Archive for the ‘07) SEMESTA FOTO CERITA’ Category
Dari Gelap, Sepakbola, Lalu Matahari
Foto & Teks : galih sedayu
“Semangat Tanpa Perjuangan adalah Omong Kosong”
– Ginan Koesmayadi –
Masalah stigma dan diskriminasi bagi kaum marjinal seperti orang-orang dengan HIV/AIDS (ODHA) maupun mantan pengguna Narkoba, selalu menjadi isu yang menghadirkan sekelumit polemik di Bumi Pertiwi yang kita cintai ini. Bagi sebagian orang yang tidak mengerti, mereka yang tergolong ke dalam kelompok minoritas tersebut kerap dicap dan dipandang sebelah mata bahkan dianggap sebagai sampah dalam sebuah tatanan komunitas yang semestinya egaliter. Melihat perspektif miring dan gelombang sosial yang timbul dari sebagian besar masyarakat tersebut, tentunya perlu sebuah upaya untuk melawan stigma dan diskriminasi yang kadang menjadi tidak adil. Tidak adil karena stigma itu kadang datang menyerbu dan membabi buta tanpa adanya tawaran solusi secuil pun. Namun demikian kita harus percaya bahwa matahari pasti akan menunjukkan sinar terangnya. Saat ini mulai lahir individu-individu maupun kelompok yang berjuang untuk membela komunitas marjinal tersebut. Meski kadang mereka harus muncul dari kandang gelap yang dimilikinya.
Ginan Koesmayadi (31 tahun) bersama Komunitas Rumah Cemara yang dirintisnya sejak tahun 2003, memberikan warna sejarah dengan melakukan sebuah lompatan perubahan melalui Sepakbola demi melepaskan paradigma negatif yang ditujukan bagi para ODHA. Ginan adalah salah satu dari orang yang terjangkit virus HIV Positif. Tapi takdir yang menimpa dirinya tidak menjadikan alasan baginya untuk berhenti berjuang. Horor kematian karena menderita HIV/AIDS tidak membuat ia menjadi rapuh. Kecintaannya kepada olahraga sepakbola akhirnya membawa Ginan kepada sebuah dunia yang penuh perubahan. Ia pun membentuk tim sepakbola Rumah Cemara. Dengan sepakbola ia mengajak masyarakat untuk berbaur sehingga ia bisa menceritakan kisahnya kepada dunia. Tim sepakbola ini akhirnya menjadi sebuah roda harapan. Sederet prestasi pun diraih oleh Tim Sepakbola Rumah Cemara dari mulai menjuarai Street Soccer Competition 2010 hingga Turnamen Sepakbola yang digelar oleh Badan Narkotika Nasional selama dua tahun berturut-turut (2009 & 2010). Bahkan tim Rumah Cemara ini berhasil meraih penghargaan internasional dalam kompetisi ide bertajuk “Changing Lives through Football” yang diadakan oleh Ashoka dan Nike Internasional. Atas dasar prestasi tersebut akhirnya buah ide mereka tentang program sepakbola diganjar dengan hadiah sebesar US $30.000. Ide sederhana mereka yang menjadikan sepakbola sebagai medium komunikasi antara kaum minoritas dengan masyarakat dunia dianggap tepat sebagai solusi permasalahan & ajang perubahan sosial. Lalu pada tahun 2009 tim Rumah Cemara ditunjuk menjadi Official National Organizer oleh pihak “Homeless World Cup”, yaitu sebuah kejuaraan Street Soccer Internasional dimana para pesertanya adalah kelompok minoritas dari seluruh dunia. Kemudian tahun 2010 mereka mendapatkan tanggung jawab untuk memberangkatkan Tim Indonesia pada ajang Homeless World Cup di Brazil. Hanya saja karena tidak adanya dukungan dana, Tim tersebut tersendat mewujudkan keinginannya untuk membawa nama Indonesia di kancah internasional. Tapi mereka pun tidak mau menyerah. Dengan dukungan semua pihak, pada tahun 2011 mereka berhasil memberangkatkan Tim Nasional Indonesia di Homeless World Cup yang diadakan di Paris, Perancis. Sepulangnya dari sana, tim Rumah Cemara menggelar sebuah ajang yang bernama “League of Change” (Liga Perubahan) berupa turnamen nasional street soccer untuk orang dengan HIV/AIDS, mantan pengguna NAPZA & masyarakat termarjinal dari delapan provinsi di Indonesia.
Pada tahun 2012 ini, Tim Rumah Cemara kembali berusaha sekuat tenaga untuk menghadirkan Timnas Indonesia demi mengibarkan bendera Merah Putih pada ajang Homeless World Cup yang akan diadakan pada bulan oktober di Mexico. Tentunya mereka membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk mewujudkan impian mereka tersebut. Tak kehilangan akal, tim Rumah Cemara & manajemen timnas akhirnya menciptakan sebuah program yang dinamai “Gerakan Masyarakat Satu Mimpi” berupa #1000 untuk 1. Inti program ini adalah mengumpulkan donasi sebesar seribu rupiah per orang agar berhasil mengumpulkan sejumlah dana yang mereka butuhkan. Bayangkan apabila ada 500 ribu rakyat Indonesia yang masing-masing bersedia menyumbang seribu rupiah, maka akan terkumpul dana sebesar 500 juta. Dan akhirnya mimpi itu terjawab. Mereka berhasil mengumpulkan dana. Gerakan #1000 untuk 1 yang didapat dari komunitas, mahasiswa, musisi, seniman & berbagai lembaga menghasilkan Rp 90 juta lebih. Sedangkan hasil dari sumbangan pemerintah & pihak swasta yang berhasil dikumpulkan yakni sebesar 300 juta lebih.
Rupanya para pahlawan sepakbola ini bukanlah tipikal sekelompok orang yang lupa pada kasih Sang Semesta dan bukanlah merupakan kumpulan manusia yang tidak memiliki rasa syukur. Wujud cinta & terima kasih yang mereka lakukan karena telah berhasil mengumpulkan dana agar bisa menyambangi Mexico pada ajang Homeless World Cup 2012, ternyata diungkapkan melalui sebuah Nazar atau Kaul berupa bermain sepakbola selama 24 jam. Tepatnya pukul 5 sore pada hari Sabtu tanggal 22 September 2012 mereka memulai nazar bermain bola selama 24 jam di Lapangan Bawet yang terletak di bawah kolong jembatan flyover pasupati Bandung. Sejumlah tim sepakbola futsal dari berbagai klub menjadi lawan bertanding Timnas Indonesia yang akan tampil di Mexico. Dari mulai mantan pemain Persib Bandung hingga klub sepakbola Srikandi Pasundan yang pemainnya terdiri dari para waria dengan betis becaknya, turut menemani Timnas Indonesia menjalani nazarnya. Akhirnya tepat pukul 17.00 WIB pada hari Minggu 23 September 2012, Rumah Cemara & Timnas Indonesia berhasil menuntaskan janji bermain sepakbola 24 jamnya. Suasana pun berubah menjadi euforia kegembiraan sekaligus haru biru karena mereka telah rampung menunaikan apa yang telah menjadi kewajibannya. Para pemain yang rata-rata memiliki wajah sangar dengan tato di tubuhnya, saat itu menunjukkan sisi mereka yang paling lembut. Manajer Timnas Indonesia, Febby Arhemsyah terlihat haru dan tersungkur sembari berpelukan bersama teman-temannya di lantai lapangan bawet yang keras. Seorang pemain yang lain memeluk ibundanya erat-erat dan tak kuasa menahan isak tangis. Setelah itu Ginan Koesmayadi yang menjadi ikon Tim tersebut, sambil menggendong seorang anak kecil mencurahkan rasa terima kasih sekaligus memotivasi teman-temannya untuk terus berjuang agar bisa tampil dengan baik di Mexico.
Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Ginan bersama teman-temannya adalah sebuah cerminan nyata kepada kita manusia yang merefleksikan sebuah harapan, optimisme & perjuangan yang tekun. Bahwa kelenjar-kelenjar adrenalin dan butiran-butiran keringat mereka bukanlah tanpa hasil. Tanpa disadari doa-doa mereka bersatu. Dan hanya segelintir manusia seperti merekalah, yang memiliki jiwa, semangat dan perjuangan baja. Dia tak dapat dibeli dengan emas yang melimpah. Tak bisa diperoleh dengan arogansi kekuasaan yang membelenggu. Tak bisa dimiliki dengan rasa iri dan dengki. Mereka membuktikan bahwa kaum yang terpinggirkan ternyata memiliki nilai hidup. Bahwa orang dengan HIV/AIDS bukanlah kaum yang terkutuk. Melalui sepakbola mereka mengantarkan kita kepada sebuah kehidupan yang setara dan jalan menuju sebuah perubahan bagi dunia. Demi cahya di kegelapan malam, maka tim mimpi ini diharapkan mampu menjadi pelita bagi Indonesia. Selamat menyanyikan lagu Indonesia Raya di Mexico.
Bandung, 24 September 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Membaca Sunda
Foto & Teks : galih sedayu
Berbicara perihal masyarakat adat, sepertinya selalu menjadi isu yang sexy untuk diperbincangkan terutama bila dibandingkan dengan masyarakat urban yang kerap dicekoki oleh serbuan budaya modern. Meski sebenarnya, upaya untuk membanding-bandingkan kelebihan antara masyarakat adat & urban tidaklah relevan karena masing-masing komunitas memiliki karakter yang unik & berbeda. Misalnya saja dalam hal kreativitas, masyarakat adat masih bertumpu kepada tanah & air yang mereka miliki untuk menciptakan produk kreatifnya. Tapi bagi masyarakat urban, karena tanah & air di perkotaan semakin sulit didapat, mau tidak mau mereka harus mengandalkan sumber daya manusia yang ada. Sejatinya, segala komunitas masyarakat itu seharusnya hidup dalam tatanan nilai yang sama dan egaliter. Hal yang terjadi saat ini adalah, atas nama perkembangan ilmu & teknologi, sebagian masyarakat urban menganggap masyarakat adat dengan segala aset & aktivitas budayanya hanya sekedar atau menjadi Tongtonan atau pertunjukkan belaka. Sementara dari perspektif masyarakat adat, semua hal yang mereka miliki diharapkan bisa menjadi Tungtunan atau panutan bagi masyarakat. Pada kenyataannya pun, masyarakat adat kerap dijadikan komoditi atau kepentingan imagologi semata bagi para politikus untuk dijadikan tameng serta kekuatan masa. Begitu pula dengan masyarakat adat sunda. Bila dikaji lebih jauh, ternyata banyak sekali permasalahan yang masih melekat di dalamnya. Menyangkut pengertian Sunda itu sendiri misalnya. Kata Sunda kadang masih dianggap sebagai sebuah pemisah terlebih bila dikaitkan dengan keberadaan suku tertentu. Padahal bila kata Sunda itu diartikan sebagai bumi atau negara, bahkan sebuah falsafah, tentunya semangat kesatuan lah yang selalu hadir untuk tetap membalut erat keberagaman di dalam kehidupan masyarakatnya. Tepatnya tanggal 28 Mei 2012 hingga 2 Juni 2012, telah digelar sebuah Festival Masyarakat Adat Tatar Sunda yang bertempat di Pasir Impun, Bandung. Selama 6 hari, kita dapat menyaksikan segala aktivitas seni & budaya yang diusung oleh sekitar 15 Kampung Adat yang ada di Jawa Barat. Foto cerita ini merupakan sebuah kumpulan refleksi simbol & potret tentang keberadaan masyarakat adat sunda yang berkumpul di sana. Gambar-gambar hening yang ditampilkan dalam foto cerita ini, merupakan sebuah upaya untuk menangkap citraan tentang masyarakat adat tatkala berbaur dengan masyarakat urban. Sehingga menggelitik hati untuk melontarkan sebuah pertanyaan, apakah sebenarnya saat ini kita perlu untuk belajar dari keberadaan masyarakat adat sunda dengan segala nilai kearifan lokal yang dimilikinya? Atau mungkin kita menjadi bertanya, bila melihat pada kenyataannya masyarakat adat tersebut yang justru semakin terhipnotis oleh budaya modern? Silakan menjawab.
Bandung, 3 Juni 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Simpul Kebersamaan Di Kampung Dago Pojok
Teks & Foto : galih sedayu
Kampung Dago Pojok adalah sebuah Kampung Kota yang terletak di bagian utara Kota Bandung, dimana ikon Jalan Dago dan Air Terjun (Curug) Dago menjadi ciri khas yang kuat menempel pada kampung tersebut. Adalah Rahmat Jabaril, seorang seniman kota bandung, yang menyambangi kampung dago pojok sekitar sekitar tahun 2003. Sejauh mata memandang, ia melihat begitu banyak lumpur permasalahan yang melekat di kampung itu. Dari mulai kemiskinan, tawuran antar pemuda, taraf pendidikan warga yang rendah, disharmoni penataan ruang dan lain sebagainya. Sejak itulah Rahmat Jabaril bersama Rumah Kreatif “Taboo” yang diinisiasi olehnya, mulai mencanangkan kampung wisata, edukasi & industri kreatif yang pada akhirnya diluncurkan pada tanggal 28 oktober 2011 bersamaan dengan peringatan sumpah pemuda. Gerakan ini semata-semata ia gagas dengan satu tujuan sederhana yakni “Perubahan”.
Semenjak itulah, fenomena gerakan sosial Kampung Dago Pojok mulai menyebar bak jamur di kalangan masyarakat Kota Bandung. Hal itu pulalah yang menarik simpati dari sekelompok komunitas kreatif Kota Bandung yang tergabung dalam sebuah organisasi yang bernama Bandung Creative City Forum (BCCF), untuk berkolaborasi dengan warga Kampung Dago Pojok demi mengembangkan sebuah Kampung Kreatif. Kesamaan visi & harapan yang diusung oleh Rahmat Jabaril yang bersinergi dengan BCCF tersebut menjadikan semua pekerjaan rumah yang masih menumpuk menjadi terasa ringan. Meski tentunya perjuangan yang dihadirkan oleh mereka masihlah panjang. Ide Program “Akupuntur Kota” melalui Kampung Kreatif yang dilahirkan oleh BCCF pada tahun 2012, kemudian dijahit dengan hasil kreasi dari Rahmat Jabaril melalui Rumah Kreatif Taboo-nya. Tercatat sejumlah aktivasi kampung Dago Pojok yang telah dilakukan secara bersama-sama dari mulai program membatik, melukis, kesenian, mural, jajanan kampung, kewirausahaan warga kampung dan masih banyak lagi. Masyarakat pendidikan di Kota Bandung pun tampaknya tidak mau ketinggalan untuk bisa menyumbangkan kreativitasnya bagi Kampung Dago Pojok. Sekelompok Mahasiswa Universitas Padjajaran Bandung Jurusan Humas A Fikom Unpad Jatinangor, menggelar sebuah program yang diberi tajuk “Bandung CreACTive”, Road to Kampung Kreatif pada tanggal 9 Juni 2012. Berbagai aktivitas dibagikan kepada warga kampung dago pojok dari mulai festival kaulinan budak, festival layang-layang, hingga berbagai pertunjukkan musik & kesenian. Di sanalah sesungguhnya kita melihat arti penting sebuah perayaan kampung.
Adakah hasil dari berbagai upaya yang telah dilakukan di Kampung Dago Pojok tersebut? Alangkah baiknya kita kunjungi saja kampung dago pojok itu sekarang untuk menemukan jawabannya. Karena saat ini kita bisa melihat di sana bagaimana kesenjangan sosial diantara warga setempat mulai mencair, ruang-ruang kampung menjadi lebih berestetika melalui tembok-tembok berisi mural berwarna-warni, anak-anak & keluarga yang selalu menebar senyum, preman-preman kampung yang mulai bekerja secara produktif, para wisatawan asing yang kerap berkunjung, dan sejumlah perubahan kecil lainnya. Bila kita melihat berbagai kolaborasi & sinergisitas yang ditunjukkan oleh sejumlah pilar komunitas masyarakat Kota Bandung di Kampung Dago Pojok, sebenarnya ini adalah jawaban atas pertanyaan berikut ini. Apakah isu kreativitas hanya untuk warga kota saja? Karena hal kecil yang kita lakukan untuk kampung pun, sejatinya adalah demi menyebarkan sebuah kata yang bernama “Inspirasi”. Karena kreativitas apapun yang kita lakukan demi kemajuan kota sesungguhnya adalah tanggung jawab bersama. Bukan pemerintah, kaum intelektual, masyarakat pendidikan, komunitas kreatif, insan media, ataupun pihak swasta. Melainkan simpul dari semuanya. Yang sadar benar bahwa kehidupan yang kita miliki adalah milik bersama.
Bandung, 10 Juni 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Calling The Horses
Teks & Karya Foto : galih sedayu
Seorang Pujangga Dunia ternama asal Inggris yakni William Shakespeare, sempat mengucap sebuah kalimat yang melegenda seantero jagat dalam dialog cerita Romeo & Juliet, “Apalah arti sebuah nama?”. Hingga saat ini semua orang pun kerap memperbincangkan kembali ungkapan Shakespeare tersebut. Malahan kadang timbul sebuah pertanyaan mengenai apakah sebuah nama benar-benar menjadi sesuatu yang penting bagi manusia. Tentunya masing-masing orang memiliki jawaban & opininya sendiri. Tetapi isu ini kemudian berkembang saat muncul pertanyaan mengenai apakah sebuah nama menjadi penting bagi seekor kuda. Terus terang secara main-main (tapi tidak main-main), saya ingin menjawabnya melalui cuplikan-cuplikan beku fotografi tentang nama-nama kuda yang direkam di kawasan jalan cilaki kota Bandung. Foto se(u)ri ini saya dedikasikan bagi para kuda yang setiap hari dipaksa nongkrong & tanpa lelah menghibur anak-anak kecil melalui tunggangannya. Demi sesuap rumput baginya & sesuap nasi bagi majikannya.
Bandung, 13 Mei 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Mimpi & Oase Kampung Cicadas
Teks & Foto : galih sedayu
“Masa depan adalah milik orang-orang yang percaya & mau melakukan tindakan kecil terhadap mimpi-mimpi mereka”
Imaji sebuah kampung di benak sebagian warga, agaknya masih terdeskripsikan sebagai suatu kawasan pemukiman nun jauh di pedesaan dan dihuni oleh sekelompok masyarakat tradisional maupun masyarakat adat. Padahal seharusnya kita menyadari bahwasanya ada dan (masih) banyak kampung-kampung yang hidup di tengah hiruk pikuk kawasan perkotaan dengan berbagai bangunannya yang tinggi menjulang. Realitas itulah (keberadaan kampung) yang sebenarnya selalu diabaikan tatkala sebuah kawasan perkampungan di tengah kota menjadi tergerus dan perlahan-lahan musnah oleh keangkuhan dan ketamakan segelintir kelompok yang gemar membangun demi mencari keuntungan semata tanpa memperhatikan masalah & dampak sosial yang hadir di sana. Selama ini pemerintah beserta konglomerasi hitam kerap kali berpura-pura tidak tahu dan menutup mata terhadap keberadaan kampung yang sarat dengan nilai kota itu sendiri. Karena di sanalah sebenarnya roda perekonomian masyarakat kecil dapat menjadi jantung kehidupan yang menyokong nyawa sebuah kota. Untuk itulah Bandung Creative City Forum (BCCF), sebuah forum & jejaring lintas komunitas yang ada di Kota Bandung mencoba untuk menginisiasi sebuah program yang bernama “Kampung Kreatif”. Program Kampung Kreatif ini merupakan upaya kolaborasi bersama warga kampung setempat untuk berbagi dan bertukar ide serta menyusun langkah-langkah kongkrit demi mendobrak perekonomian kampung-kampung periferal tersebut. Program ini sebenarnya merupakan salah satu upaya kecil dan aksi nyata dari sebuah payung program yang bertajuk “Akupunktur Kota”. Salah satu kampung yang menjadi titik akupunktur tersebut adalah “Kampung Cicadas”. Hingga kini kegiatan yang bersifat advokasi dan pertemuan dengan warga Kampung Cicadas tetap berjalan dengan segala lika-likunya. Dari hasil riset & pertemuan dengan warga tersebut, ternyata hadir sejumlah fakta bahwa sebagian besar warga menginginkan sebuah citra “Kampung Akustik” bagi kampung cicadas tersebut. Oleh karena hampir semua warga kampung ini terutama anak-anak mudanya memiliki kegemaran untuk bermain musik. Selain itu anak-anak muda kampung cicadas tersebut memiliki keahlian untuk membuat mural yang mereka ekspresikan di sepanjang tembok yang terdapat di gang-gang sempit kampung mereka. Sesungguhnya mural-mural itu adalah salah satu sentuhan kreatif dari seribu cara yang bisa disuguhkan demi keindahan kampung mereka. Ungkapan visual yang tersirat dari mural tersebut semestinya dapat dibaca sebagai sebuah harapan dan mimpi yang harus terjawab nyata di masa mendatang. Tentunya kadang mereka membutuhkan tangan & jiwa manusia yang memiliki cita-cita sosial untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Siapa lagi kalau bukan kita, sebagai sesama mereka.
Bandung, 6 April 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Auman Para Serigala
Teks & Foto : galih sedayu
“Gerbang Kerajaan Serigala”. Begitulah tajuk konser sekaligus peluncuran album perdana dari sebuah kelompok musik yang menamakan dirinya “Karinding Attack” atau Karat. Sungguh luar biasa bila kita menyimak dengan seksama konser musik ini, karena ruh yang menjadi bunyi dari pertunjukkan musik ini adalah berasal dari Karinding. Karinding itu sendiri sebenarnya adalah alat yang digunakan oleh para tetua (karuhun) untuk mengusir hama di persawahan dimana bunyinya yang low decible memiliki kemampuan untuk merusak konsentrasi hama. Karena ia mengeluarkan bunyi tertentu, maka disebutlah ia sebagai alat musik. Selain itu Karinding dimainkan pula dalam ritual atau upacara adat bahkan, konon juga digunakan oleh para kaum adam untuk merayu atau memikat hati wanita yang disukai. Tepatnya tanggal 13 Februari 2012, Karinding Attack membuktikan kepada dunia melalui pertunjukkan musik yang mereka gelar di Dago Tea House, Taman Budaya Jawa Barat, bahwa mereka mampu menghasilkan harmonisasi bunyi lewat alat musik nan sederhana yang berasal dari bumi sendiri. Suguhan konser yang mereka persembahkan sekaligus menjadi ungkapan syukur hari jadi Karat yang telah menginjak usia tiga tahun sekaligus menjadi sebentuk perlawanan bagi mereka untuk menyuarakan kritik sosial serta permasalahan keseharian kepada masyarakat. Oleh karenanya “Karat’ menjadi isu yang dipilih karena di sanalah sebenarnya kita dapat temukan arti tentang kebebasan, harapan, alam tempat kita bernaung, humor keseharian, hingga kekuatan sebuah solidaritas. Foto cerita ini setidaknya menjadi sebuah tonggak awal bagi saya untuk merekam perjalanan panjang Karinding Attack ke depan atas dasar sebuah kesadaran bahwa segala peristiwa yang mereka alami hanyalah terjadi sekali saja dan tak akan pernah terulang. Untuk itulah fotografi hadir membekukan.
Bandung, 14 Februari 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Ruang Intim Kota
Foto & Teks : galih sedayu
Sebuah kota tentunya memiliki ruang-ruang bagi warganya. Bahkan sejatinya ruang tersebut tidak lah sendirian. Ruang-ruang itu layak disebut sebagai “mereka” karena seharusnya (mereka) hidup, bukan mati tanpa peristiwa. Mengaktifkan ruang-ruang publik yang ada di sebuah kota sudah selayaknya menjadi tanggung-jawab bersama. Karenanya sebuah perayaan perlu selalu dihadirkan sebagai salah satu upaya menghidupkan ruang publik. Salah satunya adalah (ruang) jalan. Jalan sesungguhnya memiliki makna sebagai suatu tempat yang dapat menghubungkan manusia satu dengan yang lain. Harapannya adalah jalan itu harus mempertemukan banyak manusia. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk merayakan sebuah kecintaan masyarakat terhadap kota melalui pemanfaatan jalan. Cara tersebut tidak harus melulu melalui aktivitas seni yang biasanya dilakukan oleh komunitas seniman pada umumnya. Hanya dengan aktivitas sederhana yakni “Makan”, sebuah jalan mampu disulap menjadi aktivitas yang sarat dengan simbol-simbol kreativitas. Adalah Keuken #2, sebuah perayaan kota melalui festival makanan selama sehari yang diberi tajuk “The Flavorsome Intimacy” yang diusung oleh komunitas Keuken Bandung. Dengan kampanye yang mereka usung yaitu “Reclaim the Street”, komunitas tersebut mencoba menjawab berbagai pertanyaan tentang isu penggunaan ruang publik di kota Bandung. Foto cerita ini adalah sebuah refleksi visual dan pesan personal dari realitas yang terjadi pada tanggal 26 Februari 2012 di jalan saparua Bandung. Di sanalah kita melihat bahwasanya ketika sebuah (ruang) jalan ditutup dan ditawarkan kepada warganya, saat itulah muncul berbagai energi baru yang siap untuk mengambil alih ruang-ruang yang mati. Kemudian mengisinya dengan ide-ide manusia. Agar sebuah kota tetap bergerak.
Bandung, 26 Februari 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.


























































































































































































