I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘bccf

Mata Warga : Kolaborasi & Blusukan Fotografi Warga Kampung

leave a comment »

Teks : galih sedayu
Foto : Air Foto Network [AFN]

Bila kita menganalogikan Kota Bandung sebagai sebuah pohon yang besar, maka akar-akar pohon yang dimilikinya dapat diumpamakan sebagai himpunan Kampung Kota yang tentunya bertugas menopang batang pohon tersebut agar tetap berdiri tegak dan memastikan daunnya tumbuh dengan baik. Oleh karenanya, kampung dan kota itu sejatinya selalu hidup bersama, tak ada yang lebih unggul, tak ada yang lebih diutamakan, tak ada yang lebih dinomor satukan. Namun pada praktiknya, khususnya dalam konteks pembangunan sebuah kota, terkadang perhatian terhadap ruang kampung seolah-olah menjadi seperti anak tiri, sehingga kerap jarang tersentuh serta cenderung diabaikan. Untuk itulah keroyokan program-program kreatif yang mengangkat isu perihal keberadaan kampung atau wilayah kecil di sebuah kota, perlu dihadirkan agar azas pemerataan pembangunan dapat terwujud.

Berita baiknya, saat ini mulai hadir program-program yang bersinggungan dengan kampung di Kota Bandung. Salah satunya adalah program Kampung Kreatif yang diinisiasi oleh komunitas / warga Bandung berkolaborasi dengan pihak pemerintah, pihak akademisi, pihak bisnis dan pihak media. Sinergitas “Penta Helix” inilah yang diharapkan mampu mendobrak ketiadaan konektivitas antar warga dalam membangun kotanya. Program Kampung Kreatif ini sesungguhnya merupakan gagasan universal, sehingga rasanya tidak perlu lagi diperdebatkan dengan mempertanyakan kembali, siapakah yang pertama kali melahirkan program ini ataupun siapakah yang berhak menjalankan program ini. Selama tujuannya baik, rasanya siapapun dapat melakukannya bagi Kota Bandung.

Seiring dengan waktu berjalan, sadar atau tidak, Kampung Kreatif ini ibarat menjadi lokomotif bagi program kreatif yang lain. Letupan-letupan kecil yang disuarakan ke dalam bentuk program demi merespon ruang kampung ini pun menjadi gerbong-gerbongnya. Namun rel ataupun jalurnya tetap sama serta memiliki tujuan yang sama pula. Salah satunya adalah program “Mata Warga”. Program yang diinisiasi oleh Bandung Creative City Forum {BCCF}, Air Foto Network {AFN}, Komite Ekonomi Kreatif Kota Bandung, dan Karang Taruna Kota Bandung ini merupakan sebuah program kolaborasi warga melalui fotografi. Dimana program Mata Warga ini menggunakan sebuah metodologi atau cara yang melibatkan komunitas / warga kampung secara aktif melalui media fotografi, dengan tujuan untuk melakukan perubahan sosial terhadap lingkungan sekitarnya secara kreatif. Di dunia fotografi, program ini biasa dikenal dengan sebutan “Participatory Photo Project”.

Karena salah satu fitrah disiplin dalam ilmu maupun bidang apapun adalah kebermanfaatannya bagi masyarakat, maka fotografi pun dipilih sebagai jembatan penghubung komunikasi warga kampung tersebut. Proses program Mata Warga ini dimulai dengan (1) Pelatihan dasar memotret bagi warga kampung ; (2) Diskusi untuk mengumpulkan data & analisa sederhana mengenai lingkungan sekitar ; (3) Melibatkan komunitas & persiapan pemotretan ; (4) Memotret sebuah isu yang ada di lingkungan sekitar ; (5) Presentasi karya foto hasil warga ; (6) Kurasi foto & pembuatan buku ; yang pada akhirnya diharapkan muncul proses diseminasi & perubahan sosial dari warganya. Tujuan program Mata Warga ini adalah membantu warga kampung untuk merekam dan merefleksikan potensi kampung serta menghadirkan perhatian komunitas terhadap lingkungannya ; Menyampaikan pengetahuan yang baik sekaligus kritik yang membangun perihal isu lingkungan melalui diskusi fotografi ; serta Menyentuh dan menjangkau pembuat kebijakan (dalam hal ini adalah pemerintah).

Lima (5) Kampung yang terdapat di Kecamatan Cijawura, Kecamatan Arcamanik, Kecamatan Lengkong, Kecamatan Batununggal, dan Kecamatan Kiaracondong di Kota Bandung, menjadi titik-titik akupuntur yang disasar melalui program Mata Warga ini. Pelatihan foto warga kampung dalam program Mata Warga pertama kali dimulai pada tanggal 27 Oktober 2016 di Kecamatan Cijawura, yang kedua digelar pada tanggal 10 Juni 2017 di Kecamatan Arcamanik, yang ketiga digelar pada tanggal 11 Juni 2017 di Kecamatan Lengkong, yang keempat digelar pada tanggal 15 Juli 2017 di Kecamatan Batununggal, dan yang kelima (terakhir) digelar pada tanggal 22 Juli 2017 di Kecamatan Kiaracondong. Program ini dibantu pula oleh sejumlah relawan yang menjadi pengajar dan fasilitator warga kampung tersebut. Para relawan tersebut adalah Alfian Widiantono, galih sedayu, Ruli Suryono & Sudarmanto Edris yang bertindak sebagai relawan pengajar fotografi, serta Agung Yunia, Kandi Sekar Wulan, Pandu Putra Pranawa & Shinta S Putri yang bertindak sebagai relawan fasilitator.

Banyak fakta, tempat & peristiwa menarik yang didapat dari masing-masing wilayah tersebut. Misalnya saja kue ondel-ondel yang sangat enak bisa kita rasakan di wilayah kampung Kecamatan Cijaura ; Jurig Walungan atau pasukan pembersih sampah sungai bisa kita temukan di wilayah kampung Kecamatan Arcamanik, Gang Ronghok yakni sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh seorang saja bisa kita alami di wilayah kampung Kecamatan Lengkong, Lomba ketangkasan burung merpati bisa kita saksikan di wilayah kampung Kecamatan Batununggal ; Wahana permainan anak yang dikemas seperti pasar malam di samping tempat pembuangan sampah bisa kita lihat di wilayah kampung Kecamatan Kiaracondong. Belum lagi puluhan cerita warga yang membuat kita terpesona bak menyimak sebuah dongeng yang dituturkan oleh seorang kakek kepada cucunya.

Sebagai bentuk pertanggung-jawaban moral kepada Kota Bandung, maka seluruh cuplikan mata yang telah menjadi imaji hasil karya warga kampung tersebut, kami persembahkan ke dalam sebuah jejak literasi berupa buku. Buku ini kiranya dapat menjadi sumber ingatan & pengetahuan abadi, agar kelak setiap warga dapat selalu memberikan yang terbaik bagi kampungnya masing-masing. Sehingga perubahan sosial dapat terus dilakukan demi mengurai berbagai permasalahan yang ada dengan mengacu kepada informasi & gambar yang terekam dalam buku tersebut. Meski fotografi tak kan dapat mengubah sebuah kota, namun sesungguhnya fotografi dapat mengubah cara kita melihat sebuah kota. Dan itu semua dapat dimulai dari mata kita masing-masing. Karena dari mata, kemudian turun ke hati dan kemudian lahir menjadi empati.

Bandung, 7 Desember 2017

***

Text : galih sedayu
Photography : Air Foto Network [AFN]

If we analyze the city of Bandung as a big tree, then the roots of the tree can be likened to the set of Kampong / Village which certainly in charge of supporting the tree trunk to remain standing upright and ensure the leaves grow well. Therefore, the kampong and the city are actually always living together, no one is superior, no one takes precedence, no one is more united. But in practice, especially in the context of the development of a city, sometimes the attention to the kampong space seems to be like a stepchild, so it is often rarely touched and tends to be ignored. For that reason the creative programs that raise the issue of the existence of a kampong or a small area in a city, need to be presented so that the principle of even distribution of development can be realized.

The good news, currently starting to present programs that intersect with Kampong in the city of Bandung. One of them is the “Creative Kampong” program initiated by the community / citizens of Bandung in collaboration with the government, the academics, the business side and the media. This “Penta Helix” Synergy is expected to break the lack of connectivity between citizens in building the city. This Creative Kampong program is actually a universal idea, so it does not need to be debated anymore by questioning who was the first to give birth to this program or who is eligible to run this program. As long as the goal is good, it feels anyone can do it for the city of Bandung.

Along with running time, consciously or not, Creative Kampong is like a locomotive for other creative programs. Small explosions voiced into the form of a program to respond to this kampong space became his carriages. But the rail or track remains the same and has the same goal. One is the “Mata Warga / Citizen Eye” program. Program that initiated by Bandung Creative City Forum {BCCF}, Air Foto Network {AFN}, and Bandung Creative Economy Committee is a citizen collaboration program through photography. Where this Program uses a methodology or a way that involves the community / villagers actively through the media of photography, with the aim to make social changes to the surrounding environment creatively. In the world of photography, this program is commonly known as “Participatory Photo Project”.

Because one of the nature of discipline in science and any field is its usefulness for the community, then photography was chosen as a bridge connecting communications residents of the village. This Mata Warga program process begins with (1) basic training of photographing for the villagers ; (2) Discussion to collect simple data & analysis on the surrounding environment ; (3) Involving community & photographing preparation; (4) Taking pictures of an existing issue in the neighborhood ; (5) Presentation of photographs of residents’ results ; (6) Curation photo & book making ; which in turn is expected to appear dissemination process & social change from its citizens. The objective of this program is to help villagers to record and reflect the potential of the village and to bring the community’s attention to the environment ; Convey good knowledge as well as constructive criticism of environmental issues through photography discussions; and Touch and reach policy makers (in this case is government).

Five (5) Kampong in Cijawura District, Arcamanik District, Lengkong District, Batununggal District, and Kiaracondong District in Bandung City, become acupuncture points targeted through Mata Warga program. Photo training of the villagers in the Mata Mata program was first started on 27 October 2016 in Cijawura District, the second was held on 10 June 2017 in Arcamanik District, the third was held on 11 June 2017 in Lengkong District , the fourth was held on the 15th July 2017 in Batununggal District, and the fifth (last) was held on July 22, 2017 in Kiaracondon District. This program is also assisted by a number of volunteers who became teachers and facilitators of the villagers. The volunteers are Alfian Widiantono, galih sedayu, Ruli Suryono & Sudarmanto Edris who acts as volunteer of photography lecturer, and Agung Yunia, Kandi Sekar Wulan, Pandu Putra Pranawa & Shinta S Putri who act as volunteer facilitators.

Many interesting facts, places and events gained from each of these areas. For example, Delicious ondel-ondel cakes that we can feel in the Cijawura Kampong area ; Jurig Walungan or river rubbish cleaning troops can be found in the Arcamanik Kampong area : Gang Ronghok a narrow alley that can only be passed by a person we can experience in the Lengkong Kampong Area, pigeon dexterity race that we can see in the Batununggal Kampong area ; Children’s games are packed like a night market next to a landfill that we can see in the Kiaracondong Kampong area. Not to mention dozens of stories of citizens who make us fascinated like listening to a fairy tale told by a grandfather to his grandson.

As a form of moral responsibility to the city of Bandung, then the entire footage of the eye that has become the image of the work of the villagers, we dedicate into a literacy trail of books. This book may be a source of lasting memory & knowledge, so that every citizen can always give the best for his or her own village. So that social change can continue to be done in order to parse various existing problems with reference to information & images recorded in the book. Although photography can not change a city, photography can actually change the way we see a city. And it can all start from our own eyes. Because from the eye, then down to the heart and then born into empathy.

Bandung, December 7, 2017

* Mata Warga Kecamatan Cijawura

06

08

15

12

13

22

18

24

* Mata Warga Kecamatan Arcamanik

DSCF3346

DSCF3374

DSCF3364

DSCF3388

DSCF3423

DSCF3437

DSCF3366

* Mata Warga Kecamatan Lengkong

DSCF3508

DSCF3522

DSCF3534

DSCF3538

DSCF3537

DSCF3550

DSCF3526

* Mata Warga Kecamatan Batununggal

DSCF4445

DSCF4479

DSCF4500

DSCF4506

DSCF4492

* Mata Warga Kecamatan Kiaracondong

DSCF4668

DSCF4701

DSCF4883

DSCF4910

DSCF4899

DSCF4985

DSCF4730

Copyright (c) by galih sedayu & AFN
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer & AFN.

Advertisements

Jembatan Baru Antara Bandung dan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia

leave a comment »

Sebuah catatan kecil dari acara jorowok bdg (ngobrol santai “ekonomi kreatif sebagai daya kompetitif kota-kota dunia” bersama triawan munaf dan ridwan kamil) di simpul space BCCF

Teks oleh galih sedayu | Foto oleh Sandhana Andrio & Dudi Sugandi

Simpul Space, sebuah ruang jejaring komunitas yang dikelola oleh Bandung Creative City Forum (BCCF), kala itu terlihat ramai dan penuh sesak dipenuhi berbagai komunitas yang hadir dalam acara Jorowok Bdg. Tepatnya pada hari sabtu tanggal 21 Februari 2015, ratusan individu terlihat menyeruak hingga memadati Simpul Space BCCF sejak pukul satu siang. Acara rutin Jorowok Bdg yang diinisiasi oleh BCCF tersebut kali ini memang berbeda, dimana narasumber yang diundang adalah Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Triawan Munaf dan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil. Adapun topik yang dibahas dalam acara ngobrol santai saat itu adalah “Ekonomi Kreatif Sebagai Daya Kompetitif Kota-Kota Dunia”.

Acara akhirnya baru dimulai sekitar pukul setengah empat sore. Selain Triawan Munaf & Ridwan Kamil, terlihat beberapa tokoh kota bandung seperti Ipong Witono, Aat Soeratin, Hari Pochang, Irvan Noeman dan Taufik Hidayat Udjo turut meramaikan acara tersebut. Sebelum acara dimulai, seperti biasa lagu wajib Indonesia Raya berkumandang yang dinyanyikan oleh semua orang yang berada di sana. Setelah itu suguhan apik dari Saung Angklung Udjo berupa “Grand Angklung” dimainkan oleh Wildan, seorang pemain angklung pria sembari berduet harmonis dengan Eya Grimonia, seorang pemain biola wanita. Kemudian persembahan kedua dilanjut berupa penampilan kabaret dengan tema “World of Culture” dari siswa siswi SMA 11 yang tergabung di komunitas Forum Kabaret Bandung. Lalu setelah itu, video profil motion graphic tentang program BCCF pun ditampilkan di hadapan para pengunjung. Dan sesudahnya, wakil ketua BCCF sekaligus direktur Helarfest, Tegep Octaviansyah atau yang lebih beken disebut Tegep Boots menyampaikan paparannya mengenai rangkaian festival kota demi memeriahkan 60 tahun perayaan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada bulan april 2015 nanti.

Setelah semua seremoni selesai, acara utama Jorowok Bdg pun dimulai yang dimoderatori oleh direktur program BCCF, galih sedayu. Pada kesempatan pertama, Triawan Munaf memaparkan cerita perihal pembentukan Badan Ekonomi Kreatif. Triawan mengatakan bahwa ia dipilih langsung oleh “Rembug Kreatif”, sebuah kelompok yang terdiri dari para pelaku dan jejaring industri kreatif di Indonesia. Bila melihat riwayat hidupnya, Triawan Munaf lahir di kota Bandung pada tanggal 28 November 1958 yang silam. Di awal karirnya, ia sempat tergabung dengan sebuah band asal Bandung yang bernama “Giant Step”. Setelah itu ia mulai berkarir secara profesional di dunia periklanan. Triawan Munaf sendiri dilantik oleh Presiden Jokowi pada tanggal 26 Januari 2015 berdasarkan Keputusan Presiden No. 9/P Tahun 2015.

Dalam presentasinya, Triawan Munaf menyebutkan bahwa visi dari Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia adalah “INDONESIA menjadi salah satu kekuatan utama dunia dalam Ekonomi Kreatif di tahun 2030”. Triawan juga menyebutkan bahwa misi dari Badan Ekonomi Kreatif ini yaitu 1) Menyatukan seluruh aset dan potensi kreatif Indonesia untuk mencapai ekonomi kreatif yang mandiri ; 2) Menciptakan iklim yang konduksif bagi pengembangan industri kreatif ; 3) Mendorong inovasi di bidang kreatif yang memiliki nilai tambah dan daya saing di dunia internasional ; 4) Membuka wawasan dan apresiasi masyarakat terhadap segala aspek yang berhubungan dengan ekonomi kreatif ; 5) Membangun kesadaran dan apresiasi terhadap hak kekayaan intelektual, termasuk perlindungan hukum terhadap hak cipta ; 6) Merancang dan melaksanakan strategi yang spesifik untuk menempatkan Indonesia dalam peta ekonomi kreatif dunia.

Badan Ekonomi Kreatif ini sendiri bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Dimana Kepala Badan Ekonomi Kreatif ini membawahi Wakil Kepala, Sekretaris, dan beberapa Deputi yang terdiri dari Deputi Riset, Edukasi & Pengembangan ; Deputi Akses Permodalan ; Deputi Infrastruktur ; Deputi Pemasaran & Internasional ; Deputi HKI & Penegakan Hukum Karya Indonesia ; serta Deputi Hubungan Antar Lembaga & Wilayah. Kemudian para Deputi ini membawahi sebuah Team (War Room) yakni perwakilan dari 11 group sub sektor yang terdiri dari 33 s/d 55 orang. Agar program yang dijalankan oleh Badan Ekonomi Kreatif ini lebih fokus dan terarah, maka dari 16 sub sektor industri kreatif yang ada di Indonesia, akan diprioritaskan terlebih dahulu kepada sub sektor industri yang termasuk ke dalam program “Inisiatif Strategis” yaitu Film, Aplikasi Digital, Musik (FAM) serta sub sektor industri kuliner dengan jargonnya Rasa Indonesia Mendunia dan craft (kerajinan tangan) dengan jargonnya Kriya Indonesia Mendunia. Sedangkan untuk program “Infrastruktur”, akan lebih difokuskan kepada Pusat Data & Aset ; Pusat Logistik ; Pilot Project “Kota Kreatif” ; Sosialisasi Lembaga Manajemen Kolektif ; Pusat Pertunjukkan ; serta Pusat Permodalan Ekonomi Kreatif. Kemudian untuk program “Event”, yang menjadi prioritas adalah event Asian Games 2018 dan World Craft Festival. Ada berita baik yang disampaikan oleh Triawan Munaf pada acara Jorowok Bdg. Ia mengatakan bahwa saat ini yang namanya ide atau gagasan kreatif dapat dijadikan agunan untuk memperoleh modal. Meski demikian mekanismenya masih belum disusun secara tuntas. Dalam kesempatan tersebut, Triawan Munaf mengatakan bahwa Badan Ekonomi Kreatif sangat memerlukan kolaborasi Bandung beserta komunitasnya untuk menjalankan program-programnya terutama di program Pilot Project “Kota Kreatif”.

Sementara dalam acara Jorowok Bdg tersebut, Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil memaparkan perihal “Managing Bandung” yang dijabarkan melalui 3 hal utama yakni Innovation, Decentralisation dan Collaboration. Ia mengatakan bahwa Bandung berencana membangun “Creative Centre” dan “Innovative Centre” demi mendukung pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Dalam hal ini, rencana tersebut terpacu kepada Thailand Creative & Design Centre (TCDC) yang sudah ada di negara Thailand. Meski Thailand sudah selangkah lebih maju dari Indonesia, namun Ridwan Kamil mengatakan bahwa “kita tidak perlu kuatir, tapi kita harus mampu mengejar Thailand di pengkolan”, begitu ucapnya sambil bercanda. Creative Centre ini merupakan sebuah gedung bertingkat yang terdiri dari berbagai ruang yang diperuntukkan bagi komunitas, perpustakaan, kelas, toko yang menjual produk kreatif bandung, cafe, dan lain sebagainya. “Ground Breaking” gedung yang terletak di Jalan Laswi (sebelah rumah makan bumbu desa) ini rencananya akan dilakukan pada bulan April 2015 nanti. Karenanya ia berharap agar Presiden Jokowi dapat hadir untuk melihat salah satu contoh pembangunan Creative Centre yang baru pertama kali ada di Indonesia. Setelah pembangunan Creative Centre selesai, ia akan melanjutkan pembangunan Innovative Centre, yang berfungsi sebagai workshop atau laboratorium bagi para pelaku industri kreatif di kota bandung.

Selain itu Ridwan Kamil memperlihatkan slide perihal rencana pembangunan kawasan Bandung Technopolis di daerah Gedebage, yang akan menjadi sebuah kota baru di masa mendatang. Ia pun menyebutkan bahwa rencana yang telah dibuat olehnya bukanlah sebuah “mimpi” melainkan “visi”. Ia mengatakan perbedaan antara mimpi dan visi adalah bahwa mimpi itu masih sebatas angan-angan atau keinginan saja sedangkan visi adalah mimpi yang dipersiapkan dan dijalankan. Oleh karenanya ia pun sempat berujar bahwa batas kreativitas adalah imajinasi. Imajinasi inilah yang diharapkan dapat menjadi bahan bakar bagi perkembangan industri kreatif. Di akhir presentasinya, Ridwan Kamil mengatakan bahwa Bandung sangat siap dan terbuka untuk berkolaborasi dengan Badan Ekonomi Kreatif untuk membantu mewujudkan cita-cita demi mengembangkan ekonomi kreatif Indonesia.

Melihat hal ini semua, sudah semestinya kita patut memberikan kepercayaan penuh kepada Badan Ekonomi Kreatif yang saat ini dipimpin oleh Triawan Munaf, untuk menjalankan program-programnya ke depan. Setelah Trust ini terbentuk, hendaknya lah “kolaborasi” bahkan “kolaborasa” dapat terjalin agar ekonomi kreatif di Indonesia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Connection, Collaboration, Commerce. Kira-kira begitulah kata kunci untuk meraih cita-cita mulia ekonomi kreatif Indonesia. Akhir kata, tangan & hati Bandung selalu terbuka untuk membuktikan mimpi yang kini menjadi visi tersebut, sehingga karya dan jejak terbaik akan selalu dapat ditorehkan dengan manis ke dalam peradaban ekonomi kreatif Indonesia.

@galihsedayu | Bandung, 21 Februari 2015

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

Copyright (c) 2015 by bccf
All right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from writer & photographer.

Simpul Kebersamaan Di Kampung Dago Pojok

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Kampung Dago Pojok adalah sebuah Kampung Kota yang terletak di bagian utara Kota Bandung, dimana ikon Jalan Dago dan Air Terjun (Curug) Dago menjadi ciri khas yang kuat menempel pada kampung tersebut. Adalah Rahmat Jabaril, seorang seniman kota bandung, yang menyambangi kampung dago pojok sekitar sekitar tahun 2003. Sejauh mata memandang, ia melihat begitu banyak lumpur permasalahan yang melekat di kampung itu. Dari mulai kemiskinan, tawuran antar pemuda, taraf pendidikan warga yang rendah, disharmoni penataan ruang dan lain sebagainya. Sejak itulah Rahmat Jabaril bersama Rumah Kreatif “Taboo” yang diinisiasi olehnya, mulai mencanangkan kampung wisata, edukasi & industri kreatif yang pada akhirnya diluncurkan pada tanggal 28 oktober 2011 bersamaan dengan peringatan sumpah pemuda. Gerakan ini semata-semata ia gagas dengan satu tujuan sederhana yakni “Perubahan”.

Semenjak itulah, fenomena gerakan sosial Kampung Dago Pojok mulai menyebar bak jamur di kalangan masyarakat Kota Bandung. Hal itu pulalah yang menarik simpati dari sekelompok komunitas kreatif Kota Bandung yang tergabung dalam sebuah organisasi yang bernama Bandung Creative City Forum (BCCF), untuk berkolaborasi dengan warga Kampung Dago Pojok demi mengembangkan sebuah Kampung Kreatif. Kesamaan visi & harapan yang diusung oleh Rahmat Jabaril yang bersinergi dengan BCCF tersebut menjadikan semua pekerjaan rumah yang masih menumpuk menjadi terasa ringan. Meski tentunya perjuangan yang dihadirkan oleh mereka masihlah panjang. Ide Program “Akupuntur Kota” melalui Kampung Kreatif yang dilahirkan oleh BCCF pada tahun 2012, kemudian dijahit dengan hasil kreasi dari Rahmat Jabaril melalui Rumah Kreatif Taboo-nya. Tercatat sejumlah aktivasi kampung Dago Pojok yang telah dilakukan secara bersama-sama dari mulai program membatik, melukis, kesenian, mural, jajanan kampung, kewirausahaan warga kampung dan masih banyak lagi. Masyarakat pendidikan di Kota Bandung pun tampaknya tidak mau ketinggalan untuk bisa menyumbangkan kreativitasnya bagi Kampung Dago Pojok. Sekelompok Mahasiswa Universitas Padjajaran Bandung Jurusan Humas A Fikom Unpad Jatinangor, menggelar sebuah program yang diberi tajuk “Bandung CreACTive”, Road to Kampung Kreatif pada tanggal 9 Juni 2012. Berbagai aktivitas dibagikan kepada warga kampung dago pojok dari mulai festival kaulinan budak, festival layang-layang, hingga berbagai pertunjukkan musik & kesenian. Di sanalah sesungguhnya kita melihat arti penting sebuah perayaan kampung.

Adakah hasil dari berbagai upaya yang telah dilakukan di Kampung Dago Pojok tersebut? Alangkah baiknya kita kunjungi saja kampung dago pojok itu sekarang untuk menemukan jawabannya. Karena saat ini kita bisa melihat di sana bagaimana kesenjangan sosial diantara warga setempat mulai mencair, ruang-ruang kampung menjadi lebih berestetika melalui tembok-tembok berisi mural berwarna-warni, anak-anak & keluarga yang selalu menebar senyum, preman-preman kampung yang mulai bekerja secara produktif, para wisatawan asing yang kerap berkunjung, dan sejumlah perubahan kecil lainnya. Bila kita melihat berbagai kolaborasi & sinergisitas yang ditunjukkan oleh sejumlah pilar komunitas masyarakat Kota Bandung di Kampung Dago Pojok, sebenarnya ini adalah jawaban atas pertanyaan berikut ini. Apakah isu kreativitas hanya untuk warga kota saja? Karena hal kecil yang kita lakukan untuk kampung pun, sejatinya adalah demi menyebarkan sebuah kata yang bernama “Inspirasi”. Karena kreativitas apapun yang kita lakukan demi kemajuan kota sesungguhnya adalah tanggung jawab bersama. Bukan pemerintah, kaum intelektual, masyarakat pendidikan, komunitas kreatif, insan media, ataupun pihak swasta. Melainkan simpul dari semuanya. Yang sadar benar bahwa kehidupan yang kita miliki adalah milik bersama.

Bandung, 10 Juni 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

June 12, 2012 at 4:44 am