I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘save our heritage

Membangunkan Gedung Gas Negara Dari Tidur Panjangnya

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Sering kali kita mendengar sebuah ungkapan bahwa “Sebuah kota tanpa bangunan tua ibarat seorang manusia tanpa ingatan”. Karenanya tatkala sekelompok manusia yang congkak dan dungu berlomba untuk merubuhkan bangunan-bangunan lama kotanya hanya demi uang, maka aksi perlawanan terhadap mereka pun sudah semestinya muncul. Wajar saja memang karena gerakan yang ingin menyelamatkan gedung-gedung tua itu mesti terus selamanya didukung agar setiap kota yang kita huni tetap menjadi waras. Salah satu yang menjadi magnet bagi Kota Bandung adalah keberadaan gedung-gedung tua yang tak kunjung henti selalu mempesona mata manusia. Gedung-gedung tua yang menawan tersebut tersebar di berbagai kawasan Kota Bandung. Dalam buku “100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung” yang disusun & diterbitkan oleh Harastoeti DH pada tahun 2011, gedung-gedung tua tersebut dibagi ke dalam kawasan pusat kota, kawasan pecinan/perdagangan, kawasan pertahanan & keamanan/militer, kawasan etnik sunda, kawasan perumahan villa & non-villa serta kawasan industri. Sayangnya hingga saat ini masih banyak bangunan bersejarah di Kota Bandung yang mati suri dan sulit diakses oleh warganya.

Gedung Gas Negara yang terletak di Jalan Braga No 38 adalah salah satu gedung bersejarah yang dimiliki oleh Kota Bandung. Bangunan Gas Negara ini mulai dibangun pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1919 yang dirancang oleh Richard Leonard Arnold Schoemaker. Pada awalnya, bangunan ini merupakan Sekretariat Bandoeng Voorult dan kantor N. V. Becker & Co yaitu sebuah kantor pembayaran. Pada tahun 1928, bangunan ini dibeli oleh perusahaan gas Belanda, N.V. Nederlandsch-Indische Gasmaatschappij (NIGM) sebagai cabang perusahaan gas pertama di Bandung. Setelah jaman kemerdekaan, bangunan ini diambil alih oleh Perusahaan Gas Negara (PGN) yang difungsikan sebagai kantor pusat pembayaran dan administrasi, mirip seperti fungsi bangunan sebelumnya. Hingga pada akhirnya, gedung gas negara ini berhenti beroperasi pada tahun 1998. Sejak itulah Gedung Gas Negara mengalami tidur yang panjang. Untunglah ada sekelompok warga yang terus berupaya membangunkan Gedung Gas Negara dari tidurnya. Salah satunya adalah Mahasiswa Arsitektur Gunadharma ITB. Pada tanggal 10-17 November 2012 yang lalu mereka membuat sebuah pameran bertajuk “Bandung Ngabaraga” yang bertempat di Gedung Gas Negara tersebut. Alhasil karena acara pameran ini terbuka untuk umum, publik pun dapat melihat secara langsung seperti apa isi bangunan Gedung Gas Negara yang telah ditutup selama belasan tahun lamanya tersebut.

Sesungguhnya saat ini perlu adanya upaya-upaya aktif warga untuk kembali menghidupkan bangunan-bangunan tua & bersejarah di Kota Bandung yang telah lama terbengkalai. Untuk kemudian memperkenalkannya kepada anak-anak kita supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian. Supaya anak-anak yang lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka. Supaya mereka menaruh kepercayaan kepada setiap kotanya dan dengan teguh melestarikannya. Karenanya kita perlu menyadari bahwa cinta tidak bisa diberitakan di dalam kubur bangunan tua sebuah kota. Ia akan hidup ketika seluruh warga dapat dengan bebas mengunjungi dan menaruh harapan-harapannya pada gedung-gedung tua sebuah kota. Hingga Kota Bandung akan ada untuk selama-lamanya dan takhtanya seperti matahari & bulan di depan mata, sebagai saksi yang setia di awan-awan.

Save Our Heritage…

Bandung, 16 November 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Advertisements

Written by Admin

November 24, 2012 at 5:35 am

Mencari Sisa-Sisa Kejayaan Bangunan Art Deco Di Bumi Pertiwi

with one comment

Teks : galih sedayu

Architecture has recorded the great ideas of the human race.
Not only every religious symbol, but every human thought has its page in that vast book.
– Victor Hugo –

Indonesia sudah sepatutnya menyadari bahwasanya sejak dulu kala negara nan elok dengan hamparan alam yang terbentang luas ini telah menjadi magnet hidup dan tempat pilihan bagi persinggahan bangsa-bangsa dari seluruh pelosok dunia. Itu sebabnya Tanah Air kita memiliki berbagai warisan sejarah dan budaya yang dibawa oleh masyarakat dunia luas, yang kemudian diterapkan dalam segala bidang termasuk arsitektur. Karenanya bangsa kita hingga saat ini masih memiliki bukti kehadiran fisik sebuah peradaban arsitektur dunia, dimana salah satunya adalah gaya Arsitektur Art Deco.

Sejarah mencatat bahwa nama Art Deco untuk pertama kalinya muncul pada tahun 1966 dalam sebuah katalog yang dikeluarkan pada sebuah pameran dengan tema  “Les Années 25” oleh Musee des Arts Décoratifs di Paris. Pameran ini sendiri digelar untuk meninjau kembali pameran internasional bertajuk “I’Expositioan Internationale des Arts Decoratifs et Industriels Modernes” yang telah diselenggarakan pada tahun 1925 di Paris. Setelah itu nama Art Deco semakin berkibar terlebih ketika Sejarahwan dan Jurnalis asal Inggris, Bevis Hillier mengeluarkan sebuah buku berjudul “Art Deco of the 20s and 30s ” yang diterbitkan oleh Studio Vista di Amerika pada tahun 1968.

Pada tahun-tahun berikutnya, pameran di paris ini ternyata berpengaruh pada perkembangan dunia arsitektur dan seni. Tidak saja di Eropa, melainkan di berbagai wilayah dunia seperti Amerika, Australia, New Zealand dan Asia termasuk di Indonesia kala jaman pemerintahan Kolonial Belanda. Sehingga perkembangan Arsitektur Art Deco di Indonesia tentunya tidak bisa lepas dari peran dan andil besar para Arsitek Belanda. Diantaranya tercatat nama-nama besar seperti Prof.Ir. Charles Proper Wolff Schoemaker yang merancang bangunan bersejarah Vila Isola Bandung dengan pola garis-garis lengkung dan bentuk silindernya.  Tercatat pula nama Albert Frederik Aalbers yang merancang Vila Tiga Warna Bandung dan sejumlah bangunan Art Deco yang lain. Hanya saja sangat disayangkan bahwa hingga saat ini kita belum memiliki database visual yang lengkap perihal bangunan Art Deco di Indonesia. Sementara itu pula tidak sedikit sejumlah bangunan lama Art Deco yang ada di tanah air secara perlahan sirna karena sudah tidak terawat ataupun sengaja dimusnahkan demi munculnya bangunan modern lain yang didirikan tanpa sama sekali memperhatikan hal sejarah.

Tentunya keberadaan fisik perihal sisa-sisa bangunan Art Deco yang sangat bersejarah bagi bangsa ini perlu dilestarikan dengan berbagai upaya yang ada. Langkah awal dan tindakan kecil yang perlu dilakukan salah satunya adalah pengarsipan visual mengenai keberadaan bangunan Art Deco yang masih berpijak tegar di bumi pertiwi ini. Karena alasan-alasan itulah Grand Royal Panghegar dan air foto network menggagas sebuah program yang bernama “Save Our Heritage”. Program Save Our Heritage ini sejatinya bertujuan untuk mengumpulkan informasi visual tentang bangunan Art Deco di Indonesia yang didapat melalui Kompetisi Fotografi Nasional. Kompetisi ini dibagi ke dalam 2 buah kategori yaitu Art Deco Building in Indonesia Photo Contest dan Art Deco Building at Grand Royal Panghegar Photo Contest.

Melalui program kompetisi foto ini, sekitar 849 karya foto berhasil dijaring dari seluruh peserta di Indonesia. Selanjutnya 50 karya foto terbaik dapat kita lihat dalam sebuah Pameran Foto bertajuk “Save Our Heritage”, yang menggambarkan rekaman-rekaman beku tentang kondisi fisik dan cuplikan nyata perihal bangunan Art Deco di Tanah Air. Pameran ini setidaknya dapat menciptakan jejak kecil berupa arsip visual yang seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi untuk melacak kembali sisa-sisa kejayaan Art Deco di Indonesia serta dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran visual bagi anak-anak generasi kini maupun yang akan datang. Karena walau bagaimanapun cita-cita dan harapan besar yang diusung oleh sebuah bangsa setidaknya dapat dimulai dengan tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dengan cara yang benar. Oleh karena itu kami memiliki harapan bahwa fotografi dapat dijadikan sebagai medium kesadaran bersama bagi masyarakat yang memiliki mata dan hati untuk melihat, merenung dan mengambil sikap demi menghargai karya-karya besar yang telah diciptakan oleh manusia dalam kurun waktu yang panjang, yang telah ditorehkan pada dinding peradaban dunia arsitektur di Bumi Pertiwi yang kita miliki.

*Tulisan ini dibuat sebagai kata pengantar Pameran Fotografi “Save Our Heritage” (Art Deco Building in Indonesia) yang berlangsung dari tanggal 21 November 2011 s/d 30 November 2011 di Grand Royal Panghegar, Jalan Merdeka No 2 Bandung.

Bandung, 13 November 2011

Written by Admin

November 12, 2011 at 4:48 am