I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘kampung cicadas

Kidung Kasih Kampung Cicadas

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Akar sebuah kota adalah kampung-kampung yang bermukim di sana. Meski ironisnya keberadaan kampung ini menjadi kering terbengkalai akibat ambisi pemerintah yang kerap membangun di pusat kota dengan mengatasnamakan kemajuan. Padahal sesungguhnya, di kampung-kampung inilah pusat energi sebuah kota menyeruak hadir demi menopang tubuh kota yang dulunya lemas tak berdaya. Kampung Akustik Cicadas adalah salah satu contoh akar kota yang memiliki energi ini. Kerap mendapat julukan kampung preman, kampung kumuh, kampung tawuran dan berbagai citra negatif lainnya…tidak lah membuat para pemuda kampung cicadas ini menyerah. Mereka terus menyuarakan semangat perubahan demi Kampung Cicadas yang lebih bermartabat. Nama-nama seperti Kang Guntur, Kang Ganjar Noor, dan Kang Rahmat Jabaril pun tercatat dalam noktah sejarah Kampung Cicadas yang mewakili para pemudanya. Meski berjuang di atas kursi rodanya, Kang Guntur tak pernah kehilangan asa untuk menyebarkan virus-virus kreatif di kampungnya. Lewat sentuhan jemari tangannya, kuas lukis pun menjadikan karya mural bertema musik di dinding-dinding gang Kampung Cicadas. Kang Ganjar Noor pun punya cara lain untuk menyampaikan pesan bagi kampungnya. Lewat alunan merdu gitar dan suaranya yang nyaring, Kang Ganjar Noor terus mengumandangkan tentang pentingnya mencintai kampung dan membuat sebuah perubahan berarti meski melalui langkah kecil. Belum lagi ide, pikiran dan kreativitas yang dipersembahkan oleh Kang Rahmat Jabaril bagi Kampung Cicadas ini. Dari mulai membuat advokasi, sarasehan ataupun sekedar mendengar curhat warga dilakoni oleh Kang Rahmat Jabaril demi menstimulan kekuatan Kampung Cicadas tersebut. Lambat laun kini Kampung Cicadas mulai menunjukkan sayapnya untuk terbang menuju citra yang lebih baik. Para preman di kampung ini sekarang mulai aktif mencipta lagu, bermain musik dan bahkan membuat kerajinan gitar. Tembok-tembok yang mengapit gang di Kampung Cicadas ini mulai berwarna dengan mural-muralnya yang kreatif. Saat ini Kampung Cicadas berharap dapat membangun sebuah studio musik untuk ajang latihan bagi para musisi kampung yang ingin tampil. Lewat sepenggal lagu yang diciptakan oleh Kang Ganjar Noor inilah semestinya kita bercermin. Bahwa pada kampung seperti Kampung Cicadas lah sesungguhnya kita tak boleh henti berharap. Demi sebuah Kota Bandung yang berdiri tegak hingga akhir masa.

Kembalilah Kampungku

Kampung, kampung…tempat bernaung
Ruang bercengkrama urai cerita
Melukis harapan di hampar tanah-tanah
Membakar semangat di jiwa merdeka

Kampung, kampung…terjamah kota
Kota, kota, kota, kota ubah cerita
Dimana persoalan menghempas kerinduan

Menncakar keheningan mengundang keriuhan

Apa yang tersisa selain rasa cinta
Pada kampung yang tlah tiada

Pada tanah, pada air, pada cerita
Apa yang tersisa selain kerinduan
Pada kampung yang kini kota

Berharap kampung-kampung masih ada
Tetap ada walau di tengah bising kota…

Pada jiwa semangat menyala
Bangun kampung-kampung cerita baru
Menghias tanah-tanah, mengukir dinding-dinding
Menggambar atap-atap, merubah kehidupan.

– Ganjar Noor –¬†

Bandung, 13 Oktober 2012

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 31, 2013 at 2:12 pm

Mimpi & Oase Kampung Cicadas

with 3 comments

Teks & Foto : galih sedayu

“Masa depan adalah milik orang-orang yang percaya & mau melakukan tindakan kecil terhadap mimpi-mimpi mereka”

Imaji sebuah kampung¬†di benak sebagian warga, agaknya masih terdeskripsikan sebagai suatu kawasan pemukiman nun jauh di pedesaan dan dihuni oleh sekelompok masyarakat tradisional maupun masyarakat adat. Padahal seharusnya kita menyadari bahwasanya ada dan (masih) banyak kampung-kampung yang hidup di tengah hiruk pikuk kawasan perkotaan dengan berbagai bangunannya yang tinggi menjulang. Realitas itulah (keberadaan kampung) yang sebenarnya selalu diabaikan tatkala sebuah kawasan perkampungan di tengah kota menjadi tergerus dan perlahan-lahan musnah oleh keangkuhan dan ketamakan segelintir kelompok yang gemar membangun demi mencari keuntungan semata tanpa memperhatikan masalah & dampak sosial yang hadir di sana. Selama ini pemerintah beserta konglomerasi hitam kerap kali berpura-pura tidak tahu dan menutup mata terhadap keberadaan kampung yang sarat dengan nilai kota itu sendiri. Karena di sanalah sebenarnya roda perekonomian masyarakat kecil dapat menjadi jantung kehidupan yang menyokong nyawa sebuah kota. Untuk itulah Bandung Creative City Forum (BCCF), sebuah forum & jejaring lintas komunitas yang ada di Kota Bandung mencoba untuk menginisiasi sebuah program yang bernama “Kampung Kreatif”. Program Kampung Kreatif ini merupakan upaya kolaborasi bersama warga kampung setempat untuk berbagi dan bertukar ide serta menyusun langkah-langkah kongkrit demi mendobrak perekonomian kampung-kampung periferal tersebut. Program ini sebenarnya merupakan salah satu upaya kecil dan aksi nyata dari sebuah payung program yang bertajuk “Akupunktur Kota”. Salah satu kampung yang menjadi titik akupunktur tersebut adalah “Kampung Cicadas”. Hingga kini kegiatan yang bersifat advokasi dan pertemuan dengan warga Kampung Cicadas tetap berjalan dengan segala lika-likunya. Dari hasil riset & pertemuan dengan warga tersebut, ternyata hadir sejumlah fakta bahwa sebagian besar warga menginginkan sebuah citra “Kampung Akustik” bagi kampung cicadas tersebut. Oleh karena hampir semua warga kampung ini terutama anak-anak mudanya memiliki kegemaran untuk bermain musik. Selain itu anak-anak muda kampung cicadas tersebut memiliki keahlian untuk membuat mural yang mereka ekspresikan di sepanjang tembok yang terdapat di gang-gang sempit kampung mereka. Sesungguhnya mural-mural itu adalah salah satu sentuhan kreatif dari seribu cara yang bisa disuguhkan demi keindahan kampung mereka. Ungkapan visual yang tersirat dari mural tersebut semestinya dapat dibaca sebagai sebuah harapan dan mimpi yang harus terjawab nyata di masa mendatang. Tentunya kadang mereka membutuhkan tangan & jiwa manusia yang memiliki cita-cita sosial untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Siapa lagi kalau bukan kita, sebagai sesama mereka.

Bandung, 6 April 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

April 24, 2012 at 8:43 am