I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘07) SEMESTA FOTO CERITA’ Category

Menghamilkan Budaya Sungai Kota

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Seiring dengan kerapnya aktivasi ruang-ruang publik kota oleh sejumlah komunitas, sesungguhnya semakin menguatkan citra kota berbasis kreatif yang melekat dalam diri Kota Bandung. Bahkan semestinya pemanfaatan ruang-ruang publik kota, haruslah melahirkan budaya baru yang diusung oleh warga Bandung. Karena selama ini agaknya warga Bandung lebih menyukai untuk menghabiskan waktu dengan pergi ke MallFactory Outlet atau Restaurant ketimbang menyambangi Hutan, Taman, Kampung atau Sungai yang ada di Kotanya. Alhasil kita lebih sering melihat pemandangan anak-anak kecil yang bergelut dengan mesin games di Mall ketimbang melihat mereka bermain kelereng atau petak umpet di salah satu sudut Kampung Kota. Atau kita lebih sering menjumpai para keluarga yang menyantap makanan fast food di Restoran Cepat Saji ketimbang menjumpai mereka melakukan piknik dan botram dengan aneka masakan rumah di sebuah Taman Kota. Padahal kita sadar benar bahwa ruang-ruang publik tersebut dapat menawarkan nilai-nilai yang lebih baik dibandingkan dengan ruang-ruang publik yang telah berubah fungsi menjadi ruang komersil.

Sungai merupakan salah satu ruang publik kota yang memiliki pesona & keindahan menawan bila dikelola dengan baik. Karena di sanalah kita dapat mensyukuri bahwasanya air sungai yang mengalir jauh tersebut dapat memiliki sejumlah fungsi bagi warga sebuah kota. Dari mulai drainase, penggelontor kotoran limbah, obyek wisata, penyedia air baku, pemanfaatan energi air serta sarana irigasi pertanian. Namun sayang bahwa keberadaan Sungai di Kota Bandung malahan kerap menghamilkan bencana dan melahirkan musibah bagi warganya. Terutama ketika musim penghujan tiba. Luapan air dari sungai-sungai yang membelah Kota Bandung justru membawa teror banjir bagi warganya. Belum lagi genangan sampah yang dibawa serta oleh air sungai tersebut. Tentunya kita tidak bisa serta merta menyalahkan alam dalam hal bencana tersebut. Karena ironisnya, banjir itu timbul justru akibat ulah kita sendiri. Entah itu karena warga yang kerap membuang sampah ke sungai ataupun karena penebangan pohon secara membabi buta sehingga menghilangkan daerah resapan air. Menurut data dari Pemerintah Kota Bandung, ada sekitar 61 sungai dan 46 anak sungai dengan total panjang 252,55 km yang terdapat di Kota Bandung (Pikiran Rakyat, 29 Juli 2011). Bahkan Pemerintah Kota Bandung mencanangkan sebuah program wisata air di semua daerah yang dialiri sejumlah sungai tersebut. Namun demikian, kita tidak bisa mengandalkan janji-janji pemerintah yang kerap ditebar dengan mulut yang manis. Perlu ada upaya untuk menjaga dan mengaktivasi sungai-sungai yang ada di Kota Bandung dengan melibatkan kekuatan kreatif warganya. Tentunya kita tidak bisa melakukan hal itu semua sekaligus. Hanya dengan metoda seperti akupuntur lah, secara realistis dapat kita lakukan terhadap sungai-sungai yang kita miliki saat ini.

Bila kita menyebut nama sungai di Kota Bandung, tentunya nama sungai Cikapundung tidak bisa dilupakan dalam memori kita. Sungai Cikapundung adalah salah satu sungai besar yang membelah Kota Bandung dengan panjang sekitar 15,5 km. Sungai Cikapundung memiliki luas daerah tangkapan di bagian hulu sebesar 111,3 Km2, di bagian tengah seluas 90,4 Km dan di bagian hilir seluas 76,5 Km2. Sedangkan panjang sungai Cikapundung dari hulu Maribaya sampai hilir Citarum mencapai 28 km. Jumlah penduduk yang bermukim di DAS Cikapundung mencapai 750.559 jiwa dengan jumlah penduduk tertinggi berada di Kelurahan Tamansari yaitu 28.729 jiwa (Data BPLH Kota Bandung). Ikon sungai Cikapundung inilah yang kemudian digunakan oleh Bandung Creative City Forum (BCCF) untuk menggelar rangkaian event HelarFest 2012 yang ke-4 bertajuk Cikapundung River Cinema. Kolaborasi BCCF bersama Komunitas House The House, memilih satu titik area yang dilewati oleh sungai Cikapundung tersebut sebagai pusat kegiatan kreatif. Bertempat di Cikapundung Timur Plaza (Jalan Cikapundung Timur / samping Museum Asia Afrika), pada tanggal 22 Desember 2012 area tersebut disulap menjadi sebuah area festival musim hujan. Sejak pukul 2 siang hingga pukul 10 malam, berbagai kegiatan dari mulai Workshop, Artmart, Kuliner, Konser Musik dan Pemutaran Film (Screening) dihadirkan di pinggir sungai Cikapundung. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, pada saat event Cikapundung River Cinema ini berlangsung, hujan pun turun membasahi area festival tersebut. Tak heran karena memang saat itu sedang musim hujan di Kota Bandung. Meski demikian, acara tersebut tetap berlanjut karena kegiatan ini memang sengaja diatur untuk merespon hujan yang akan terjadi. Keunikan dari kegiatan inipun dapat langsung terlihat sejauh mata memandang. Setiap pengunjung dibagikan jas hujan berwarna merah muda secara cuma-cuma. Instalasi puluhan payung pun turut memberikan warna di area pinggiran sungai Cikapundung tersebut. Belum lagi para penonton yang menyaksikan film-film pendek berdurasi 10-15 menit pada layar besar ukuran 8 x 12 m. Pada intinya, Everybody is enjoy in the river.

Semestinya upaya untuk mengaktivasi sungai kota tersebut mesti sejalan dengan upaya untuk menjaga kebersihan sungai. Sungai yang bersih dan jernih sesungguhnya adalah ruang dan tempat kita bercermin. Dan harapannya cermin dari air sungai itu merefleksikan tawa, canda dan keceriaan warga kota ketika mengunjungi sungainya. Siapakah yang akan mendengar jikalau sungai berteriak karena kering atau banjir serta alur alirannya menangis bersama-sama karena kotoran sampah? Karena tentunya kita pun tak ingin air sungai naik sampai ke leher dan kita tenggelam ke dalam sungai yang penuh lumpur. Oleh karena itu bila kita ingin berbuat sesuatu, mulailah keluar dari rumah dan datanglah ke sungai. Kenalilah sungai-sungai yang ada di kotamu dengan melihat dan menyentuhnya. Niscaya setelah itu rasa sayang akan muncul sebagaimana kisah cinta anak manusia. Dan kemudian rasa sayang itu lah yang akan membuat kita untuk melahirkan sikap peduli dan menjaga sungai. Sehingga pada akhirnya kita akan melihat sungai-sungai yang diserbu oleh para warganya. Yang menanti untuk dihamili oleh sebuah budaya baru. A City River Culture…

Bandung, 22 Desember 2012

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Membangunkan Gedung Gas Negara Dari Tidur Panjangnya

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Sering kali kita mendengar sebuah ungkapan bahwa “Sebuah kota tanpa bangunan tua ibarat seorang manusia tanpa ingatan”. Karenanya tatkala sekelompok manusia yang congkak dan dungu berlomba untuk merubuhkan bangunan-bangunan lama kotanya hanya demi uang, maka aksi perlawanan terhadap mereka pun sudah semestinya muncul. Wajar saja memang karena gerakan yang ingin menyelamatkan gedung-gedung tua itu mesti terus selamanya didukung agar setiap kota yang kita huni tetap menjadi waras. Salah satu yang menjadi magnet bagi Kota Bandung adalah keberadaan gedung-gedung tua yang tak kunjung henti selalu mempesona mata manusia. Gedung-gedung tua yang menawan tersebut tersebar di berbagai kawasan Kota Bandung. Dalam buku “100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung” yang disusun & diterbitkan oleh Harastoeti DH pada tahun 2011, gedung-gedung tua tersebut dibagi ke dalam kawasan pusat kota, kawasan pecinan/perdagangan, kawasan pertahanan & keamanan/militer, kawasan etnik sunda, kawasan perumahan villa & non-villa serta kawasan industri. Sayangnya hingga saat ini masih banyak bangunan bersejarah di Kota Bandung yang mati suri dan sulit diakses oleh warganya.

Gedung Gas Negara yang terletak di Jalan Braga No 38 adalah salah satu gedung bersejarah yang dimiliki oleh Kota Bandung. Bangunan Gas Negara ini mulai dibangun pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1919 yang dirancang oleh Richard Leonard Arnold Schoemaker. Pada awalnya, bangunan ini merupakan Sekretariat Bandoeng Voorult dan kantor N. V. Becker & Co yaitu sebuah kantor pembayaran. Pada tahun 1928, bangunan ini dibeli oleh perusahaan gas Belanda, N.V. Nederlandsch-Indische Gasmaatschappij (NIGM) sebagai cabang perusahaan gas pertama di Bandung. Setelah jaman kemerdekaan, bangunan ini diambil alih oleh Perusahaan Gas Negara (PGN) yang difungsikan sebagai kantor pusat pembayaran dan administrasi, mirip seperti fungsi bangunan sebelumnya. Hingga pada akhirnya, gedung gas negara ini berhenti beroperasi pada tahun 1998. Sejak itulah Gedung Gas Negara mengalami tidur yang panjang. Untunglah ada sekelompok warga yang terus berupaya membangunkan Gedung Gas Negara dari tidurnya. Salah satunya adalah Mahasiswa Arsitektur Gunadharma ITB. Pada tanggal 10-17 November 2012 yang lalu mereka membuat sebuah pameran bertajuk “Bandung Ngabaraga” yang bertempat di Gedung Gas Negara tersebut. Alhasil karena acara pameran ini terbuka untuk umum, publik pun dapat melihat secara langsung seperti apa isi bangunan Gedung Gas Negara yang telah ditutup selama belasan tahun lamanya tersebut.

Sesungguhnya saat ini perlu adanya upaya-upaya aktif warga untuk kembali menghidupkan bangunan-bangunan tua & bersejarah di Kota Bandung yang telah lama terbengkalai. Untuk kemudian memperkenalkannya kepada anak-anak kita supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian. Supaya anak-anak yang lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka. Supaya mereka menaruh kepercayaan kepada setiap kotanya dan dengan teguh melestarikannya. Karenanya kita perlu menyadari bahwa cinta tidak bisa diberitakan di dalam kubur bangunan tua sebuah kota. Ia akan hidup ketika seluruh warga dapat dengan bebas mengunjungi dan menaruh harapan-harapannya pada gedung-gedung tua sebuah kota. Hingga Kota Bandung akan ada untuk selama-lamanya dan takhtanya seperti matahari & bulan di depan mata, sebagai saksi yang setia di awan-awan.

Save Our Heritage…

Bandung, 16 November 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Simpati Untuk Bandung Selatan

leave a comment »

Foto & Teks : galih sedayu

Hati alam memang tak pernah bisa ditebak. Kadang ia bisa menunjukkan kegembiraannya, kadang ia dapat mengeluarkan amarahnya sekonyong-konyong. Meski sudah sejak dulu sesungguhnya alam mengajarkan kita dengan sangat jelas, perihal dampak apa yang akan kita peroleh sebagai konsekuensi perbuatan kita terhadap alam. Bila kita memperlakukan alam ini dengan baik, maka ia pun akan berbaik hati terhadap kita. Begitu juga sebaliknya. Ia dapat menaikkan kabut dari ujung bumi, membuat kilat mengikuti hujan & mengeluarkan angin beserta banjir dari dalam perbendaharaannya. Itu yang akan terjadi bila segala tindakan kita malahan kerap merusak alam ini. Karenanya karma alam adalah inti dari keseimbangan semesta.

Minggu 18 November 2012. Hujan lebat disertai angin telah mengguyur Komplek Cingcin Permata Indah (CPI), Desa Gandasari, Kecamatan Ketapang, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat sejak pukul 2 siang hingga pukul 10 malam. Bila melihat foto sebuah jam dinding yang jarumnya telah mati dan berada di atas tembok rumah Ibu Dadan (salah satu penduduk komplek CPI), diperkirakan sekitar pukul 18.17 WIB banjir bandang telah menerjang dengan ganas bersamaan dengan meluapnya air sungai dari arah belakang komplek CPI. Akibat dari hantaman air yang bercampur lumpur & sampah tersebut, tembok rumah milik Ibu Dadan pun langsung jebol seketika hingga membuat sebuah lubang besar sebagai bekasnya. Untungnya Ibu Dadan beserta keluarganya telah memiliki ritual yang sudah sejak lama dilakukan yaitu mengungsi tatkala hujan deras tiba. Penduduk setempat pun mengatakan bahwa pada sekitar pukul 8 malam, ketinggian air sudah mencapai 3 meter di komplek CPI. Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, ada sekitar 300 rumah yang terendam air & banjir di hari yang naas tersebut.

Dan atas nama solidaritas beserta kemanusiaan, berbagai bantuan pun hadir di tengah penderitaan yang dialami oleh warga korban banjir bandung selatan. Meski kita sadar bahwa bencana banjir itu disebabkan karena ulah manusia juga, namun kita tidak boleh berhenti dalam urusan mengulurkan tangan. Sebab di sanalah martabat kita sebagai seorang manusia diuji. Bagaimana ketulusan kita untuk menyediakan pertolongan dalam bentuk apapun. Saat ini bantuan bisa disalurkan melalui posko aksi bandung (twitter @aksibandung) di Jalan Purnawarman 70 Bandung. Atau dapat langsung menghubungi BPBD Kabupaten Bandung, Jalan Bandung-Soreang KM 17, Telp.022-85872591/76914288. Untuk donasi melalui tim @aksibandung, para sahabat bisa melakukan transfer ke rek BCA 0860437813 atas nama Puji Apriantikasari. Tentunya bencana alam ini tidak berakhir di tempat ini saja. Pada saat yang bersamaan ternyata masih ada musibah banjir & tanah longsor yang terjadi di Banjaran, Majalaya, Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Soreang, Kutawaringin, dan daerah lainnya. Apa yang telah kita bangun selama bertahun-tahun lamanya, mungkin akan hancur dalam sekejap oleh bencana alam. Meski begitu tetaplah membangun. Bantuan yang kita berikan kepada korban bencana alam, mungkin saja tidak cukup bagi mereka. Meski begitu tetaplah membantu. Karena dengan tindakan kecil itulah kita menjadi alas hidup yang abadi bagi sesama.

Bandung, 19 November 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

November 19, 2012 at 12:58 pm

Sanubari Bandung Di Taman Kota

with 5 comments

Foto & Teks : galih sedayu

Bayangkanlah…

Seolah kita sedang mengunjungi sebuah taman kota yang telah lama hilang dan kini telah menjadi sorga baru. Sebelum masuk ke dalam taman kota tersebut, mata kita sudah dimanjakan dengan Public Art dalam skala gigantik yang menjadi penanda keberadaan sebuah area hijau. Bentuknya berupa instalasi seni menyerupai pohon raksasa dengan ranting-rantingnya yang bercabang dan penuh ditempeli oleh ribuan kartu berwarna berisikan tulisan ucapan syukur warga atas taman kota yang sangat indah. Begitu kita masuk ke dalam taman kota tersebut, ucapan selamat datang pun keluar dari mulut beberapa penjaga taman sambil mengantarkan senyuman hangat. Setelah itu kita berjalan menuju ke tengah taman. Di sanalah kita melihat dengan jelas hamparan bunga warna-warni bertebaran yang dikerumuni oleh kumbang dan kupu-kupu. Pohon-pohon besar berdiri berjajar di sekitarnya bak benteng yang setia menjaga area taman kota tersebut. Di sisi lain kita melihat sebuah amphitheater yang penuh terisi oleh komunitas yang tengah menyaksikan pertunjukkan sulap. Sementara sebagian anak-anak mudanya terlihat duduk manis di sejumlah bangku taman dengan membawa laptopnya sambil asik menikmati fasilitas wi-fi yang ada di taman kota tersebut. Anak-anak kecil pun terlihat berlarian bebas dan lepas di arena bermain yang telah disediakan. Di hamparan rumput yang hijau, tampak puluhan keluarga yang melakukan piknik dan botram lengkap bersama tikar, makanan & minuman yang dibawanya masing-masing. Suara merdu saxophone terdengar mengalir dari seorang musisi yang mojok di bawah pohon trembesi. Lampu taman yang berbentuk artistik pun turut menghiasi taman kota tersebut dengan memberikan cahayanya terutama bila menjelang malam.

Tentunya kita semua punya mimpi itu. Dan berharap bahwa suatu saat nanti mimpi itu dapat menjadi nyata. Sebuah kota sebenarnya dapat dianalogikan seperti tubuh manusia. Ruang-ruang kota yang ada merepresentasikan bagian atau anggota tubuh kita. Bila Hutan diibaratkan sebagai paru-paru kota karena mensuplai oksigen bagi warganya, Sungai diibaratkan sebagai darah yang mengalir dalam tubuh kota, Kampung yang diibaratkan sebagai otot yang membentuk kota, maka sejatinya taman adalah hati atau sanubari sebuah kota. Karenanya hati yang bersih & gembira akan melahirkan sebuah kota yang bahagia. Bandung adalah sebuah kota yang memiliki begitu banyak taman. Bahkan julukan Bandung sebagai “Parijs van Java” konon didapat karena taman-taman yang dimiliki kota ini sangat menyerupai Kota Paris. Bila kita melihat sejarahnya, taman kota yang lahir pertama kali di kota Bandung adalah “Pieters Park” yang dibangun pada tahun 1885 oleh Meneer R.Teuscher. Kala itu untuk menjaga kesuburan dan kelembaban tanah di sekitar “Pieters Park”, maka dibangunlah sebuah kanal yang memanjang di tepi utara taman. Air yang mengalir pada saluran kanal tersebut bersumber dari sungai cikapayang. Kemudian air dari cikapayang tersebut dialirkan menuju 4 buah taman di kota Bandung yaitu Ijzerman Park (Taman Ganesa), Pieters Park (Taman Merdeka), Molukken Park (Taman Maluku) dan Insulide Park (Taman Nusantara). Saat ini nama “Pieters Park” berubah menjadi Taman Merdeka dengan ciri khas patung badak putih yang menghuni taman kota tersebut. Menurut data dari Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung, ada sekitar 604 buah Taman di Kota Bandung dan baru sekitar 40% yang bisa dikelola oleh pemerintah. Tak heran memang bila saat ini kita masih melihat begitu banyak taman kota yang menganggur. Bila malam datang, taman-taman itu kerap melahirkan citra negatif seperti gelap, rawan, tempat maksiat, dan lain sebagainya. Untuk itulah tidak selamanya kita bisa berharap banyak terhadap pemerintah untuk dapat mengelola taman dengan baik. Warga kota Bandung sudah semestinya menyikapi masalah ini dan turut mengambil peran sosial demi keberlangsungan taman kota yang semakin terabaikan ini.

Untunglah Kota Bandung ini memiliki sebuah kekuatan sosial yang diciptakan oleh komunitasnya. Dari komunitas inilah dimulai sejumlah tindakan kecil demi menghidupkan taman-taman kota yang hampir mati. Tercatat nama-nama komunitas yang turut berperan dalam mengaktifkan taman kota bandung seperti Komunitas Taman Kota, Komunitas Sahabat Kota, Komunitas Bicons, Komunitas Taman Foto Bandung, Komunitas Aleut, dan lain sebagainya. Pada tanggal 10-11 November 2012, Bandung Creative City Forum (BCCF) menggagas sebuah program aktivasi taman kota yang diberi nama Ulin BDG. Program ini merupakan rangkaian ketiga dari event Helar Festival 2012 yang sebelumnya merespon ruang publik hutan & kampung kota. Ulin BDG merupakan Festival Kaulinan Bandung yang berlokasi di Taman Cilaki. Taman Cilaki dipilih karena ia adalah salah satu taman kota yang dikelilingi oleh ruang-ruang komersil seperti café, factory outlet, hotel dan lain sebagainya. Tentunya pesan yang ingin disampaikan adalah tawaran ruang alternatif lain bagi warga kota untuk bermain. Di sini “Bermain” menjadi kata kunci yang diusung dalam festival Ulin BDG dengan harapan agar warga dapat menghilangkan penat & letih lesu dengan bermain di Taman Kota.

Berbagai komunitas pun turut memeriahkan Ulin BDG ini dari mulai Komunitas Ecoethno yang membuat wahana permainan ketangkasan memanjat pohon, Komunitas Hong yang menyediakan berbagai arena permainan anak-anak tradisional, Taman Foto Bandung yang menghadirkan perpustakaan fotografi & kegiatan memotret, Animatronik yang menghibur warga dengan robot yang dikendalikan melalui sentuhan iPad, PicuPacu yang memberikan edukasi kepada anak-anak melalui permainan (menangkap ikan, lempar bola, menggambar, dll), Komunitas Reptil Bandung dengan pasukan ular sanca dari berbagai jenis, Komunitas Origami Bandung yang mengajarkan pengunjung mengenai seni melipat kertas, Face Painting yang mengecat wajah anak-anak dengan gambar & motif berwarna, Komunitas Layar Kita yang menghangatkan taman dengan pemutaran film, Bandung Beatbox Family dengan seni mengolah suara-suara unik dari mulut, Bike.Bdg, Urban Jedi, Sunday Smile Picnic, Bandung Cycle Chic, Sahabat Walhi, Komunitas Sahabat Kota, Komunitas Sulap Bandung, dan Botol Art Implementer. Sekitar 200 buah lampion berbentuk binatang jerapah, hamster & panda turut digantung di pepohonan sehingga membuat suasana taman cilaki menjadi romantis. 1 buah lampion raksasa berbentuk “Surili” yaitu binatang endemik asal Jawa Barat sejenis kera menjadi ikon utama di festival Ulin BDG tersebut. Lampion-lampion itu sesungguhnya menyiratkan makna bahwasanya kegelapan malam di sebuah taman bisa dilawan oleh nyala kreativitas warganya. Lalu sejumlah musisi Bandung pun ikut menghibur warga yang berkunjung ke Taman Cilaki tersebut. Seperti Strangers, Blues Libre, La Belle, Bad Attitude, Flava Madrim, Karinding Riot, Mr.Sonjaya, Teman Sebangku, Dodong Kodir dan Kang Ganjar Kampung Cicadas. Dapat dikatakan bahwa atmosfir Taman Cilaki kala itu terlihat sangat ceria dengan kolaborasi komunitas & warga kota yang menyambanginya.

Sesungguhnya taman-taman kota itu sama seperti kita manusia. Ia tak mau kesepian di tengah panas teriknya sinar mentari. Ia tak mau sendirian di dalam gelap malam & dinginnya sinar rembulan. Ia tak mau meratap sedih dengan kertak gigi yang ketakutan. Karena baginya cinta kita semua adalah lampu taman yang abadi. Demikianlah hendaknya kita sebagai warga mesti selalu mau membuka mata sebagai pelita tubuh demi menjaga dan merawat taman-taman kota yang ada. Setiap pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Begitu pula setiap taman yang dirawat dengan penuh kasih akan menciptakan kota yang bahagia. Celakalah kota Bandung ini bila para warganya tidak mau peduli terhadap tamannya sendiri. Karenanya tatkala taman kota meniup seruling bagi kita, hendaknyalah kita menari. Dan taman-taman itulah yang sesungguhnya menjadi ruang masa depan bagi anak cucu kita nanti.

Wujudkanlah…

Bandung, 12 November 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

November 12, 2012 at 4:51 pm

Angin Yang Berhembus Ke Kampung Cicukang

with one comment

Foto & Teks : galih sedayu

Angin perubahan itu bisa terjadi di setiap sudut manapun dimana manusia bermukim. Ia bukan hanya keluar memanggil di pusat kota saja, melainkan kadang berhembus menuju kampung-kampung nun jauh di pinggir kota sana. Dari kampunglah, saat ini mulai terungkap berbagai cerita perihal semangat dan harapan yang sebelumnya jarang terdengar. Karenanya keberadaan entitas kampung tersebut dapat menjadi momentum awal akan sebuah pemahaman baru. Bahwasanya kekuatan sebuah kota yang dulunya kerap muncul dari tengah, kini ia hadir mengepung dari pinggir-pinggir kota yang kadang tak terlihat oleh mata kita. Meski kadang himpunan energi kampung ini mesti berjuang keras dan terus berproses demi membuktikan bahwa mereka bisa bermartabat di kampungnya sendiri.

Salah satu contoh dari yang telah disebutkan di atas adalah Kampung Cicukang. Kampung Cicukang II tepatnya RT 05 RW 07 ini termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Husein S, Kecamatan Cicendo yang diapit oleh Jalan Komud Supadio Bandung. Kampung Cicukang merupakan salah satu pemukiman padat di Kota Bandung yang lokasinya terletak di sepanjang pinggir rel Kereta Api. Di sanalah kita dapat menatap sebuah kampung yang hampir setiap 15 menit sekali, dilewati oleh gerbong-gerbong Kereta Api dengan suara gemuruh roda besinya. Karenanya Kampung Cicukang tersebut kerap dijadikan simbol gerbang masuk bagi gerbong-gerbong besi yang mengangkut ratusan manusia ke Kota Bandung. Sebagaimana kampung kota pada umumnya, beberapa permasalahan pun melekat di dalam tubuh Kampung Cicukang ini. Dari mulai kesulitan untuk mendapatkan air bersih, pembuangan sampah, tawuran pemuda, kesulitan ekonomi masyarakatnya, tata ruang yang semerawut, dan sejumlah masalah sosial yang timbul dari berbagai aspek yang ada. Namun ternyata, warga Kampung Cicukang ini memiliki modal yang sangat berharga. Mereka memiliki semangat kekompakan yang luar biasa. Mereka sangat mendambakan sentuhan kolaborasi dari sesamanya. Dan akhirnya aliran setrum itu pun menyengat di Kampung Cicukang. Melalui Program Akupuntur Kota yang dihadirkan oleh Bandung Creative City Forum (BCCF) dengan konsep Kampung Kreatifnya, keintiman yang berbuah kreativitas pun lahir di sana. Letupan-letupan kecil potensi & ide yang dimiliki oleh warga Kampung Cicukang ini menjadi sesuatu yang amat dibutuhkan demi membangun peradaban baru.

Dan denyut nadi lain di Kampung Cicukang ini pun mulai berdetak. Terdapat sekelompok ibu-ibu Kampung Cicukang yang membentuk sebuah grup bernama Musik Dapur Mekar Asih. Uniknya, mereka memainkan alat musik dari perabotan dapur yang sudah tidak terpakai. Ada wajan bolong, rantang-rantang bekas yang dirakit dengan pipa paralon, bekas galon minuman yang disulap jadi alat tabuh, dan lain sebagainya. Cerita humor pun muncul dari salah satu personil grup Musik Dapur Mekar Asih ini yang bernama Ibu Euis. Teman-temannya sering menyapa Ibu Euis dengan sebutan Agnes Monica. Entah mengapa yang pasti ngga banget miripnya. Ibu Euis sempat berujar bahwa sebelum meninggal, ia ingin sekali bertemu dengan idolanya semenjak kecil yaitu Haji Roma Irama. Biar tidak penasaran dan melengkapi hidup katanya. Semoga Bang Haji membaca tulisan ini dan segera pindah rumah. Pada saat ibu-ibu ini tampil di depan panggung, semangat dan keceriaan mereka sangat tampak terlihat. Tak kelihatan raut wajah mereka yang menunjukkan ekspresi canggung saat tampil di depan penonton. Meski kadang suara-suara musik dapur itu hilang ditelan suara roda besi yang menyentuh rel di saat Kereta Api datang melewati kampung tersebut. Lalu energi lain muncul dari kelompok anak mudanya. Selain mereka membuat mural kampung, mereka menciptakan wayang yang terbuat dari seng dan memasangnya di sepanjang pinggir kampung mengikuti jalur Kereta Api. Semacam Kinetic Art konsepnya. Menurut mereka, rencananya suatu saat akan dibuat wayang seng skala gigantik sebagai penanda keberadaan Kampung Cicukang tersebut. Lain halnya dengan kuliner Kampung Cicukang yang tak kalah uniknya. Ada makanan yang dinamai Martabak Israel, Cidog (Aci & Endog), Perkedel Bondon, dan Kerupuk Seblag oleh para warganya. Semuanya ini terlihat jelas kala diadakan Festival Kampung Cicukang sekaligus peresmiannya pada hari minggu tanggal 7 Oktober 2012.

Inilah sekelumit cerita tentang Kampung Cicukang yang (memang) tak sepenuhnya lengkap dan indah. Karena masih banyak sebenarnya realitas permasalahan yang tersisakan dan mau tidak mau mesti dihadapi oleh warganya. Isu sampah dan air misalnya. Meskipun demikian, selalu ada seberkas cahaya mentari yang menyinari Kampung Cicukang ini. Dari sanalah semua kisah perubahan itu semestinya berawal. Sebuah kampung yang mandiri, yang bagi sebagian orang menjadi representasi wilayah kumuh dan tidak berestetika. Namun demikian, kita perlu mengupayakan ke depan agar citra Kampung Cicukang dapat menjadi semacam backstage tourism, yang memiliki potensi wisata dari sisi lain yang menyelimutinya. Meski ia tentunya berbeda dengan etalase wisata resmi yang eksotis plus indah menawan pada umumnya. Tetapi kita harus percaya bahwa keberadaan kampung-kampung seperti inilah yang sebenarnya menopang tubuh sebuah kota. Agar ia selalu berdiri tegak setiap harinya dari mulai matahari terbit di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat. Sehingga kelak kita bisa menitipkannya kepada anak dan cucu kita seraya berkata, “Inilah Kampungmu, Jadikanlah Kotamu”.

Bandung, 13 Oktober 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 13, 2012 at 4:30 pm

Kebhinnekaan Itu Bernama Nusantara

leave a comment »

Foto & Teks : galih sedayu

Bumi pertiwi ini tidak pernah membedakan.
Ia selalu menjadikan keberagaman itu tetap satu.
Tatkala kadang kita cenderung memisahkan.

Lalu mengapa?
Ribuan budaya ini seharusnya menjadi kekuatan.
Bukannya ketakutan.

Sudah semestinya kita menyadari.
Bahwa jiwa & cita kita sebenarnya satu.
Ia tidak bisa dipecah belah.

Mungkin kita hanya perlu mengerti.
Tak perlu untuk dipertanyakan kembali.
Darimana asalnya?

Bangunlah dari tidur panjang kita.
Jangan pernah diam dalam kekayaan.
Bangsa kita menunggu kejayaan.

Jika tanah air adalah tempat kita berpijak.
Maka tunjukkanlah kepadanya.
Arti dari para penghuninya.

Jika memang benar bahwa kita merdeka.
Janganlah diam seribu basa.
Jadikanlah nusantara kita hidup selamanya.

Bandung, 8 Oktober 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 8, 2012 at 6:36 am

Pesan Dari Kampung Taman Hewan

leave a comment »

Foto & Teks : galih sedayu

“Pada suatu tempat di Kampung Taman Hewan”

Pemantik semangat perubahan kota itu sesungguhnya tidak hanya datang dari otak-otak masyarakat kreatif yang tinggal di pusat kota saja. Himpunan Kampung Urban yang biasanya terpinggirkan dan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, ternyata dapat menjadi sebuah pusat energi kreatif pula yang membentuk peradaban kota. Meski kadang kelompok kampung ini terpaksa hidup terhimpit oleh tembok arogansi yang mengatasnamakan pembangunan kota. Mereka inilah sebenarnya yang diharapkan mampu untuk melawan segala superioritas dan rasa kecongkakan sekelompok orang/pengusaha yang berfikiran dangkal yang hanya memikirkan bagaimana menciptakan sejumlah ruang komersil di sebuah kota.

Kampung Taman Hewan adalah salah satu areal dan kawasan marjinal di Kota Bandung yang mencoba tumbuh dan bergerak di antara pembangunan fisik yang mulai mengepung. Kampung Taman Hewan RW 08 ini termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong dan terletak di belakang Kebon Binatang, Jalan Taman Hewan Kota Bandung. Bila kita berdiri tepat di lapangan tengah Kampung Taman Hewan (yang biasanya digunakan sebagai lapangan sepakbola) dan menghadap ke sisi sebelah barat , maka kita akan melihat bahwasanya kampung ini bak dipagari oleh bangunan tinggi menjulang yang rencananya akan dijadikan rumah susun. Tak ada lagi pemandangan belantara hijau menyejukkan dan kicau unggas beterbangan yang dulunya sempat dimiliki oleh kawasan tersebut. Uniknya, Kampung Taman Hewan ini memiliki salah satu tokoh masyarakat yang masih muda. Masyarakat kampung ini memanggil namanya dengan sebutan Tjuki atau Cuki. Maklum, ia adalah pentolan dari band punk bernama Tjukimay yang telah dirintisnya sejak tahun 2000. Saat ini Cuki banyak memprovokasi warga Kampung Taman Hewan untuk menjadi produktif dan mengajarkan nilai-nilai kemandirian yang kelak dapat meningkatkan martabat kampung tersebut.

Program Akupuntur Kota adalah sebuah gagasan sederhana dari Bandung Creative City Forum (BCCF) yang mencoba menciptakan berbagai Kampung Kreatif di Kota Bandung. Kampung-Kampung ini nantinya diharapkan mampu untuk menjadi model & contoh nyata dari sebuah Social Movement yang diusung oleh masing-masing warga kampung tersebut. Sehingga berkat perubahan kecil yang dilakukan oleh masing-masing kampung inilah, yang pada akhirnya diharapkan mampu membuat sejumlah perubahan besar di Kota Bandung. Kampung Taman Hewan adalah salah satu kampung kota yang menjadi titik akupuntur permasalahan sebuah kota. Melalui sebuah gelaran kreatif yang bernama Festival Kampung Tamansari, Lapangan Tengah Kampung Taman Hewan (yang merupakan bagian dari perkampungan di daerah tamansari) disulap menjadi sebuah arena ruang publik dan tempat bersinerginya sebagian besar komunitas Kota Bandung. Kampung Taman Hewan inilah yang diharapkan mampu menjadi salah satu ruang publik masyarakat Kota Bandung. Tidak hanya Mall & Factory Outlet saja yang malahan kerap menimbulkan kemacetan dan degradasi sosial.

Tentunya kita semua sadar benar, bahwa perlu adanya sinergi bersama untuk merealisasikan mimpi sebuah kota yang ideal. Untuk itu BCCF pun menggandeng Keluarga Mahasiswa Seni Rupa (KMSR) ITB sebagai pelaksana kegiatan Festival Kampung Tamansari khususnya aktivitas yang dilakukan di Kampung Taman Hewan. Karena selain di kampung ini, Festival Tamansari juga menggelar sebuah program Mural Atap di kawasan Kebon Kembang. Tepatnya tanggal 20 September 2012 hingga 22 September 2012, Festival Kampung Tamansari ini dipersembahkan bagi khalayak umum. Sejumlah komunitas, pihak akademisi, instansi, seniman, dan warga kampung pun turut memberikan andil pada perhelatan di Kampung Taman Hewan tersebut. Dari mulai Hay Man Movement yang memberikan workshop melukis layang-layang, TPB FSRD ITB 2012 & senior KMSR ITB yang mengerjakan Mural Lapangan, Air Foto Network yang memberikan workshop foto jurnalisme warga, Pemutaran Film oleh Komunitas Layar Kita, Sentuhan kuas Tisna Sanjaya yang berduet dengan suara harmonika yang dilantunkan Hari Pochang, serta Video Mapping dari Interacta. Bahkan sejumlah musisi seperti Kasada, Trah Project, Pancasura, Karinding Sagara, Teman Sebangku, Nada Fiksi & Sound of Hanamangke turut memeriahkan Festival Kampung Tamansari tersebut. Kehadiran Walikota Bandung (Dada Rosada) dan Wakil Walikota Bandung (Ayi Vivananda) juga melengkapi simbol sinergisitas masyarakat sebuah kota. Meski sebenarnya sebagian besar pidato tentang kebakaran yang disampaikan secara panjang lebar oleh Walikota Bandung pada saat itu, agaknya kurang relevan dengan konteks kreativitas yang digelar di Kampung Taman Hewan ini. Namun biarlah.

Apa yang telah dilakukan oleh warga Kampung Taman Hewan ini adalah sebentuk kesadaran kolektif yang menawarkan sebuah pemikiran sekaligus getaran emosional bagi masyarakat kota dimanapun. Bahwa nun di kaki langit urban sebuah kota, masih ada dimensi lain yang merindukan keintiman di sana serta masih ada artefak peradaban yang merindukan sebuah perubahan. Karena sesungguhnya persoalan yang ingin mereka komentari adalah sebentuk masa depan yang terhalang. Masa depan sebuah kampung yang mungkin tertutup oleh tembok, debu & suara bising pembangunan. Serta ketidak adilan bagi mereka yang hendak membungkam suara-suara protes warga. Walaubagaimanapun hari esok Kampung Taman Hewan hanya ada pada upaya keras yang diperlihatkan oleh warganya. Juga solidaritas dan empati dari komunitas kotanya. Dan tentunya kemauan baik serta tindakan nyata dari pemerintahnya. Dalam kekuatan itulah semestinya kita percaya.

“Pada suatu masa di Kampung Taman Hewan”

Bandung, 5 Oktober 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 5, 2012 at 6:57 am