I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘Photo Story

Gua Pawon Memanggil

leave a comment »

Foto & Teks : galih sedayu

9 Desember 2000. Sudah layak & sepantasnya lah tanggal ini menjadi sebuah momen dan tonggak bersejarah bagi temuan dunia Arkeologi Indonesia khususnya di Jawa Barat. Tatkala Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) yaitu sebuah kumpulan kecil orang-orang sederhana yang merupakan peneliti independen, berhasil menemukan benda-benda prasejarah buah hasil penelitian mereka yang menggunakan metode geomagnetik di dalam sebuah situs hunian era manusia purba yang bernama Gua Pawon. Pasca awal penemuan tersebut, pada tahun 2003 Balai Arkeologi Bandung melakukan penggalian secara lebih sistematik dan berhasil mengungkap misteri kebesaran Gua Pawon dengan berbagai penemuan berharga. Salah satunya adalah kerangka manusia lengkap yang ditemukan dalam posisi meringkuk. Alhasil setelah temuan fenomenal itu, nama Gua Pawon pun kembali menjadi perbincangan yang hangat di kalangan para peneliti dan penjelajah sejarah. Sebenarnya keberadaan Gua Pawon itu sendiri sudah ada sejak lama dan pernah diberitakan oleh R. Prajatna Koesoemadinata (Guru Besar Emeritus & Ikatan Ahli Geologi Indonesia) dalam laporan survei geologi yang dilakukan pada tahun 1959. Meski begitu saat ini masih banyak masyarakat kita yang belum mengenal sama sekali atau bahkan mau peduli terhadap aset peradaban prasejarah tersebut.

Gua Pawon sebenarnya merupakan sebuah gua tebing yang berada di sekitar kawasan Danau Bandung Purba, tepatnya di daerah Pasir Pawon, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, sekitar 25 km sebelah Barat kota Bandung. Akses untuk menuju tempat ini sebenarnya relatif mudah meski harus memasuki kawasan karst citatah dengan kondisi jalan yang tidak mulus dan udara yang sangat berdebu akibat penggalian batu kapur di sekitarnya. Karena kondisinya yang gelap & lembab, Gua Pawon pun menjadi tempat bermukim yang menggembirakan bagi sekelompok binatang malam yaitu kelelawar. Tak heran maka sebagian masyarakat setempat masih ada yang menggantungkan nasib hidupnya demi sesuap nasi untuk mencari nafkah di Gua Pawon dengan cara mengambil pupuk dari kotoran kelelawar tersebut. Selain itu menurut masyarakat setempat, Gua Pawon juga menjadi salah satu persinggahan & daya magnet bagi para pencari ilmu gaib dengan melakukan tapa di situs prasejarah tersebut. Saat ini Gua Pawon menjadi salah satu obyek wisata yang menarik di daerah Jawa Barat berkat perjuangan gigih dari segelintir kelompok yang peduli terhadap pelestarian lingkungan diantaranya Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Bahkan tidak jauh dari lokasi Gua Pawon tersebut akhirnya pemerintah berinisiatif dan tengah dilakukan proses pembangunan Museum Gua Pawon.

Untuk itulah saya mencoba untuk menyampaikan melalui foto-foto ini, pesan visual yang menggema dari dinding-dinding batu Gua Pawon, yang tak pernah diam untuk selalu memanggil kita saat ini. Melalui fotografi, media yang sarat dengan keheningan ini, setidaknya ada sebuah suara kecil yang terdengar berupa cita & harapan besar bagi kelangsungan Gua Pawon. Sehingga muncul sejumlah kesadaran-kesadaran kecil manusia yang pada nantinya akumulasi kesadaran tersebut menjadi besar hingga mampu menciptakan sebuah sikap & tindakan nyata. Agar mereka selalu memiliki waktu untuk tetirah dan mencari jawaban dari misteri Gua Pawon yang kelak dapat kita wariskan kepada anak cucu kita. Kita akan selalu berharap, meskipun teriknya sinar matahari dan hujan badai yang menerjang tubuh Gua Pawon, namun ia akan tetap berdiri tegak dan menjadi saksi bisu bagi sebuah peradaban manusia yang panjang. Sampai suatu saat nanti.

Bandung, 7 Januari 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Advertisements

Written by Admin

January 12, 2012 at 6:22 am

Harapan Yang Nyata, Doa Yang Terjawab

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

A daughter is the happy memories of the past,
the joyful moments of the present,
and the hope and promise of the future.
– Unknown –

Sebelumnya…dua menjadi satu. Kadang peristiwa kelam itu masih menghantui diri ini, tatkala takdir yang bernama kematian itu datang menjemput putri kembar pertamaku, “Ancilla Trima Sedayu”, tepat sehari setelah kelahirannya pada tanggal 2 September 2010.  Pengalaman histeria itu bagaikan sebuah gelombang besar yang hampir meluluh-lantakkan kehidupanku yang tadinya tenang. Sampai akhirnya diri ini menyadari bahwa Tuhan masih menitipkan seorang bayi perempuan mungil yang cantik meski lemah tak berdaya dengan berat tubuh 1,1 kg karena lahir prematur dengan usia kandungan hampir 7 bulan. “Eufrasia Tara Sedayu”, bayi kecil yang tetap bertahan hidup ini menjadi sebuah alasan besar untuk dapat melupakan duka lara dan kepedihan akibat kepergian Ancilla kakak kembarnya. Dengan sebuah keyakinan bahwa sehabis lonceng kematian berdentang, setelah itu pula lah bunyi sangkakala kehidupan ditiupkan oleh Sang Ilahi.

Konsentrasilah terhadap yang hidup”, begitulah kira-kira ucapan menenangkan seorang sahabat kepada diriku saat itu. Hari demi hari akhirnya menjadi sebuah perjalanan lain yang ku jalani bersama istri tercinta, yang telah berjuang demi melahirkan kedua putri kembar kami. Hanya demi satu harapan yaitu kesembuhan Eufra, putri kami terkasih yang harus dirawat di ruang NICU rumah sakit karena beberapa organ tubuhnya yang belum berkembang sempurna. Benang-benang kusut itu pun satu persatu kami rajut dalam sebuah asa dan keyakinan bahwa bayi kecil itu adalah milik kami. Di dalam sebuah tabung kecil yang bernama inkubator, eufra dirawat. Mesin ventilator pun digunakan untuk memonitor kondisi dan perkembangan eufra, lengkap dengan selang-selang kecil oksigen sebagai alat bantu pernafasan beserta peralatan infus yang dipasang di sekujur tubuhnya. Tak tega rasanya melihat seorang bayi kecil dengan segala macam alat yang terpasang rumit di dalam sebuah ruang sempit. Setiap hari yang kami dengar adalah bunyi bunyi mesin yang membosankan dan terkadang membuat kami kuatir bila terjadi sesuatu yang buruk menimpanya. Berbagai kejadian getir dan pahit yang menimpa eufra pada saat perawatan telah kami alami segalanya. Dari mulai transfusi darah karena kadar hemoglobinnya yang rendah, tubuhnya yang tiba-tiba membiru karena kekurangan oksigen, infeksi yang tak kunjung sembuh, Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau kegagalan menutupnya ductus arteriosus yaitu arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal, chronic lung inflammation in premature infants atau radang paru-paru kronis pada bayi prematur, konflik dengan dokter, tagihan biaya perobatan yang terus menunggak, hingga kekuatiran besar saat melihat kematian bayi lain yang dirawat di ruangan yang sama. Puncaknya setelah 2 bulan 25 hari lamanya dirawat, dengan sangat terpaksa kami memindahkan eufra ke rumah sakit lain meski kondisinya masih belum stabil dengan alat bantu pernafasan yang masih terpasang di mulutnya. Kepindahan eufra kami lakukan karena kami nyaris putus asa dan timbul rasa tidak percaya terhadap dokter yang menangani eufra di rumah sakit sebelumnya. Tapi itu semua kami jalani dengan penuh rasa syukur dan kepasrahan yang mendalam demi kasih yang tak terhingga bagi putri kami.

You are my sunshine. My only sunshine. You make me happy when skies are gray. You’ll never know dear. How much I love you. Please don’t take my sunshine away”. Sepenggal bait lagu yang pertama kali dilantunkan oleh penyanyi country Jimmie Davis ini kerap dinyanyikan kembali oleh sang ayah bagi eufra setiap harinya. Sementara terkadang mata eufra yang hampa sesekali dipicingkan sembari bibir tipisnya yang tersenyum simpul saat ia mendengar suara ayahnya sayup-sayup di balik dinding kaca inkubator. Tak pernah bosan rasanya memandangi wajah bayi kecil yang memelas itu. Tuhan memang sungguh bekerja dan kuasanya benar-benar hadir bagi eufra. Perlahan-lahan berat tubuhnya bertambah seiiring dengan semakin banyak asupan asi dari sang ibu yang diserap olehnya meski harus melalui infus. Kulit tubuh yang tadinya pucat pasi lambat laun memerah sehingga menyerupai bayi sehat dan normal. Tulang-tulang tubuhnya yang dulu terlihat jelas kini menjadi tertutup oleh otot dan daging yang semakin terbentuk. Matanya yang dulu sembab dan sayu kini kelihatan bersinar dari kedua bola matanya yang bulat lucu. Alangkah indahnya kami menjadi saksi hidup keajaiban tersebut.

Setelah eufra dirawat di rumah sakit yang baru, akhirnya kesembuhan itu menyapanya dengan penuh sukacita. Penantian yang telah lama kami jalankan tidak berakhir dengan sia-sia. Berbagai kejadian yang menyejukkan hati pun kerap menyambangi kami setelah eufra dipindahkan ke rumah sakit yang baru. Dari mulai alat ventilator yang dapat dilepas pada hari ke-2 ia dirawat, kabar gembira dari dokter bahwa infeksinya telah hilang pada hari ke-4, melihat dokter melepas semua peralatan infusnya pada hari ke-7, hingga akhirnya kami dapat menggendong eufra ke pangkuan setelah menunggu sekian lamanya. Terlebih ketika mata sang ayah melihat eufra menyusui ibunya secara langsung untuk pertamakalinya. Bagaikan melihat surga yang damai. Ciuman kasih dan belaian lembut bagi eufra akhirnya kami alami dengan nyata.

Rangkaian cerita yang terjadi selama 99 hari itu dibekukan kembali oleh sang ayah lewat karya-karya fotonya. Foto-foto ini menjadi penyambung mata sang ayah dengan segala peristiwa yang sarat dengan kenyataan dan harapan. Imaji-imaji visual ini hadir untuk meyakinkan kita tidak ada hal yang mustahil. Untuk itulah sang ayah bersaksi lewat sentuhan jari pada tombol kameranya dengan menghasilkan sebuah epik kehidupan dengan figur sentral seorang bayi yang tadinya tak berdaya. Pelajaran berhargapun didapatkan oleh sang ayah bahwasanya kita tidak boleh menganggap remeh kekuatan seorang manusia yang kelihatan lemah dan menderita secara fisik. Kadang kekuatan besar timbul dari seorang yang lemah tersebut. Setidaknya sebentuk drama keseharian yang mengisahkan perjuangan hidup, cinta dan harapan melalui karya foto ini dapat kita resapi sebagai suatu cara menerima kenyataan tanpa menghilangkan semangat dan keyakinan dari sebuah impian. Meski tidak pernah sempurna, percayalah bahwa untaian doa-doa yang sering kita rajut suatu saat pasti akan terjawab. Dan foto-foto ini menjadi saksi bisu yang terus berucap dan bersemayam di dalam keabadian waktu. Semoga.

Dan kini…satu menjadi dua.
Cerita ini masih berlanjut.

I don’t need no one to tell me about heaven.
I look at my daughter, and I believe.
– Live –

Bandung, 3 Januari 2011

Secercah Kearifan Di Kampung Naga

with 4 comments

Foto & Teks : galih sedayu

Sejatinya sebuah Kampung Adat adalah cermin dari peradaban manusia yang telah diwariskan kepada kita sejak dulu kala. Karena di sanalah manusia belajar mengenal alam semesta, sesama dan dirinya sendiri. Kampung Naga adalah bukti peradaban salah satu kearifan lokal tersebut. Kampung ini terletak di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Penghuni kampung ini adalah masyarakat pedesaan Sunda yang telah ada sejak masa peralihan dari pengaruh agama Hindu menuju pengaruh agama Islam di Jawa Barat. Mereka mengaku telah mendiami perkampungan tersebut selama kurang lebih 600 tahun dan hingga kini masih memegang erat aturan-aturan adat yang diwariskan sejak turun temurun. Saat ini tercatat ada sekitar 109 Kepala Keluarga yang menghuni Kampung Naga. Luas total Kampung Naga ini sekitar 1,5 hektar. Di sebelah barat Kampung Naga terdapat hutan keramat yang tumbuh subur sebagai area pemakaman para leluhur masyarakat Kampung Naga, Sembah Eyang Singaparna. Di sebelah selatan Kampung Naga terbentang persawahan penduduk yang hijau dan asri sebagai lahan mereka untuk menanam padi. Dan di sebelah utara Kampung Naga mengalir aliran sungai Ci Wulan (Kali Wulan) dengan batu-batunya yang berserakan indah dimana sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.

Arti kata Kampung Naga sendiri bukan merupakan sebuah kampung yang dihuni oleh binatang mitos naga yang kerap kali dijumpai di film-film khayal atau yang sering didongengkan kepada anak kecil sebelum tidur. Kampung Naga berasal dari bahasa sunda yaitu “Kampung na Gawir” yang dalam bahasa indonesia memiliki pengertian “Kampung di Jurang”. Karena  bila kita menyambangi Kampung Naga, kampung tersebut akan terlihat dari jalan seolah-olah terletak di dasar jurang. Perjalanan menuju Kampung Naga ini mengharuskan kita untuk menuruni kurang lebih 350 anak tangga dengan kemiringan 40 derajat dan setelah itu menyusuri sungai Ciwulan sebelum tiba di pemukiman penduduk. Seluruh bangunan rumah yang ada di Kampung Naga memiliki sebuah ciri berupa “Tanda Angin” yang digantung di setiap pintu depan rumah. Tanda Angin ini berasal dari tumbuh-tumbuhan yang telah dilengkapi dengan syarat-syarat ritual dengan tujuan untuk menolak bala atau pencegah musibah bagi penghuni rumah.

Saat ini masih ada sebagian masyarakat yang belum mengenal keberadaan Kampung Naga beserta masyarakat tradisional tersebut. Untuk itu saya mencoba untuk menghadirkan kembali segala bentuk bangunan fisik, nilai-nilai tradisi dan potret keseharian penduduk Kampung Naga ini melalui cuplikan-cuplikan fotografis. Tentunya dengan sebuah harapan bahwa Kampung Naga ini dapat terus diperkenalkan kepada masyarakat dunia agar segala kearifan yang melekat di sana akan selalu diingat, dimaknai dan ditularkan. Meski saat ini arus budaya modern merasuk begitu cepatnya, tetapi keberadaan Kampung Naga berserta masyarakatnya ini tetap menjadi sebuah tanda kebesaran alam yang selalu terjaga dan tak pernah sirna oleh kesombongan manusia modern.

Kampung Naga, Garut, 20 Januari 2011

copyright (c) 2011 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 21, 2011 at 6:31 am

Warisan Nenek Moyang Yang Orang Pelaut

leave a comment »

 

Teks & Foto : galih sedayu

Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda b’rani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai

Jakarta, 16 Januari 2011

copyright (c) 2011 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 20, 2011 at 3:37 pm

Tears Of The Cow

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Sebagian masyarakat menganggap bahwa seekor hewan yang bernama sapi memang ditakdirkan untuk mati disembelih demi simbol sebuah tradisi kurban bagi setiap umat muslim yang merayakan hari raya Idul Adha setiap tahunnya. Padahal kita sadari benar bahwa setiap hari pun sapi-sapi tersebut disembelih dan dengan mudahnya kita mendapatkan daging tersebut di pasar. Foto cerita tentang hewan sapi yang disembelih pada saat hari raya Idul Adha ini dibuat sebagai cuplikan realitas yang sungguh terjadi meski sebenarnya adegan-adegan tersebut dapat dilihat setiap harinya semisal di tempat-tempat penjagalan. Hanya saja cerita penyembelihan sapi ini menjadi berbeda tatkala ada sebuah hari yang dikenang oleh masyarakat muslim. Semoga tangisan para sapi ini menjadikan kita untuk lebih berani berkorban (lebih daripada sapi tentunya) demi sebuah langgengnya kehidupan yang damai di bumi. Sehingga tak ada lagi kata korban korupsi, korban ketidakadilan dan korban kesemena-menaan yang hingga kini masih saja terjadi di bumi pertiwi ini.

Bandung, 17 November 2010

copyright (c) 2010 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

November 19, 2010 at 8:47 am

Balada Para Anjing Tomohon

with 5 comments

Teks & Foto : galih sedayu

“Aku punya anjing kecil
Kuberi nama Helly
Dia senang bermain-main
Sambil berlari-lari
Helly! Guk! Guk! Guk!
Kemari! Guk! Guk! Guk!
Ayo lari-lari…
Helly! Guk! Guk! Guk!
Kemari! Guk! Guk! Guk!
Ayo lari-lari”

-Lagu Anjing Kecil-

Foto cerita tentang penjualan daging anjing ini diambil di daerah yang bernama Pasar Tomohon di Sulawesi Utara. Kota Tomohon sendiri berada pada 1°15′ Lintang Utara dan 124°50′ Bujur Timur. Letaknya yang diapit oleh tiga gunung aktif yaitu Lokon, Mahawu, dan Masarang menjadikan wilayah ini sebagai daerah yang subur dan menjadi daerah wisata karena hawanya yang sejuk. Pasar Tomohon merupakan salah satu pasar tradisional terbesar di Minahasa.

Sulawesi Utara, Tomohon, 16 November 2008

copyright (c) 2008 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

November 6, 2010 at 1:31 pm

Menunggu Sebuah Perayaan

with one comment

Teks & Foto : galih sedayu

Sejak tahun 2004 yang lalu, setiap tahunnya kota bandung selalu ditunjuk dan dipercaya oleh pemerintah indonesia lewat kementrian pariwisata dan budayanya sebagai tempat untuk dilangsungkannya sebuah helaran akbar seni & budaya tanah air yang bertajuk Kemilau Nusantara. Termasuk tahun 2010 ini ketika kota bandung merayakan hari jadinya yang ke-200 tahun. Helaran Kemilau Nusantara tahun ini diadakan di Monumen Perjuangan Jawa Barat tepatnya pada tanggal 23 Oktober 2010 yang hanya diikuti oleh 5 propinsi dari seluruh indonesia. Tentunya hal ini menjadi sorotan yang patut dipertanyakan karena data yang ada menunjukkan dari tahun ke tahun peserta helaran Kemilau Nusantara selalu cenderung menurun. Mengapa demikian? Sepertinya kita semua telah mengetahui apa jawaban pasti dari pertanyaan tersebut terlebih ketika menyangkut segala sesuatu yang erat kaitannya dengan urusan pemerintahan atau birokrasi. Tetapi biarlah kita kesampingkan sejenak masalah itu.

Agaknya segala permasalahan seni & budaya pun setidaknya ikut dipikirkan oleh para petualang cahaya atau yang lebih akrab dengan sebutan fotografer/pemotret. Setidaknya kaum ini tidak pernah bosan untuk merekam segala atraksi dan pertunjukkan yang digelar pada saat acara Kemilau Nusantara tersebut. Entah itu hanya sekedar hunting, mengikuti lomba foto, tugas liputan atau mungkin sebuah proyek pribadi sang pemotret. Termasuk oleh saya sendiri yang mencoba untuk membuat sebuah Photo Story tentang aktivitas lain para peserta helaran sebelum mereka tampil. Karena bagi saya di sanalah kerap hadir momen-momen menarik yang merangsang jari untuk menekan shutter kamera. Bagai melihat sebuah kehidupan lain di belakang layar. Seperti kasih sayang seorang kakek yang rela untuk mengantar cucunya melihat helaran kemilau nusantara. Pemanasan dan latihan para peserta sebelum mereka mendapat giliran tampil. Dan lain sebagainya.

Untuk itulah fotografi dengan kesederhanaannya membekukan semua adegan tersebut untuk dapat dibagikan kembali ke dalam bentuk visual foto yang abadi. Sehingga di dalamnya selalu ada informasi, komunikasi dan pesan dari sang pemotret agar terjadi dialog yang bergulir demi kelangsungan fotografi dan isu yang diangkatnya. Yang tidak pernah ada kata salah atau benar melainkan kata “yang selalu ada”. Yang kelak menjadi jejak, kenangan dan pertanda kehadiran dari sebuah peristiwa apapun di dunia. Hingga akhir menutup mata.

Bandung, 24 Oktober 2010

copyright (c) 2010 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 31, 2010 at 2:13 pm