I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘07) SEMESTA FOTO CERITA’ Category

Fiat Lux, Ridwan Kamil

with 7 comments

Teks & Foto : galih sedayu

Kiranya selalu memberikan telinga 
Kiranya selalu menjaga mulut
Kiranya selalu membukakan mata 
Kiranya selalu melangkahkan kaki 
Kiranya selalu mengulurkan tangan 
Kiranya selalu mendinginkan kepala 
Kiranya selalu membangkitkan badan
Kiranya selalu menenangkan hati 
Kiranya selalu menguatkan jiwa
Kiranya selalu menuntun jalan 
Kiranya selalu menempatkan kebenaran
Kiranya selalu menghadirkan damai
Kiranya selalu mencerminkan sederhana
Kiranya selalu menyembuhkan luka
Kiranya selalu menguduskan keadilan
Kiranya selalu memuliakan rakyat
Kiranya selalu mengutus persaudaraan
Kiranya selalu mengindahkan aturan
Kiranya selalu menyalipkan godaan
Kiranya selalu menjerat kezaliman 
Kiranya selalu mempermandikan noda
Kiranya selalu menyanyikan pujian
Kiranya selalu menyempurnakan perbuatan
Kiranya selalu meraih pengetahuan 
Kiranya selalu merajut asa
Kiranya selalu menjalin mimpi
Kiranya selalu mengucap syukur
Kiranya selalu membuang dengki 
Kiranya selalu menghapus dosa
Kiranya selalu mengerti perbedaan 
Kiranya selalu menumbuhkan semangat
Kiranya selalu menghamilkan perubahan
Kiranya selalu melahirkan kebaikan
Kiranya selalu menyediakan waktu 
Kiranya selalu menambatkan cinta
Kiranya selalu membagikan ilmu 
Kiranya selalu menggandeng sahabat
Kiranya selalu menggetarkan musuh
Kiranya selalu melompati tantangan 
Kiranya selalu mengepakkan sayap
Kiranya selalu menghakimi kejahatan
Kiranya selalu meniadakan dusta 
Kiranya selalu menabur benih 
Kiranya selalu menanam manusia
Kiranya selalu membebaskan kemiskinan
Kiranya selalu mengendapkan sepi 
Kiranya selalu menggembalakan keberagaman
Kiranya selalu mentahbiskan tindakan 
Kiranya selalu mengalirkan kekuatan 
Kiranya selalu menjurukan keselamatan
Kiranya selalu mewartakan harapan 
Kiranya selalu mengikuti cahaya
Kiranya selalu menerangi kota…

Bandung, 16 September 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

September 17, 2013 at 6:28 pm

Dan Damai Itu Ada Di Kampung Naga

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Datang, lihat & rasakanlah Kampung Naga. Sebuah kampung tradisional masyarakat sunda nan sederhana yang berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Provinsi Jawa Barat. Pada kampung naga lah, jiwa yang haus dan penuh kerinduan bagai tanah tandus, kering dan tiada berair menjadi terobati. Rumah-rumahnya akan selalu memegahkan kita. Air yang mengalir darinya membuat kita mengucap syukur. Tanah gemburnya menciptakan sukacita bagi kita. Di kampung nagalah tempat terbitnya pagi dan petang yang bernyanyi-nyanyi. Selama ada matahari dan bulan, lanjut umurnya secara turun-temurun. Tuhan pastinya mengindahkan dan mengaruniai kelimpahan di sana. Yang mengairi alur bajaknya, yang membasahi gumpalan tanahnya, dan yang memberkati tumbuh-tumbuhannya. Dan sabda alam pun berikrar tanpa keraguan sedikitpun. Untuk kampung naga lah puji-pujian terus terucap. Berbahagialah kita yang mendekat dan diam di pelatarannya. Biarlah hanya kucing dan ayam yang menjadi pengawal setianya. Biarlah sapu lidi menjadi simbol pemersatunya. Biarlah jemuran baju menjadi kosmetikanya. Asalkan kasih setia warganya menjadikan kampung naga tetap berdiri tegak. Kiranya kita menjadi kenyang dengan segala yang baik di kampung naga. Demikianlah mereka memandang kampung naga.

Garut, Kampung Naga, 4 Juni 2012

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

August 18, 2013 at 4:02 pm

Panjang Umurnya Serta Mulia Indonesia

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

17 Agustus 2013. Usia nusantara kini genap beranjak menjadi 68 tahun. Sebuah usia yang sesungguhnya tidak bisa disebut masa pencapaian. Karena sesungguhnya bangsa ini masih banyak menyimpan segudang pekerjaan yang menumpuk. Namun demikian toh kita masih tetap merayakan hari raya kemerdekaan ini mesti tanpa euforia. Salah satu ritualnya adalah upacara bendera. Kadang kita kerap bertanya kepada diri sendiri. Apakah upacara bendera masih penting? Apakah upacara bendera mesti dilakukan? Apakah upacara bendera masih ada? Silakan saja dijawab oleh masing-masing. Kemudian muncul pertanyaan yang lebih penting sebenarnya. Sudahkah kita merdeka? Merdeka dari tirani kekuasaan yang merongrong. Merdeka dari korupsi yang membabi-buta. Merdeka dari kemiskinan yang mendera. Merdeka dari pendidikan yang rendah. Atau Merdeka dari diri sendiri yang kerap galau dan tak lekas move on. Mari kita bersama-sama membaca dan menyimak kembali teks pidato Pembukaan UUD 1945 yang selalu dikumandangkan dengan lantang di setiap upacara bendera.

Seraya bertanya “Sampai Kapan Indonesia?”

Teks Pembukaan UUD 1945

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Garut, 17 Agustus 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

August 17, 2013 at 5:00 am

Sel Nomor 5 Penjara Banceuy

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Jadikanlah deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa”. 
– Bung Karno –

Sunyi, sepi & sendiri. Barangkali rasa itulah yang dialami oleh seorang Bung Karno tatkala ia mendekam di sebuah penjara banceuy kota bandung sekitar 84 tahun yang silam. Tepatnya di bulan desember tahun 1929, Ir. Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia ini terpaksa meringkuk di sebuah sel kecil dengan nomor 5 yang hanya berukuran 2,5 x 1,5 meter. Atas tuduhan melakukan kegiatan subversif dan pergerakan nasional yang membuat ketar ketir pemerintahan Hindia Belanda kala itu, Bung Karno pun dengan tegar menjalani penderitaannya.

Selama kurun waktu 8 bulan, Bung Karno bersama ketiga rekannya yakni Gatot Mangkoepradja yang seorang guru, Maskun Somadiredja yang seorang administratur harian Banteng Priangan, dan Supriadinata yang seorang anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) cabang bandung, menjadi penghuni ruangan sempit dan kotor serta dikenakan jerat hukum yang terkenal dengan nama pasal-pasal karet atau Haazai Artikelen.

Namun ternyata dari sel yang gelap ini justru kelak melahirkan sebuah catatan terang bagi noktah sejarah bangsa indonesia, karena dari sinilah Bung Karno mulai menyalakan lilin terang yakni pidato pembelaan (pleidoi) yang terkenal dengan sebutan “Indonesia Menggugat” (Indonesie Klaagt Aan). Pleidoi ini dibacakan dengan lantang oleh Bung Karno pada saat sidang Pengadilan Hindia Belanda di Gedung Landraad dimana kini namanya menjadi Gedung Indonesia Menggugat (GIM) yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan No.5 Bandung.

Akhirnya sejarah pun mencatat bahwa setelah beberapa kali sidang, pada tanggal 22 Desember 1930, Bung Karno bersama ketiga rekannya dijatuhi hukuman penjara. Saat itu Tokoh Nasionalis tersebut divonis 4 tahun penjara. Setelah hakim mengetuk palu sebagai simbol putusan pengadilan, maka Bung Karno bersama para sahabatnya dijebloskan ke Penjara Sukamiskin di Jalan A.H.Nasution, sebuah penjara yang ironisnya dirancang oleh Bung Karno sendiri ketika ia masih bekerja di biro arsitek milik gurunya yaitu Prof. C.P. Wolff Schoemaker. Atas dasar cerita itulah kini bekas Penjara Banceuy tersebut menjadi monumen yang dibangun untuk mengenang keberadaan Bung Karno.

Bekas Penjara Banceuy ini terletak sekitar 100 meter dari sebelah utara alun-alun kota bandung yang dikelilingi oleh Jalan Banceuy di sebelah barat, Jalan ABC di sebelah utara, dan Jalan Belakang Factory di sebelah selatan. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Penjara Banceuy yang dulu bernama Bantjeujweg ini adalah sebuah penjara yang digunakan untuk menahan para pribumi yang melakukan tindakan kriminal dan menjadi tahanan politik.

Bangunan penjara ini didirikan pada akhir abad ke-19 tepatnya pada tahun 1871. Kemudian pada tahun 1985, bangunan penjara ini dibongkar mengingat kondisinya yang sudah rapuh karena sudah menginjak usia seratus tahun lebih. Penjara Banceuy yang baru kini berada di Jalan Soekarno Hatta. Bekas Penjara Banceuy ini lalu dijadikan kawasan pertokoan yang bernama Banceuy Permai. Sebagai penanda bahwa kawasan itu dulunya adalah bekas penjara, maka hanya disisakan dua unit bagian dari penjara tersebut. Yang pertama adalah menara pengawas sebelah timur yang terletak di Jalan ABC yang mengarah ke Jalan Naripan dan Jalan Cikapundung. Yang kedua adalah bekas Sel No. 5 yang pernah dihuni oleh Bung Karno, sekitar 200 meter dari menara pengawas tersebut.

Saat ini kita dapat melihat berbagai artefak sejarah dan sejuta memori yang tersisa dari sel kecil bernomor 5 tersebut. Di dalam sel tersebut terpasang sebuah bingkai yang bertuliskan kalimat yang pernah diujarkan oleh Bung Karno yaitu “Koe korbankan Dirikoe di Penjara ini Demi Bangsa dan Negaraku Indonesia. Ada pula bendera merah putih yang menutupi salah satu sudut ruang kecil sel tersebut. Kemudian dua buah foto Bung Karno ikut melekat pada salah satu sudut dinding sel itu tepat di bawah ukiran Burung Garuda dengan teks Pancasilanya. Tembok sel dengan warna cat hijau pun masih tetap dibiarkan sama seperti yang dulu. Pintu sel dari bahan besi baja berwarna hitam yang diberi celah untuk melihat berserta kunci-kuncinya pun tampak masih kokoh menyangga. Lalu bekas kamar mandi Bung Karno yang terletak di luar sel tersebut dijadikan sebuah tugu batu.

Barangkali sel ini lah yang semestinya dapat menjadi simbol sebuah kesadaran dan kebangkitan bagi kita semua. Bahwa sesungguhnya kita tidak diajarkan untuk mencintai yang jahat lebih dari pada yang baik. Dan mencintai yang dusta lebih dari pada perkataan yang benar. Meski jaring-jaring yang terpasang di dalam setiap langkah kita, meski sumpal-sumpal yang menutup mulut kita, meski tembok dan besi yang mengurung diri kita, namun kita harus percaya bahwa mereka tidak akan bisa menaklukkan jiwa kita. Jiwa-jiwa yang mematahkan busur panah, yang menumpulkan tombak dan yang membakar kereta-kereta perang dengan api. Sebuah jiwa yang merdeka.

Bandung, 25 Juli 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

July 25, 2013 at 7:00 am

Menyapa Pagi Di Tahura

with 2 comments

Teks & Foto : galih sedayu

Barangkali bumi akan bersorak sorai ketika alam beserta penghuninya tak pernah berhenti dikunjungi & dirawat oleh manusia. Begitupun dengan hutan. Sejatinya ia adalah bagian dari pusaka alam yang menjadikan manusia tetap hidup dan bernafas dengan udara segarnya. Karena Tuhan menciptakan terang di bumi, maka jadilah pagi. Dan rasa-rasanya pagi adalah waktu yang tepat untuk menyambangi hutan yang kita miliki. Salah satunya adalah hutan milik warga Kota Bandung yang bernama Taman Hutan Raya Ir.H.Juanda (TAHURA) atau yang sering disebut dengan Hutan Dago Pakar. Menikmati aroma pagi di hutan ini, pastinya akan selalu membuat hati ini ceria. Kawasan konservasi ini memang menyimpan berjuta kesegaran bagi para tamu yang datang. Dari mulai wanginya pohon pinus, merdunya suara kicau burung kutilang hingga tingkah polah tupai yang berlarian di atas pepohonan.

Taman Hutan Raya Ir.H.Juanda adalah sebuah hutan kota yang berjarak sekitar 7 km dari pusat kota bandung. Berada di ketinggian 800 sampai 1350 meter di atas permukaan laut, dulunya kawasan hutan yang dilalui aliran Sungai Cikapundung dan membentang mulai dari Curug Dago, Dago Pakar hingga Maribaya ini, merupakan bagian areal dari kelompok Hutan Lindung Gunung Pulosari yang kemudian diubah fungsinya menjadi Taman Wisata Alam Curug Dago. Kemudian bertepatan dengan kelahiran Bapak Ir.H.Juanda (seorang pahlawan Kota Bandung) yaitu pada tanggal 14 Januari 1985, secara resmi namanya berubah menjadi Taman Hutan Raya Ir.H.Juanda. Kawasan ini merupakan Taman Hutan Raya (TAHURA) pertama yang ada di Indonesia. Hutan dengan luas sekitar 590 hektar ini merupakan hutan alam sekunder dan hutan tanaman dengan susunan vegetasi campuran yang terdiri dari 2500 jenis pepohonan seperti pohon Mahoni (Switenia Macrophylla), Bungur (Lagerstroemia sp.), Ekaliptus (Eucalyptus Deglupta), Saninten (Castanopsis Argentea), Pasang (Quercus sp.), Damar (Agathis Damara), dan Waru Gunung (Hibiscus Similis) serta tumbuhan bawah seperti Teklan (Eupatorium Odoratum) yang paling dominan. Selain itu di hutan ini sengaja ditanam berbagai jenis tumbuhan yang berasal dari luar daerah agar kawasan ini dapat berfungsi sebagai laboratorium alam (Arboretum). Di area hutan inilah kita dapat memanjakan mata dan hati dengan menikmati berbagai wisata alam seperti Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Dago, Curug Omas, Curug Lalay & wisata air panas Maribaya.

Tidak baik memang bila hutan kita selalu merasa kesepian. Tidak baik pula bila kita sebagai manusia selalu kerap berdiam diri di rumah. Karena di hutanlah barangkali kita bisa kembali berdamai dan berikrar dengan alam yang sesungguhnya telah lama disakiti oleh manusia. Pohon yang ditebangi, air yang diracuni & udara yang dikotori menjadikan alam bak diperkosa oleh manusia sendiri. Maka dari itu jadikanlah kembali embun yang datang dari langit, udara pagi yang harum semerbak dan tanah-tanah yang gemuk di dalam hutan. Agar kita percaya bahwa hutan selalu menjadi berkat bagi manusia hingga berabad-abad dan menjadi kemah suci yang kekal abadi selamanya.

Bandung, 21 Juli 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. o part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

July 21, 2013 at 2:11 pm

Merindukan Ringkikan Kuda Besi Di Lampegan

with 8 comments

Teks & Foto : galih sedayu

“I never travel without my diary. One should always have something sensational to read in the train”. – Oscar Wilde

Salah satu kenangan masa kecil yang paling saya ingat adalah tatkala berlibur ke rumah nenek dengan menggunakan Kereta Api. Meski kadang harus mencium aroma tak sedap dari keringat kambing yang dibawa serta oleh penumpang Kereta Api tersebut, namun suasana tersebut masih membekas dan menjadi salah satu memori yang mengesankan dalam hidup saya. Kereta Api yang saya gunakan adalah Kereta Api ekonomi Argo Peuyeum jurusan Bandung – Cianjur. Rute yang biasa saya lalui berawal dari Stasiun Cikondang Cianjur dan berakhir di Stasiun Cireunghas. Kemudian dari Cireunghas saya melanjutkan perjalanan dengan angkot menuju tempat kediaman nenek saya di Gegerbitung. Selama perjalanan Kereta Api dari Cianjur menuju Cireunghas, ada banyak pemberhentian yang harus dilakukan karena Kereta Api mesti mengambil penumpang dari setiap stasiun yang dilewati. Entah mengapa, saya selalu merasa gembira sekaligus gugup ketika Kereta Api tersebut berhenti atau melalui Stasiun Lampegan. Karena setelah itu Kereta Api akan masuk ke dalam sebuah terowongan dan serta merta suasana di dalam Kereta Api menjadi gelap gulita selama beberapa menit. Kadang bila Kereta Api yang saya tumpangi berhenti cukup lama di Stasiun Lampegan tersebut, saya sering keluar dan berjalan kaki sambil menikmati suasana heritage yang hadir di kawasan itu.

Stasiun Lampegan ini terletak di daerah Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Stasiun ini letaknya dekat pula dengan Situs Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur. Menurut catatan sejarah, Stasiun Lampegan dan terowongannya dibangun pada tahun 1879 hingga 1882 dan saat ini masuk menjadi kawasan Cagar Budaya. Menurut cerita, pembangunan terowongan ini dilakukan dengan cara meledakan bagian tengah badan Gunung Kancana yang menaungi kawasan tersebut. Awalnya terowongan ini digunakan untuk mengangkut palawija, kopi & rempah-rempah dari Sukabumi menuju Cianjur. Namun pada tahun 2001 dan tahun 2006, terjadi peristiwa longsor di kawasan Terowongan Lampegan ini akibat Gempa Bumi. Meski kondisi Terowongan Lampegan sudah diperbaiki, namun saat ini masih belum dilalui Kereta Api. Bangunan stasiun, rumah kepala stasiun serta terowongan Lampegan masih seperti saat pertamakali dibangun. Pada tahun 2009, kawasan ini direnovasi karena akan dioperasikan kembali pada bulan November 2010. Namun sayangnya rencana tersebut urung dilaksanakan karena kuatir bila terjadi kembali bencana longsor di dalam terowongan. Terowongan Lampegan awalnya memiliki panjang 686 meter. Namun setelah peristiwa longsor, panjang terowongan ini menjadi sekitar 415 meter. Dibangun oleh perusahaan kereta api SS (Staats Spoorwegen) untuk mendukung jalur kereta api Jakarta-Bogor, Bogor-Sukabumi dan Sukabumi-Bandung melalui Cianjur, Terowongan Lampegan merupakan salah satu terowongan jalan kereta api tertua yang pernah dibangun pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Sebenarnya, kawasan ini dulunya bernama Sasaksaat sebelum berganti nama menjadi Lampegan. Namun menurut penduduk setempat, nama Lampegan berasal dari bahasa percakapan orang Belanda tatkala kereta api memasuki terowongan. Dimana sebelum Kereta Api masuk ke terowongan itu, sang kondektur selalu meneriakan kata dalam bahasa belanda yakni ‘steek Lampen aan!’ yang berarti nyalakan lampu. Sehingga menurut penduduk di sana yang terdengar seperti kata “Lampegan”. Berbicara tentang Terowongan Lampegan, ada juga cerita mistik perihal Nyi Ronggeng Sadea, seorang ronggeng yang ternama kala itu. Dimana saat Terowongan Lampegan selesai dibangun (1882), Nyi Sadea diundang untuk menghibur para pejabat Belanda dan menak-menak Priangan. Usai pertunjukan, menjelang dinihari Nyi Sadea diantar pulang oleh seorang pria melalui terowongan yang baru diresmikan. Sejak itu pula Nyi Sadea hilang dan tidak diketahui keberadaannya.

Karena itulah saya sangat berharap bahwa suatu saat Stasiun & Terowongan Lampegan ini dapat dihidupkan kembali. Mungkin juga harapan yang sama bagi kita semua maupun penduduk setempat yang memerlukan jasa transportasi yang murah. Karena di sanalah berbagai cerita dan sejarah melekat erat bersama dengan alam dan manusianya. Ingin rasanya mendengar kembali suara deru roda besi kereta yang memecah kesunyian di Lampegan. Lalu kemudian merasakan sensasi gelapnya terowongan yang menyambut dengan ceria. Hingga akhirnya Lampegan menemukan kembali keluarganya yang telah lama hilang ditelan waktu. Tut…tut…tut…

“Peace Train is a song I wrote, the message of which continues to breeze thunderously through the hearts of millions of human beeings”. – Cat Steven

Cianjur, Lampegan, 10 Juni 2011

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2009 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Sebuah Titian Dalam Hutan & Ceritanya

with 5 comments

Teks & Foto : galih sedayu

Delonix Regia. Ia hanyalah salah satu dari sekian banyak pohon penghuni abadi hutan kota Babakan Siliwangi yang diwariskan oleh bumi sejak sekian lama, demi menyediakan oksigen kehidupan bagi warga Kota Bandung. Nama Pohon “Regia” atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan Pohon Flamboyan ini akhirnya dicetuskan menjadi sebuah nama kegiatan aktivasi ruang publik di hutan kota tersebut yang diusung oleh Bandung Creative City Forum (BCCF), sebuah perkumpulan komunitas kreatif yang berdiri sejak tahun 2008 di kota Paris Van Java ini. Program “Regia” yang mengambil tema ‘Story of the City Forest‘ tersebut digelar selama dua hari berturut-turut dari tanggal 20-21 April 2013 dan berpusat di area jembatan hutan kota Babakan Siliwangi, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Forest Walk. Mengapa mesti di tempat ini? Sejarah Kota Bandung mencatat bahwa pada tanggal 27 September 2011, hutan kota Babakan Siliwangi dideklarasikan menjadi hutan kota dunia atau World City Forest oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tepatnya melalui United Nations Environment Programme (UNEP). Pada saat bersamaan, jembatan di tengah hutan kota ini pun selesai dibangun dan diresmikan secara bersama-sama yang disaksikan oleh sekitar 1500 anak dan pemuda dari 111 negara di seluruh dunia. Mereka hadir pada saat konferensi TUNZA International Children and Youth Conference on Environment di Sabuga Bandung.

Jejak fisik berupa jembatan sederhana di hutan kota inilah yang sesungguhnya dapat menjadi simbol tempat berkumpulnya warga Kota Bandung untuk lebih dekat dengan alamnya. Agar kita dapat menyentuh pohon-pohon dan merasakan sentuhan dedaunan di tangan kita. Agar kita dapat melihat burung-burung yang bertengger di sana dengan kicaunya yang menawan hati. Agar kita sadar bahwa hutan kota ini dapat membawa ketenangan dan mengistirahatkan diri sejenak dari hingar bingar serta polusi Kota Bandung. Dan yang paling penting ialah bahwa di sanalah sesungguhnya suara warga Kota Bandung menjadi satu, yakni dengan tegas menolak pembangunan atau alih fungsi lahan hutan untuk dijadikan ruang komersil oleh pihak-pihak yang mendewakan uang dan kepentingan duniawi.

Karena salah satu ciri khas Kota Bandung adalah kolaborasi yang dihadirkan oleh warganya, maka tak heran sejumlah komunitas dan jejaring kreatif pun turut mengambil peran dengan bersinergi secara aktif untuk memanfaatkan dan mengaktifkan hutan kota dunia Babakan Siliwangi. Dari mulai aktivitas Pameran Foto yang dikelola oleh air foto network, kampanye baksil (save babakan siliwangi dan coin for babakan siliwangi) oleh Komunitas Lebak Siliwangi dan Greeneration Indonesia, jamuan makan malam di tengah hutan (Forest Dining) yang dipersembahkan oleh Cafe Halaman, Instalasi lampu dan permainan laser sederhana (Light Installation), Lapak Ayo Main bersama Komunitas Hong, kegiatan senam yoga yang diinisiasi oleh Yoga Leaf, workshop anak-anak bersama Sahabat Kota, musik akustik yang dilantunkan oleh Kang Ganjar Noor, lagu-lagu perihal hutan gubahan anak-anak sekolah semi palar, piknik dan botram (Alfresco) yang diusung oleh Agritektur, Infografik bertajuk “ Mengapa Kita Harus Menyelamatkan Babakan Siliwangi” yang dibuat oleh Batasfana, Tisna Sanjaya dengan petuah bijak serta sentuhan kuasnya, Wawan Husin dengan Story Telling nya yang apik, Jorowok Bandung dengan menghadirkan Bpk. T.Bachtiar yang berbicara tentang hutan kota. serta Blues Leuweung yakni pertunjukkan musik blues di Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi yang dimeriahkan oleh para sahabat Bandung Blues Society (BBS). Bayangkanlah energi bandung yang hadir di sana.

Bila kita berbicara perihal hutan kota dunia Babakan Siliwangi, beberapa fakta pun hadir secara nyata di sana. Di masa lalu, terdapat dua belas mata air di kawasan hutan kota dunia Babakan Siliwangi, dimana kini hanya tersisa satu mata air saja. Di kawasan hutan kota ini terjadi pula penurunan permukaaan air tanah, dari 22,99 meter menjadi 14,35 meter (data tahun 1999). Bila lahan hutan kota ini menghilang, akan menyebabkan semakin menurunnya permukaan air tanah karena berkurangnya lahan resapan. Fakta yang lain berbicara bahwasanya hutan kota dunia Babakan Siliwangi merupakan habitat bagi 120 jenis tumbuhan dan 149 jenis hewan serta merupakan tempat singgah bagi enam jenis burung migrasi. Bila kawasan hutan kota ini menghilang, maka jalur migrasi burung-burung ini akan terpotong. Pepohonan yang tumbuh di kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi antara lain adalah Pohon Cola (Cola nitida) dan Pohon Sempur (Dillenia Indica L.), dan Pohon Flamboyan (Delonix Regia) yang paling dominan tumbuh di sana. Tumbuhan yang ada di kawasan hutan kota ini berfungsi sebagai penyaring polusi dan suara. Siapa pun warga yang berada di tengah hutan kota ini, dapat merasakan ketenangan, meskipun jaraknya sangat dekat ke jalan raya yang ramai. Luas kanopi dari pepohonan yang tumbuh di lahan hutan kota ini mencapai hingga 5 Hektar, sementara luas dari Babakan Siliwangi adalah 3,8 Hektar. Tutupan kanopi ini merupakan peneduh, dan sebenarnya dapat menjadi pengurang stress pada manusia yang berada di sekitarnya, karena pepohonan ini menghasilkan udara yang kaya dengan oksigen. Fungsi pepohonan di hutan kota dunia Babakan Siliwangi adalah sebagai penyerap COterhitung hingga 13.680 Kg per hari, sementara melepaskan pula Osebesar 9.120 Kg per harinya. Bila harga Omurni mencapai Rp.25.000,- per liter, maka nilai ekonomis dari hutan kota dunia Babakan Siliwangi mencapai Rp.148.000.000,-. Dari perhitungan ini, dapat diperkirakan bahwa bila kawasan hutan kota dunia Babakan Siliwangi berkurang bahkan hingga 20%-nya saja, maka kerugian Kota Bandung dapat mencapai 10 Milyar Rupiah. Namun demikian, fakta penting yang memiliki nilai bagi Kota Bandung sesungguhnya adalah bagaimana sebenarnya hutan kota dunia Babakan Siliwangi ini menjadi sebuah tempat untuk membangun hubungan manusia dengan alam seutuhnya.

Maka dari itu sudah sepatutnya warga Kota Bandung mengucap syukur atas pemberian Sang Semesta dengan sekian banyak kelimpahan yang dimiliki oleh hutan kota dunia Babakan Siliwangi. Karenanya kabarkanlah keselamatan hutan kota ini dari hari ke hari, ceritakanlah kemuliannya kepada semua orang dan bersatulah untuk terus menjaganya dari keserakahan para penguasa yang bodoh. Sebab keagungan dan semarak selalu ada di dalamnya. Sebab kekuatan dan kehormatan ada di tempatnya yang tersembunyi. Sebab anak cucu kita perlu diajari dan merasakan rindangnya hutan. Dan hanya satu kata yang dapat kita ucapkan dengan lantang kepada orang-orang yang ingin merusak hutan kota dunia Babakan Siliwangi. LAWAN!!!

“There is unrest in the forest,

There is trouble with the trees,

For the maples want more sunlight,

And the oaks ignore their pleas.”

– Rush, ‘The Trees’

Bandung, 21 April 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

April 23, 2013 at 6:53 am