative City Forum (BCCF) yakni sebuah perkumpulan komunitas kreatif kota bandung, menjadi sebuah program pembangunan jembatan hutan kota Babakan Siliwangi (Forest Walk). Pembangunan jembatan gantung di tengah hutan ini sekaligus menjadi simbol dari sebuah kesepakatan bersama antara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia & Pemerintah Kota Bandung yang menyatakan bahwa Kawasan Babakan Siliwangi diresmikan menjadi Hutan Kota Dunia (World City Forest). Gerakan ini menjadi sebentuk perlawanan warga untuk melindungi hutan kotanya agar tidak dijadikan ruang komersil oleh para pengusaha hitam dan anarkis dangkal yang selalu menebar horor. Dan masih banyak lagi sebenarnya komunitas-komunitas yang membawa angin perubahan bagi kotanya.

Inilah sebenarnya inti kekuatan komunitas. Mereka harus berani melawan kondisi kota yang menjadi tidak seimbang. Komunitas harus mampu menciptakan ide-ide sederhana demi memecahkan sedikit atau banyak persoalan kota tanpa harus kehilangan rasa senang dan kenikmatan menjalani aktivitasnya masing-masing. Ketika agresivitas positif komunitas ini semakin terkumpul, niscaya sebuah kota tidak akan oleng navigasinya. Selama kita menyadari bahwa kita tidak bisa sendirian menyelesaikan semua permasalahan kota. Dan komunitas semestinya menjadi salah satu jawabannya.

*Tulisan ini diberikan sebagai salah satu kontribusi di dalam buku yang disusun oleh Komite Pengembangan Ekonomi Kreatif Jawa Barat.

Bandung 19 September 2012

Nyala Merdeka Masyarakat Fotografi Indonesia

with 2 comments

oleh galih sedayu

Ada yang menarik pada salah satu acara debat Calon Presiden (Capres) Indonesia yang diselenggarakan di Gran Melia, Jalan Rasuna Said, Jakarta pada tanggal 15 Juni 2014 yang silam. Seperti kita ketahui, saat itu tengah berlangsung debat Capres antara Jokowi versus Prabowo. Tepatnya di sesi ke-5 debat capres tersebut, Jokowi bertanya kepada lawannya Prabowo, “Bagaimana pandangan bapak mengenai ekonomi kreatif? Karena ini banyak sekali mengurangi pengangguran”. Dan kemudian acara debat itupun berlanjut seru.

Sesudah ucapan Jokowi perihal ekonomi kreatif di acara debat tersebut, berbagai tanggapan positif pun muncul di berbagai media sosial seperti twitter dan facebook terutama di kalangan anak muda indonesia. Mereka merasa terwakili dan didukung atas keberpihakan Jokowi terhadap isu ekonomi kreatif yang erat hubungannya dengan kreativitas anak-anak muda. Tak heran karena di indonesia saat ini begitu banyak anak muda yang berkecimpung di dalam dunia industri kreatif. Hingga kini, isu ekonomi kreatif menjadi sebuah topik yang semakin hangat diperbincangkan di kalangan anak-anak muda bangsa kita.

Namun sesungguhnya, wacana ekonomi kreatif telah muncul sejak sekitar tahun 2005 dalam beberapa diskusi komunitas di kota Bandung. Kemudian sekitar tahun 2006, konsep ekonomi kreatif ini mulai diperkenalkan kepada pemerintah Provinsi Jawa Barat. Lalu pada tahun 2007, Bandung dinobatkan menjadi kota percontohan bagi pengembangan ekonomi kreatif di indonesia oleh British Council. Dan akhirnya pada tahun 2008, lahirlah sebuah perkumpulan independen pertama di indonesia yang mengusung semangat ekonomi kreatif bernama Bandung Creative City Forum (BCCF). Dari Bandunglah kemudian gagasan perihal pola dan sinergitas masyarakat kreatif yang tadinya menganut Triple Helix yakni Academic, Business & Goverment (ABG), kini pemerintah menganut pola Quadro Helix, yakni Academic, Business, Goverment plus Community (ABGC). Nyatanya tambahan unsur komunitas sebagai pelaku kreatif menjadi pemantik perubahan dalam perkembangan ekonomi kreatif itu sendiri. Pemerintah pun akhirnya tidak tinggal diam. Salah satu bentuk kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif adalah keluarnya Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2009. Pada akhir tahun 2011, di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pun lahir yang dikomandani oleh Mari Elka Pangestu.

Menurut peraturan menteri pariwisata dan ekonomi kreatif itu sendiri definisi perihal ekonomi kreatif itu adalah kegiatan ekonomi yang berbasis kepada kreativitas intelektual manusia, baik individu maupun kelompok, yang bernilai ekonomi dan berpengaruh kepada kesejahteraan masyarakat indonesia dan dapat dilindungi melalui rezim HKI. Secara sederhana Ekonomi Kreatif bisa diartikan sebagai sebuah model interdisiplin yang menggabungkan berbagai potensi kebudayaan, teknologi dan ekonomi dengan sasaran berupa peningkatan kesejahteraan perekonomian, peningkatan keterlibatan sosial dan promosi identitas kultural.

Saat ini ada 18 subsektor yang dikategorikan masuk ke dalam Industri Kreatif dan menjadi fokus perhatian pemerintah yaitu bidang periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video, film, fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukkan, penerbitan & percetakan, layanan komputer & piranti lunak, televisi, radio, riset & pengembangan serta kuliner. Menurut catatan, pada awalnya hanya ada 14 subsektor industri kreatif, kemudian bertambah menjadi 15 subsektor dengan masuknya subsektor kuliner, dan terakhir disepakati ada 18 subsektor dengan dipisahkannya beberapa subsektor industri kreatif yang tadinya digabung. Dari sinilah akhirnya fotografi memiliki tempat tersendiri sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif dimana sebelumnya fotografi masih bergabung dengan film dan video.

Perlahan-lahan, fotografi indonesia akhirnya mulai menarik perhatian pemerintah. Apalagi setelah pemerintah membentuk bagian khusus fotografi yakni Sub-Direktorat Pengembangan Fotografi, Direktorat Pengembangan Seni Rupa, Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni & Budaya (EKSB), Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf. Dimana Eddy Susilo yang menjabat selaku Kasubdit Bidang Pengembangan Fotografi tersebut. Mulai saat itu lambat laun terjadilah komunikasi dan kolaborasi aktif antara pemerintah dengan berbagai pelaku fotografi indonesia.

Atas usulan beberapa pelaku fotografi indonesia, akhirnya digagaslah sebuah acara yang bernama Kongres Fotografi Indonesia dengan maksud untuk mempertemukan para pelaku fotografi tanah air dan membahas masa depan fotografi indonesia. Demi mempersiapkan Kongres Fotografi Indonesia, pada hari Rabu tanggal 24 April 2013 bertempat di Hotel RedTop, Jalan Pecenongan, Jakarta, diselenggarakanlah FGD (Focus Group Discussion) yang pertama dengan tema “Penyusunan Rumusan Fasilitasi & Advokasi Fotografi Indonesia. Para pelaku fotografi yang hadir mewakili wilayah Jakarta, Bandung dan sekitarnya yaitu Ade Darmawan (Jakarta), Adhitya Zein (Bandung), Andrew Linggar (Jakarta), Anton Ismael (Jakarta), Ari Santosa (Jakarta), Atieq S S Listyowati (Jakarta), Bahtiar Dwisusanto (Jakarta), Dedi Istanto (Jakarta), Fendi Siregar (Jakarta), Firman Ichsan (IKJ), Galih Sedayu (Bandung), Gathot Subroto (Jakarta), Harto Solihin Margo (Bandung), Imam Hartoyo (Jakarta), Irma Chantily (Jakarta), Lateev Haq (Jakarta), Priadi Soefjanto (Jakarta), Raiyani Muharramah (Bogor), Ray Bachtiar Dradjat (Jakarta), Refi Mascot (Jakarta), Rully Kesuma (Jakarta), Toga Tampubolon (Jakarta), Yase Defirsa (Jakarta), dan Ve Dhanito (Jakarta).

Kemudian pada hari Rabu tanggal 1 Mei 2013, diselenggarakan kembali FGD yang kedua bertempat di Hotel Tunjungan, Jalan Basuki Rachmat, Surabaya. Para pelaku fotografi yang hadir mewakili wilayah Jawa Tengah, Jogja, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Pekan Baru, Aceh, Manado, Makassar dan Papua. Para pelaku fotografi ini adalah Andi Sucirta (Bali), Anjas Wijanarko (Solo), Arif Budiman (Bali), Edial Rusli (Jogja), Eny Erawati (Malang), Hartono Roesli Saputra (Surabaya), Husni Oa (Papua), Irwandi (Jogja), Poenk Pradopo (Surabaya), Wimo Ambala Bayang (Jogja), Aqiq Aw (Jogja), Muhammad Sujai (Sidoarjo), Muhammad Akbar (Makassar), Rasyid Ridha (Banjarmasin), Juliansyah Ajie (Aceh), Julian Nail Sitompul (Pekanbaru), Roedy Joen (Surabaya), Decky (Malang), Rismianto (Jember), dan Steven Sumolang (Manado). Adapun hasil dari FGD di Jakarta dan Surabaya tersebut akhirnya berhasil memetakan persoalan di bidang fotografi dan sepakat untuk melahirkan sebuah usulan berupa wadah bagi para pelaku fotografi indonesia yang diberi nama sementara “Forum Fotografi Indonesia”. Nama ini kemudian yang diusulkan dan dibawa menuju acara Kongres Fotografi Indonesia.

Pada FGD pertama & kedua ini ditekankan mengenai pentingnya sebuah forum fotografi di Indonesia yang berfungsi sebagai wadah komunikasi antar pemangku kepentingan, wadah menyalurkan aspirasi para pemangku kepentingan, wadah koordinasi para pemangku kepentingan, jalur komunikasi antara masyarakat umum dengan para pemangku kepentingan, forum pengembangan fotografi, dan forum konsultasi dan rekomendasi hukum. Pola jejaring yang dianut oleh forum fotografi ini melibatkan unsur jurufoto, bisnis, pemerintah dan edukasi. Pola ini sebenarnya mirip dengan sistem Quadro Helix yang diterapkan dalam pengembangan ekonomi kreatif yang terdiri dari unsur Akademisi, Bisnis, Pemerintah dan Komunitas.

Entah mengapa, FGD pun kembali dilakukan oleh Kemenparekraf melalui Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif berbasis seni dan budaya. FGD ini berlangsung pada tanggal 5-6 September 2013 di Hotel Oasis, Jalan Lombok No.10 Bandung. Dalam undangan disebutkan bahwa FGD ini bermaksud untuk menyusun pedoman ekonomi kreatif di bidang seni rupa. Karena wilayah fotografi berada di bawah koordinasi Dirjen Seni Rupa Kemenparekraf, sepertinya dirasa perlu untuk menghadirkan perwakilan sektor fotografi di indonesia. Dalam daftar undangan tertera nama Sekretaris Ditjen EKSB, Sekretaris Ditjen EKMDI, Direktur Pencanangan Destinasi & Investasi Pariwisata, Kepala Puslitbang Ekonomi Kreatif, Kepala Biro Hukum & Kepegawaian, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung, Kepala Bagian Hukum-Kepegawaian-Organisasi-Setditjen EKSB, Kasubdit Pengembangan Ekonomi Terapan, Kasubdit Pengembangan Seni Rupa Murni, Kasubdit Pengembangan & Pemasaran Apresiasi Seni Rupa, Kasubdit Fotografi, Inda C Noerhadi, Rizky Adiwilaga, Asmudjo, Basuki Antariksa, Aryudi Saputra, Meizan Diandra Nataadiningrat, Dendi Darman, Adhi Nugraha, Faturrochman, Hans Herbert, Gebie Babyrose, Ruddy Hatumena, Tisna Sanjaya, Octora Chan, Aming D Rahman, Herra Pahlasari, Endy Sepkendarsyah, dan Galih Sedayu. Perlu diketahui bahwa ternyata FGD ini tidak berkaitan sama sekali dengan rencana kegiatan Kongres Fotografi Indonesia. Setelah FGD ini, kemudian Kemenparekraf mengundang kembali perwakilan sektor fotografi untuk mengikuti workshop penelahaan dan bantuan hukum pada tanggal 10-12 Oktober 2013 yang berlangsung di Grya Dharma Wulan Sentul Kabupaten Bogor.

Sesungguhnya kedua kegiatan ini bertujuan untuk menyusun NSPK (Norma, Standar, Prosedur & Kriteria) Ekonomi Kreatif Bidang Seni Rupa yang terdiri dari seni murni, seni terapan dan fotografi. Maksud dan tujuan penyusunan NSPK ini adalah untuk memberikan panduan kepada pemerintah dan pemerintah daerah dalam melaksanakan kegiatan pendukungan bagi pengembangan ekonomi kreatif di bidang seni rupa ; untuk dapat memetakan ruang lingkup ekonomi kreatif di bidang seni rupa serta menetapkan frame work, benchmark, proyeksi dan parameter bagi pengembangan ekonomi kreatif di bidang seni rupa, sesuai konteks Indonesia dan masing-masing daerah (potensi masing-masing daerah) ; serta untuk dapat menetapkan koordinasi dan kerjasama antara kementrian untuk menetapkan kegiatan bagi pengembangan ekonomi kreatif di bidang seni rupa berkait dengan sektor-sektor pendukungnya seperti industri kreatif, industri kebudayaan, HKI, kota kreatif, klaster kreatif dan desa kreatif.

Sementara itu, pihak Kemenparekraf ternyata tengah menyusun buku cetak biru atau dokumen perihal rencana pengembangan ekonomi kreatif untuk lima tahun ke depan (2015-2019). Karena fotografi merupakan salah satu subsektor ekonomi kreatif, maka pemerintah perlu melakukan sinergi dan koordinasi dengan seluruh pelaku fotografi di indonesia sekaligus memetakan ekosistem melalui rangkaian FGD sebagai bahan untuk menyusun buku cetak biru tersebut. Tujuan FGD ini adalah Merumuskan Kerangka Strategis pengembangan subsektor Fotografi yang meliputi visi, misi, tujuan, sasaran, indikator, target, arah kebijakan, strategi dan tahapan pembangunan, serta Merumuskan kerangka kerja pengembangan subsektor Fotografi yang meliputi indikasi program dan kegiatan pengembangan subsektor Fotografi.

Kegiatan ini dilakukan pula bersamaan dengan FGD ekosistem subsektor ekonomi kreatif yang lain yaitu bidang periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video, film, permainan interaktif, musik, seni pertunjukkan, penerbitan & percetakan, layanan komputer & piranti lunak, televisi, radio, riset & pengembangan serta kuliner. Memang benar bahwa kegiatan FGD ekosistem subsektor fotografi ini tidak ada kaitannya dengan rencana kegiatan Kongres Fotografi Indonesia. Karena FGD ekosistem subsektor fotografi ini diinisiasi oleh pemerintah guna membuat buku cetak biru pengembangan ekonomi kreatif, sedangkan FGD & Kongres Fotografi Indonesia diinisiasi oleh beberapa pelaku fotografi indonesia dengan tujuan untuk melahirkan sebuah forum atau organisasi fotografi. Meskipun begitu, kedua program tersebut sama-sama difasilitasi oleh pemerintah, dalam hal ini difasilitasi oleh Kemenparekraf. FGD ini dilaksanakan sebanyak 3 kali dengan tema bahasan yang meliputi Ekosistem (FGD ke-1), Potensi dan Permasalahan (FGD ke-2), dan Kerangka Strategis dan Kerangka Kerja (FGD ke-3).

Pada hari senin tanggal 12 Mei 2014, FGD ekosistem subsektor fotografi yang pertama dilaksanakan di Balairung Soesilo Soedarman Kemenparekraf, Jalan Medan Merdeka Barat No.17, Jakarta. Agenda dari FGD ini adalah menentukan definisi dan ruang lingkup subsektor fotografi. Sayangnya FGD ini hanya mengundang sedikit perwakilan para pelaku fotografi yakni Edial Rusli (Yogyakarta), Firman Ichsan (Jakarta), Yudhi Soeryoatmojo (Jakarta), Yase Defirsa Cory (Jakarta), Andrew Linggar (Jakarta), Galih Sedayu (Bandung), Ray Bachtiar (Jakarta), Imam Hartoyo (Jakarta), Hendrikus Ardianto (Bandung), Irma Chantily (Jakarta) dan Ferry Ardianto (Jakarta). Output dari FGD ini yaitu Definisi dan ruang lingkup subsektor fotografi, Peta Ekosistem subsektor fotografi, Peta Industri subsektor fotografi, Gambaran kondisi industri atau dinamika dalam subsektor fotografi, serta Gambaran model bisnis subsektor fotografi.

FGD ekosistem subsektor fotografi yang kedua dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 28 Mei 2014 dan masih bertempat di lokasi yang sama yakni di Balairung Soesilo Soedarman Kemenparekraf, Jalan Medan Merdeka Barat No.17, Jakarta. Agenda FGD ini adalah menentukan isu strategis potensi dan permasalahan subsektor fotografi. Dalam FGD ini Kemenparekraf meminta Achmad Gazali (Bandung) sebagai moderator dan Wijayanto Budi Santoso (Bandung) sebagai presenter, dimana keduanya sekaligus mewakili tim studi SBM-ITB yang dipercaya sebagai tim riset. Undangan perwakilan para pelaku fotografi sebagai observer yakni Arbain Rambey (Jakarta) dan Yase Defirsa Cory (Jakarta). Adapun undangan yang didaulat sebagai sebagai narasumber yaitu Edial Rusli (Yogyakarta), Firman Ichsan (Jakarta), Andrew Linggar (Jakarta), Galih Sedayu (Bandung), Ray Bachtiar (Jakarta), Kristupa Saragih (Yogyakarta), Imam Hartoyo (Jakarta), Hendrikus Ardianto (Bandung), Irma Chantily (Jakarta) dan Ferry Ardianto (Jakarta) dan Yudhi Soeryoatmojo (Jakarta). FGD kedua ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi subsektor fotografi indonesia, mengidentifikasi permasalahaan dan alternatif solusi subsektor fotografi indonesia, merumuskan prioritas potensi dan permasalahan subsektor fotografi indonesia, meningkatkan pemahaman mengenai struktur pasar dalam subsektor fotografi indonesia, serta meningkatkan pemahaman mengenai daya saing subsektor fotografi indonesia.

Kemudian FGD ekosistem subsektor fotografi yang ketiga dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 11 Juni 2014 dan bertempat (masih sama) yakni di Balairung Soesilo Soedarman Kemenparekraf, Jalan Medan Merdeka Barat No.17, Jakarta. Agenda yang dibahas adalah menentukan rencana pengembangan subsektor fotografi 2015-2019. Para undangan dalam FGD ini yaitu Achmad Gazali (Bandung) sebagai moderator dan Wijayanto Budi Santoso (Bandung) sebagai presenter yang keduanya mewakili tim SBM-ITB. Undangan perwakilan para pelaku fotografi sebagai narasumber yaitu Edial Rusli (Yogyakarta), Firman Ichsan (Jakarta), Arbain Rambey (Jakarta), Yase Defirsa Cory (Jakarta), Andrew Linggar (Jakarta), Galih Sedayu (Bandung), Ray Bachtiar (Jakarta), Kristupa Saragih (Yogyakarta), Imam Hartoyo (Jakarta), Hendrikus Ardianto (Bandung), Irma Chantily (Jakarta) dan Ferry Ardianto (Jakarta), Risman Marah (Yogyakarta), Yudhi Soeryoatmojo (Jakarta) dan Josef Tjahjo Kuntjoro (Jakarta). Lalu sebagai narasumber yang lain ada Muslikh, SH (Jakarta) yang mewakili Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Yuslisar Ningsih, SH (Jakarta) yang mewakili Direktorat Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia, serta perwakilan dari Asdep Urusan Pembiayaan dan Penjaminan Kredir Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil & Menengah.

Dari hasil ketiga FGD dalam rangka melakukan Pemetaan Ekonomi Kreatif Indonesia ini akhirnya didapatkan beberapa kesimpulan tentang hal-hal yang berkaitan dengan subsektor fotografi. Dimana fokus ruang lingkup subsektor fotografi dalam pengembangan ekonomi kreatif indonesia meliputi fotografi jurnalistik & dokumenter ; fotografi komersial ; dan fotografi seni. Untuk potensi subsektor fotografi disebutkan bahwa fotografi memiliki kekuatan (internal) dengan alasan bahwa pasar fotografi tentunya semakin tumbuh seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk ; kebutuhan fotografi untuk media, periklanan dan foto-foto dokumentasi akan selalu ada ; membuka lapangan kerja ; tumbuhnya komunitas-komunitas baru di daerah-daerah dan juga komunitas di dunia maya ; kemudahan akses informasi menjadikan fotografi dapat dipelajari oleh siapa saja; serta peningkatan konsumsi kamera baik itu sebagai sarana bekerja ataupun untuk aktualisasi diri. Lalu disebutkan pula bahwa fotografi memiliki potensi kesempatan (eksternal) dengan alasan bahwa fotografi dapat berfungsi sebagai promosi pariwisata yang secara tidak langsung dapat membuka keran devisa bagi negara, dan tingginya konsumsi alat fotografi dalam negeri seharusnya dapat memberikan daya tawar yang lebih dengan produsen untuk melakukan alih teknologi.

Kemudian hasil FGD ini menyebutkan pula beberapa permasalahan subsektor fotografi di indonesia yaitu Infrastruktur yang tidak memadai ; Ketergantungan alat-alat fotografi impor ; Ketergantungan alat-alat piranti lunak yang berlisensi ; Kebijakan HAKI yang belum terlaksana baik di dalam negeri ; Adanya tumpang tindih kementrian dalam menaungi subsektor fotografi ; Belum adanya asosiasi fotografi yang terpusat dan memiliki kekuatan dalam menggerakkan fotografi indonesia ; Perlunya perlindungan bagi fotografer lokal untuk menghadapi persaingan dengan fotografer luar negeri ; Belum adanya kemudahan untuk meminjam dana dari jasa keuangan untuk menjalankan bisnis di bidang industri kreatif ; Minimnya galeri atau ruang publik yang dapat digunakan untuk berpameran ; Adanya biaya-biaya yang memberatkan dalam penggunaan ruang publik ; Minimnya dukungan pemerintah dalam mendukung fotografer untuk berpameran di luar negeri ; Persaingan yang tidak sehat di dalam negeri karena tumbuhnya fotografer-fotografer amatir.

Mengenai hasil kegiatan ketiga FGD ekosistem subsektor fotografi yang telah diselenggarakan ini kemudian dipublikasikan oleh Kemenparekraf ke dalam bentuk buku cetak biru berisi perihal rencana pengembangan fotografi indonesia selama 5 tahun (2015-2019). Buku cetak biru ini diluncurkan pada hari Selasa tanggal 14 Oktober 2014 bertempat di Teater Besar, Gedung Teater Jakarta, Komplek Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya No.73, Jakarta. Peluncuran buku cetak biru ini bertepatan pula dengan Kegiatan “Salam Kreatif” yakni sebuah persembahan untuk insan kreatif sebagai perayaan era ekonomi kreatif di indonesia. Di dalam buku itulah terdapat rencana aksi jangka menengah fotografi indonesia ke depan.

Untuk mesukseskan kegiatan Kongres Fotografi Indonesia, maka kemudian dibuatlah Tim Formatur untuk membentuk Forum Fotografi Indonesia, yang digulirkan pada hari kamis tanggal 12 Juni 2014 dan berlokasi di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), Jakarta. Tugasnya adalah membentuk Dewan Pembina dan Pengurus Harian, Membentuk Rancangan AD/ART Forum Fotografi, dan mempersiapkan Kongres Fotografi untuk pembentukan Forum Fotografi Indonesia. Tim Formatur ini terdiri dari Oscar Motuloh (Ketua), Bambang Wijanarko (Bendahara), Lasti Kurnia (Sekretaris), Imam Hartoyo (Divisi Persiapan Penyusunan Draft AD/ART), Eddy Susilo (Divisi Persiapan Penyusunan Draft AD/ART), Andrew Linggar (Divisi Persiapan Acara Kongres), Purwo Subagiyo (Divisi Persiapan Acara Kongres), Ray Bachtiar D (Divisi Sosialisasi), Rakhmat Koesnadi (Divisi Sosialisasi), Yase Defirsa Cory (Divisi Sosialisasi), Reynold Sumayk (Seleksi Dewan Pembina/Pengurus),Edial Roesli (Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus), Rully Kesuma (Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus), Irma Chantily (Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus), dan Arbain Rambey (Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus.

Akhirnya pada tanggal 10-12 Oktober 2014, Kongres Fotografi Indonesia berhasil dilaksanakan, bertempat di Hotel Amaris Mangga Dua, Jalan Gunung Sahari Raya No.1 Jakarta. Pembukaan Kongres Fotografi Indonesia (hari pertama) yang berlangsung di Balairung Soesilo Soedarman Kemenparekraf, Jalan Medan Merdeka Barat No.17, Jakarta ini dihadiri oleh Mari Elka Pangestu sebagai Mentri Pariwisata & Ekonomi Kreatif RI sekaligus tampil menjadi Keynote Speech di hadapan 80 peserta kongres. Pada kesempatan itu pula, Mari Elka Pangestu menyebutkan bahwa pada tahun 2013, fotografi bersama subsektor film, video mampu menghasilkan nilai tambah Rp 8,4 triliun atau 1,3 % dari total kontribusi 15 subsektor ekonomi kreatif terhadap PDB nasional sebesar Rp 641, 8 triliun. Kemudian beliau juga mengatakan bahwa Lapangan kerja yang tercipta sebanyak 63.755 tenaga kerja atau 0,54 % dari total penciptaan lapangan kerja sektor ekonomi kreatif sebanyak 11,8 juta orang.

Adapun daftar peserta Kongres Fotografi Indonesia yang diundang oleh tim formatur adalah Goenadi Haryanto (Jakarta), Dibya Pradana (Jakarta), Felix (Jakarta), Jerry Adiguna (Jakarta), Agung Ariefandi (Jakarta), Ahmad Deny Salman (Jakarta), Anton Bayu Samudra (Jakarta), Anton Ismael (Jakarta), Danu Sagoro (Jakarta), Darwis Triadi (Jakarta), Don Hasman (Jakarta), Edwin Djuanda (Jakarta), Firman Ichsan (Jakarta), Guntur Santoso (Jakarta), Hadi Ariwibowo (Jakarta), Hartono K Halim (Jakarta), Hermanus Prihatna (Jakarta), Wiryadi Lorens (Jakarta), Johannes Rompi (Jakarta), Kemal Jufri (Jakarta), Lans Bramantyo (Jakarta), Suherry Arno (Jakarta), Mosista Pambudi (Jakarta), Ng Swan Ti (Jakarta), Refi Mascot (Jakarta), Roy Genggam (Jakarta), Sandy Chandra (Jakarta), Sigit Pramono (Jakarta), Tantyo Bangun (Jakarta), Warren Kiong (Jakarta), Yudhi Soerjoatmodjo (Jakarta), Johanes Judha (Jakarta), Willy Pitrawirya (Jakarta), Bachtiar (Aceh), Hotli Simanjuntak (Aceh), Risman Marah (Yogyakarta), Johnny Hendarta (Yogyakarta), Budi ND Dharmawan (Yogyakarta), Kristupa Saragih (Yogyakarta), Wimo Ambala Bayang (Yogyakarta), Arya Martha (Bandung), Budhi Ipoeng (Bandung), Galih Sedayu (Bandung), Harry Reynaldi (Bandung), Harto Solichin Margo (Bandung), Raiyani Muharramah (Bogor), Riza Marlon (Bogor), Rismianto (Jember), Decky Yulian (Malang), Edward Tigor Siahaan (Medan), Ferdi Siregar (Medan), Jhonny Siahaan (Medan), Julian Nail Sitompul (Pekanbaru), Andi Kusnadi (Semarang), Muhammad Sujai (Sidoarjo), Anjas Wijanarko (Solo), Mamuk Ismuntoro (Surabaya), Pradopo (Surabaya), Yuyung Abdi (Surabaya), Qwadru Wicaksono (Lombok), Muhammad Akbar (Makassar), Yusuf Ahmad (Makassar), Steven Sumolang (Manado), Karolus Naga (NTT), Mohammad Reza (Palu), Eko Soebagyo (Soroako), Andi Sucirta (Bali), Arief Budiman (Bali), Cipto Aji Gunawan (Bali), Bagus Made Irawan (Bali), Rasyid Ridha (Banjarmasin), Taufiqurrahman (Bontang), Musyawir (Mimika), Husni Oa (Jayapura), dan Asep Tajoer (Ternate).

Hari pertama Kongres Fotografi Indonesia diisi oleh kegiatan Seminar “HAKI dalam Fotografi” oleh Dirjen HAKI. Kemudian dilanjutkan dengan Seminar “Pendidikan Fotografi dalam pengembangan ekonomi kreatif” oleh Ditjen PAUD. Setelah itu kegiatan diisi oleh Seminar “Peran bisnis/industri fotografi dalam pengembangan ekonomi kreatif” oleh Asosiasi Design Grafis Indonesia. Lalu di akhir acara, para peserta dibagikan kuesioner perihal segala isu & permasalahan fotografi yang ada indonesia untuk kemudian dijadikan materi pembahasan di hari kedua kongres.

Pada hari kedua Kongres Fotografi Indonesia, para peserta kongres dibagi menjadi 3 komisi. Dimana masing-masing komisi diberi tugas tertentu dari mulai mengusulkan nama organisasi fotografi yang akan dibuat, bentuk hukum, visi dan misi, program kerja hingga format dewan pembina & badan pengurus. Lalu masing-masing komisi memaparkan usulan-usulan tersebut melalui sidang pleno. Saat itu, sidang pleno berhasil memutuskan nama organisasi fotografi yang telah disepakati bersama. Namun demikian, nama organisasi tersebut bukanlah “Forum Fotografi Indonesia” seperti yang telah disiapkan oleh Tim Formatur Kongres sebelumnya. Nama organisasi yang telah disepakati oleh para peserta kongres yaitu “Masyarakat Fotografi Indonesia” atau “Indonesian Photograpic Society”.

Di hari kedua itu pula sidang pleno menetapkan nama-nama “Dewan Kehormatan” untuk Masyarakat Fotografi Indonesia yaitu Mari Elka Pangestu, Soedja’i Kartasasmita, Soeprapto Soedjono, dan Watie Moerany. Lalu ditetapkan pula “Dewan Pembina” untuk Masyarakat Fotografi Indonesia. Dewan Pembina ini terdiri dari Sigit Purnomo (Ketua Dewan Pembina), Oscar Motuloh (Wakil Letua Dewan Pembina I), dan M. Firman Ichsan (Wakil Ketua Dewan Pembina II). Lalu anggota Dewan Pembina terdiri dari Agus Leonardus, Arbain Rambey, Darwis Triadi, Don Hasman, Edmond Makarim, Edwin Djuanda, Fendi Siregar, Guntur Santoso, Imam Hartoyo, Irwan Kamdani, Johnny Hendarta, Ray Bachtiar, Rio Helmi, Risman Marah, Solichin Margo dan Yudhi Soerjoatmodjo.

Kemudian pada hari ketiga Kongres Fotografi Indonesia, diputuskan nama-nama “Badan Pengurus” untuk Masyarakat Fotografi Indonesia. Badan Pengurus ini terdiri dari Hermanus Prihatna (Ketua) ; Andrew Linggar (Wakil Ketua) ; Lasti Kurnia (Kesekretariatan) ; Wiryadi Lorens (Keuangan) ; Agatha Bunanta & Edial Rusli (Kerjasama & Koordinasi) ; Anton Bayu, Galih Sedayu, Ng Swan Ti & Ridha Kusumabrata (Program) ; Dibya Pradana, Marissa Tunjungsari & Purwo Subagyo (Marketing & Komunikasi) ; Irma Chantily & Rully Kesuma (Penelitian & Pengembangan).

Karena Masyarakat Fotografi Indonesia tidak mengenal keanggotaan, maka diputuskan juga nama-nama yang mewakili “Mitra Daerah” yang terdiri dari Bachtiar (Aceh), Ferdi Siregar (Medan), Edward Tigor Siahaan (Toba), Julian Sitompul (Pekanbaru), Aprison Irsyam (Padang), Harry Reynaldi (Bandung), Nurhaipin La Manna (Banten), Andy Kusnadi (Semarang), Budi Dharmawan (Yogyakarta), Anjas Aryo Wijanarko (Solo), Mamuk Ismuntoro (Surabaya), Decky Yulian Hersanto (Malang), Rasyid Ridha (Banjarmasin), Abdul Hakim (Bontang), Andi Sucirta (Bali), Bagus Made Irawan (Bali), Yusuf Ahmad (Makassar), Mohammad Akbar (Makassar), Karolus Naga (NTT), Steven Sumolang (Manado), Muhammad Reza (Palu), Asep Yusup Tazul Aripin (Ternate), Qwadro Putro Wicaksono (Lombok), dan Husni Oa (Papua).

Pada akhirnya, dibacakanlah kemudian “Deklarasi” sebagai hasil Kongres Fotografi Indonesia. Beginilah bunyi deklarasi tersebut.

“Kami – para insan fotografi yang menghadiri Kongres Fotografi Indonesia, yang berlangsung di Hotel Amaris Jakarta pada tanggal 10-12 Oktober 2014, mendeklarasikan terbentuknya Masyarakat Fotografi Indonesia (Indonesian Photography Society).

Masyarakat Fotografi Indonesia adalah organisasi nirlaba yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam dunia fotografi – yaitu praktisi fotografi, akademisi, bisnis dan pemerintah.

Masyarakat Fotografi Indonesia adalah sebuah wadah yang berperan memayungi, mendorong kerjasama dan koordinasi antar pemangku kepentingan – baik perseorangan maupun segala bentuk perkumpulan, komunitas, asosiasi profesi fotografi dan lain sebagainya – untuk mengembangkan sektor fotografi di indonesia.

Masyarakat Fotografi Indonesia sebagai organisasi nasional yang akan menyuarakan kepentingan para pemangku kepentingan di tingkat nasional dan internasional”.

Jakarta, 12 Oktober 2014

Dengan kelahiran Masyarakat Fotografi Indonesia ini, tentunya kita semua berharap bahwa ada sebuah hembusan nafas baru yang ditiup serta mampu mengalirkan udara bersih bagi perkembangan jiwa dan raga para insan fotografi di indonesia. Kita pun sangat sadar sepenuh hati, bahwa penyelenggaraan Kongres Fotografi Indonesia ini masih belum sempurna. Namun demikian, sesungguhnya yang kita perlukan saat ini adalah sebuah empati dan rasa persaudaraan yang erat untuk dapat mengumpulkan segala perbedaan menjadi satu hati. Sudah saatnya kita bangun kembali dan mulai menyusun batu dan kerikil yang bergeletakan demi rumah kita yang baru. Agar kelak rumah ini dapat mewariskan budaya fotografi yang selalu menerangi, yang selalu memiliki kekuatan memeluk dan yang selalu melahirkan himpunan karya terbaik dari segala anak bangsa. Kiranya dalam cahaya fotografi kita selalu merdeka.

@galihsedayu | bandung 15 oktober 2014

Membingkai Cahaya

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Walaupun kita semua merekam dengan menggunakan kamera, namun aktivitas fotografi bukanlah persoalan yang menyangkut gear atau alat semata. Karenanya kecanggihan teknologi yang kita kuasai, tidak lebih penting daripada kesederhanaan ide yang kita miliki untuk membuat karya foto. Pada umumnya, pendidikan fotografi di Indonesia dimulai dengan mempelajari alat & teknis. Bukan dimulai dengan “cara melihat” yang semestinya menjadi kunci masuk untuk membuka pintu fotografi. Apalagi esensi fotografi itu sendiri adalah kebebasan melihat. Barangkali karena sistem pendidikan fotografi yang seperti itu, para pelaku fotografi di Indonesia cenderung untuk lebih konsumtif ketimbang produktif terutama dalam menghasilkan karya. Namun demikian, kita harus meyakini bahwa kita mampu untuk mengubah persepsi tersebut.

Ketika seorang fotografer memotret, sesungguhnya ia sedang melakukan proses berpikir secara visual. Saat fotografer melakukan observasi, ia mesti menggunakan matanya. Saat fotografer berimajinasi, ia mesti menggunakan ingatan atau memorinya. Saat fotografer mengekspresikan obyek fotonya, ia mesti menggunakan desain visual yang baik. Seorang fotografer pada umumnya bekerja dengan 2 (dua) cara desain ketika melakukan pemotretan yaitu melihat dan mengamati obyek foto (Design He Observes) & menciptakan dan mengatur obyek foto (Design He Creates). Cara pertama biasanya dilakukan oleh fotografer yang menghasilkan foto candid atau foto yang sifatnya spontan dan mengutamakan momen. Cara kedua biasanya dilakukan oleh fotografer yang menghasilkan foto yang dirancang sedemikian rupa sehingga sesuai dengan konsep yang diinginkan.

In Frame : Art of Light”. Adalah sebuah acara fotografi yang digagas oleh mahasiswa STIKOM Bandung angkatan 2013 sebagai syarat untuk kelulusan mata kuliah fotografi. Di dalamnya ada kegiatan berupa Gelar Karya yang berisi hasil foto bidikan mahasiswa STIKOM Bandung setelah melakukan praktikum selama satu semester. Tema yang mereka angkat adalah “Studio Photography” yang mencangkup still life, food, modelling dan fine art photography. Karena foto-foto yang dihasilkan kebanyakan dilakukan di dalam studio, maka pendekatan yang dilakukan oleh mereka saat memotret pada umumnya mengacu kepada “Design He Creates” dimana fotografer menciptakan dan mengatur obyek fotonya. Sungguh menarik bila menyimak himpunan karya foto karya mahasiswa STIKOM Bandung yang digelar pada tanggal 11-14 Agustus 2014 di Taman Foto Bandung (Taman Cempaka). Terutama untuk kategori Fine Art Photography, dimana mereka berani bermain dengan ide dan imajinasi. Ada sebuah kesan metafor dan sindiran yang diungkap melalui pesan visual. Meski eksekusi adalah sebuah perjalanan panjang dan membutuhkan kematangan dari si pemotret tentunya. Setidaknya apa yang telah dilakukan oleh mahasiswa STIKOM Bandung ini adalah sebuah pertanggung-jawaban awal kepada publik, bahwasanya mereka mulai berani berbagi dan berekspresi. Yang didedikasikan bagi dunia pendidikan dan peradaban cahaya yang mereka cintai.

*Tulisan ini diberikan sebagai pengantar kuratorial pada pameran foto “in frame ; art of light” karya mahasiswa STIKOM Bandung

Bandung, 5 Agustus 2014

stereotype_rio permana sitepu & rizky perdana

(c) rio permana sitepu & rizky perdana

hidden_oki firmansyah & m luthfie choirullah

(c) oki firmasyah & m. luthfie choirullah

fettered_firdaus nurmansyah

(c) firdaus nurmasyah

in frame_stikom bdg

copyright (c) 2014 
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographers.

Written by Admin

August 25, 2014 at 8:49 am

Mewartakan Kreasi Bandung

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Tak ada sesuatu yang abadi di bumi ini. Satu-satunya yang tetap adalah perubahan. Begitu pula yang terjadi pada perkembangan ekonomi dunia. Dimana lompatan ekonomi yang bergulir begitu cepatnya dari mulai ekonomi pertanian, ekonomi industri, ekonomi informasi hingga ekonomi kreatif dewasa ini menjadi bukti nyata terjadinya perubahan tersebut. Bahkan konsekuensi dari fenomena ini adalah berkembangnya sebuah prediksi sekaligus persepsi yang menyebutkan bahwa Eropa adalah masa lalu, Amerika adalah masa kini dan Asia adalah masa depan. Karenanya proses globalisasi menjadi tak terbendung hingga detik ini. Dan Indonesia mau tidak mau mesti siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi akibat kondisi ini, terlebih bila kita memiliki mimpi untuk menjadi macan asia.

Kota Bandung menjadi salah satu kota yang menjadi contoh perkembangan ekonomi kreatif, tidak hanya di Indonesia melainkan di dunia. Buktinya, pada tahun 2007 kota Bandung menjadi proyek percontohan pengembangan kota kreatif yang diinisiasi oleh British Council. Kemudian pada tahun 2008, lahirlah sebuah perkumpulan independen yang terdiri dari komunitas & individu kreatif kota Bandung bernama Bandung Creative City Forum (BCCF). Apalagi sejak tahun 2013 hingga sekarang, kota Bandung memiliki seorang pemimpin baru bernama Ridwan Kamil, yang juga merupakan pelaku & pegiat kreatif. Oleh karena itu, sudah semestinya kota Bandung memiliki harapan akan perubahan yang besar terutama bila sinergitas kota kreatif yang disebut Quadro Helix yakni kolaborasi antara kalangan akademisi, bisnis, komunitas & pemerintah sungguh benar terjadi.

Salah satu bentuk kebijakan yang dilakukan pemerintah perihal pengembangan ekonomi kreatif adalah keluarnya Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2009. Ada 14 subsektor yang dikategorikan masuk ke dalam Industri Kreatif yaitu periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video-film-fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukkan, penerbitan & percetakan, layanan komputer & piranti lunak, televisi & radio serta riset & pengembangan. Terakhir pemerintah menambahkan subsektor kuliner sehingga saat ini terdapat 15 subsektor industri kreatif yang ada di Indonesia.

Fotografi sebagai salah satu subsektor industri kreatif, memiliki kemampuan visual yang dianggap mampu untuk menyampaikan informasi dan gambaran sesungguhnya perihal produk beserta aktivitas industri kreatif tersebut. Karena itu Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian Perdagangan (KUKM & Indag) kota Bandung bekerjasama dengan air foto network mengadakan sebuah program yang bertajuk “Bandung Nu Urang”. Program ini berupa workshop dan pameran fotografi yang bertujuan untuk mengangkat isu perihal industri kreatif kota Bandung. Tahap pertama yang dilakukan yaitu workshop fotografi pada tanggal 9 s/d 11 Mei 2014 di Hotel Gino Feruci tepatnya di jalan Braga, Bandung. Peserta workshop terdiri dari 30 orang terpilih yang merupakan para pelaku industri kreatif fotografi di kota Bandung. Dimana sebelumnya ada 90 peserta yang mendaftarkan diri dan mesti mengikuti tahap seleksi yang kemudian disaring untuk dapat mengikuti workshop tersebut. Selama 3 hari, mereka dibekali materi fotografi & industri kreatif yang diberikan oleh galih sedayu (pegiat kreatif & pengajar fotografi), dudi sugandi (jurnalis foto) dan sandi jaya saputra (fotografer). Setelah itu para peserta diberikan penugasan untuk membuat karya foto perihal industri kreatif kota bandung dengan tema yang telah dipilih oleh masing-masing peserta.

Sebagai salah satu bentuk kesadaran bersama untuk memberikan edukasi kepada publik, maka Pameran Foto “Bandung Nu Urang” hasil karya peserta workshop ini pun digelar pada tanggal 19 Juli 2014 di Taman Foto Bandung yang berlokasi di Jalan Taman Cempaka, Bandung. Sebanyak 25 orang yang karya fotonya lolos pada saat presentasi dan proses kurasi yang dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2014 di kantor air foto network. Adapun para fotografer & pelaku kreatif bidang fotografi yang berpartisipasi dalam pameran foto ini yaitu Amirudin Fuad Ridlo, Ardiles Klimarsen, Arya Magindra, Arya Marta, Ayi Rahmat Hidayat, Barly Isham Arsatadany, Eligius Adi Darma, Endras Septiano, Fitra Ananta Sujawoto, Gunawan Winata, Ivan Arsiandi, Jakobus Gunawan, Julius Tomasowa, Krisna Satmoko, Lestari Perangin Angin, Mia Sjahir, Myke Jeanneta, Refa I Adiredja, Rifan Wahyudi, Satya Andhika, Siti Desintha, Sjuaibun Iljas, Sudarmanto Edris, Walgi Efriyan dan Wiwit Setyoko.

Marilah kita simak bersama, jejak karya para pelaku kreatif fotografi yang merekam sebagian denyut nadi dan detak jantung industri kreatif yang menghidupkan kota Bandung. Jurnal fotografi yang diterbitkan bersamaan dengan pameran foto “Bandung Nu Urang” ini, mencoba mengungkap apa yang dikandung oleh Bandung dilihat dari sisi para insan kreatifnya. Sebuah himpunan visual yang coba dirangkum melalui mata, energi & hati yang dimiliki oleh para peserta workshop dengan segala keterbatasan waktunya. Pameran & jurnal fotografi inipun diharapkan dapat dilanjutkan kembali kelak menjadi sebuah jejak yang lebih besar lagi, yaitu penerbitan buku fotografi perihal industri kreatif kota Bandung. Namun sesungguhnya, yang terpenting dari semuanya adalah adalah lahirnya sebuah cinta dan harapan yang tak pernah berhenti bagi kota Bandung. Sebuah kota yang sudah layak dan sepantasnya selalu kreatif, merdeka dan menjadi juara.

Bandung, 1 Juli 2014

jurnal bandung nu urang

poster bdg nu urang
galih sedayu

bdg nu urang

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2014
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from air foto network & photographer.

Written by Admin

July 22, 2014 at 11:48 am

Embrio Dari Bawah Kolong Jembatan

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Sebuah ide biasanya lahir dari sesuatu yang sederhana. Dari kegiatan kecil semisal diskusi pun bisa melahirkan sejumlah ide yang besar. Berawal dari program regular yang digagas oleh air foto network yakni Ngopi #4 {Ngobrol santai & tukar pikiran soal fotografi}, berlokasi di bawah kolong jembatan pasopati, tepatnya di taman kampung pulosari, lahirlah embrio fotografi di Kota Bandung yang bernama Kampung Foto Bandung. Sejatinya Kampung Foto Bandung ini adalah sebuah gerakan kolektif melalui fotografi yang berupaya mengaktivasi ruang publik kampung kota. Kampung pulosari adalah salah satu kampung urban yang terletak di bawah jembatan pasopati bandung, di depan lapangan bawet yang biasanya sering digunakan oleh komunitas Rumah Cemara untuk kegiatan sepak bola. Kampung ini sangat beruntung karena dilewati oleh aliran Sungai Cikapundung, sehingga suara air sungai menjadi bagian yang tak terpisahkan ketika kita menyambangi tempat tersebut. Adalah Kang Handoko atau yang akrab dengan sebutan Mang Han, seorang tokoh masyarakat yang sejak 3 tahun lalu ikut memberikan kontribusi besar terhadap perubahan Kampung Pulosari. Kawasan yang tadinya gersang, perlahan-lahan kini menjadi hijau karena berbagai pohon yang ditanam oleh Mang Han beserta warga. Kampung inipun memiliki sebuah taman kecil yang bersih sehingga menjadi salah satu ruang publik tempat berkumpulnya warga sembari menikmati pemandangan sungai cikapundung. Dari kampung inilah inspirasi & gagasan perihal Kampung Foto Bandung tercipta.

Tepatnya tanggal 15 Juli 2013, di pagi yang cerah pada masa bulan ramadhan, secara resmi Kampung Foto Bandung berdiri. Hadir menjadi saksi di sana yaitu Ihsan Achdiat (Mahasiswa IMTelkom Bandung), Herlambang Bayu S (Mahasiswa IMTelkom Bandung), Geiofanny (Komunitas Sesater Indonesia), Sugih Wiramantri (Komunitas Sesater Indonesia), Pam Adinugroho (Mahasiswa Unpad Bandung), Isma Dasir Maulinda (Mahasiswa IMTelkom Bandung), Rivira (Mahasiswa IMTelkom Bandung), Ahmad Shifauka (Mahasiswa UPI Bandung), Destari M.H (Mahasiswa Unpad Bandung), Bilfahmi Ilmi H (Pelajar SMA 25), Aji Kurniawan (Pekerja Kantor), Handoko (Tokoh Masyarakat Kampung Pulosari) dan galih sedayu (pegiat fotografi). Pada momen ini juga, Isma Dasir Maulinda didaulat untuk menjadi komandan atau ketua Kampung Foto Bandung agar program-program ke depan dapat terealisasi dengan baik. Karena dari diskusi inilah muncul berbagai ide dari mulai pelatihan fotografi untuk anak-anak kecil yang bermukim di kampung tersebut, pameran foto aktivitas warga, perpustakaan kampung, pembuatan buku atau jurnal visual warga, dan lain sebagainya.

Barangkali ada secuil harapan dari gerakan kecil yang bernama Kampung Foto Bandung ini. Karena sesungguhnya kolaborasi adalah jembatan hidup bagi dunia kreativitas apapun termasuk fotografi. Di film “Women Are Heroes”, seorang fotografer muda yang berinisial JR membuat pameran foto di ruang-ruang publik di seluruh dunia seperti di tempat pembuangan sampah, bangunan tua, gerbong kereta api hingga atap rumah perkampungan penduduk. Ia menganggap bahwa media ekspresi tidak hanya dapat dilakukan di ruang-ruang tertutup saja. Dunia ini adalah galeri terbesar baginya. Karenanya sebuah kampung bisa menjadi awal kaki melangkah bagi komunitas atau individu yang menggeluti disiplin fotografi. Agar fotografi menjadi egaliter dan lebih dekat dengan masyarakat tentunya. Karena fotografi bukanlah kecanggihan alat atau “Gear”, melainkan ide manusia.

Bandung, 15 Juli 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2013 by galih sedayu
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Melihat Jakarta

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Menceritakan kota metropolitan yang satu ini seolah-olah memang tiada habisnya. Ialah Jakarta, sebuah kota yang ditahbiskan menjadi ibu kota negara Indonesia, yang selalu menyimpan sejumlah harapan bagi para warga yang mengadu nasib dan  menetap di sana. Berbagai sebutan pun melekat untuk Kota Jakarta sejak dulu dari mulai Sunda Kelapa, Jayakarta hingga Batavia. Hingga kini, pada akhirnya Kota Jakarta menjadi sebuah sentral segala informasi pemerintahan dan diharapkan menjadi salah satu simbol pencitraan sebuah kota yang dapat mewakili tanah air dalam hal pembangunan serta kemajuan ekonomi.

Agar dapat melihat secara aktual bagaimana sebenarnya denyut nadi perkembangan Kota Jakarta saat ini, tentunya diperlukan sebuah medium sederhana yang sejatinya dapat menjadi alat bantu masyarakat untuk meneropong segala hal yang terjadi di Kota Jakarta. Media fotografi dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengungkap kembali cuplikan-cuplikan kehidupan keseharian Kota Jakarta. Untuk itulah wargajakarta.com bekerjasama dengan salam jakarta dan air foto network, menghadirkan sebuah program yang bernama “Jakarta Kita Photo Awards” yaitu Kompetisi Fotografi perihal Kota Jakarta kini. Kompetisi fotografi ini dibagi menjadi tiga kategori yaitu foto aktivitas masyarakat Kota Jakarta, foto pembangunan Kota Jakarta serta foto seni & budaya Kota Jakarta. Kompetisi foto ini berhasil menjaring 151 peserta dari seluruh Indonesia, dengan jumlah karya foto yang masuk sebanyak 690 karya. Penjurian kompetisi foto ini dilakukan oleh para dewan juri yang terdiri dari Dudi Sugandi (wartawan foto), Galih Sedayu (fotografer & pegiat fotografi) dan Rully Kesuma (jurnalis).

Untuk itulah himpunan karya foto yang telah diabadikan oleh para fotografer tanah air ini, layak untuk dipersembahkan ke dalam sebuah jurnal fotografi. Jurnal fotografi ini sudah semestinya ada agar rekaman-rekaman hening yang tercipta dari mata dan hati masing-masing pemotret setidaknya dapat memberikan jejak kecil bagi sejarah baru Kota Jakarta. Jurnal fotografi kali ini memang tidak menyuguhkan cerita Kota Jakarta yang muram & gelap, melainkan citra Kota Jakarta yang optimis. Dengan demikian seluruh karya foto yang merefleksikan segala hal baik yang terjadi di Kota Jakarta, setidaknya dapat menjadi kumpulan doa dan harapan bersama bagi warganya. Walaubagaimanapun kita harus percaya bahwa segala hal apapun yang pada mulanya diselimuti kebaikan, pada akhirnya akan menghasilkan nilai yang sama sesuai dengan apa yang telah kita berikan. Karenanya berikanlah segala hal yang terbaik dari milikmu bagi kota yang kamu cintai.

*Tulisan ini dibuat sebagai kata pengantar Jurnal Fotografi “Jakarta Kita Photo Awards” yang diadakan oleh Salam Jakarta & wargajakarta.com

Bandung, 7 September 2012

Written by Admin

September 9, 2012 at 5:27 am

Rekam Jejak 100 Tahun Republik Cina

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Meletusnya salah satu peristiwa besar bersejarah di dunia yakni Revolusi Cina (Xìnhài Gémìng)  pada tanggal 10 Oktober 1911, meninggalkan sebuah nama besar yang selalu melekat di dinding sejarah Cina Modern. Dialah Sun Yat-sen (1866 – 1925), seorang anak petani miskin kelahiran  Guang Dong Cina, yang berhasil meruntuhkan kekaisaran Dinasti Qing (1644 – 1911) yang sangat korup dan penuh intrik di bawah kepemimpinan Kaisar Pu Yi yang saat itu masih berumur 5 tahun. Sebuah film bertajuk “The Last Emperor” yang diproduksi tahun 1987 hasil sentuhan sutradara Bernardo Bertolucci ataupun film “1911 Revolution” yang dibintangi oleh Jackie Chan (yang berperan sebagai Huang Xing) & Winston Chao (yang berperan sebagai Sun Yat-sen), dapat menjadi gambaran nyata tentang peristiwa bersejarah tersebut. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 12 Februari 1912 ini sekaligus menjadi pertanda berakhirnya sistem pemerintahan monarki (kerajaan) di Cina yang telah berlangsung selama berabad-abad, dan kemudian digantikan oleh sistem republik yang diusung oleh Sun Yat-sen. Akhirnya Sun Yat-sen pun menjadi tokoh yang paling berjasa di dalam kelahiran Republik Cina pada tahun 1912 hingga kemudian ia pun menjabat menjadi presiden Republik Cina pada tahun 1923 hingga tahun 1925. Setelah Sun Yat-sen wafat pada tanggal 12 Maret 1925, perjuangan untuk menyatukan Cina berhasil diteruskan oleh Chiang Kai Shek di bawah pemerintahan nasionalis Kuomintang. Meski akhirnya Chiang Kai Shek mesti tersingkir ke Pulau Formosa (Taiwan) setelah meletusnya perang saudara antara kelompok nasionalis dengan komunis. Tetapi dengan tetap merayakan hari kemerdekaan yang berlangsung hingga kini setiap tanggal 10 Oktober (10-10) yang terkenal dengan sebutan “Double Ten” di Taiwan.

Sun Yat-sen membekali masyarakat Cina dengan tiga prinsip rakyat (San Min Cu I) yang juga menjadi azas ideologi politiknya. Tiga prinsip tersebut yang telah lama divisikan oleh Sun Yat-sen sejak ia mendirikan T’ung meng Hui (Liga Revolusioner Gabungan) pada tahun 1905 terdiri dari Nasionalisme (Minzu), Demokrasi (Minquan), dan Sosialisme/Kesejahteraan Rakyat (Minsheng). Prinsip Sun Yat-sen ini pun menginspirasi Tokoh Proklamator Indonesia, Bung Karno, untuk kemudian diterapkan dalam merumuskan pancasila. Bung Karno pun mengakui hal tersebut seperti yang ia utarakan dalam rapat BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945. Dimana antara lain Bung karno menyatakan bahwa ketika ia berumur 16 tahun, saat duduk di bangku sekolahan H.B.S. di Surabaya pada tahun 1918, ajaran tentang kebangsaan dari Sun Yat-sen di dalam tulisannya “San Min Cu I” atau “The THREE people’s Principles”, benar-benar tertanam di dalam dirinya. Sehingga Bung Karno pun berujar kala itu, “Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr.Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah bahwasanya Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat dengan sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, sampai masuk ke liang kubur.” Kemudian prinsip “San Min Cu I” yang diusung oleh Sun Yat-sen ini digabungkan dengan ajaran dari guru Bung Karno yaitu A.Baars dari Belanda yang menyatakan “Jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan seluruh dunia.” Sehingga dari kedua orang inilah Bung Karno mengolah dan merumuskan sila-sila dari Pancasila menjadi: Kebangsaan Indonesia (yang kemudian menjadi “Persatuan Indonesia”), Peri Kemanusiaan (yang kemudian menjadi Kemanusiaan yang adil dan beradab), Mufakat atau demokrasi (yang kemudian menjadi Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan). Kemudian Bung Karno menambahkannya sendiri dengan azas Ketuhanan (yang kemudian menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa).

Tahun 2012 ini menjadi genap seabad sejak Sun Yat-sen mendirikan Republik Cina pada tahun 1912. Untuk memperingati 100 tahun perjuangan rakyat Republik Cina serta seraya mengumandangkan simbol kebebasan yang mereka perjuangkan ke seluruh dunia, maka Pameran Foto yang bertajuk “Retracing Our Steps – A Photo Journey through  the ROC’s 1stCentury”digelar di Kota Bandung. Pameran Foto ini diselenggarakan berkat kerja sama antara Taipei Economic & Trade Office (TETO) Jakarta, Goverment Information Office (GIO), dan APC Institute serta didukung oleh Taiwan Business Club Bandung & Galeri Foto Jurnalistik Antara. Pameran Foto “Retracing Our Steps” ini berlangsung sejak tanggal 29 Maret 2012 (yang menjadi hari pemuda Republik Cina) hingga 11 April 2012 di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan No.5 Bandung. Gedung Indonesia Menggugat (GIM) menjadi tempat yang dipilih untuk penyelenggaraan Pameran Foto ini, atas dasar kesamaan semangat kebebasan yang lahir dari gedung bersejarah ini. Dimana Gedung Indonesia Menggugat tersebut dahulu merupakan gedung ruang peradilan Belanda yang bernama “Landraad”, yang merupakan tempat Bung Karno ditangkap dan diadili pada tanggal 4 Juni 1927 demi memperjuangkan sebuah kemerdekaan. Sebanyak 40 buah karya foto yang mengulas sejarah Republik Cina sejak 100 tahun silam hingga masa kini, disuguhkan bagi masyarakat yang ingin mengenal banyak tentang negara Taiwan atau Republik Cina. Pameran Foto ini sesungguhnya merupakan sebuah pesan kepada dunia mengenai arti sebuah kedaulatan negara dan pentingnya membangun hubungan antar manusia di dunia. Yang bebas dari belenggu tirani serta jauh dari tubuh yang terkekang. Karena walaubagaimanapun merdeka adalah jawaban satu-satunya.

Bandung, 28 Maret 2012