I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Asa Bagi Industri Kulit Jawa Barat

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Sudah sepatutnyalah kita bangga terhadap bangsa indonesia karena alam kita banyak sekali menyediakan segala hal yang dapat menopang kehidupan umat manusia. Bahan kulit yang diambil dari hewan-hewan asal indonesia seperti kuda, kambing, ikan pari, ular & buaya dapat menjadi sebuah produk yang unggul dan memiliki kualitas ekspor ke manca negara. Banyak sekali produk kulit bangsa kita yang diminati oleh bangsa lain. Sebut saja dompet, sepatu, tas & sabuk kulit. Intinya, bangsa kita bukan tidak mampu bersaing dalam hal pemanfaatan kulit sebagai salah satu produk kreatif yang telah menjadi industri.

Pada tanggal 7-8 agustus 2010, arena kultural bekerjasama dengan dinas perindustrian & perdagangan jabar menggelar acara yang bertajuk “Gelar Kriya Kulit Jabar”, yaitu sebuah upaya untuk memperkenalkan hasil produk kulit jabar melalui sebuah kemasan art &  festival. Di dalamnya terdapat beberapa program yang bertujuan untuk mengkomunikasikan kulit melalui musik, karnaval, talk show kreatif, fashion, dan lain sebagainya.

Fotografi pun kemudian menjadi pilihan saya untuk menjadi medium komunikasi tentang produk-produk kulit hasil kreativitas bangsa indonesia. “menggeliatnya industri kulit jawa barat”, menjadi judul utama sebuah “photo story” yang mengusung rangkaian cerita program “Gelar Kriya Kulit Jabar” tersebut. Harapannya foto-foto ini dapat memaparkan tentang isu pemanfaatan kulit & sosialisasinya kepada masyarakat agar bangsa kita sadar bahwa sebenarnya kita mampu menciptakan sesuatu dengan sumber daya alam yang kita miliki sekarang. Ketika fotografi mampu mengungkapkan pesan dari sebuah isu, alangkah lebih baiknya masyarakat kita mampu mencerna rekaman imaji-imaji tersebut agar kita selalu diberikan kesadaran untuk melakukan perubahan. 

Bandung, 7 Agustus 2010

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

copyright (c) 2010 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

August 9, 2010 at 1:38 pm

Sebuah Cara Lain Merebut Ruang Kota

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Melihat perkembangan sebuah kota erat kaitannya dengan melihat keberadaan dan pemanfaatan ruang publik yang dimiliki oleh kota itu sendiri. Kota bandung yang berdiri sejak tahun 1810 yang lampau banyak sekali menyisakan ruang publik yang belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pemerintahnya. Tentunya isu ini menjadi sebuah pekerjaan rumah bersama bagi kita semua yang menyandang predikat sebagai warga kota bandung. Adalah Bandung Creative City Forum (BCCF) yang mencoba menghadirkan sebuah program yang bernama Semarak.Bdg dengan tujuan untuk mengintervensi ruang publik kota bandung. Intervensi ini dilakukan melalui cara-cara kreativitas yang melibatkan komunitas kreatif, masyarakat, pemerintah, swasta & media sebagai stakeholder dan komponen masyarakat utama sebuah kota. Rangkaian program kreatif yang mengisi kegiatan Semarak.Bdg tersebut diantaranya yaitu Facade Lighting Gedung Merdeka berupa pemasangan instalasi lampu warna-warni pada Gedung Merdeka dengan tujuan agar Gedung Merdeka tidak lagi kelihatan suram, gelap dan terkesan dihindari oleh warganya terutama pada malam hari. Lalu ada program Piknik.Bdg berupa memindahkan ruang bermain dan kreatif anak di sekitar sungai cikapundung agar anak-anak dan keluarga tidak hanya merasakan pengalaman beraktivitas di mal atau tempat bermain indoor serta dapat merespon sungai cikapundung yang telah lama ada bersama kita. Dan kemudian ada program Bragakeun Bragaku yang mecoba untuk mengolah braga menjadi wadah energi kreatif dari sekumpulan komunitas dan warga masyarakat braga itu sendiri.

Sebagian peristiwa nyata yang terjadi pada rangkaian Semarak.Bdg tersebut saya coba refleksikan kembali lewat citra fotografi sebagai penanda visual dan jejak kerja hasil kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, swasta, media & komunitas sebagai aset berharga kota. Sekelumit kisah dan romantika kejadian dalam Semarak.Bdg melalui rangkaian karya foto. Meski saya sadar sepenuhnya bahwa tidak semua momen yang ada dapot terekam oleh lensa kamera, tetapi setidaknya fotografi telah membekukan dan menjadi saksi bisu atas segala upaya yang telah dikerjakan oleh sekelompok muda kreatif yang peduli akan kota bandung. Dengan harapan bahwa secuil ide kreatif tentang intervensi ruang kota ini dapat menggelitik yang lain agar dapat berbuat serupa bahkan mungkin lebih baik. Karenanya lupakanlah kata siapa yang melakukan ini melainkan mulailah dengan kata apa yang dapat kita lakukan untuk kota ini. Agar Kota Bandung menjadi ada, tetap ada dan selalu ada bagi kita selamanya.

Bandung, 25 Juli 2010

copyright (c) 2010 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

July 26, 2010 at 2:35 pm

Jazz & Pencitraan

with 2 comments

Teks : galih sedayu

Membaca sejarah kehadiran musik jazz di dunia, tentunya seperti mendengar berbagai penggal cerita yang agak sulit bagi kita untuk mengetahui mana cerita yang sebenarnya. Karena banyak sekali sekelumit kisah tentang awal musik jazz. Salah satunya adalah Buddy Bolden. Seorang pemilik kedai cukur rambut di New Orleans, dapat dikaitkan dengan sejarah keberadaan musik jazz di dunia. Dimana sekitar tahun 1891, salah satu orang yang dipercaya sebagai legenda jazz ini meniupkan cornet-nya (sejenis alat musik tiup mirip terompet) sebagai pertanda dikumandangkannya musik jazz ke seluruh antero jagat. Meskipun sejarah mengatakan bahwa latar belakang kehadiran musik jazz sedikit banyak dipengaruhi berbagai musik seperti musik spiritual, cakewalks, ragtime dan blues. Musik jazz pun menjadi semakin menarik karena beberapa sejarah mengatakan bahwa asal kata “jazz” berawal dari sebuah istilah vulgar yang berkaitan dengan aksi seksual. Sebagian irama musik jazz pun identik dengan rumah-rumah bordil dengan para wanita penghuninya.

Fotografi yang dilahirkan ke jagat raya sejak tahun 1839 oleh Louis Jacques Mande Daguerre, setidaknya dapat menaruh harapan khususnya pada catatan perkembangan sejarah musik jazz itu sendiri. Setidaknya sebagai catatan visual dan media informasi yang gampang dicerna bagi komunitas jazz. Misalnya saja sebagai bahan untuk melacak citra foto pertama tentang jazz di dunia. Memang sulit untuk mengatakan karya foto mana yang menjadi citra pertama di dalam dunia musik jazz. Tetapi bukan tidak mungkin bahwa kita dapat melacaknya dari karya-karya foto para fotografer jazz dunia semisal William Gottlieb yang mulai memotret musisi jazz ternama seperti Duke Ellington, Louis Armstrong, Frank Sinatra, Dizzy Gillespie dan Billie Holiday sejak tahun 1938. Lalu ada nama Herman Leonard yang banyak memotret tokoh-tokoh jazz seperti Charlie Parker, Sarah Vaughan, Lena Horne, Thelonius dari tahun 1940. Atau William Claxton yang mulai berkarya merekam aksi para musisi jazz legendaris seperti Chet Baker, Miles Davis, Nat King Cole, Joe Williams, Dinah Washington sejak tahun 1950. Tentunya dibutuhkan penelitian yang serius untuk melacak sejarah tersebut.

Barangkali dengan paparan itu pula ada sebuah gagasan untuk mencatat perkembangan sejarah musik jazz di indonesia. Dimana fotografi dapat menjadi sebuah medium untuk menghadirkan kembali citra tentang romantika dan perjalanan musik jazz. Seperti yang disuguhkan oleh Mia Damayanti Sjahir dalam Pameran Fotonya yang bertajuk Jazz – Poster & Post It di Potluck Coffee Bar & Library dari tanggal 11 Juli 2010 s/d 7 Agustus 2010. Pameran foto ini dikuratori oleh Dwi Cahya Yuniman, seorang pendiri klab jazz plus aktivitis jazz asal Kota Bandung. Uniknya, foto-foto yang dipamerkan tersebut tidak hanya mengisi tembok-tembok kosong yang disoroti lampu belaka. Melainkan ada beberapa foto yang sengaja ditampilkan untuk mengisi dan menjadi bagian estetika perabotan di tempat pameran itu digelar. Toples, bingkai kecil di rak buku, tempat cashier, dan sebagainya menjadi aksen bagi keutuhan pameran tersebut. Tentunya kita semua berharap bahwa pada suatu saat nanti, karya-karya foto tentang jazz ini dapat menjadi sebuah buku yang dapat meninggalkan jejak karya dan dapat dibagikan bagi masyarakat agar peradaban musik jazz terus mengalir seiring dengan dunia yang terus berputar tanpa henti.

*Tulisan ini diberikan pada acara diskusi kecil bersama Syaharani (Musisi Jazz), Dwi Cahya Yuniman (Klab Jazz) dan Mia Damayanti Sjahir pada tanggal 12 Juli 2010 yang merupakan rangkaian Pameran Foto “Jazz-Poster and Post It” karya Mia Damayanti Sjahir yang diadakan oleh Klab Jazz pada tanggal 11 Juli 2010 s/d 7 Agustus 2010 di Potluck Coffee Bar & Library.

@Bandung, 13 Juli 2010

Written by Admin

July 13, 2010 at 3:07 am

Memaknai Sebuah Identitas

with 4 comments

Teks & Foto : galih sedayu

Dengan masuknya batik Indonesia dalam Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diumumkan dalam siaran pers di portal UNESCO pada 30 September 2009 lalu merupakan salah satu prestasi yang patut kita banggakan. Batik pun menjadi bagian dari 76 seni dan tradisi dari 27 negara yang diakui UNESCO dalam daftar warisan budaya tak benda melalui keputusan komite 24 negara yang pada saat itu tengah bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Oleh karena itu, sudah layak dan sepantasnyalah isu-isu yang mencuatkan tentang keberadaan Batik sebagai warisan bangsa perlu terus dikumandangkan oleh kita yang mengaku sebagai keturunan Bangsa Indonesia. Tentunya dengan cara apapun semisal fotografi dengan segala keunikannya yang hendak saya suguhkan kali ini. “Looking for an Identity” adalah sebuah Photo Story yang mengangkat isu batik dengan sebuah pertanyaan besar untuk kita semua tentang kepedulian kita terhadap warisan budaya tersebut. Meski saya sadar benar bahwa tidak ada jawaban yang mutlak untuk segala pertanyaan tersebut, tetapi setidaknya saya mencoba untuk bertutur secara visual dalam perspektif fotografi. Dimana opini selanjutnya sangat bebas tergantung pada siapapun yang melihat karya foto ini. Photo Story ini saya buat pada helaran Gelar Batik Jawa Barat di Gedung Sate Bandung yang berlangsung pada tanggal 3 – 4 Juli 2010. Semoga Photo Story ini dapat menginspirasi anak bangsa untuk dapat terus berkreasi dan peduli pada batik yang seyogyanya menjadi aset bangsa.

Bandung, 5 Juli 2010

gelar batik jabar

copyright (c) 2010 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

July 5, 2010 at 10:03 am

Sekilas Foto Cerita

with 4 comments

Teks : galih sedayu

Di dalam dunia fotografi kita telah banyak mengenal istilah karya Single Photo (foto tunggal). Pada umumnya telah banyak para pemotret yang menghasilkan karya Single Photo tersebut misalnya saja foto seorang bocah kecil, sebuah bangunan tua ataupun sekilas pemandangan pagi. Ada istilah lain tentang karya foto dalam dunia fotografi yang berbeda dengan karya foto tunggal yaitu Photo Story. Ada juga yang menyebutnya dengan istilah Picture Story atau Photo Essay. Apa itu sebenarnya Photo Story?

Photo Story atau Foto Cerita adalah kumpulan karya foto yang dibuat dengan tujuan untuk menyampaikan sebuah cerita dari suatu tempat, peristiwa ataupun sebuah isu yang ada. Dimana foto-foto tersebut merepresentasikan karakter serta menyuguhkan emosi bagi yang melihatnya, berdasarkan sebuah konsep yang menggabungkan antara seni dan jurnalisme. Semua karya Photo Story merupakan kumpulan karya foto, tetapi tidak semua kumpulan karya foto merupakan karya Photo Story.

Ada dua Jenis Photo Story. Yang pertama adalah Foto Naratif yaitu kumpulan karya foto berdasarkan urutan dari sebuah kejadian atau peristiwa. Misalnya foto-foto tentang seorang ibu penjual jamu dimana si pemotret mengikuti dan merekam segala aktivitas ibu penjual jamu tersebut dari mulai mempersiapkan dagangan jamunya di rumah, berangkat keluar rumah untuk menjajakan jamunya hingga pulang kembali ke rumah. Jenis Photo Story yang kedua adalah Foto Tematik yaitu kumpulan karya foto yang memfokuskan pada sebuah tema sentral dimana foto-foto yang diambil tidak melulu mentitik-fokuskan pada sebuah tempat ataupun peristiwa tertentu. Tetapi foto-foto tersebut relevan dengan tema yang diambil misalnya isu pendidikan yang rendah, pengentasan kemiskinan, polusi pabrik dan lain sebagainya.

Adapun langkah- langkah yang dilakukan untuk membuat sebuah Photo Story yaitu:

  1. Tentukan sebuah topik atau tema

  2. Lakukan penelitian kecil

  3. Membuat sebuah cerita yang nyata

  4. Mencari emosi & karakter

  5. Eksekusi foto

Eksekusi Photo Story yang baik yaitu foto-foto yang   bercerita dimana foto-foto tersebut dapat berdiri sendiri, foto-foto dengan berbagai penyajian (sudut lebar, potret, detail), foto-foto yang memiliki urutan foto yang baik (menarik, logis & efektif bercerita), foto-foto yang memiliki Informasi & Emosi (mampu menyampaikan sebuah pesan yang baik) dan foto-foto yang menyertakan caption atau keterangan tentang foto.

Dalam proses pemilihan & penyusunan urutan Photo Story ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

  1. The Lead Photo, yaitu Foto yang paling menonjol dari seluruh rangkaian foto.

  2. The Scene, yaitu Foto yang menggambarkan suasana atau tempat dari tema sentral.

  3. The Portraits, yaitu Foto potret yang dramatik & menggugah emosi.

  4. The Details Photo, yaitu Foto yang terfokus pada detail sebuah obyek misalnya bangunan, wajah ataupun benda.

  5. The Semiotic Photo, yaitu Foto sederhana yang memiliki nilai simbolis dan makna tertentu dari sebuah cerita

  6. The Signature Photo, yaitu Foto yang menangkap sebuah kesimpulan dari sebuah cerita.

  7. The Clincher Photo, yaitu Foto yang menentukan akhir dari sebuah cerita berupa harapan, kebahagiaan atau sesuatu yang membangkitkan inspirasi.

Ketika kita membuat Photo Story ada beberapa hal lain yang dapat mempengaruhi hasil karya diantaranya adalah penguasaan teknis pemotretan, wawasan & kreativitas pemotret, kejelian pemotret dalam merekam obyek foto, dan totalitas pemotret. Sehingga ketika kita memiliki semua hal itu, niscaya foto-foto yang telah kita hasilkan akan mengeluarkan sebuah citra yang utuh dari peristiswa atau isu yang kita pilih.

Akhir kata semoga segala citraan yang dihadirkan kembali oleh mata fotografi kita dapat menjadi adegan-adegan beku bersejarah yang terus dikenang dan terus dibagikan bagi kelangsungan peradaban cahaya juga bagi kelangsungan hidup manusia sampai akhir hayatnya.

Bandung, 2 Juli 2010

Written by Admin

July 2, 2010 at 5:58 am

citra yang terhembus dari ruang, imaji & jiwa

leave a comment »

oleh galih sedayu

Berarsitektur yang sesungguhnya adalah tentang “Guna” dan “Citra” 
– Yusuf Bilyarta Mangunwijaya –

Sebelum munculnya peradaban yakni tatkala bumi ini gelap gulita, Tuhan sebagai Sang arsitektur kehidupan menjadikannya terang melalui tanganNya yang terus mencipta hingga detik ini. Sesungguhnya samudra biru yang luas, burung-burung yang beterbangan di udara, hutan belantara hijau yang menjadi oksigen dunia, hingga manusia yang terus beranak-cucu adalah buah karya arsitektur yang diciptakan olehNya dengan penuh cinta. Manusia yang menjadi mahluk kesayanganNya pun meneruskan proses penciptaan tersebut sehingga ruang-ruang kosong di permukaan bumi ini dengan cepat terisi. Dari mulai gubuk-gubuk kecil yang beratapkan jerami hingga sederet bangunan pencakar langit yang bak berlomba untuk menyentuh awan.

Arsitektur menjadi kata kunci yang tidak bisa lepas dari keberadaan sebuah ruang dan lingkungan dengan segala isinya. Pengertian kata arsitektur yang berasal dari Bahasa Yunani “Architectoon” yang memiliki arti tukang ahli bangunan yang utama, saat ini agaknya menjadi miskin dibanding dengan pemaknaan yang dapat digali secara lebih mendalam. Misalnya saja pemaknaan tentang arsitektur yang diusung oleh seorang Arsitek asal kota Ambarawa yang bernama Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau Romo Mangun (1929-1999). Bagi dia, arsitektur menjadi sebuah media perjuangan untuk tujuan kemanusiaan. Beliau pernah turun tangan dalam konflik sosial di kawasan Lembah Code Jogyakarta ketika muncul rencana penggusuran. Dimana beliau menggunakan arsitektur untuk membantu meredam konflik tersebut dengan mengajak masyarakat setempat untuk membersihkan serta membangun kawasan kali code yang kumuh. Dari hal tersebut kita melihat bagaimana sesungguhnya arsitek tidak hanya bertanggung jawab dalam hal mendesain rumah ataupun bangunan, tetapi juga bagaimana seorang arsitek dapat menjawab segala persoalan tentang kondisi lingkungan dan sosial yang ada di masyarakat.

Fotografi yang erat kaitannya dengan menciptakan sebuah citra, dapat menjadi sebuah media penyampaian pesan tentang segala hal yang terkait dengan citra arsitektur itu sendiri. Karenanya sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam wadah kreatif fotografi kampus Universitas Katolik Parahyangan yakni “Arsitektur Foto”, bermaksud menyampaikan citra dan pemaknaan arsitektur kepada publik melalui Pameran Foto yang mereka suguhkan dengan tajuk “Human & Architecture”. Ada sekitar 50 buah karya foto hasil kurasi yang dipamerkan yang berasal dari hasil bidikan berbagai komunitas kreatif fotografi yaitu Komunitas Kamera Lubang Jarum (KLJ), Kaskus Plastik & Toy Camera Community (Klastic), Komunitas poco-poco, Brigadepoto# dan Arsitektur Foto (AF).

Foto-foto seri dengan judul “Edifice Complex” karya Sandy Jaya Saputra, mencoba menggiring persepsi stereotipikal tentang arsitektur yang cenderung mewakili bentuk fisik menuju ke sebuah pemahaman psikologi, sosial dan budaya. Foto karya Salman Rimaldhi Zahrawan yang berjudul “I am where I live” dan “We are where we live”, mengajak kesadaran kita untuk memahami bahwa betapa erat korelasi antara arsitektur dengan individu, komunitas serta lingkungan yang menempatinya. Lain halnya dengan foto karya Anggoro yaitu “Straightlines”, yang mengkomposisikan secara sederhana tentang tangga yang memiliki pengertian filosofis tentang kehidupan yang kadang naik & turun.

Setidaknya beberapa gagasan tentang pencitraan manusia dan arsitektur yang dieksekusi melalui fotografi ini memberikan sebuah pemahaman lain. Bagaimana sebenarnya arsitektur dengan segala fungsinya selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Dimana arsitektur terjadi karena tuntutan dari jaman yang selalu berubah pula. Semisal isu pemanasan global yang menuntut desain arsitektur yang ramah lingungan. Ataupun isu lokalitas yang menuntut desain arsitektur yang kreatif sesuai kultur setempat. Sehingga kita semakin menyadari bahwa berarsitektur bukan hanya sekedar membangun secara fisik melainkan dengannya kita dapat menawarkan sejumlah solusi kepada dunia. Agar kehidupan di muka bumi ini semakin indah. Agar bumi ini selalu ada yang mempunyai. Dan tentunya fotografi selalu hadir untuk menyapa agar manusia tetap melihat bumi ini dengan keceriaan dan harapan.

*Tulisan ini diberikan sebagai kata pengantar Pameran Foto “Human and Architecture” yang diadakan oleh Arsitektur Foto (AF) Universitas Katolik Parahyangan pada tanggal 14 s/d 20 April 2010 di Galeri Kita, Jalan RE Martadinata 209 Bandung.

@galihsedayu | bandung, 18 mei 2010

Written by Admin

May 18, 2010 at 2:10 am

News at DetikBandung

with 2 comments

Kamis, 01/04/2010 10:03 WIB

Galih Sedayu, Buka Konsultasi Fotografi Gratis
Ema Nur Arifah – detikBandung

Bandung – Bagi penggiat fotografi, nama Galih Sedayu mungkin bisa ditempatkan sebagai pupuhunya komunitas fotografi. Pria kelahiran Bogor, 35 tahun silam ini, boleh dibilang sebagai motor penggerak bermunculannya acara-acara fotografi di Kota Bandung.

Galih pun tak enggan berbagi ilmu. Lewat Air Photography yang didirikannya 17 Agustus 2004 lalu, dia membuka konsultasi gratis untuk mahasiswa yang ingin menggelar acara-acara fotografi. Sebanyak 20-an relawan pun siap membantu sebagai konsultan.

Padahal pendidikan formal Galih tidak berasal dari fotografi. Secara otodidak, setelah lulus dari Tekhnik Indstri Unjani di tahun 1999, Galih belajar dari perusahaan-perusahaan foto tempatnya bekerja.

“Saya pernah bekerja di beberapa studio foto, kemudian berinisiatif untuk membuat usaha foto sendiri,” ujarnya.

Belajar dari pengalaman, dia membuka Air Photography bersama dua kawannya. Galih bisa membuktikan kalau membuka usaha tidak harus berpikir modal yang besar.

Dengan cara mencicil modal, satu per satu sarana dan pra sarana studio dilengkapi. Dalam perjalanannya kemudian, manajemen Air Photography dipegangnya sendiri dan dua kawannya kini hanya sebagai freelancer.

Keseimbangan atau balance manjadi filosofi Galih dalam mengembangkan Air Photography. Tidak semata-mata komersil tapi juga memunculkan sisi sosial.

“Antara komersil dan sosial harus balance,” ujar Galih usai gelaran Photo Speak di garasi Detikbandung Jalan Lombok 33, Rabu (31/3/2010).

Meski awalnya Air Photography didirikan untuk tujuan komersil. Namun keinginan berbagi Galih membuatnya tergerak untuk membuat program-program yang bisa menunjang sisi komersil tadi.

Salah satunya adalah Photo Speak, ajang sharing ilmu fotografi yang digelarnya sejak tahun 2005. Melalui Photo Speak, Galih bisa membangun jaringan komunitas di kalangan mahasiswa. Ruang terbuka konsultasi gratis diberikan pada mereka untuk yang berkaitan dengan event-event fotografi.

“Kalau dengan perusahaan-perusahaan, kita lakukan secara profesional,” jelas pria yang akan melepas masa lajangnya di bulan Mei mendatang ini.

Galih mencontohkan kerjasamanya dengan PT Pos Indonesia yang hampir setiap tahun mengelar photo contest. Setidaknya Galih ingin menunjukan kalau dunia akademisi mash memiliki pe er. Seharusnya, adalah tugas para pengajar untuk memberikan ilmu mengelola event fotografi untuk mahasiswanya.

(ema/avi)

Written by Admin

April 4, 2010 at 2:09 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,