I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Benua Komunitas Kota Bandung

leave a comment »

Tulisan : galih sedayu

Society as a whole is mainly responsible. And society as whole should pay the cost”
– Henry S. Churchill (The City is the People) 

Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is ge-bouwd!” (Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota!), begitulah sabda yang keluar dari mulut seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang bernama Daendels, tatkala ia menyambangi sebuah dusun yang tadinya sepi, namun kini sim salabim ala kadabra menjadi sebuah kota nan ramai yang bernama Bandung. Kejadian bersejarah ini tepatnya terjadi pada tahun 1810, saat Daendels yang menjadi penguasa nusantara kala itu sedang berjalan kaki dengan ditemani oleh Bupati Bandung Wiranatakusumah II. Tongkat kayu yang ditancapkan oleh seorang Daendels seraya menyerukan perintah di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Tugu Nol Kilometer di Jalan Asia Afrika Bandung, seolah menjadi sebuah simbol kelahiran dan saksi bisu berdiri tegaknya Kota Bandung. Hingga kini, perubahan pun selalu hadir dalam raga Kota Bandung. Bahkan sepertinya telah dinubuatkan oleh para sesepuh sunda sesuai dengan “cacandran” (tanda-tanda jaman) dalam “Uga Bandung” (ramalan bandung) yang menyebutkan bahwa “Bandung heurin ku tangtung(bandung padat penduduknya). Namun yang menarik selama perkembangannya, predikat yang melekat erat dalam tubuh Kota Bandung adalah sebagai Kota Kreatif. Bila menelusuri sejarahnya, ternyata citra kota kreatif tersebut tidak bisa dilepaskan dari kekuatan komunitas yang menjadikan Kota Bandung bisa seperti sekarang ini.

Perubahan tentunya menggerakkan kekuatan warga yang semula diam. Setelah tetuah Daendels, pembangunan Kota Bandung terus berlanjut dan roda perekonomian pun semakin berputar. Apalagi setelah jalur kereta api singgah di bandung pada tahun 1884, sejumlah toko terus menghuni di sepanjang Groote-Postweg (Jalan Asia Afrika dan Jalan Sudirman sekarang). Dari mulai Toko “De Vries”, Toko “Oey Boen”, Toko “Ziekel”, Toko “Salomon & Son”, Toko “Thiem” dan Toko “Baqiu”. Nama Kota Bandung pun semakin harum tatkala menjadi tuan rumah kehormatan sebuah acara bergengsi yakni “Kongres Pengusaha Gula” seluruh Hindia Belanda pada tahun 1896. Sehingga para delegasi kongres tersebut kala itu menjuluki bandung dengan sebutan “De Bloem der Indische Bergsteden” (Bunganya Kota Pegunungan di Hindia Belanda). Barangkali itulah sebabnya muncul istilah “Bandung Kota Kembang” yang masih dipuja hingga kini.

Pada akhir abad XIX, Kota Bandung diatur oleh dua orang nahkoda. Untuk roda pemerintahan yang menyangkut kepentingan warga Kota Bandung dari bangsa pribumi ditangani oleh seorang Bupati atau “Dalem” Bandung. Sedangkan roda pemerintahan yang menyangkut kepentingan bangsa Belanda dan Timur Asing (Cina, Arab & India) ditangani oleh seorang Asisten Residen Priangan yang kala itu dijabat oleh Tuan Pieter Sijthoff. Pada tahun 1898, Pieter Sijthoff mengajak warga kotanya untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang bernama “Vereeniging tot Nut van Bandoeng en Omstreken” (Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya). Berkat bantuan perkumpulan ini, pembangunan Kota Bandung di bidang pendidikan, sosial, kebudayaan mulai dilaksanakan dengan tujuan agar dapat meningkatkan kesejahteraan Kota Bandung yang pada sekitar tahun 1900 hanya memiliki penduduk sekitar 28.963 jiwa. Sehingga dalam perjalanan panjangnya Kota Bandung memperoleh statusnya sebagai Gemeente (Kotapraja) pada tanggal 1 April 1906.

Meski setelah itu Kota Bandung dikelola oleh Gemeente Bandung, namun Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya masih tetap membantu dan mendampingi pemerintah kota. Hanya saja namanya berubah menjadi “Comite tot Behartiging van Bandoeng’s Belangen” (Komite Guna Mengurus Kepentingan Kota Bandung). Perlahan namun pasti, ternyata perkumpulan ini berhasil menumbuhkan Bandung dari “een kleine bergdessa” (sebuah desa pegunungan kecil), lalu menjadi “kottaje” (kota mungil) dan kemudian menjadi kota besar dengan julukan “Parijs van Java”. Pada kurun waktu sekitar tahun 1920, “Komite Guna Mengurus Kepentingan Kota Bandung” telah mampu melepaskan diri dari pemerintah kota dan berdiri mandiri sebagai perkumpulan swasta dengan nama “Bandoeng Vooruit” (Bandung Maju). Organisasi Bandung Maju ini bermitra dengan pemerintah demi membangun kotanya. Dan seperti layaknya sebuah kota, perayaan selalu menjadi simbol dari hasil pembangunan kota. Mulai tahun 1920, Kota Bandung memiliki perayaan pesta tahunan “Jaarbeurs” (Bursa Tahunan) di setiap bulan Juni-Juli yang berupa atraksi wisata, pameran produk industri maupun pertanian, festival seni budaya dari seluruh penjuru nusantara.

Pada tahun 1923, ada sebuah terobosan baru di bidang teknologi komunikasi dimana orang bisa melakukan pembicaraan dengan Radio Telefoni. Sehingga seorang Belanda di Bandung bisa langsung mengobrol dengan sanak saudaranya di Holland. Tentunya kemajuan Kota Bandung pun semakin pesat dengan adanya penemuan tersebut. Namun yang menariknya sebenarnya muncul sebuah kisah yang mengharukan pasca penemuan radio telfoni tersebut. Alkisah ada seorang ibu tua di Belanda yang sangat merindukan putra tunggalnya yang sedang berada di Indonesia (Nusantara). Setelah berhasil menabung selama setahun, ibu tua tersebut akhirnya mampu membayar ongkos percakapan radio telefoni itu selama 3 menit. Saat tersambung dengan anaknya, ibu tua tersebut tiba-tiba terdiam terpaku dan hanya sempat mengucap “Anakku sayang, aku amat rindu padamu”. Dan kemudian sambungan telefon itu pun terputus karena waktunya telah habis. Kisah inilah yang mengilhami seorang komponis untuk menciptakan lagu yang berjudul “Hallo Bandoeng” yang dinyanyikan oleh Willy Derby penyanyi terkenal jaman itu.

Sejak tanggal 1 Oktober 1926, Kota Bandung tidak lagi dipimpin oleh seorang Asisten Residen karena perubahan status Kota Bandung dari “Gemeente” menjadi “Stadsgemeente” berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pimpinan kota akhirnya dipegang oleh seorang “Burgemeester” (Walikota). Tercatat sejumlah nama walikota Bandoeng Tempo Doeloe yang pernah memimpin yakni B. Coops, S.A. Rietsma (Pjs.), Ir. J. E. A. von Wolzogen Kuhr, Mr. J.M. Wesselink dan N. Beets. Saat N. Beets menjadi Walikota Bandung, pada tahun 1937 ia melakukan kampanye yang masif untuk mempromosikan Kota Bandung. Saat itu Walikota N. Beets berseru kira-kira seperti ini “Wahai warga Bandung, bantulah untuk memajukan kota kita. Seluruh warga harus mau ikut membantu dan berpartisipasi dalam mempromosikan Bandung. Ada berbagai macam cara antara lain dengan menceritakan Kota Bandung melalui surat dan tulisan. Agar setiap saat, semua orang yang datang selalu mengingat akan kecantikan alam Kota Bandung yang sejuk, permai dan menakjubkan”.

Setelah itu komunitas Bandung Maju pun turut dan gencar melakukan promosi Kota Bandung hingga ke seluruh pelosok nusantara bahkan manca negara melalui majalah “Mooi Bandoeng” (Bandung Permai). Makanya tak heran bila pada tahun 1938, Perdana Menteri Perancis George Clemenceau serta bintang film Charlie Chaplin dan Paulette Goddard pernah menyambangi Kota Bandung. Bahkan dalam kurun waktu tersebut, sejarah mencatat nama-nama artis, budayawan, ilmuwan, negarawan dam musikus kelas dunia seperti Godowsky, Vera Janacopoulus, Arthur Zimbalist, Paul Weingarten, Kindler, Tansman, Friedmann, Brailowski, Smeterlin, Feuerstein, Szigeti, Jose Iturbi, Heifetz, Rubinstein, Hubermann, Platigorski, Slobotskaja, Segovia, Lili Krauss, Szymon Goldberg, Nicolai Orloff, Marechal, Eugina Wellerson, Lola Bobesco, de Sakharofs, Chenkine, Anna el Tour dan Ruth Draper. Pada tahun 1941, tercatat ada sekitar 200.000 wisatawan yang mengunjungi Kota Bandung yang saat itu populasi penduduknya sekitar 226.877 jiwa. Sebanyak lima juta gulden pun diraup oleh bandung pada masa itu hanya dari sektor pariwisata saja. Karenanya, banyak ungkapan yang lahir pada zaman gerakan komunitas Bandung Maju ini. Misalnya saja ungkapan Kota Bandung yang berbunyi Bandoeng is het paradijs der aardsche schoonen. Daarom is het goed daar te wonen” (Bandung adalah sorga permai di atas dunia. Itulah sebabnya, baik untuk bermukim di sana) serta ungkapan “Don’t come to Bandoeng, if you left a wife at home”. Dari sejarah singkat perihal perkembangan Kota Bandung di masa kolonial ini, kita dapat melihat bagaimana sebenarnya peran berharga sebuah komunitas atau perkumpulan yang ditunjukkan oleh “Bandoeng Vooruit” (Bandung Maju) dalam membangun kotanya sehingga pada akhirnya secara tidak langsung mereka ikut berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi Kota Bandung.

Lain dulu lain sekarang tentunya bila melihat wajah Kota Bandung. Namun sesungguhnya ada yang tidak pernah berubah sejak dulu bila berbicara perihal Kota Bandung. Ialah kehadiran komunitas yang selalu ada dalam menggerakkan Kota Bandung. Di era milenium kedua, Kota Bandung memiliki segudang komunitas dengan latar belakang dan disiplin yang berbeda. Tentunya sangat lah sulit untuk memetakan satu persatu apa saja komunitas yang mendiami Bandung saat ini. Namun bila kita melakukan pengamatan dari simpul komunitas-komunitas tersebut, barangkali nama Bandung Creative City Forum (BCCF) bisa menjadi salah satu acuan pemetaan komunitas Bandung. BCCF sendiri lahir pada akhir tahun 2008 dan merupakan perkumpulan komunitas pertama di Indonesia yang mengusung semangat kreativitas demi membangun kotanya. Lewat sebuah festival kota yang bertajuk “Helarfest”, berbagai komunitas yang tadinya berjalan masing-masing kini mulai bergandengan tangan dan bersatu. Barangkali benarlah adanya pepatah yang mengatakan bahwa “sebatang anak panah akan mudah dipatahkan, tetapi tidak demikian halnya apabila mereka terikat erat menjadi satu”. Setelah Helarfest tersebut, geliat perkembangan komunitas di Kota Bandung pun semakin semarak.

Karena prinsip 3C (Conection, Collaboration, Commerce) adalah kata kunci yang dipercaya ampuh untuk membangun Kota Bandung, maka pola sinergitas Quadro Helix (Academic, Goverment, Bussiness, Community) diterapkan oleh BCCF dalam menjalankan semua programnya. Tercatat sudah nama-nama komunitas, jejaring & pelaku kreatif baik yang hanya bersinggungan maupun telah berkolaborasi secara nyata seperti Agritektur, Air Foto Network, Airplane Systm, Aisec Bandung, Akademi Berbagi Bandung, Amygdala, Bandung Beatbox, Bandung Berkebun, Bandung Blues Society, Bandung Cycle Chic, Bandung Foodtruck, Bandung High Tech Valley, Batik Fractal, Bandung Heritage, Bandung Hobbies, Bandung Kayak Community, Bandung Street Dancer, Barudak Urban Light (BULB) Bandung, Bengkel Kostum, Bidik Photography, Bike Bdg, Bikers Brotherhood, Boeminini, Btari, Culindra, C-Gen, Common Room, Conture, Design Hub, Doku, Ecoethno, Embarra Film, Epik, Fight Bdg, Forum Kabaret Bandung, FOWAB, Glintz, Growbox, Happy Farmer (Supported by JKMP4), House The House, Indorunners Bandung, J-Batik, Jendela Ide, Labo Mori, Kampung Kreatif Cicadas, Kampung Kreatif Cicukang, Kampung Kreatif Dago Pojok, Kampung Kreatif Leuwianyar, Kampung Kreatif Linggawastu, Kampung Kreatif Pasundan, Kampung Kreatif Taman Sari, Kampung Kreatif Pulosari, Karang Taruna Bandung, Keroncong Merah Putih, Komikara, Komunitas Action Figure Bandung, Komunitas Anti Rokok, Komik CAB, Komunitas Cika-Cika, Komunitas Diet Kantong Plastik, Komunitas Diffable Bandung, Kelas Inspirasi Bandung, Komunitas Egrang STSI, Komunitas Hijabers Bandung, Komunitas Hoong, Komunitas Jeprut Bandung, Komunitas Karinding, Komunitas Layar Kita, Komunitas Lempar Pisau (Lempis) Bandung, Komunitas Kuncup Padang Ilalang (KAIL), Komunitas Taboo, Kravity, Kriya Nusantara, Levitasi Hore Bandung, Mahanagari, Mahidara, Media Wave, Ngadu Ide, Parkour Bandung, Pensil Kertas, Perhimpunan Amatir Foto (PAF), Peta Kita, Picu Pacu, Pita, Pori Keramik, ProCodeCG, Riset Indie, Rumah Cemara, Ruang Film Bandung, Rumah Nusantara, Robot Hijau, Sahabat Kota, Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi, Sanggar Origami Indonesia, Sembilan Matahari, Sindikat Kuliner, Studio Keramik 181, Taman Foto Bdg, Taskuni, Tarung Drajat Bandung, Tedx Bandung, Tegep Boots, Tinker Games, Urban Jedi Bandung, Waningadoe, Wanna Be Dancer, Warung Imajinasi, Wayang Tavip, Woodka, YPBB Bandung, Y-Plan Bdg dan Yayasan Pilar Peradaban. Masing-masing komunitas ini tentunya menciptakan sejarah dan menjadikan kitab peradaban tersendiri bagi Kota Bandung.

Banyak jejak yang telah direkam tatkala komunitas kreatif bandung ini bergerak dan berkarya demi memuliakan kotanya. Salah satunya ketika mereka hadir untuk mengaktivasi “Hutan Kota Dunia Babakan Siliwangi” sebagai bagian dari gerakan mengembalikan ruang publik kepada empunya yakni warga bandung. Saat itu, hutan tersebut telah dikelola oleh sebuah perusahaan yang akan segera menyulapnya menjadi kawasan dan ruang-ruang komersil. Alhasil berbagai gempuran melalui cara-cara kreatif pun muncul demi mempertahankan hutan babakan siliwangi tersebut dari keserakahan penguasa. Dari mulai mengelupas aspal jalan & menanaminya dengan pepohonan, mendesain & membangun jembatan gantung (forest walk), membuat sebuah konser musik & permainan laser (lightchestra), hingga membuat mural kolektif di setiap pagar seng yang menutupi hutan kota satu-satunya yang ada di bandung tersebut. Namun akhirnya, perjuangan ini tidaklah sia-sia. Pada tahun 2013, hutan kota dunia babakan siliwangi secara resmi dikembalikan kepada pemerintah kota dan warga bandung.

Jejak lain yakni tatkala komunitas sahabat kota membuat kegiatan yang bertajuk “Riung Gunung” berupa edukasi bagi anak-anak berusia 8 s/d 11 tahun untuk melihat Kota Bandung di masa depan. Sekitar 40 orang anak yang berpartisipasi dalam kegiatan ini diajak untuk berkeliling Kota Bandung selama 6 hari lamanya untuk melihat segala permasalahan yang ada. Mereka mengunjungi pasar tradisional, tempat penampungan sampah, rumah sakit, taman kota, terminal, dan lain-lain. Di hari ke-7 mereka diwajibkan untuk memberikan ide dan solusinya dalam menyelesaikan permasalahan Kota Bandung yang dituangkan melalui maket-maket yang dibuat sendiri. Kemudian maket kreasi anak-anak tersebut dipamerkan di Selasar Sunaryo sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap publik. Mereka pun wajib untuk memperagakan hasil pemetaan masalah berikut solusinya dengan cara “Fun Theory” sembari bermain dalam sebuah pentas di hadapan pengunjung.

Kemudian ada jejak satu lagi yang diinisiasi oleh komunitas “Riset Indie” berupa drama pembajakan angkot bandung. Riset Indie mencanangkan sebuah hari dimana angkot gratis, tertib, aman, nyaman dan tidak ngetem. Angkot Day merupakan bagian dari sebuah proyek penelitian yang bertujuan untuk mencoba mencari alternatif model bisnis industri angkot yang lebih sustainable, agar angkot bisa kembali berjalan baik sehingga mampu menjadi solusi permasalahan Urban Mobility di Kota Bandung. Pada program eksperimen Angkot Day ini, Riset Indie melakukan pengumpulan data melalui kuesioner dan survey kualitatif untuk kemudian diolah sehingga dapat ditindaklanjuti secara lebih permanen. Harapannya bahwa program ini dapat menularkan ide bahwa tatkala manajemen angkot dijalankan dengan baik & tepat, pada akhirnya mampu menghasilkan moda transportasi umum yang nyaman, aman, tertib serta menjadi solusi alternatif kemacetan lalu-lintas di Kota Bandung. Barangkali dalam bahasa sederhananya adalah sebentuk upaya meningkatkan derajat dan memberikan value bagi angkot di Kota Bandung. Kala itu lebih kurang 200 unit angkot dengan jurusan kelapa – dago diberi stiker khusus program Angkot Day. Semua penumpang yang menggunakan angkot jurusan kelapa-dago pada hari itu digratiskan. Namun para penumpang diberikan syarat agar mereka harus tersenyum, ramah, memberhentikan angkot pada tempatnya dan mengisi kuesioner yang diberikan oleh panitia. Pada hari itu pula, supir angkot diwajibkan untuk tidak mengetem, tidak boleh merokok, tidak boleh menyetir ugal-ugalan, serta mesti menghadirkan keramahan kepada para penumpang. Sebagai gantinya, biaya bensin, biaya setoran & biaya tarif angkot akan ditanggung oleh pihak penyelenggara yang baik hati. Inilah sebenarnya gerakan kreatif yang dimiliki oleh komunitas bandung.

Tak heran bila daya komunitas Bandung inipun sempat menyihir para pemimpin untuk bertatap muka langsung dengan mereka karena keingin-tahuannya. Dari mulai Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Menteri Pemuda dan Olah Raga Roy Suryo hingga seorang Presiden Jokowi yang ngebet ingin merasakan energi komunitas bandung tersebut. Beruntung saat ini Bandung dipimpin oleh seorang Walikota yang berasal dari kelompok komunitas kreatif, dimana pada umunya para pemimpin pendahulu sebelumnya merupakan seseorang yang berasal dari kelompok politikus. Ridwan Kamil yang menjabat sebagai Walikota Bandung saat ini (periode 2013-2018) adalah seorang arsitek dan pernah menjabat sebagai ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) di periode tahun 2008-2012. Seorang arsitek tentunya menerapkan pemikiran ini “Dalam merancang sesuatu, berpikirlah dalam konteks yang lebih besar dan terdekat. Kursi dalam sebuah kamar, kamar dalam sebuah rumah, rumah dalam sebuah lingkungan, dan lingkungan dalam sebuah kota”. Karena latar belakang arsitek inilah, tak heran banyak terobosan-terobosan kreatif yang dilakukan olehnya dalam membangun dan mengubah wajah kotanya. Misalnya saja taman-taman kota yang tadinya banyak menganggur, kini mulai dibenahi infrastrukturnya dan diberikan tema-tema tertentu agar lebih menarik bagi warga Kota Bandung untuk kemudian membantu mengaktivasinya. Tercatat ada sejumlah taman kota yang dibenahi dari mulai Taman Alun-Alun Bandung, Taman Film Bandung, Taman Foto Bandung, Taman Jomblo, Taman Kandagapuspa, Taman Lansia, Taman Musik, Taman Persib, Taman Super Hero, Taman Vanda, Pet Park dan Skate Park. Apa yang terjadi setelah taman kota ini dibenahi? Banyak hal tentunya. Sebagai contoh ketika ruang negatif di bawah kolong jembatan pasupati disulap menjadi taman film bandung, taman ini langsung diserbu oleh warga. Bahkan acara nonton bareng (nobar) pun sering digelar bila pemain Persib sedang berlaga. Dari sanalah ekonomi diciptakan. Menurut cerita masyarakat setempat, pendapatan dari parkir motor saja bisa mencapai Rp 3 juta per harinya bila sedang ramai didatangi pengunjung. Regulasi yang diterbitkan oleh pemerintah Kota Bandung seperti dalam hal membenahi pedagang kaki lima (PKL), kemudian regulasi yang mewajibkan denda bagi siapapun warga yang membuang sampah secara sembarangan, tentunya merupakan kebijakan strategis dalam menata Kota Bandung. Karena di saat berbagai infrastruktur Kota Bandung sedang giat-giatnya dibangun, tentunya harus dibarengi pula oleh penerapan kedisplinan warga kota dalam memelihara ruang-ruang fisik yang ada.

Barangkali yang patut dipikirkan oleh pemerintah Kota Bandung saat ini adalah mencari landasan atau dasar sebagai tempat memijakkan langkahnya ke depan. Dalam hal ini pemerintah Kota Bandung mesti mengetahui arah pembangunan yang ingin dicapai melalui sebuah strategi sejarah yang tepat. Seperti halnya Presiden Jokowi membuat sebuah strategi pembangunan poros maritim, karena sesungguhnya sejarah mencatat bahwasanya nenek moyang kita adalah seorang pelaut. Karenanya perekonomian sektor maritim menjadi salah satu upaya yang coba diperjuangkan. Bila melihat sejarah Kota Bandung, sesungguhnya sejak dulu kota ini merupakan destinasi para pelancong dari berbagai pelosok tanah air dan manca negara. Sehingga perekonomian sektor jasa yang erat kaitannya dengan perdagangan dan pariwisata dapat menjadi salah satu yang dapat diandalkan. Sektor jasa ini tentunya bertumpu sangat besar kepada kekuatan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Sebagaimana disebutkan oleh orang bijak bahwa “Harmoni kanak-kanak adalah karunia alam, sedangkan harmoni kedua bersumber dari karya dan budaya jiwa manusia”. Oleh karena itu ide dan pikiran yang dihasilkan oleh sumber daya manusia ini dipercaya dapat menghasilkan sebuah ekonomi lain yang bernama “Ekonomi Kreatif”. Meski sebenarnya, ekonomi kreatif ini masih dianggap seperti cacing karena kontribusi dan nilai ekonomi yang diberikan belumlah luar biasa. Namun kita harus percaya bahwa cacing ini adalah cacing yang sangat berharga ke depannya. Bila sebuah kota dapat kita analogikan sebagai tanah, tentunya cacing-cacing inilah yang akan menggemburkan dan menyuburkan tanah tersebut. Adalah komunitas yang sejatinya dapat melahirkan cacing-cacing kecil, yang kelak dapat menumbuhkan ekonomi Kota Bandung. Dengan segala keunikan, keutuhan, kemanfaatan dan pemahaman akan komunitas tersebut, Kota Bandung tentunya tidak perlu kuatir akan ditinggalkan layu. Namun sebaliknya, Kota Bandung akan selalu tumbuh mekar, mewangi dan semerbak walau bersama hujan deras dan terpaan angin.

Daftar Pustaka
Bandung Creative City Forum (BCCF). 2008-2014. Catatan Sejarah & Program BCCF 
Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif Indonesia. 2014. Buku Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif. “Ekonomi Kreatif : Kekuatan Baru Indonesia Menuju 2025″. 
-Haryoto Kunto. 1986. Semerbak Bunga di Bandung Raya.

* Tulisan ini dibuat sebagai salah satu isi materi buku “Bandung Motekar” yang disusun oleh Komite Pengembangan Ekonomi Kreatif Kota Bandung

@galihsedayu | bandung, 17 januari 2015

Written by Admin

January 16, 2015 at 1:49 pm

Bandung Menyihir Jokowi

leave a comment »

Teks : galih sedayu | Foto : Dudi Sugandi & Ihsan Achdiat

Badan Ekonomi Kreatif akan segera saya launching minggu depan. Dan badan ini akan langsung berada di bawah pengawasan presiden”. Begitulah kira-kira statement seorang Presiden Jokowi di hadapan berbagai komunitas kreatif tatkala ia blusukan ke kota Bandung. Tepatnya pada hari senin tanggal 12 Januari 2015, Jokowi menyambangi simpul space #3 di kota Bandung yang merupakan ruang jejaring komunitas dan basecamp-nya Bandung Creative City Forum (BCCF). Sejak pukul 2 siang, terlihat ratusan orang komunitas dari berbagai jaringan di kota Bandung telah hadir memenuhi halaman depan Simpul Space.

Tercatat nama-nama komunitas & jejaring kreatif yang hadir seperti Bikers Brotherhood, Bandung Foodtruck, Sembilan Matahari, Ruang Film Bandung, Embarra Film, Amygdala, Taskuni, Fight Bdg, Doku, Taman Foto Bdg, Bidik Photography, Perhimpunan Amatir Foto (PAF), Air Foto Network, Btari, Komikara, Kriya Nusantara, Indorunners Bandung, Rumah Cemara, Media Wave, Pita, Labo Mori, Forum Kabaret Bandung, Mahanagari, Ngadu Ide, Rumah Nusantara, ProCodeCG, Sahabat Kota, Culindra, Y-Plan Bdg, Wanna Be Dancer, Karang Taruna Bandung, Kampung Dago Pojok, Kampung Pasundan, Happy Farmer (Supported by JKMP4) dan Bandung High Tech Valley.

Beberapa komunitas dan pelaku kreatif pun ikut meramaikan acara kunjungan Jokowi tersebut dengan memamerkan produk beserta aktivitasnya. Dari mulai Tegep Boots, Airplane Systm, Batik Fractal, Common Room, Sanggar Origami Indonesia, ProCodeCG, Kampung Kreatif Linggawastu, Yayasan Pilar Peradaban, Pori Keramik, Tinker Games, Komik CAB, Waningadoe, Woodka, Studio Keramik 181, Glintz, Jendela Ide, Riset Indie, Growbox dan Peta Kita. Tampak pula unjuk kabisa dan penampilan dari komunitas seperti komunitas egrang asuhan kang Obin, komunitas hoong asuhan kang Zaini Alif, dan komunitas karinding asuhan kang Man Jasad. Uniknya, hanya dibutuhkan waktu sekitar 24 jam untuk menghimpun komunitas dan mempersiapkan acara kunjungan Jokowi yang sangat mendadak tersebut. Barangkali, inilah salah satu bukti kekuatan jaringan komunitas kreatif di kota Bandung.

Sekitar pukul 6 sore, Jokowi baru terlihat tiba di Simpul Space dengan didahului iring-iringan pasukan pengawal kepresidenan. Kedatangan Jokowi kala itu didampingi pula oleh Menteri BUMN, Gubernur Jawa Barat, Kapolda Jawa Barat dan Pangdam Siliwangi. Sementara ratusan komunitas yang sudah menunggu lebih dari 4 jam masih terlihat antusias menyambut kedatangan Jokowi. Setibanya di Simpul Space, Jokowi langsung masuk ke dalam ruang pameran untuk melihat kreasi dari komunitas dan pelaku kreatif kota Bandung. Di sana Jokowi terlihat membeli beberapa produk semisal sepatu dan baju dari Airplane Systm dan 1000 unit listrik mandiri rakyat (Limar) dari yayasan pilar peradaban. Meski waktu kunjungan Jokowi yang diberikan pasukan pengawal presiden (paspampres) hanya 30 menit, namun ternyata hampir sekitar 2 jam lamanya Jokowi menghabiskan waktunya untuk berdiskusi dan melakukan tanya jawab dengan para komunitas tersebut.

Sebagai contoh, sebanyak 3 kali Jokowi meminta penjelasan ulang kepada kang Muhammad Lukman (Luki) yang merupakan salah satu pemilik Batik Fractal untuk menjelaskan produknya. Dengan sabar, kang Luki pun menjelaskan bahwa pada dasarnya motif batik fractal itu dibuat dengan menggunakan software khusus yang memanfaatkan pola pengulangan yang dimiliki motif batik pada umumnya. Lalu Jokowi pun bertanya kepada kang Gustaff H Iskandar, salah satu pendiri Common Room mengenai apa langkah kongkret untuk pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Kang Gustaff pun menjawab bahwa negara harus mendukung anak muda dan diperlukan ruang kreatif di daerah termasuk di desa, serta diperlukan infrastruktur yang baik agar karya anak muda di daerah bisa diakses oleh pasar yang lebih luas. Ketika Jokowi berdiskusi dengan komunitas Thinker Games yang diwakili oleh kang Aji, beliau mengatakan bahwa games dan animasi merupakan masa depan industri kreatif indonesia yang sangat menjanjikan. Terakhir Jokowi berbisik kepada kang Fiki Satari selaku ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) dengan mengatakan bahwa hal baik ini mesti ditindaklanjuti dan berjanji akan mengundang komunitas untuk bertemu di istana.

Setelah Jokowi selesai meninjau dan berdialog santai dengan para komunitas di ruang pameran Simpul Space, kemudian sebelum pulang ia menyampaikan pidato singkatnya di depan para komunitas kreatif bandung. Jokowi menyebutkan bahwa ia sangat senang dan bangga melihat karya komunitas kota bandung. Jokowi pun menyarankan bahwa perlu adanya sistem marketing secara baik untuk dapat membantu memasarkan produk-produk tersebut. Jokowi pun sempat mengutarakan kesedihannya karena ada beberapa produk dan brand lokal indonesia yang sahamnya dibeli oleh pemodal asing. Saat itu Jokowi mengatakan bahwa seharusnya kita jangan mudah tergiur atau kaget bila tiba-tiba produk kita ditawarkan dengan nilai yang sangat tinggi oleh para pemodal asing. Apabila kita mau bersabar untuk menunggu 3 sampai 5 tahun lagi, bukan mustahil pendapatan kita dari penjualan produk tersebut bisa berkali-kali lipat. Karenanya, menurut Jokowi pemerintah mesti hadir dan mengambil peran untuk dapat membantu menyelesaikan permasalahan seperti ini. Salah satunya adalah pembentukan Badan Ekonomi Kreatif yang telah lama diusulkan.

Bila melihat peristiwa kunjungan Jokowi yang serba tiba-tiba ini, barangkali kota Bandung dengan segudang komunitas kreatifnya memang menyimpan dan memiliki kuasa sihir yang dapat memikat siapapun yang melihatnya. Dan kali ini, seorang presiden yang bernama Jokowi telah terkena sihirnya.

@galihsedayu | bandung, 12 januari 2015

jokowi

(Dari kiri ke kanan) Dudi Sugandi (Tim Media BCCF), Fiki Satari (Ketua BCCF), Tegep Octaviansyah (Wakil Ketua BCCF), Galih Sedayu (Direktur Program BCCF), Taufik Hidayat (Saung Angklung Udjo), Gustaff H Iskandar (Common Room), Triawan Munaf (Rembug Kreatif), Rahmat Jabaril (Komunitas Taboo) berpose bersama Komunitas Hoong & Egrang STSI

jokowi

Para komunitas dari berbagai jaringan kota Bandung yang hadir di Simpul Space #3

jokowi

Jokowi tiba di Simpul Space #3 BCCF dan langsung disambut dengan antusias oleh para komunitas yang telah menunggu selama kurang lebih 4 jam

jokowi

Jokowi di dampingi oleh Gubernur Jawa Barat berbincang dengan Fiki Satari saat mengunjungi booth Airplane Systm

jokowi

Jokowi meminta penjelasan berulang kali dari Muhammad Lukman (Luki) mengenai Batik Fractal

jokowi

Jokowi berdialog singkat dengan Gustaff H Iskandar ketika mengunjungi booth Common Room

jokowi

Jokowi mengunjungi Simpul Institute BCCF untuk melihat kelas origami asuhan Maya Hirai

jokowi

Kang Ujang (Uko) dari yayasan pilar peradaban tengah menjelaskan produk listrik mandiri rakyat (Limar) kepada Jokowi

jokowi

Jokowi melihat produk dan kreasi karya Kampung Kreatif Linggawastu

jokowi

Jokowi didampingi oleh Sekjen BCCF Tita Larasati meninjau booth Pori Keramik

jokowi

Aji dari komunitas Tinker Games menjelaskan produk dan karyanya kepada Jokowi

jokowi

Mas Ipong Witono & Kang Aat Soeratin dari Rumah Nusantara meminta Jokowi untuk memberikan tanda tangan di sebuah buku

jokowi

Jokowi tengah berdiskusi dengan Kang Andar Manik dari Komunitas Jendela Ide

jokowi

Seterhen Akbar (Saska) sedang menjelaskan kegiatan komunitas Riset Indie kepada Jokowi

jokowi

Direktur Program BCCF galih sedayu meminta Jokowi untuk menandatangani plakat sebagai simbol kunjungan Jokowi ke Simpul Space BCCF

jokowi

Suasana komunitas yang hadir memenuhi halaman depan Simpul Space sesaat sebelum Jokowi memberikan pidato singkatnya

jokowi

Jokowi memberikan pernyataan dan pandangannya tentang industri kreatif di hadapan para komunitas kota bandung di halaman depan Simpul Space

copyright (c) 2015
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from writter & photographers

Written by Admin

January 13, 2015 at 1:36 pm

kompilasi artikel “ekonomi kreatif” di surat kabar pikiran rakyat {agustus – desember 2014}

leave a comment »

dikompilasi oleh galih sedayu

Kumpulan artikel yang saya posting di blog ini merupakan file digital yang telah dimuat di surat kabar Pikiran Rakyat pada kolom yang bertajuk “Ekonomi Kreatif” sebanyak satu halaman penuh. Himpunan artikel ini dibuat setiap hari jumat dalam periode bulan agustus s/d desember 2014. Kompilasi artikel “Ekonomi Kreatif” ini disusun dengan tujuan untuk mengarsipkan informasi agar dapat menjadi bahan literasi perihal “Ekonomi Kreatif” di masa mendatang. 

@galihsedayu | bandung, 26 desember 2014

1) 8 Agustus 2014

08 ekraf_08 agust 2014

2) 15 Agustus 2014

08 ekraf_15 agust 2014

3) 22 Agustus 2014

08 ekraf_22 agust 2014

4) 29 Agustus 2014

08 ekraf_29 agust 2014

5) 5 September 2014

09 ekraf_05 sept 2014

6) 12 September 2014

09 ekraf_12 sept 2014

7) 19 September 2014

09 ekraf_19 sept 2014

8) 26 September 2014

09 ekraf_26 sept 2014

9) 3 Oktober 2014

10 ekraf_03 okt 2014

10) 10 Oktober 2014

10 ekraf_10 okt 2014

11) 17 Oktober 2014

10 ekraf_17 okt 2014

12) 24 Oktober 2014

10 ekraf_24 okt 2014

13) 31 Oktober 2014

10 ekraf_31 okt 2014

14) 7 November 2014

11 ekraf_7 nov 2014

15) 14 November 2014

11 ekraf_14 nov 2014

16) 21 November 2014

11 ekraf_21 nov 2014

17) 28 November 2014

11 ekraf_28 nov 2014

18) 5 Desember 2014

12 ekraf_05 des 2014

19) 12 Desember 2014

12 ekraf_12 des 2014

20) 19 Desember 2014

12 ekraf_19 des 2014

21) 26 Desember 2014

12 ekraf_26 des 2014

compiled by galih sedayu
all right reserved {2014}

Written by Admin

January 2, 2015 at 12:47 pm

kompilasi karya foto “spektra” di surat kabar pikiran rakyat {januari – desember 2014}

leave a comment »

dikompilasi oleh galih sedayu

Foto-foto yang ditampilkan di sini merupakan karya hasil rekaman beku para jurnalis foto yang bekerja di surat kabar Pikiran Rakyat. Dimana setiap hari minggu, karya foto dengan tema tertentu dimuat di salah satu kolom Pikiran Rakyat yang bertajuk “Spektra” sebanyak satu halaman penuh. Kompilasi karya foto ini diabadikan dalam periode tahun 2014. Kompilasi karya foto spektra Pikiran Rakyat ini dibuat dengan tujuan mengarsipkan informasi & visual foto agar dapat menjadi bahan literasi fotografi di masa mendatang. Kiranya kompilasi karya foto ini dapat menjadi media berbagi dalam balutan semangat edukasi, demi kemajuan dunia fotografi kita.

@galihsedayu | bandung, 28 desember 2014

1) 5 Januari 2014 : Karya Abadi Krishna Ahadiyat 

spektra 2014

2) 12 Januari 2014 : Mitembeyan Melak Pare Huma karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

3) 19 Januari 2014 : Tradisi Ngagogo karya Satria Yudatama

spektra 2014

4) 26 Januari 2014 : Keramik Cantik karya Ade Bayu Indra

spektra 2014

5) 2 Februari 2014 : Semarak “Skatepark” karya Harry Surjana

spektra 2014

6) 9 Februari 2014 : Rumah Bintang Yang Benderang karya Ade Bayu Indra

spektra 2014

7) 16 Februari 2014 : World Press Photo 2013

spektra 2014

8) 23 Februari 2014 : Dawai Indah Sariwangi karya Ade Bayu Indra

spektra 2014

9) 2 Maret 2014 : Gamelan Keramik karya Armin Abdul Jabbar

spektra 2014

10) 9 Maret 2014 : Lembaran Demokrasi karya Harry Surjana

spektra 2014

11) 16 Maret 2014 : Bandung di Mata Komunitas karya Galih Sedayu

spektra 2014

12) 23 Maret 2014 : Simulasi Pengamanan Pemilu 2014 karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

13) 6 April 2014 : Melayang Dengan Paralayang karya Harry Surjana

spektra 2014

14) 13 April 2014 : Batu Mulia Martapura karya Satria Yudatama

spektra 2014

15) 20 April 2014 : Jejak-Jejak RA Kartini karya Armin Abdul Jabbar

spektra 2014

16) 27 April 2014 : Kelom Geulis Tak Lekang Oleh Zaman karya Andri Gurnita

spektra 2014

17) 4 Mei 2014 : Potret Buruh Indonesia karya Harry Surjana

spektra 2014

18) 11 Mei 2014 : Kembali Ke Habitat karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

19) 18 Mei 2014 : Lingkar Penjunjang Penampilan karya Armin Abdul Jabbar

spektra 2014

20) 25 Mei 2014 : Produksi Karbon Aktif karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

21) 1 Juni 2014 : Berlari Dalam Kebersamaan karya Harry Surjana

spektra 2014

22) 8 Juni 2014 : Eksotisme Cinta Taj Mahal karya Andri Gurnita

spektra 2014

23) 15 Juni 2014 : Menerawang Di Bus Malam karya Ade Bayu Indra

spektra 2014

24) 22 Juni 2014 : Piala Dunia Anak Jalanan karya M Gelora Sapta

spektra 201425) 6 Juli 2014 : Capres RI 2014-2019

spektra 2014

26) 13 Juli 2014 : Anak Palestina

spektra 2014

27) 20 Juli 2014 : Dunia Menyambut Ramadan

spektra 2014

28) 3 Agustus 2014 : Kembali Ke Perantauan karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

29) 10 Agustus 2014 : Payung Geulis Nasibmu Kini karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

 

30) 24 Agustus 2014 : Meniti Tali Di Tebing Penganten karya Deden Iman

spektra 2014

31) 31 Agustus 2014 : Merdeka Dari Sampah karya Siska Nirmala & Dhita Septiawan

spektra 2014

32) 7 September 2014 : Mengejar Prestasi Di Angkasa karya Harry Surjana

spektra 2014

33) 14 September 2014 : Ngaboseh Sareng Gubernur karya Andri Gurnita

spektra 2014

34) 21 September 2014 : Potensi Pelabuhan Cirebon karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

35) 28 September 2014 : Jelang Siang Di Jam Gadang karya Ade Bayu Indra

spektra 2014

36) 12 Oktober 2014 : Tepung Sagu Cineam Pasok Pabrikan Camilan karya Satria Yudatama

spektra 2014

37) 19 Oktober 2014 : Songket Palembang karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

38) 26 Oktober 2014 : Pesona Wisata Di Tanjung Benoa karya Ade Bayu Indra

spektra 2014

39) 2 November 2014 : Migrasi Burung Pemangsa karya Armin Abdul Jabbar

spektra 2014

40) 9 November 2014 : Pulau Kering Di Tengah Musi karya Arif Hidayah

spektra 2014

41) 16 November 2014 : Adu Kemahiran “Barista” karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

42) 23 November 2014 : Orang Utan & Beruang Sisihkan 14.000 Foto Dari Lomba Foto Satwa Internasional 2014

spektra 2014

43) 30 November 2014 : Dalam Keterbatasan Kemampuan karya Ade Bayu Indra

spektra 2014

44) 7 Desember 2014 : Drama Peradaban Di Situs Gunung Padang karya Arif Hidayah

spektra 2014

45) 14 Desember 2014 : Andil Sang Gurandil karya Satria Yudatama

spektra 2014

46) 21 Desember 2014 : Teguran Alam karya Deden Iman

spektra 2014

47) 28 Desember 2014 : Pembangunan Vertikal Incheon karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

compiled by galih sedayu
all right reserved {2014}

Written by Admin

December 28, 2014 at 8:14 am

Doa Kecil Tuk Kedua Orang Tua {40 tahun pernikahan}

leave a comment »

DSCF6343_bw_blog

Teks & Doa : galih sedayu

Ya Bapa sang pewarta terang…

Beribu rasa syukur dan ungkapan terima kasih kami ucapkan kepada-Mu, karena pada hari yang penuh kasih ini, kami dapat berhimpun sekeluarga untuk merayakan ulang tahun pernikahan kedua orang tua kami tercinta, yakni Bapak kami yang bernama Agustinus Michael Kayat dan Mama kami yang bernama Dorothea Komyana. Dimana saat ini, usia pernikahan kedua orang tua kami, telah genap menginjak usia yang ke-40 tahun.

Kami selaku anak-anak yang telah dibesarkan dengan sepenuh hati oleh kedua orang tua kami, tentunya sangat bersuka cita dan menyambut gembira, atas momen berharga yang saat ini dialami oleh kedua orang tua kami. Untuk itulah kami berdoa kepada-Mu ya Bapa, agar kiranya Engkau selalu memberkati dan menguduskan wujud karya penciptaan-Mu, yakni pernikahan kedua orang tua kami, agar selalu menjadi sakramen cinta yang kekal dan abadi.

Untuk itu kami memohon kepada-Mu ya Bapa…

Biarlah raga yang sehat selalu menyertai kedua orang tua kami…

Biarlah jiwa yang muda selalu menyertai kedua orang tua kami…

Biarlah rejeki yang cukup selalu menyertai kedua orang tua kami…

Biarlah kasih yang setia selalu menyertai kedua orang tua kami…

Biarlah hati yang gembira selalu menyertai kedua orang tua kami…

Biarlah kebahagiaan yang nyata selalu menyertai kedua orang tua kami…

Dan biarlah kehadiran-Mu senantiasa menyertai kedua orang tua kami…

Kami sangat bersyukur karena Engkau telah menganugerahkan kepada kami, kedua orang tua kami yang sangat luar biasa.

Bagi kami, orang tua kami bukan hanya seseorang yang melahirkan anak-anaknya saja, melainkan seseorang yang menjadi panutan ketika kami tumbuh menjadi dewasa.

Dari mereka lah, kami belajar perihal arti kebaikan yang melebihi tingginya gunung dan dalamnya lautan.

Dan kami pun semakin menyadari bahwa kedua orang tua kami adalah rumah yang pertama kali kami kenal dalam kehidupan ini.

Ya Bapa…

Kiranya Engkau mau mendengarkan doa sederhana yang kami persembahkan untuk kedua orang tua kami. Karena kami sadar, bahwa tidak akan pernah ada sesuatu di dunia ini, yang dapat menggantikan segala pengorbanan kedua orang tua kami, yang hingga detik inipun kami yakin, bahwa kedua orang tua kami masih tetap bekerja untuk mencintai dan membesarkan kami semua sebagai anak-anaknya.

Teruntuk kedua orang tua kami, mama & bapak…

Maafkanlah segala dosa dan kesalahan kami selaku anak-anakmu.

Satu hal yang dapat kami janjikan adalah, kami tidak akan pernah melupakan bahwa kami adalah anak-anak mama & bapak yang sangat berbahagia karena memiliki mama & bapak.

Amin.

Written by Admin

December 26, 2014 at 11:52 am

Geliat Bergerak Industri Kreatif Tasikmalaya

leave a comment »

oleh galih sedayu

Tasikmalaya yang dijuluki Sang Mutiara dari Priangan Timur merupakan salah satu kota yang melengkapi keutuhan tubuh wilayah Provinsi Jawa Barat di bagian tenggara. Sejarah sendiri mencatat bahwa Tasikmalaya sebelumnya adalah sebuah kabupaten. Namun seiring dengan perubahan yang selalu terjadi, kini di Tasikmalaya memiliki 2 buah bentuk pemerintahan yakni Pemerintahan Kabupaten dan Pemerintahan Kota Tasikmalaya. Bila dirunut berdasarkan peristiwa lampau yang terjadi, sejarah lahirnya kota Tasikmalaya dimulai tatkala A. Bunyamin menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya tahun 1976 hingga 1981, dengan diresmikannya Kota Administratif Tasikmalaya melalui peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1976. Pada waktu yang bersamaan, Walikota Administratif Pertama yaitu Drs. H. Oman Roosman dilantik oleh Gubernur KDH Tingkat I Jawa Barat, H. Aang Kunaefi. Kemudian pada tahun 2001, dirintislah pembentukan Pemerintah Kota Tasikmalaya oleh Bupati Tasikmalaya, Kol. Inf. H. SuIjana Wirata Hadisubrata (1996 – 2001). Akhirnya dibawah pimpinan Bupati Drs. Tatang Farhanul Hakim, pada tanggal 17 Oktober 2001 melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2001, Pembentukan pemerintahan Kota Tasikmalaya sebagai pemerintahan daerah otonom disahkan. Dimana pada tanggal 18 Oktober 2001, Drs. H. Wahyu Suradiharja dilantik sebagai Pejabat Walikota Tasikmalaya. Sejak saat itulah Tasikmalaya memiliki kuasa dan kewenangan untuk mengatur rumah tangganya sendiri. Karena sejak dulu Tasikmalaya memiliki berbagai potensi kerajinan lokal, perkembangan industri kreatif kota ini mulai diperhitungkan. Karenanya, saat ini Tasikmalaya mulai dijagokan sebagai Second City dari Provinsi Jawa Barat setelah kota Bandung.

Potensi Industri Kreatif di Tasikmalaya ternyata cukup besar. Dari mulai bordir, batik, alas kaki (kelom geulis), kerajinan mendong, anyaman bambu, meubel, hingga payung geulis sangat memberikan kontribusi ekonomi yang tentunya menopang pertumbuhan kota Tasikmalaya. Menurut data yang diberikan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Tasikmalaya dan Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya, ada sekitar 2.307 unit usaha industri kerajinan di Tasikmalaya yang menyerap tenaga kerja sebanyak 23.565 orang dengan nilai investasi sebesar Rp. 350 Milyar serta nilai produksi yang mencapai Rp. 1,4 Triliun. Dari industri kreatif bordir dengan lokasi sentra di Kecamatan Kawalu, ada sekitar 1.317 unit usaha, 12.898 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 193.627.373.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 895.008.263.000. Dari alas kaki (kelom geulis) dengan lokasi sentra di Kecamatan Tamansari, Mangkubumi, ada sekitar 504 unit usaha, 5.924 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 135.255.674.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 396.266.958.000. Dari kerajinan mendong dengan lokasi sentra di Kecamatan Purbaratu, Cibeureum, ada sekitar 173 unit usaha, 2.237 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 6.891.602.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 41.629.874.000. Dari batik dengan lokasi sentra di Kecamatan Cipedes, Indihiang, ada sekitar 32 unit usaha, 551 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 2.557.166.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 26.963.320.000. Dari kerajinan kayu {meubel) dengan lokasi sentra di Kecamatan Cipedes, Tawang, Cibeureum, Tamansari, ada sekitar 202 unit usaha, 1.258 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 9.785.331.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 54.036.745.000. Dari kerajinan bambu dengan lokasi sentra di Kecamatan Mangkubumi, Indihiang, ada sekitar 75 unit usaha, 660 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 1.200.038.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 5.466.606.000. Terakhir dari payung geulis dengan lokasi sentra di Kecamatan Indihiang, Cihideung, ada sekitar 4 unit usaha, 37 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 76.940.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 332.800.000.

Melihat potensi Tasikmalaya ini, tentunya masyarakat Jawa Barat yang digadang sebagai salah satu gudang masyarakat kreatif mesti siap menghadapi segala tantangan yang terjadi di era ASEAN Economic Community 2015 yang tinggal menghitung hari. Sudah saatnya masyarakat Jawa Barat mulai bekerja dengan keadaan yang baru ini, Beber Layar, Tarik Jangkar kalau menurut peribahasa sunda, tentunya dengan cara bekerja keras, Dug hulu, pet nyawa, sehingga apapun tantangannya, jika kita rajin dan penuh kesabaran, pasti cita-cita akan tercapai, Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok kata para sesepuh kita. Untuk itulah, masyarakat Jawa Barat harus mampu menyelesaikan segala permasalahan yang dimiliki berkaitan dengan pengembangan industri kreatif. Dan cara terbaik yang dapat dilakukan adalah mulai.

@galihsedayu | tasikmalaya, 10 desember 2014

*batik

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

*kerajinan mendong

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

*kelom geulis

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

“Take On Me” | A Photography Project by galih sedayu

leave a comment »

Selfie atau Swafoto. Kini kegiatan tersebut seolah menjelma menjadi sebuah budaya baru yang sangat amat digandrungi terutama oleh kalangan anak muda yang kerap bergaya di depan kamera. Banyak yang mengatakan bahwa penggunaan kata selfie ini berasal dari kata Selca atau Self-Camera. Sesungguhnya selfie sendiri adalah sebuah jenis self-portrait foto, yang biasanya diambil dengan menggunakan kamera ponsel. Kegiatan ini sering dilakukan karena biasanya setelah ritual selfie tersebut, mereka secara berjemaah langsung menggugah foto karya narsis tersebut ke jejaring sosial seperti instagram, path, twitter atau facebook. Saat ini bahkan mereka melakukannya dengan menggunakan sebuah alat bantuan berbentuk tongkat yang dinamakan tongsis.

Menurut catatan sejarah, pada mulanya foto selfie diperkenalkan oleh Robert Cornelius, seorang berkebangsaan Amerika yang juga merupakan perintis fotografi. Ia membuat karya foto yang menggambarkan ekspresi dirinya sendiri pada tahun 1839. Teknik memotret diri sendiri tersebut kemudian semakin berkembang tatkala debut pertama portabel kamera kodak brownie, dimulai pada tahun 1900. Sehingga di tahun yang sama, muncul foto seorang wanita di era Raja Edward VII, Inggris yang mengabadikan foto selfie di depan cermin dengan menggunakan kamera kodak brownie. Lalu pada tahun 1914, putri keempat Tsar Nicholas II dari Rusia bernama Anastasia Nikolaevna, merekam foto selfie dan menjadi karya salah satu remaja pertama yang mengambil foto dirinya sendiri dengan menggunakan kamera kodak brownie untuk kemudian dikirim kepada temannya, di saat usianya baru menginjak 13 tahun. Di dalam surat yang menyertai fotonya itu, ia menuliskan hal ini “Saya mengambil gambar diriku sendiri dengan melihat cermin. Hal itu sangat mengagetkan dimana tangan saya gemetar”. Pada tahun 1935, ada pula seorang seniman Belanda yang bernama M.C. Escher, yang membuat potret dirinya yang diberi judul “Tangan dengan bola refleksi”.

Istilah selfie ini sebenarnya pernah dibahas oleh seorang fotografer yang bernama Jim Krause pada tahun 2005. Lalu pada tahun 2013, kata selfie dimasukkan ke dalam Online Oxford English Dictionary. Dan pada bulan november 2013, kata yang berasal dari negara Australia ini diumumkan sebagai “Word Of The Year” oleh Oxford English Dictionary. Tampaknya, foto selfie kini menyebar seperti virus ke seluruh dunia. Bahkan Presiden Barack Obama dan Perdana Menteri David Cameron pun melakukannya pada saat pemakaman Nelson Mandela. Tak ketinggalan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pun melakukannya di sela-sela kegiatan kampanye mereka terdahulu. Walaupun sesungguhnya, foto selfie ini terasa membosankan karena rata-rata dilakukan dengan berpose bibir manyun, mengangkat jari tangan sembari meniru simbol metal atau gaya bebas lain semaunya. Namun walaubagaimanapun, agaknya ada semacam Fun Theory ketika melakukan aktivitas selfie ini. Sehingga orang-orang yang melakukannya pun merasa gembira dan merasa lepas dari beban stres maupun pikiran yang penat.

Barangkali beberapa fotografer atau seniman menganggap bahwa foto selfie ini bukanlah termasuk ke dalam level mereka. Biarlah demikian adanya. Atau malahan genre fotografi ini mungkin sengaja hadir untuk menghibur kita semua agar polemik perihal diskusi foto seni atau bukan seni yang biasanya terus bergulir, dapat berhenti sejenak. Sembari menikmati suguhan karya foto selfie yang sarat dengan gaya narsis nan ambigu, namun demikian tak bisa lepas dari konteks perihal diri sendiri. Kalau seorang Descartes pernah bersabda Cogito Ergo Sum atau “Aku Berpikir, Maka Aku Ada”, barangkali para kelompok penyuka Selfie ini, dengan tidak berpikir punya filosofi seperti ini, “Aku Memotret Diri, Maka Seterusnya Aku Ada”.

“Personal Photo Project” sejak tahun 2014

***

Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu

Thanks to Aha for the Inspiring Song, “Take On Me”

#56KaryaFoto #56Photographs

Selfie Ramadhan_blog

Bandung, Indonesia – 22 April 2023

DSCF3019_blog

Batam, Indonesia – 22 June 2019

DSCF0794_blog

Penang, Malaysia – 2015

galih sedayu

Kuta, Bali – 2015

galih sedayu

La Plancha, Seminyak, Bali – 2015

selfie

Blue Point, Jimbaran, Bali – 2015

selfie

Blue Point, Jimbaran, Bali – 2015

selfie

Blue Point, Jimbaran, Bali – 2015

selfie

Mangroove Forest, Bali – 2015

selfie

La Plancha, Seminyak, Bali – 2015

selfie

Pantai Balangan, Jimbaran, Bali – 2015

selfie

Pantai Balangan, Jimbaran, Bali – 2015

selfie

Pantai Padang-Padang, Jimbaran, Bali – 2015

galih sedayu

Taman Alun-Alun, Mesjid Agung, Bandung – 2015

galih sedayu

Parade Asia Afrika, Jalan Asia Afrika, Bandung – 2015

galih sedayu

Pantai Batu Karas, Pangandaran – 2015

galih sedayu

Monumen Asia Afrika, Jalan Asia Afrika, Bandung – 2015

galih sedayu

Angklung For The World, Stadiun Siliwangi, Bandung – 2015

galih sedayu

Jalan Cikapundung Timur, Bandung – 2015

galih sedayu

Jalan Cikapundung Timur, Bandung – 2015

galih sedayu

Jalan Asia Afrika, Bandung – 2015

galih sedayu

Dusun Bambu, Lembang – 2015

selfie

Taman Bunga Nusantara, Cipanas – 2014

selfie

Hamamatsu, Jepang – 2014

selfie

Jabar Ngagaya Fest, Jalan Diponegoro, Bandung – 2014

selfie

Area Paragliding, Puncak Pass – 2014

selfie

Taman Bunga Nusantara, Cipanas – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Pasar Seni, ITB, Bandung – 2014

selfie

Bdg Caang Fest, Jalan Diponegoro, Bandung – 2014

selfie

Jabar Ngagaya Fest, Jalan Diponegoro, Bandung – 2014

selfie

Area Paragliding, Puncak Pass – 2014

selfie

Taman Bunga Nusantara, Cipanas – 2014

selfie

Pasar Seni, ITB, Bandung – 2014

selfie

Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Bdg Caang Fest, Jalan Diponegoro, Bandung – 2014

selfie

Ngora Bdg Fest, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Jabar Ngagaya Fest, Jalan Diponegoro, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Pasar Seni, ITB, Bandung – 2014

selfie

Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Ngora Bdg Fest, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Keukeun, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Ngora Bdg Fest, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Ngora Bdg Fest, Taman Balai Kota, Bandung – 2014

selfie

Kawasan Paragliding, Puncak Pass – 2014

selfie

Pawai Persib Juara | Patung Ajat Sudrajat, Lembong, Bandung – 2014

selfie

Pasar Seni, ITB, Bandung – 2014

selfie

Tebing Keraton, Bandung – 2014

selfie

Braga Culinary Night, Bandung – 2014

IMG_9834_blog

Kampung Daogo Pojok, Bandung – 2013

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

December 5, 2014 at 10:58 am