Angin Yang Berhembus Ke Kampung Cicukang
Foto & Teks : galih sedayu
Angin perubahan itu bisa terjadi di setiap sudut manapun dimana manusia bermukim. Ia bukan hanya keluar memanggil di pusat kota saja, melainkan kadang berhembus menuju kampung-kampung nun jauh di pinggir kota sana. Dari kampunglah, saat ini mulai terungkap berbagai cerita perihal semangat dan harapan yang sebelumnya jarang terdengar. Karenanya keberadaan entitas kampung tersebut dapat menjadi momentum awal akan sebuah pemahaman baru. Bahwasanya kekuatan sebuah kota yang dulunya kerap muncul dari tengah, kini ia hadir mengepung dari pinggir-pinggir kota yang kadang tak terlihat oleh mata kita. Meski kadang himpunan energi kampung ini mesti berjuang keras dan terus berproses demi membuktikan bahwa mereka bisa bermartabat di kampungnya sendiri.
Salah satu contoh dari yang telah disebutkan di atas adalah Kampung Cicukang. Kampung Cicukang II tepatnya RT 05 RW 07 ini termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Husein S, Kecamatan Cicendo yang diapit oleh Jalan Komud Supadio Bandung. Kampung Cicukang merupakan salah satu pemukiman padat di Kota Bandung yang lokasinya terletak di sepanjang pinggir rel Kereta Api. Di sanalah kita dapat menatap sebuah kampung yang hampir setiap 15 menit sekali, dilewati oleh gerbong-gerbong Kereta Api dengan suara gemuruh roda besinya. Karenanya Kampung Cicukang tersebut kerap dijadikan simbol gerbang masuk bagi gerbong-gerbong besi yang mengangkut ratusan manusia ke Kota Bandung. Sebagaimana kampung kota pada umumnya, beberapa permasalahan pun melekat di dalam tubuh Kampung Cicukang ini. Dari mulai kesulitan untuk mendapatkan air bersih, pembuangan sampah, tawuran pemuda, kesulitan ekonomi masyarakatnya, tata ruang yang semerawut, dan sejumlah masalah sosial yang timbul dari berbagai aspek yang ada. Namun ternyata, warga Kampung Cicukang ini memiliki modal yang sangat berharga. Mereka memiliki semangat kekompakan yang luar biasa. Mereka sangat mendambakan sentuhan kolaborasi dari sesamanya. Dan akhirnya aliran setrum itu pun menyengat di Kampung Cicukang. Melalui Program Akupuntur Kota yang dihadirkan oleh Bandung Creative City Forum (BCCF) dengan konsep Kampung Kreatifnya, keintiman yang berbuah kreativitas pun lahir di sana. Letupan-letupan kecil potensi & ide yang dimiliki oleh warga Kampung Cicukang ini menjadi sesuatu yang amat dibutuhkan demi membangun peradaban baru.
Dan denyut nadi lain di Kampung Cicukang ini pun mulai berdetak. Terdapat sekelompok ibu-ibu Kampung Cicukang yang membentuk sebuah grup bernama Musik Dapur Mekar Asih. Uniknya, mereka memainkan alat musik dari perabotan dapur yang sudah tidak terpakai. Ada wajan bolong, rantang-rantang bekas yang dirakit dengan pipa paralon, bekas galon minuman yang disulap jadi alat tabuh, dan lain sebagainya. Cerita humor pun muncul dari salah satu personil grup Musik Dapur Mekar Asih ini yang bernama Ibu Euis. Teman-temannya sering menyapa Ibu Euis dengan sebutan Agnes Monica. Entah mengapa yang pasti ngga banget miripnya. Ibu Euis sempat berujar bahwa sebelum meninggal, ia ingin sekali bertemu dengan idolanya semenjak kecil yaitu Haji Roma Irama. Biar tidak penasaran dan melengkapi hidup katanya. Semoga Bang Haji membaca tulisan ini dan segera pindah rumah. Pada saat ibu-ibu ini tampil di depan panggung, semangat dan keceriaan mereka sangat tampak terlihat. Tak kelihatan raut wajah mereka yang menunjukkan ekspresi canggung saat tampil di depan penonton. Meski kadang suara-suara musik dapur itu hilang ditelan suara roda besi yang menyentuh rel di saat Kereta Api datang melewati kampung tersebut. Lalu energi lain muncul dari kelompok anak mudanya. Selain mereka membuat mural kampung, mereka menciptakan wayang yang terbuat dari seng dan memasangnya di sepanjang pinggir kampung mengikuti jalur Kereta Api. Semacam Kinetic Art konsepnya. Menurut mereka, rencananya suatu saat akan dibuat wayang seng skala gigantik sebagai penanda keberadaan Kampung Cicukang tersebut. Lain halnya dengan kuliner Kampung Cicukang yang tak kalah uniknya. Ada makanan yang dinamai Martabak Israel, Cidog (Aci & Endog), Perkedel Bondon, dan Kerupuk Seblag oleh para warganya. Semuanya ini terlihat jelas kala diadakan Festival Kampung Cicukang sekaligus peresmiannya pada hari minggu tanggal 7 Oktober 2012.
Inilah sekelumit cerita tentang Kampung Cicukang yang (memang) tak sepenuhnya lengkap dan indah. Karena masih banyak sebenarnya realitas permasalahan yang tersisakan dan mau tidak mau mesti dihadapi oleh warganya. Isu sampah dan air misalnya. Meskipun demikian, selalu ada seberkas cahaya mentari yang menyinari Kampung Cicukang ini. Dari sanalah semua kisah perubahan itu semestinya berawal. Sebuah kampung yang mandiri, yang bagi sebagian orang menjadi representasi wilayah kumuh dan tidak berestetika. Namun demikian, kita perlu mengupayakan ke depan agar citra Kampung Cicukang dapat menjadi semacam backstage tourism, yang memiliki potensi wisata dari sisi lain yang menyelimutinya. Meski ia tentunya berbeda dengan etalase wisata resmi yang eksotis plus indah menawan pada umumnya. Tetapi kita harus percaya bahwa keberadaan kampung-kampung seperti inilah yang sebenarnya menopang tubuh sebuah kota. Agar ia selalu berdiri tegak setiap harinya dari mulai matahari terbit di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat. Sehingga kelak kita bisa menitipkannya kepada anak dan cucu kita seraya berkata, “Inilah Kampungmu, Jadikanlah Kotamu”.
Bandung, 13 Oktober 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Kebhinnekaan Itu Bernama Nusantara
Foto & Teks : galih sedayu
Bumi pertiwi ini tidak pernah membedakan.
Ia selalu menjadikan keberagaman itu tetap satu.
Tatkala kadang kita cenderung memisahkan.
Lalu mengapa?
Ribuan budaya ini seharusnya menjadi kekuatan.
Bukannya ketakutan.
Sudah semestinya kita menyadari.
Bahwa jiwa & cita kita sebenarnya satu.
Ia tidak bisa dipecah belah.
Mungkin kita hanya perlu mengerti.
Tak perlu untuk dipertanyakan kembali.
Darimana asalnya?
Bangunlah dari tidur panjang kita.
Jangan pernah diam dalam kekayaan.
Bangsa kita menunggu kejayaan.
Jika tanah air adalah tempat kita berpijak.
Maka tunjukkanlah kepadanya.
Arti dari para penghuninya.
Jika memang benar bahwa kita merdeka.
Janganlah diam seribu basa.
Jadikanlah nusantara kita hidup selamanya.
Bandung, 8 Oktober 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Pesan Dari Kampung Taman Hewan
Foto & Teks : galih sedayu
“Pada suatu tempat di Kampung Taman Hewan”
Pemantik semangat perubahan kota itu sesungguhnya tidak hanya datang dari otak-otak masyarakat kreatif yang tinggal di pusat kota saja. Himpunan Kampung Urban yang biasanya terpinggirkan dan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, ternyata dapat menjadi sebuah pusat energi kreatif pula yang membentuk peradaban kota. Meski kadang kelompok kampung ini terpaksa hidup terhimpit oleh tembok arogansi yang mengatasnamakan pembangunan kota. Mereka inilah sebenarnya yang diharapkan mampu untuk melawan segala superioritas dan rasa kecongkakan sekelompok orang/pengusaha yang berfikiran dangkal yang hanya memikirkan bagaimana menciptakan sejumlah ruang komersil di sebuah kota.
Kampung Taman Hewan adalah salah satu areal dan kawasan marjinal di Kota Bandung yang mencoba tumbuh dan bergerak di antara pembangunan fisik yang mulai mengepung. Kampung Taman Hewan RW 08 ini termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong dan terletak di belakang Kebon Binatang, Jalan Taman Hewan Kota Bandung. Bila kita berdiri tepat di lapangan tengah Kampung Taman Hewan (yang biasanya digunakan sebagai lapangan sepakbola) dan menghadap ke sisi sebelah barat , maka kita akan melihat bahwasanya kampung ini bak dipagari oleh bangunan tinggi menjulang yang rencananya akan dijadikan rumah susun. Tak ada lagi pemandangan belantara hijau menyejukkan dan kicau unggas beterbangan yang dulunya sempat dimiliki oleh kawasan tersebut. Uniknya, Kampung Taman Hewan ini memiliki salah satu tokoh masyarakat yang masih muda. Masyarakat kampung ini memanggil namanya dengan sebutan Tjuki atau Cuki. Maklum, ia adalah pentolan dari band punk bernama Tjukimay yang telah dirintisnya sejak tahun 2000. Saat ini Cuki banyak memprovokasi warga Kampung Taman Hewan untuk menjadi produktif dan mengajarkan nilai-nilai kemandirian yang kelak dapat meningkatkan martabat kampung tersebut.
Program Akupuntur Kota adalah sebuah gagasan sederhana dari Bandung Creative City Forum (BCCF) yang mencoba menciptakan berbagai Kampung Kreatif di Kota Bandung. Kampung-Kampung ini nantinya diharapkan mampu untuk menjadi model & contoh nyata dari sebuah Social Movement yang diusung oleh masing-masing warga kampung tersebut. Sehingga berkat perubahan kecil yang dilakukan oleh masing-masing kampung inilah, yang pada akhirnya diharapkan mampu membuat sejumlah perubahan besar di Kota Bandung. Kampung Taman Hewan adalah salah satu kampung kota yang menjadi titik akupuntur permasalahan sebuah kota. Melalui sebuah gelaran kreatif yang bernama Festival Kampung Tamansari, Lapangan Tengah Kampung Taman Hewan (yang merupakan bagian dari perkampungan di daerah tamansari) disulap menjadi sebuah arena ruang publik dan tempat bersinerginya sebagian besar komunitas Kota Bandung. Kampung Taman Hewan inilah yang diharapkan mampu menjadi salah satu ruang publik masyarakat Kota Bandung. Tidak hanya Mall & Factory Outlet saja yang malahan kerap menimbulkan kemacetan dan degradasi sosial.
Tentunya kita semua sadar benar, bahwa perlu adanya sinergi bersama untuk merealisasikan mimpi sebuah kota yang ideal. Untuk itu BCCF pun menggandeng Keluarga Mahasiswa Seni Rupa (KMSR) ITB sebagai pelaksana kegiatan Festival Kampung Tamansari khususnya aktivitas yang dilakukan di Kampung Taman Hewan. Karena selain di kampung ini, Festival Tamansari juga menggelar sebuah program Mural Atap di kawasan Kebon Kembang. Tepatnya tanggal 20 September 2012 hingga 22 September 2012, Festival Kampung Tamansari ini dipersembahkan bagi khalayak umum. Sejumlah komunitas, pihak akademisi, instansi, seniman, dan warga kampung pun turut memberikan andil pada perhelatan di Kampung Taman Hewan tersebut. Dari mulai Hay Man Movement yang memberikan workshop melukis layang-layang, TPB FSRD ITB 2012 & senior KMSR ITB yang mengerjakan Mural Lapangan, Air Foto Network yang memberikan workshop foto jurnalisme warga, Pemutaran Film oleh Komunitas Layar Kita, Sentuhan kuas Tisna Sanjaya yang berduet dengan suara harmonika yang dilantunkan Hari Pochang, serta Video Mapping dari Interacta. Bahkan sejumlah musisi seperti Kasada, Trah Project, Pancasura, Karinding Sagara, Teman Sebangku, Nada Fiksi & Sound of Hanamangke turut memeriahkan Festival Kampung Tamansari tersebut. Kehadiran Walikota Bandung (Dada Rosada) dan Wakil Walikota Bandung (Ayi Vivananda) juga melengkapi simbol sinergisitas masyarakat sebuah kota. Meski sebenarnya sebagian besar pidato tentang kebakaran yang disampaikan secara panjang lebar oleh Walikota Bandung pada saat itu, agaknya kurang relevan dengan konteks kreativitas yang digelar di Kampung Taman Hewan ini. Namun biarlah.
Apa yang telah dilakukan oleh warga Kampung Taman Hewan ini adalah sebentuk kesadaran kolektif yang menawarkan sebuah pemikiran sekaligus getaran emosional bagi masyarakat kota dimanapun. Bahwa nun di kaki langit urban sebuah kota, masih ada dimensi lain yang merindukan keintiman di sana serta masih ada artefak peradaban yang merindukan sebuah perubahan. Karena sesungguhnya persoalan yang ingin mereka komentari adalah sebentuk masa depan yang terhalang. Masa depan sebuah kampung yang mungkin tertutup oleh tembok, debu & suara bising pembangunan. Serta ketidak adilan bagi mereka yang hendak membungkam suara-suara protes warga. Walaubagaimanapun hari esok Kampung Taman Hewan hanya ada pada upaya keras yang diperlihatkan oleh warganya. Juga solidaritas dan empati dari komunitas kotanya. Dan tentunya kemauan baik serta tindakan nyata dari pemerintahnya. Dalam kekuatan itulah semestinya kita percaya.
“Pada suatu masa di Kampung Taman Hewan”
Bandung, 5 Oktober 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Dari Gelap, Sepakbola, Lalu Matahari
Foto & Teks : galih sedayu
“Semangat Tanpa Perjuangan adalah Omong Kosong”
– Ginan Koesmayadi –
Masalah stigma dan diskriminasi bagi kaum marjinal seperti orang-orang dengan HIV/AIDS (ODHA) maupun mantan pengguna Narkoba, selalu menjadi isu yang menghadirkan sekelumit polemik di Bumi Pertiwi yang kita cintai ini. Bagi sebagian orang yang tidak mengerti, mereka yang tergolong ke dalam kelompok minoritas tersebut kerap dicap dan dipandang sebelah mata bahkan dianggap sebagai sampah dalam sebuah tatanan komunitas yang semestinya egaliter. Melihat perspektif miring dan gelombang sosial yang timbul dari sebagian besar masyarakat tersebut, tentunya perlu sebuah upaya untuk melawan stigma dan diskriminasi yang kadang menjadi tidak adil. Tidak adil karena stigma itu kadang datang menyerbu dan membabi buta tanpa adanya tawaran solusi secuil pun. Namun demikian kita harus percaya bahwa matahari pasti akan menunjukkan sinar terangnya. Saat ini mulai lahir individu-individu maupun kelompok yang berjuang untuk membela komunitas marjinal tersebut. Meski kadang mereka harus muncul dari kandang gelap yang dimilikinya.
Ginan Koesmayadi (31 tahun) bersama Komunitas Rumah Cemara yang dirintisnya sejak tahun 2003, memberikan warna sejarah dengan melakukan sebuah lompatan perubahan melalui Sepakbola demi melepaskan paradigma negatif yang ditujukan bagi para ODHA. Ginan adalah salah satu dari orang yang terjangkit virus HIV Positif. Tapi takdir yang menimpa dirinya tidak menjadikan alasan baginya untuk berhenti berjuang. Horor kematian karena menderita HIV/AIDS tidak membuat ia menjadi rapuh. Kecintaannya kepada olahraga sepakbola akhirnya membawa Ginan kepada sebuah dunia yang penuh perubahan. Ia pun membentuk tim sepakbola Rumah Cemara. Dengan sepakbola ia mengajak masyarakat untuk berbaur sehingga ia bisa menceritakan kisahnya kepada dunia. Tim sepakbola ini akhirnya menjadi sebuah roda harapan. Sederet prestasi pun diraih oleh Tim Sepakbola Rumah Cemara dari mulai menjuarai Street Soccer Competition 2010 hingga Turnamen Sepakbola yang digelar oleh Badan Narkotika Nasional selama dua tahun berturut-turut (2009 & 2010). Bahkan tim Rumah Cemara ini berhasil meraih penghargaan internasional dalam kompetisi ide bertajuk “Changing Lives through Football” yang diadakan oleh Ashoka dan Nike Internasional. Atas dasar prestasi tersebut akhirnya buah ide mereka tentang program sepakbola diganjar dengan hadiah sebesar US $30.000. Ide sederhana mereka yang menjadikan sepakbola sebagai medium komunikasi antara kaum minoritas dengan masyarakat dunia dianggap tepat sebagai solusi permasalahan & ajang perubahan sosial. Lalu pada tahun 2009 tim Rumah Cemara ditunjuk menjadi Official National Organizer oleh pihak “Homeless World Cup”, yaitu sebuah kejuaraan Street Soccer Internasional dimana para pesertanya adalah kelompok minoritas dari seluruh dunia. Kemudian tahun 2010 mereka mendapatkan tanggung jawab untuk memberangkatkan Tim Indonesia pada ajang Homeless World Cup di Brazil. Hanya saja karena tidak adanya dukungan dana, Tim tersebut tersendat mewujudkan keinginannya untuk membawa nama Indonesia di kancah internasional. Tapi mereka pun tidak mau menyerah. Dengan dukungan semua pihak, pada tahun 2011 mereka berhasil memberangkatkan Tim Nasional Indonesia di Homeless World Cup yang diadakan di Paris, Perancis. Sepulangnya dari sana, tim Rumah Cemara menggelar sebuah ajang yang bernama “League of Change” (Liga Perubahan) berupa turnamen nasional street soccer untuk orang dengan HIV/AIDS, mantan pengguna NAPZA & masyarakat termarjinal dari delapan provinsi di Indonesia.
Pada tahun 2012 ini, Tim Rumah Cemara kembali berusaha sekuat tenaga untuk menghadirkan Timnas Indonesia demi mengibarkan bendera Merah Putih pada ajang Homeless World Cup yang akan diadakan pada bulan oktober di Mexico. Tentunya mereka membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk mewujudkan impian mereka tersebut. Tak kehilangan akal, tim Rumah Cemara & manajemen timnas akhirnya menciptakan sebuah program yang dinamai “Gerakan Masyarakat Satu Mimpi” berupa #1000 untuk 1. Inti program ini adalah mengumpulkan donasi sebesar seribu rupiah per orang agar berhasil mengumpulkan sejumlah dana yang mereka butuhkan. Bayangkan apabila ada 500 ribu rakyat Indonesia yang masing-masing bersedia menyumbang seribu rupiah, maka akan terkumpul dana sebesar 500 juta. Dan akhirnya mimpi itu terjawab. Mereka berhasil mengumpulkan dana. Gerakan #1000 untuk 1 yang didapat dari komunitas, mahasiswa, musisi, seniman & berbagai lembaga menghasilkan Rp 90 juta lebih. Sedangkan hasil dari sumbangan pemerintah & pihak swasta yang berhasil dikumpulkan yakni sebesar 300 juta lebih.
Rupanya para pahlawan sepakbola ini bukanlah tipikal sekelompok orang yang lupa pada kasih Sang Semesta dan bukanlah merupakan kumpulan manusia yang tidak memiliki rasa syukur. Wujud cinta & terima kasih yang mereka lakukan karena telah berhasil mengumpulkan dana agar bisa menyambangi Mexico pada ajang Homeless World Cup 2012, ternyata diungkapkan melalui sebuah Nazar atau Kaul berupa bermain sepakbola selama 24 jam. Tepatnya pukul 5 sore pada hari Sabtu tanggal 22 September 2012 mereka memulai nazar bermain bola selama 24 jam di Lapangan Bawet yang terletak di bawah kolong jembatan flyover pasupati Bandung. Sejumlah tim sepakbola futsal dari berbagai klub menjadi lawan bertanding Timnas Indonesia yang akan tampil di Mexico. Dari mulai mantan pemain Persib Bandung hingga klub sepakbola Srikandi Pasundan yang pemainnya terdiri dari para waria dengan betis becaknya, turut menemani Timnas Indonesia menjalani nazarnya. Akhirnya tepat pukul 17.00 WIB pada hari Minggu 23 September 2012, Rumah Cemara & Timnas Indonesia berhasil menuntaskan janji bermain sepakbola 24 jamnya. Suasana pun berubah menjadi euforia kegembiraan sekaligus haru biru karena mereka telah rampung menunaikan apa yang telah menjadi kewajibannya. Para pemain yang rata-rata memiliki wajah sangar dengan tato di tubuhnya, saat itu menunjukkan sisi mereka yang paling lembut. Manajer Timnas Indonesia, Febby Arhemsyah terlihat haru dan tersungkur sembari berpelukan bersama teman-temannya di lantai lapangan bawet yang keras. Seorang pemain yang lain memeluk ibundanya erat-erat dan tak kuasa menahan isak tangis. Setelah itu Ginan Koesmayadi yang menjadi ikon Tim tersebut, sambil menggendong seorang anak kecil mencurahkan rasa terima kasih sekaligus memotivasi teman-temannya untuk terus berjuang agar bisa tampil dengan baik di Mexico.
Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Ginan bersama teman-temannya adalah sebuah cerminan nyata kepada kita manusia yang merefleksikan sebuah harapan, optimisme & perjuangan yang tekun. Bahwa kelenjar-kelenjar adrenalin dan butiran-butiran keringat mereka bukanlah tanpa hasil. Tanpa disadari doa-doa mereka bersatu. Dan hanya segelintir manusia seperti merekalah, yang memiliki jiwa, semangat dan perjuangan baja. Dia tak dapat dibeli dengan emas yang melimpah. Tak bisa diperoleh dengan arogansi kekuasaan yang membelenggu. Tak bisa dimiliki dengan rasa iri dan dengki. Mereka membuktikan bahwa kaum yang terpinggirkan ternyata memiliki nilai hidup. Bahwa orang dengan HIV/AIDS bukanlah kaum yang terkutuk. Melalui sepakbola mereka mengantarkan kita kepada sebuah kehidupan yang setara dan jalan menuju sebuah perubahan bagi dunia. Demi cahya di kegelapan malam, maka tim mimpi ini diharapkan mampu menjadi pelita bagi Indonesia. Selamat menyanyikan lagu Indonesia Raya di Mexico.
Bandung, 24 September 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Melihat Jakarta
Teks : galih sedayu
Menceritakan kota metropolitan yang satu ini seolah-olah memang tiada habisnya. Ialah Jakarta, sebuah kota yang ditahbiskan menjadi ibu kota negara Indonesia, yang selalu menyimpan sejumlah harapan bagi para warga yang mengadu nasib dan menetap di sana. Berbagai sebutan pun melekat untuk Kota Jakarta sejak dulu dari mulai Sunda Kelapa, Jayakarta hingga Batavia. Hingga kini, pada akhirnya Kota Jakarta menjadi sebuah sentral segala informasi pemerintahan dan diharapkan menjadi salah satu simbol pencitraan sebuah kota yang dapat mewakili tanah air dalam hal pembangunan serta kemajuan ekonomi.
Agar dapat melihat secara aktual bagaimana sebenarnya denyut nadi perkembangan Kota Jakarta saat ini, tentunya diperlukan sebuah medium sederhana yang sejatinya dapat menjadi alat bantu masyarakat untuk meneropong segala hal yang terjadi di Kota Jakarta. Media fotografi dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengungkap kembali cuplikan-cuplikan kehidupan keseharian Kota Jakarta. Untuk itulah wargajakarta.com bekerjasama dengan salam jakarta dan air foto network, menghadirkan sebuah program yang bernama “Jakarta Kita Photo Awards” yaitu Kompetisi Fotografi perihal Kota Jakarta kini. Kompetisi fotografi ini dibagi menjadi tiga kategori yaitu foto aktivitas masyarakat Kota Jakarta, foto pembangunan Kota Jakarta serta foto seni & budaya Kota Jakarta. Kompetisi foto ini berhasil menjaring 151 peserta dari seluruh Indonesia, dengan jumlah karya foto yang masuk sebanyak 690 karya. Penjurian kompetisi foto ini dilakukan oleh para dewan juri yang terdiri dari Dudi Sugandi (wartawan foto), Galih Sedayu (fotografer & pegiat fotografi) dan Rully Kesuma (jurnalis).
Untuk itulah himpunan karya foto yang telah diabadikan oleh para fotografer tanah air ini, layak untuk dipersembahkan ke dalam sebuah jurnal fotografi. Jurnal fotografi ini sudah semestinya ada agar rekaman-rekaman hening yang tercipta dari mata dan hati masing-masing pemotret setidaknya dapat memberikan jejak kecil bagi sejarah baru Kota Jakarta. Jurnal fotografi kali ini memang tidak menyuguhkan cerita Kota Jakarta yang muram & gelap, melainkan citra Kota Jakarta yang optimis. Dengan demikian seluruh karya foto yang merefleksikan segala hal baik yang terjadi di Kota Jakarta, setidaknya dapat menjadi kumpulan doa dan harapan bersama bagi warganya. Walaubagaimanapun kita harus percaya bahwa segala hal apapun yang pada mulanya diselimuti kebaikan, pada akhirnya akan menghasilkan nilai yang sama sesuai dengan apa yang telah kita berikan. Karenanya berikanlah segala hal yang terbaik dari milikmu bagi kota yang kamu cintai.
*Tulisan ini dibuat sebagai kata pengantar Jurnal Fotografi “Jakarta Kita Photo Awards” yang diadakan oleh Salam Jakarta & wargajakarta.com
Bandung, 7 September 2012
“Bandung : Sound of Silence” | A Photography Project by galih sedayu
Foto & Teks : galih sedayu
Bandung, Bandung, Bandung nelah Kota Bandung
Bandung, Bandung, sasakala Sangkuriang di lingkung gunung, heurin ku tangtung, puseur kota nu mulya Parahiangan
Bandung, Bandung pada muru di jarugjugan
***
Bandung, Bandung, Bandung disebut Kota Kembang
Bandung, Bandung, legenda Sangkuriang dikelilingi gunung, padat penduduknya, ibukota yang mulia Parahyangan
Bandung, Bandung, jadi tujuan semua orang
– Lagu Sunda “Bandung” ciptaan Mang Koko Koswara
Membaca Bandung sebagai sebuah kota, tentunya tidak bisa dipisahkan pada kejadian bersejarah di tahun 1810. Tatkala Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa pada saat itu, dengan didampingi oleh Bupati Bandung yakni Wiranatakusumah II, berjalan kaki menyambangi suatu tempat yang kini disebut sebagai Tugu Nol Kilometer di Jalan Asia Afrika Bandung. Di sanalah Daendels menancapkan tongkat kayunya seraya berkata: “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is ge-bouwd!” yang artinya adalah “Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota!”.
Perintah yang keluar dari mulut seorang Daendels itulah yang kemudian membuat Bandung yang tadinya merupakan sebuah dusun yang sepi, kini menjadi sebuah kota yang lain. Bahkan perubahan kota Bandung seolah-olah telah dinubuatkan oleh para sepuh sunda sesuai dengan “cacandran” (tanda-tanda jaman) dalam “Uga Bandung” (ramalan bandung) yang menyebutkan bahwa Bandung heurin ku tangtung (bandung padat penduduknya). Menurut catatan sejarah yang ditulis oleh Haryoto Kunto, sekitar tahun 1900 kota Bandung hanya memiliki penduduk sekitar 28.963 jiwa. Bandingkan dengan jumlah penduduk kota Bandung saat ini (2012) yang sudah mencapai lebih dari 2 juta jiwa.
Dahulu kala kota Bandung menyimpan segudang julukan nama yang harum semerbak dari mulai “Bandung Parijs van Java”, “Bandung Kota Kembang”, “Bandung the Garden of Allah”, “Bandung Paradise in Exile”, “Bandung Kota nan Sejuk” dan lain sebagainya. Apakah julukan tersebut masih pantas diucapkan bila melihat tubuh kota Bandung sekarang? Rasa-rasanya kita harus berpikir dua kali. Bahkan akan lebih tepat bila kota Bandung saat ini diberi predikat sebagai “Kota Macet”, “Kota Polusi”, “Kota Factory Outlet”, “Kota Sampah” ataupun “Kota Banjir”. Mengapa demikian? Karena realitanya berbicara tegas seperti itu. Keseharian kota Bandung saat ini dengan mudah divisualkan sebagai kota yang semerawut dan mulai kehilangan jati dirinya. Belum lagi berbagai permasalahan tata kota yang carut marut seperti penghancuran bangunan bersejarah, taman-taman kota yang tidak terawat serta pedagang kaki lima yang makin membludak tak beraturan. Dengan melihat itu semua, tentunya warga Bandung tidak bisa tinggal diam dan duduk manis melihat keadaan kota yang semakin dekat ke arah sakral maut tersebut. Paradigma bahwa ini semua adalah tanggung jawab pemerintah haruslah dibinasakan. Masyarakat harus menyadari bahwa mereka tidak bisa mengandalkan pemerintah selama cara mereka mengelola Kota Bandung masih seperti ini. Masyarakat Bandung harus yakin dan percaya bahwa kota ini bisa berubah menjadi yang lebih baik selama para warganya mau bangun dari tidur panjangnya dan mulai peduli dengan kotanya. Warga Bandung harus mau untuk mulai mematikan TV dan berjalan melihat segala isi kota yang ditinggalinya. Karena sejatinya sebuah kota yang sehat dapat terwujud ketika para warganya mulai keluar rumah dan memiliki tanggung-jawab sosial untuk berbuat sesuatu bagi masa depan kotanya.
Jika manusia butuh istirahat, maka seharusnya demikian pula dengan sebuah kota. Satu-satunya kesempatan langka melihat Kota Bandung berhenti beraktivitas yaitu saat hari raya lebaran dimana pada saat inilah para umat muslim kompak melakukan kegiatan salat id bersama. Pada momen seperti itulah kita dapat melihat bagaimana jantung kota Bandung seperti berhenti berdetak dan mata kota Bandung seperti lelap terpejam meski sesaat. Kawasan Jalan Fly Over Pasupati, Jalan Braga, Jalan Merdeka, Jalan Cihampelas, Jalan Dago, Jalan Pecinan, semuanya lelap tertidur. Tidak ada aktivitas pedagang, tidak ada lalu-lalang kendaraan bermotor, ataupun suara bising kesibukan Kota Bandung. Hanya ada atmosfir hening, sunyi dan diam. Bandung padam sementara. Sungguh sebuah pemandangan yang ambigu tentunya. Di satu sisi dapat menimbulkan rasa rindu namun di sisi lain menimbulkan rasa ngeri. Namun sebenarnya momen ini lah yang diharapkan dapat menjadi ajang kontemplasi bagi warga Kota Bandung. Mengajak warga untuk kembali berpikir jernih dan menata ide-ide yang seharusnya berguna bagi Kota Bandung. Dimana sesudahnya mampu melahirkan sejumlah energi positif yang siap membungkus Kota Bandung. Karenanya sebuah kota akan terus berlangsung dengan segala hal yang diberikan oleh para warganya. Semoga himpunan visual hening ini dapat mengiringi perjalanan panjang warga Kota Bandung agar selalu menjadi ingatan bersama bahwasanya Kota Bandung ini memang layak untuk dicintai. Tanpa berharap imbalan apapun dan dengan sepenuh hati.
Bandung, 19 Agustus 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.








































































































































