Archive for the ‘10) SEMESTA TULISAN FOTOGRAFI’ Category
Membalut Kata, Memaknai Fotografi

Balutan Kata oleh galih sedayu
50) Jangan berpikir apakah karya foto kita akan disukai atau tidak. Jadilah seorang pemotret yang karyanya memang layak untuk dihargai.
49) Fotografi memuliakan cahaya, memuliakan manusia, serta memuliakan semesta.
48) Fotografi ibarat spiritualitas manusia, ia memberikan kebebasan dan mencari kebenarannya sendiri.
47) Memotret tidak akan mengubah dunia, namun memotret dapat mengubah cara kita melihat dunia.
46) Fotografi adalah cara, kuasa & seni melihat.
45) Fotografi seperti suara yang hening & sepi. Sendiri tapi tak sendirian.
44) Sejatinya karya foto adalah mata, cahya & warta hidup setiap fotografer.
43) Menonton film, membaca buku & mendengar musik akan melahirkan daya visual dalam memotret.
42) Seorang fotografer profesional tidak akan malu untuk membawa kamera saku ataupun smart phone kemanapun ia pergi. Ia akan bilang bahwa seorang Jenderal pun tidak akan membawa senjata bazoka kemana-mana.
41) Kamera yang terbaik adalah kamera yang kita miliki.
40) Fotografi adalah sebuah pekerjaan bermain yang dilakukan dengan cara tidak main-main.
39) Akan selalu ada suka atau tidak suka dalam fotografi, tetapi tidak akan pernah ada benar atau salah dalam fotografi.
38) Mempelajari fotografi sesungguhnya adalah belajar mengenal diri sendiri kemudian mentransfer ide yang muncul ke dalam bentuk visual.
37) Sesungguhnya fotografi adalah medium hening yang merefleksikan ide-ide manusia.
36) Karya foto yang baik adalah yang paling sederhana dari kesemuanya.
35) Karya Foto yang mendekati sempurna adalah sebuah rencana yang matang dari si pemotret dan bertemu dengan sebuah kesempatan.
34) Fotografi identik dengan sebuah kebebasan. Kebebasan untuk melihat, mengambil dan bertanggung-jawab terhadap apa yang kita rekam.
33) Memotret adalah kegiatan otak, bukan alat.
32) Fotografi akan selalu abadi apabila seorang pemotret dapat hidup dengan tenang bersama segala perbedaan yang ada di dalamnya.
31) Ketika kita lelah berkata-kata, saat itulah fotografi yang menggantikan.
30) Sebuah foto adalah gambaran potret masa lalu, masa kini sekaligus masa yang akan datang.
29) Musuh utama fotografi adalah keengganan menjawab pertanyaan yang muncul dari karya foto yang dihasilkan.
28) Kekuatan foto muncul dari sebuah isu yang disuguhkan, bukan dari teknik yang diperlihatkan.
27) Sebuah karya foto seharusnya tidak memihak, tetapi melawan.
26) Semestinya seorang fotografer sejati tidak pernah menaklukan seorang wanita dengan kameranya.
25) Fotografi adalah sebuah seni melihat, seni merekam & seni menceritakan.
24) Tidak ada istilah karya foto yang jelek. Yang ada hanyalah karya foto yang baik & karya foto yang baik sekali.
23) Fotografi diciptakan bukan untuk disimpan, melainkan untuk dibagikan ke seluruh dunia.
22) Tidak perlu tempat yang sangat jauh untuk memotret, mulailah dari hal-hal kecil di sekitar kita.
21) Begitu banyak realitas di negara kita yang sebenarnya belum diungkap secara visual melalui foto.
20) Sejatinya estetika fotografi itu cenderung bergerak, berubah dan mengalir.
19) Seberapa hebat dan sepiawainya seorang fotografer kelas dunia, tidak akan mengalahkan kejujuran dan cara pandang seorang anak kecil.
18) Sebuah kota yang kita diami dapat menjadi selembar kertas putih yang siap untuk direkam melalui fotografi.
17) Jika kita hanya memikirkan bagaimana menghasilkan uang dari fotografi, setelah tua kita akan menyadari bahwasanya kita tidak berkarya apapun dalam hidup.
16) Pendekatan fotografi yang paling abadi menurut saya adalah berkomunikasi langsung dengan manusia.
15) Setiap orang memiliki cara pandang yang personal tatkala merekam sebuah obyek foto. Sebagian suka, sebagian tidak.
14) Kita tidak dapat memaksakan semua orang untuk menyukai hasil karya kita. Yang dapat kita lakukan adalah menyukai karya foto yang telah kita buat.
13) Memotret hal yang kecil yang dilakukan dengan cara yang benar lebih baik daripada memotret hal besar yang masih direncanakan.
12) Karya Fotografi apapun tidak akan merusak selama pikiran kita ibarat sebuah payung yang terbuka lebar.
11) Setiap benda di dunia yang kita rekam melalui kacamata fotografi selalu memiliki keindahannya tersendiri.
10) Foto yang kuat berisikan segala hal tentang opini, ideologi & pesan yang coba kita sampaikan di dalamnya.
9) Sangatlah umum ketika kita melihat perbedaan yang mendasar antara karya fotografer tua dengan yang muda. Karena walaubagaimanapun karya foto mereka akan lebih banyak mewakili era atau jaman yang dialami oleh masing-masing.
8) Sebuah foto adalah suara tanpa bunyi dan kadang perang tanpa pertumpahan darah.
7) Entah mengapa sebagian orang menganggap bahwa semakin tinggi tingkat intelektualitas fotografer, semakin tidak dimengerti juga karya foto yang dihasilkan oleh fotografer tersebut.
6) Sebuah foto dapat menjadi simbol untuk melepas kerinduan terhadap seseorang sekaligus menciptakan kebencian yang mendalam terhadap seseorang.
5) Fotografi tidak akan pernah mati selama ia memainkan perannya dengan bijaksana untuk melakukan perubahan-perubahan sosial.
4) Tatkala kita memotret, sejatinya pikiran dan ide kita mengalir dari mulai otak hingga berakhir pada jari yang kita gunakan untuk mengeksekusi gambar.
3) Martabat fotografi akan selalu dijunjung tinggi selama sikap & tindakan pemotret mencerminkan kebenaran.
2) Karya foto yang baik ibarat restoran padang, sederhana.
1) Cara terbaik mengasah kemampuan fotografi adalah jangan pernah membiarkan mata kita tertutup.
Bandung, 7 November 2010
***
Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this writing may be reproduced in any form or by any means or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Mencari Sisa-Sisa Kejayaan Bangunan Art Deco Di Bumi Pertiwi
Teks : galih sedayu
Architecture has recorded the great ideas of the human race.
Not only every religious symbol, but every human thought has its page in that vast book.
– Victor Hugo –
Indonesia sudah sepatutnya menyadari bahwasanya sejak dulu kala negara nan elok dengan hamparan alam yang terbentang luas ini telah menjadi magnet hidup dan tempat pilihan bagi persinggahan bangsa-bangsa dari seluruh pelosok dunia. Itu sebabnya Tanah Air kita memiliki berbagai warisan sejarah dan budaya yang dibawa oleh masyarakat dunia luas, yang kemudian diterapkan dalam segala bidang termasuk arsitektur. Karenanya bangsa kita hingga saat ini masih memiliki bukti kehadiran fisik sebuah peradaban arsitektur dunia, dimana salah satunya adalah gaya Arsitektur Art Deco.
Sejarah mencatat bahwa nama Art Deco untuk pertama kalinya muncul pada tahun 1966 dalam sebuah katalog yang dikeluarkan pada sebuah pameran dengan tema “Les Années 25” oleh Musee des Arts Décoratifs di Paris. Pameran ini sendiri digelar untuk meninjau kembali pameran internasional bertajuk “I’Expositioan Internationale des Arts Decoratifs et Industriels Modernes” yang telah diselenggarakan pada tahun 1925 di Paris. Setelah itu nama Art Deco semakin berkibar terlebih ketika Sejarahwan dan Jurnalis asal Inggris, Bevis Hillier mengeluarkan sebuah buku berjudul “Art Deco of the 20s and 30s ” yang diterbitkan oleh Studio Vista di Amerika pada tahun 1968.
Pada tahun-tahun berikutnya, pameran di paris ini ternyata berpengaruh pada perkembangan dunia arsitektur dan seni. Tidak saja di Eropa, melainkan di berbagai wilayah dunia seperti Amerika, Australia, New Zealand dan Asia termasuk di Indonesia kala jaman pemerintahan Kolonial Belanda. Sehingga perkembangan Arsitektur Art Deco di Indonesia tentunya tidak bisa lepas dari peran dan andil besar para Arsitek Belanda. Diantaranya tercatat nama-nama besar seperti Prof.Ir. Charles Proper Wolff Schoemaker yang merancang bangunan bersejarah Vila Isola Bandung dengan pola garis-garis lengkung dan bentuk silindernya. Tercatat pula nama Albert Frederik Aalbers yang merancang Vila Tiga Warna Bandung dan sejumlah bangunan Art Deco yang lain. Hanya saja sangat disayangkan bahwa hingga saat ini kita belum memiliki database visual yang lengkap perihal bangunan Art Deco di Indonesia. Sementara itu pula tidak sedikit sejumlah bangunan lama Art Deco yang ada di tanah air secara perlahan sirna karena sudah tidak terawat ataupun sengaja dimusnahkan demi munculnya bangunan modern lain yang didirikan tanpa sama sekali memperhatikan hal sejarah.
Tentunya keberadaan fisik perihal sisa-sisa bangunan Art Deco yang sangat bersejarah bagi bangsa ini perlu dilestarikan dengan berbagai upaya yang ada. Langkah awal dan tindakan kecil yang perlu dilakukan salah satunya adalah pengarsipan visual mengenai keberadaan bangunan Art Deco yang masih berpijak tegar di bumi pertiwi ini. Karena alasan-alasan itulah Grand Royal Panghegar dan air foto network menggagas sebuah program yang bernama “Save Our Heritage”. Program Save Our Heritage ini sejatinya bertujuan untuk mengumpulkan informasi visual tentang bangunan Art Deco di Indonesia yang didapat melalui Kompetisi Fotografi Nasional. Kompetisi ini dibagi ke dalam 2 buah kategori yaitu Art Deco Building in Indonesia Photo Contest dan Art Deco Building at Grand Royal Panghegar Photo Contest.
Melalui program kompetisi foto ini, sekitar 849 karya foto berhasil dijaring dari seluruh peserta di Indonesia. Selanjutnya 50 karya foto terbaik dapat kita lihat dalam sebuah Pameran Foto bertajuk “Save Our Heritage”, yang menggambarkan rekaman-rekaman beku tentang kondisi fisik dan cuplikan nyata perihal bangunan Art Deco di Tanah Air. Pameran ini setidaknya dapat menciptakan jejak kecil berupa arsip visual yang seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi untuk melacak kembali sisa-sisa kejayaan Art Deco di Indonesia serta dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran visual bagi anak-anak generasi kini maupun yang akan datang. Karena walau bagaimanapun cita-cita dan harapan besar yang diusung oleh sebuah bangsa setidaknya dapat dimulai dengan tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dengan cara yang benar. Oleh karena itu kami memiliki harapan bahwa fotografi dapat dijadikan sebagai medium kesadaran bersama bagi masyarakat yang memiliki mata dan hati untuk melihat, merenung dan mengambil sikap demi menghargai karya-karya besar yang telah diciptakan oleh manusia dalam kurun waktu yang panjang, yang telah ditorehkan pada dinding peradaban dunia arsitektur di Bumi Pertiwi yang kita miliki.
*Tulisan ini dibuat sebagai kata pengantar Pameran Fotografi “Save Our Heritage” (Art Deco Building in Indonesia) yang berlangsung dari tanggal 21 November 2011 s/d 30 November 2011 di Grand Royal Panghegar, Jalan Merdeka No 2 Bandung.
Bandung, 13 November 2011
Sang Visioner Visual
Teks : galih sedayu
Program Photo Rendezvous kembali dihadirkan oleh air foto network di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) pada hari kamis tanggal 30 Juni 2011. Photo Rendezvous kali keenam ini digelar berbarengan dengan Pameran Foto “Aku Melihat Indonesia” yang berisikan tentang foto-foto dokumenter salah seorang pemimpin Bangsa Indonesia, Bung Karno. Photo Rendezvous yang merupakan program edukasi fotografi bagi masyarakat umum ini mendatangkan dua orang pembicara yaitu Diah Pitaloka & Yurri Erfansyah. Diah Pitaloka merupakan kurator sekaligus ketua panitia penyelenggara Pameran Foto Bung Karno yang digelar dari tanggal 24 Juni 2011 s/d 30 Juni 2011 di GIM dalam rangka memperingati bulan Bung Karno. Sedangkan Yurri Erfansyah adalah seorang jurnalis atau wartawan foto yang saat ini bekerja di media online, “Bandungnewsphoto”.
Secara umum Diah Pitaloka telah mengkurasi foto-foto tentang Bung Karno yang jumlahnya sangat banyak sehingga terpilih 101 buah foto untuk dipamerkan. Foto-foto ini ada yang didapatnya dari IPPHOS, Koleksi DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Keluarga Megawati Soekarno Putri, maupun orang-orang yang menyumbangkan album foto tentang Bung Karno secara Sukarela. Hanya saja pada saat proses pemilihan foto tersebut, beberapa diantaranya telah rusak sehingga sulit direstorasi. Diah pun akhirnya mau tidak mau membaca buku-buku, literatur & sejarah perjalanan tentang Bung Karno agar pemilihan foto tersebut berkaitan dengan realitas sejarah yang telah ditulis. Faktor momentum menjadi salah satu kunci bagi Diah dalam memilih gambar-gambar tersebut.
Akhirnya foto-foto yang dipamerkan pun sangat beragam. Di sana banyak terlihat foto-foto Bung Karno yang bersanding dengan para tokoh dunia seperti Fidel Castro, Che Guevara & Mao-Tse Tung. Selain itu ada pula foto Bung Karno yang terlihat akrab dengan masyarakat kecil. Ada cerita yang menarik yaitu foto Bung Karno yang tengah menyalami Jenderal Sudirman. Menurut yang Diah baca dari berbagai sumber, banyak yang menyebutkan bahwa pada saat itu Bung Karno meminta adegan ia bersalaman dengan Jenderal Sudirman tersebut diulang. Mungkin Bung Karno merasa bahwa foto yang diambil sebelumnya kurang sempurna di mata beliau. Jadi pada intinya adalah Bung Karno sangat memperhatikan hal-hal kecil termasuk yang menyangkut citra visual tentang dirinya. Karena Ia sadar benar bahwa citra visual itu (foto) nantinya akan sangat berharga dan menjadi sejarah yang tak terlupakan di kemudian hari. Cerita ini tentunya mengingatkan kita pada karya foto Joe Rosenthal yang dibuat tahun 1945, yaitu foto para serdadu Amerika yang tengah mengibarkan bendera AS di bukit surobachi. Menurut sejarah, adegan foto inipun sebenarnya diulang agar kelihatan lebih heroik dan sempurna.
Yurri Erfansyah berbicara tentang konteks foto dokumenter jaman dahulu dibandingkan dengan masa kini. Yurri berpendapat seharusnya di era sekarang ini, para fotografer semakin dituntut untuk menciptakan karya-karya foto yang semakin berkualitas dibandingkan dengan jaman dahulu yang sarat dengan keterbatasan teknologi. Selain itu Yurri menampilkan beberapa karya foto dokumenter yang ia buat dari mulai demo, ariel peter pan, gubernur jabar sampai foto bencana.
Pada intinya, saat ini mesti dibangun kesadaran bersama untuk menyelamatkan karya-karya foto masa lalu terutama yang erat kaitannya dengan sejarah bangsa kita. Karena banyak sekali karya foto tentang bangsa kita yang disimpan secara apik & teratur oleh bangsa lain, bukan oleh bangsa kita. Tentunya juga perlu dibarengi dengan mengarsipkan karya foto masa kini sebagai kajian sejarah untuk masa yang akan datang. Hingga akhirnya bangsa kita memiliki “identitas visual” agar Bangsa Indonesia selalu tercatat di dalam sejarah peradaban dunia.
Bandung, 4 Juli 2011
Imaji & Suguhan Visual Untuk Alam
Teks : galih sedayu
Berbagai upaya agaknya kerap dilakukan oleh sebagian umat manusia di bumi untuk terus menyuarakan kepedulian mereka terhadap alam semesta ini. Salah satunya adalah dengan menggunakan media visual sebagai jembatan yang sedikit banyak mempermudah pesan, harapan, dan dogma yang ingin disampaikan oleh sang kreator visual. Sebagai contoh, sejarah pun mencatat hadirnya beberapa karya film yang sarat dengan muatan dan ajakan untuk menghargai alam. Sebut saja film An Inconvenient Truth yang dirilis pada tahun 2006 yang disutradarai oleh Davis Guggenhein. Film dokumenter yang berisikan tentang kampanye wakil Presiden Amerika Serikat yang bernama Al Gore ini menyerukan tentang isu Global Warming atau Pemanasan Global kepada segenap masyarakat dunia. Alhasil AL Gore pun dianugerahI sebuah Penghargaan berupa Nobel Perdamaian untuk usahanya didalam membangun dan menyebar luaskan pengetahuan mengenai perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia serta upayanya untuk melawan perubahan tersebut. Lalu ada pula Film bergenre dokumenter lainnya berjudul Home karya Sutradara & Fotografer Aerial asal Perancis, Yann Arthus-Bertrand yang dirilis tahun 2009. Film ini pun mengisahkan tentang isu pelestarian alam yaitu Planet Bumi yang ditempati oleh manusia sebagai spesies yang paling berperan untuk mengubah bumi di masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Film-film ini setidaknya mampu untuk menampilkan berbagai fakta tentang bumi dengan segala isinya serta menyiratkan sebuah niatan positif untuk lebih memperhatikan isu-isu alam & lingkungan.
Fotografi dengan segala daya pikatnya secara visual, menjadi sebuah cara lain untuk bercerita tentang isu-isu yang berkaitan dengan alam. Karenanya fotografi dianggap mampu untuk membentuk sebuah citra yang relatif umum & sederhana. Bahasa visual yang diciptakan oleh fotografi ini tidak serta merta menjadi rumit tetapi sanggup menghadirkan sebuah dialog yang terus mengalir. Bahkan sejumlah imajinasi yang dimiliki oleh para pelaku kreatif pun dapat disuguhkan ke dalam sebuah karya kreatif lainnya melalui unsur-unsur fotografi tersebut. Salah satunya adalah karya Digital Imaging. Sebab itu pula dewasa ini karya Fotografi & Digital Imaging memiliki keterkaitan yang erat antara satu dengan yang lainnya terutama dalam hal yang menyangkut sebuah proses kreatif.
Untuk itulah Teh Kotak sebagai sebuah produk minuman segar yang berasal dari pucuk teh pilihan Alam Indonesia, menginisiasi sebuah program yang bertajuk “Tribute To Nature”. Program ini merupakan sebuah intrepretasi nilai ‘hayati’ dan ‘kebaikan dari & untuk alam’ yang dibalut melalui sebuah konsep universal yang diusung Teh Kotak. Tribute to Nature ini merupakan rangkaian program yang terdiri dari Kompetisi Fotografi & Digital Imaging, dan ditutup oleh Pameran Fotografi. Kompetisi yang terdiri dari dua kategori ini (Fotografi & Digital Imaging) telah berlangsung sejak awal bulan januari 2011, dengan batas akhir pengiriman karya pada tanggal 9 Maret 2011. Penjurian kompetisi ini pun telah dilaksanakan dengan lancar pada tanggal 18-19 Maret 2011 di Kota Bandung. Adapun Dewan Juri kompetisi ini terdiri dari Achmad Sadikin (Fotografer, Desainer Grafis & Praktisi Digital Imaging), Adithya Zen (Fotografer & Praktisi Digital Imaging), Dudi Sugandi (Pewarta Foto, & Redaktur Foto Harian Umum Pikiran Rakyat), Ferry Ardianto (Fotografer & Pengajar Fotografi), dan Galih Sedayu (Fotografer, Pengajar & Pendiri air foto network). Sebanyak 359 peserta dari seluruh Indonesia (Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi & Papua) mengirimkan karya terbaiknya untuk diikutsertakan kedalam kompetisi ini. Jumlah foto yang masuk ke panitia sebanyak 1068 karya. Dari 1068 karya tersebut, para dewan juri kemudian memilih 30 buah karya foto yang menjadi finalis kompetisi ini. Dan untuk selanjutnya, dipilih 5 orang pemenang dari masing-masing kategori kompetisi (satu orang Juara ke-1,2,3 & dua orang juara harapan).
Akhirnya program Tribute To Nature ini akan dipertanggung jawabkan kepada masyarakat luas melalui sebuah suguhan Pameran karya fotografi & Digital Imaging. Pameran ini merupakan kumpulan karya terbaik dari para peserta kompetisi se-Indonesia yang telah bertarung dengan menampilkan ide & imajinasi masing-masing melalui kreativitas visual. Untuk itu kami ucapkan selamat kepada para pemenang kompetisi dan juga kepada para partisipan program Tribute To Nature. Karena atas kolaborasi yang terjalin di antara kita jua lah, program ini dapat terealisasi dengan baik. Kami pun mohon maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan program Tribute To Nature ini. Dengan senang hati, kami menanti saran & masukan dari para sahabat agar menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita semua tentunya. Tetaplah bergerak dalam kreativitas yang tak pernah mati.
Bandung, 27 April 2011
(c) Kristo Joelyanta – Bali
(c) Nur Efendi – Bali
(c) Diver Dantika – Bandung
copyright (c) 2011
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Kassian Cephas : Sang Cahaya Sejarah Fotografi Tanah Air
Teks : galih sedayu
Kassian Cephas. Tidak bisa dipungkiri bahwa nama besar tersebut erat kaitannya dengan keberadaan dan identitas fotografi indonesia. Cephas banyak disebut sebagai pelopor pemotret pribumi yang pertama di indonesia. Terlahir dengan nama Kasihan di Kota Yogyakarta pada tanggal 15 Januari 1845, merupakan putra dari seorang ayah yang bernama Kartodrono dan seorang ibu yang bernama Minah. Tetapi beberapa literatur menyebutkan bahwa Cephas merupakan anak asli orang belanda yang bernama Frederik Bernard Franciscus Schalk dan lahir pada tanggal 15 Februari 1844. Setelah masuk kristen protestan dan dibaptis pada tanggal 27 Desember 1860 di sebuah gereja di Kota Purworejo, nama Kasihan berubah menjadi Kassian Cephas. Nama “Cephas” tersebut merupakan nama baptis yang sama artinya dengan Petrus dalam bahasa indonesia.
Cephas belajar fotografi untuk pertama kalinya kepada seorang fotografer dan pelukis yang bernama Isodore Van Kinsbergen di Jawa Tengah poda kurun waktu 1863-1875. Selain Kinsbergen, Cephas pun sempat berguru kepada Simon Willem Camerik, seorang fotografer dan pelukis yang kerap mendapatkan tugas memotret kraton Yogyakarta dari Sultan Hamengkubuwono VII. Pada tahun 1870 ketika Camerik meninggalkan Yogyakarta, Cephas diberi amanat oleh Sultan Hamengkubuwono VII sebagai fotografer dan pelukis resmi kraton Yogyakarta. Karya foto pertama Cephas menggambarkan obyek Candi Borobudur yang dibuat pada tahun 1872.
Cephas memiliki sebuah studio foto di daerah Loji Kecil yang sekarang letaknya berada di Jalan Mayor Suryotomo dekat Sungai Code di Jawa Tengah. Cephas pun mempunyai seorang asisten foto yang bernama Damoen. Nama Cephas semakin bersinar ketika Isaac Groneman yaitu seorang dokter resmi sultan asal belanda memujinya di sebuah artikel yang ia tulis untuk untuk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Lembaga Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia) pada tahun 1884. Kemudian Cephas bergabung dengan sebuah perkumpulan yang didirikan oleh Isaac Groneman dan J.W. Ijzerman mendirikan Vereeniging voor Oudheid-, Land,- Taal- en Volskenkunde te Yogjakarta (Union for Archeology, Geography, Language and Etnography of Yogyakarta) pada tahun 1885 ( yang selanjutnya disebut Vereeniging voor Oudheid). Karir Cephas pun semakin meningkat ketika ia bergabung dengan perkumpulan tersebut. Terbukti ketika karya-karya foto Cephas masuk ke dalam dua buah buku yang dibuat oleh Isaac Groneman, In den Kedaton te Jogjakarta dan De garebeg’s te Ngayogyakarta dan diterbitkan oleh penerbit komersial Brill di kota Leiden pada tahun 1888. In den Kedaton berisi tulisan dan gambar collotypes tarian tradisional Jawa. Sedangkan De garebeg’s berisi tulisan dan gambar upacara Garebeg. Semua gambar foto collotype dibuat Chepas atas ijin dari Sultan Hamengkubuwono VII. Kompilasi karya Cephas pun kemudian dijadikan souvenir bagi kaum elit eropa yang akan pulang ke negaranya serta kaum pejabat baru belanda yang mulai bertugas di Kota Yogyakarta.
Pada tahun 1889-1890 Pemerintah Hindia Belanda menunjuk Cephas untuk membuat foto tentang situs-situs Hindu-Jawa Kuno di Jawa Tengah. Dimana Candi Borubudur merupakan salah satu obyek foto situs tersebut setelah penemuan dasar tersembunyi yang memuat relief Karmavibhanga pada tahun 1885 oleh J.W. Ijzerman. Setelah berakhirnya proyek pengangkatan relief Candi Borobudur di akhir tahun 1891, jumlah foto yang dihasilkan Chepas adalah 164 foto dasar tersembunyi, 160 foto relief dan 4 foto situs Borobudur. Pada saat yang bersamaan, Cephas memperoleh status gelijkgesteld met Europanen (sejajar dengan orang Eropa) untuk dirinya dan kedua anaknya, Sem dan Fares dari Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1892 Chepas diangkat sebagai anggota luar biasa Lembaga Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia. Cephas pun pernah mendapat kesempatan untuk memotret kunjungan Raja Rama V (Chulalongkorn) dari Thailand ketika raja tersebut menyambangi Yogyakarta pada tahun 1896. Salah satu jejak karya Cephas yang lain adalah Buku Wajang orang Pregiwa yang dibuat oleh Sultan Hamengkubuwono VII untuk kemudian diberikan kepada Ratu Wilhelmina dan Pangeran Hendrik dari Mecklenburg-Schwerin sebagai hadiah pernikahan mereka berdua.
Pada saat Cephas berumur 60 tahun, beliau mulai pensiun dari bisnis fotografi yang digelutinya. Dimana Sem, putra Cephas lah yang meneruskan karirnya di dunia fotografi. Tanggal 16 November 1912 menjadi hari yang bersejarah. Kassian Cephas meninggal dunia setelah mengalami sakit yang berkepanjangan. Cephas dimakamkan di Kuburan Sasanalaya yang terletak antara pasar Beringharjo dan Loji kecil. Begitulah sekelumit episode singkat tentang kehidupan Kassian Cephas, seorang pahlawan fotografi indonesia yang menjadi legenda. Yang ironisnya kadang dilupakan oleh sebagian individu yang menyebut dirinya fotografer indonesia. Walaubagaimanapun nama Kassian Cephas harus terus tercatat di dalam lembaran sejarah fotografi indonesia. Seorang tokoh yang begitu banyak menghadirkan jejak karyanya seiring dengan sejarah perkembangan bangsa indonesia. Agar menjadi bagi kita sebuah kisah yang terus menyulut api semangat dan menanamkan pohon inspirasi tidak hanya bagi para pewarta cahaya melainkan juga bagi sebuah bangsa yang merdeka.
Bandung, 27 November 2010
Sumber Pustaka :
* Groeneveld, Anneke. (ed.). 1989. Toekang Potret; 100 Jaar Fotografie in Nederlandsch Indie 1839-1939. Amsterdam: Fragment.
* Knaap, Gerit. 1999. Chepas, Yogyakarta; Photography in the service of Sultan. Leiden: KITLV Press.
Kassian Cephas, 1905 (Courtesy P.Cephas)
Circa 1890. KITLV 40154; 11×16 cm ; albumen print
Tittle Page of De garebeg’s
Cover of the Wajang orang Pergiwa
copyright (c) writting by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Jazz & Pencitraan
Teks : galih sedayu
Membaca sejarah kehadiran musik jazz di dunia, tentunya seperti mendengar berbagai penggal cerita yang agak sulit bagi kita untuk mengetahui mana cerita yang sebenarnya. Karena banyak sekali sekelumit kisah tentang awal musik jazz. Salah satunya adalah Buddy Bolden. Seorang pemilik kedai cukur rambut di New Orleans, dapat dikaitkan dengan sejarah keberadaan musik jazz di dunia. Dimana sekitar tahun 1891, salah satu orang yang dipercaya sebagai legenda jazz ini meniupkan cornet-nya (sejenis alat musik tiup mirip terompet) sebagai pertanda dikumandangkannya musik jazz ke seluruh antero jagat. Meskipun sejarah mengatakan bahwa latar belakang kehadiran musik jazz sedikit banyak dipengaruhi berbagai musik seperti musik spiritual, cakewalks, ragtime dan blues. Musik jazz pun menjadi semakin menarik karena beberapa sejarah mengatakan bahwa asal kata “jazz” berawal dari sebuah istilah vulgar yang berkaitan dengan aksi seksual. Sebagian irama musik jazz pun identik dengan rumah-rumah bordil dengan para wanita penghuninya.
Fotografi yang dilahirkan ke jagat raya sejak tahun 1839 oleh Louis Jacques Mande Daguerre, setidaknya dapat menaruh harapan khususnya pada catatan perkembangan sejarah musik jazz itu sendiri. Setidaknya sebagai catatan visual dan media informasi yang gampang dicerna bagi komunitas jazz. Misalnya saja sebagai bahan untuk melacak citra foto pertama tentang jazz di dunia. Memang sulit untuk mengatakan karya foto mana yang menjadi citra pertama di dalam dunia musik jazz. Tetapi bukan tidak mungkin bahwa kita dapat melacaknya dari karya-karya foto para fotografer jazz dunia semisal William Gottlieb yang mulai memotret musisi jazz ternama seperti Duke Ellington, Louis Armstrong, Frank Sinatra, Dizzy Gillespie dan Billie Holiday sejak tahun 1938. Lalu ada nama Herman Leonard yang banyak memotret tokoh-tokoh jazz seperti Charlie Parker, Sarah Vaughan, Lena Horne, Thelonius dari tahun 1940. Atau William Claxton yang mulai berkarya merekam aksi para musisi jazz legendaris seperti Chet Baker, Miles Davis, Nat King Cole, Joe Williams, Dinah Washington sejak tahun 1950. Tentunya dibutuhkan penelitian yang serius untuk melacak sejarah tersebut.
Barangkali dengan paparan itu pula ada sebuah gagasan untuk mencatat perkembangan sejarah musik jazz di indonesia. Dimana fotografi dapat menjadi sebuah medium untuk menghadirkan kembali citra tentang romantika dan perjalanan musik jazz. Seperti yang disuguhkan oleh Mia Damayanti Sjahir dalam Pameran Fotonya yang bertajuk Jazz – Poster & Post It di Potluck Coffee Bar & Library dari tanggal 11 Juli 2010 s/d 7 Agustus 2010. Pameran foto ini dikuratori oleh Dwi Cahya Yuniman, seorang pendiri klab jazz plus aktivitis jazz asal Kota Bandung. Uniknya, foto-foto yang dipamerkan tersebut tidak hanya mengisi tembok-tembok kosong yang disoroti lampu belaka. Melainkan ada beberapa foto yang sengaja ditampilkan untuk mengisi dan menjadi bagian estetika perabotan di tempat pameran itu digelar. Toples, bingkai kecil di rak buku, tempat cashier, dan sebagainya menjadi aksen bagi keutuhan pameran tersebut. Tentunya kita semua berharap bahwa pada suatu saat nanti, karya-karya foto tentang jazz ini dapat menjadi sebuah buku yang dapat meninggalkan jejak karya dan dapat dibagikan bagi masyarakat agar peradaban musik jazz terus mengalir seiring dengan dunia yang terus berputar tanpa henti.
*Tulisan ini diberikan pada acara diskusi kecil bersama Syaharani (Musisi Jazz), Dwi Cahya Yuniman (Klab Jazz) dan Mia Damayanti Sjahir pada tanggal 12 Juli 2010 yang merupakan rangkaian Pameran Foto “Jazz-Poster and Post It” karya Mia Damayanti Sjahir yang diadakan oleh Klab Jazz pada tanggal 11 Juli 2010 s/d 7 Agustus 2010 di Potluck Coffee Bar & Library.
@Bandung, 13 Juli 2010
Sekilas Foto Cerita
Teks : galih sedayu
Di dalam dunia fotografi kita telah banyak mengenal istilah karya Single Photo (foto tunggal). Pada umumnya telah banyak para pemotret yang menghasilkan karya Single Photo tersebut misalnya saja foto seorang bocah kecil, sebuah bangunan tua ataupun sekilas pemandangan pagi. Ada istilah lain tentang karya foto dalam dunia fotografi yang berbeda dengan karya foto tunggal yaitu Photo Story. Ada juga yang menyebutnya dengan istilah Picture Story atau Photo Essay. Apa itu sebenarnya Photo Story?
Photo Story atau Foto Cerita adalah kumpulan karya foto yang dibuat dengan tujuan untuk menyampaikan sebuah cerita dari suatu tempat, peristiwa ataupun sebuah isu yang ada. Dimana foto-foto tersebut merepresentasikan karakter serta menyuguhkan emosi bagi yang melihatnya, berdasarkan sebuah konsep yang menggabungkan antara seni dan jurnalisme. Semua karya Photo Story merupakan kumpulan karya foto, tetapi tidak semua kumpulan karya foto merupakan karya Photo Story.
Ada dua Jenis Photo Story. Yang pertama adalah Foto Naratif yaitu kumpulan karya foto berdasarkan urutan dari sebuah kejadian atau peristiwa. Misalnya foto-foto tentang seorang ibu penjual jamu dimana si pemotret mengikuti dan merekam segala aktivitas ibu penjual jamu tersebut dari mulai mempersiapkan dagangan jamunya di rumah, berangkat keluar rumah untuk menjajakan jamunya hingga pulang kembali ke rumah. Jenis Photo Story yang kedua adalah Foto Tematik yaitu kumpulan karya foto yang memfokuskan pada sebuah tema sentral dimana foto-foto yang diambil tidak melulu mentitik-fokuskan pada sebuah tempat ataupun peristiwa tertentu. Tetapi foto-foto tersebut relevan dengan tema yang diambil misalnya isu pendidikan yang rendah, pengentasan kemiskinan, polusi pabrik dan lain sebagainya.
Adapun langkah- langkah yang dilakukan untuk membuat sebuah Photo Story yaitu:
-
Tentukan sebuah topik atau tema
-
Lakukan penelitian kecil
-
Membuat sebuah cerita yang nyata
-
Mencari emosi & karakter
-
Eksekusi foto
Eksekusi Photo Story yang baik yaitu foto-foto yang bercerita dimana foto-foto tersebut dapat berdiri sendiri, foto-foto dengan berbagai penyajian (sudut lebar, potret, detail), foto-foto yang memiliki urutan foto yang baik (menarik, logis & efektif bercerita), foto-foto yang memiliki Informasi & Emosi (mampu menyampaikan sebuah pesan yang baik) dan foto-foto yang menyertakan caption atau keterangan tentang foto.
Dalam proses pemilihan & penyusunan urutan Photo Story ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:
-
The Lead Photo, yaitu Foto yang paling menonjol dari seluruh rangkaian foto.
-
The Scene, yaitu Foto yang menggambarkan suasana atau tempat dari tema sentral.
-
The Portraits, yaitu Foto potret yang dramatik & menggugah emosi.
-
The Details Photo, yaitu Foto yang terfokus pada detail sebuah obyek misalnya bangunan, wajah ataupun benda.
-
The Semiotic Photo, yaitu Foto sederhana yang memiliki nilai simbolis dan makna tertentu dari sebuah cerita
-
The Signature Photo, yaitu Foto yang menangkap sebuah kesimpulan dari sebuah cerita.
-
The Clincher Photo, yaitu Foto yang menentukan akhir dari sebuah cerita berupa harapan, kebahagiaan atau sesuatu yang membangkitkan inspirasi.
Ketika kita membuat Photo Story ada beberapa hal lain yang dapat mempengaruhi hasil karya diantaranya adalah penguasaan teknis pemotretan, wawasan & kreativitas pemotret, kejelian pemotret dalam merekam obyek foto, dan totalitas pemotret. Sehingga ketika kita memiliki semua hal itu, niscaya foto-foto yang telah kita hasilkan akan mengeluarkan sebuah citra yang utuh dari peristiswa atau isu yang kita pilih.
Akhir kata semoga segala citraan yang dihadirkan kembali oleh mata fotografi kita dapat menjadi adegan-adegan beku bersejarah yang terus dikenang dan terus dibagikan bagi kelangsungan peradaban cahaya juga bagi kelangsungan hidup manusia sampai akhir hayatnya.
Bandung, 2 Juli 2010






