Kasih Ibu di Pantai Lovina
Teks & Foto oleh galih sedayu
Konon, lumba-lumba adalah sahabat manusia di lautan. Karenanya tak heran bila manusia yang lebih sering hidup di daratan, kemudian ingin bersua dan mencari sahabatnya di samudera yang luas. Kawanan lumba-lumba ini, dapat kita temui di Pantai Lovina, Pulau Dewata, Bali. Pantai Lovina sejak dulu menjadi salah satu destinasi wisata di pesisir Bali Utara, tepatnya 10 km ke arah barat Kota Singaraja, di Desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng, Bali. Pasir hitam yang dimilikinya seolah menjadi halaman depan sebelum kita memulai perjalanan ke tengah laut agar dapat menjumpai lumba-lumba yang berada sekitar 1-2 km dari bibir pantai. Biasanya, kawanan lumba-lumba ini muncul sekitar pukul 6 hingga 8 pagi di tengah laut. Mengingat mahluk langka tersebut sudah bangun pagi-pagi buta, sebaiknya kita sudah harus berangkat sebelum matahari terbit dengan menggunakan perahu nelayan yang sederhana nan berwarna. Nama “Lovina” menjadi populer berkat jasa Anak Agung Panji Tisna, dimana pada tahun 1953 ia mulai membangun sebuah pondok di atas tanah miliknya yang berada di Buleleng. Pondok itulah yang kemudian diberi nama “Lovina” yang ditujukan sebagai tempat peristirahatan bagi turis-turis asing. Menurut Panji Tisna, kata “Lovina” sendiri berasal dari campuran dua suku kata yaitu “Love” dan “Ina”. Kata “Love” dari bahasa Inggris berarti kasih atau Cinta dan “Ina” dari bahasa Bali atau bahasa daerah yang berarti “ibu”. “Cinta Ibu” atau “Cinta Ibu Pertiwi” adalah makna yang mendalam dari Lovina. Semoga pesan tersebut dapat selalu diwariskan selamanya kepada kita dan sang lumba-lumba selalu hadir menjadi saksi hidup Pantai Lovina.
@galihsedayu | Bali, 4 Juli 2015



Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Pesona Dunia Pantai Padang Padang
Teks & Foto oleh galih sedayu
Berada di Jalan Labuan Sait, tepatnya di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Pantai Padang Padang atau yang juga dikenal dengan nama pantai Labuan Sait, menjadi salah satu magnet wisata di Pulau Dewata. Berlatar belakang perbukitan yang hijau dan batu karang yang terjal, pantai ini menawarkan sejuta pesona bagi siapapun yang merasakannya. Untuk menuju pantai ini, kita mesti melewati sebuah jalan yang menyerupai goa dan turun melewati puluhan tangga dengan ruang yang sempit. Namun setelah itu, pasir putih dengan airnya yang bening & jernih akan menjadi nirwana bagi kita semua. Maka tak heran bila Pantai Padang Padang ini menjadi salah satu lokasi syuting video musik “Someday” yang dibawakan oleh grup pop “Michael Learns To Rock” dan bahkan menjadi lokasi syuting film “Eat, Pray, Love” yang dibintangi artis Hollywood “Julia Roberts”. Bali tentunya boleh berbangga karena berkat Pantai Padang Padang ini, nama Indonesia semakin harum di mata dunia.
@galihsedayu | Bali, 7 Juli 2015
Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Ada Warna di La Plancha
Teks & Foto oleh galih sedayu
Ada begitu banyak ruang di pinggir pantai yang bisa kita nikmati di Pulau Dewata. Masing-masing tentunya memiliki keunikannya tersendiri. Begitu pula dengan La Plancha yang berada di kawasan pantai 66 dan pantai Gado-Gado, tepatnya di Jalan Dyana Pura, Seminyak, Kuta, Bali. Nama La Plancha sendiri dicomot dari bahasa Spanyol yang artinya papan seluncur (surf board) dan merupakan milik Gonzales seorang warga Spanyol yang membuatnya pada tahun 2010. Surfing, rileks sembari makan & minum, serta menikmati matahari terbenam bisa kita dapatkan di kawasan ini. Semuanya serba warna-warni di La Plancha, dari mulai kayu-kayu bekas yang dibuat sebagai bahan bangunan, kursi, bantal (bean bed) serta payung-payung cantik yang disusun rapi berderet di bibir pantai. Barang siapa yang merasa hatinya kelam, barangkali tempat ini dapat menjadi pengail hasrat agar hati kita semerbak berwarna kembali.
@galihsedayu | Bali, 6 Juli 2015
Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Pasukan Hijau Penjaga Pantai Bali
Teks & Foto oleh galih sedayu
Pulau Bali ternyata tidak hanya menyimpan destinasi wisata alam berupa laut & pantai saja. Ia pun menyuguhkan hamparan hutan mangrove atau bakau yang luas yakni sekitar 1.300 hektar. Letaknya di Jalan By Pass Ngurah Rai, Kuta, Bali, sekitar 100 meter dari Simpang Dewa Ruci. Untuk menelusuri hutan mangrove ini, jembatan kayu dengan panjang sekitar 2 km menjadi sahabat kita untuk melangkah tanpa harus menginjakkan kaki di rawa-rawa yang berlumpur. Pemandangan jalan tol dan birunya laut teluk Benoa dapat dipandang dari ujung jembatan hutan bakau bila kita sudi berjalan hingga ke ujung jembatan kayu tersebut. Di jalur keramaian Kabupaten Badung, Bali, kawasan hutan bakau ini menjadi saksi keseharian lalu-lintas yang bising sekaligus menjadi penyaring polusi udara yang ditimbulkannya. Pohon bakau ini tumbuh dengan gembira di atas rawa yang memiliki air payau (air tawar yang bercampur dengan air laut). Berkat hutan bakau ini pula, gelombang air laut yang masuk ke daratan dapat ditahan sehingga abrasi atau pengikisan tanah di pinggir pantai dapat dikurangi. Bayangkan apabila Pulau Bali yang dikelilingi oleh laut dan ombak yang besar di daerah selatan, tidak memiliki hutan bakau tersebut. Karenanya kita mesti percaya bahwa alam selalu mampu menyediakan cara untuk menjaga ekosistem yang ada, tidak seperti manusia yang kadang justru merusaknya.
@galihsedayu | Bali, 6 Juli 2015
Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Menikmati Surga di Pantai Balangan
Teks & Foto oleh galih sedayu
“The beach stirs the heart, inspires the imagination and brings eternal joy to the soul”
Menjejakkan kaki di batu karang dengan lumutnya yang berwarna hijau sembari merasakan segarnya air pantai adalah obat pelipur penat bagi siapapun orang yang dapat merasakannya. Belum lagi menyentuh hamparan pasir dan batu koral yang berwarna putih menambah sensasi nikmatnya alam di salah satu pantai pulau dewata ini. Pantai Balangan. Kita dapat merasakan sensasi itu semua di sini. Lokasi pantai ini terletak di wilayah Desa Ungasan, Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Bali. Ia tersembunyi dengan indah di bagian selatan Pulau Dewata, dengan panjang garis pantai kurang lebih 1 km menghadap ke arah utara. Sementara di bagian timur dipagari oleh tebing tinggi yang berlekuk di bawahnya karena tergerus oleh ombak. Di bagian barat, pantai dipagari oleh tebing tinggi yang penuh dengan pohon kelapa. Selain itu terdapat pula semacam pondok untuk menikmati pantai dari ketinggian. Pantai yang terletak diantara dua bukit karang yang terjal ini berada di daerah Pecatu. Untuk menuju ke kawasan pasir putih yang dimilikinya, kita hanya tinggal menuruni sejumlah anak tangga yang tidak terlalu curam. Tekstur pasir Pantai Balangan terasa sedikit kasar dengan ombaknya yang cukup besar. Sungguh layak semestinya bila pantai ini mendapat predikat surga yang tersembunyi di bumi.
@galihsedayu | Bali, 2 Juli 2015
Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Jalan Solidaritas Dari Bandung Untuk Dunia | Asian African Carnival 2015 | Bandung The Capital of Asia Africa
Teks oleh galih sedayu | Foto oleh galih sedayu & Ruli Suryono
60 tahun perayaan Konferensi Asia Afrika (KAA) tentunya menjadi sebuah tonggak sejarah tersendiri bagi Kota Bandung. Di sinilah reuni akbar negara-negara Asia Afrika yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali, kembali menyambangi kota yang mengandung sejuta nafas dan energi kreatif tersebut. Berbagai kegiatan pun disumbangkan oleh warga Kota Bandung demi menguatkan citra Bandung sebagai ibu kota Asia Afrika. Total tercatat ada sekitar 60 kegiatan yang dipersembahkan bagi perayaan 60 tahun KAA tersebut.
Mewakili komunitas, Bandung Creative City Forum (BCCF) menghadirkan kegiatan Helarfest berupa rangkaian event yaitu Artefak.Bdg, Kampung Pande, Anak Bandung Berani Menggambar, Picnic Parenting, Lightchestra, Festival Kabaret, Pakoban 4-2015 Feat Gen-X, Festival Bioskop Rakyat, Sasab-Sprit of AA Youth, GameDev Bdg Gathering, Balik Bandung, Culture of Our Art, Start-Up Weekend, #1000 Wajah Bandung, Merchant of Emotion, Pride to Ride Heritage, Bandung Social Wave, Bandung Food Truck Festival, Culture Movement Project, Focal Point, SATU : Revolution of AA Sprit, Festival Taman Film Bandung, Ulinpiade-Colorful Harmony, Ulin-AAC Historical Treasure Hunt, The Last Colony Movie, Cibaduyut Mentas, Forte ITB, dan Creative Cities Conference.
Kemudian dari Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA) menggelar sejumlah kegiatan yakni Pengibaran 109 Bendera Negara KAA & PBB, Pawai Bendera Asia Afrika, Parade Asia Afrika, Kegiatan Pesta Rakyat, Kegiatan Peduli Lingkungan, Pameran Foto KAA 1955 bersama Arsip Nasional Republik Indonesia, Bandung Historical Study Games, Lomba & Pameran Foto Karya Perempuan bersama Komunitas Lubang Jarum, Indonesian International Photo Festival bersama Asian African Community, Senam 5000 Anak Asia Afrika, Afternoon Tea dan Asian African Students Conference.
Lalu ada sejumlah kegiatan berupa Asian African Solidarity Fun Run (Hijab Fun Run), Asian African Roadshow to School & Kampus, Asian African Gemstone Festival, Bandung Land Festival, Asia Africa NGO Summit, dan Festival Budaya Masyarakat Adat Jawa Barat yang turut dipersembahkan oleh kelompok masyarakat bandung serta Gelar Pesta Rakyat yang dilaksanakan oleh Kecamatan Se-Kota Bandung.
Mewakili pemerintah Kota Bandung, Bagian Ekonomi & Setda Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Creative Cities Network. Bagian Hukum & HAM Setda Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Human Rights City Conference. Dinas Komunikasi & Informasi Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Asia Africa Smart City Summit. Dinas KUKM & Perindag Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Bandung Art & Craft Expo. Terakhir dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung yang ditunjuk sebagai Leading Sector dan panitia perayaan 60 tahun KAA skala kota, menyuguhkan sebuah kegiatan puncak yang bernama Asian African Carnival.
Kegiatan Asian African Carnival ini sebenarnya merupakan rangkaian 6 buah event yang saling terintegrasi. Yang pertama adalah Bandung 1955 yang melahirkan jejak literasi visual perihal peristiwa KAA 1955 melalui pameran & buku fotografi karya Paul Tedja Surja (fotografer dan pelaku sejarah). Yang kedua adalah Solidarity Day (Tribute to Sukarno & Mandela) yang melahirkan jejak fisik gambar berupa mural karya Kampret Syndicate dan warga kampung setempat perihal tokoh-tokoh penggagas KAA dan tokoh-tokoh yang menjadi simbol solidaritas yang terlukis pada tiang-tiang jembatan di area taman Pasopati. Yang ketiga adalah Asian African Meet & Greet yang melahirkan jejak jejaring internasional. Yang keempat adalah Angklung for The World yang melahirkan jejak sejarah berupa rekor baru di dunia perihal permainan angklung dengan melibatkan 20 ribu orang. Yang kelima adalah Festival of Nations yang melahirkan jejak budaya berupa pertunjukkan seni skala internasional. Yang keenam dan yang menjadi puncak kegiatan perayaan 60 tahun KAA adalah Asian African Parade yang melahirkan jejak deklarasi berupa kegiatan tahunan bersifat internasional untuk pertama kalinya yang ada di Kota Bandung. Deklarasi ini diucapkan langsung oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia yang sekaligus disaksikan oleh ribuan warga Bandung yang memadati acara parade.
Parade ini diikuti oleh berbagai peserta baik dari dalam negeri maupun manca negara yang dilakukan sambil berjalan kaki dengan menggunakan kostum unik di sepanjang jalan Asia Afrika. Parade dibuka oleh pasukan berkuda, diikuti oleh pasukan pengibar bendera Asia Afrika dan disusul oleh Marching Band dari TNI AD. Gelombang parade pertama dimeriahkan oleh peserta manca negara yang turut hadir menyemarakkan acara ini yaitu Amman, Bangladesh, Cambodia, China (Liuzhou & Shenzen), Egypt, India, Iran, Japan, Myanmar, Phillipina, South Korea (Noreum Machi, Guk-Ak-Sa-Rang, Hansamo, Hanbapeh & Suwon City), Srilanka, dan Thailand. Kemudian gelombang parade kedua diisi oleh peserta dalam negeri. Selain Bandung, kota-kota seperti Cimahi, Denpasar, Kediri, Palembang, Pekalongan, Sukabumi, Solo, dan Yogyakarta turut memeriahkan acara tersebut. Sehingga kegiatan parade inilah yang barangkali dijadikan sebagai simbol puncak perayaan 60 tahun KAA di Kota Bandung.
Bila mengingat persiapan perayaan 60 tahun KAA yang hanya kurang lebih dua bulan lamanya, tentunya kita akan melihat pula sejumlah kekurangan dalam pelaksanaannya. Namun demikian, alangkah lebih bijaknya bila kekurangan tersebut tidak dijadikan celah untuk menurunkan derajat Kota Bandung. Biarlah segala kekurangan tersebut kita simpan sebagai bahan evaluasi ke depan dan menjadi otokritik bagi kita semua untuk tetap terus bergerak demi Bandung. Bukan untuk terus dipersoalkan dan diperdebatkan. Sudah saatnya kita bangkit untuk kemudian fokus menjaga berbagai jejak yang sekarang dimiliki oleh Kota Bandung baik itu jejak fisik, jejak sosial-budaya, dan jejak ekonomi.
Barangkali apa yang didapatkan oleh Bandung melalui perayaan 60 tahun KAA ini, merupakan jawaban dari seruan dan permohonan kita semua. Bahwa Sang Semesta selalu menaruh perhatiannya bagi kota ini. Sesungguhnya, yang kita butuhkan hanyalah kepedulian dan kekompakan untuk tetap bersama-sama menjaga kota ini. Kota dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Semoga selalu tangan keikhlasan yang ditadahkan oleh kita semua bagi kota ini dan semoga selalu doa kebaikan yang dibumbungkan oleh kita semua bagi kota ini. Sehingga segala apa yang diucapkan oleh mulut kita, kiranya selalu mewartakan kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Tentunya agar Kota Bandung yang kita cintai ini, selalu diselimuti oleh ruh solidaritas. Karena kita mesti percaya bahwa solidaritas itu membangun, bukan merusak.
@galihsedayu | Bandung, 25 April 2015
Copyright (c) 2015 by Air Foto Network
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from Air Foto Network.
Persekutuan Anak & Hutan
Teks & Foto oleh galih sedayu
“Mengajari anak-anak tentang alam bukanlah dengan bercerita kepada mereka tentang alam, melainkan mengajak dan membawa mereka langsung untuk merasakan alam”. Barangkali pesan itulah yang semestinya diwartakan setiap saat kepada anak-anak kita di era yang serba instan ini. Untuk itulah Bandung Creative City Forum (BCCF) menyelenggarakan sebuah program yang bernama Ulin Piade yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan Ulin Tepi Ka Sasab. Adapun Helarfest 2015 yang diinisiasi oleh BCCF sejak tahun 2008 menjadi ibu kegiatan yang menaunginya. Ulin Piade sendiri adalah bukti nyata kegiatan yang menghidangkan makanan edukasi kepada anak-anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak melalui sebuah permainan ketangkasan di dalam hutan. Komunitas Ecoethno, Picu Pacu dan Relawan Simpul Institute menjadi motor penggerak acara tersebut. Di sinilah hutan kota dunia Babakan Siliwangi menjadi ruang publik di Kota Bandung yang disentuh serta dirasa oleh sekelompok anak kecil yang bermain di alam. Anak-anak tersebut mencoba menjelajahi hutan dari mulai berjalan melewati pohon yang tumbang, berlari di sela-sela akar pohon yang menggantung, merayap di tanah yang lembab, bersepeda di jalur yang sempit, hingga mendaki di tanjakan yang lumayan curam. Namun demikian, kondisi seperti itulah yang justru dicari oleh anak-anak tersebut. Hati mereka justru merasa tertantang untuk dapat melampaui segala rintangan yang ada. Tentunya aksi mereka didampingi pula oleh orang tua masing-masing. Barangkali, apa yang dialami dan dilakukan oleh anak-anak tersebut di dalam hutan, justru dapat menjadi pelajaran bagi kita orang dewasa di dunia nyata. Bahwa kadang di dalam hidup nyata, kita sesungguhnya sangat membutuhkan keberanian seperti yang dimiliki oleh anak-anak kecil tersebut. Jiwa yang lepas, bebas dan tetap bergerak.
@galihsedayu | Bandung, 3 Mei 2015
Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.


























































































































































