Embrio Dari Bawah Kolong Jembatan
Teks : galih sedayu
Sebuah ide biasanya lahir dari sesuatu yang sederhana. Dari kegiatan kecil semisal diskusi pun bisa melahirkan sejumlah ide yang besar. Berawal dari program regular yang digagas oleh air foto network yakni Ngopi #4 {Ngobrol santai & tukar pikiran soal fotografi}, berlokasi di bawah kolong jembatan pasopati, tepatnya di taman kampung pulosari, lahirlah embrio fotografi di Kota Bandung yang bernama Kampung Foto Bandung. Sejatinya Kampung Foto Bandung ini adalah sebuah gerakan kolektif melalui fotografi yang berupaya mengaktivasi ruang publik kampung kota. Kampung pulosari adalah salah satu kampung urban yang terletak di bawah jembatan pasopati bandung, di depan lapangan bawet yang biasanya sering digunakan oleh komunitas Rumah Cemara untuk kegiatan sepak bola. Kampung ini sangat beruntung karena dilewati oleh aliran Sungai Cikapundung, sehingga suara air sungai menjadi bagian yang tak terpisahkan ketika kita menyambangi tempat tersebut. Adalah Kang Handoko atau yang akrab dengan sebutan Mang Han, seorang tokoh masyarakat yang sejak 3 tahun lalu ikut memberikan kontribusi besar terhadap perubahan Kampung Pulosari. Kawasan yang tadinya gersang, perlahan-lahan kini menjadi hijau karena berbagai pohon yang ditanam oleh Mang Han beserta warga. Kampung inipun memiliki sebuah taman kecil yang bersih sehingga menjadi salah satu ruang publik tempat berkumpulnya warga sembari menikmati pemandangan sungai cikapundung. Dari kampung inilah inspirasi & gagasan perihal Kampung Foto Bandung tercipta.
Tepatnya tanggal 15 Juli 2013, di pagi yang cerah pada masa bulan ramadhan, secara resmi Kampung Foto Bandung berdiri. Hadir menjadi saksi di sana yaitu Ihsan Achdiat (Mahasiswa IMTelkom Bandung), Herlambang Bayu S (Mahasiswa IMTelkom Bandung), Geiofanny (Komunitas Sesater Indonesia), Sugih Wiramantri (Komunitas Sesater Indonesia), Pam Adinugroho (Mahasiswa Unpad Bandung), Isma Dasir Maulinda (Mahasiswa IMTelkom Bandung), Rivira (Mahasiswa IMTelkom Bandung), Ahmad Shifauka (Mahasiswa UPI Bandung), Destari M.H (Mahasiswa Unpad Bandung), Bilfahmi Ilmi H (Pelajar SMA 25), Aji Kurniawan (Pekerja Kantor), Handoko (Tokoh Masyarakat Kampung Pulosari) dan galih sedayu (pegiat fotografi). Pada momen ini juga, Isma Dasir Maulinda didaulat untuk menjadi komandan atau ketua Kampung Foto Bandung agar program-program ke depan dapat terealisasi dengan baik. Karena dari diskusi inilah muncul berbagai ide dari mulai pelatihan fotografi untuk anak-anak kecil yang bermukim di kampung tersebut, pameran foto aktivitas warga, perpustakaan kampung, pembuatan buku atau jurnal visual warga, dan lain sebagainya.
Barangkali ada secuil harapan dari gerakan kecil yang bernama Kampung Foto Bandung ini. Karena sesungguhnya kolaborasi adalah jembatan hidup bagi dunia kreativitas apapun termasuk fotografi. Di film “Women Are Heroes”, seorang fotografer muda yang berinisial JR membuat pameran foto di ruang-ruang publik di seluruh dunia seperti di tempat pembuangan sampah, bangunan tua, gerbong kereta api hingga atap rumah perkampungan penduduk. Ia menganggap bahwa media ekspresi tidak hanya dapat dilakukan di ruang-ruang tertutup saja. Dunia ini adalah galeri terbesar baginya. Karenanya sebuah kampung bisa menjadi awal kaki melangkah bagi komunitas atau individu yang menggeluti disiplin fotografi. Agar fotografi menjadi egaliter dan lebih dekat dengan masyarakat tentunya. Karena fotografi bukanlah kecanggihan alat atau “Gear”, melainkan ide manusia.
Bandung, 15 Juli 2013
Copyright (c) 2013 by galih sedayu
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Merindukan Ringkikan Kuda Besi Di Lampegan
Teks & Foto : galih sedayu
“I never travel without my diary. One should always have something sensational to read in the train”. – Oscar Wilde
Salah satu kenangan masa kecil yang paling saya ingat adalah tatkala berlibur ke rumah nenek dengan menggunakan Kereta Api. Meski kadang harus mencium aroma tak sedap dari keringat kambing yang dibawa serta oleh penumpang Kereta Api tersebut, namun suasana tersebut masih membekas dan menjadi salah satu memori yang mengesankan dalam hidup saya. Kereta Api yang saya gunakan adalah Kereta Api ekonomi Argo Peuyeum jurusan Bandung – Cianjur. Rute yang biasa saya lalui berawal dari Stasiun Cikondang Cianjur dan berakhir di Stasiun Cireunghas. Kemudian dari Cireunghas saya melanjutkan perjalanan dengan angkot menuju tempat kediaman nenek saya di Gegerbitung. Selama perjalanan Kereta Api dari Cianjur menuju Cireunghas, ada banyak pemberhentian yang harus dilakukan karena Kereta Api mesti mengambil penumpang dari setiap stasiun yang dilewati. Entah mengapa, saya selalu merasa gembira sekaligus gugup ketika Kereta Api tersebut berhenti atau melalui Stasiun Lampegan. Karena setelah itu Kereta Api akan masuk ke dalam sebuah terowongan dan serta merta suasana di dalam Kereta Api menjadi gelap gulita selama beberapa menit. Kadang bila Kereta Api yang saya tumpangi berhenti cukup lama di Stasiun Lampegan tersebut, saya sering keluar dan berjalan kaki sambil menikmati suasana heritage yang hadir di kawasan itu.
Stasiun Lampegan ini terletak di daerah Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Stasiun ini letaknya dekat pula dengan Situs Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur. Menurut catatan sejarah, Stasiun Lampegan dan terowongannya dibangun pada tahun 1879 hingga 1882 dan saat ini masuk menjadi kawasan Cagar Budaya. Menurut cerita, pembangunan terowongan ini dilakukan dengan cara meledakan bagian tengah badan Gunung Kancana yang menaungi kawasan tersebut. Awalnya terowongan ini digunakan untuk mengangkut palawija, kopi & rempah-rempah dari Sukabumi menuju Cianjur. Namun pada tahun 2001 dan tahun 2006, terjadi peristiwa longsor di kawasan Terowongan Lampegan ini akibat Gempa Bumi. Meski kondisi Terowongan Lampegan sudah diperbaiki, namun saat ini masih belum dilalui Kereta Api. Bangunan stasiun, rumah kepala stasiun serta terowongan Lampegan masih seperti saat pertamakali dibangun. Pada tahun 2009, kawasan ini direnovasi karena akan dioperasikan kembali pada bulan November 2010. Namun sayangnya rencana tersebut urung dilaksanakan karena kuatir bila terjadi kembali bencana longsor di dalam terowongan. Terowongan Lampegan awalnya memiliki panjang 686 meter. Namun setelah peristiwa longsor, panjang terowongan ini menjadi sekitar 415 meter. Dibangun oleh perusahaan kereta api SS (Staats Spoorwegen) untuk mendukung jalur kereta api Jakarta-Bogor, Bogor-Sukabumi dan Sukabumi-Bandung melalui Cianjur, Terowongan Lampegan merupakan salah satu terowongan jalan kereta api tertua yang pernah dibangun pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Sebenarnya, kawasan ini dulunya bernama Sasaksaat sebelum berganti nama menjadi Lampegan. Namun menurut penduduk setempat, nama Lampegan berasal dari bahasa percakapan orang Belanda tatkala kereta api memasuki terowongan. Dimana sebelum Kereta Api masuk ke terowongan itu, sang kondektur selalu meneriakan kata dalam bahasa belanda yakni ‘steek Lampen aan!’ yang berarti nyalakan lampu. Sehingga menurut penduduk di sana yang terdengar seperti kata “Lampegan”. Berbicara tentang Terowongan Lampegan, ada juga cerita mistik perihal Nyi Ronggeng Sadea, seorang ronggeng yang ternama kala itu. Dimana saat Terowongan Lampegan selesai dibangun (1882), Nyi Sadea diundang untuk menghibur para pejabat Belanda dan menak-menak Priangan. Usai pertunjukan, menjelang dinihari Nyi Sadea diantar pulang oleh seorang pria melalui terowongan yang baru diresmikan. Sejak itu pula Nyi Sadea hilang dan tidak diketahui keberadaannya.
Karena itulah saya sangat berharap bahwa suatu saat Stasiun & Terowongan Lampegan ini dapat dihidupkan kembali. Mungkin juga harapan yang sama bagi kita semua maupun penduduk setempat yang memerlukan jasa transportasi yang murah. Karena di sanalah berbagai cerita dan sejarah melekat erat bersama dengan alam dan manusianya. Ingin rasanya mendengar kembali suara deru roda besi kereta yang memecah kesunyian di Lampegan. Lalu kemudian merasakan sensasi gelapnya terowongan yang menyambut dengan ceria. Hingga akhirnya Lampegan menemukan kembali keluarganya yang telah lama hilang ditelan waktu. Tut…tut…tut…
“Peace Train is a song I wrote, the message of which continues to breeze thunderously through the hearts of millions of human beeings”. – Cat Steven
Cianjur, Lampegan, 10 Juni 2011
copyright (c) 2009 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Sebuah Titian Dalam Hutan & Ceritanya
Teks & Foto : galih sedayu
Delonix Regia. Ia hanyalah salah satu dari sekian banyak pohon penghuni abadi hutan kota Babakan Siliwangi yang diwariskan oleh bumi sejak sekian lama, demi menyediakan oksigen kehidupan bagi warga Kota Bandung. Nama Pohon “Regia” atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan Pohon Flamboyan ini akhirnya dicetuskan menjadi sebuah nama kegiatan aktivasi ruang publik di hutan kota tersebut yang diusung oleh Bandung Creative City Forum (BCCF), sebuah perkumpulan komunitas kreatif yang berdiri sejak tahun 2008 di kota Paris Van Java ini. Program “Regia” yang mengambil tema ‘Story of the City Forest‘ tersebut digelar selama dua hari berturut-turut dari tanggal 20-21 April 2013 dan berpusat di area jembatan hutan kota Babakan Siliwangi, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Forest Walk. Mengapa mesti di tempat ini? Sejarah Kota Bandung mencatat bahwa pada tanggal 27 September 2011, hutan kota Babakan Siliwangi dideklarasikan menjadi hutan kota dunia atau World City Forest oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tepatnya melalui United Nations Environment Programme (UNEP). Pada saat bersamaan, jembatan di tengah hutan kota ini pun selesai dibangun dan diresmikan secara bersama-sama yang disaksikan oleh sekitar 1500 anak dan pemuda dari 111 negara di seluruh dunia. Mereka hadir pada saat konferensi TUNZA International Children and Youth Conference on Environment di Sabuga Bandung.
Jejak fisik berupa jembatan sederhana di hutan kota inilah yang sesungguhnya dapat menjadi simbol tempat berkumpulnya warga Kota Bandung untuk lebih dekat dengan alamnya. Agar kita dapat menyentuh pohon-pohon dan merasakan sentuhan dedaunan di tangan kita. Agar kita dapat melihat burung-burung yang bertengger di sana dengan kicaunya yang menawan hati. Agar kita sadar bahwa hutan kota ini dapat membawa ketenangan dan mengistirahatkan diri sejenak dari hingar bingar serta polusi Kota Bandung. Dan yang paling penting ialah bahwa di sanalah sesungguhnya suara warga Kota Bandung menjadi satu, yakni dengan tegas menolak pembangunan atau alih fungsi lahan hutan untuk dijadikan ruang komersil oleh pihak-pihak yang mendewakan uang dan kepentingan duniawi.
Karena salah satu ciri khas Kota Bandung adalah kolaborasi yang dihadirkan oleh warganya, maka tak heran sejumlah komunitas dan jejaring kreatif pun turut mengambil peran dengan bersinergi secara aktif untuk memanfaatkan dan mengaktifkan hutan kota dunia Babakan Siliwangi. Dari mulai aktivitas Pameran Foto yang dikelola oleh air foto network, kampanye baksil (save babakan siliwangi dan coin for babakan siliwangi) oleh Komunitas Lebak Siliwangi dan Greeneration Indonesia, jamuan makan malam di tengah hutan (Forest Dining) yang dipersembahkan oleh Cafe Halaman, Instalasi lampu dan permainan laser sederhana (Light Installation), Lapak Ayo Main bersama Komunitas Hong, kegiatan senam yoga yang diinisiasi oleh Yoga Leaf, workshop anak-anak bersama Sahabat Kota, musik akustik yang dilantunkan oleh Kang Ganjar Noor, lagu-lagu perihal hutan gubahan anak-anak sekolah semi palar, piknik dan botram (Alfresco) yang diusung oleh Agritektur, Infografik bertajuk “ Mengapa Kita Harus Menyelamatkan Babakan Siliwangi” yang dibuat oleh Batasfana, Tisna Sanjaya dengan petuah bijak serta sentuhan kuasnya, Wawan Husin dengan Story Telling nya yang apik, Jorowok Bandung dengan menghadirkan Bpk. T.Bachtiar yang berbicara tentang hutan kota. serta Blues Leuweung yakni pertunjukkan musik blues di Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi yang dimeriahkan oleh para sahabat Bandung Blues Society (BBS). Bayangkanlah energi bandung yang hadir di sana.
Bila kita berbicara perihal hutan kota dunia Babakan Siliwangi, beberapa fakta pun hadir secara nyata di sana. Di masa lalu, terdapat dua belas mata air di kawasan hutan kota dunia Babakan Siliwangi, dimana kini hanya tersisa satu mata air saja. Di kawasan hutan kota ini terjadi pula penurunan permukaaan air tanah, dari 22,99 meter menjadi 14,35 meter (data tahun 1999). Bila lahan hutan kota ini menghilang, akan menyebabkan semakin menurunnya permukaan air tanah karena berkurangnya lahan resapan. Fakta yang lain berbicara bahwasanya hutan kota dunia Babakan Siliwangi merupakan habitat bagi 120 jenis tumbuhan dan 149 jenis hewan serta merupakan tempat singgah bagi enam jenis burung migrasi. Bila kawasan hutan kota ini menghilang, maka jalur migrasi burung-burung ini akan terpotong. Pepohonan yang tumbuh di kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi antara lain adalah Pohon Cola (Cola nitida) dan Pohon Sempur (Dillenia Indica L.), dan Pohon Flamboyan (Delonix Regia) yang paling dominan tumbuh di sana. Tumbuhan yang ada di kawasan hutan kota ini berfungsi sebagai penyaring polusi dan suara. Siapa pun warga yang berada di tengah hutan kota ini, dapat merasakan ketenangan, meskipun jaraknya sangat dekat ke jalan raya yang ramai. Luas kanopi dari pepohonan yang tumbuh di lahan hutan kota ini mencapai hingga 5 Hektar, sementara luas dari Babakan Siliwangi adalah 3,8 Hektar. Tutupan kanopi ini merupakan peneduh, dan sebenarnya dapat menjadi pengurang stress pada manusia yang berada di sekitarnya, karena pepohonan ini menghasilkan udara yang kaya dengan oksigen. Fungsi pepohonan di hutan kota dunia Babakan Siliwangi adalah sebagai penyerap CO2 terhitung hingga 13.680 Kg per hari, sementara melepaskan pula O2 sebesar 9.120 Kg per harinya. Bila harga O2 murni mencapai Rp.25.000,- per liter, maka nilai ekonomis dari hutan kota dunia Babakan Siliwangi mencapai Rp.148.000.000,-. Dari perhitungan ini, dapat diperkirakan bahwa bila kawasan hutan kota dunia Babakan Siliwangi berkurang bahkan hingga 20%-nya saja, maka kerugian Kota Bandung dapat mencapai 10 Milyar Rupiah. Namun demikian, fakta penting yang memiliki nilai bagi Kota Bandung sesungguhnya adalah bagaimana sebenarnya hutan kota dunia Babakan Siliwangi ini menjadi sebuah tempat untuk membangun hubungan manusia dengan alam seutuhnya.
Maka dari itu sudah sepatutnya warga Kota Bandung mengucap syukur atas pemberian Sang Semesta dengan sekian banyak kelimpahan yang dimiliki oleh hutan kota dunia Babakan Siliwangi. Karenanya kabarkanlah keselamatan hutan kota ini dari hari ke hari, ceritakanlah kemuliannya kepada semua orang dan bersatulah untuk terus menjaganya dari keserakahan para penguasa yang bodoh. Sebab keagungan dan semarak selalu ada di dalamnya. Sebab kekuatan dan kehormatan ada di tempatnya yang tersembunyi. Sebab anak cucu kita perlu diajari dan merasakan rindangnya hutan. Dan hanya satu kata yang dapat kita ucapkan dengan lantang kepada orang-orang yang ingin merusak hutan kota dunia Babakan Siliwangi. LAWAN!!!
“There is unrest in the forest,
There is trouble with the trees,
For the maples want more sunlight,
And the oaks ignore their pleas.”
– Rush, ‘The Trees’
Bandung, 21 April 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Demonstrasi Hening Para Pengawal Hutan
Teks & Foto : galih sedayu
Hutan Kota Babakan Siliwangi adalah salah satu kawasan ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Bandung, sebuah kota yang dihuni lebih dari 2,5 juta penduduk. Karena di hutan yang berbentuk tapal kuda inilah 48 jenis pohon dan 24 jenis burung hidup dalam damai di sebuah lahan hijau seluas 3,8 hektar. Dalam sehari hutan yang dulunya dikenal dengan sebutan Lebak Gede ini mampu menghadirkan oksigen bagi 15.600 jiwa, sehingga ruang publik ini menjadi paru-paru Kota Bandung yang menjaga kualitas udara bagi kehidupan para warganya. Hutan inipun merupakan daerah luahan air (discharge) dan masih menyisakan satu mata air yang masih berfungsi di tebing sebelah timur laut. Bahkan pada tanggal 27 September 2011, Hutan Babakan Siliwangi ini ditahbiskan sebagai World City Forest atau Hutan Kota Dunia oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui United Nations Environment Programme (UNEP).
Namun sejak tahun 2007 Pemkot Bandung telah memberikan izin pengelolaan lahan hutan kota tersebut selama 20 tahun kepada PT Esa Gemilang Indah (EGI). Padahal sebagaimana amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, Pemerintah Kota Bandung seharusnya menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik minimal 30% dari seluruh wilayahnya. Namun demikian, Kota Bandung yang luasnya sekitar 17.000 hektar ini baru memenuhi sekitar 7% RTH. Di kawasan hutan inilah, PT EGI berencana akan membangun rumah makan di bekas lokasi rumah makan yang dulu terbakar.
Atas kejadian inilah akhirnya timbul gerakan kolektif dan upaya-upaya bersama dari warga Kota Bandung demi mempertahankan kelestarian hutan kota Babakan Siliwangi. Hutan ini menjadi ruang publik yang kerap diaktivasi oleh berbagai komunitas Kota Bandung sebagai penanda kecintaan warga. Sejarah pun mencatat nama-nama komunitas yang turut peduli terhadap kelangsungan hutan kota ini baik yang sifatnya bersimpati maupun berempati. Dari mulai Forum Warga Peduli Babakan Siliwangi, Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi, Himpunan Peternak Domba dan Kambing (HPKD) Bandung, Lebak Siliwangi, Walhi Jabar, Bandung Inisiatip, Hayu Ulin di Baksil (HUB), Greeneration ID, Forum Hijau Bandung, Bandung Creative City Forum (BCCF), Grow Box, Sunday Smile Picnic, dan masih banyak lagi.
Jelang Pemilihan Walikota Bandung tahun 2013 ini, isu alih fungsi lahan hutan kota Babakan Siliwangi ini kembali memanas. Bahkan kemudian area sekeliling Hutan Kota ini dipagari dengan seng berwarna hijau seperti kemah kediaman para penebang hutan. Rupanya para pengawal hutan kota ini tak lantas berdiam diri saja. Pagar-pagar seng yang menutup serta menghalangi sejauh mata memandang ke arah dalam hutan pun dilukis melalui sentuhan kuas dan jemari dari sekelompok warga dan anak-anak muda Kota Bandung. Inilah uniknya Bandung. Bahkan dalam kemarahan, protes dan perlawanan pun, karya mereka masih menyeruakkan estetika keindahan yang melekat di dalamnya. Dalam himpunan visual mural itulah kita dapat melihat rasa marah, tangisan, kutukan yang justru kadang membuat kita tertawa. Tertawa dalam kesadaran bahwa suara mereka sesungguhnya benar adanya. Karenanya, diberkatilah para pengawal hutan kota Babakan Siliwangi. Yang menaruh harapan pada alam dan semesta. Yang melawan dengan cara apapun meski keliatan konyol. Mimpi mereka semua sama. Pohon-pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke dalam tanah, yang memberikan nafas dan nyawa bagi flora dan fauna, yang mewartakan cinta bagi kotanya. Bagi mereka hutan adalah tahta kemuliaan, luhur dari sejak semula dan tempat bait kudus bagi warga sebuah kota.
“By the sacred grove, where the waters flow
We will come and go, in the forest
In the summer rain, we will meet again
We will come and go, in the forest
By the waterfall, I will hold you in my arms
We will meet again by the leafy glade
In the shade of the forest
With your long robes on, we will surely roam
By the ancient roads, I will take you home
To the forest.”
– Van Morrison, In the forest
Bandung, 10 April 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Kidung Kasih Kampung Cicadas
Teks & Foto : galih sedayu
Akar sebuah kota adalah kampung-kampung yang bermukim di sana. Meski ironisnya keberadaan kampung ini menjadi kering terbengkalai akibat ambisi pemerintah yang kerap membangun di pusat kota dengan mengatasnamakan kemajuan. Padahal sesungguhnya, di kampung-kampung inilah pusat energi sebuah kota menyeruak hadir demi menopang tubuh kota yang dulunya lemas tak berdaya. Kampung Akustik Cicadas adalah salah satu contoh akar kota yang memiliki energi ini. Kerap mendapat julukan kampung preman, kampung kumuh, kampung tawuran dan berbagai citra negatif lainnya…tidak lah membuat para pemuda kampung cicadas ini menyerah. Mereka terus menyuarakan semangat perubahan demi Kampung Cicadas yang lebih bermartabat. Nama-nama seperti Kang Guntur, Kang Ganjar Noor, dan Kang Rahmat Jabaril pun tercatat dalam noktah sejarah Kampung Cicadas yang mewakili para pemudanya. Meski berjuang di atas kursi rodanya, Kang Guntur tak pernah kehilangan asa untuk menyebarkan virus-virus kreatif di kampungnya. Lewat sentuhan jemari tangannya, kuas lukis pun menjadikan karya mural bertema musik di dinding-dinding gang Kampung Cicadas. Kang Ganjar Noor pun punya cara lain untuk menyampaikan pesan bagi kampungnya. Lewat alunan merdu gitar dan suaranya yang nyaring, Kang Ganjar Noor terus mengumandangkan tentang pentingnya mencintai kampung dan membuat sebuah perubahan berarti meski melalui langkah kecil. Belum lagi ide, pikiran dan kreativitas yang dipersembahkan oleh Kang Rahmat Jabaril bagi Kampung Cicadas ini. Dari mulai membuat advokasi, sarasehan ataupun sekedar mendengar curhat warga dilakoni oleh Kang Rahmat Jabaril demi menstimulan kekuatan Kampung Cicadas tersebut. Lambat laun kini Kampung Cicadas mulai menunjukkan sayapnya untuk terbang menuju citra yang lebih baik. Para preman di kampung ini sekarang mulai aktif mencipta lagu, bermain musik dan bahkan membuat kerajinan gitar. Tembok-tembok yang mengapit gang di Kampung Cicadas ini mulai berwarna dengan mural-muralnya yang kreatif. Saat ini Kampung Cicadas berharap dapat membangun sebuah studio musik untuk ajang latihan bagi para musisi kampung yang ingin tampil. Lewat sepenggal lagu yang diciptakan oleh Kang Ganjar Noor inilah semestinya kita bercermin. Bahwa pada kampung seperti Kampung Cicadas lah sesungguhnya kita tak boleh henti berharap. Demi sebuah Kota Bandung yang berdiri tegak hingga akhir masa.
Kembalilah Kampungku
Kampung, kampung…tempat bernaung
Ruang bercengkrama urai cerita
Melukis harapan di hampar tanah-tanah
Membakar semangat di jiwa merdeka
Kampung, kampung…terjamah kota
Kota, kota, kota, kota ubah cerita
Dimana persoalan menghempas kerinduan
Menncakar keheningan mengundang keriuhan
Apa yang tersisa selain rasa cinta
Pada kampung yang tlah tiada
Pada tanah, pada air, pada cerita
Apa yang tersisa selain kerinduan
Pada kampung yang kini kota
Berharap kampung-kampung masih ada
Tetap ada walau di tengah bising kota…
Pada jiwa semangat menyala
Bangun kampung-kampung cerita baru
Menghias tanah-tanah, mengukir dinding-dinding
Menggambar atap-atap, merubah kehidupan.
– Ganjar Noor –
Bandung, 13 Oktober 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Kembali Cinta Di Pantai Virgin
Teks & Foto : galih sedayu
“In every outthrust headland, in every curving beach, in every grain of sand, there is the story of the earth” – Rachel Carson
Hampir setiap orang menyukai pantai. Karena di sanalah kita dapat melihat, mendengar dan merasakan berbagai keajaiban planet bumi. Mulai dari deburan ombak laut yang menderu jantung, semilir angin yang menyibakkan rambut, hingga pasir pantai yang menggelitik kaki. Pantai bisa menjadi sebuah ruang bagi kita untuk menenangkan diri, memutar otak demi secercah ide segar bahkan menyembuhkan. Dan di pantai-pantai itulah seluruh hati manusia berkumpul dalam balutan kedamaian dan penuh syukur.
Bali dengan julukan Pulau Dewata nya merupakan surga bagi terciptanya pantai-pantai yang indah nan menawan hati. Hanya saja, saat ini tidak semua pantai di Bali memiliki citra yang bersih dan tenang. Meski demikian selalu saja muncul pantai-pantai baru yang masih belum banyak terjamah oleh manusia. Pantai Virgin (Virgin Beach) adalah salah satunya. Sebenarnya pantai ini bernama Pantai Perasi, karena letaknya di Desa Perasi, Kabupaten Karangasem, Bali. Namun entah kenapa para wisatawan mancanegara lebih suka menyebutnya dengan nama Virgin Beach atau White Sand Beach. Untuk menggapai lokasi pantai ini, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari kawasan Candidasa di Karangasem. Setelah itu kita mesti menempuh jarak sekitar 100 meter dari jalan aspal dengan kondisi jalan yang cukup terjal. Pantai virgin ini diapit oleh dua buah tebing yakni Bukit Bugbug dan Bukit Perasi yang seolah-olah menjadi pengawal abadi yang melindungi kesucian Pantai Virgin.Tubuh fisik pantai ini sangatlah bersih dari sampah & masih tergolong sepi dari kunjungan manusia. Maka tak heran apabila Pantai Virgin ini mendapat predikat sebagai salah satu pantai terbaik yang pernah ada di Pulau Dewata.
Sebagai pengantar himpunan cuplikan hening perihal Pantai Virgin, demikianlah puisi ini saya buat.
*Teruntuk istriku tercinta Christine Listya Sedayu dan kedua putriku tersayang Eufrasia Tara Sedayu & Ancilla Trima Sedayu (Alm)
Tak ada lagi duka & benci
Tak ada lagi luka & sepi
Tatkala tubuh ini dibawa
Menuju pantai yang menghibur hati
Mendung mulai memanggil
Gerimis pun hadir perlahan
Hingga hujan yang terlepas bebas
Namun hati ini bahagia
Di pantai ini
Kita membuang pahit
Di pantai ini
Kita menyimpan manis
Atas nama cinta kita percaya dan selalu bersama
Bali, 15 Maret 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.





















































































































