Posts Tagged ‘galih sedayu’
Kala Fotografi Indonesia
KALA FOTOGRAFI INDONESIA
Penyusun : galih sedayu | Air Foto Network [AFN]
Catatan kecil perihal sejarah perkembangan fotografi di Indonesia yang saya buat ini sebenarnya bertujuan untuk menggali & mengungkap fakta yang belum hadir sehingga dengan kekuatan kolaborasi, catatan ini diharapkan bisa menjadi oase bagi kandungan fotografi Indonesia yang kaya. Sejak fotografi ditahbiskan pada tahun 1839 oleh Louis Jacques Mande Daquerre melalui sebuah konferensi internasional di Paris, virus kebaikan fotografi ini langsung menyebar tak terbendung termasuk di Indonesia. Karena bangsa kita banyak melalui sebuah masa dari mulai masa penjajahan hingga masa kemerdekaan, catatan ini saya coba bagi menjadi beberapa babak agar kita lebih mudah merunut sejarah fotografi di bumi pertiwi ini. Sudi kiranya para sahabat mau menambahkan atau mengkoreksi apabila terdapat kekeliruan dalam catatan yang saya buat ini. Karena dengan begitulah isinya dapat menjadi kebenaran yang dapat kita gunakan secara bersama.
—
* Masa Hindia-Belanda 1840-1942
1840
Juriaan Munich, seorang petugas kesehatan diutus oleh Kementrian Urusan Wilayah Jajahan (Ministerie van Kolonien) Kerajaan Belanda untuk mengabadikan tempat dan obyek yang paling terkenal di daerah Jawa Tengah. Namun misi ini mengalami kegagalan.
1844
Pada bulan juni 1844, Adolf Schaefer, seorang Daguerretypist dari Kota Dresden tiba di Batavia untuk menggantikan Juriaan Munich dan ditugaskan memotret patung Hindu-Jawa koleksi Lembaga Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenshapen). Schaefer berhasil menunaikan tugas ini sekaligus menjadi orang pertama yang berhasil membuat foto di Hindia-Belanda.
1853
Saurman’s Daguerrian Galery, studio foto komersial pertama didirikan di Hindia-Belanda yang beralamat di Rijswijk, Marine Hotel No.1 Batavia.
1857
Albert Woodbury & James Page, dua orang bersaudara berkebangsaan inggris datang ke Hindia-Belanda dan mendirikan studio foto komersial. Studio Woodbury & Page ini merupakan studio foto komersial paling terkenal dan sukses secara finansial di seluruh Hindia-Belanda.
1860-1863
Antara kurun waktu tersebut, Franz Wilhelm Junghunhn, seorang ahli obat-obatan yang telah bekerja di Jawa sejak tahun 1835 dan terkenal sebagai perintis penanaman kina, membuat seri foto tanaman pertama di Hindia-Belanda sekaligus menandai dimulainya ketertarikan pada obyek foto tanaman.
1862
Isidore van Kinsbergen, fotografer sekaligus pelukis yang tinggal di Batavia, ditunjuk menggantikan Adolf Schaefer. Tugas pertamanya adalah memotret seluruh benda kuno yang ada di Hindia-Belanda.
1865
H.R. Olland Jr & P.H. Van der Burght, dua orang fotografer profesional asal Belanda hadir mendirikan studio foto di Batavia.
1873
Pada bulan april 1873, Pemerintah Hindia-Belanda menugaskan Isodore van Kinsbergen untuk memotret Candi Borobudur guna melengkapi penulisan buku tentang Borobudur yang dilakukan oleh Dr. C. Leemans, seorang kepala museum benda kuno di Leiden.
1875
Boroboedoer Album, dua belas album foto, yang masing-masing berisi 40 foto mengenai borobudur karya dari Isodore van Kinsbergen diterbitkan.
1861-1870
Selama kurun waktu ini, Simon Willem Camerik, seorang pelukis dan fotografer yang banyak mendapatkan pekerjaan memotret di dalam lingkungan Kraton Yogjakarta, aktif memotret di daerah Jawa Tengah. Simon banyak memotret pemandangan alam di berbagai pelosok Surakarta, Yogjakarta, Magelang dan Prambanan untuk dijual ataupun dikirimkan sebagai hadiah kepada kawan-kawannya di Eropa.
1863-1875
Selama kurun waktu ini, Kassian Cephas, orang Indonesia yang dianggap sebagai fotografer pribumi pertama, belajar fotografi untuk pertama kalinya kepada Isodore van Kinsbergen. Chepas juga belajar fotografi kepada Simon Willem Camerik.
1870
Kassian Cephas ditunjuk oleh Sultan Hamengkubuwono VII sebagai pelukis & fotografer resmi Kraton Yogjakarta. Chepas juga membuka studio foto di daerah Loji Kecil (sekarang di Jl. Mayor Suryotomo) dekat sungai conde dan memiliki seorang asisten yang bernama Damoen.
1886
Pada tanggal 1 Juni 1886, Dr. R.D.M. Verbeek berhasil mendokumentasikan foto-foto Gunung Krakatau di Selat Sunda atas penugasan dari pemerintah Hindia-Belanda.
1888
Buku berjudul In den Kedaton te Jogjakarta dan De garebeg’s te Ngayogyakarta diterbitkan oleh penerbit komersial Brill di Kota Leiden. Buku ini dibuat oleh Isaac Groneman, seorang dokter resmi Sultan Yogjakarta, dimana semua foto di dalamnya adalah karya Kassian Cephas.
1889
C.K. Kleingrothe membuka studio foto pertama di Medan, Sumatera.
1891
Kassian Cephas berhasil memotret relief Karmavibhanga Candi Borobudur. Jumlah foto yang direkam Cephas adalah 164 foto dasar tersembunyi, 160 foto relief dan 4 foto situs Borobudur secara keseluruhan.
1893
Raden Ngabehi Basah Tirto Soebroto, seorang juru bahasa Jawa di Pengadilan Lanraad Batavia, menerbitkan sebuah tutorial fotografi bahasa Melayu dengan judul Hikajat Ilmoe Menggambar Photographie.
1894
Karl Martin, seorang ahli geologi dari Leiden, mempublikasikan 288 foto tentang formasi batuan, spesies tanaman, hewan dan penduduk maluku dalam buku berjudul Reisen in den Molukken. Buku ini terbit setelah selama satu tahun ia melakukan ekspidisi fotografi.
1898
Jean Demmeni & Dr. A.W. Nieuwenhuis, melakukan ekspidisi geologi dan antropologi ke Kalimantan. Setelah ekspidisi ini berakhir tahun 1899 sebanyak 150 negatif foto tentang etnologi dibawa ke Jawa.
1899
Kamera buatan Kodak telah dapat ditemukan di Kalimantan.
1901
* Hasil foto liputan Kassian Cephas & Groeneman tentang pementasan Wayang Orang pada tahun 1899 yang disponsori oleh Gusti Raden Mas Putro (Hamengkunegara III), dibukukan dengan judul Wajang orang Pergiwa atas perintah Sultan Hamengkubuwono VII. Buku yang hanya dicetak satu buah dengan sampul bertahtakan emas permata ini kemudian dikirimkan Sultan sebagai hadiah kepada Ratu Wilhelmina dan Pangeran Hendrik di Istana Oranye Belanda.
* H.L Leydie adalah fotografer yang diberi tugas oleh Oudheidkundige Commissie (sebuah komisi arkeologi pemerintah Hindia-Belanda), untuk memotret aktivitas arkeologi di seluruh kepulauan Nusantara.
1902
Cristiaan Benjamin Nieuwenhuis, menerbitkan buku foto berjudul De Expeditie naar Salamanga, sebuah buku kumpulan foto Perang Aceh (1873-1914).
1902-1903
Antara kurun waktu tersebut, foto-foto tentang Papua banyak diabadikan. Alam Papua pertama kali direkam oleh F.C. Burst, penduduk asli Papua pertama kali direkam oleh Pieter Eliza Moolenburg, dan foto-foto awal penduduk Papua dalam jumlah banyak dibuat oleh Johan S.A van Dissel.
1906
Jonkheer H.M. van Weede mendokumentasikan peristiwa peperangan antara penguasa Bali dengan pemerintah kolonial yang terjadi pada bulan September 1906.
1907-1910
Ekspedisi fotografi ke Papua makin banyak dilakukan. Ekspedisi terbesar adalah yang dipimpin oleh H.A. Lorentz ke daerah pegunungan bagian tengah Papua. Tercatat tiga orang anggota yang bertugas memotret yaitu Van Nouhuys, Versteegh dan J.M. Dumas.
1910
Terdapat lebih dari 150 studio foto komersial yang beroperasi di seluruh Hindia-Belanda.
1911
Jean Jaques de Vink, salah satu fotografer resmi Oudheidkundige Dienst (Komisi Arkeologi), menyelesaikan 2000 foto restorasi Borobudur yang telah berlangsung sejak tahun 1907.
1912
Kassian Cephas meninggal dunia pada tanggal 16 November 1912. Ia dimakamkan di kuburan Sasanalaya, dekat pasar Beringharjo. Studio fotonya diestafetkan kepada anaknya yakni Sem Cephas.
1917
* Thilly Weissenborn, seorang fotografer perempuan pertama di Hindia-Belanda dikontrak oleh pemerintah untuk memotret industri pariwisata.
* Kamera produksi Eastman Kodak Company dari amerika yang terkenal murah & mudah dioperasikan mulai masuk ke Hindia-Belanda. Dimana Kurkdjian, O & Co. NV. Ditunjuk oleh Eastman Kodak Company sebagai distributor tunggal untuk Hindia-Belanda.
1918
Pemerintah Hindia-Belanda memasukkan “gambar” ke dalam peraturan pers baru yang mereka keluarkan dan disebut sebagai Haatzaai Artikelen.
1920
* Awal tahun ini, foto seri romantik di Bali yang direkam oleh Thilly menjadi rujukan utama wisatawan yang ingin mengunjungi pulau tersebut.
* Dunia fotografi amatir mulai marak & berkembang. Dr. J. Vermeuleun menerbitkan majalah bulanan De Camera, Populair Technish Maanblaad voor den Amateur Photography in Nederlands-Indie.
1921
Cara beriklan di berbagai media cetak yang biasanya menggunakan photograms (cetak positif) sejak tahun 1914, kini mulai diganti dengan menggunakan foto.
1922
* Awal tahun ini, Anton Najoan, seorang pribumi yang bekerja di firma Charls & Van Es & Co pulang kampung ke daerah Tondegesan di Minahasa, Sulawesi. Kemudian ia membawa seorang bocah berumur 15 tahun untuk ikut mengadu nasib di Batavia. Bocah itu bernama Alexius Impurung Mendur. Kelak bocah inilah yang menjadi salah satu pelopor pendiri IPPHOS.
* Perkumpulan fotografer amatir yang bernama Eerste Nederlandsch Indische Amateur Fotografen Vereeniging (ENVIAF) dibentuk pertama kali di Weltevreden, Batavia.
1924
* Preanger Amateur Fotografen Vereeniging (PAFV), sebuah perkumpulan fotografer amatir pertama kali dibentuk di Kota Bandung pada tanggal 15 Februari 1924. Prof. Schemerhorn dan Prof. CP. Wolff Schoemaker, guru besar arsitektur di Technische Hoogeschool (sekarang ITB) menjadi motor penggerak klub foto yang tertua di Indonesia tersebut. Saat ini berganti nama menjadi Perhimpunan Amatir Foto (APF) Bandung.
1927
Alexius Impurung Mendur bekerja di Charls & Van Es & Co, sembari memperdalam ilmu fotografi ke Anton Najoan dan H. Bodom.
1929
Java Bode merupakan media pertama di Hindia-Belanda yang menerbitkan suplemen khusus yang menggunakan foto sebagai material utama berita. Rozema, seorang pribumi yang sangat kaya menjadi kepala bagian foto media tersebut.
1930-1935
Dalam kurun waktu ini, studio foto di Hindia-Belanda mulai didominasi oleh orang-orang Cina. Tercatat ada 27 buah studio foto komersial milik orang Cina, 4 buah studio foto milik orang Jepang, 8 buah studio foto milik orang Eropa & 2 buah studio foto milik orang Pribumi. Salah satu studio foto milik orang Pribumi ini bernama “Studio Indonesia” yang beralamat di Pasarpon Tel. 182, Surakarta
1933
Foto Jurnalistik yang biasanya menyajikan karya foto berupa spot photo atau foto tunggal, kini mulai bervariasi dengan munculnya genre baru yakni photo essay, yakni foto-foto yang terdiri lebih dari satu foto namun dalam satu tema.
1934
Frans Soemarto Mendur mulai belajar ilmu fotografi kepada kakaknya Alexius Impurung Mendur.
1935
Kodak Brownie, produk fotografi yang dikeluarkan oleh Eastman Kodak Company USA mulai mendominasi pasar Hindia-Belanda. Setahun berikutnya, jumlah pelanggan setia produk-produk Kodak di seluruh Hindia-Belanda telah mencapai ribuan orang.
1940
Pada masa ini, terdapat 149 studio foto komersil yang masih aktif di Hindia-Belanda. Sebagian besar dimiliki oleh orang Cina, kedua oleh orang Jepang & sejumlah kecil lagi dimiliki oleh orang Eropa.
—
* Masa Pendudukan Jepang 1942-1945
1942
* Sejak pendudukan Jepang yang dimulai pada tanggal 8 Maret 1942, fotografi di Indonesia terpaksa melayani satu matra yakni propaganda perang.
* Pada bulan Mei 1942, Pemerintah militer Jepang mengeluarkan Undang Undang No.16 yang mengatur tata cara publikasi & komunikasi di daerah Jawa dan Madura. Pemerintah militer Jepang menerapkan peraturan yang mengharuskan setiap fotografer untuk mengirimkan negatif yang telah digunakan kepada bagian sensor di Barisan Propaganda Jepang. Akibat peraturan ini, semua surat kabar jaman Hindia-Belanda tidak mungkin lagi untuk terbit. Para fotografer Eropa lebih memilih keluar dari Indonesia daripada dijadikan tawanan perang.
* Pada bulan Agustus 1942, untuk keperluan propaganda perang, pemerintah militer Jepang kemudian membentuk Sendenbu (Departemen Propaganda).
* Pada bulan Oktober 1942, dua biro khusus Sendenbu pertama dibentuk yakni Jawa Hoso Kanrikyoku (Biro Pengawas Siaran Jawa) dan Domei (Kantor Berita). Setelah itu, kantor berita Antara pun bergabung dengan Domei.
* Pada tanggal 6 Oktober 1942, pemerintah militer Jepang di Jakarta menetapkan harga pembuatan pas foto sebesar f 0,75 per tiga buah lembar foto. Di beberapa daerah, bahkan keluar peraturan larangan jual beli peralatan fotografi.
* Pada masa ini, Alex Impurung Mendur menjabat sebagai Kepala Bagian Foto Kantor Berita Domei.
* Selain memperkejakan fotografer profesional, selama Perang Dunia II militer Jepang juga melakukan cara pendokumentasian perang dengan cara membekali para perwira maupun prajuritnya sebuah kamera yang telah siap dipakai untuk memotret.
* Frans Sumarto Mendur {Adik Alexius Impurung Mendur} bekerja di Koran Asia Raya dan majalah bergambar Djawa Baroe. Untuk Soeara Asia yang terbit di Surabaya, fotografer yang ditugaskan adalah Abdoel Wahab Saleh.
1944
Domei kembali merekrut 7 pemuda berumur 16-22 tahun untuk dijadikan anggota Barisan Propaganda Bagian Potret. Dua di antara 7 pemuda ini bernama Sajuti Melik & Moerdiyanto. Di bawah bimbingan instruktur dari Jepang yang bernama Tsunoda, mereka diberikan kursus fotografi.
1945
*Awal bulan agustus 1945, Abdoel Kadir Said direkrut untuk memperkuat Barisan Propaganda bagian Potret.
* Pada periode ini Frans Soemarto Mendur juga terlibat secara aktif dalam gerakan kelompok pemuda Angkatan Baru.
* Tanggal 17 Agustus 1945 jam 10 pagi di Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi 56) Jakarta dilaksanakan upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Alex Impurung Mendur & Frans Soemarto Mendur merekam peristiwa itu dengan menggunakan kamera Leica.
—
* Masa Kemerdekaan 1945 – sekarang
1946
Pada tanggal 2 Oktober 1946 Kantor berita independen yang bernama Indonesian Press Photo Services (IPPHOS) didirikan oleh J.K. Umbas, F.F. Umbas, Alex Mamusung & Oscar Ganda (Mendur Bersaudara).
1948
Klub Foto yang bernama Lembaga Fotografi Candra Naya (LFCN) berdiri di Jakarta. Sebelumnya klub ini bernama “Sin Ming Hui”.
1955
Pada tanggal 28-30 Oktober 1955, GAPERFI mengadakan kongres di Semarang.
1956
* Pada bulan Februari 1956, GAPERFI menerbitkan majalah bulanan foto pertama di Indonesia yang bernama Kamera ; Majalah Untuk Penggemar Foto. Namun majalah ini hanya terbit sekali saja.
* Pada bulan Juli 1956, GAPERFI mengadakan kongres di Kota Bandung dan jumlah anggotanya menjadi 13 Klub Foto dari seluruh Indonesia.
* Salon Foto Indonesia I atau yang dikenal dengan nama 1st International Photosalon of Indonesia diselenggarakan di Kota Bandung.
1967
PAF Bandung menerbitkan Buletin-nya (stensilan) yang pertama.
1969
Pada bulan Februari 1969, majalah Foto Indonesia (FI) terbit perdana yang merupakan majalah satu-satunya di Asia Tenggara pada masa itu.
1969
Sebuah komite yang bersifat sementara yang bernama Sekretariat Bersama (SB) lahir. Tugasnya adalah menghubungi & membuat daftar semua klub foto yang ada di Indonesia untuk bergabung dan melaksanakan musyawarah nasional guna pembentukan sebuah wahana foto nasional.
1973
* Pada tanggal 28-29 Desember 1973, SB menggelar musyawarah nasional fotografi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
* Pada tanggal 30 Desember 1973, Munas yang dihadiri oleh 8 Klub Foto dari seluruh Indonesia sepakat untuk mendirikan Federasi Perkumpulan Seni Foto Indonesia (FPSI) atau Federation of Photographic Societies Indonesia. Ketua FPSI yang ditunjuk adalah Prof. Dr. R.M. Soelarko.
1986
Majalah Foto Indonesia (FI) berhenti terbit.
1989
Pada tanggal 8 Agustus 1989, Association of Professional Photographers Indonesia (APPI) dibentuk.
1992
* Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) didirikan oleh Kantor Berita Antara.
* Dibentuknya pendidikan fotografi di Indonesia (IKJ)
1998
Pada tanggal 8 Desember 1998, Pewarta Foto Indonesia (PFI) didirikan.
2014
* Pada tanggal 28-30 April 2014 , Pra Konvensi Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) bidang fotografi diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan & Kebudayaan Republik Indonesia, Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak dan Usia Dini, Nonformal dan Informal, di Hotel Banana Inn, Bandung.
* Pada tanggal 24-25 Juni 2014, Konvensi Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) bidang fotografi diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan & Kebudayaan Republik Indonesia, Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak dan Usia Dini, Nonformal dan Informal, di Hotel Banana Inn, Bandung.
* Pada tanggal 25 Juni 2014, Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI) dideklarasikan di Harris Hotel Batam Center. pendidikan fotografi di Indonesia (IKJ)
* Pada tanggal 10-12 Oktober 2014, Kongres Fotografi Indonesia diselenggarakan di Hotel Amaris, Jakarta.
* Pada tanggal 12 Oktober 2004, Masyarakat Fotografi Indonesia (Indonesian Photography Society) dideklarasikan di Hotel Amaris, Jakarta setelah Kongres Fotografi Indonesia selesai dilaksanakan.
—
SUMBER PUSTAKA
* Arsip IPPHOS
* Ajidarma, Seno Gumira. 2005. Kisah Mata; Fotografi antara Dua Subyek, Perbincangan tentang ada. Yogyakarta: Galang Press
* Douwes Dekker, N.A. (Tt). Tanah Air Kita. Bandung/’s Gravenhage: N.V. Penerbitan W. van Houve
* Knaap, Gerit. 1999. Chepas, Yogyakarta; Photography in the service of the Sultan. Leiden: KITLV Press.
* Zoelverdi, Ed. 1985. Mat Kodak : Melihat Untuk Sejuta Mata. Jakarta: Graffiti Press.
* Buletin PAF, April 2004.
* Soerjoatmodjo, Yudhi. 2013. IPPHOS; Indonesian Press Photo Service; Remastered Edition. Jakarta: Galeri Foto Jurnalistik Antara.
* Majalah Foto Media: Fotografi Indonesia 150 Tahun, Tahun II No.9, Februari 1994.
* Risdianto, Michael. 2006. Skripsi Kantor Berita Foto Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) 1946-1980.*
* Katalog Pameran Foto: 100 x France, Desember 2008. Jakarta: Galeri Foto Jurnalistik Antara.
Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this writting may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Tya & Tara | Mom & Daughter | My Diamond Rings








Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced without prior permission from photographer.
Eleonora Thalia Sedayu | My Lovely Daughter & My Sunshine
Teks & Foto : galih sedayu
Jadilah rindu abadi seperti ibumu
Jadilah anugerah terindah seperti ibumu
Jadilah pewarta kehangatan seperti ibumu
Jadilah rasa syukur seperti ibumu
Jadilah berkat baik seperti ibumu
Jadilah cinta sejati seperti ibumu
Jadilah surga nyata seperti ibumu
Biarlah segala kebajikan Semesta selalu menyertainya
Biarlah segala kemuliaan Semesta selalu menyertainya
Biarlah segala kesetiaan Semesta selalu menyertainya
Biarlah segala kejujuran Semesta selalu menyertainya
Biarlah segala kebijakan Semesta selalu menyertainya
Biarlah segala kekuatan Semesta selalu menyertainya
Biarlah segala keselamatan Semesta selalu menyertainya
Kiranya engkau selalu dicurahkan Roh Kesehatan
Kiranya engkau selalu dicurahkan Roh Keceriaan
Kiranya engkau selalu dicurahkan Roh Kesederhanaan
Kiranya engkau selalu dicurahkan Roh Kelembutan
Kiranya engkau selalu dicurahkan Roh Kecukupan
Kiranya engkau selalu dicurahkan Roh Kesabaran
Kiranya engkau selalu dicurahkan Roh Kecantikan
Bandung, 23 Desember 2015
#61PotretThalia
Richeese Pizza, Bandung – 23 December 2025
Deer Breeding, Bandung – 22 June 2025
Tahura Forest, Bandung – 2 March 2025
Lembah Permai Resort, Cipanas – 21 December 2024
Trimulia School, Bandung – 2023
Nara Park, Bandung – 2022

Home, Bandung – 24 December 2021

WOT Batu, Bandung – 6 June 2021

In Front of De Vries, Braga, Asia Africa, Bandung – 14 May 2021

Pizza HUT Resto, Dago, Bandung – 9 May 2021

Selasar Sunaryo, Bandung – 9 May 2021

Grandma’s House, Bandung – 19 June 2020

Home, Bandung – 15 June 2020

Grandma’s House, Bandung – 15 June 2019

PVJ Mall, Bandung – 7 March 2019

PVJ Mall, Bandung – 7 March 2019

PVJ Mall, Bandung – 28 October 2018

Geology Museum, Bandung – 9 October 2018

Elina Keramik, Bandung – 7 October 2018

City Hall, Bandung – 7 October 2018

Home, Bandung – 7 October 2018

Home, Bandung – 3 August 2018

Bumi Sangkuriang, Bandung – 15 July 2018

Saung Angklung Udjo, Bandung – 14 July 2018

Home, Bandung – 28 June 2018

Home, Bandung – 23 June 2018

Paris Van Java Mall, Bandung – 2 June 2018

Paris Van Java Mall, Bandung – 2 June 2018

Farm House, Lembang – 18 March 2018

China Town, Klenteng, Bandung – 17 February 2018

IBC Restaurant, Cianjur – 2 January 2018

Grand Parents Home, Cipanas – 1 January 2018

Cibodas Park, Cipanas – 31 December 2017

Home, Bandung – 23 December 2017

Paskal 23, Bandung – 11 November 2017

Bumi Sangkuriang, Bandung – 23 September 2017

Cafe Bali, Bandung – 1 September 2017

Bandung – 4 July 2017

Gegerbitung, Sukabumi – 25 June 2017

Puncak Bintang, Cimenyan, Bandung – 16 June 2017

Taman Bunga Nusantara, Cipanas – 1 July 2017

Taman Bunga Nusantara, Cipanas – 1 June 2017

AFN Studio, Bandung – 23 May 2017

Bumi Sangkuriang, Bandung – 21 May 2017

Bumi Sangkuriang, Bandung – 21 May 2017

Bumi Sangkuriang, Bandung – 5 April 2017

Bumi Sangkuriang, Bandung – 28 March 2017

Home, Bandung – 28 December 2016

Home, Bandung – 24 September 2016

Home – 27 July 2016

Taman Bunga, Cipanas – 12 June 2016

Home – 1st of May, 2016

Home – 27 April 2016

After Baptism Day | Home – 3 April 2016

Home – 28 March 2016

Total Solar Eclipse | Bosscha Observatory, Lembang – 9 March 2016

Grand Ma’s Home, Bandung – 5 March 2016

Home, Bandung – 31 January 2016

Home, Bandung – 31 December 2015

First Christmas | Limijati Hospital, Bandung – 25 December 2015

Born Day | Limijati Hospital, Bandung – 23 December 2015
Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Estafet Kehidupan Dari Seorang Bunda Rahim | My Personal Book Project : Deus Providebit
oleh galih sedayu
“Sebab Segala Sesuatu Adalah MilikMu”
Desember itu akhirnya datang dan menyapa. Bulan dimana seharusnya aku merayakan segala kesukacitaan dalam hidup, dari mulai hari ulang tahun istri tercinta, momen keceriaan natal dan masa kelahiran buah hati yang telah lama dinantikan. Namun ternyata di bulan yang penuh kasih ini, Sang Maha Pengatur telah memiliki rencana lain yang penuh misteri. Di penghujung bulan desember, tepatnya tanggal 23 Desember 2015, tatkala mentari pagi tengah hangat bersinar, aku dihadapkan kepada sebuah realita yang sangat teramat pahit. Christine Listya, istriku terkasih telah dipanggil oleh Maha Kuasa dan berpulang ke pangkuan Sang Ilahi. Oh Tuhan…Tya. Ia wafat setelah berjuang dan berhasil mengantarkan bayi yang dikandungnya selama 9 bulan ke bumi ini.
Sebelumnya pada malam tanggal 21 desember 2015, aku mengantar Tya pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungannya. Setelah diperiksa, saat itu dokter menyatakan bahwa plasenta bayi yang dikandung Tya telah mengalami perkapuran dan sebagian air ketubannya telah keruh. Karena usia kehamilan Tya telah mencapai 9 bulan, maka dokter menyatakan bahwa ia harus segera melahirkan. Namun karena Tya menginginkan proses persalinan secara normal, dokter akhirnya memberikan proses induksi terlebih dahulu untuk menstimulan kontraksi. Bertepatan dengan hari ibu, yaitu pada tanggal 22 Desember 2015, aku kembali mengantar Tya ke rumah sakit untuk melakukan proses induksi. Ternyata proses induksi yang pertama tidak membuat Tya kontraksi sehingga dokter berencana untuk melakukan proses induksi yang kedua. Atas saran dokter, Tya diminta untuk beristirahat dan menginap semalam di rumah sakit sebelum dilakukan proses induksi yang kedua. Pada saat subuh tanggal 23 Desember 2015, dokter kembali memeriksa kandungan Tya. Namun setelah diperiksa, dokter menyatakan denyut jantung bayinya tidak stabil, sehingga dokter tidak berani mengambil resiko untuk melakukan proses induksi selanjutnya. Dan seketika itu pula dokter memutuskan untuk melakukan proses persalinan secara cepat atau operasi caesar.
Operasi caesar dilakukan sekitar pukul enam pagi. Karena tidak diperkenankan masuk ke ruang operasi, akhirnya aku menunggu di luar ruangan. Sekitar pukul setengah tujuh pagi, aku mendapatkan kabar baik bahwa buah cinta kami telah lahir ke dunia dengan sehat dan selamat. Aku masih ingat ketika itu seorang petugas rumah sakit memanggilku untuk menunggu di depan pintu ruangan operasi bersalin. Tak lama kemudian, dokter anak kami beserta dua orang suster datang menghampiriku. Setelah mengucapkan selamat dan memperlihatkan bayi kami yang tengah dipangku oleh suster, dokter anak kami memberikan kabar bahwa bayi kami tersebut lahir dengan berat 3270 gram, panjang tubuhnya 50 cm serta memiliki tangisan yang keras. Bayi kami tercatat lahir pada pukul 06.26 pagi. Aku pun mengucap syukur seraya berdoa atas anugerah yang kami dapatkan. Setelah itu aku diminta untuk kembali menunggu di luar ruang operasi. Sepeminuman teh pun berlalu.
Sekitar pukul tujuh pagi, aku kembali dipanggil oleh petugas rumah sakit. Di dalam ruangan, dari kejauhan aku melihat dokter kandungan kami tengah menangis dan mengulurkan kedua tangannya kepadaku sembari berkata “Pak, mohon maaf istrinya tidak dapat diselamatkan. Istri bapak meninggal dunia. Setelah melahirkan anak bapak, beberapa menit kemudian istri bapak batuk dan tiba-tiba tubuhnya membiru. Saya tidak tahu mengapa ini bisa terjadi”. Kira-kira seperti itulah kalimat yang dikatakan oleh dokter kepadaku. Belakangan hari pihak rumah sakit menduga bahwa kematian Tya barangkali disebabkan karena emboli yakni air ketuban yang masuk ke pembuluh darah dan menyumbat kerja jantung. Aku langsung tersentak, rasanya seperti disambar petir di siang hari bolong. Aku pun menunduk dan rasanya tak kuat menopang tubuh yang tiba-tiba lemas dan lunglai. Setelah itu, seorang suster memberi kabar bahwa ada respon kecil dan denyut nadi yang muncul dari Tya. Kontan saja setelah mendapat kabar itu, semua tim dokter kembali bekerja untuk melakukan tindakan demi menyelamatkan nyawanya. Dari ruang operasi yang berada di lantai dua rumah sakit, kemudian Tya dibawa ke ruang ICU yang berada di lantai tiga. Berkali-kali Tya diberikan kejut listrik dengan menggunakan DC Shock atau Defibrillator, dengan harapan agar detak jantungnya kembali teratur.
Meski manusia sudah berusaha, namun apa daya bila Tuhan punya kehendak lain. Setelah dokter menyatakan sebanyak 3 kali berturut-turut bahwa istriku Tya telah meninggal namun kemudian dinyatakan kembali bahwa masih ada denyut nadi, akhirnya aku pun menghampiri istriku Tya untuk kemudian memeluknya dan berdoa agar diberikan yang terbaik sesuai kehendak Sang Penentu Takdir. Baru setelah itu, Tya dinyatakan benar-benar meninggal oleh dokter dan denyut jantungnya pun berhenti berdetak. Istriku terkasih telah pergi ke pangkuan Sang Khalik dengan tenang. Aku mendekapnya dengan erat dan air mataku pun bergelinang deras.
Oh Tuhan…ia kini milik-Mu. Aku harus menerima kenyataan bahwa kekasihku yang menjadi pasangan hidupku kini kembali pada-Mu. Benar rupanya seperti yang tertulis dalam kitab suci. “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Roma 14:8)
“Morituri te salutant, Mereka yang akan mati memberi salam padamu”
Setelah kepergian sang istri, aku banyak mendapatkan pertanyaan baik dari keluarga maupun dari para sahabat bahwa apakah aku memiliki firasat sebelumnya. Saat itu, aku menjawab bahwa tidak ada firasat sedikitpun mengenai kejadian yang mengenaskan ini. Namun kemudian aku berusaha memutar kembali ingatan dan akhirnya menemukan bahwa barangkali firasat itu memang ada namun mungkin tidak kurasakan. Kadang aku bertanya mengapa Tya sepertinya ingin melakukan semuanya sendirian dalam berumah tangga. Dari mulai mencuci dan menyetrika pakaian, membersihkan rumah, memasak makanan, hingga mengasuh anak kami Eufrasia Tara Sedayu. Tya sama sekali tidak mau mempekerjakan pembantu rumah tangga ataupun seorang baby siter meski kami mampu membiayainya. Barangkali jawabannya adalah Tya sangat menyadari bahwa waktunya sangat sedikit.
Di sisa hidupnya, ia sepertinya ingin memberikan yang terbaik segala apa yang dapat dilakukan demi mencurahkan cinta kasihnya kepada anak, suami, keluarga serta para sahabatnya. Pada masa kehamilannya mencapai usia 7 bulan, ia sangat ingin menyapa keluarga dan para sahabatnya dengan segala perhatian lebih yang ditunjukkannya. Hampir setiap malam ia sering berkunjung ke rumah orang tuanya sendirian meski hanya sekedar mampir untuk membuka kulkas ataupun sambil bercerita singkat. Ia pun sempat memaksa pergi ke bali untuk menghadiri pernikahan salah seorang keluarga kami di sana meski sebelumnya sudah dilarang. Belum lagi ia banyak menghadiri acara pertemuan dan pernikahan para sahabatnya yang ada di bandung dan juga mengunjungi para sahabatnya yang berada di luar kota meski sekedar berjumpa singkat.
Pernah suatu saat ketika kami berada di dapur bersama, Tya sempat berkata seperti ini kepadaku, “Mas, mbok yah mulai belajar masak makanan eufra. Nanti kalau aku ga ada gimana?”. Tentunya saat itu aku hanya berpikir bahwa ucapan seperti itu hanya biasa saja. Sehari sebelum kami berangkat ke rumah sakit, Tya pun sempat mengucapkan hal ini kepadaku sembari membuka lemari pakaian anak-anak, “Mas, kalau nanti ada apa-apa, di dalam lemari ini ada perlengkapan mandi dan popok untuk balu yah”. Balu adalah nama panggilan yang diberikan untuk bayi kami yang masih berada di dalam kandungan kala itu. Ternyata ia memang sudah mempersiapkan semua kebutuhan anak-anaknya dengan baik.
Sekitar sebulan sebelum Tya melahirkan, pada suatu malam di ranjang tempat kami beristirahat, tiba-tiba aku melihatnya meneteskan air mata sambil memandang kosong ke arahku. Aku pun bertanya kepadanya mengapa ia menangis. Namun ia tidak berkata sepatah katapun selain menunjukkan wajahnya yang sedang bersedih entah kenapa. Setelah itu yang bisa aku lakukan hanya memeluknya dan segera menyeka air matanya. Belakangan aku sadari bahwa barangkali saat itu ia ingin mengucapkan selamat tinggal melalui tangisan dan pandangan kosongnya. Entahlah…hanya Tuhan yang tahu pastinya.
Sebenarnya sejak dulu, aku sering diberikan mimpi sebelum mengalami kejadian yang berpengaruh dalam hidup. Entah itu kebetulan atau tidak, namun cerita mimpi yang aku alami selalu menjadi bagian dari kejadian hidupku. Seminggu sebelum kepergian Tya, seperti biasa aku pun mengalami mimpi yang masih menjadi misteri. Dalam mimpi itu aku tengah menggendong seorang bayi yang mungil. Lalu sekonyong-konyong dari atas langit muncul seberkas sinar putih yang menyilaukan mata dan kemudian bersinar menerangi wajah bayi yang sedang aku pangku. Saat itu aku masih tidak tau apa sebenarnya arti mimpi tersebut. Bahkan setelah Tya menanyakan apakah aku pernah bermimpi sesuatu, aku pun menceritakan kepadanya perihal mimpi tersebut. Belakangan aku mencoba menafsirkan mimpi tersebut, barangkali sinar tersebut adalah roh sang ibu yang menitis kepada sang bayi, sekaligus berkat roh kudus yang mengambil nyawa sang ibu demi melanjutkan kehidupan sang bayi. Sekali lagi, aku tidak tahu pasti…semua itu tentunya sebuah misteri Ilahi tersendiri. Bukankah itu di luar kuasa manusia?
“Kedatanganmu dalam hidupku begitu cepat, sama seperti kepergianmu”
Tahun 2009 aku bertemu dengan Christine Listya Budhi Wijayanti Salasa, anak kedua dari pasangan orang tua yang sangat luar biasa, Nicodemus Wahyudi Salasa & Cecilia Shierly Ekawati Susila. First of May, pada tahun 2010 aku menikah dengannya. Segala peristiwa suka duka yang kami alami dan lalui bagaikan takdir yang tak bisa dihindarkan. Namun kami berdua tetap menjalani semuanya dengan sepenuh hati. Dari mulai kehilangan anak kembar kami yang pertama Ancilla Trima Sedayu sehari setelah dilahirkan, dirawatnya anak kembar kami yang kedua Eufrasia Tara Sedayu yang hidup dalam inkubator selama 3 bulan lamanya di rumah sakit karena prematur, hingga membesarkan eufra anak kami yang sangat spesial itu. Namun ternyata tahun 2015 adalah akhir perjalanan hidup kami bersama. Sungguh, aku hanya diberikan waktu 6 tahun untuk menyadari bahwa ia adalah seorang gadis yang memberi kehangatan bagiku untuk tetap hidup, bahwa ia adalah seorang ibu yang memberi kasih bagiku dan keluarga untuk tetap bersyukur, bahwa ia adalah seorang malaikat yang memberi sayap bagiku dan keluarga untuk tetap terbang. Hanya kebaikan lah yang selalu dapat ku wartakan perihal dirinya. Paras yang cantik, pribadi yang sangat perhatian, sosok yang selalu ceria dan penuh tawa, gadis yang sangat bertanggung-jawab, perempuan yang kerap menghadirkan empati yang mendalam, semuanya terangkum indah di dalam dirinya.
Bersamanya aku selalu merasakan mentari pagi di bukit, debur ombak di pantai, serta semilir angin di gunung. Tya memang benar-benar sang kekasih yang tak tergantikan. Dear. Hanya itulah sebutan kasih yang dapat aku berikan kepadanya setiap hari selagi memanggil serta menyebut dirinya. Pedih rasanya tatkala merasakan luka ditinggal pergi oleh seseorang seperti dirinya. Enam tahun lamanya aku bisa mengenal dan hidup dengannya adalah momen yang sungguh langka. Tak terbayangkan bila aku diberi kesempatan untuk hidup bersamanya selama 10 tahun, 20 tahun atau 50 tahun lagi dan kemudian ditinggal pergi olehnya. Aku yakin luka yang dialami kemudian tak akan sembuh oleh waktu. Agaknya Tuhan telah mengatur bahwa cukup enam tahun saja bagiku untuk menjalani kehidupan sementara bersamanya di bumi.
Finis vitae sed non amoris…Akhir dari hidup, namun bukan akhir dari cinta. Bahkan maut pun tak akan bisa memisahkan kami. Setidaknya cinta yang telah kami jalin, cinta yang telah kami rangkai, cinta yang telah kami tumbuhkan. Karena kehidupan harus tetap dilanjutkan. Aku pun harus bisa menerima kepergian seseorang yang paling dicintai di muka bumi ini dan berpasrah diri kepada Sang Pencipta.
Selalu ada pelangi setelah badai menerjang. Kini pelangi itu nyata. Tuhan ternyata menganugerahi kami seorang bayi yang cantik, sehat dan menggemaskan. Estafet kehidupan telah diberikan dari Christine Listya Sedayu kepada sang putri yang baru saja dilahirkan Eleonora Thalia Sedayu. Tuhan ternyata Maha Penghibur. Thalia. Begitulah nama bayi suci ini disebut. Sebuah nama yang diberikan oleh Tya, sang ibu yang entah mengapa begitu ngotot ingin mencari dan menamakan sendiri bayinya. Thalia memiliki arti “tumbuh dengan baik”, tentunya sebagaimana doa dan harapan yang dimaksud oleh sang ibu sendiri.
“Biarlah buku ini menjadi cermin jiwamu”
Dear…
Entah mengapa aku selalu ingin mengingatmu setiap hari ketimbang mengubur kenangan tentangmu. Ya…aku sadar memang kini engkau telah tiada. Namun bagiku engkau hanya terpisah dariku dalam batas tembok yang bernama dimensi ruang dan waktu. Dimensi yang dimiliki manusia dan dimensi yang dimiliki Sang Ilahi. Aku selalu percaya akan tiba saatnya kita bersama-sama lagi. Aku, tara, thalia beserta engkau tya dan trima yang telah pergi mendahului kami. Dimana kita semua akan menikmati sebuah taman hijau dengan mataharinya yang abadi. Karena telah tertulis bahwa sesungguhnya surga dan bumi penuh kemuliaan Tuhan. Oleh sebab itu aku ingin tetap memuliakan engkau di surga meski jauh dari bumi.
Tiada lagi yang dapat kupersembahkan kepadamu, selain sebuah buku perihal dirimu ini. Aku mencoba menghimpun tulisan-tulisan dari blog pribadimu, foto-foto dan jejak lainnya tentangmu ke dalam buku ini. Tak mungkin memang memuat seluruh catatan kehidupan yang dimiliki olehmu ke dalam sebuah buku. Namun setidaknya melalui buku ini aku dapat merasakan sebuah tempat untuk mengenang kembali segala kebaikan perihal dirimu. Aku memang memilih cara seperti itu. Agar buku ini selalu menjadi memori yang selalu menyentuh sanubari dan melekat di hatiku selamanya. Kelak, bila anak-anak kita sudah tumbuh besar nanti, mereka akan melihat dengan bangga bahwa ibu mereka adalah seorang bunda kesayangan Allah.
“Deus Providebit”. Begitulah judul buku persembahan ini demi mengenang seorang Christine Listya. Kalimat yang artinya “God will provide atau Tuhan akan menyediakan” ini sebenarnya sempat diposting oleh Tya di media sosial path miliknya, tepat sehari sebelum proses persalinan. Tya memposting foto tangan kanannya yang tengah menggenggam sebuah alat kontrol dengan latar belakang mesin pencatat grafik detak jantung bayi serta menulis statusnya di path dengan kalimat ini “Deus providebit nostro, Deus providebit quid egemus”. Saat itu ia sudah berada di rumah sakit untuk mempersiapkan kelahiran anak kedua kami.
“Selalu akan ada jawaban bagi setiap doa yang dipanjatkan”
Selalu akan ada doa yang dipanjatkan untukmu Tya. Apalagi aku percaya bahwa Tuhan selalu menjawab doa yang ditujukan untukmu. Kini aku, kedua orang tuaku yang tercinta (Agustinus Michael Kayat & Dorothea Komyana) serta kedua orang tuamu yang sangat aku hormati (Nicodemus Wahyudi Salasa & Cecilia Shierly Ekawati Susila) akan membantu untuk membesarkan kedua putri dan bidadari kita, Eufrasia Tara Sedayu dan Eleonora Thalia Sedayu. Biarlah engkau tinggal di surga keabadian demi menemani putri kita tersayang Ancilla Trima Sedayu. Berkatmu juga, kini sahabat kita yang sangat baik luar biasa, Aprilia Melissa menjadi mama kedua bagi Thalia. Setiap hari April memberikan air kehidupan dan menyusui anak kita Thalia melalui Air Susu Ibu (ASI) yang dimilikinya. Belum lagi sejumlah ASI yang diberikan oleh para ibu pendonor lainnya. Sungguh…engkaulah alasan utama mengapa begitu banyak orang baik yang hadir bagi keluarga kita. Tentunya karena engkau Tya, yang telah banyak menanam begitu banyak manusia dalam kehidupanmu. Sehingga Tuhan pun memberikan anugerah terhadap segala apa yang dirimu tuaikan kepada sesama.
Karena kata-kata dalam doa tidak mengenal waktu. Ia harus diucapkan dan dituliskan agar kita menyadari akan keabadiannya. Aku haturkan doa ini kepadamu agar kiranya segala untaian kata yang terucap ini dihembuskan oleh angin menuju angkasa. Dan kiranya langit di surga segera menangkapnya agar cium dan pelukku selalu engkau dekap erat di sana. Meski tubuh kita dipisahkan, namun jiwa kita tetap ada di tangan cinta dan dirimu yang paling aku kasihi akan semakin tampak nyata dalam kejauhan.
Tuhan…
Sang pemilik langit dan bumi,
perkenankanlah hamba-Mu Christine Listya berpulang kepada-Mu,
dan kiranya Engkau memberi keselamatan baginya di Surga.
Tiupkanlah nafasnya ke dalam kebun-Mu,
agar harum semerbaklah selamanya.
Dear Christine Listya…
Pagiku akan selalu membayangkanmu.
Siangku akan selalu mengingatmu.
Malamku akan selalu mengenangmu.
Hatiku kini terbelah dua,
satu hati yang menangis karena kepergianmu,
satu hati lainnya yang bersabar untuk kembali hidup denganmu.
Sebab seribu tahun sama seperti hari kemarin apabila berlalu.
Aku akan mulai memotret kenangan yang berasal dari cahaya hatimu,
agar engkau kelak melihat foto itu dan memajangnya dalam dinding cinta abadi bersamaku.
Dear Christine Listya…
Sejauh timur dari barat,
Setinggi langit di atas bumi,
Demikian pula kasih yang akan kupersembahkan kepadamu.
Meski sang ajal bertahta dan kini menjemputmu,
namun aku tak kuatir karena roh mu akan selalu menjadi terang bagiku.
Peluk dan cium untukmu…
Wahai cinta abadiku…
Sang Tulang Rusukku…
Aku cinta kamu selama-lamanya.














Copyright (c) 2016 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from galih sedayu.
Smartphone Photography

#45 | “Joy of Green” | Cibeunying Park, Bandung

#44| “We Are Still Young” | Kampung Dago Pojok, Bandung

#43 | “School Break” | Anggrek Park, Bandung

#42 | “This is my identity” | Cibeunying Park, Bandung

#41 | “Big Heart Street Concert” | Dago Car Free Day, Bandung

#40 | “Drive Through” | Diponegoro Street, Bandung

#39 | “Meow, Kukuruyuk & Hus” | Kampung Naga, Garut

#38 | “Looking fot Hello” | Diponegoro Street, Bandung

#37 | “Good Education” | Dago Car Free Day, Bandung

#36 | “Loving Mother” | Kampung Naga, Garut

#35 | “Sarung Fun” | Kampung Dago Pojok, Bandung

#34 | “Simple Face, Simple Living”| Kampung Naga, Garut

#33 | “Hoping for Penny” | Dago, Bandung

#32 | “Subagya” | Cihapit, Bandung

#31 | “Killing Time” | Riau Street, Bandung

#30 | “Ball Head” | Dago, Bandung

#29 | “Rush” | PVJ Mall, Bandung

#28 | “Home Without the Window” | Cilaki, Bandung

#27 | “Morning Ride” | Dago, Bandung

#26 | “Evening Talk with Bandung Mayor” | City Hall, Bandung

#25 | “Let’s Make Fun with Our Faces” | Dago, Bandung

#24 | “Rainy Moment” | BIP Gramedia, Bandung

#23 | “Walk to Walk” | Kampung Dago Pojok, Bandung

#22 | “Don’t Stand So Close To Me” | Dago, Bandung

#21 | “Gas Gas Girls” | A.Yani Street, Bandung

#20 | “Blown Red” | Suci Street, Bandung

#19 | “No Rainy Day” | Selasar Sunaryo, Bandung

#18 | “Feeling Alone” | Kampung Dago Pojok, Bandung

#17 | “Home & Work” | Dayeuh Kolot, Bandung

#16 | “Sunday Bike” | Dayeuh Kolot, Bandung

#15 | “Happines Inside” | Dayeuh Kolot, Bandung

#14 | “Human Dialoque” | Braga Street, Bandung

#13 | “Five For Mercy” | Terusan Buah Batu Street, Bandung

#12 | “Noon Break” | Cilaki Market, Bandung

#11 | “Rainy Run” | Virgin Beach, Bali

#10 | “Holiday” | Gianyar, Bali

#9 | “City Story” | Diponegoro Street, Bandung

#8 | “Mistery Lady” | Air Foto Network, Bandung

#7 | “Heaven for Everyone” | Merdeka Street, Bandung

#6 | “A Little Nap for Street Barbershop” | Sudirman Street, Bandung

#5 | “Millenium Boy” | Pasir Impun, Bandung

#4 | “Where The Street Has So Many Faces” | Riau Street, Bandung

#3 | “Sleeping Like A Log” | Cikapundung Barat Street, Bandung

#2 | “Waiting For A Ride” | Cilaki Street, Bandung

#1 | “A Little Metal” | Babakan Siliwangi Forest, Bandung
Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
“A Salty Dog” | A Photography Project by galih sedayu
Entah mengapa hati saya selalu terketuk untuk menekan tombol kamera tatkala melihat anjing-anjing yang bermain dan berkeliaran di tepi pantai. Sejauh mata menyimak, mereka bagaikan mahluk pelengkap yang turut membentuk citra keindahan dan menciptakan nikmat pesona yang beragam dari sebuah pantai. Kisah persahabatannya dengan manusia yang sudah sejak dulu kala, seolah membuat hidup dimanapun menjadi tak lengkap tanpa kehadiran mahluk ini. Sepertinya alam pantaipun sangat ingin disentuh oleh mereka. Ibarat nuansa blues yang mengalun dalam sebuah musik, mahluk inipun menjelma menjadi sang pelipur lara bagi semua orang yang mendatangi pantai. Di sini, di pantai manapun, tak boleh ada kata umpatan “Dasar anjing!”.
Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu
Thanks to Procol Harum for the Inspiring Song, “A Salty Dog”
#22KaryaFoto

Balangan Beach, Bali – 2015

66 Beach, Bali – 2015

66 Beach, Bali – 2015

Padang-Padang Beach, Bali – 2015

66 Beach, Bali – 2015

66 Beach, Bali – 2015

Balangan Beach, Bali – 2015

66 Beach, Bali – 2015

Batu Karas Beach, Pangandaran – 2015

66 Beach, Bali – 2015

Kuta Beach, Bali – 2015

66 Beach, Bali – 2015

66 Beach, Bali – 2015

Batu Karas Beach, Pangandaran – 2015

Balangan Beach, Bali – 2015

Balangan Beach, Bali – 2015

Balangan Beach, Bali – 2015

Balangan Beach, Bali – 2015

Padang-Padang Beach, Bali – 2015

Virgin Beach, Bali – 2013

Virgin Beach, Bali – 2013

Virgin Beach, Bali – 2013
Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Indonesia Berdendang Bersahutan di Penang | Indonesia Festival | 28-29 November 2015, Penang, Malaysia
Teks : galih sedayu
Foto : Dudi Sugandi, galih sedayu, Pam Ardinugroho & Ruli Suryono
Indonesia adalah negara yang penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Barangkali inilah salah satu alasan mengapa Indonesia mendapat kehormatan untuk mempromosikan wisata tanah air kita di Penang, Malaysia. Selama dua hari, dari tanggal 28-29 November 2015, sejumlah kolaborator yang terdiri dari pekerja kreatif di bidang musik, seni pertunjukkan, tari, permainan anak tradisional, fotografi, video, serta desain hadir di Penang dalam sebuah perhelatan yang bernama Indonesia Festival. Mewakili komunitas musik ada nama 4 Peniti {Deconstructive, Logarithm & Connecting Band}, Homogenic {Electronic Band} dan Street Traveller {Folks & Blues Band}. Kemudian ada Tantanggaranda83 yang mewakili Bandung dari komunitas seni pertunjukkan, Komunitas Hoong yang mewakili komunitas permainan anak tradisional, serta Wanna Be Dancer yang mewakili komunitas tari. Terakhir mewakili Kota Malang yang turut berkolaborasi yaitu Komunitas Malang Armore Carnival. Para kolaborator ini menyemarakkan acara Indonesia Festival yang mengusung tema “Sharing Our Similarities, Celebrating Our Differences”. Indonesia Festival ini diselenggarakan oleh Wonderful Indonesia dan Kementrian Pariwisata Indonesia bekerja sama dengan Merah Putih Persada dan Ruang Kolaborasa dari Bandung. Kebetulan saya dipercaya untuk menjadi Creative Director dari Indonesia Festival tersebut.
Padang Esplanade atau Padang Kota Lama, sebuah lapangan rumput hijau nan luas di kota Georgetown, Penang menjadi sebuah arena kolaborasa dan ruang kreativitas bagi kegiatan Indonesia Festival tersebut. Padang Esplanade ini menghadap ke arah laut dimana sejauh mata memandang tampak jembatan Pulau Penang yang mengubungkan Bayan Lepas di Pulau Penang dengan Seberang Prai di daratan Malaysia. Selain itu Penang City Hall atau Dewan Bandaraya Pulau Pinang, sebuah bangunan bersejarah yang dibuka sejak tahun 1903, menjadi salah satu latar pemandangan yang unik jika kita menginjakkan kaki di area hijau Padang Esplanade. Dekorasi Indonesia Festival inipun disuguhkan dengan apik dari mulai tenda peserta pameran yang berwarna-warni, instalasi balon dalam skala gigantik, infographic wall perihal pariwisata indonesia, outdoor cinema, photo booth, serta pameran foto. Belum lagi ratusan balon cair {bubbles} yang beterbangan di tiup angin, semakin menjadikan atmosfir yang segar di area tersebut.
Meski para kolaborator Indonesia Festival ini diundang ke Penang sebagai tamu atau pengisi acara, namun pada kenyataannya mereka tetap berlaku dan bertindak seperti pemilik acara. Barangkali itulah semangat memiliki Indonesia yang ditunjukkan oleh kita semua. Sejumlah kendala yang ditemui di lapangan saat penyelenggaraan acara, tanpa berpikir panjang segera direspon oleh mereka dengan solusi, bukan dengan keluhan. Tak heran bila di sana grup musik 4 Peniti terlihat ikut membantu menyiapkan dan mengatur sound system panggung, tim dokumentasi yang terlihat membantu mengatur dan menyusun properti dekorasi acara, serta komunitas hoong yang ikut membantu membersihkan sampah. Semuanya dilakukan dengan senang hati dan penuh ikhlas. Saat pembukaan acara, ribuan kolecer menjadi simbol pemersatu sekaligus memanggil semua pengunjung agar dapat menari dan bergembira bersama di tengah lapangan. Meskipun cuaca matahari yang menyengat di kala siang dan guyuran hujan setiap malam di Padang Esplanade, namun itu semua tidak menyurutkan semangat dan keceriaan tim kami untuk bisa menghibur warga Penang. Bahkan menari dan berdansa di saat hujan turun menjadi sebuah atraksi yang memikat sembari ditemani alunan musik yang dihadirkan oleh para musisi Indonesia.
Dua hari di Penang memang terasa singkat bagi para kolaborator Indonesia Festival. Namun tawa, canda dan suka cita yang dihadirkan di sana adalah jejak yang selalu membekas di hati. Apalagi esensi sebuah festival internasional adalah mewartakan nilai-nilai kebaikan yang dimiliki oleh sebuah bangsa. Dalam hal ini, kita semua mencoba memberikan pesan dan kesan yang baik demi Indonesia, demi tanah air, demi bumi pertiwi. Keramahan dan kehangatan, solidaritas dan toleransi, kekayaan dan ragam budaya semestinya dapat menjadi ciri khas dan karakter bagi bangsa kita. Tentunya dalam persaudaraan kita mesti percaya bahwa ia adalah benteng terakhir tatkala bangsa kita mengalami kesulitan. Oleh karenanya, tetaplah membuat simpul yang erat bagi dunia.
***
Text : galih sedayu
Photography : Dudi Sugandi, galih sedayu, Pam Ardinugroho & Ruli Suryono
Indonesia is a country full of joy and happiness. Perhaps this is one reason why Indonesia has the honor to promote our country tour in Penang, Malaysia. For two days, from 28-29 November 2015, a number of collaborators consisting of creative workers in music, performing arts, dance, traditional children’s games, photography, video, and design were present at Penang in an event called Indonesia Festival. Representing the music community there are the names 4 Peniti {Deconstructive, Logarithm & Connecting Band}, Homogenic {Electronic Band} and Street Traveler {Folks & Blues Band}. Then there is Tantanggaranda83 representing Bandung from the performing arts community, Hoong Community representing the traditional children’s game community, as well as Wanna Be Dancer representing the dance community. Last representing the Malang City who also collaborated the Malang Community Armore Carnival. These collaborators are enlivening the Indonesia Festival event with the theme “Sharing Our Similarities, Celebrating Our Differences”. Indonesia The festival is powered by Wonderful Indonesia and the Indonesian Ministry of Tourism in collaboration with Merah Putih Persada and Ruang Kolaborasa. I happen to be trusted to become Creative Director of Indonesia Festival.
Padang Esplanade or Padang Kota Lama, a large green grass field in Georgetown city, Penang becomes an arena of collaboration and creativity space for the activities of Indonesia Festival. The Esplanade is facing towards the sea where as far as the eye can see the Penang Island bridge that connects Bayan Lepas in Pulau Penang with Seberang Prai in mainland Malaysia. In addition Penang City Hall or Pulau Pinang Airport, a historic building that opened since 1903, became one of the unique scenery setting if we set foot in the green area of Padang Esplanade. The decoration of Indonesia Festival beautifully presented from the start of the exhibition tent colorful, the installation of balloons in gigantic scale, infographic wall about Indonesia tourism, outdoor cinema, photo booth, and photo exhibition. Not to mention the hundreds of liquid bubbles that fly in the wind, making the atmosphere fresh in the area.
Although the Indonesian collaborators of this Festival are invited to Penang as guests or performers, in reality they remain in effect and act like the owner of the event. Perhaps that’s the spirit of having Indonesia shown by us. A number of obstacles encountered in the field during the event, without a second thought immediately responded by them with a solution, not with a complaint. It’s no wonder there’s a group of 4 Peniti musicians helping to prepare and organize the stage sound system, a team of documentation that looks to help organize and organize the decoration of the show, as well as the hoong community who helped clean up the trash. Everything is done with pleasure and full of sincerity. At the opening ceremony, thousands of kolecers became a unifying symbol as well as summoning all visitors to dance and have fun together in the middle of the field. Despite the stinging sun in the afternoon and the rain every night at Padang Esplanade, but it does not lowered the spirit and joy of our team to be able to entertain the citizens of Penang. Even dancing and dancing in the rain fell into a charming attraction while accompanied by the music presented by Indonesian musicians.
Two days in Penang was short for Indonesian Festival collaborators. But the laughter, jokes and joys presented there is a trail that always made an impression on the heart. Moreover, the essence of an international festival is to proclaim the values of goodness owned by a nation. In this case, we all try to give a message and a good impression for Indonesia, for the homeland, for the sake of the earth. Friendliness and warmth, solidarity and tolerance, richness and diversity of cultures should be characteristic and character for our nation. Surely in brotherhood we must believe that he is the last bastion when our nation is experiencing difficulties. Therefore, keep a tight rope for the world.



















































Copyright (c) by Ruang Kolaborasa
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from Ruang Kolaborasa.





