I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘Bandung

Benua Komunitas Kota Bandung

leave a comment »

Tulisan : galih sedayu

Society as a whole is mainly responsible. And society as whole should pay the cost”
– Henry S. Churchill (The City is the People) 

Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is ge-bouwd!” (Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota!), begitulah sabda yang keluar dari mulut seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang bernama Daendels, tatkala ia menyambangi sebuah dusun yang tadinya sepi, namun kini sim salabim ala kadabra menjadi sebuah kota nan ramai yang bernama Bandung. Kejadian bersejarah ini tepatnya terjadi pada tahun 1810, saat Daendels yang menjadi penguasa nusantara kala itu sedang berjalan kaki dengan ditemani oleh Bupati Bandung Wiranatakusumah II. Tongkat kayu yang ditancapkan oleh seorang Daendels seraya menyerukan perintah di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Tugu Nol Kilometer di Jalan Asia Afrika Bandung, seolah menjadi sebuah simbol kelahiran dan saksi bisu berdiri tegaknya Kota Bandung. Hingga kini, perubahan pun selalu hadir dalam raga Kota Bandung. Bahkan sepertinya telah dinubuatkan oleh para sesepuh sunda sesuai dengan “cacandran” (tanda-tanda jaman) dalam “Uga Bandung” (ramalan bandung) yang menyebutkan bahwa “Bandung heurin ku tangtung(bandung padat penduduknya). Namun yang menarik selama perkembangannya, predikat yang melekat erat dalam tubuh Kota Bandung adalah sebagai Kota Kreatif. Bila menelusuri sejarahnya, ternyata citra kota kreatif tersebut tidak bisa dilepaskan dari kekuatan komunitas yang menjadikan Kota Bandung bisa seperti sekarang ini.

Perubahan tentunya menggerakkan kekuatan warga yang semula diam. Setelah tetuah Daendels, pembangunan Kota Bandung terus berlanjut dan roda perekonomian pun semakin berputar. Apalagi setelah jalur kereta api singgah di bandung pada tahun 1884, sejumlah toko terus menghuni di sepanjang Groote-Postweg (Jalan Asia Afrika dan Jalan Sudirman sekarang). Dari mulai Toko “De Vries”, Toko “Oey Boen”, Toko “Ziekel”, Toko “Salomon & Son”, Toko “Thiem” dan Toko “Baqiu”. Nama Kota Bandung pun semakin harum tatkala menjadi tuan rumah kehormatan sebuah acara bergengsi yakni “Kongres Pengusaha Gula” seluruh Hindia Belanda pada tahun 1896. Sehingga para delegasi kongres tersebut kala itu menjuluki bandung dengan sebutan “De Bloem der Indische Bergsteden” (Bunganya Kota Pegunungan di Hindia Belanda). Barangkali itulah sebabnya muncul istilah “Bandung Kota Kembang” yang masih dipuja hingga kini.

Pada akhir abad XIX, Kota Bandung diatur oleh dua orang nahkoda. Untuk roda pemerintahan yang menyangkut kepentingan warga Kota Bandung dari bangsa pribumi ditangani oleh seorang Bupati atau “Dalem” Bandung. Sedangkan roda pemerintahan yang menyangkut kepentingan bangsa Belanda dan Timur Asing (Cina, Arab & India) ditangani oleh seorang Asisten Residen Priangan yang kala itu dijabat oleh Tuan Pieter Sijthoff. Pada tahun 1898, Pieter Sijthoff mengajak warga kotanya untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang bernama “Vereeniging tot Nut van Bandoeng en Omstreken” (Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya). Berkat bantuan perkumpulan ini, pembangunan Kota Bandung di bidang pendidikan, sosial, kebudayaan mulai dilaksanakan dengan tujuan agar dapat meningkatkan kesejahteraan Kota Bandung yang pada sekitar tahun 1900 hanya memiliki penduduk sekitar 28.963 jiwa. Sehingga dalam perjalanan panjangnya Kota Bandung memperoleh statusnya sebagai Gemeente (Kotapraja) pada tanggal 1 April 1906.

Meski setelah itu Kota Bandung dikelola oleh Gemeente Bandung, namun Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya masih tetap membantu dan mendampingi pemerintah kota. Hanya saja namanya berubah menjadi “Comite tot Behartiging van Bandoeng’s Belangen” (Komite Guna Mengurus Kepentingan Kota Bandung). Perlahan namun pasti, ternyata perkumpulan ini berhasil menumbuhkan Bandung dari “een kleine bergdessa” (sebuah desa pegunungan kecil), lalu menjadi “kottaje” (kota mungil) dan kemudian menjadi kota besar dengan julukan “Parijs van Java”. Pada kurun waktu sekitar tahun 1920, “Komite Guna Mengurus Kepentingan Kota Bandung” telah mampu melepaskan diri dari pemerintah kota dan berdiri mandiri sebagai perkumpulan swasta dengan nama “Bandoeng Vooruit” (Bandung Maju). Organisasi Bandung Maju ini bermitra dengan pemerintah demi membangun kotanya. Dan seperti layaknya sebuah kota, perayaan selalu menjadi simbol dari hasil pembangunan kota. Mulai tahun 1920, Kota Bandung memiliki perayaan pesta tahunan “Jaarbeurs” (Bursa Tahunan) di setiap bulan Juni-Juli yang berupa atraksi wisata, pameran produk industri maupun pertanian, festival seni budaya dari seluruh penjuru nusantara.

Pada tahun 1923, ada sebuah terobosan baru di bidang teknologi komunikasi dimana orang bisa melakukan pembicaraan dengan Radio Telefoni. Sehingga seorang Belanda di Bandung bisa langsung mengobrol dengan sanak saudaranya di Holland. Tentunya kemajuan Kota Bandung pun semakin pesat dengan adanya penemuan tersebut. Namun yang menariknya sebenarnya muncul sebuah kisah yang mengharukan pasca penemuan radio telfoni tersebut. Alkisah ada seorang ibu tua di Belanda yang sangat merindukan putra tunggalnya yang sedang berada di Indonesia (Nusantara). Setelah berhasil menabung selama setahun, ibu tua tersebut akhirnya mampu membayar ongkos percakapan radio telefoni itu selama 3 menit. Saat tersambung dengan anaknya, ibu tua tersebut tiba-tiba terdiam terpaku dan hanya sempat mengucap “Anakku sayang, aku amat rindu padamu”. Dan kemudian sambungan telefon itu pun terputus karena waktunya telah habis. Kisah inilah yang mengilhami seorang komponis untuk menciptakan lagu yang berjudul “Hallo Bandoeng” yang dinyanyikan oleh Willy Derby penyanyi terkenal jaman itu.

Sejak tanggal 1 Oktober 1926, Kota Bandung tidak lagi dipimpin oleh seorang Asisten Residen karena perubahan status Kota Bandung dari “Gemeente” menjadi “Stadsgemeente” berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pimpinan kota akhirnya dipegang oleh seorang “Burgemeester” (Walikota). Tercatat sejumlah nama walikota Bandoeng Tempo Doeloe yang pernah memimpin yakni B. Coops, S.A. Rietsma (Pjs.), Ir. J. E. A. von Wolzogen Kuhr, Mr. J.M. Wesselink dan N. Beets. Saat N. Beets menjadi Walikota Bandung, pada tahun 1937 ia melakukan kampanye yang masif untuk mempromosikan Kota Bandung. Saat itu Walikota N. Beets berseru kira-kira seperti ini “Wahai warga Bandung, bantulah untuk memajukan kota kita. Seluruh warga harus mau ikut membantu dan berpartisipasi dalam mempromosikan Bandung. Ada berbagai macam cara antara lain dengan menceritakan Kota Bandung melalui surat dan tulisan. Agar setiap saat, semua orang yang datang selalu mengingat akan kecantikan alam Kota Bandung yang sejuk, permai dan menakjubkan”.

Setelah itu komunitas Bandung Maju pun turut dan gencar melakukan promosi Kota Bandung hingga ke seluruh pelosok nusantara bahkan manca negara melalui majalah “Mooi Bandoeng” (Bandung Permai). Makanya tak heran bila pada tahun 1938, Perdana Menteri Perancis George Clemenceau serta bintang film Charlie Chaplin dan Paulette Goddard pernah menyambangi Kota Bandung. Bahkan dalam kurun waktu tersebut, sejarah mencatat nama-nama artis, budayawan, ilmuwan, negarawan dam musikus kelas dunia seperti Godowsky, Vera Janacopoulus, Arthur Zimbalist, Paul Weingarten, Kindler, Tansman, Friedmann, Brailowski, Smeterlin, Feuerstein, Szigeti, Jose Iturbi, Heifetz, Rubinstein, Hubermann, Platigorski, Slobotskaja, Segovia, Lili Krauss, Szymon Goldberg, Nicolai Orloff, Marechal, Eugina Wellerson, Lola Bobesco, de Sakharofs, Chenkine, Anna el Tour dan Ruth Draper. Pada tahun 1941, tercatat ada sekitar 200.000 wisatawan yang mengunjungi Kota Bandung yang saat itu populasi penduduknya sekitar 226.877 jiwa. Sebanyak lima juta gulden pun diraup oleh bandung pada masa itu hanya dari sektor pariwisata saja. Karenanya, banyak ungkapan yang lahir pada zaman gerakan komunitas Bandung Maju ini. Misalnya saja ungkapan Kota Bandung yang berbunyi Bandoeng is het paradijs der aardsche schoonen. Daarom is het goed daar te wonen” (Bandung adalah sorga permai di atas dunia. Itulah sebabnya, baik untuk bermukim di sana) serta ungkapan “Don’t come to Bandoeng, if you left a wife at home”. Dari sejarah singkat perihal perkembangan Kota Bandung di masa kolonial ini, kita dapat melihat bagaimana sebenarnya peran berharga sebuah komunitas atau perkumpulan yang ditunjukkan oleh “Bandoeng Vooruit” (Bandung Maju) dalam membangun kotanya sehingga pada akhirnya secara tidak langsung mereka ikut berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi Kota Bandung.

Lain dulu lain sekarang tentunya bila melihat wajah Kota Bandung. Namun sesungguhnya ada yang tidak pernah berubah sejak dulu bila berbicara perihal Kota Bandung. Ialah kehadiran komunitas yang selalu ada dalam menggerakkan Kota Bandung. Di era milenium kedua, Kota Bandung memiliki segudang komunitas dengan latar belakang dan disiplin yang berbeda. Tentunya sangat lah sulit untuk memetakan satu persatu apa saja komunitas yang mendiami Bandung saat ini. Namun bila kita melakukan pengamatan dari simpul komunitas-komunitas tersebut, barangkali nama Bandung Creative City Forum (BCCF) bisa menjadi salah satu acuan pemetaan komunitas Bandung. BCCF sendiri lahir pada akhir tahun 2008 dan merupakan perkumpulan komunitas pertama di Indonesia yang mengusung semangat kreativitas demi membangun kotanya. Lewat sebuah festival kota yang bertajuk “Helarfest”, berbagai komunitas yang tadinya berjalan masing-masing kini mulai bergandengan tangan dan bersatu. Barangkali benarlah adanya pepatah yang mengatakan bahwa “sebatang anak panah akan mudah dipatahkan, tetapi tidak demikian halnya apabila mereka terikat erat menjadi satu”. Setelah Helarfest tersebut, geliat perkembangan komunitas di Kota Bandung pun semakin semarak.

Karena prinsip 3C (Conection, Collaboration, Commerce) adalah kata kunci yang dipercaya ampuh untuk membangun Kota Bandung, maka pola sinergitas Quadro Helix (Academic, Goverment, Bussiness, Community) diterapkan oleh BCCF dalam menjalankan semua programnya. Tercatat sudah nama-nama komunitas, jejaring & pelaku kreatif baik yang hanya bersinggungan maupun telah berkolaborasi secara nyata seperti Agritektur, Air Foto Network, Airplane Systm, Aisec Bandung, Akademi Berbagi Bandung, Amygdala, Bandung Beatbox, Bandung Berkebun, Bandung Blues Society, Bandung Cycle Chic, Bandung Foodtruck, Bandung High Tech Valley, Batik Fractal, Bandung Heritage, Bandung Hobbies, Bandung Kayak Community, Bandung Street Dancer, Barudak Urban Light (BULB) Bandung, Bengkel Kostum, Bidik Photography, Bike Bdg, Bikers Brotherhood, Boeminini, Btari, Culindra, C-Gen, Common Room, Conture, Design Hub, Doku, Ecoethno, Embarra Film, Epik, Fight Bdg, Forum Kabaret Bandung, FOWAB, Glintz, Growbox, Happy Farmer (Supported by JKMP4), House The House, Indorunners Bandung, J-Batik, Jendela Ide, Labo Mori, Kampung Kreatif Cicadas, Kampung Kreatif Cicukang, Kampung Kreatif Dago Pojok, Kampung Kreatif Leuwianyar, Kampung Kreatif Linggawastu, Kampung Kreatif Pasundan, Kampung Kreatif Taman Sari, Kampung Kreatif Pulosari, Karang Taruna Bandung, Keroncong Merah Putih, Komikara, Komunitas Action Figure Bandung, Komunitas Anti Rokok, Komik CAB, Komunitas Cika-Cika, Komunitas Diet Kantong Plastik, Komunitas Diffable Bandung, Kelas Inspirasi Bandung, Komunitas Egrang STSI, Komunitas Hijabers Bandung, Komunitas Hoong, Komunitas Jeprut Bandung, Komunitas Karinding, Komunitas Layar Kita, Komunitas Lempar Pisau (Lempis) Bandung, Komunitas Kuncup Padang Ilalang (KAIL), Komunitas Taboo, Kravity, Kriya Nusantara, Levitasi Hore Bandung, Mahanagari, Mahidara, Media Wave, Ngadu Ide, Parkour Bandung, Pensil Kertas, Perhimpunan Amatir Foto (PAF), Peta Kita, Picu Pacu, Pita, Pori Keramik, ProCodeCG, Riset Indie, Rumah Cemara, Ruang Film Bandung, Rumah Nusantara, Robot Hijau, Sahabat Kota, Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi, Sanggar Origami Indonesia, Sembilan Matahari, Sindikat Kuliner, Studio Keramik 181, Taman Foto Bdg, Taskuni, Tarung Drajat Bandung, Tedx Bandung, Tegep Boots, Tinker Games, Urban Jedi Bandung, Waningadoe, Wanna Be Dancer, Warung Imajinasi, Wayang Tavip, Woodka, YPBB Bandung, Y-Plan Bdg dan Yayasan Pilar Peradaban. Masing-masing komunitas ini tentunya menciptakan sejarah dan menjadikan kitab peradaban tersendiri bagi Kota Bandung.

Banyak jejak yang telah direkam tatkala komunitas kreatif bandung ini bergerak dan berkarya demi memuliakan kotanya. Salah satunya ketika mereka hadir untuk mengaktivasi “Hutan Kota Dunia Babakan Siliwangi” sebagai bagian dari gerakan mengembalikan ruang publik kepada empunya yakni warga bandung. Saat itu, hutan tersebut telah dikelola oleh sebuah perusahaan yang akan segera menyulapnya menjadi kawasan dan ruang-ruang komersil. Alhasil berbagai gempuran melalui cara-cara kreatif pun muncul demi mempertahankan hutan babakan siliwangi tersebut dari keserakahan penguasa. Dari mulai mengelupas aspal jalan & menanaminya dengan pepohonan, mendesain & membangun jembatan gantung (forest walk), membuat sebuah konser musik & permainan laser (lightchestra), hingga membuat mural kolektif di setiap pagar seng yang menutupi hutan kota satu-satunya yang ada di bandung tersebut. Namun akhirnya, perjuangan ini tidaklah sia-sia. Pada tahun 2013, hutan kota dunia babakan siliwangi secara resmi dikembalikan kepada pemerintah kota dan warga bandung.

Jejak lain yakni tatkala komunitas sahabat kota membuat kegiatan yang bertajuk “Riung Gunung” berupa edukasi bagi anak-anak berusia 8 s/d 11 tahun untuk melihat Kota Bandung di masa depan. Sekitar 40 orang anak yang berpartisipasi dalam kegiatan ini diajak untuk berkeliling Kota Bandung selama 6 hari lamanya untuk melihat segala permasalahan yang ada. Mereka mengunjungi pasar tradisional, tempat penampungan sampah, rumah sakit, taman kota, terminal, dan lain-lain. Di hari ke-7 mereka diwajibkan untuk memberikan ide dan solusinya dalam menyelesaikan permasalahan Kota Bandung yang dituangkan melalui maket-maket yang dibuat sendiri. Kemudian maket kreasi anak-anak tersebut dipamerkan di Selasar Sunaryo sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap publik. Mereka pun wajib untuk memperagakan hasil pemetaan masalah berikut solusinya dengan cara “Fun Theory” sembari bermain dalam sebuah pentas di hadapan pengunjung.

Kemudian ada jejak satu lagi yang diinisiasi oleh komunitas “Riset Indie” berupa drama pembajakan angkot bandung. Riset Indie mencanangkan sebuah hari dimana angkot gratis, tertib, aman, nyaman dan tidak ngetem. Angkot Day merupakan bagian dari sebuah proyek penelitian yang bertujuan untuk mencoba mencari alternatif model bisnis industri angkot yang lebih sustainable, agar angkot bisa kembali berjalan baik sehingga mampu menjadi solusi permasalahan Urban Mobility di Kota Bandung. Pada program eksperimen Angkot Day ini, Riset Indie melakukan pengumpulan data melalui kuesioner dan survey kualitatif untuk kemudian diolah sehingga dapat ditindaklanjuti secara lebih permanen. Harapannya bahwa program ini dapat menularkan ide bahwa tatkala manajemen angkot dijalankan dengan baik & tepat, pada akhirnya mampu menghasilkan moda transportasi umum yang nyaman, aman, tertib serta menjadi solusi alternatif kemacetan lalu-lintas di Kota Bandung. Barangkali dalam bahasa sederhananya adalah sebentuk upaya meningkatkan derajat dan memberikan value bagi angkot di Kota Bandung. Kala itu lebih kurang 200 unit angkot dengan jurusan kelapa – dago diberi stiker khusus program Angkot Day. Semua penumpang yang menggunakan angkot jurusan kelapa-dago pada hari itu digratiskan. Namun para penumpang diberikan syarat agar mereka harus tersenyum, ramah, memberhentikan angkot pada tempatnya dan mengisi kuesioner yang diberikan oleh panitia. Pada hari itu pula, supir angkot diwajibkan untuk tidak mengetem, tidak boleh merokok, tidak boleh menyetir ugal-ugalan, serta mesti menghadirkan keramahan kepada para penumpang. Sebagai gantinya, biaya bensin, biaya setoran & biaya tarif angkot akan ditanggung oleh pihak penyelenggara yang baik hati. Inilah sebenarnya gerakan kreatif yang dimiliki oleh komunitas bandung.

Tak heran bila daya komunitas Bandung inipun sempat menyihir para pemimpin untuk bertatap muka langsung dengan mereka karena keingin-tahuannya. Dari mulai Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Menteri Pemuda dan Olah Raga Roy Suryo hingga seorang Presiden Jokowi yang ngebet ingin merasakan energi komunitas bandung tersebut. Beruntung saat ini Bandung dipimpin oleh seorang Walikota yang berasal dari kelompok komunitas kreatif, dimana pada umunya para pemimpin pendahulu sebelumnya merupakan seseorang yang berasal dari kelompok politikus. Ridwan Kamil yang menjabat sebagai Walikota Bandung saat ini (periode 2013-2018) adalah seorang arsitek dan pernah menjabat sebagai ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) di periode tahun 2008-2012. Seorang arsitek tentunya menerapkan pemikiran ini “Dalam merancang sesuatu, berpikirlah dalam konteks yang lebih besar dan terdekat. Kursi dalam sebuah kamar, kamar dalam sebuah rumah, rumah dalam sebuah lingkungan, dan lingkungan dalam sebuah kota”. Karena latar belakang arsitek inilah, tak heran banyak terobosan-terobosan kreatif yang dilakukan olehnya dalam membangun dan mengubah wajah kotanya. Misalnya saja taman-taman kota yang tadinya banyak menganggur, kini mulai dibenahi infrastrukturnya dan diberikan tema-tema tertentu agar lebih menarik bagi warga Kota Bandung untuk kemudian membantu mengaktivasinya. Tercatat ada sejumlah taman kota yang dibenahi dari mulai Taman Alun-Alun Bandung, Taman Film Bandung, Taman Foto Bandung, Taman Jomblo, Taman Kandagapuspa, Taman Lansia, Taman Musik, Taman Persib, Taman Super Hero, Taman Vanda, Pet Park dan Skate Park. Apa yang terjadi setelah taman kota ini dibenahi? Banyak hal tentunya. Sebagai contoh ketika ruang negatif di bawah kolong jembatan pasupati disulap menjadi taman film bandung, taman ini langsung diserbu oleh warga. Bahkan acara nonton bareng (nobar) pun sering digelar bila pemain Persib sedang berlaga. Dari sanalah ekonomi diciptakan. Menurut cerita masyarakat setempat, pendapatan dari parkir motor saja bisa mencapai Rp 3 juta per harinya bila sedang ramai didatangi pengunjung. Regulasi yang diterbitkan oleh pemerintah Kota Bandung seperti dalam hal membenahi pedagang kaki lima (PKL), kemudian regulasi yang mewajibkan denda bagi siapapun warga yang membuang sampah secara sembarangan, tentunya merupakan kebijakan strategis dalam menata Kota Bandung. Karena di saat berbagai infrastruktur Kota Bandung sedang giat-giatnya dibangun, tentunya harus dibarengi pula oleh penerapan kedisplinan warga kota dalam memelihara ruang-ruang fisik yang ada.

Barangkali yang patut dipikirkan oleh pemerintah Kota Bandung saat ini adalah mencari landasan atau dasar sebagai tempat memijakkan langkahnya ke depan. Dalam hal ini pemerintah Kota Bandung mesti mengetahui arah pembangunan yang ingin dicapai melalui sebuah strategi sejarah yang tepat. Seperti halnya Presiden Jokowi membuat sebuah strategi pembangunan poros maritim, karena sesungguhnya sejarah mencatat bahwasanya nenek moyang kita adalah seorang pelaut. Karenanya perekonomian sektor maritim menjadi salah satu upaya yang coba diperjuangkan. Bila melihat sejarah Kota Bandung, sesungguhnya sejak dulu kota ini merupakan destinasi para pelancong dari berbagai pelosok tanah air dan manca negara. Sehingga perekonomian sektor jasa yang erat kaitannya dengan perdagangan dan pariwisata dapat menjadi salah satu yang dapat diandalkan. Sektor jasa ini tentunya bertumpu sangat besar kepada kekuatan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Sebagaimana disebutkan oleh orang bijak bahwa “Harmoni kanak-kanak adalah karunia alam, sedangkan harmoni kedua bersumber dari karya dan budaya jiwa manusia”. Oleh karena itu ide dan pikiran yang dihasilkan oleh sumber daya manusia ini dipercaya dapat menghasilkan sebuah ekonomi lain yang bernama “Ekonomi Kreatif”. Meski sebenarnya, ekonomi kreatif ini masih dianggap seperti cacing karena kontribusi dan nilai ekonomi yang diberikan belumlah luar biasa. Namun kita harus percaya bahwa cacing ini adalah cacing yang sangat berharga ke depannya. Bila sebuah kota dapat kita analogikan sebagai tanah, tentunya cacing-cacing inilah yang akan menggemburkan dan menyuburkan tanah tersebut. Adalah komunitas yang sejatinya dapat melahirkan cacing-cacing kecil, yang kelak dapat menumbuhkan ekonomi Kota Bandung. Dengan segala keunikan, keutuhan, kemanfaatan dan pemahaman akan komunitas tersebut, Kota Bandung tentunya tidak perlu kuatir akan ditinggalkan layu. Namun sebaliknya, Kota Bandung akan selalu tumbuh mekar, mewangi dan semerbak walau bersama hujan deras dan terpaan angin.

Daftar Pustaka
Bandung Creative City Forum (BCCF). 2008-2014. Catatan Sejarah & Program BCCF 
Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif Indonesia. 2014. Buku Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif. “Ekonomi Kreatif : Kekuatan Baru Indonesia Menuju 2025″. 
-Haryoto Kunto. 1986. Semerbak Bunga di Bandung Raya.

* Tulisan ini dibuat sebagai salah satu isi materi buku “Bandung Motekar” yang disusun oleh Komite Pengembangan Ekonomi Kreatif Kota Bandung

@galihsedayu | bandung, 17 januari 2015

Written by Admin

January 16, 2015 at 1:49 pm

Menyambut Sang Naga & Sang Singa

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Kebebasan Perayaan Cap Go Meh bagi kaum Tionghoa di Indonesia tentunya tidak bisa lepas atas jasa besar seorang tokoh pembela kaum minoritas yang bernama Gus Dur. Semasa Gus Dur menjadi presiden, ia membuat gebrakan baru yakni secara tegas mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 yang isinya memenjarakan kebebasan warga Tionghoa untuk merayakan kegiatan budayanya secara terbuka termasuk Imlek & Cap Go Meh. Gus Dur pun lalu mengganti Inpres tersebut dengan alasan bertentangan dengan UUD 1945 dan kemudian ia menerbitkan Keppres No. 6 tahun 2000 yang isinya menjamin kemerdekaan warga Tionghoa agar dapat menjalankan kegiatan keagamaan, kepercayaan & adat istiadatnya secara terbuka. Bahkan pada tahun 2001, Gus Dur menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional. Sejak saat itulah hingga saat ini warga Tionghoa di Indonesia dapat menghadirkan perayaan Cap Go Meh sekaligus menghibur sejumlah warga di sebuah kota termasuk Kota Bandung.

Cap Go Meh sendiri merupakan sebuah upacara yang dirayakan secara rutin setiap tahunnya pada tanggal 15 bulan pertama menurut penanggalan bulan yang merupakan bulan pertama dalam setahun oleh warga Tionghoa. Upacara ini dilakukan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai-yi yakni Dewa tertinggi di langit menurut Dinasti Han (206 SM – 221 M). Istilah Cap Go Meh (Cap = sepuluh ; Go = lima ; Meh = malam) sebenarnya berasal dari dialek Hokkien yang memiliki makna 15 hari atau malam setelah Imlek. Oleh karena itu Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas dan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi warga Tionghoa. Dahulu kala Cap Go Meh merupakan sebuah upacara tertutup yang hanya ditujukan bagi kalangan istana kerajaan China. Dalam perayaan Cap Go Meh tersebut, ikon sentralnya selalu identik dengan Liong (Naga) & Barongsai (Singa) yang menghibur warga dengan gerak tariannya.

Di Kota Bandung, kirab Cap Go Meh tahun 2013 ini dimulai dari Vihara Dharma Ramsi di Jalan Cibadak. Kemudian berkeliling melewati Jalan Astanaanyar, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Kelenteng, Pascal Hyper Square, Jalan Gardujati, lalu kembali ke Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Oto Iskandardinata, serta kemudian berakhir & kembali di Vihara Dharma Ramsi. Kirab Cap Go Meh ini diikuti oleh ribuan orang dan puluhan vihara dari berbagai kota selain Bandung seperti Jakarta, Banten, Bogor, Tegal, Ciamis, Tasikmalaya, dan lain sebagainya. Di sanalah warga Kota Bandung dapat melihat rombongan Liong & Barongsai mengiringi tiga patung yakni Patung Ma Kwan Im Pho Sat (Dewi Kasih Sayang), Hok Tek Ceng Sin (Dewa Rejeki) dan Hian Thian Siang Tee (Panglima Perang) yang diarak dengan menggunakan tandu. Sementara itu Liong (naga) menari dengan berliuk-liuk sambil mengejar bola api di depannya. Tak mau kalah para Barongsai pun berdansa dengan lincahnya sambil diiringi musik para pemain tambur, simbal & ling (bendi). Setelah tarian selesai, warga Tionghoa yang menyaksikan atraksi tersebut baik dari sisi jalan maupun depan rumah atau toko milik mereka pun berbondong-bondong memberikan angpau dalam sebuah amplop yang dimasukkan melalui mulut Liong & Barongsai tersebut sebagai simbol ucapan terima kasih.

Kita dapat menyaksikan di sana, bagaimana warga Tionghoa sungguh berbaur dengan warga dari berbagai suku bangsa yang ada di Kota Bandung. Tak sedikit para pemain Barongsai yang dilakoni oleh kaum pribumi. Lalu kesenian sunda yang diwakili oleh para pemain angklung & calung pun turut berkolaborasi pada kirab tersebut. Bahkan secara serentak musik & bunyi-bunyian yang dihantarkan pada kirab tersebut sepakat untuk berhenti sesaat manakala azan magrib berkumandang di Kota Bandung. Perbedaan budaya yang ada ternyata berujung menyatukan warga.

Untuk itulah kita seharusnya selalu berada di dalam simpul kebersamaan ini. Agar kemerdekaan & kebebasan yang diberikan bagi setiap warga dapat melahirkan tanggung-jawab sekaligus menjadi aksi solusi terhadap masalah sosial sebuah kota. Karena sesungguhnya kebebasan inilah yang memberi kita makanan pengertian dan memberi minum kebijaksanaan. Dan rasa takut akan sebuah perbedaan itulah yang semestinya harus kita singkirkan jauh-jauh. Bila kita mau mencari, dalam perbedaan lah warga mendapat kegembiraan dan puncak sukacita. Oleh karena itu, mulailah melayangkan pandangan kita ke dalam berbagai perbedaan. Perbedaan apapun itu entah budaya, agama, suku, adat istiadat, dan lain-lain. Kemudian wartakanlah semangat pluralisme, egaliter dan persaudaraan dalam perbedaan tersebut sebagai peringatan kebersamaan bagi setiap warga kota. 

Bandung, 2 Maret 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 3, 2013 at 5:43 pm

“Bandung : Sound of Silence” | A Photography Project by galih sedayu

with 21 comments

Foto & Teks : galih sedayu

Bandung, Bandung, Bandung nelah Kota Bandung
Bandung, Bandung, sasakala Sangkuriang di lingkung gunung, heurin ku tangtung, puseur kota nu mulya Parahiangan
Bandung, Bandung pada muru di jarugjugan

***

Bandung, Bandung, Bandung disebut Kota Kembang
Bandung, Bandung, legenda Sangkuriang dikelilingi gunung, padat penduduknya, ibukota yang mulia Parahyangan
Bandung, Bandung, jadi tujuan semua orang
– Lagu Sunda “Bandung” ciptaan Mang Koko Koswara

Membaca Bandung sebagai sebuah  kota, tentunya tidak bisa dipisahkan pada kejadian bersejarah di tahun 1810. Tatkala Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa pada saat itu, dengan didampingi oleh Bupati Bandung yakni Wiranatakusumah II, berjalan kaki menyambangi suatu tempat yang kini disebut sebagai Tugu Nol Kilometer di Jalan Asia Afrika Bandung. Di sanalah Daendels menancapkan tongkat kayunya seraya berkata: “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is ge-bouwd!” yang artinya adalah “Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota!”.

Perintah yang keluar dari mulut seorang Daendels itulah yang kemudian membuat Bandung yang tadinya merupakan sebuah dusun yang sepi, kini menjadi sebuah kota yang lain. Bahkan perubahan kota Bandung seolah-olah telah dinubuatkan oleh para sepuh sunda sesuai dengan “cacandran” (tanda-tanda jaman) dalam “Uga Bandung” (ramalan bandung) yang menyebutkan bahwa Bandung heurin ku tangtung (bandung padat penduduknya). Menurut catatan sejarah yang ditulis oleh Haryoto Kunto, sekitar tahun 1900 kota Bandung hanya memiliki penduduk sekitar 28.963 jiwa. Bandingkan dengan jumlah penduduk kota Bandung saat ini (2012) yang sudah mencapai lebih dari 2 juta jiwa.

Dahulu kala kota Bandung menyimpan segudang julukan nama yang harum semerbak dari mulai “Bandung Parijs van Java”, “Bandung Kota Kembang”, “Bandung the Garden of Allah”, “Bandung Paradise in Exile”, “Bandung Kota nan Sejuk” dan lain sebagainya. Apakah julukan tersebut masih pantas diucapkan bila melihat tubuh kota Bandung sekarang? Rasa-rasanya kita harus berpikir dua kali. Bahkan akan lebih tepat bila kota Bandung saat ini diberi predikat sebagai “Kota Macet”, “Kota Polusi”, “Kota Factory Outlet”, “Kota Sampah” ataupun “Kota Banjir”. Mengapa demikian? Karena realitanya berbicara tegas seperti itu. Keseharian kota Bandung saat ini dengan mudah divisualkan sebagai kota yang semerawut dan mulai kehilangan jati dirinya. Belum lagi berbagai permasalahan tata kota yang carut marut seperti penghancuran bangunan bersejarah, taman-taman kota yang tidak terawat serta pedagang kaki lima yang makin membludak tak beraturan. Dengan melihat itu semua, tentunya warga Bandung  tidak bisa tinggal diam dan duduk manis melihat keadaan kota yang semakin dekat ke arah sakral maut tersebut. Paradigma bahwa ini semua adalah tanggung jawab pemerintah haruslah dibinasakan. Masyarakat harus menyadari bahwa mereka tidak bisa mengandalkan pemerintah selama cara mereka mengelola Kota Bandung masih seperti ini. Masyarakat Bandung harus yakin dan percaya bahwa kota ini bisa berubah menjadi yang lebih baik selama para warganya mau bangun dari tidur panjangnya dan mulai peduli dengan kotanya. Warga Bandung harus mau untuk mulai mematikan TV dan berjalan melihat segala isi kota yang ditinggalinya. Karena sejatinya sebuah kota yang sehat dapat terwujud ketika para warganya mulai keluar rumah dan memiliki tanggung-jawab sosial untuk berbuat sesuatu bagi masa depan kotanya.

Jika manusia butuh istirahat, maka seharusnya demikian pula dengan sebuah kota. Satu-satunya kesempatan langka melihat Kota Bandung berhenti beraktivitas yaitu saat hari raya lebaran dimana pada saat inilah para umat muslim kompak melakukan kegiatan salat id bersama. Pada momen seperti itulah kita dapat melihat bagaimana jantung kota Bandung seperti berhenti berdetak dan mata kota Bandung seperti lelap terpejam meski sesaat. Kawasan Jalan Fly Over Pasupati, Jalan Braga, Jalan Merdeka, Jalan Cihampelas, Jalan Dago, Jalan Pecinan, semuanya lelap tertidur. Tidak ada aktivitas pedagang, tidak ada lalu-lalang kendaraan bermotor, ataupun suara bising kesibukan Kota Bandung. Hanya ada atmosfir hening, sunyi dan diam. Bandung padam sementara. Sungguh sebuah pemandangan yang ambigu tentunya. Di satu sisi dapat menimbulkan rasa rindu namun di sisi lain menimbulkan rasa ngeri. Namun sebenarnya momen ini lah yang diharapkan dapat menjadi ajang kontemplasi bagi warga Kota Bandung. Mengajak warga untuk kembali berpikir jernih dan menata ide-ide yang seharusnya berguna bagi Kota Bandung. Dimana sesudahnya mampu melahirkan sejumlah energi positif yang siap membungkus Kota Bandung. Karenanya sebuah kota akan terus berlangsung dengan segala hal yang diberikan oleh para warganya. Semoga himpunan visual hening ini dapat mengiringi perjalanan panjang warga Kota Bandung agar selalu menjadi ingatan bersama bahwasanya Kota Bandung ini memang layak untuk dicintai. Tanpa berharap imbalan apapun dan dengan sepenuh hati.

Bandung, 19 Agustus 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

August 22, 2012 at 3:09 am

Fajar [Shincan] | Angklung Player

with 2 comments

fajar

dago pojok kampoong, bandung – 2012

fajar

saung angklung udjo, bandung – 2006

fajar

saung angklung udjo, bandung – 2004

saung angklung udjo, bandung – 2003

fajar

saung angklung udjo, bandung – 2002

copyright (c) by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 1, 2011 at 1:49 pm

News at DetikBandung

with 2 comments

Kamis, 01/04/2010 10:03 WIB

Galih Sedayu, Buka Konsultasi Fotografi Gratis
Ema Nur Arifah – detikBandung

Bandung – Bagi penggiat fotografi, nama Galih Sedayu mungkin bisa ditempatkan sebagai pupuhunya komunitas fotografi. Pria kelahiran Bogor, 35 tahun silam ini, boleh dibilang sebagai motor penggerak bermunculannya acara-acara fotografi di Kota Bandung.

Galih pun tak enggan berbagi ilmu. Lewat Air Photography yang didirikannya 17 Agustus 2004 lalu, dia membuka konsultasi gratis untuk mahasiswa yang ingin menggelar acara-acara fotografi. Sebanyak 20-an relawan pun siap membantu sebagai konsultan.

Padahal pendidikan formal Galih tidak berasal dari fotografi. Secara otodidak, setelah lulus dari Tekhnik Indstri Unjani di tahun 1999, Galih belajar dari perusahaan-perusahaan foto tempatnya bekerja.

“Saya pernah bekerja di beberapa studio foto, kemudian berinisiatif untuk membuat usaha foto sendiri,” ujarnya.

Belajar dari pengalaman, dia membuka Air Photography bersama dua kawannya. Galih bisa membuktikan kalau membuka usaha tidak harus berpikir modal yang besar.

Dengan cara mencicil modal, satu per satu sarana dan pra sarana studio dilengkapi. Dalam perjalanannya kemudian, manajemen Air Photography dipegangnya sendiri dan dua kawannya kini hanya sebagai freelancer.

Keseimbangan atau balance manjadi filosofi Galih dalam mengembangkan Air Photography. Tidak semata-mata komersil tapi juga memunculkan sisi sosial.

“Antara komersil dan sosial harus balance,” ujar Galih usai gelaran Photo Speak di garasi Detikbandung Jalan Lombok 33, Rabu (31/3/2010).

Meski awalnya Air Photography didirikan untuk tujuan komersil. Namun keinginan berbagi Galih membuatnya tergerak untuk membuat program-program yang bisa menunjang sisi komersil tadi.

Salah satunya adalah Photo Speak, ajang sharing ilmu fotografi yang digelarnya sejak tahun 2005. Melalui Photo Speak, Galih bisa membangun jaringan komunitas di kalangan mahasiswa. Ruang terbuka konsultasi gratis diberikan pada mereka untuk yang berkaitan dengan event-event fotografi.

“Kalau dengan perusahaan-perusahaan, kita lakukan secara profesional,” jelas pria yang akan melepas masa lajangnya di bulan Mei mendatang ini.

Galih mencontohkan kerjasamanya dengan PT Pos Indonesia yang hampir setiap tahun mengelar photo contest. Setidaknya Galih ingin menunjukan kalau dunia akademisi mash memiliki pe er. Seharusnya, adalah tugas para pengajar untuk memberikan ilmu mengelola event fotografi untuk mahasiswanya.

(ema/avi)

Written by Admin

April 4, 2010 at 2:09 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

Situpatengan

leave a comment »

“Situpatengan,1880” (c) Walter Woodbury & James Page

Written by Admin

January 29, 2010 at 5:29 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

Wujud Kasih Teruntuk Kota Bandung

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Tepatnya tanggal 25 September 2010. Bandung, sebuah kota yang penuh dengan semangat kreativitas ini tak terasa akan menginjak usianya yang ke 200 tahun. Keberadaan Kota Bandung sendiri tidak bisa lepas dari kehadiran seorang Bupati R.A. Wiranatakoesoema II yang dikenal dengan julukan Dalem Kaum. Beliau lah yang disebut-sebut sebagai pendiri Kota Bandung. Dengan sebuah besluit pemerintahan Hindia Belanda, tanggal 25 September 1810 dinyatakan sebagai hari lahirnya Kota Bandung.

Fotografi yang ditabiskan ke dunia sejak tahun 1839 oleh Louis-Jacques-Mandé Daquerre menjadi sebuah oase peradaban bagi para pelaku fotografi. Yang bahkan hingga abad ini fotografi terus menjamur tak terkecuali di Kota Bandung. Genre fotografi yang diusung oleh setiap komunitas semisal foto jurnalistik, piktorial, kamera lubang jarum, fine art, dokumenter dan lain sebagainya menjadikan Kota Bandung sebagai surga bagi sebuah peradaban cahaya. Fotografi menjadi jendela jiwa bagi masing-masing individu yang dapat menawarkan sebuah harapan kepada masyarakat. Fotografi pun menjadi sebuah medium kontemplatif serta cara melihat tentang segala peristiwa yang berlangsung setiap detik. Kita tentu ingat bagaimana nama Kota Bandung menjadi harum di mata dunia ketika Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Saat itu pula para tokoh fotografi yang berasal dari Kota Bandung seperti Prof. Dr. RM. Soelarko, Dr. Ganda Kodyat & Paul Tedja Soerya menjadi saksi sejarah yang mengabadikan foto-foto dokumenter & jurnalistik peristiwa langka tersebut. Dengan melihat itu, agaknya citra Kota Bandung memiliki peran tersendiri dalam perkembangan sejarah Bangsa Indonesia.

Untuk itulah demi menyongsong Kota Bandung yang akan berusia 200 tahun, kami yang mewakili masyarakat fotografi akan memberikan kado persembahan bagi Kota Bandung. Setetes rasa terimakasih yang coba kami wujudkan bagi Kota Bandung melalui fotografi. Dimana kami luncurkan sebuah program yang bernama “Fotografi Untuk Bandung 200 Tahun”. Program ini merupakan sebuah kampanye bersama plus gerakan kolektif dari seluruh jaringan foto khususnya di Kota Bandung yang berupa aktivitas dan kreativitas melalui fotografi. Dari mulai Pameran, Lomba, Workshop, Diskusi, Hunting, Seminar, Dialog, dan Klinik Fotografi akan digelar oleh kami hingga penghujung tahun 2010. Pada akhirnya nanti kami akan mencoba menangkap seluruh jiwa dan raga Kota Bandung melalui karya-karya foto yang akan disajikan dalam bentuk “Buku Fotografi Bandung”.

Para tetua yang mendahului kita pernah mengatakan bahwa “Sebuah tong yang penuh dengan pengetahuan belum tentu sama nilainya dengan setetes budi”. Kiranya kado kecil “Fotografi Untuk Bandung 200 Tahun ini” dapat menjadi salah satu wujud budi baik yang dapat kita berikan bagi sebuah kota yang indah dan penuh keajaiban ini. Karena walau bagaimanapun, keberlangsungan sebuah kota dapat terwujud ketika hadirnya selalu kolaborasi cinta yang diberikan oleh masyarakatnya.

*Tulisan ini diberikan sebagai kata pengantar pada acara peluncuran program “Fotografi Untuk Bandung 200 Tahun” pada tanggal 1 Agustus 2009 di Gedung Indonesia Menggugat (GIM).

Bandung, 17 Juli 2009

Written by Admin

January 24, 2010 at 5:23 am