Posts Tagged ‘galih sedayu’
“Upaya Menyelesaikan Bandung” | Foto Cerita Perjalanan Fiki Satari Sebagai Bakal Calon Wali Kota Bandung 2018 – 2023
Teks & Foto : galih sedayu
9 tahun lamanya saya menjalin persahabatan dengan Fiki Satari. Tepatnya tahun 2008 di Kota Bandung, dimana saya dipertemukan serta diperkenalkan dengan seorang Fiki Satari bersamaan dengan Ridwan Kamil yang kini menjadi Wali Kota Bandung. Momen Helar Fest, sebuah festival kota yang digagas oleh Bandung Creative City Forum {BCCF} menjadi saksi waktu awal perkenalan saya dengan kedua orang yang kini menjadi sahabat baik tersebut. Ridwan Kamil & Fiki Satari adalah dua orang sahabat yang banyak menghadirkan perubahan dalam hidup saya kelak. Berkat daya magnet mereka berdua, saya pun akhirnya masuk ke dalam “Jebakan Batman” dan terjun menjadi “Volunteer” di organisasi nirlaba BCCF yang baru mereka dirikan pada tahun itu. Saat itu Ridwan Kamil menjadi ketua BCCF, Fiki Satari menjadi Direktur Program BCCF dan saya pun langsung diminta menjadi Sekertaris Program BCCF. Entah kenapa saya seperti dihipnotis dan langsung terpikat untuk bergabung dengan pergerakkan mereka serta terlibat aktif dalam menjalankan program-program yang kelak tercatat manis oleh sejarah Kota Bandung. Dari mulai aktivasi ruang publik, kampanye lingkungan hidup, pendidikan kreativitas, pemberdayaan warga kota, hingga jejaring komunitas, semuanya dilakoni dengan senang hati.
Pada tahun 2013, ternyata takdir menyatakan pesannya pada sahabat saya Ridwan Kamil untuk menjadi Wali Kota Bandung hingga tahun 2018. Bersamaan dengan berakhirnya masa kepemimpinan Ridwan Kamil sebagai ketua BCCF dan dimulainya tanggung jawab baru sebagai Wali Kota Bandung, maka setelah itu tongkat estafet kepemimpinan BCCF periode 2013 – 2018 dipegang oleh Fiki Satari. Saya pun menggantikan Fiki Satari sebagai Direktur Program BCCF. Alhasil setelah itu, saya banyak menghabiskan waktu bersama Fiki Satari di organisasi BCCF dengan segudang programnya. Dengan program-program unggulan BCCF di era Fiki Satari yakni Helarfest, Kampung Kreatif, Simpul Institute, dan DesignAction.bdg, organisasi ini bertransformasi menjadi sebuah gerakan komunitas yang lebih matang dengan menerapkan metodologi “Design Thinking” serta konsep “Urban Acupuncture” dalam melahirkan jejak-jejak kreativitas bagi Kota Bandung. Kini BCCF semakin pesat berkembang dan menjadi pusat perhatian komunitas lain di seluruh Indonesia bahkan di seluruh dunia.
Waktu demi waktu berlalu, dan karena waktu itu pula saya semakin mengenal pribadi seorang Fiki Satari. Bagi saya, Fiki Satari adalah seorang pria yang penuh tanggung-jawab, seorang pemuda yang kreatif, seorang ayah yang humanis, serta seorang sahabat yang tulus. Dari Fiki Satari saya banyak belajar tentang bagaimana membangun sebuah tim, bagaimana melahirkan kolaborasi, dan bagaimana mencari solusi dari setiap permasalahan. Ia seorang pemuda yang penuh energi, memiliki semangat dan pantang menyerah. Fiki Satari menjadi semacam perekat dan tali simpul yang baik bagi keberlangsungan sebuah persahabatan maupun organisasi. “Menyelesaikan sesuatu” barangkali adalah nama tengah yang layak disandang olehnya.
Seabrek kesibukan dan tanggung jawab digeluti oleh Fiki Satari demi kecintaan dan “Rasa Nyaah” nya terhadap Kota Bandung. Fiki Satari adalah Pemilik, Produser Eksekutif M4AI Records Independent Music Company (2002 – sekarang), dengan The Milo sebagai salah satu artist yang diorbitkan. Fiki Satari adalah Pelopor Tim Kelompok Kerja Ekonomi Kreatif Rumah Transisi Jokowi-JK (2012), yang mengampu tugas untuk menyusun lembar kerja bidang Ekonomi Kreatif. Fiki Satari adalah Formatur & Pengarah Indonesia Creative Cities Network / ICCN (2012 – sekarang), sebuah jejaring kabupaten & kota kreatif di Indonesia. Fiki Satari adalah Ketua Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Kota Bandung (2017 – 2019) yang diinisiasi oleh PBNU. Fiki Satari adalah Host yang mengampu acara bincang-bincang di Radio PRfm dengan tajuk Muda.bdg (2013 – 2017). Fiki Satari adalah Pemilik PT. Idealog Komunikasi Kreatif (2015 – sekarang). Fiki Satari adalah Ketua Karang Taruna Kota Bandung (2014 – 2019). Fiki Satari adalah Mentor Creative & Cultural Entrepreneurship Program, Master of Business Administration, Institute of Technology Bandung / CCE MBA ITB (2013 – 2015). Fiki Satari adalah Ketua Tim Dossier UNESCO Creative Cities Network Management Team for Bandung (2012 – 2015), dimana pada tanggal 11 Desember 2015 UNESCO menerima Bandung dalam Jejaring Kota Kreatif tersebut. Fiki Satari adalah Dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran Bandung (2008 – sekarang). Fiki Satari adalah ketua Kreative Independent Clothing Kommunity / KICK (2006 – 2009), yang merupakan gabungan para pelaku indutri clothing. Fiki Satari adalah pendiri Airplane Systm (1998 – sekarang), salah satu brand fesyen lokal kebanggaan Bandung. Dan masih banyak lagi “Fiki Satari adalah” lainnya, yang tentunya tak bisa disebutkan satu persatu.
Namun ternyata Sang Semesta membuka sebuah jalan lain bagi Fiki Satari di tahun 2017 ini. Dengan tekad yang bulat, Fiki Satari menyatakan dan memberanikan dirinya untuk maju sebagai bakal calon Wali Kota Bandung periode 2018 – 2023. Meski ia sadar bahwa keputusannya adalah sebuah proses dan perjalanan panjang, namun ia siap mengambil tanggung jawab itu dan akan memulai pertarungan tersebut dengan segala resikonya. Baginya alasan yang paling kuat adalah karena Bandung itu sendiri. Kota yang menjadikannya manusia hingga seperti sekarang. Kota yang sangat layak untuk diperjuangkan.
Pada tanggal 6 Juli 2017, Fiki Satari mulai mendaftarkan dirinya ke kantor Partai Demokrat sebagai salah satu bakal calon Wali Kota Bandung. Kemudian pada tanggal 6 Agustus 2017, Fiki Satari mendapat kesempatan untuk mengikuti Konvensi Bakal Calon Wali Kota Bandung 2018 – 2023 dari Partai Demokrat yang bertempat di Gedung GOR Padjajaran Bandung. Di depan peserta yang memadati acara konvensi tersebut, Fiki Satari memaparkan visi & misinya sebagai bakal calon pemimpin Kota Bandung dengan sederhana dan jelas. Di akhir acara, orang pertama yang ia hampiri dan ia peluk adalah ibunya. Karena ia tau benar bahwa tak mungkin menjalani ini semua tanpa restu dan doa dari ibunya. Setelah bertemu dengan istri dan anak-anaknya, Fiki Satari pun menghampiri para pendukungnya. Kemudian ia mengutarakan agar kita semua harus bisa menikmati prosesnya dalam suasana yang penuh damai. Ia pun menghimbau agar tak boleh ada kata benci atau hujatan yang keluar dari para pendukungnya yang dilontarkan terhadap para bakal calon Wali Kota Bandung lainnya.
Teruntuk sahabatku Kang Fiks…
Doa terbaik akan selalu saya lantunkan setiap hari untuk menemani perjalanan Kang Fiks yang berliku ini. Kiranya tetap berkarya, tetap mewarta, tetap bercahya demi Bandung. Jika Sang Semesta belum menentukan takdirnya agar Kang Fiks menjadi pemimpin Kota Bandung, maka terimalah dan tetap melakukan sesuatu untuk Bandung. Namun jika Sang Semesta menyatakan takdirnya sehingga kelak Kang Fiks menjadi pemimpin Kota Bandung, maka bersyukurlah dan pimpinlah Bandung dengan jejak nyata. Agar cita-cita menyelesaikan Bandung menjadi tuntas. Agar semangat melayani Bandung menjadi pemantiknya. Karena Bandung bukan hanya kota, namun Bandung adalah kita. Karena kita Bandung akan tetap ada.


































Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
“Bandung: We Built This City” | A Photography Project by galih sedayu
“We Built This City” adalah sebuah diari & observasi visual sederhana yang dilakukan dengan cara mengintip sepenggal momen yang saya alami dalam keseharian hidup di Kota Bandung. Rangkaian bingkai serta adegan beku yang hadir di sini, dipersembahkan bagi kota yang kerap menginspirasi serta mengilhami catatan kehidupan saya. Dimana empati menjadi pemantiknya dan pesan menjadi amanahnya. Agar kemudian aksi nyata menjadi ujung harapan bagi saya untuk dapat terus mewartakan kebaikan perihal Kota Bandung. Meski saya sadar bahwa fotografi tak kan mungkin mengubah sebuah kota, namun saya yakin bahwa fotografi dapat mengubah cara kita melihat sebuah kota. Karena Bandung bukan hanya kota, namun Bandung adalah kita. Karena kita Bandung ada. Kiranya Bandung senantiasa menjadi sebuah kota yang penuh dengan daya kolaborasi atas nama cinta.
***
“We Built This City” is a simple visual diary & observation done by peeking a moment that I experienced in daily life in Bandung. The series of frames and frozen scenes that are present here, dedicated to the city that often inspires my life record. Where empathy becomes the lighter and the message becomes the responsibility. In order the real action to be my goals for me to continue proclaiming the goodness of Bandung. Although I realize that photography is not possible to change a city, but I believe that photography can change the way we see a city. Because Bandung is not just a city, but Bandung is about us. Because of us, Bandung is always there. May Bandung always be a city which have full of power of collaboration in the name of love.
***
Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu
Thanks to Starship for the Inspiring Song, “We Built This City”
#80Karya Foto #80Photographs

The Hallway Space, Kosambi, Bandung – 3 April 2021

C59 Factory, Cigadung, Bandung – 13 December 2018

Warung Kopi Purnama, Alketeri, Bandung – 8 October 2018

Cihampelas, Bandung – 29 May 2018

Dalem Kaum, Bandung – 12 January 2018

Kukumama Cafe, Riau Boulevard, Bandung – 23 September 2017

Kiaracondong, Bandung – 22 July 2017

Cibangkong, Bandung – 15 July 2017

Cijaringao, Bandung – 2 July 2017

Lengkong, Bandung – 11 June 2017

Arcamanik, Bandung – 10 June 2017

History Park, Bandung – 3 April 2017

Cikutra, Bandung – 3 April 2017

Asia Africa, Bandung – 2 April 2017

Sudirman, Bandung – 22 March 2017

Supratman, Bandung – 7 February 2017

Antapani Bridge, Bandung – 25 January 2017

PVJ Mall, Bandung – 11 September 2015

Banceuy, Bandung – 26 May 2015

Alun-Alun, Bandung – 25 April 2015

Pasar Seni ITB, Ganesha, Bandung – 23 November 2014

Champion Celebrating of Persib, Veteran, Bandung – 9 November 2014

Film Park, Balubur, Bandung – 16 September 2014

Anggrek Boulevard, Bandung – 24 May 2014

Gasibu, Bandung – 23 March 2014

Photography Park, Cempaka Boulevard, Bandung – 15 March 2014

Music Park, Centrum, Bandung – 16 February 2014

Braga, Bandung – 8 January 2014

Skate Park, Pasopati, Bandung – 5 January 2014

Cilaki, Bandung – 30 December 2013

Cicadas, Bandung – 8 December 2013

Kampung Cicukang, Bandung – 1 December 2013

Babakan Asih, Bandung – 23 November 2013

Pasundan, Bandung – 21 November 2013

Cibeunying Park, Bandung – 30 October 2013

Dago Pojok, Bandung – 27 October 2013

Dago Pojok, Bandung – 27 October 2013

Dago Terminal, Bandung – 20 September 2013

Braga, Bandung – 24 July 2013

Jepang Cave, Bandung – 21 July 2013

Pulosari, Bandung – 17 July 2013

Ganesha Park, ITB, Bandung – 15 December 2012

Leuwianyar, Bandung – 21 October 2012

Cicukang, Bandung – 7 October 2012

Lapangan Bawet, Balubur, Bandung – 23 September 2012

Taman Sari, Bandung – 22 September 2012

Dago, Bandung – 3 June 2012

Cilaki, Bandung – 13 May 2012

Dayeuh Kolot, Bandung – 22 April 2012

Saparua, Bandung – 26 February 2012

Braga, Bandung – 25 September 2011

Kiaracondong, Bandung – 20 October 2011

Dago, Bandung – 13 February 2011

Buah Batu, Bandung – 4 January 2011

Aceh, Bandung – 29 November 2010

Cikapundung, Bandung – 28 November 2010

Banceuy, Bandung – 28 November 2010

Gedung Sate, Bandung – 7 August 2010

Gedung Sate, Bandung – 3 July 2010

Padjajaran, Bandung – 24 January 2010

Taman Pramuka, Bandung – 12 November 2009

Arcamanik, Bandung – 22 March 2009

Ciwalk, Bandung – 26 January 2009

Palasari, Bandung – 8 January 2009

Istana Plaza, Bandung – 1 January 2009

Aceh, Bandung – 28 December 2008

ABC, Bandung – 20 September 2008

Progo, Bandung – 7 July 2008

Riau, Bandung – 21 June 2008

Cihapit, Bandung – 15 May 2008

Suci, Bandung – 25 March 2008

Buah Batu, Bandung – 3 March 2008

Cileunyi, Cinunuk, Bandung – 2 February 2008

Merdeka Boulevard, Bandung – 20 December 2007

Riau Boulevard, Bandung – 15 October 2007

Braga, Bandung – 15 October 2007

Diponegoro, Bandung – 17 June 2006

Asia Africa, Bandung – 30 December 2005

Braga, Bandung – 30 December 2005

Dago, Bandung – 31 December 2000
Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
“Ocean Eyes” | A Photography Project by galih sedayu
Pada mulanya samudera.
Samudera kemudian menghantarkan desiran ombak menuju pantai.
Pantai pun menjadi pesona keajaiban bagi siapapun yang datang.
Datang untuk melepas penat seraya mengucap syukur.
Syukur dalam kata dan laku.
Laku yang diikuti kepasrahan diri kepada Semesta.
Semesta yang karenanya kita senantiasa beroleh kecukupan.
Kecukupan rejeki yang disertai dengan berkat kesehatan dan kebahagiaan.
Kebahagiaan seperti tetesan embun yang berhimpun dalam lautan.
Lautan yang menjadi layar biru raksasa perihal cerita hidup.
Hidup yang mengingatkan kita bahwasanya manusia hanyalah sebutir pasir.
Pasir yang begitu kecil dalam luasnya samudera.
***
In the beginning was the ocean.
The ocean then sends the waves crashing towards the beach.
The beach is also a magical charm for anyone who comes.
Come to unwind while giving a gratitude.
Gratitude in word and the deed.
The deed followed by submission to the Universe.
The universe for which we always have sufficiency.
Sufficiency of fortune accompanied by blessings of health and happiness.
Happiness is like dew drops that gather in the ocean.
The ocean becomes a giant blue screen about story of life.
Life that reminds us that humans are just a grain of sand.
The sand is so small in the vastness of the ocean.
***
Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu
Thanks to Billie Eilish for the Inspiring Song, “Ocean Eyes”
#34KaryaFoto #34Photographs

Botu Barani Beach, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo – 17 November 2023

Pasir Panjang Beach, Kupang, East Nusa Tenggara – 25 August 2023

Pintar Asia Beach, Maumere, East Nusa Tenggara – 24 August 2023

Cenderawasih Beach, Polewali Mandar, West Sulawesi – 11 August 2023

Alam Indah Beach, Tegal, Central Java – 4 April 2023

Kawaliwu Beach, Larantuka, Flores Island, Indonesia – 5 October 2022

Kota Raja Beach, Ende, East Nusa Tenggara – 30 May 2022

Escape Beach, Labuan Bajo, East Nusa Tenggara – 25 May 2022

Kelapa Lima Beach, Kupang, East Nusa Tenggara – 30 March 2022

Anvaya Beach, Kuta, Bali – 13 June 2021

Jerman Beach, Kuta, Bali – 12 June 2021

Boulevard Beach, Manado, North Sulawesi – 31 May 2021

Candi Dasa Beach, Karangasem, Bali – 29 November 2020

Matahari Terbit Beach, Sanur, Bali – 28 November 2020

Semawang Beach, Sanur, Bali – 27 November 2020

Amahusu Beach, Maluku – 8 November 2020

Pintu Kota Beach, Maluku – 8 November 2020

Tidore Beach, North Maluku – 21 December 2019

Jikomalamo Beach, North Maluku – 30 July 2019

Ternate Beach, North Maluku – 29 July 2019

Sulamadaha Beach, North Maluku – 18 November 2018

Ternate Beach, North Maluku – 17 November 2018

Seger Beach, Lombok – 27 August 2016

Blue Point Beach, Bali – 5 July 2015

Padang-Padang Beach, Bali – 5 July 2015

Lovina Beach, Singaraja, Bali – 4 July 2015

Balangan Beach, Jimbaran, Bali – 2 July 2015

Pangandaran Beach, West Java – 28 January 2015

Bulbed Beach, Madasari, Pangandaran – 27 January 2015

Batu Hiu Beach, Pangandaran – 27 January 2015

Parang Tritis Beach, Jogjakarta – 3 March 2014

Virgin Beach, Karangasem, Bali – 15 March 2013

Kuta Beach, Bali – 10 March 2013

Kuta Beach, Bali – 7 December 2001
Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
“Where The Streets Have No Name” | A Photography Project by galih sedayu
Pada mulanya ruang.
Ruang yang tidak dibatasi oleh waktu.
Waktu kemudian dihitung oleh manusia.
Manusia memilih sebuah jalan dengan ribuan cerita.
Cerita pun dicuplik oleh cahaya.
Cahaya melahirkan momen.
Momen menawarkan makna.
Makna yang ditafsir dalam nama kebebasan.
Kebebasan yang dilandasi keterampilan, wawasan, dan empati.
Empati akhirnya membentuk sikap.
Sikap yang sejatinya membuat kita senantiasa bersahaja.
Bersahaja dalam menuangkan karya .
***
In the beginning was the space.
The Space that is not limited by time.
Time is then calculated by humans.
Humans choose a path with thousands of stories.
The stories are also captured by the light.
Light gives birth to moments.
Moments offer the meaning.
The meaning interpreted in the name of freedom.
Freedom based on skills and insight.
Insights ultimately shape attitudes.
Attitudes that actually makes us always humble.
Humble in giving a work.
***
Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu
Thanks to U2 for the Inspiring Song, “Where The Streets Have No Name”
#71KaryaFoto #71Photographs

Botubarani Village, Gorontalo, Indonesia – 17 November 2023

Hol Sulamadaha, Ternate, North Maluku, Indonesia – 28 Oktober 2023

Martapura River, Bajnarmasin, South Kalimantan, Indonesia – 18 Oktober 2023

Bogowonto River, Purworejo, Central Java, Indonesia – 15 July 2023

Larantuka, Flores, East Nusa Tenggara, Indonesia – 4 October 2022

Banjarmasin, South Kalimantan, Indonesia – 20 July 2022

Kampung Wologai, Flores, East Nusa Tenggara, Indonesia – 30 May 2022

Liang Dara Village, Labuan Bajo, East Nusa Tenggara, Indonesia – 27 May 2022

Waterfront, Labuan Bajo, East Nusa Tenggara, Indonesia – 27 May 2022

Kupang, East Nusa Tenggara, Indonesia – 30 March 2022

Kuta, Bali, Indonesia – 16 February 2022

Singkawang, West Kalimantan, Indonesia – 23 October 2021

Kapuas River, Pontianak, West Kalimantan, Indonesia – 4 October 2021

Kuta, Bali, Indonesia – 13 June 2021

Bangli, Bali, Indonesia – 28 November 2020

Karangasem, Bali, Indonesia – 27 November 2020

Banyuwangi, East Java, Indonesia – 4 November 2020

Tidore, North Maluku, Indonesia – 21 December 2019

The Emirates Stadium, Hornsey Rd, London N7 7AJ, United Kingdom – 7 September 2019

Tower Bridge Rd, London SE1 2UP, United Kingdom – 7 September 2019

Cromwell Rd, South Kensington, London SW7 5BD, United Kingdom – 7 September 2019

Camden Market, London, United Kingdom – 7 September 2019

Tower Bridge Rd, London SE1 2UP, United Kingdom – 6 September 2019

Mathew Street, Liverpool, United Kingdom – 2 September 2019

Liverpool, United Kingdom – 2 September 2019

The Beatles Pier Head, Liverpool L3 1BY, United Kingdom – 2 September 2019

Albert Dock, Liverpool, United Kingdom – 2 September 2019

Albert Dock, Liverpool, United Kingdom – 2 September 2019

Manchester, United Kingdom – 1 September 2019

Manchester, United Kingdom – 31 August 2019

London, United Kingdom – 31 August 2019

Nicolas Street, London, United Kingdom – 31 August 2019

Fulham Rd., London SW6 1HS, United Kingdom – 30 August 2019

Fulham Rd., London SW6 1HS, United Kingdom – 30 August 2019

Palmer Street, London, UK – 30 August 2019

Sofifi, North Maluku, Indonesia – 29 July 2019

Ternate, North Maluku, Indonesia – 17 November 2018

Osaka, Japan – 1 May 2018

Nagoya, Japan – 26 April 2018

Shirakawa-go, Japan – 4 February 2018

Victoria Park, Hongkong – 1 February 2018

Pontianak, Kalimantan, Indonesia – 31 October 2017

Bangkok, Thailand – 27 October 2017

Bangkok, Thailand – 27 October 2017

Bangkok, Thailand – 27 October 2017

Bangkok, Thailand – 27 October 2017

Bangkok, Thailand – 27 October 2017

Bangkok, Thailand – 27 October 2017

Bangkok, Thailand – 27 October 2017

Makassar, Sulawesi, Indonesia – 6 September 2017

Singapore – 19 December 2016

Bangkok, Thailand – 17 December 2016

Bangkok, Thailand – 16 December 2016

Bangkok, Thailand – 16 December 2016

Bangkok, Thailand – 16 December 2016

Malang, East Java, Indonesia – 30 March 2016

Lembang, West Java, Indonesia – 9 March 2016

Penang, Malaysia – 26 November 2015

Solo, Central Java, Indonesia – 25 October 2015

Jogjakarta, Central Java, Indonesia – 20 August 2014

Temanggung, Central Java, Indonesia – 19 August 2014

Hamamatsu, Japan – 10 June 2014

Tokyo, Japan – 9 June 2014

Braga, Bandung, Indonesia – 11 January 2014

Ubud, Bali, Indonesia – 11 March 2013

Garut, West Java, Indonesia – 20 January 2011

Tomohon, Manado, Sulawesi, Indonesia – 16 November 2008

Pangalengan, West Java, Indonesia – 2 March 2008

Cipanas, Puncak, West Java, Indonesia – 18 February 2008

Batang, Central Java, Indonesia – 1 February 2007

Semarang, Central Java, Indonesia – 29 January 2007

Kuta, Bali, Indonesia – 9 December 2001
Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
“I Talk To The Trees” | A Personal Photo Project by galih sedayu
Bagi saya pohon adalah sang penyedia sekaligus guru yang hening. Kehadirannya seringkali tak disadari oleh kita sebagai mahluk hidup yang konon paling sempurna. Padahal sang pohon mengajarkan banyak hal meski tak pernah terucap lantang. Manusia kerap enggan menghormati pohon padahal dari sanalah sumber nafas kehidupan. Karena pohon kita beroleh oksigen dan beroleh kesempatan menghirup udara bersih. Di saat teriknya matahari, pohon menjadi naungan bagi manusia untuk berteduh. Tak ada mahluk yang lebih hijau di dunia selain pohon. Sesungguhnya pohon adalah dekorasi semesta yang terindah dan paling alami di planet bumi ini. Karenanya marilah kita mulai mendengarkan pohon, selain menanam tentunya. Agar kita dapat belajar untuk tumbuh menjadi akar, batang & daun sebuah pohon sehingga pada akhirnya mampu menghasilkan buah yang baik. Dari buah yang baik akan melahirkan biji pohon yang baik. Begitulah seterusnya agar kehidupan terus mengalir serta berlanjut.
***
For me the tree is the provider and silent teacher. Its presence is often not realized by us as the most perfect creature. Whereas the tree teaches many things though never spoken aloud. People often do not respect the tree even though its existence is very important to life. Because the trees we get pure oxygen, because the trees we also breathe clean air. In the heat of the sun or the swift rain, sometimes we are often sheltered under the shade of trees. There is no more green thing in the world than a tree. Truly the tree is the most beautiful and natural universe decoration on planet earth. So let’s start listening to the tree. Besides planting of course. So that we can learn to grow into roots, stems & leaves of a tree so that in the end it is able to produce good fruit. From good fruit will give birth to a good tree seed. So it goes on to keep life flowing and continuing.
***
Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu
Thanks to Chet Baker for the Inspiring Song, “I Talk To The Trees”
#58KaryaFoto #58Photographs

Ende, East Nusa Tenggara – 29 May 2022

Kelimutu Park, Ende, East Nusa Tenggara – 29 May 2022

Cipanas, West Java – 23 December 2021

London, England – 30 August 2019

London, England – 29 August 2019

Hol Sulamadaha, Ternate, Indonesia – 18 November 2018

Cengkeh Avo, Ternate, Indonesia – 18 November 2018

Cengkeh Avo, Ternate, Indonesia – 18 November 2018

Danau Tolire, Ternate, Indonesia – 17 November 2018

Nagoya, Japan – 28 April 2018

Shirakawa-go, Japan – 4 February 2018

Shirakawa-go, Japan – 4 February 2018

Shirakawa-go, Japan – 4 February 2018

Shirakawa-go, Japan – 4 February 2018

Nagoya, Japan – 2 February 2018

Victoria Park, Hongkong – 1 February 2018

Victoria Park, Hongkong – 1 February 2018

Puncak Bintang, Caringin Tilu, Bandung – 16 June 2017

Puncak Bintang, Caringin Tilu, Bandung – 16 June 2017

Taman Bunga Nusantara, Cipanas, Puncak – 1 June 2017

Singapore – 19 December 2016

Manggroove Forest, Bali – 6 July 2015

Manggroove Forest, Bali – 6 July 2015

Manggroove Forest, Bali – 6 July 2015

Manggroove Forest, Bali – 6 July 2015

Tahura Forest, Bandung – 17 February 2015

Batu Karas, Pangandaran – 28 January 2015

Green Canyon, Pangandaran – 27 January 2015

Batu Hiu Beach, Pangandaran – 27 January 2015

Cipaganti, Bandung – 19 September 2014

Taman Bunga Nusantara, Cipanas, Puncak – 15 June 2014

Tahura Forest, Bandung – 29 July 2013

Tahura Forest, Bandung – 29 July 2013

Tahura Forest, Bandung – 29 July 2013

Tahura Forest, Bandung – 21 July 2013

Tahura Forest, Bandung – 21 July 2013

Karang Asem, Bali – 15 March 2013

Karang Asem, Bali – 13 March 2013

Alun-Alun, Bandung – 10 July 2012

Alun-Alun, Bandung – 10 July 2012

Setiabudhi, Bandung – 25 April 2012

Boko Temple, Central Java – 14 October 2011

Boko Temple, Central Java – 14 October 2011

Boko Temple, Central Java – 14 October 2011

Babakan Siliwangi World City, Bandung – 11 September 2011

Gunung Padang, Cianjur – 10 June 2011

Kampung Naga, Garut – 17 February 2011

Kampung Naga, Garut – 17 February 2011

Tomohon, Manado, Borneo – 14 November 2008

Tomohon, Manado, Borneo – 14 November 2008

Tomohon, Manado, Borneo – 14 November 2008

Tomohon, Manado, Borneo – 14 November 2008

Tomohon, Manado, Borneo – 14 November 2008

Tomohon, Manado, Borneo – 14 November 2008

Bandung – 29 July 2008

Bandung – 14 May 2008

Bandung – 4 February 2008

Kuta, Bali – 9 December 2001
Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Menangkap Pikiran, Merasakan Semesta | Teks Pengantar “Mind Reflection” | Art Exhibition by Andra Semesta
Menangkap Pikiran, Merasakan Semesta
Teks : galih sedayu
Andra Semesta. Begitulah seorang perupa & pekerja kreatif muda ini disebut namanya. Layaknya kaum muda yang mewakili jiwa jamannya, Ardiandra Achmadi Semesta yang lahir di Kota Batavia pada tanggal 28 April 1991 ini, sudah sejak lama memuja musik dan bahkan terhubung intim dengannya. Musik menjadi jendela ide yang pertama kali ia buka sekaligus menjadi sahabat sejati yang menemaninya berkarya dalam setiap sapuan kuas yang ditorehkan olehnya atas kanvas kosong. Berkat kemampuan sinestesia Andra, himpunan nada & suara yang ia dengar dari sebuah lagu, direfleksikan kembali olehnya ke dalam sebuah bentuk bunyi visual sehingga melahirkan karya-karya lukis yang cenderung abstrak, ekspresif serta penuh warna.
Saat ini produk seni rupa termasuk karya lukisan menjadi salah satu produk sub sektor Industri Kreatif yang tentunya memiliki peran tersendiri dalam memberikan kontribusi terhadap pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Ada 16 sub sektor Industri Kreatif yang menjadi tanggung jawab pemerintah kita melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang dibentuknya sejak tahun 2015. Dari mulai Aplikasi & Pengembang Permainan ; Arsitektur ; Desain Interior ; Desain Komunikasi Visual ; Desain Produk ; Fashion ; Film, Animasi & Video ; Fotografi ; Kriya ; Kuliner ; Musik ; Penerbitan ; Periklanan ; Seni Pertunjukkan ; Seni Rupa ; Televisi & Radio. Namun perbincangan seni rupa sebagai salah satu gerbong dari industri kreatif ini kerap menjadi topik seru yang tak kan pernah ada ujungnya untuk dibahas. Entah itu isu yang menyangkut proses penciptaan hingga nilai transaksional yang terjadi di sana.
Walaupun begitu, sebagian para pekerja kreatif bahkan seperti tidak ambil pusing dan memilih untuk berkarya saja seperti yang dilakukan oleh Andra Semesta melalui Pameran Tunggalnya yang ketiga dengan tajuk “Mind Relection”. Bertempat di Lawangwangi Creative Space, Bandung, kegelisahan dan buah pikiran Andra dipersembahkan olehnya ke dalam karya-karya lukis hasil dari sentuhan tangan & guratan hatinya. Seluruh karya Andra tersebut dipamerkan selama seminggu dan berlangsung dari tanggal 27 April hingga 2 Mei 2017. Sebelumnya Andra pun sempat menggelar Pameran karya miliknya diantaranya Noises by GAP “Sonic Sun” album release show yang bertempat di The Goods Dept. Plaza Indonesia, Jakarta (18 Juli 2011) ; Painting BA 1st Year Corridor Show di Wimbledon College of the Arts, London (6-12 Maret 2012) ; Pameran Tunggal “Mandala : Visualisasi Musik” di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (22-29 Mei 2015) ; serta Pameran Tunggal “Peleburan Rupa, Nada dan Kata” di Cemara 6 Galeri (29 Maret – 11 April 2016).
Puluhan karya Andra Semesta yang dipamerkan tersebut ibarat sebuah konser visual yang pertama kali disuguhkan olehnya di Kota Paris Van Java ini. Kolaborasa antara kepekaan andra dengan magnet lagu ini menjadi repertoar utuh dalam sebuah pertunjukkan visual miliknya. Kita bisa simak bagaimana lagu “Blonde” dari Frank Ocean ; “Goodness” dari The Hotelier ; “22, A Million” dari Bon Iver ; My Beautiful Dark Twisted Fantasy” dari Kanye West ; “Codes and Keys” dari Death Cab For Cutie ; “The Haunted Man” dari Bat For Lashes ; “The Terror” dari The Flaming Lips dan masih banyak lagi, seperti ber-reinkarnasi ke dalam jejak karya yang dipamerkan oleh Andra Semesta.
Bila kita telisik, hampir sebagian karya Andra Semesta menggunakan kanvas yang berbentuk lingkaran. Entah mengapa ia begitu terobsesi dengan bentuk yang ia sebut dengan mandala. Baginya filosofi spiritual & psikologis sangat melekat dengan bentuk mandala tersebut. Barangkali karena pikirannya yang terus berputar, sehingga alam bawah sadarnya merekam sebuah pola jejak putaran yang menyerupai bentuk lingkaran atau mandala tersebut. Seperti hidup yang selalu berputar, begitu pula agaknya jalan pikiran seorang Andra. Ia sepertinya ingin berdialog dengan musik selamanya. Dengan mengutip sepenggal bait lagu “If” yang ditulis oleh David Gates & dipopulerkan oleh kelompok musik Bread, mungkin kalimat ini yang ingin diutarakan oleh Andra Semesta kepada musik yang menjadi separuh nafasnya,
“If a picture paints a thousand words, then why can’t I paint you?”.








Copy right (c) 2017. All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means without prior permission from Andra Semesta & Ruang Kolaborasa.
Surat Ulang Tahun Untuk Christine Listya

1 Desember 2016
Dear…
Desember menyapaku lagi. Tentunya aku langsung teringat akan dirimu yang sekarang tengah berulang tahun meski tak lagi hidup di bumi. Aku mengucap syukur kepada Sang Semesta karena genap dirimu menginjak usia yang ke-29 tahun tepat hari ini, meski kini engkau berada di ruang & waktu yang abadi. 1 Desember 2016. Dear, panjang umur serta mulia teruntuk dirimu di Surga. Aku percaya akan waktu yang tak pernah berhenti & aku yakin akan waktu tak pernah berakhir. Karenanya aku akan selalu mengingat & menghitung umurmu meski ragamu tak lagi di sini. Tentunya dengan jutaan untaian doa yang tak kan pernah bosan aku kirimkan ke atas langit.
Kedua putrimu Eufra & Thalia semakin tumbuh menyenangkan. Eufra sekarang sudah bisa berdiri sendiri meski harus bersender pada sofa hitam favoritmu dulu. Seperti biasa, Eufra selalu ceria ketika menjalani kesehariannya, selalu lahap ketika menyantap makanannya, selalu bersuka cita ketika menjalani ritual mandinya, serta selalu membuka mulut ketika mengalami tidurnya. Untuk kebiasaan yang terakhir itu, aku sangat tau darimana Eufra mendapatkannya. Namun aku tidak menyalahkanmu ya dear. Qeqeqe. Mamaku kini menjadi pengasuh Eufra. Bersyukur Eufra memiliki Eyang yang masih diberikan kekuatan & kesehatan yang berlimpah untuk membantu mengurus Eufra sehari-hari.
Thalia pun sekarang telah punya banyak kebisaan. Thalia mulai belajar berjalan meski masih tertatih-tatih. Tapi Thalia pasti akan mengajak berlari bila aku memegang kedua tangannya dan mulai memapahnya. Sembari mengeluarkan bunyi-bunyi asing yang keluar dari mulutnya yang mungil itu sebagai tanda bahwa ia sangat bergembira dan antusias bila diajak berjalan. Makanan apapun dilahapnya. Beruntung Thalia menyukai segala jenis makanan termasuk buah & sayur-sayuran. Berkat April yang baik, yang juga menjadi mami Thalia, asinya tak pernah berkurang hingga kini. Terhitung ada sekitar 8 orang ibu yang menjadi donor asi bagi Thalia. Dalam hal ini, aku percaya bahwa kasih dirimu hadir yang menjelma dalam bentuk air kehidupan seperti yang ditunjukkan oleh asupan asi yang berlimpah kepada Thalia. Belum lagi cinta & perhatian yang ditunjukkan oleh kedua orang tuamu yang kini menjadi nenek & kakek dari Thalia. Berkat mereka pula lah, Thalia tumbuh menjadi anak yang manis, lucu & sangat menggemaskan.
Tetaplah hadir selalu untukku & keluarga kita ya dear. Meski jarak engkau jauh, namun aku percaya hati kita selalu dekat. Sentuhlah selalu melalui mimpi, rasa & pikiran yang aku miliki. Sebagaimana yang memang telah dirimu tunjukkan kepadaku sebelumnya. Lafalkanlah kiranya doamu yang paling mujarab itu kepada kita semua. Deus Providebit. Tuhan Akan Mencukupkan. Dan aku tau bahwa bahwa dengan begitu aku akan baik-baik saja beserta keluarga kita. Dan aku akan tetap menyalakan lilin bagi dirimu yang berada di alam fana, agar kegelapan tak menghantuimu, agar terang selalu menyertai jalanmu. Peluk cium teruntuk dirimu wahai cintaku yang sangat kukasihi sepanjang masa. Juga untuk Cilla anak kita yang menemanimu di sana. Dear, aku akan selalu tersenyum untukmu untuk menutupi rasa rindu ini kepadamu. Kupu-kupu cintaku, terbanglah selalu bersama angin dan tiupkan lah harum semerbak dirimu. Selamat ulang tahun dear. I love you.
– galih sedayu
—
1 Desember 2014
“You don’t love someone for their looks, or their clothes, or for their fancy car, but because they sing a song only you can hear.” – Oscar Wilde –
Bapa kami sang mahahidup, perkenankanlah ku mengucap syukur atas segala cinta dan damai yang kerap Engkau hadirkan dalam diri istriku tercinta Christine Listya Sedayu. Terlebih lagi karena Engkau memberikan waktu yang teramat istimewa baginya pada hari ini, karena tepat tanggal 1 Desember 2014, ia boleh Engkau berikan secercah kesempatan untuk dapat merayakan hari lahirnya yang kini genap berusia 27 tahun. Ku bersyukur kepada-Mu karena kelahiran dan hidup seorang Christine Listya, menjadikanku sebagai seorang suami, sahabat, dan ayah yang belajar untuk terus mendampinginya dalam dukalara & sukacita semesta.
Terima kasih, ya Bapa, atas penyertaan-Mu sepanjang perjalanan hidupnya. Yang selalu membesarkan hatinya untuk melahirkan kedua putri kami tersayang, Ancilla Trima Sedayu (Alm) dan Eufrasia Tara Sedayu. Yang selalu menguatkan jiwanya untuk menjadi seorang ibu luar biasa bagi keluarga kami. Yang selalu memeluk raganya untuk mengasihiku dengan laku dan dekapan surgawi.
Bebaskanlah ia dari godaan dan bujuk rayu yang sesat. Bebaskanlah ia dari pikiran yang kurang syukur. Bebaskanlah ia dari ucap yang tak semestinya menjadi kata. Agar kiranya ia tak kan pernah terpisah dari-Mu, dariku dan dari anak-anak kami. Karena ku yakin ialah sumber kelembutan, kehangatan, dan keceriaan yang mewarnai hari-hari kami sepanjang masa, hingga tata surya ini berhenti berputar.
Dekatkanlah ia dengan segala kebijaksanaan. Dekatkanlah ia dengan segala kedewasaan. Dekatkanlah ia dengan segala kemuliaan. Sebab hanya kepada kasih, kami selalu percaya. Jadilah kitab pengetahuan baginya, agar ia memiliki ilmu yang menebar. Jadilah terang mentari baginya, agar ia memiliki cahaya yang menyinari. Jadilah gunung batu baginya, agar ia memiliki kekuatan yang tetap tegar meski diterpa gelombang.
Percayalah cintaku terkasih, hidup kita memang telah menjadi sabda-Nya. Dari awalpun tanda-tanda itu telah ditakdirkan oleh-Nya. Bersamamu, rejeki hidup akan selalu mengalir. Bersamamu, kesederhanaan akan mampu memberikan kekayaan hati. Bersamamu, anak-anak kita akan tumbuh dalam kebahagiaan abadi.
Panjang umur serta mulia teruntuk mu yang selalu menjadi pantaiku, gunungku, sungaiku, hutanku, dan alam hidupku yang begitu indah. Kiranya kita tetap bergandengan tangan, tetap berpeluk mesra, dan tetap bercumbu indah.
For my sunshine christine listya, happy birth day…
I hope you always find a reason to smile, and I hope I can always be that reason.
I love you, dear…
– galih sedayu