I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Nyala Merdeka Masyarakat Fotografi Indonesia

with 2 comments

oleh galih sedayu

Ada yang menarik pada salah satu acara debat Calon Presiden (Capres) Indonesia yang diselenggarakan di Gran Melia, Jalan Rasuna Said, Jakarta pada tanggal 15 Juni 2014 yang silam. Seperti kita ketahui, saat itu tengah berlangsung debat Capres antara Jokowi versus Prabowo. Tepatnya di sesi ke-5 debat capres tersebut, Jokowi bertanya kepada lawannya Prabowo, “Bagaimana pandangan bapak mengenai ekonomi kreatif? Karena ini banyak sekali mengurangi pengangguran”. Dan kemudian acara debat itupun berlanjut seru.

Sesudah ucapan Jokowi perihal ekonomi kreatif di acara debat tersebut, berbagai tanggapan positif pun muncul di berbagai media sosial seperti twitter dan facebook terutama di kalangan anak muda indonesia. Mereka merasa terwakili dan didukung atas keberpihakan Jokowi terhadap isu ekonomi kreatif yang erat hubungannya dengan kreativitas anak-anak muda. Tak heran karena di indonesia saat ini begitu banyak anak muda yang berkecimpung di dalam dunia industri kreatif. Hingga kini, isu ekonomi kreatif menjadi sebuah topik yang semakin hangat diperbincangkan di kalangan anak-anak muda bangsa kita.

Namun sesungguhnya, wacana ekonomi kreatif telah muncul sejak sekitar tahun 2005 dalam beberapa diskusi komunitas di kota Bandung. Kemudian sekitar tahun 2006, konsep ekonomi kreatif ini mulai diperkenalkan kepada pemerintah Provinsi Jawa Barat. Lalu pada tahun 2007, Bandung dinobatkan menjadi kota percontohan bagi pengembangan ekonomi kreatif di indonesia oleh British Council. Dan akhirnya pada tahun 2008, lahirlah sebuah perkumpulan independen pertama di indonesia yang mengusung semangat ekonomi kreatif bernama Bandung Creative City Forum (BCCF). Dari Bandunglah kemudian gagasan perihal pola dan sinergitas masyarakat kreatif yang tadinya menganut Triple Helix yakni Academic, Business & Goverment (ABG), kini pemerintah menganut pola Quadro Helix, yakni Academic, Business, Goverment plus Community (ABGC). Nyatanya tambahan unsur komunitas sebagai pelaku kreatif menjadi pemantik perubahan dalam perkembangan ekonomi kreatif itu sendiri. Pemerintah pun akhirnya tidak tinggal diam. Salah satu bentuk kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif adalah keluarnya Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2009. Pada akhir tahun 2011, di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pun lahir yang dikomandani oleh Mari Elka Pangestu.

Menurut peraturan menteri pariwisata dan ekonomi kreatif itu sendiri definisi perihal ekonomi kreatif itu adalah kegiatan ekonomi yang berbasis kepada kreativitas intelektual manusia, baik individu maupun kelompok, yang bernilai ekonomi dan berpengaruh kepada kesejahteraan masyarakat indonesia dan dapat dilindungi melalui rezim HKI. Secara sederhana Ekonomi Kreatif bisa diartikan sebagai sebuah model interdisiplin yang menggabungkan berbagai potensi kebudayaan, teknologi dan ekonomi dengan sasaran berupa peningkatan kesejahteraan perekonomian, peningkatan keterlibatan sosial dan promosi identitas kultural.

Saat ini ada 18 subsektor yang dikategorikan masuk ke dalam Industri Kreatif dan menjadi fokus perhatian pemerintah yaitu bidang periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video, film, fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukkan, penerbitan & percetakan, layanan komputer & piranti lunak, televisi, radio, riset & pengembangan serta kuliner. Menurut catatan, pada awalnya hanya ada 14 subsektor industri kreatif, kemudian bertambah menjadi 15 subsektor dengan masuknya subsektor kuliner, dan terakhir disepakati ada 18 subsektor dengan dipisahkannya beberapa subsektor industri kreatif yang tadinya digabung. Dari sinilah akhirnya fotografi memiliki tempat tersendiri sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif dimana sebelumnya fotografi masih bergabung dengan film dan video.

Perlahan-lahan, fotografi indonesia akhirnya mulai menarik perhatian pemerintah. Apalagi setelah pemerintah membentuk bagian khusus fotografi yakni Sub-Direktorat Pengembangan Fotografi, Direktorat Pengembangan Seni Rupa, Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni & Budaya (EKSB), Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf. Dimana Eddy Susilo yang menjabat selaku Kasubdit Bidang Pengembangan Fotografi tersebut. Mulai saat itu lambat laun terjadilah komunikasi dan kolaborasi aktif antara pemerintah dengan berbagai pelaku fotografi indonesia.

Atas usulan beberapa pelaku fotografi indonesia, akhirnya digagaslah sebuah acara yang bernama Kongres Fotografi Indonesia dengan maksud untuk mempertemukan para pelaku fotografi tanah air dan membahas masa depan fotografi indonesia. Demi mempersiapkan Kongres Fotografi Indonesia, pada hari Rabu tanggal 24 April 2013 bertempat di Hotel RedTop, Jalan Pecenongan, Jakarta, diselenggarakanlah FGD (Focus Group Discussion) yang pertama dengan tema “Penyusunan Rumusan Fasilitasi & Advokasi Fotografi Indonesia. Para pelaku fotografi yang hadir mewakili wilayah Jakarta, Bandung dan sekitarnya yaitu Ade Darmawan (Jakarta), Adhitya Zein (Bandung), Andrew Linggar (Jakarta), Anton Ismael (Jakarta), Ari Santosa (Jakarta), Atieq S S Listyowati (Jakarta), Bahtiar Dwisusanto (Jakarta), Dedi Istanto (Jakarta), Fendi Siregar (Jakarta), Firman Ichsan (IKJ), Galih Sedayu (Bandung), Gathot Subroto (Jakarta), Harto Solihin Margo (Bandung), Imam Hartoyo (Jakarta), Irma Chantily (Jakarta), Lateev Haq (Jakarta), Priadi Soefjanto (Jakarta), Raiyani Muharramah (Bogor), Ray Bachtiar Dradjat (Jakarta), Refi Mascot (Jakarta), Rully Kesuma (Jakarta), Toga Tampubolon (Jakarta), Yase Defirsa (Jakarta), dan Ve Dhanito (Jakarta).

Kemudian pada hari Rabu tanggal 1 Mei 2013, diselenggarakan kembali FGD yang kedua bertempat di Hotel Tunjungan, Jalan Basuki Rachmat, Surabaya. Para pelaku fotografi yang hadir mewakili wilayah Jawa Tengah, Jogja, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Pekan Baru, Aceh, Manado, Makassar dan Papua. Para pelaku fotografi ini adalah Andi Sucirta (Bali), Anjas Wijanarko (Solo), Arif Budiman (Bali), Edial Rusli (Jogja), Eny Erawati (Malang), Hartono Roesli Saputra (Surabaya), Husni Oa (Papua), Irwandi (Jogja), Poenk Pradopo (Surabaya), Wimo Ambala Bayang (Jogja), Aqiq Aw (Jogja), Muhammad Sujai (Sidoarjo), Muhammad Akbar (Makassar), Rasyid Ridha (Banjarmasin), Juliansyah Ajie (Aceh), Julian Nail Sitompul (Pekanbaru), Roedy Joen (Surabaya), Decky (Malang), Rismianto (Jember), dan Steven Sumolang (Manado). Adapun hasil dari FGD di Jakarta dan Surabaya tersebut akhirnya berhasil memetakan persoalan di bidang fotografi dan sepakat untuk melahirkan sebuah usulan berupa wadah bagi para pelaku fotografi indonesia yang diberi nama sementara “Forum Fotografi Indonesia”. Nama ini kemudian yang diusulkan dan dibawa menuju acara Kongres Fotografi Indonesia.

Pada FGD pertama & kedua ini ditekankan mengenai pentingnya sebuah forum fotografi di Indonesia yang berfungsi sebagai wadah komunikasi antar pemangku kepentingan, wadah menyalurkan aspirasi para pemangku kepentingan, wadah koordinasi para pemangku kepentingan, jalur komunikasi antara masyarakat umum dengan para pemangku kepentingan, forum pengembangan fotografi, dan forum konsultasi dan rekomendasi hukum. Pola jejaring yang dianut oleh forum fotografi ini melibatkan unsur jurufoto, bisnis, pemerintah dan edukasi. Pola ini sebenarnya mirip dengan sistem Quadro Helix yang diterapkan dalam pengembangan ekonomi kreatif yang terdiri dari unsur Akademisi, Bisnis, Pemerintah dan Komunitas.

Entah mengapa, FGD pun kembali dilakukan oleh Kemenparekraf melalui Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif berbasis seni dan budaya. FGD ini berlangsung pada tanggal 5-6 September 2013 di Hotel Oasis, Jalan Lombok No.10 Bandung. Dalam undangan disebutkan bahwa FGD ini bermaksud untuk menyusun pedoman ekonomi kreatif di bidang seni rupa. Karena wilayah fotografi berada di bawah koordinasi Dirjen Seni Rupa Kemenparekraf, sepertinya dirasa perlu untuk menghadirkan perwakilan sektor fotografi di indonesia. Dalam daftar undangan tertera nama Sekretaris Ditjen EKSB, Sekretaris Ditjen EKMDI, Direktur Pencanangan Destinasi & Investasi Pariwisata, Kepala Puslitbang Ekonomi Kreatif, Kepala Biro Hukum & Kepegawaian, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung, Kepala Bagian Hukum-Kepegawaian-Organisasi-Setditjen EKSB, Kasubdit Pengembangan Ekonomi Terapan, Kasubdit Pengembangan Seni Rupa Murni, Kasubdit Pengembangan & Pemasaran Apresiasi Seni Rupa, Kasubdit Fotografi, Inda C Noerhadi, Rizky Adiwilaga, Asmudjo, Basuki Antariksa, Aryudi Saputra, Meizan Diandra Nataadiningrat, Dendi Darman, Adhi Nugraha, Faturrochman, Hans Herbert, Gebie Babyrose, Ruddy Hatumena, Tisna Sanjaya, Octora Chan, Aming D Rahman, Herra Pahlasari, Endy Sepkendarsyah, dan Galih Sedayu. Perlu diketahui bahwa ternyata FGD ini tidak berkaitan sama sekali dengan rencana kegiatan Kongres Fotografi Indonesia. Setelah FGD ini, kemudian Kemenparekraf mengundang kembali perwakilan sektor fotografi untuk mengikuti workshop penelahaan dan bantuan hukum pada tanggal 10-12 Oktober 2013 yang berlangsung di Grya Dharma Wulan Sentul Kabupaten Bogor.

Sesungguhnya kedua kegiatan ini bertujuan untuk menyusun NSPK (Norma, Standar, Prosedur & Kriteria) Ekonomi Kreatif Bidang Seni Rupa yang terdiri dari seni murni, seni terapan dan fotografi. Maksud dan tujuan penyusunan NSPK ini adalah untuk memberikan panduan kepada pemerintah dan pemerintah daerah dalam melaksanakan kegiatan pendukungan bagi pengembangan ekonomi kreatif di bidang seni rupa ; untuk dapat memetakan ruang lingkup ekonomi kreatif di bidang seni rupa serta menetapkan frame work, benchmark, proyeksi dan parameter bagi pengembangan ekonomi kreatif di bidang seni rupa, sesuai konteks Indonesia dan masing-masing daerah (potensi masing-masing daerah) ; serta untuk dapat menetapkan koordinasi dan kerjasama antara kementrian untuk menetapkan kegiatan bagi pengembangan ekonomi kreatif di bidang seni rupa berkait dengan sektor-sektor pendukungnya seperti industri kreatif, industri kebudayaan, HKI, kota kreatif, klaster kreatif dan desa kreatif.

Sementara itu, pihak Kemenparekraf ternyata tengah menyusun buku cetak biru atau dokumen perihal rencana pengembangan ekonomi kreatif untuk lima tahun ke depan (2015-2019). Karena fotografi merupakan salah satu subsektor ekonomi kreatif, maka pemerintah perlu melakukan sinergi dan koordinasi dengan seluruh pelaku fotografi di indonesia sekaligus memetakan ekosistem melalui rangkaian FGD sebagai bahan untuk menyusun buku cetak biru tersebut. Tujuan FGD ini adalah Merumuskan Kerangka Strategis pengembangan subsektor Fotografi yang meliputi visi, misi, tujuan, sasaran, indikator, target, arah kebijakan, strategi dan tahapan pembangunan, serta Merumuskan kerangka kerja pengembangan subsektor Fotografi yang meliputi indikasi program dan kegiatan pengembangan subsektor Fotografi.

Kegiatan ini dilakukan pula bersamaan dengan FGD ekosistem subsektor ekonomi kreatif yang lain yaitu bidang periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video, film, permainan interaktif, musik, seni pertunjukkan, penerbitan & percetakan, layanan komputer & piranti lunak, televisi, radio, riset & pengembangan serta kuliner. Memang benar bahwa kegiatan FGD ekosistem subsektor fotografi ini tidak ada kaitannya dengan rencana kegiatan Kongres Fotografi Indonesia. Karena FGD ekosistem subsektor fotografi ini diinisiasi oleh pemerintah guna membuat buku cetak biru pengembangan ekonomi kreatif, sedangkan FGD & Kongres Fotografi Indonesia diinisiasi oleh beberapa pelaku fotografi indonesia dengan tujuan untuk melahirkan sebuah forum atau organisasi fotografi. Meskipun begitu, kedua program tersebut sama-sama difasilitasi oleh pemerintah, dalam hal ini difasilitasi oleh Kemenparekraf. FGD ini dilaksanakan sebanyak 3 kali dengan tema bahasan yang meliputi Ekosistem (FGD ke-1), Potensi dan Permasalahan (FGD ke-2), dan Kerangka Strategis dan Kerangka Kerja (FGD ke-3).

Pada hari senin tanggal 12 Mei 2014, FGD ekosistem subsektor fotografi yang pertama dilaksanakan di Balairung Soesilo Soedarman Kemenparekraf, Jalan Medan Merdeka Barat No.17, Jakarta. Agenda dari FGD ini adalah menentukan definisi dan ruang lingkup subsektor fotografi. Sayangnya FGD ini hanya mengundang sedikit perwakilan para pelaku fotografi yakni Edial Rusli (Yogyakarta), Firman Ichsan (Jakarta), Yudhi Soeryoatmojo (Jakarta), Yase Defirsa Cory (Jakarta), Andrew Linggar (Jakarta), Galih Sedayu (Bandung), Ray Bachtiar (Jakarta), Imam Hartoyo (Jakarta), Hendrikus Ardianto (Bandung), Irma Chantily (Jakarta) dan Ferry Ardianto (Jakarta). Output dari FGD ini yaitu Definisi dan ruang lingkup subsektor fotografi, Peta Ekosistem subsektor fotografi, Peta Industri subsektor fotografi, Gambaran kondisi industri atau dinamika dalam subsektor fotografi, serta Gambaran model bisnis subsektor fotografi.

FGD ekosistem subsektor fotografi yang kedua dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 28 Mei 2014 dan masih bertempat di lokasi yang sama yakni di Balairung Soesilo Soedarman Kemenparekraf, Jalan Medan Merdeka Barat No.17, Jakarta. Agenda FGD ini adalah menentukan isu strategis potensi dan permasalahan subsektor fotografi. Dalam FGD ini Kemenparekraf meminta Achmad Gazali (Bandung) sebagai moderator dan Wijayanto Budi Santoso (Bandung) sebagai presenter, dimana keduanya sekaligus mewakili tim studi SBM-ITB yang dipercaya sebagai tim riset. Undangan perwakilan para pelaku fotografi sebagai observer yakni Arbain Rambey (Jakarta) dan Yase Defirsa Cory (Jakarta). Adapun undangan yang didaulat sebagai sebagai narasumber yaitu Edial Rusli (Yogyakarta), Firman Ichsan (Jakarta), Andrew Linggar (Jakarta), Galih Sedayu (Bandung), Ray Bachtiar (Jakarta), Kristupa Saragih (Yogyakarta), Imam Hartoyo (Jakarta), Hendrikus Ardianto (Bandung), Irma Chantily (Jakarta) dan Ferry Ardianto (Jakarta) dan Yudhi Soeryoatmojo (Jakarta). FGD kedua ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi subsektor fotografi indonesia, mengidentifikasi permasalahaan dan alternatif solusi subsektor fotografi indonesia, merumuskan prioritas potensi dan permasalahan subsektor fotografi indonesia, meningkatkan pemahaman mengenai struktur pasar dalam subsektor fotografi indonesia, serta meningkatkan pemahaman mengenai daya saing subsektor fotografi indonesia.

Kemudian FGD ekosistem subsektor fotografi yang ketiga dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 11 Juni 2014 dan bertempat (masih sama) yakni di Balairung Soesilo Soedarman Kemenparekraf, Jalan Medan Merdeka Barat No.17, Jakarta. Agenda yang dibahas adalah menentukan rencana pengembangan subsektor fotografi 2015-2019. Para undangan dalam FGD ini yaitu Achmad Gazali (Bandung) sebagai moderator dan Wijayanto Budi Santoso (Bandung) sebagai presenter yang keduanya mewakili tim SBM-ITB. Undangan perwakilan para pelaku fotografi sebagai narasumber yaitu Edial Rusli (Yogyakarta), Firman Ichsan (Jakarta), Arbain Rambey (Jakarta), Yase Defirsa Cory (Jakarta), Andrew Linggar (Jakarta), Galih Sedayu (Bandung), Ray Bachtiar (Jakarta), Kristupa Saragih (Yogyakarta), Imam Hartoyo (Jakarta), Hendrikus Ardianto (Bandung), Irma Chantily (Jakarta) dan Ferry Ardianto (Jakarta), Risman Marah (Yogyakarta), Yudhi Soeryoatmojo (Jakarta) dan Josef Tjahjo Kuntjoro (Jakarta). Lalu sebagai narasumber yang lain ada Muslikh, SH (Jakarta) yang mewakili Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Yuslisar Ningsih, SH (Jakarta) yang mewakili Direktorat Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia, serta perwakilan dari Asdep Urusan Pembiayaan dan Penjaminan Kredir Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil & Menengah.

Dari hasil ketiga FGD dalam rangka melakukan Pemetaan Ekonomi Kreatif Indonesia ini akhirnya didapatkan beberapa kesimpulan tentang hal-hal yang berkaitan dengan subsektor fotografi. Dimana fokus ruang lingkup subsektor fotografi dalam pengembangan ekonomi kreatif indonesia meliputi fotografi jurnalistik & dokumenter ; fotografi komersial ; dan fotografi seni. Untuk potensi subsektor fotografi disebutkan bahwa fotografi memiliki kekuatan (internal) dengan alasan bahwa pasar fotografi tentunya semakin tumbuh seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk ; kebutuhan fotografi untuk media, periklanan dan foto-foto dokumentasi akan selalu ada ; membuka lapangan kerja ; tumbuhnya komunitas-komunitas baru di daerah-daerah dan juga komunitas di dunia maya ; kemudahan akses informasi menjadikan fotografi dapat dipelajari oleh siapa saja; serta peningkatan konsumsi kamera baik itu sebagai sarana bekerja ataupun untuk aktualisasi diri. Lalu disebutkan pula bahwa fotografi memiliki potensi kesempatan (eksternal) dengan alasan bahwa fotografi dapat berfungsi sebagai promosi pariwisata yang secara tidak langsung dapat membuka keran devisa bagi negara, dan tingginya konsumsi alat fotografi dalam negeri seharusnya dapat memberikan daya tawar yang lebih dengan produsen untuk melakukan alih teknologi.

Kemudian hasil FGD ini menyebutkan pula beberapa permasalahan subsektor fotografi di indonesia yaitu Infrastruktur yang tidak memadai ; Ketergantungan alat-alat fotografi impor ; Ketergantungan alat-alat piranti lunak yang berlisensi ; Kebijakan HAKI yang belum terlaksana baik di dalam negeri ; Adanya tumpang tindih kementrian dalam menaungi subsektor fotografi ; Belum adanya asosiasi fotografi yang terpusat dan memiliki kekuatan dalam menggerakkan fotografi indonesia ; Perlunya perlindungan bagi fotografer lokal untuk menghadapi persaingan dengan fotografer luar negeri ; Belum adanya kemudahan untuk meminjam dana dari jasa keuangan untuk menjalankan bisnis di bidang industri kreatif ; Minimnya galeri atau ruang publik yang dapat digunakan untuk berpameran ; Adanya biaya-biaya yang memberatkan dalam penggunaan ruang publik ; Minimnya dukungan pemerintah dalam mendukung fotografer untuk berpameran di luar negeri ; Persaingan yang tidak sehat di dalam negeri karena tumbuhnya fotografer-fotografer amatir.

Mengenai hasil kegiatan ketiga FGD ekosistem subsektor fotografi yang telah diselenggarakan ini kemudian dipublikasikan oleh Kemenparekraf ke dalam bentuk buku cetak biru berisi perihal rencana pengembangan fotografi indonesia selama 5 tahun (2015-2019). Buku cetak biru ini diluncurkan pada hari Selasa tanggal 14 Oktober 2014 bertempat di Teater Besar, Gedung Teater Jakarta, Komplek Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya No.73, Jakarta. Peluncuran buku cetak biru ini bertepatan pula dengan Kegiatan “Salam Kreatif” yakni sebuah persembahan untuk insan kreatif sebagai perayaan era ekonomi kreatif di indonesia. Di dalam buku itulah terdapat rencana aksi jangka menengah fotografi indonesia ke depan.

Untuk mesukseskan kegiatan Kongres Fotografi Indonesia, maka kemudian dibuatlah Tim Formatur untuk membentuk Forum Fotografi Indonesia, yang digulirkan pada hari kamis tanggal 12 Juni 2014 dan berlokasi di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), Jakarta. Tugasnya adalah membentuk Dewan Pembina dan Pengurus Harian, Membentuk Rancangan AD/ART Forum Fotografi, dan mempersiapkan Kongres Fotografi untuk pembentukan Forum Fotografi Indonesia. Tim Formatur ini terdiri dari Oscar Motuloh (Ketua), Bambang Wijanarko (Bendahara), Lasti Kurnia (Sekretaris), Imam Hartoyo (Divisi Persiapan Penyusunan Draft AD/ART), Eddy Susilo (Divisi Persiapan Penyusunan Draft AD/ART), Andrew Linggar (Divisi Persiapan Acara Kongres), Purwo Subagiyo (Divisi Persiapan Acara Kongres), Ray Bachtiar D (Divisi Sosialisasi), Rakhmat Koesnadi (Divisi Sosialisasi), Yase Defirsa Cory (Divisi Sosialisasi), Reynold Sumayk (Seleksi Dewan Pembina/Pengurus),Edial Roesli (Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus), Rully Kesuma (Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus), Irma Chantily (Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus), dan Arbain Rambey (Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus.

Akhirnya pada tanggal 10-12 Oktober 2014, Kongres Fotografi Indonesia berhasil dilaksanakan, bertempat di Hotel Amaris Mangga Dua, Jalan Gunung Sahari Raya No.1 Jakarta. Pembukaan Kongres Fotografi Indonesia (hari pertama) yang berlangsung di Balairung Soesilo Soedarman Kemenparekraf, Jalan Medan Merdeka Barat No.17, Jakarta ini dihadiri oleh Mari Elka Pangestu sebagai Mentri Pariwisata & Ekonomi Kreatif RI sekaligus tampil menjadi Keynote Speech di hadapan 80 peserta kongres. Pada kesempatan itu pula, Mari Elka Pangestu menyebutkan bahwa pada tahun 2013, fotografi bersama subsektor film, video mampu menghasilkan nilai tambah Rp 8,4 triliun atau 1,3 % dari total kontribusi 15 subsektor ekonomi kreatif terhadap PDB nasional sebesar Rp 641, 8 triliun. Kemudian beliau juga mengatakan bahwa Lapangan kerja yang tercipta sebanyak 63.755 tenaga kerja atau 0,54 % dari total penciptaan lapangan kerja sektor ekonomi kreatif sebanyak 11,8 juta orang.

Adapun daftar peserta Kongres Fotografi Indonesia yang diundang oleh tim formatur adalah Goenadi Haryanto (Jakarta), Dibya Pradana (Jakarta), Felix (Jakarta), Jerry Adiguna (Jakarta), Agung Ariefandi (Jakarta), Ahmad Deny Salman (Jakarta), Anton Bayu Samudra (Jakarta), Anton Ismael (Jakarta), Danu Sagoro (Jakarta), Darwis Triadi (Jakarta), Don Hasman (Jakarta), Edwin Djuanda (Jakarta), Firman Ichsan (Jakarta), Guntur Santoso (Jakarta), Hadi Ariwibowo (Jakarta), Hartono K Halim (Jakarta), Hermanus Prihatna (Jakarta), Wiryadi Lorens (Jakarta), Johannes Rompi (Jakarta), Kemal Jufri (Jakarta), Lans Bramantyo (Jakarta), Suherry Arno (Jakarta), Mosista Pambudi (Jakarta), Ng Swan Ti (Jakarta), Refi Mascot (Jakarta), Roy Genggam (Jakarta), Sandy Chandra (Jakarta), Sigit Pramono (Jakarta), Tantyo Bangun (Jakarta), Warren Kiong (Jakarta), Yudhi Soerjoatmodjo (Jakarta), Johanes Judha (Jakarta), Willy Pitrawirya (Jakarta), Bachtiar (Aceh), Hotli Simanjuntak (Aceh), Risman Marah (Yogyakarta), Johnny Hendarta (Yogyakarta), Budi ND Dharmawan (Yogyakarta), Kristupa Saragih (Yogyakarta), Wimo Ambala Bayang (Yogyakarta), Arya Martha (Bandung), Budhi Ipoeng (Bandung), Galih Sedayu (Bandung), Harry Reynaldi (Bandung), Harto Solichin Margo (Bandung), Raiyani Muharramah (Bogor), Riza Marlon (Bogor), Rismianto (Jember), Decky Yulian (Malang), Edward Tigor Siahaan (Medan), Ferdi Siregar (Medan), Jhonny Siahaan (Medan), Julian Nail Sitompul (Pekanbaru), Andi Kusnadi (Semarang), Muhammad Sujai (Sidoarjo), Anjas Wijanarko (Solo), Mamuk Ismuntoro (Surabaya), Pradopo (Surabaya), Yuyung Abdi (Surabaya), Qwadru Wicaksono (Lombok), Muhammad Akbar (Makassar), Yusuf Ahmad (Makassar), Steven Sumolang (Manado), Karolus Naga (NTT), Mohammad Reza (Palu), Eko Soebagyo (Soroako), Andi Sucirta (Bali), Arief Budiman (Bali), Cipto Aji Gunawan (Bali), Bagus Made Irawan (Bali), Rasyid Ridha (Banjarmasin), Taufiqurrahman (Bontang), Musyawir (Mimika), Husni Oa (Jayapura), dan Asep Tajoer (Ternate).

Hari pertama Kongres Fotografi Indonesia diisi oleh kegiatan Seminar “HAKI dalam Fotografi” oleh Dirjen HAKI. Kemudian dilanjutkan dengan Seminar “Pendidikan Fotografi dalam pengembangan ekonomi kreatif” oleh Ditjen PAUD. Setelah itu kegiatan diisi oleh Seminar “Peran bisnis/industri fotografi dalam pengembangan ekonomi kreatif” oleh Asosiasi Design Grafis Indonesia. Lalu di akhir acara, para peserta dibagikan kuesioner perihal segala isu & permasalahan fotografi yang ada indonesia untuk kemudian dijadikan materi pembahasan di hari kedua kongres.

Pada hari kedua Kongres Fotografi Indonesia, para peserta kongres dibagi menjadi 3 komisi. Dimana masing-masing komisi diberi tugas tertentu dari mulai mengusulkan nama organisasi fotografi yang akan dibuat, bentuk hukum, visi dan misi, program kerja hingga format dewan pembina & badan pengurus. Lalu masing-masing komisi memaparkan usulan-usulan tersebut melalui sidang pleno. Saat itu, sidang pleno berhasil memutuskan nama organisasi fotografi yang telah disepakati bersama. Namun demikian, nama organisasi tersebut bukanlah “Forum Fotografi Indonesia” seperti yang telah disiapkan oleh Tim Formatur Kongres sebelumnya. Nama organisasi yang telah disepakati oleh para peserta kongres yaitu “Masyarakat Fotografi Indonesia” atau “Indonesian Photograpic Society”.

Di hari kedua itu pula sidang pleno menetapkan nama-nama “Dewan Kehormatan” untuk Masyarakat Fotografi Indonesia yaitu Mari Elka Pangestu, Soedja’i Kartasasmita, Soeprapto Soedjono, dan Watie Moerany. Lalu ditetapkan pula “Dewan Pembina” untuk Masyarakat Fotografi Indonesia. Dewan Pembina ini terdiri dari Sigit Purnomo (Ketua Dewan Pembina), Oscar Motuloh (Wakil Letua Dewan Pembina I), dan M. Firman Ichsan (Wakil Ketua Dewan Pembina II). Lalu anggota Dewan Pembina terdiri dari Agus Leonardus, Arbain Rambey, Darwis Triadi, Don Hasman, Edmond Makarim, Edwin Djuanda, Fendi Siregar, Guntur Santoso, Imam Hartoyo, Irwan Kamdani, Johnny Hendarta, Ray Bachtiar, Rio Helmi, Risman Marah, Solichin Margo dan Yudhi Soerjoatmodjo.

Kemudian pada hari ketiga Kongres Fotografi Indonesia, diputuskan nama-nama “Badan Pengurus” untuk Masyarakat Fotografi Indonesia. Badan Pengurus ini terdiri dari Hermanus Prihatna (Ketua) ; Andrew Linggar (Wakil Ketua) ; Lasti Kurnia (Kesekretariatan) ; Wiryadi Lorens (Keuangan) ; Agatha Bunanta & Edial Rusli (Kerjasama & Koordinasi) ; Anton Bayu, Galih Sedayu, Ng Swan Ti & Ridha Kusumabrata (Program) ; Dibya Pradana, Marissa Tunjungsari & Purwo Subagyo (Marketing & Komunikasi) ; Irma Chantily & Rully Kesuma (Penelitian & Pengembangan).

Karena Masyarakat Fotografi Indonesia tidak mengenal keanggotaan, maka diputuskan juga nama-nama yang mewakili “Mitra Daerah” yang terdiri dari Bachtiar (Aceh), Ferdi Siregar (Medan), Edward Tigor Siahaan (Toba), Julian Sitompul (Pekanbaru), Aprison Irsyam (Padang), Harry Reynaldi (Bandung), Nurhaipin La Manna (Banten), Andy Kusnadi (Semarang), Budi Dharmawan (Yogyakarta), Anjas Aryo Wijanarko (Solo), Mamuk Ismuntoro (Surabaya), Decky Yulian Hersanto (Malang), Rasyid Ridha (Banjarmasin), Abdul Hakim (Bontang), Andi Sucirta (Bali), Bagus Made Irawan (Bali), Yusuf Ahmad (Makassar), Mohammad Akbar (Makassar), Karolus Naga (NTT), Steven Sumolang (Manado), Muhammad Reza (Palu), Asep Yusup Tazul Aripin (Ternate), Qwadro Putro Wicaksono (Lombok), dan Husni Oa (Papua).

Pada akhirnya, dibacakanlah kemudian “Deklarasi” sebagai hasil Kongres Fotografi Indonesia. Beginilah bunyi deklarasi tersebut.

“Kami – para insan fotografi yang menghadiri Kongres Fotografi Indonesia, yang berlangsung di Hotel Amaris Jakarta pada tanggal 10-12 Oktober 2014, mendeklarasikan terbentuknya Masyarakat Fotografi Indonesia (Indonesian Photography Society).

Masyarakat Fotografi Indonesia adalah organisasi nirlaba yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam dunia fotografi – yaitu praktisi fotografi, akademisi, bisnis dan pemerintah.

Masyarakat Fotografi Indonesia adalah sebuah wadah yang berperan memayungi, mendorong kerjasama dan koordinasi antar pemangku kepentingan – baik perseorangan maupun segala bentuk perkumpulan, komunitas, asosiasi profesi fotografi dan lain sebagainya – untuk mengembangkan sektor fotografi di indonesia.

Masyarakat Fotografi Indonesia sebagai organisasi nasional yang akan menyuarakan kepentingan para pemangku kepentingan di tingkat nasional dan internasional”.

Jakarta, 12 Oktober 2014

Dengan kelahiran Masyarakat Fotografi Indonesia ini, tentunya kita semua berharap bahwa ada sebuah hembusan nafas baru yang ditiup serta mampu mengalirkan udara bersih bagi perkembangan jiwa dan raga para insan fotografi di indonesia. Kita pun sangat sadar sepenuh hati, bahwa penyelenggaraan Kongres Fotografi Indonesia ini masih belum sempurna. Namun demikian, sesungguhnya yang kita perlukan saat ini adalah sebuah empati dan rasa persaudaraan yang erat untuk dapat mengumpulkan segala perbedaan menjadi satu hati. Sudah saatnya kita bangun kembali dan mulai menyusun batu dan kerikil yang bergeletakan demi rumah kita yang baru. Agar kelak rumah ini dapat mewariskan budaya fotografi yang selalu menerangi, yang selalu memiliki kekuatan memeluk dan yang selalu melahirkan himpunan karya terbaik dari segala anak bangsa. Kiranya dalam cahaya fotografi kita selalu merdeka.

@galihsedayu | bandung 15 oktober 2014

Advertisements

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Keren Mas penjelasannya, detail dan informatif. Terima kasih.

    YulianusLadung

    October 15, 2014 at 4:13 am

    • Terima kasih banyak mas.
      Semoga tulisan ini bermanfaat buat insan fotografi indonesia ya…

      -g

      Admin

      October 15, 2014 at 10:41 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: