Archive for the ‘07) SEMESTA FOTO CERITA’ Category
Demonstrasi Hening Para Pengawal Hutan
Teks & Foto : galih sedayu
Hutan Kota Babakan Siliwangi adalah salah satu kawasan ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Bandung, sebuah kota yang dihuni lebih dari 2,5 juta penduduk. Karena di hutan yang berbentuk tapal kuda inilah 48 jenis pohon dan 24 jenis burung hidup dalam damai di sebuah lahan hijau seluas 3,8 hektar. Dalam sehari hutan yang dulunya dikenal dengan sebutan Lebak Gede ini mampu menghadirkan oksigen bagi 15.600 jiwa, sehingga ruang publik ini menjadi paru-paru Kota Bandung yang menjaga kualitas udara bagi kehidupan para warganya. Hutan inipun merupakan daerah luahan air (discharge) dan masih menyisakan satu mata air yang masih berfungsi di tebing sebelah timur laut. Bahkan pada tanggal 27 September 2011, Hutan Babakan Siliwangi ini ditahbiskan sebagai World City Forest atau Hutan Kota Dunia oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui United Nations Environment Programme (UNEP).
Namun sejak tahun 2007 Pemkot Bandung telah memberikan izin pengelolaan lahan hutan kota tersebut selama 20 tahun kepada PT Esa Gemilang Indah (EGI). Padahal sebagaimana amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, Pemerintah Kota Bandung seharusnya menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik minimal 30% dari seluruh wilayahnya. Namun demikian, Kota Bandung yang luasnya sekitar 17.000 hektar ini baru memenuhi sekitar 7% RTH. Di kawasan hutan inilah, PT EGI berencana akan membangun rumah makan di bekas lokasi rumah makan yang dulu terbakar.
Atas kejadian inilah akhirnya timbul gerakan kolektif dan upaya-upaya bersama dari warga Kota Bandung demi mempertahankan kelestarian hutan kota Babakan Siliwangi. Hutan ini menjadi ruang publik yang kerap diaktivasi oleh berbagai komunitas Kota Bandung sebagai penanda kecintaan warga. Sejarah pun mencatat nama-nama komunitas yang turut peduli terhadap kelangsungan hutan kota ini baik yang sifatnya bersimpati maupun berempati. Dari mulai Forum Warga Peduli Babakan Siliwangi, Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi, Himpunan Peternak Domba dan Kambing (HPKD) Bandung, Lebak Siliwangi, Walhi Jabar, Bandung Inisiatip, Hayu Ulin di Baksil (HUB), Greeneration ID, Forum Hijau Bandung, Bandung Creative City Forum (BCCF), Grow Box, Sunday Smile Picnic, dan masih banyak lagi.
Jelang Pemilihan Walikota Bandung tahun 2013 ini, isu alih fungsi lahan hutan kota Babakan Siliwangi ini kembali memanas. Bahkan kemudian area sekeliling Hutan Kota ini dipagari dengan seng berwarna hijau seperti kemah kediaman para penebang hutan. Rupanya para pengawal hutan kota ini tak lantas berdiam diri saja. Pagar-pagar seng yang menutup serta menghalangi sejauh mata memandang ke arah dalam hutan pun dilukis melalui sentuhan kuas dan jemari dari sekelompok warga dan anak-anak muda Kota Bandung. Inilah uniknya Bandung. Bahkan dalam kemarahan, protes dan perlawanan pun, karya mereka masih menyeruakkan estetika keindahan yang melekat di dalamnya. Dalam himpunan visual mural itulah kita dapat melihat rasa marah, tangisan, kutukan yang justru kadang membuat kita tertawa. Tertawa dalam kesadaran bahwa suara mereka sesungguhnya benar adanya. Karenanya, diberkatilah para pengawal hutan kota Babakan Siliwangi. Yang menaruh harapan pada alam dan semesta. Yang melawan dengan cara apapun meski keliatan konyol. Mimpi mereka semua sama. Pohon-pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke dalam tanah, yang memberikan nafas dan nyawa bagi flora dan fauna, yang mewartakan cinta bagi kotanya. Bagi mereka hutan adalah tahta kemuliaan, luhur dari sejak semula dan tempat bait kudus bagi warga sebuah kota.
“By the sacred grove, where the waters flow
We will come and go, in the forest
In the summer rain, we will meet again
We will come and go, in the forest
By the waterfall, I will hold you in my arms
We will meet again by the leafy glade
In the shade of the forest
With your long robes on, we will surely roam
By the ancient roads, I will take you home
To the forest.”
– Van Morrison, In the forest
Bandung, 10 April 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Kidung Kasih Kampung Cicadas
Teks & Foto : galih sedayu
Akar sebuah kota adalah kampung-kampung yang bermukim di sana. Meski ironisnya keberadaan kampung ini menjadi kering terbengkalai akibat ambisi pemerintah yang kerap membangun di pusat kota dengan mengatasnamakan kemajuan. Padahal sesungguhnya, di kampung-kampung inilah pusat energi sebuah kota menyeruak hadir demi menopang tubuh kota yang dulunya lemas tak berdaya. Kampung Akustik Cicadas adalah salah satu contoh akar kota yang memiliki energi ini. Kerap mendapat julukan kampung preman, kampung kumuh, kampung tawuran dan berbagai citra negatif lainnya…tidak lah membuat para pemuda kampung cicadas ini menyerah. Mereka terus menyuarakan semangat perubahan demi Kampung Cicadas yang lebih bermartabat. Nama-nama seperti Kang Guntur, Kang Ganjar Noor, dan Kang Rahmat Jabaril pun tercatat dalam noktah sejarah Kampung Cicadas yang mewakili para pemudanya. Meski berjuang di atas kursi rodanya, Kang Guntur tak pernah kehilangan asa untuk menyebarkan virus-virus kreatif di kampungnya. Lewat sentuhan jemari tangannya, kuas lukis pun menjadikan karya mural bertema musik di dinding-dinding gang Kampung Cicadas. Kang Ganjar Noor pun punya cara lain untuk menyampaikan pesan bagi kampungnya. Lewat alunan merdu gitar dan suaranya yang nyaring, Kang Ganjar Noor terus mengumandangkan tentang pentingnya mencintai kampung dan membuat sebuah perubahan berarti meski melalui langkah kecil. Belum lagi ide, pikiran dan kreativitas yang dipersembahkan oleh Kang Rahmat Jabaril bagi Kampung Cicadas ini. Dari mulai membuat advokasi, sarasehan ataupun sekedar mendengar curhat warga dilakoni oleh Kang Rahmat Jabaril demi menstimulan kekuatan Kampung Cicadas tersebut. Lambat laun kini Kampung Cicadas mulai menunjukkan sayapnya untuk terbang menuju citra yang lebih baik. Para preman di kampung ini sekarang mulai aktif mencipta lagu, bermain musik dan bahkan membuat kerajinan gitar. Tembok-tembok yang mengapit gang di Kampung Cicadas ini mulai berwarna dengan mural-muralnya yang kreatif. Saat ini Kampung Cicadas berharap dapat membangun sebuah studio musik untuk ajang latihan bagi para musisi kampung yang ingin tampil. Lewat sepenggal lagu yang diciptakan oleh Kang Ganjar Noor inilah semestinya kita bercermin. Bahwa pada kampung seperti Kampung Cicadas lah sesungguhnya kita tak boleh henti berharap. Demi sebuah Kota Bandung yang berdiri tegak hingga akhir masa.
Kembalilah Kampungku
Kampung, kampung…tempat bernaung
Ruang bercengkrama urai cerita
Melukis harapan di hampar tanah-tanah
Membakar semangat di jiwa merdeka
Kampung, kampung…terjamah kota
Kota, kota, kota, kota ubah cerita
Dimana persoalan menghempas kerinduan
Menncakar keheningan mengundang keriuhan
Apa yang tersisa selain rasa cinta
Pada kampung yang tlah tiada
Pada tanah, pada air, pada cerita
Apa yang tersisa selain kerinduan
Pada kampung yang kini kota
Berharap kampung-kampung masih ada
Tetap ada walau di tengah bising kota…
Pada jiwa semangat menyala
Bangun kampung-kampung cerita baru
Menghias tanah-tanah, mengukir dinding-dinding
Menggambar atap-atap, merubah kehidupan.
– Ganjar Noor –
Bandung, 13 Oktober 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Kembali Cinta Di Pantai Virgin
Teks & Foto : galih sedayu
“In every outthrust headland, in every curving beach, in every grain of sand, there is the story of the earth” – Rachel Carson
Hampir setiap orang menyukai pantai. Karena di sanalah kita dapat melihat, mendengar dan merasakan berbagai keajaiban planet bumi. Mulai dari deburan ombak laut yang menderu jantung, semilir angin yang menyibakkan rambut, hingga pasir pantai yang menggelitik kaki. Pantai bisa menjadi sebuah ruang bagi kita untuk menenangkan diri, memutar otak demi secercah ide segar bahkan menyembuhkan. Dan di pantai-pantai itulah seluruh hati manusia berkumpul dalam balutan kedamaian dan penuh syukur.
Bali dengan julukan Pulau Dewata nya merupakan surga bagi terciptanya pantai-pantai yang indah nan menawan hati. Hanya saja, saat ini tidak semua pantai di Bali memiliki citra yang bersih dan tenang. Meski demikian selalu saja muncul pantai-pantai baru yang masih belum banyak terjamah oleh manusia. Pantai Virgin (Virgin Beach) adalah salah satunya. Sebenarnya pantai ini bernama Pantai Perasi, karena letaknya di Desa Perasi, Kabupaten Karangasem, Bali. Namun entah kenapa para wisatawan mancanegara lebih suka menyebutnya dengan nama Virgin Beach atau White Sand Beach. Untuk menggapai lokasi pantai ini, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari kawasan Candidasa di Karangasem. Setelah itu kita mesti menempuh jarak sekitar 100 meter dari jalan aspal dengan kondisi jalan yang cukup terjal. Pantai virgin ini diapit oleh dua buah tebing yakni Bukit Bugbug dan Bukit Perasi yang seolah-olah menjadi pengawal abadi yang melindungi kesucian Pantai Virgin.Tubuh fisik pantai ini sangatlah bersih dari sampah & masih tergolong sepi dari kunjungan manusia. Maka tak heran apabila Pantai Virgin ini mendapat predikat sebagai salah satu pantai terbaik yang pernah ada di Pulau Dewata.
Sebagai pengantar himpunan cuplikan hening perihal Pantai Virgin, demikianlah puisi ini saya buat.
*Teruntuk istriku tercinta Christine Listya Sedayu dan kedua putriku tersayang Eufrasia Tara Sedayu & Ancilla Trima Sedayu (Alm)
Tak ada lagi duka & benci
Tak ada lagi luka & sepi
Tatkala tubuh ini dibawa
Menuju pantai yang menghibur hati
Mendung mulai memanggil
Gerimis pun hadir perlahan
Hingga hujan yang terlepas bebas
Namun hati ini bahagia
Di pantai ini
Kita membuang pahit
Di pantai ini
Kita menyimpan manis
Atas nama cinta kita percaya dan selalu bersama
Bali, 15 Maret 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Menyambut Sang Naga & Sang Singa
Teks & Foto : galih sedayu
Kebebasan Perayaan Cap Go Meh bagi kaum Tionghoa di Indonesia tentunya tidak bisa lepas atas jasa besar seorang tokoh pembela kaum minoritas yang bernama Gus Dur. Semasa Gus Dur menjadi presiden, ia membuat gebrakan baru yakni secara tegas mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 yang isinya memenjarakan kebebasan warga Tionghoa untuk merayakan kegiatan budayanya secara terbuka termasuk Imlek & Cap Go Meh. Gus Dur pun lalu mengganti Inpres tersebut dengan alasan bertentangan dengan UUD 1945 dan kemudian ia menerbitkan Keppres No. 6 tahun 2000 yang isinya menjamin kemerdekaan warga Tionghoa agar dapat menjalankan kegiatan keagamaan, kepercayaan & adat istiadatnya secara terbuka. Bahkan pada tahun 2001, Gus Dur menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional. Sejak saat itulah hingga saat ini warga Tionghoa di Indonesia dapat menghadirkan perayaan Cap Go Meh sekaligus menghibur sejumlah warga di sebuah kota termasuk Kota Bandung.
Cap Go Meh sendiri merupakan sebuah upacara yang dirayakan secara rutin setiap tahunnya pada tanggal 15 bulan pertama menurut penanggalan bulan yang merupakan bulan pertama dalam setahun oleh warga Tionghoa. Upacara ini dilakukan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai-yi yakni Dewa tertinggi di langit menurut Dinasti Han (206 SM – 221 M). Istilah Cap Go Meh (Cap = sepuluh ; Go = lima ; Meh = malam) sebenarnya berasal dari dialek Hokkien yang memiliki makna 15 hari atau malam setelah Imlek. Oleh karena itu Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas dan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi warga Tionghoa. Dahulu kala Cap Go Meh merupakan sebuah upacara tertutup yang hanya ditujukan bagi kalangan istana kerajaan China. Dalam perayaan Cap Go Meh tersebut, ikon sentralnya selalu identik dengan Liong (Naga) & Barongsai (Singa) yang menghibur warga dengan gerak tariannya.
Di Kota Bandung, kirab Cap Go Meh tahun 2013 ini dimulai dari Vihara Dharma Ramsi di Jalan Cibadak. Kemudian berkeliling melewati Jalan Astanaanyar, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Kelenteng, Pascal Hyper Square, Jalan Gardujati, lalu kembali ke Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Oto Iskandardinata, serta kemudian berakhir & kembali di Vihara Dharma Ramsi. Kirab Cap Go Meh ini diikuti oleh ribuan orang dan puluhan vihara dari berbagai kota selain Bandung seperti Jakarta, Banten, Bogor, Tegal, Ciamis, Tasikmalaya, dan lain sebagainya. Di sanalah warga Kota Bandung dapat melihat rombongan Liong & Barongsai mengiringi tiga patung yakni Patung Ma Kwan Im Pho Sat (Dewi Kasih Sayang), Hok Tek Ceng Sin (Dewa Rejeki) dan Hian Thian Siang Tee (Panglima Perang) yang diarak dengan menggunakan tandu. Sementara itu Liong (naga) menari dengan berliuk-liuk sambil mengejar bola api di depannya. Tak mau kalah para Barongsai pun berdansa dengan lincahnya sambil diiringi musik para pemain tambur, simbal & ling (bendi). Setelah tarian selesai, warga Tionghoa yang menyaksikan atraksi tersebut baik dari sisi jalan maupun depan rumah atau toko milik mereka pun berbondong-bondong memberikan angpau dalam sebuah amplop yang dimasukkan melalui mulut Liong & Barongsai tersebut sebagai simbol ucapan terima kasih.
Kita dapat menyaksikan di sana, bagaimana warga Tionghoa sungguh berbaur dengan warga dari berbagai suku bangsa yang ada di Kota Bandung. Tak sedikit para pemain Barongsai yang dilakoni oleh kaum pribumi. Lalu kesenian sunda yang diwakili oleh para pemain angklung & calung pun turut berkolaborasi pada kirab tersebut. Bahkan secara serentak musik & bunyi-bunyian yang dihantarkan pada kirab tersebut sepakat untuk berhenti sesaat manakala azan magrib berkumandang di Kota Bandung. Perbedaan budaya yang ada ternyata berujung menyatukan warga.
Untuk itulah kita seharusnya selalu berada di dalam simpul kebersamaan ini. Agar kemerdekaan & kebebasan yang diberikan bagi setiap warga dapat melahirkan tanggung-jawab sekaligus menjadi aksi solusi terhadap masalah sosial sebuah kota. Karena sesungguhnya kebebasan inilah yang memberi kita makanan pengertian dan memberi minum kebijaksanaan. Dan rasa takut akan sebuah perbedaan itulah yang semestinya harus kita singkirkan jauh-jauh. Bila kita mau mencari, dalam perbedaan lah warga mendapat kegembiraan dan puncak sukacita. Oleh karena itu, mulailah melayangkan pandangan kita ke dalam berbagai perbedaan. Perbedaan apapun itu entah budaya, agama, suku, adat istiadat, dan lain-lain. Kemudian wartakanlah semangat pluralisme, egaliter dan persaudaraan dalam perbedaan tersebut sebagai peringatan kebersamaan bagi setiap warga kota.
Bandung, 2 Maret 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Semarak Di Taman Kota Yang Menganggur
Teks & Foto : galih sedayu
Dari sekitar 600 buah Taman yang ada di Kota Bandung, ternyata sebagian besar taman-taman tersebut masih banyak yang tidak terawat dan belum dikelola secara sungguh-sungguh khususnya oleh pemerintah. Padahal semestinya keberadaan taman kota tersebut merupakan salah satu simbol bagi tingkat kemajuan & kebahagiaan masyarakatnya. Karena sejatinya Taman Kota dapat menjadi sebuah ruang berbagi yang diharapkan mampu mengantarkan nilai-nilai dan energi positif bagi warganya. Warga Bandung tentunya akan selalu bersyukur bila kotanya memiliki taman-taman yang ditumbuhi oleh berbagai macam pohon hijau nan rindang, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya dan yang tidak layu daunnya. Taman-taman kota tentunya akan bergirang dan bersorak-sorai tatkala mereka merasakan sentuhan warganya yang bertandang setiap hari ke sana entah itu sekedar melepas penat, mencari oksigen baru ataupun bertamasya bersama keluarga. Tentunya kita tak boleh berdiam diri dalam harapan hampa untuk mengubah citra taman-taman kota yang kita miliki sekarang. Upaya-upaya aktivasi taman kota tersebut harus dimulai meski melalui tindakan kecil apapun bentuknya. Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh sebuah komunitas yang bernama Culindra. Tepatnya tanggal 15 Desember 2012, Komunitas Culindra bersama Bandung Creative City Forum (BCCF) mengadakan sebuah program yang bernama Par(k)tivity, yakni sebuah kegiatan yang pada intinya berupaya mengaktivasi taman kota dengan melibatkan komunitas. Dari mulai pembuatan lubang biopori, pasar barter, open mic, piknik, pertunjukkan musik taman hingga layar tancep dihadirkan oleh Komunitas Culindra di Taman Ganesha Bandung. Sentuhan kecil seperti inilah yang sebenarnya dapat terus dilakukan oleh warga Kota Bandung. Sehingga setiap warga yang menyambangi Taman Kota tersebut akan menjadi rumput abadi baginya dan semua semarak yang dilahirkan oleh warganya akan menjadi bunga yang mekar setiap waktu.
Bandung, 15 Desember 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Menghamilkan Budaya Sungai Kota
Teks & Foto : galih sedayu
Seiring dengan kerapnya aktivasi ruang-ruang publik kota oleh sejumlah komunitas, sesungguhnya semakin menguatkan citra kota berbasis kreatif yang melekat dalam diri Kota Bandung. Bahkan semestinya pemanfaatan ruang-ruang publik kota, haruslah melahirkan budaya baru yang diusung oleh warga Bandung. Karena selama ini agaknya warga Bandung lebih menyukai untuk menghabiskan waktu dengan pergi ke Mall, Factory Outlet atau Restaurant ketimbang menyambangi Hutan, Taman, Kampung atau Sungai yang ada di Kotanya. Alhasil kita lebih sering melihat pemandangan anak-anak kecil yang bergelut dengan mesin games di Mall ketimbang melihat mereka bermain kelereng atau petak umpet di salah satu sudut Kampung Kota. Atau kita lebih sering menjumpai para keluarga yang menyantap makanan fast food di Restoran Cepat Saji ketimbang menjumpai mereka melakukan piknik dan botram dengan aneka masakan rumah di sebuah Taman Kota. Padahal kita sadar benar bahwa ruang-ruang publik tersebut dapat menawarkan nilai-nilai yang lebih baik dibandingkan dengan ruang-ruang publik yang telah berubah fungsi menjadi ruang komersil.
Sungai merupakan salah satu ruang publik kota yang memiliki pesona & keindahan menawan bila dikelola dengan baik. Karena di sanalah kita dapat mensyukuri bahwasanya air sungai yang mengalir jauh tersebut dapat memiliki sejumlah fungsi bagi warga sebuah kota. Dari mulai drainase, penggelontor kotoran limbah, obyek wisata, penyedia air baku, pemanfaatan energi air serta sarana irigasi pertanian. Namun sayang bahwa keberadaan Sungai di Kota Bandung malahan kerap menghamilkan bencana dan melahirkan musibah bagi warganya. Terutama ketika musim penghujan tiba. Luapan air dari sungai-sungai yang membelah Kota Bandung justru membawa teror banjir bagi warganya. Belum lagi genangan sampah yang dibawa serta oleh air sungai tersebut. Tentunya kita tidak bisa serta merta menyalahkan alam dalam hal bencana tersebut. Karena ironisnya, banjir itu timbul justru akibat ulah kita sendiri. Entah itu karena warga yang kerap membuang sampah ke sungai ataupun karena penebangan pohon secara membabi buta sehingga menghilangkan daerah resapan air. Menurut data dari Pemerintah Kota Bandung, ada sekitar 61 sungai dan 46 anak sungai dengan total panjang 252,55 km yang terdapat di Kota Bandung (Pikiran Rakyat, 29 Juli 2011). Bahkan Pemerintah Kota Bandung mencanangkan sebuah program wisata air di semua daerah yang dialiri sejumlah sungai tersebut. Namun demikian, kita tidak bisa mengandalkan janji-janji pemerintah yang kerap ditebar dengan mulut yang manis. Perlu ada upaya untuk menjaga dan mengaktivasi sungai-sungai yang ada di Kota Bandung dengan melibatkan kekuatan kreatif warganya. Tentunya kita tidak bisa melakukan hal itu semua sekaligus. Hanya dengan metoda seperti akupuntur lah, secara realistis dapat kita lakukan terhadap sungai-sungai yang kita miliki saat ini.
Bila kita menyebut nama sungai di Kota Bandung, tentunya nama sungai Cikapundung tidak bisa dilupakan dalam memori kita. Sungai Cikapundung adalah salah satu sungai besar yang membelah Kota Bandung dengan panjang sekitar 15,5 km. Sungai Cikapundung memiliki luas daerah tangkapan di bagian hulu sebesar 111,3 Km2, di bagian tengah seluas 90,4 Km dan di bagian hilir seluas 76,5 Km2. Sedangkan panjang sungai Cikapundung dari hulu Maribaya sampai hilir Citarum mencapai 28 km. Jumlah penduduk yang bermukim di DAS Cikapundung mencapai 750.559 jiwa dengan jumlah penduduk tertinggi berada di Kelurahan Tamansari yaitu 28.729 jiwa (Data BPLH Kota Bandung). Ikon sungai Cikapundung inilah yang kemudian digunakan oleh Bandung Creative City Forum (BCCF) untuk menggelar rangkaian event HelarFest 2012 yang ke-4 bertajuk Cikapundung River Cinema. Kolaborasi BCCF bersama Komunitas House The House, memilih satu titik area yang dilewati oleh sungai Cikapundung tersebut sebagai pusat kegiatan kreatif. Bertempat di Cikapundung Timur Plaza (Jalan Cikapundung Timur / samping Museum Asia Afrika), pada tanggal 22 Desember 2012 area tersebut disulap menjadi sebuah area festival musim hujan. Sejak pukul 2 siang hingga pukul 10 malam, berbagai kegiatan dari mulai Workshop, Artmart, Kuliner, Konser Musik dan Pemutaran Film (Screening) dihadirkan di pinggir sungai Cikapundung. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, pada saat event Cikapundung River Cinema ini berlangsung, hujan pun turun membasahi area festival tersebut. Tak heran karena memang saat itu sedang musim hujan di Kota Bandung. Meski demikian, acara tersebut tetap berlanjut karena kegiatan ini memang sengaja diatur untuk merespon hujan yang akan terjadi. Keunikan dari kegiatan inipun dapat langsung terlihat sejauh mata memandang. Setiap pengunjung dibagikan jas hujan berwarna merah muda secara cuma-cuma. Instalasi puluhan payung pun turut memberikan warna di area pinggiran sungai Cikapundung tersebut. Belum lagi para penonton yang menyaksikan film-film pendek berdurasi 10-15 menit pada layar besar ukuran 8 x 12 m. Pada intinya, Everybody is enjoy in the river.
Semestinya upaya untuk mengaktivasi sungai kota tersebut mesti sejalan dengan upaya untuk menjaga kebersihan sungai. Sungai yang bersih dan jernih sesungguhnya adalah ruang dan tempat kita bercermin. Dan harapannya cermin dari air sungai itu merefleksikan tawa, canda dan keceriaan warga kota ketika mengunjungi sungainya. Siapakah yang akan mendengar jikalau sungai berteriak karena kering atau banjir serta alur alirannya menangis bersama-sama karena kotoran sampah? Karena tentunya kita pun tak ingin air sungai naik sampai ke leher dan kita tenggelam ke dalam sungai yang penuh lumpur. Oleh karena itu bila kita ingin berbuat sesuatu, mulailah keluar dari rumah dan datanglah ke sungai. Kenalilah sungai-sungai yang ada di kotamu dengan melihat dan menyentuhnya. Niscaya setelah itu rasa sayang akan muncul sebagaimana kisah cinta anak manusia. Dan kemudian rasa sayang itu lah yang akan membuat kita untuk melahirkan sikap peduli dan menjaga sungai. Sehingga pada akhirnya kita akan melihat sungai-sungai yang diserbu oleh para warganya. Yang menanti untuk dihamili oleh sebuah budaya baru. A City River Culture…
Bandung, 22 Desember 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.






















































































































































