Menyambut Sang Naga & Sang Singa
Teks & Foto : galih sedayu
Kebebasan Perayaan Cap Go Meh bagi kaum Tionghoa di Indonesia tentunya tidak bisa lepas atas jasa besar seorang tokoh pembela kaum minoritas yang bernama Gus Dur. Semasa Gus Dur menjadi presiden, ia membuat gebrakan baru yakni secara tegas mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 yang isinya memenjarakan kebebasan warga Tionghoa untuk merayakan kegiatan budayanya secara terbuka termasuk Imlek & Cap Go Meh. Gus Dur pun lalu mengganti Inpres tersebut dengan alasan bertentangan dengan UUD 1945 dan kemudian ia menerbitkan Keppres No. 6 tahun 2000 yang isinya menjamin kemerdekaan warga Tionghoa agar dapat menjalankan kegiatan keagamaan, kepercayaan & adat istiadatnya secara terbuka. Bahkan pada tahun 2001, Gus Dur menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional. Sejak saat itulah hingga saat ini warga Tionghoa di Indonesia dapat menghadirkan perayaan Cap Go Meh sekaligus menghibur sejumlah warga di sebuah kota termasuk Kota Bandung.
Cap Go Meh sendiri merupakan sebuah upacara yang dirayakan secara rutin setiap tahunnya pada tanggal 15 bulan pertama menurut penanggalan bulan yang merupakan bulan pertama dalam setahun oleh warga Tionghoa. Upacara ini dilakukan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai-yi yakni Dewa tertinggi di langit menurut Dinasti Han (206 SM – 221 M). Istilah Cap Go Meh (Cap = sepuluh ; Go = lima ; Meh = malam) sebenarnya berasal dari dialek Hokkien yang memiliki makna 15 hari atau malam setelah Imlek. Oleh karena itu Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas dan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi warga Tionghoa. Dahulu kala Cap Go Meh merupakan sebuah upacara tertutup yang hanya ditujukan bagi kalangan istana kerajaan China. Dalam perayaan Cap Go Meh tersebut, ikon sentralnya selalu identik dengan Liong (Naga) & Barongsai (Singa) yang menghibur warga dengan gerak tariannya.
Di Kota Bandung, kirab Cap Go Meh tahun 2013 ini dimulai dari Vihara Dharma Ramsi di Jalan Cibadak. Kemudian berkeliling melewati Jalan Astanaanyar, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Kelenteng, Pascal Hyper Square, Jalan Gardujati, lalu kembali ke Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Oto Iskandardinata, serta kemudian berakhir & kembali di Vihara Dharma Ramsi. Kirab Cap Go Meh ini diikuti oleh ribuan orang dan puluhan vihara dari berbagai kota selain Bandung seperti Jakarta, Banten, Bogor, Tegal, Ciamis, Tasikmalaya, dan lain sebagainya. Di sanalah warga Kota Bandung dapat melihat rombongan Liong & Barongsai mengiringi tiga patung yakni Patung Ma Kwan Im Pho Sat (Dewi Kasih Sayang), Hok Tek Ceng Sin (Dewa Rejeki) dan Hian Thian Siang Tee (Panglima Perang) yang diarak dengan menggunakan tandu. Sementara itu Liong (naga) menari dengan berliuk-liuk sambil mengejar bola api di depannya. Tak mau kalah para Barongsai pun berdansa dengan lincahnya sambil diiringi musik para pemain tambur, simbal & ling (bendi). Setelah tarian selesai, warga Tionghoa yang menyaksikan atraksi tersebut baik dari sisi jalan maupun depan rumah atau toko milik mereka pun berbondong-bondong memberikan angpau dalam sebuah amplop yang dimasukkan melalui mulut Liong & Barongsai tersebut sebagai simbol ucapan terima kasih.
Kita dapat menyaksikan di sana, bagaimana warga Tionghoa sungguh berbaur dengan warga dari berbagai suku bangsa yang ada di Kota Bandung. Tak sedikit para pemain Barongsai yang dilakoni oleh kaum pribumi. Lalu kesenian sunda yang diwakili oleh para pemain angklung & calung pun turut berkolaborasi pada kirab tersebut. Bahkan secara serentak musik & bunyi-bunyian yang dihantarkan pada kirab tersebut sepakat untuk berhenti sesaat manakala azan magrib berkumandang di Kota Bandung. Perbedaan budaya yang ada ternyata berujung menyatukan warga.
Untuk itulah kita seharusnya selalu berada di dalam simpul kebersamaan ini. Agar kemerdekaan & kebebasan yang diberikan bagi setiap warga dapat melahirkan tanggung-jawab sekaligus menjadi aksi solusi terhadap masalah sosial sebuah kota. Karena sesungguhnya kebebasan inilah yang memberi kita makanan pengertian dan memberi minum kebijaksanaan. Dan rasa takut akan sebuah perbedaan itulah yang semestinya harus kita singkirkan jauh-jauh. Bila kita mau mencari, dalam perbedaan lah warga mendapat kegembiraan dan puncak sukacita. Oleh karena itu, mulailah melayangkan pandangan kita ke dalam berbagai perbedaan. Perbedaan apapun itu entah budaya, agama, suku, adat istiadat, dan lain-lain. Kemudian wartakanlah semangat pluralisme, egaliter dan persaudaraan dalam perbedaan tersebut sebagai peringatan kebersamaan bagi setiap warga kota.
Bandung, 2 Maret 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Semarak Di Taman Kota Yang Menganggur
Teks & Foto : galih sedayu
Dari sekitar 600 buah Taman yang ada di Kota Bandung, ternyata sebagian besar taman-taman tersebut masih banyak yang tidak terawat dan belum dikelola secara sungguh-sungguh khususnya oleh pemerintah. Padahal semestinya keberadaan taman kota tersebut merupakan salah satu simbol bagi tingkat kemajuan & kebahagiaan masyarakatnya. Karena sejatinya Taman Kota dapat menjadi sebuah ruang berbagi yang diharapkan mampu mengantarkan nilai-nilai dan energi positif bagi warganya. Warga Bandung tentunya akan selalu bersyukur bila kotanya memiliki taman-taman yang ditumbuhi oleh berbagai macam pohon hijau nan rindang, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya dan yang tidak layu daunnya. Taman-taman kota tentunya akan bergirang dan bersorak-sorai tatkala mereka merasakan sentuhan warganya yang bertandang setiap hari ke sana entah itu sekedar melepas penat, mencari oksigen baru ataupun bertamasya bersama keluarga. Tentunya kita tak boleh berdiam diri dalam harapan hampa untuk mengubah citra taman-taman kota yang kita miliki sekarang. Upaya-upaya aktivasi taman kota tersebut harus dimulai meski melalui tindakan kecil apapun bentuknya. Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh sebuah komunitas yang bernama Culindra. Tepatnya tanggal 15 Desember 2012, Komunitas Culindra bersama Bandung Creative City Forum (BCCF) mengadakan sebuah program yang bernama Par(k)tivity, yakni sebuah kegiatan yang pada intinya berupaya mengaktivasi taman kota dengan melibatkan komunitas. Dari mulai pembuatan lubang biopori, pasar barter, open mic, piknik, pertunjukkan musik taman hingga layar tancep dihadirkan oleh Komunitas Culindra di Taman Ganesha Bandung. Sentuhan kecil seperti inilah yang sebenarnya dapat terus dilakukan oleh warga Kota Bandung. Sehingga setiap warga yang menyambangi Taman Kota tersebut akan menjadi rumput abadi baginya dan semua semarak yang dilahirkan oleh warganya akan menjadi bunga yang mekar setiap waktu.
Bandung, 15 Desember 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Menghamilkan Budaya Sungai Kota
Teks & Foto : galih sedayu
Seiring dengan kerapnya aktivasi ruang-ruang publik kota oleh sejumlah komunitas, sesungguhnya semakin menguatkan citra kota berbasis kreatif yang melekat dalam diri Kota Bandung. Bahkan semestinya pemanfaatan ruang-ruang publik kota, haruslah melahirkan budaya baru yang diusung oleh warga Bandung. Karena selama ini agaknya warga Bandung lebih menyukai untuk menghabiskan waktu dengan pergi ke Mall, Factory Outlet atau Restaurant ketimbang menyambangi Hutan, Taman, Kampung atau Sungai yang ada di Kotanya. Alhasil kita lebih sering melihat pemandangan anak-anak kecil yang bergelut dengan mesin games di Mall ketimbang melihat mereka bermain kelereng atau petak umpet di salah satu sudut Kampung Kota. Atau kita lebih sering menjumpai para keluarga yang menyantap makanan fast food di Restoran Cepat Saji ketimbang menjumpai mereka melakukan piknik dan botram dengan aneka masakan rumah di sebuah Taman Kota. Padahal kita sadar benar bahwa ruang-ruang publik tersebut dapat menawarkan nilai-nilai yang lebih baik dibandingkan dengan ruang-ruang publik yang telah berubah fungsi menjadi ruang komersil.
Sungai merupakan salah satu ruang publik kota yang memiliki pesona & keindahan menawan bila dikelola dengan baik. Karena di sanalah kita dapat mensyukuri bahwasanya air sungai yang mengalir jauh tersebut dapat memiliki sejumlah fungsi bagi warga sebuah kota. Dari mulai drainase, penggelontor kotoran limbah, obyek wisata, penyedia air baku, pemanfaatan energi air serta sarana irigasi pertanian. Namun sayang bahwa keberadaan Sungai di Kota Bandung malahan kerap menghamilkan bencana dan melahirkan musibah bagi warganya. Terutama ketika musim penghujan tiba. Luapan air dari sungai-sungai yang membelah Kota Bandung justru membawa teror banjir bagi warganya. Belum lagi genangan sampah yang dibawa serta oleh air sungai tersebut. Tentunya kita tidak bisa serta merta menyalahkan alam dalam hal bencana tersebut. Karena ironisnya, banjir itu timbul justru akibat ulah kita sendiri. Entah itu karena warga yang kerap membuang sampah ke sungai ataupun karena penebangan pohon secara membabi buta sehingga menghilangkan daerah resapan air. Menurut data dari Pemerintah Kota Bandung, ada sekitar 61 sungai dan 46 anak sungai dengan total panjang 252,55 km yang terdapat di Kota Bandung (Pikiran Rakyat, 29 Juli 2011). Bahkan Pemerintah Kota Bandung mencanangkan sebuah program wisata air di semua daerah yang dialiri sejumlah sungai tersebut. Namun demikian, kita tidak bisa mengandalkan janji-janji pemerintah yang kerap ditebar dengan mulut yang manis. Perlu ada upaya untuk menjaga dan mengaktivasi sungai-sungai yang ada di Kota Bandung dengan melibatkan kekuatan kreatif warganya. Tentunya kita tidak bisa melakukan hal itu semua sekaligus. Hanya dengan metoda seperti akupuntur lah, secara realistis dapat kita lakukan terhadap sungai-sungai yang kita miliki saat ini.
Bila kita menyebut nama sungai di Kota Bandung, tentunya nama sungai Cikapundung tidak bisa dilupakan dalam memori kita. Sungai Cikapundung adalah salah satu sungai besar yang membelah Kota Bandung dengan panjang sekitar 15,5 km. Sungai Cikapundung memiliki luas daerah tangkapan di bagian hulu sebesar 111,3 Km2, di bagian tengah seluas 90,4 Km dan di bagian hilir seluas 76,5 Km2. Sedangkan panjang sungai Cikapundung dari hulu Maribaya sampai hilir Citarum mencapai 28 km. Jumlah penduduk yang bermukim di DAS Cikapundung mencapai 750.559 jiwa dengan jumlah penduduk tertinggi berada di Kelurahan Tamansari yaitu 28.729 jiwa (Data BPLH Kota Bandung). Ikon sungai Cikapundung inilah yang kemudian digunakan oleh Bandung Creative City Forum (BCCF) untuk menggelar rangkaian event HelarFest 2012 yang ke-4 bertajuk Cikapundung River Cinema. Kolaborasi BCCF bersama Komunitas House The House, memilih satu titik area yang dilewati oleh sungai Cikapundung tersebut sebagai pusat kegiatan kreatif. Bertempat di Cikapundung Timur Plaza (Jalan Cikapundung Timur / samping Museum Asia Afrika), pada tanggal 22 Desember 2012 area tersebut disulap menjadi sebuah area festival musim hujan. Sejak pukul 2 siang hingga pukul 10 malam, berbagai kegiatan dari mulai Workshop, Artmart, Kuliner, Konser Musik dan Pemutaran Film (Screening) dihadirkan di pinggir sungai Cikapundung. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, pada saat event Cikapundung River Cinema ini berlangsung, hujan pun turun membasahi area festival tersebut. Tak heran karena memang saat itu sedang musim hujan di Kota Bandung. Meski demikian, acara tersebut tetap berlanjut karena kegiatan ini memang sengaja diatur untuk merespon hujan yang akan terjadi. Keunikan dari kegiatan inipun dapat langsung terlihat sejauh mata memandang. Setiap pengunjung dibagikan jas hujan berwarna merah muda secara cuma-cuma. Instalasi puluhan payung pun turut memberikan warna di area pinggiran sungai Cikapundung tersebut. Belum lagi para penonton yang menyaksikan film-film pendek berdurasi 10-15 menit pada layar besar ukuran 8 x 12 m. Pada intinya, Everybody is enjoy in the river.
Semestinya upaya untuk mengaktivasi sungai kota tersebut mesti sejalan dengan upaya untuk menjaga kebersihan sungai. Sungai yang bersih dan jernih sesungguhnya adalah ruang dan tempat kita bercermin. Dan harapannya cermin dari air sungai itu merefleksikan tawa, canda dan keceriaan warga kota ketika mengunjungi sungainya. Siapakah yang akan mendengar jikalau sungai berteriak karena kering atau banjir serta alur alirannya menangis bersama-sama karena kotoran sampah? Karena tentunya kita pun tak ingin air sungai naik sampai ke leher dan kita tenggelam ke dalam sungai yang penuh lumpur. Oleh karena itu bila kita ingin berbuat sesuatu, mulailah keluar dari rumah dan datanglah ke sungai. Kenalilah sungai-sungai yang ada di kotamu dengan melihat dan menyentuhnya. Niscaya setelah itu rasa sayang akan muncul sebagaimana kisah cinta anak manusia. Dan kemudian rasa sayang itu lah yang akan membuat kita untuk melahirkan sikap peduli dan menjaga sungai. Sehingga pada akhirnya kita akan melihat sungai-sungai yang diserbu oleh para warganya. Yang menanti untuk dihamili oleh sebuah budaya baru. A City River Culture…
Bandung, 22 Desember 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Membangunkan Gedung Gas Negara Dari Tidur Panjangnya
Teks & Foto : galih sedayu
Sering kali kita mendengar sebuah ungkapan bahwa “Sebuah kota tanpa bangunan tua ibarat seorang manusia tanpa ingatan”. Karenanya tatkala sekelompok manusia yang congkak dan dungu berlomba untuk merubuhkan bangunan-bangunan lama kotanya hanya demi uang, maka aksi perlawanan terhadap mereka pun sudah semestinya muncul. Wajar saja memang karena gerakan yang ingin menyelamatkan gedung-gedung tua itu mesti terus selamanya didukung agar setiap kota yang kita huni tetap menjadi waras. Salah satu yang menjadi magnet bagi Kota Bandung adalah keberadaan gedung-gedung tua yang tak kunjung henti selalu mempesona mata manusia. Gedung-gedung tua yang menawan tersebut tersebar di berbagai kawasan Kota Bandung. Dalam buku “100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung” yang disusun & diterbitkan oleh Harastoeti DH pada tahun 2011, gedung-gedung tua tersebut dibagi ke dalam kawasan pusat kota, kawasan pecinan/perdagangan, kawasan pertahanan & keamanan/militer, kawasan etnik sunda, kawasan perumahan villa & non-villa serta kawasan industri. Sayangnya hingga saat ini masih banyak bangunan bersejarah di Kota Bandung yang mati suri dan sulit diakses oleh warganya.
Gedung Gas Negara yang terletak di Jalan Braga No 38 adalah salah satu gedung bersejarah yang dimiliki oleh Kota Bandung. Bangunan Gas Negara ini mulai dibangun pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1919 yang dirancang oleh Richard Leonard Arnold Schoemaker. Pada awalnya, bangunan ini merupakan Sekretariat Bandoeng Voorult dan kantor N. V. Becker & Co yaitu sebuah kantor pembayaran. Pada tahun 1928, bangunan ini dibeli oleh perusahaan gas Belanda, N.V. Nederlandsch-Indische Gasmaatschappij (NIGM) sebagai cabang perusahaan gas pertama di Bandung. Setelah jaman kemerdekaan, bangunan ini diambil alih oleh Perusahaan Gas Negara (PGN) yang difungsikan sebagai kantor pusat pembayaran dan administrasi, mirip seperti fungsi bangunan sebelumnya. Hingga pada akhirnya, gedung gas negara ini berhenti beroperasi pada tahun 1998. Sejak itulah Gedung Gas Negara mengalami tidur yang panjang. Untunglah ada sekelompok warga yang terus berupaya membangunkan Gedung Gas Negara dari tidurnya. Salah satunya adalah Mahasiswa Arsitektur Gunadharma ITB. Pada tanggal 10-17 November 2012 yang lalu mereka membuat sebuah pameran bertajuk “Bandung Ngabaraga” yang bertempat di Gedung Gas Negara tersebut. Alhasil karena acara pameran ini terbuka untuk umum, publik pun dapat melihat secara langsung seperti apa isi bangunan Gedung Gas Negara yang telah ditutup selama belasan tahun lamanya tersebut.
Sesungguhnya saat ini perlu adanya upaya-upaya aktif warga untuk kembali menghidupkan bangunan-bangunan tua & bersejarah di Kota Bandung yang telah lama terbengkalai. Untuk kemudian memperkenalkannya kepada anak-anak kita supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian. Supaya anak-anak yang lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka. Supaya mereka menaruh kepercayaan kepada setiap kotanya dan dengan teguh melestarikannya. Karenanya kita perlu menyadari bahwa cinta tidak bisa diberitakan di dalam kubur bangunan tua sebuah kota. Ia akan hidup ketika seluruh warga dapat dengan bebas mengunjungi dan menaruh harapan-harapannya pada gedung-gedung tua sebuah kota. Hingga Kota Bandung akan ada untuk selama-lamanya dan takhtanya seperti matahari & bulan di depan mata, sebagai saksi yang setia di awan-awan.
Save Our Heritage…
Bandung, 16 November 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Simpati Untuk Bandung Selatan
Foto & Teks : galih sedayu
Hati alam memang tak pernah bisa ditebak. Kadang ia bisa menunjukkan kegembiraannya, kadang ia dapat mengeluarkan amarahnya sekonyong-konyong. Meski sudah sejak dulu sesungguhnya alam mengajarkan kita dengan sangat jelas, perihal dampak apa yang akan kita peroleh sebagai konsekuensi perbuatan kita terhadap alam. Bila kita memperlakukan alam ini dengan baik, maka ia pun akan berbaik hati terhadap kita. Begitu juga sebaliknya. Ia dapat menaikkan kabut dari ujung bumi, membuat kilat mengikuti hujan & mengeluarkan angin beserta banjir dari dalam perbendaharaannya. Itu yang akan terjadi bila segala tindakan kita malahan kerap merusak alam ini. Karenanya karma alam adalah inti dari keseimbangan semesta.
Minggu 18 November 2012. Hujan lebat disertai angin telah mengguyur Komplek Cingcin Permata Indah (CPI), Desa Gandasari, Kecamatan Ketapang, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat sejak pukul 2 siang hingga pukul 10 malam. Bila melihat foto sebuah jam dinding yang jarumnya telah mati dan berada di atas tembok rumah Ibu Dadan (salah satu penduduk komplek CPI), diperkirakan sekitar pukul 18.17 WIB banjir bandang telah menerjang dengan ganas bersamaan dengan meluapnya air sungai dari arah belakang komplek CPI. Akibat dari hantaman air yang bercampur lumpur & sampah tersebut, tembok rumah milik Ibu Dadan pun langsung jebol seketika hingga membuat sebuah lubang besar sebagai bekasnya. Untungnya Ibu Dadan beserta keluarganya telah memiliki ritual yang sudah sejak lama dilakukan yaitu mengungsi tatkala hujan deras tiba. Penduduk setempat pun mengatakan bahwa pada sekitar pukul 8 malam, ketinggian air sudah mencapai 3 meter di komplek CPI. Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, ada sekitar 300 rumah yang terendam air & banjir di hari yang naas tersebut.
Dan atas nama solidaritas beserta kemanusiaan, berbagai bantuan pun hadir di tengah penderitaan yang dialami oleh warga korban banjir bandung selatan. Meski kita sadar bahwa bencana banjir itu disebabkan karena ulah manusia juga, namun kita tidak boleh berhenti dalam urusan mengulurkan tangan. Sebab di sanalah martabat kita sebagai seorang manusia diuji. Bagaimana ketulusan kita untuk menyediakan pertolongan dalam bentuk apapun. Saat ini bantuan bisa disalurkan melalui posko aksi bandung (twitter @aksibandung) di Jalan Purnawarman 70 Bandung. Atau dapat langsung menghubungi BPBD Kabupaten Bandung, Jalan Bandung-Soreang KM 17, Telp.022-85872591/76914288. Untuk donasi melalui tim @aksibandung, para sahabat bisa melakukan transfer ke rek BCA 0860437813 atas nama Puji Apriantikasari. Tentunya bencana alam ini tidak berakhir di tempat ini saja. Pada saat yang bersamaan ternyata masih ada musibah banjir & tanah longsor yang terjadi di Banjaran, Majalaya, Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Soreang, Kutawaringin, dan daerah lainnya. Apa yang telah kita bangun selama bertahun-tahun lamanya, mungkin akan hancur dalam sekejap oleh bencana alam. Meski begitu tetaplah membangun. Bantuan yang kita berikan kepada korban bencana alam, mungkin saja tidak cukup bagi mereka. Meski begitu tetaplah membantu. Karena dengan tindakan kecil itulah kita menjadi alas hidup yang abadi bagi sesama.
Bandung, 19 November 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.




































































































































