Posts Tagged ‘Photo Story’
Harapan Yang Nyata, Doa Yang Terjawab
Teks & Foto : galih sedayu
A daughter is the happy memories of the past,
the joyful moments of the present,
and the hope and promise of the future.
– Unknown –
Sebelumnya…dua menjadi satu. Kadang peristiwa kelam itu masih menghantui diri ini, tatkala takdir yang bernama kematian itu datang menjemput putri kembar pertamaku, “Ancilla Trima Sedayu”, tepat sehari setelah kelahirannya pada tanggal 2 September 2010. Pengalaman histeria itu bagaikan sebuah gelombang besar yang hampir meluluh-lantakkan kehidupanku yang tadinya tenang. Sampai akhirnya diri ini menyadari bahwa Tuhan masih menitipkan seorang bayi perempuan mungil yang cantik meski lemah tak berdaya dengan berat tubuh 1,1 kg karena lahir prematur dengan usia kandungan hampir 7 bulan. “Eufrasia Tara Sedayu”, bayi kecil yang tetap bertahan hidup ini menjadi sebuah alasan besar untuk dapat melupakan duka lara dan kepedihan akibat kepergian Ancilla kakak kembarnya. Dengan sebuah keyakinan bahwa sehabis lonceng kematian berdentang, setelah itu pula lah bunyi sangkakala kehidupan ditiupkan oleh Sang Ilahi.
“Konsentrasilah terhadap yang hidup”, begitulah kira-kira ucapan menenangkan seorang sahabat kepada diriku saat itu. Hari demi hari akhirnya menjadi sebuah perjalanan lain yang ku jalani bersama istri tercinta, yang telah berjuang demi melahirkan kedua putri kembar kami. Hanya demi satu harapan yaitu kesembuhan Eufra, putri kami terkasih yang harus dirawat di ruang NICU rumah sakit karena beberapa organ tubuhnya yang belum berkembang sempurna. Benang-benang kusut itu pun satu persatu kami rajut dalam sebuah asa dan keyakinan bahwa bayi kecil itu adalah milik kami. Di dalam sebuah tabung kecil yang bernama inkubator, eufra dirawat. Mesin ventilator pun digunakan untuk memonitor kondisi dan perkembangan eufra, lengkap dengan selang-selang kecil oksigen sebagai alat bantu pernafasan beserta peralatan infus yang dipasang di sekujur tubuhnya. Tak tega rasanya melihat seorang bayi kecil dengan segala macam alat yang terpasang rumit di dalam sebuah ruang sempit. Setiap hari yang kami dengar adalah bunyi bunyi mesin yang membosankan dan terkadang membuat kami kuatir bila terjadi sesuatu yang buruk menimpanya. Berbagai kejadian getir dan pahit yang menimpa eufra pada saat perawatan telah kami alami segalanya. Dari mulai transfusi darah karena kadar hemoglobinnya yang rendah, tubuhnya yang tiba-tiba membiru karena kekurangan oksigen, infeksi yang tak kunjung sembuh, Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau kegagalan menutupnya ductus arteriosus yaitu arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal, chronic lung inflammation in premature infants atau radang paru-paru kronis pada bayi prematur, konflik dengan dokter, tagihan biaya perobatan yang terus menunggak, hingga kekuatiran besar saat melihat kematian bayi lain yang dirawat di ruangan yang sama. Puncaknya setelah 2 bulan 25 hari lamanya dirawat, dengan sangat terpaksa kami memindahkan eufra ke rumah sakit lain meski kondisinya masih belum stabil dengan alat bantu pernafasan yang masih terpasang di mulutnya. Kepindahan eufra kami lakukan karena kami nyaris putus asa dan timbul rasa tidak percaya terhadap dokter yang menangani eufra di rumah sakit sebelumnya. Tapi itu semua kami jalani dengan penuh rasa syukur dan kepasrahan yang mendalam demi kasih yang tak terhingga bagi putri kami.
“You are my sunshine. My only sunshine. You make me happy when skies are gray. You’ll never know dear. How much I love you. Please don’t take my sunshine away”. Sepenggal bait lagu yang pertama kali dilantunkan oleh penyanyi country Jimmie Davis ini kerap dinyanyikan kembali oleh sang ayah bagi eufra setiap harinya. Sementara terkadang mata eufra yang hampa sesekali dipicingkan sembari bibir tipisnya yang tersenyum simpul saat ia mendengar suara ayahnya sayup-sayup di balik dinding kaca inkubator. Tak pernah bosan rasanya memandangi wajah bayi kecil yang memelas itu. Tuhan memang sungguh bekerja dan kuasanya benar-benar hadir bagi eufra. Perlahan-lahan berat tubuhnya bertambah seiiring dengan semakin banyak asupan asi dari sang ibu yang diserap olehnya meski harus melalui infus. Kulit tubuh yang tadinya pucat pasi lambat laun memerah sehingga menyerupai bayi sehat dan normal. Tulang-tulang tubuhnya yang dulu terlihat jelas kini menjadi tertutup oleh otot dan daging yang semakin terbentuk. Matanya yang dulu sembab dan sayu kini kelihatan bersinar dari kedua bola matanya yang bulat lucu. Alangkah indahnya kami menjadi saksi hidup keajaiban tersebut.
Setelah eufra dirawat di rumah sakit yang baru, akhirnya kesembuhan itu menyapanya dengan penuh sukacita. Penantian yang telah lama kami jalankan tidak berakhir dengan sia-sia. Berbagai kejadian yang menyejukkan hati pun kerap menyambangi kami setelah eufra dipindahkan ke rumah sakit yang baru. Dari mulai alat ventilator yang dapat dilepas pada hari ke-2 ia dirawat, kabar gembira dari dokter bahwa infeksinya telah hilang pada hari ke-4, melihat dokter melepas semua peralatan infusnya pada hari ke-7, hingga akhirnya kami dapat menggendong eufra ke pangkuan setelah menunggu sekian lamanya. Terlebih ketika mata sang ayah melihat eufra menyusui ibunya secara langsung untuk pertamakalinya. Bagaikan melihat surga yang damai. Ciuman kasih dan belaian lembut bagi eufra akhirnya kami alami dengan nyata.
Rangkaian cerita yang terjadi selama 99 hari itu dibekukan kembali oleh sang ayah lewat karya-karya fotonya. Foto-foto ini menjadi penyambung mata sang ayah dengan segala peristiwa yang sarat dengan kenyataan dan harapan. Imaji-imaji visual ini hadir untuk meyakinkan kita tidak ada hal yang mustahil. Untuk itulah sang ayah bersaksi lewat sentuhan jari pada tombol kameranya dengan menghasilkan sebuah epik kehidupan dengan figur sentral seorang bayi yang tadinya tak berdaya. Pelajaran berhargapun didapatkan oleh sang ayah bahwasanya kita tidak boleh menganggap remeh kekuatan seorang manusia yang kelihatan lemah dan menderita secara fisik. Kadang kekuatan besar timbul dari seorang yang lemah tersebut. Setidaknya sebentuk drama keseharian yang mengisahkan perjuangan hidup, cinta dan harapan melalui karya foto ini dapat kita resapi sebagai suatu cara menerima kenyataan tanpa menghilangkan semangat dan keyakinan dari sebuah impian. Meski tidak pernah sempurna, percayalah bahwa untaian doa-doa yang sering kita rajut suatu saat pasti akan terjawab. Dan foto-foto ini menjadi saksi bisu yang terus berucap dan bersemayam di dalam keabadian waktu. Semoga.
Dan kini…satu menjadi dua.
Cerita ini masih berlanjut.
I don’t need no one to tell me about heaven.
I look at my daughter, and I believe.
– Live –
Bandung, 3 Januari 2011
Secercah Kearifan Di Kampung Naga
Foto & Teks : galih sedayu
Sejatinya sebuah Kampung Adat adalah cermin dari peradaban manusia yang telah diwariskan kepada kita sejak dulu kala. Karena di sanalah manusia belajar mengenal alam semesta, sesama dan dirinya sendiri. Kampung Naga adalah bukti peradaban salah satu kearifan lokal tersebut. Kampung ini terletak di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Penghuni kampung ini adalah masyarakat pedesaan Sunda yang telah ada sejak masa peralihan dari pengaruh agama Hindu menuju pengaruh agama Islam di Jawa Barat. Mereka mengaku telah mendiami perkampungan tersebut selama kurang lebih 600 tahun dan hingga kini masih memegang erat aturan-aturan adat yang diwariskan sejak turun temurun. Saat ini tercatat ada sekitar 109 Kepala Keluarga yang menghuni Kampung Naga. Luas total Kampung Naga ini sekitar 1,5 hektar. Di sebelah barat Kampung Naga terdapat hutan keramat yang tumbuh subur sebagai area pemakaman para leluhur masyarakat Kampung Naga, Sembah Eyang Singaparna. Di sebelah selatan Kampung Naga terbentang persawahan penduduk yang hijau dan asri sebagai lahan mereka untuk menanam padi. Dan di sebelah utara Kampung Naga mengalir aliran sungai Ci Wulan (Kali Wulan) dengan batu-batunya yang berserakan indah dimana sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.
Arti kata Kampung Naga sendiri bukan merupakan sebuah kampung yang dihuni oleh binatang mitos naga yang kerap kali dijumpai di film-film khayal atau yang sering didongengkan kepada anak kecil sebelum tidur. Kampung Naga berasal dari bahasa sunda yaitu “Kampung na Gawir” yang dalam bahasa indonesia memiliki pengertian “Kampung di Jurang”. Karena bila kita menyambangi Kampung Naga, kampung tersebut akan terlihat dari jalan seolah-olah terletak di dasar jurang. Perjalanan menuju Kampung Naga ini mengharuskan kita untuk menuruni kurang lebih 350 anak tangga dengan kemiringan 40 derajat dan setelah itu menyusuri sungai Ciwulan sebelum tiba di pemukiman penduduk. Seluruh bangunan rumah yang ada di Kampung Naga memiliki sebuah ciri berupa “Tanda Angin” yang digantung di setiap pintu depan rumah. Tanda Angin ini berasal dari tumbuh-tumbuhan yang telah dilengkapi dengan syarat-syarat ritual dengan tujuan untuk menolak bala atau pencegah musibah bagi penghuni rumah.
Saat ini masih ada sebagian masyarakat yang belum mengenal keberadaan Kampung Naga beserta masyarakat tradisional tersebut. Untuk itu saya mencoba untuk menghadirkan kembali segala bentuk bangunan fisik, nilai-nilai tradisi dan potret keseharian penduduk Kampung Naga ini melalui cuplikan-cuplikan fotografis. Tentunya dengan sebuah harapan bahwa Kampung Naga ini dapat terus diperkenalkan kepada masyarakat dunia agar segala kearifan yang melekat di sana akan selalu diingat, dimaknai dan ditularkan. Meski saat ini arus budaya modern merasuk begitu cepatnya, tetapi keberadaan Kampung Naga berserta masyarakatnya ini tetap menjadi sebuah tanda kebesaran alam yang selalu terjaga dan tak pernah sirna oleh kesombongan manusia modern.
Kampung Naga, Garut, 20 Januari 2011
copyright (c) 2011 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Warisan Nenek Moyang Yang Orang Pelaut
Teks & Foto : galih sedayu
Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda b’rani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai
Jakarta, 16 Januari 2011
copyright (c) 2011 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Tears Of The Cow
Teks & Foto : galih sedayu
Sebagian masyarakat menganggap bahwa seekor hewan yang bernama sapi memang ditakdirkan untuk mati disembelih demi simbol sebuah tradisi kurban bagi setiap umat muslim yang merayakan hari raya Idul Adha setiap tahunnya. Padahal kita sadari benar bahwa setiap hari pun sapi-sapi tersebut disembelih dan dengan mudahnya kita mendapatkan daging tersebut di pasar. Foto cerita tentang hewan sapi yang disembelih pada saat hari raya Idul Adha ini dibuat sebagai cuplikan realitas yang sungguh terjadi meski sebenarnya adegan-adegan tersebut dapat dilihat setiap harinya semisal di tempat-tempat penjagalan. Hanya saja cerita penyembelihan sapi ini menjadi berbeda tatkala ada sebuah hari yang dikenang oleh masyarakat muslim. Semoga tangisan para sapi ini menjadikan kita untuk lebih berani berkorban (lebih daripada sapi tentunya) demi sebuah langgengnya kehidupan yang damai di bumi. Sehingga tak ada lagi kata korban korupsi, korban ketidakadilan dan korban kesemena-menaan yang hingga kini masih saja terjadi di bumi pertiwi ini.
Bandung, 17 November 2010
copyright (c) 2010 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Balada Para Anjing Tomohon
Teks & Foto : galih sedayu
“Aku punya anjing kecil
Kuberi nama Helly
Dia senang bermain-main
Sambil berlari-lari
Helly! Guk! Guk! Guk!
Kemari! Guk! Guk! Guk!
Ayo lari-lari…
Helly! Guk! Guk! Guk!
Kemari! Guk! Guk! Guk!
Ayo lari-lari”
-Lagu Anjing Kecil-
Foto cerita tentang penjualan daging anjing ini diambil di daerah yang bernama Pasar Tomohon di Sulawesi Utara. Kota Tomohon sendiri berada pada 1°15′ Lintang Utara dan 124°50′ Bujur Timur. Letaknya yang diapit oleh tiga gunung aktif yaitu Lokon, Mahawu, dan Masarang menjadikan wilayah ini sebagai daerah yang subur dan menjadi daerah wisata karena hawanya yang sejuk. Pasar Tomohon merupakan salah satu pasar tradisional terbesar di Minahasa.
Sulawesi Utara, Tomohon, 16 November 2008
copyright (c) 2008 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
KehendakMu, Karuniaku
Teks & Foto : galih sedayu
Teruntuk Kedua Putri Kembarku…
Ancilla Trima Sedayu & Eufrasia Tara Sedayu
24 Agustus 2010…tengah malam
Seorang pria bermimpi. Sedang mengendarai mobil jeep hitamnya. Tiba-tiba matanya terbuka lebar dari yang tadinya gelap gulita. Dan mimpi itu pun berhenti.
25 Agustus 2010…tengah malam
Seorang pria bermimpi. Sedang memangku kedua anaknya yang masih kecil. Sambil memandang kedua mata anaknya yang sembab. Entah kenapa. Tiba- tiba pria tersebut mencari salah satu anaknya yang hilang ketika dipangku. Dan mimpi itu pun berhenti.
31 Agustus 2010 pukul 05.30 wib
Pecah ketuban…memanggil dokter…bergegas ke rumah sakit…observasi di ruang transit…menunggu saat kelahiran…
31 Agustus 2010…..19.55, 20.07, 20.13, 20.20, 20.37, 20.55, 21.03, 21.07, 21.23, 21.30, 21.37, 21.50, 22.03, 22.12, 22.26, 23.48, 23.55, 1 September 2010…..00.03, 00.11, 00.19, 00.28, 00.50, 00.55, 01.03, 01.12, 01.21, 01.28, 01.43.
Setelah itu waktu dalam menit dan detik kontraksi yang dialami oleh seorang ibu yang tengah mengandung kedua anak kembarnya tak lagi tercatat. Beberapa perawat rumah sakit yang biasa dipanggil dengan sebutan suster terlihat sibuk memeriksa kandungan sang ibu dengan hati-hati. Hingga akhirnya tiba seorang dokter dengan paras wajah yang sudah berumur. Rambutnya kelihatan memutih namun raut mukanya nampak masih segar meski waktu sudah hampir subuh. Namanya Dokter Pories. Dokter Pories bergegas memasuki ruangan persalinan dan segera mengambil alih kontrol yang tadinya diembankan kepada para suster. Sekitar waktu sepeminuman teh kemudian, terdengarlah bunyi tarikan napas yang terengah-engah, suara jerit kesakitan & raungan tangis keras seorang ibu yang sedang berjuang melahirkan dua bayi kembarnya ke bumi. Waktunya 03.57 wib, saat bayi perempuan prematur pertama keluar dari perut besar sang ibu. Seketika itu pula bayi tersebut menangis dengan nyaring bak membelah bumi. Tubuhnya kelihatan segar dengan kulitnya yang berwarna merah meski beratnya hanya 1,5 kg. Dokter pun langsung menggunting tali pusar bayi itu dan menyerahkan tubuh mungilnya kepada suster sembari memegang kedua ujung kaki kecil bayi itu di atas ranjang melawan gravitasi. Para suster langsung membersihkan tubuh bayi dan dengan cekatan membawa bayi pertama itu ke ruang perawatan. Selang tujuh menit kemudian tepatnya pukul 04.04 wib, bayi perempuan kedua menyusul kakak nya keluar dari rahim sang ibu menuju peraduan dunia. Berbeda dengan bayi pertama, bayi ini kelihatan lemah tak berdaya, tubuhnya pucat pasi & tak ada tangisan satupun yang keluar dari mulutnya. Beratnya hanya mencapai 1,1 kg. Bayi ini pun lantas mendapat penanganan yang sama seperti bayi pertama. Barulah kemudian terdengar helaan nafas yang lega dari dokter, suster & ibunda dari sang ibu yang baru saja mengalami proses keajaiban melahirkan. Inilah kisah kelahiran dua anak manusia yang diberi nama “Ancilla Trima Sedayu & Eufrasia Tara Sedayu” yang lahir tepat pada tanggal 1september 2010. Dimana nama Trima dan Tara merupakan anonim dari kalimat “Terimakasih Tak Terhingga” sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Mereka adalah putri kembar pertama pasangan orang tua yang bernama Galih Sedayu & Christine Listya. Tetapi ceritanya tidak berakhir sampai di sini.
Oleh karena kedua bayi perempuan kembar ini lahir prematur serta berat tubuh mereka belum mencukupi berat tubuh rata-rata bayi lahir (yaitu sekitar 2-2,5 kg), maka kedua bayi mungil ini terpaksa harus masuk ke ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Sebuah ruangan yang membuat cemas & gelisah sebagian besar orang tua bayi karena di ruang inilah para bayi mereka bertarung melawan hidup dan mati. Termasuk kedua orang tua bayi kembar “cilla & eufra”, begitu nama panggilan dua bayi mungil tersebut. Dokter yang menangani kedua bayi di ruang NICU bukanlah dokter kandungan melainkan seorang dokter anak. Sampai sini Dokter Kelly yang menggantikan tugas Dokter Pories. Baik cilla & eufra terpaksa masuk inkubator dan dipasangkan sebuah alat bantu pernafasan (ventilator) karena paru-paru dan jantung mereka masih sangat lemah.
Masih tanggal 1 September 2010 sekitar jam 09.00 wib, ayah kandung cilla & eufra pulang ke rumah sambil membawa ari-ari dan tali pusar mereka. Kemudian ia mencucinya hingga bersih di air yang mengalir, menaruhnya ke dalam kendi yang disatukan dengan benda-benda yang merupakan simbol doa & harapan baik bagi masa depan kedua bayi kembar tersebut. Bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, asam, garam dan lengkuas agar kelak mereka pandai memasak. Sebatang pensil yang diraut agar kelak mereka menjadi orang pintar. Cermin & sisir kecil agar kelak mereka dapat mengurus diri. Benang & Jarum agar kelak mereka memiliki ketrampilan. Uang Receh agar kelak mereka pandai mengatur keuangan. Setelah itu ayah cilla & eufra mengucap doa & harapannya bagi masa depan anak kembarnya sembari memegang sepotong lidi. Kemudian kendi tersebut dikubur di halaman depan rumah, ditutup dengan ember yang di dalamnya dipasangi lampu agar hangat serta meletakkan bubur merah-putih sebagai perlambang menolak bala. Selesai sudah ritual paska kelahiran adat jawa yang sarat dengan makna tersebut.
Sudah dua hari ayah cilla & eufra tidak cukup tidur karena menemani istri tercintanya yang baru saja melahirkan. Matanya pun menjadi berat karena rasa kantuk yang luar biasa. Ingin sekali rasanya ia membantingkan badan ke ranjang. Tapi keinginan itu berubah seketika. Tiba-tiba suster rumah sakit menelpon sang ayah untuk segera kembali ke rumah sakit. Kontan saja sang ayah langsung menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam menuju rumah sakit. Sang ayah ternyata lupa bahwa jalan-jalan di Kota Bandung saat itu sering kali mengalami kemacetan karena pada akhir bulan puasa aktivitas kendaraan bermotor meningkat. Cuaca yang terik dan panas akhirnya membuat ayah cilla & eufra menyetir dengan terkantuk-kantuk. Hingga akhirnya sang ayah berhasil keluar dari kemacetan itu dan segera menancap kembali gas mobilnya di sepanjang jalan dago. Selang beberapa saat tiba-tiba terdengar suara benturan keras di depan mobilnya. Sang ayah terbangun dan matanya langsung terbelalak menatap apa yang telah terjadi. Seperti baru tersadar dari sebuah mimpi, ternyata mobil ayah cilla & eufra menabrak mobil lain di depannya. Mobil sang ayah tidak dapat bergerak karena rusak. Ia langsung turun dan menghampiri pengemudi mobil yang ditabraknya. Pengemudi mobil tersebut seorang anak muda yang sangat baik, tenang dan murah senyum, namanya “acuang”. Sang ayah meminta maaf kepadanya karena mengantuk hingga menabrak mobilnya lalu menceritakan segala hal yang telah menimpa dirinya. Ayah cilla & eufra kemudian menelpon para sahabatnya yaitu ulis, rani & ayi untuk meminta tolong dan segera mengurus kejadian naas ini. Kemudian sang ayah pun melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit dengan mengunakan angkutan umum. Sambil berpikir & menerawang jauh bahwa ternyata kejadian ini pernah ada dalam mimpinya sekitar seminggu yang lalu. Firasat ayah cilla & eufra pun bertanya, apakah arti kejadian ini? Sepertinya akan ada peristiwa besar yang akan dialami olehnya.
Sesampainya di rumah sakit, ayah cilla & eufra mendapat kabar bahwa Dokter mendiagnosa Cilla, bayi kembar pertama untuk segera dibuang darahnya karena kelebihan hemoglobin (26 hb). Sementara Eufra, bayi kembar kedua diminta untuk segera dilakukan transfusi darah karena kekurangan hemoglobin (5 hb). Pasalnya, proses tersebut dapat segera dilakukan bila kondisi paru-paru dan jantung bayi telah stabil. Selama hampir 27 jam dokter dan para tim medis pun mengupayakan yang terbaik bagi kelangsungan hidup kedua bayi kembar ini. Malang bagi cilla. Agaknya upaya dokter dan timnya untuk bisa menstabilkan kondisi bayi ini tidak membuahkan hasil. Dari mulai memasang segala peralatan medis, memberi obat-obatan hingga mempompa jantung bayi pertama tersebut. Ayah bayi kembar ini pun hanya mampu untuk terus mengucap ratusan doa bercampur sejuta harapan. Kulit bayi yang tadinya merah, berangsur-angsur berubah menjadi biru di sekujur tubuhnya. Perlahan-lahan gelombang kurva yang tertera di layar monitor pun mulai melemah dan makin renggang. Tangan-tangan dokter yang tadinya aktif mempompa jantung bayi pun sepertinya menyerah.
Lonceng ajal pun akhirnya bergema di keheningan ruangan. Tepat hari kamis tanggal 2 September 2010 pukul 06.50 wib, bayi kembar pertama yang bernama “Ancilla Trima Sedayu” dipanggil menghadap Sang Khalik. Ya Tuhan…Tak pernah terduga sebelumnya bahwa seorang bayi mungil yang awal kelahirannya tampak sehat, merah & kuat itu mesti merenggang nyawa dengan begitu cepat. Walaubagaimanapun itu sudah rencanaNYA. Tak ada yang kuasa melawan takdir bila Tuhan sudah meniupkan sangkakalanya. Cilla pergi untuk selamanya. Tangis pun mengalir haru biru dari wajah ayahnya. Sang ayah hanya mampu memandang pilu sambil memegang tangan putri pertamanya. Kemudian sang ayah pun datang ke ruang perawatan tempat istrinya tercinta. Dengan berat hati sang ayah mengabarkan berita kesedihan itu kepada sang ibu yang masih berbaring dan terkulai lemas. Tangis dan air mata pun berderai dari sang ibu. Betapa tidak, setelah sang ibu berjuang sampai titik darah terakhir untuk bisa melahirkan anak kembarnya dan belum lagi sempat melihat putri pertamanya, ia harus menerima kenyataan pahit akan kepergian cilla selama-lamanya. “Kuatkan lah hati mama cilla & eufra Ya Tuhan…”, kata sang ayah dalam hati.
Karena Rumah Sakit hanya dapat menampung bayi yang sudah meninggal maksimal selama 2 jam, sekitar pukul 10.00 wib jenazah cilla dibawa keluar dari rumah sakit menuju pemakaman. Sebelumnya tubuh cilla dibalut dengan menggunakan baju dan rok berwarna merah muda. Lengkap dengan sarung tangan dan kaus kaki serta topi yang menutup kepalanya. Sang ayah pun bergumam, “Ah..betapa cantik dan lucunya cilla”. Sang ayah tampak bersikeras untuk tidak mau memasukannya jenazah cilla ke dalam peti mati kecil yang telah disediakan. Ia lebih memilih untuk menggendong cilla dalam dekapannya sendiri dan kemudian masuk ke dalam mobil ambulans yang membawa mereka ke tempat pemakaman. Di bawah pohon yang rindang jenazah cilla akhirnya dimakamkan. Sebuah tempat yang teduh, tenang dan menyatu dengan alam. Cilla dimakamkan dalam keadaan yang suci, bersih dan tanpa noda dosa. “Selamat jalan cilla. Tak akan pernah sekalipun dalam hidupku untuk melupakan engkau…nak. Hiduplah jiwamu dalam damai di surga. Cinta ayah akan selalu menyala terang bagai cahaya di dalam kegelapan. Untaian doa akan selalu ayah hamparkan untukmu. Sekarang dan selamanya.”, kata sang ayah dalam doanya.
Saat ini eufra, adik perempuan kembar dari cilla masih dirawat di ruang NICU rumah sakit boromeus bandung. Kondisinya sudah stabil meski masih harus menggunakan alat bantu pernafasan. Setiap hari ayah & mama eufra selalu menemaninya dalam ruangan yang penuh dengan peralatan medis. Menyapa eufra dengan hangat, memberikan sentuhan lembut dan membisikkan kata-kata kasih yang terus berulang.
Lalu mereka mengucap sebuah doa dalam keheningan bagi kedua putri kembarnya,
Ya Tuhan…
Kami berdoa bagi cilla…
Terimakasih karena Engkau telah memberikan sebuah negeri yang damai bagi cilla…
Terimakasih karena Engkau telah menunjukkan jalan yang lurus bagi cilla…
Terimakasih karena Engkau telah menerangi obor bagi cilla…
Terimakasih karena Engkau telah menanamkan pohon keabadian bagi cilla…
Terimakasih karena Engkau telah menjadikan kesucian bagi cilla…
Ya Tuhan…
Kami berdoa bagi eufra…
Terimakasih karena Engkau selalu mencurahkan air kesembuhan bagi eufra…
Terimakasih karena Engkau selalu mengobarkan api kekuatan bagi pertumbuhan eufra…
Terimakasih karena Engkau selalu mengkaruniakan kasih yang besar bagi eufra…
Terimakasih karena Engkau selalu meniupkan nafas ilahi bagi eufra…
Terimakasih karena Engkau selalu menyediakan harapan kehidupan bagi eufra…
Ya Tuhan…
Terimakasih karena menghadirkan cilla & eufra dalam hidup kami.
Rindu kami hanya untuk mereka.
Amin.
Sekelumit kisah bahagia dan tragedi ini dihadirkan kembali dalam bentuk citra foto yang direkam oleh mata sang ayah. Sederhana dan jujur apa adanya. Mesti terkadang hati sang ayah tak kuasa untuk menekan tombol ‘shutter’ kamera. Tetapi walaubagaimanapun jari sang ayah tetap mengabadikan adegan-adegan yang kerap menyedot energi dan pikirannya. Dengan secercah asa bahwa imaji-imaji visual itu kelak dapat menjadi simbol cinta dan harapan bagi manusia yang melihatnya. Bahwa peristiwa tersebut adalah nyata terjadi dan sangat dekat dengan kehidupan manusia. Sementara fotografi menjadi saksi bisu yang terus bersuara kepada dunia tanpa lelah. Yang terus menuturkan dongeng sukacita & dukalara yang saling merajut cerita. Tentunya demi kelangsungan peradaban manusia yang terus bergerak seperti angin, berubah seperti malam berganti siang serta mengalir seperti sungai-sungai di planet bumi. Dalam nama cinta dan kerinduan yang tak pernah lekang dimakan waktu.
Bandung, 1 September 2010
Copyright (c) 2010 by galih sedayu & Ruli Suryono
All right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographers.



























































































