Posts Tagged ‘galih sedayu’
Sudut Mata Kecil Kota Manchester
Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu
Konon kota Manchester adalah kota tersukses di Inggris. Salah satu alasannya karena kota ini mampu mendatangkan banyak wisatawan dari belahan negara lain di dunia. Musik, sepak bola, dan fesyen yang dimiliki kota Manshester menjadi daya magnet utama bagi pengunjungnya. Meski jumlah populasi penduduk kota Manchester hanya sekitar 500 ribu jiwa lebih, namun warga kota ini dapat berbicara dalam 153 bahasa yang berbeda-beda. Maka julukan kota berbudaya tinggi pun sangat melekat bagi kota Manchester. Bahkan masyarakat kota Manchester mendapat predikat dan sebutan khas yakni “Mancunian” karena dianggap mewakili semua budaya di dunia. Sayangnya saya hanya sempat bercengkrama dengan kota ini selama satu hari saja. Hanya sebagian sudut kecil kota yang sempat disapa melalui bingkai visual yang saya rekam. Namun kesan megah & artistik yang ditunjukkan oleh kota ini melalui sebagian besar bangunan tua yang tinggi menjulang, kadang memaksa saya untuk terus menengadah ke arah langit. Bagi saya kota ini masih menyimpan sejuta misteri karena waktu perkenalan kami yang sangat singkat. Kiranya suatu saat saya akan kembali lagi ke kota Manchester seraya menguak tabir misteri kota ini yang cahayanya masih tersembunyi dan menunggu untuk dibekukan.
Manchester, 1 September 2019












































Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Berlabuh di Pangkuan Kota Liverpool
Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu
Bagi penggemar Grup Band legendaris The Beatles & penggemar Klub Sepak Bola legendaris Liverpool F.C (Kopites) dan Everton F.C (Evertonians), Liverpool tentunya menjadi nama sebuah kota yang sangat identik dengan keberadaan mereka di dunia musik dan olahraga. Liverpool sendiri merupakan merupakan sebuah kota pelabuhan yang terletak di sebelah tebing timur Muara Sungai Mersey di bagian barat laut Inggris serta merupakan distrik metropolitan di Merseyside, Inggris. Liverpool muncul sebagai sebuah wilayah sejak tahun 1207 dan baru diberikan status sebagai sebuah kota pada tahun 1880. Kapal Titanic yang sangat megah dengan kisah tragedinya yang sangat terkenal itu ternyata menyimpan cerita bahwa sebagian besar kru kapalnya merupakan penduduk asli Kota Liverpool. Penduduk kota Liverpool sering disebut sebagai Liverpudlians dan mendapat julukan “Scousers” yang berasal dari kata “Scouse” yaitu sebuah masakan yang dikukus dan kini dikaitkan dengan logat masyarakat kota Liverpool. Konon warga kota Liverpool dikenal sebagai warga yang paling ramah di dunia dan pernah pula dinobatkan sebagai “kota paling baik di dunia” karena mereka senantiasa menyambut orang lain yang datang ke kotanya dengan sikap yang baik dan penuh toleransi layaknya sebuah kota pelabuhan. Fakta ini saya alami sendiri ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kota Liverpool. Saya merasakan secara langsung keramahan serta kehangatan hati warga Kota Liverpool yang berada di stasiun kereta api, restoran dan hotel tempat saya menginap dari cara mereka menyapa, mengobrol dan tersenyum.
Saat berada di Kota Liverpool, saya menginap di sebuah hotel yang berada dekat sekali dengan kawasan wisata yang bernama Albert Dock. Albert Dock adalah sebuah bangunan yang berlokasi di Edward Pavilion Liverpool dan merupakan area komplek dermaga kapal bersejarah. Salah satu fungsi dermaga ini dahulu adalah menghubungkan Liverpool dengan beberapa kota seperti Birmingham dan Leeds. Menurut catatan sejarah, Albert Dock merupakan bangunan pertama di Inggris yang dididirikan tanpa menggunakan kayu namun dengan rangka baja, batu bata dan granit. Albert Dock pertama kali dibuka dan diresmikan oleh Prince Albert, suami Ratu Victoria pada tahun 1846 sekaligus menjadi saksi bisu kejayaan Kota Liverpool sebagai kota maritime terbesar di Inggris. The Beatles Story, museum grup musik legendaris asal Kota Liverpool yang berdiri tahun 1990 ini juga berada di kawasan Albert Dock. Berbagai pernak-pernik The Beatles, replika Cavern Club, Beatles Hidden Gallery, Kacamata John Lennon, Gitar pertama George Harison, dan benda bersejarah The Beatles lainnya berada di obyek wisata ini. Di museum ini kita dapat melihat dan mengetahui perihal sejarah The Beatles dari mulai cerita awal karir mereka manggung, cerita unik dibalik lagu-lagu yang mereka ciptakan, serta cerita kehidupan masing-masing personilnya. Di belakang museum ini terdapat pula Fab4store yakni sebuah toko yang menjual segala macam souvenir yang berhubungan dengan The Beatles seperti kaos, gelas, tas, buku, vinyl, dan lain sebagainya. Dari Albert Dock pula kita dapat melihat “Freij World Attractions” yang bentuknya menyerupai komedi putar raksasa yang tinggi menjulang.
Di Kota Liverpool ini berdiri pula dengan megah sebuah bangunan kuno yang memiliki dua buah menara unik yang bernama Royal Liver Building. Bangunan yang berlokasi di Pier Head Liverpool ini bentuknya sangat klasik namun masih cukup terawat dengan baik. Bangunan tua ini didampingi oleh 2 buah menara setinggi 98 meter yang dilengkapi dengan jam yang diameternya lebih lebar dari jam Big Ben di Kota London. Kedua menara tersebut sama-sama memiliki patung burung Liver Bird yang saling berseberangan arah, dimana patung yang satu menghadap ke arah kota dan patung yang lain menghadap ke arah laut. Liverbird sendiri sebenarnya merupakan hewan mitos yang berbentuk seperti angsa tetapi memiliki sayap seperti burung Phoenix. Menurut cerita warga lokal, konon Kota Liverpool akan hancur dan musnah bila salah satu dari kedua patung burung tersebut terbang dari tempatnya (dan kemudian saya menjadi tersenyum sendiri karena membayangkan patung burung Liverbird yang sedang terbang di angkasa). Saat ini Royal Liver Building yang tingginya mencapai 51 meter tersebut digunakan sebagai kantor perusahaan Royal Liver Assurance sejak tahun 1911. Kemudian di samping bangunan Royal Liver Building, masih di sekitar lokasi Pier Head Liverpool, terdapat patung empat personil The Beatles yakni patung Paul McCartney, George Harrison, Ringo Starr & John Lennon yang sedang berjalan kaki dan menghadap ke laut. Patung dengan berat 1,2 ton ini dibuat dari bahan dasar perunggu oleh pematung terkenal Kota Liverpool yang bernama Andy Edwards.
Bila kita ingin menghabiskan waktu di kawasan perbelanjaan Kota Liverpool, “Liverpool ONE” dapat menjadi salah satu tempat yang layak untuk dikunjungi. Selain tempat nongkrong & gaul bagi anak-anak muda, Liverpool ONE juga menyediakan beberapa ruang yang dapat digunakan sebagai tempat acara dari mulai musik, pameran, karnaval dan lain-lain. Salah satunya adalah Chavasse Park yang berupa taman terbuka hijau dengan suasana yang asri. Taman yang awalnya hanya seluas 1 hektar ini dibangun oleh sebuah keluarga Uskup di Kota Liverpool dan saat ini luasnya menjadi 2,2 hektar. Tak jauh dari kawasan Liverpool ONE ini terdapat pula Williamson Square yang terletak di pusat kota Liverpool. Pada tahun 1745 Williamson Square diposisikan sebagai alun-alun perumahan oleh tuan Williamson. Di kawasan alun-alun ini terdapat sejumlah air mancur yang dapat naik hingga ketinggian empat meter dan pada malam hari diterangi dengan lampu berwarna. Kawasan ini memiliki lapangan yang cukup luas dengan bangunan Liverpool Playhouse yang berdiri di sisi timur lapangan dan bangunan Teater Royal (yang sudah tidak berfungsi sejak tahun 1965) di sisi utara lapangan. Tak jauh dari kawasan ini, kita bisa melihat pula bangunan menara radio tinggi menjulang yang bernama Radio City Tower atau yang disebut juga sebagai St. John’s Beacon. Radio City Tower dengan tinggi 138 meter ini adalah radio dan menara observasi yang dibangun pada tahun 1969 dan dibuka oleh Ratu Elizabeth II. Dari atas menara radio ini, sejauh mata memandang kita dapat melihat pemandangan kota Liverpool bagaikan melalui mata seorang burung yang sedang terbang tinggi di angkasa.
Kota Liverpool memiliki stadion sepak bola yang menjadi kebanggaan warganya. Anfield Stadium. Stadion yang dibangun sejak tahun 1884 ini merupakan salah satu stadion bola tertua di Inggris. Stadion ini berjarak sekitar 3 kilometer dari Stasiun Kereta Liverpool Lime Street. Anfield Stadium sejak lama telah menjadi markas utama legenda klub sepakbola Inggris, Liverpool F.C yang berdiri sejak tahun 1892, meskipun pada awalnya stadion ini adalah markas dari klub sepakbola kota Liverpool lainnya yakni Everton. Anfield Stadium sendiri dirancang oleh seorang Arsitek terkenal yang bernama Archibald Leitchd. Pada saat membangun stadion ini, Sang Arsitek sengaja meletakkan lampu berwarna merah dan putih di setiap sisi stadion yang menjadi keunikannya dan lampu tersebut biasanya dinyalakan pada malam hari. Saat ini Anfield Stadium memiliki empat buah tribun yaitu The Spion Kop, Main Stand, Anfield Road, dan Kenny Dalglish Stand, serta dapat menampung penonton sebanyak 54 ribu lebih.
Tak lengkap rasanya bila kita tidak menyambangi The Cavern Club selagi menyempatkan diri datang ke kota Liverpool. The Cavern Club adalah sebuah bar terkenal di dunia dimana The Beatles pernah tampil demi menghibur penonton sebanyak 292 kali selama kurun waktu tahun 1961 sampai dengan tahun 1963. Brian Epstein, Manajer Band The Beatles, menyaksikan penampilan The Beatles yang kala itu masih beranggotakan John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, Stuart Sutcliffe, dan Pete Best, untuk pertama kalinya manggung pada tanggal 9 November 1961 di The Cavern Club ini. Selain The Beatles, The Cavern Club pernah menghadirkan band dan musisi legendaris lainnya seperti The Rolling Stones, Queen, The Who, Stevie Wonder, Eric Clapton, Jimi Hendrix, Elton John, dan lain sebagainya. Dan itu dibuktikan dengan dibuatnya sebuah “Wall of Fame” yang memuat nama-nama tokoh musik kenamaan tersebut. The Cavern Club lokasinya berada di pusat kawasan perbelanjaan yang bernama Cavern Walks Shopping Centre tepatnya di 10 Mathew Street. Bangunannya sangat tua dan ditandai dengan lampu neon merah yang menyala terang dan bertuliskan nama bar “The Cavern Club” di depan pintu masuk. Tak jauh dari bar tersebut, kita bisa melihat patung perunggu John Lennon sang vokalis The Beatles yang tengah menyandarkan diri di sebuah pilar bangunan. Kemudian di sekitar sana terdapat satu patung perempuan yakni patung Eleanor Rigby salah satu karakter fiksi yang dijadikan salah satu judul lagu The Beatles. Eleanor Rigby adalah seorang wanita yang hidup pada tahun 1800-an di Woolton, sebuah kota yang tak begitu jauh dari Liverpool. Setelah Eleanor Rigby meninggal, jenazahnya dikuburkan di sebuah area gereja tempat John Lennon dan Paul McCartney sering bertemu untuk mencari inspirasi dalam membuat lagu. Barangkali hamper semua artefak dan cerita The Beatles dapat kita temui di kawasan Mathew Street ini. Tak heran saat ini Mathew Street dikukuhkan sebagai “The Bithplace of Beatles” dan menjadi surga bagi penggemar The Beatles dari seluruh penjuru dunia.
Bagi saya Liverpool adalah sebuah kota yang kuat dengan ribuan temboknya yang tak bosan bercerita. Dengan segenap jiwa, saya senantiasa bergairah demi mencari pagi sembari merekam momen cahaya serta memeluk malam sembari meneguk segelas bir di kota ini. Kota ini sungguh menyediakan damai bagi yang berkenan menghirup udaranya setiap saat. Kota ini bagaikan seorang kekasih hati yang layak untuk dikejar sepanjang masa. Sebab itulah, memori kota ini akan selalu saya simpan baik-baik agar selalu menjadi bingkai abadi yang dipaku pada dinding kehidupan dan kiranya tak kan pernah sirna untuk dikenang kembali.
Liverpool, 1-5 September 2019




























































Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Inilah Anfield, Kita Adalah Liverpool
Teks & Foto : galih sedayu
Tatkala memasuki Anfield Stadium untuk pertama kalinya, rasa takjub pun langsung melekat di hati karena saya bagaikan berada di sebuah dunia lain yang amat sangat keramat. Betapa tidak, stadion yang dibangun sejak tahun 1884 ini merupakan salah satu stadion bola tertua di Inggris. Stadion yang terletak di kota Liverpool, Marseyside, Inggris ini berjarak sekitar 3 kilometer dari Stasiun Kereta Liverpool Lime Street. Anfield Stadium sejak lama telah menjadi markas utama legenda klub sepakbola Inggris, Liverpool F.C yang berdiri sejak tahun 1892, meskipun pada awalnya stadion ini adalah markas dari klub sepakbola kota Liverpool lainnya yakni Everton. Anfield Stadium sendiri dirancang oleh seorang Arsitek terkenal yang bernama Archibald Leitchd. Pada saat membangun stadion ini, Sang Arsitek sengaja meletakkan lampu berwarna merah dan putih di setiap sisi stadion yang menjadi keunikannya dan lampu tersebut biasanya dinyalakan pada malam hari. Saat ini Anfield Stadium memiliki sempat buah tribun yaitu The Spion Kop, Main Stand, Anfield Road, dan Kenny Dalglish Stand, serta dapat menampung penonton sebanyak 54 ribu lebih.
Sesaat setelah memasuki gerbang pagar Anfield Stadium, patung manajer legendaris Liverpool periode 1959-1974, Bill Shankly terlihat menyambut kedatangan pengunjung di depan logo besar The Kop. Patung perunggu setinggi 2,4 meter ini didirikan pada tanggal 3 Desember 1997 yang menggambarkan Bill Shankly dengan pose terkenal yang ia lakukan ketika menerima tepuk tangan dari para penggemarnya. Di bawah patung ini tertulis kalimat “Bill Shankly – He Made The People Happy”. Patung ini memang layak berdiri kokoh di sana karena di bawah besutan manajer legendaris inilah, klub berjuluk ”The Reds” tersebut berhasil meraih 31 dari 63 piala bergengsi sepakbola.
Di luar stadion juga terdapat tugu peringatan tragedi Hillsborough yang selalu dihiasi dengan karangan bunga sebagai bentuk penghormatan kepada 96 orang suporter Liverpool yang tewas terjepit di antara penonton saat menyaksikan laga semifinal Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest pada tanggal 15 April 1989. Kemudian di luar stadion ini hadir pula patung John Houlding yang mengenakan seragam sebagai walikota di 96 Avenue, dimana ia merupakan tokoh pemilik Anfield Stadium pada saat pertama kali berdiri. Patung perunggu ini berukuran tujuh kaki dan dibuat oleh pematung asli Liverpool bernama Tom Murphy, yang juga merupakan pembuat patung Bill Shankly.
Bila kita masuk ke dalam stadion Anfield, kita akan banyak menemukan berbagai artefak visual dan ruang-ruang bersejarah perihal Liverpool F.C. Dari mulai himpunan bendera besar yang bertuliskan “Liverpool the Cream of Europe” ataupun “Liverpool FC Make the People Happy”. Hingga ke ruang ganti pemain dengan deretan kostum yang ditata sesuai tempat duduk pemain, dimana kaos para pemain tergantung rapi di tiga sisi dinding ruangan yang didominasi warna merah. Kemudian sebelum menuju lapangan hijau, terdapat lorong dengan sebuah plakat bergambar lambang Liverpool FC di dinding yang bertuliskan ”This Is Anfield”. Tulisan itu sendiri sesungguhnya memberi pesan peringatan sekaligus upaya intimidasi kepada pemain lawan bahwa mereka sedang bermain di kandang Liverpool FC.
Tak heran memang bila daya magnet Anfield Stadium ini dapat menarik pengunjung dari seluruh penjuru dunia untuk menginjakkan kakinya di sana. Bagi penganut agama sepakbola, mengunjungi Anfield tentunya ibarat melakukan ziarah ke tanah suci. Karena di tempat itulah berbagai doa dan harapan senantiasa dipanjatkan atas ribuan kisah manusia dengan berbagai ceritanya dalam nama sepakbola. Dan bagi saya, satu keajaiban yang paling sangat dirasakan tatkala datang ke Anfield Stadium ini adalah bahwa kita tak akan pernah merasa sendirian. This is Anfield, We are Liverpool.
Liverpool, 1 & 3 September 2019

























































Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Menjala Cahaya Kota London
Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu
Sejauh mata memandang serta ditemani oleh kaki yang berjalan menapaki sebagian sudut ruang Kota London, sedekat ini pula hati senantiasa terhibur karena segala pesona yang dihadirkan di sana. Setiap detik sesaat kamera akan menangkap cahaya, jantung pun serasa berdegup kencang seolah tengah menanti kekasih pujaan yang lama tak bersua dalam adegan keseharian melalui tubuh kota ini.
London yang merupakan ibu kota inggris dan britania raya ini memang layak dijuluki sebagai kota kreatif dunia. Kota tua yang yang telah menjadi pemukiman utama selama dua milenium sejak didirikan oleh Romawi pada abad ke-1 dengan sebutan Londinium, kini menjelma menjadi pusat pendidikan terbesar di eropa yang memiliki lebih dari 40 universitas. Kota megah yang berdiri kokoh di sepanjang Sungai Thames ini memiliki keunggulan kelas dunia di berbagai bidang diantaranya kesenian, bisnis, hiburan, kesehatan, mode, pariwisata, transportasi, dan media.
Jaringan kereta api bawah tanah (underground) yang dimiliki Kota London merupakan jejak peninggalan yang tertua di dunia. Rumah penduduk zaman Victoria yang masih ditinggali pun tersebar di berbagai belahan Kota London. Belum lagi berbagai bangunan sejarah yang dengan indahnya menghiasi kota, turut menciptakan karakter Kota London sebagai Kota Heritage Dunia.
Sebagai orang yang baru pertama kali menghirup udara di Kota London, kesan modern dan kuno bercampur aduk menjadi satu dalam kasat mata awam. Pemandangan di depan Buckingham Palace penuh dengan turis-turis dari berbagai negara yang ingin menyaksikan istana megah yang dihuni oleh Ratu Inggris Elizabeth beserta atraksi Penjaga Ratu (Queen’s Guard). Tentara inggris yang mengenakan seragam berwarna merah menyala, celana panjang hitam dengan topi hitam besar yang ditutupi dengan kulit beruang asli ini, menjadi penjaga istana dengan berdiri tegak sambil sesekali berjalan dengan gerakan berbaris di depan pintu istana.
Kota London juga memiliki situs warisan dunia yang bernama Tower Bridge dengan ukuran panjang 244 m dan tinggi 65 m. Jembatan dengan gaya arsitektur khas Victoria ini menjadi salah satu ikon Kota London yang menopang sebuah jalan raya yang melintasi Sungai Thames. Setiap tahunnya lebih dari 600.000 orang dari seluruh penjuru dunia datang mengunjungi lambang kemegahan Kota London tersebut.
Selain itu Kota London masih menyimpan berbagai destinasi wisata yang sangat menarik. Sebut saja dari mulai British Museum, museum terbesar di dunia yang menyimpan barang-barang artefak dari seluruh penjuru dunia ; Trafalgar Square, alun-alun terbesar dan terkenal di London ; Camden Market, kawasan belanja dengan harga barang yang murah ; China Town, pusat kuliner Cina & Asia ; St. Anne’s Churchyard, sebuah taman untuk umum yang disebut juga St. Anne’s Gardens ; hingga Stamford Bridge, markas besar klub sepakbola Chelsea.
Ingin sekali rasanya berdansa lebih lama bersama waktu di sana. Sembari mensyukuri betapa agung karya ciptaan-Nya. Langit, buana semesta, beserta udara yang kuhirup bersama mentari. Terima kasih kepada cahaya yang telah menuntunku ke sana. Kiranya ada masa yang akan membawaku kembali dalam ribuan kenangan itu.
London – England, 30-31 August & 7 September 2019





























































Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
“Who Wants To Live Forever” | A Photography Project by galih sedayu
Pada mulanya peradaban.
Peradaban yang mewariskan jejak karya.
Karya agung manusia yang meniru arsitek Semesta.
Semesta memberi berkat dan terang.
Terang agar menjadi saksi bisu sejarah.
Sejarah adalah guru sejati bagi waktu.
Waktu berjalan merangkai kisah dan cerita.
Cerita konservasi dan edukasi bagi semua.
Semua insan agar sadar dan merasa memiliki.
Memiliki sebuah artefak kebudayaan yang luhur.
Luhur dan mulia sehingga harumnya abadi.
Abadi dalam diam namun senantiasa tegak berdiri.
***
In the beginning was civilization.
Civilization that give us a creation.
Creation that imitating the architect of Universe.
Universe give us the blessing and the light.
Light to be a silent witness to history.
History was a true teacher of time.
Time goes by assembling stories.
Stories about conservation and education for all.
All of us to be aware and feel belonging .
Belonging a cultural artifact that so great.
Great and noble so that the fragrance will last forever.
Forever in silence but always standing still.
***
Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu
Thanks to Queen for the Inspiring Song, “Who Wants To Live Forever”
#17KaryaFoto #17Photographs

“Larantuka Kingdom” | Larantuka, Flores Island, Indonesia | 5 October 2022

“Reinha Rosari Church” | Larantuka, Flores Island, Indonesia | 4 October 2022

“Rumah Marga Tjhia (1901)” | Singkawang, West Kalimantan, Indonesia | 5 October 2021

“Taman Ujung / Sukasada (1909)” | Karangasem, Bali, Indonesia | 28 November 2020

“Gereja Batu / Santo Willibrordus (1523)” | Ternate, North Maluku, Indonesia | 19 December 2019

“St. Anne’s Churchyard (1677-1686)” | Wardour Street, London, United Kingdom | 7 September 2019

“Blewcoat School (1709)” | Caxton Street, London, United Kingdom | 7 September 2019

“Pier Head: The Liver Building (1771)” | Liverpool, United Kingdom | 3 September 2019

“Benteng Kastela (1522)” | Ternate, North Maluku, Indonesia | 17 November 2018

“Benteng Tolukko (1540)” | Ternate, North Maluku, Indonesia | 17 November 2018

“Gereja Katholik Bebas (1920)” | Banda Street, Bandung, West Java, Indonesia | 11 August 2018

“Dakken Cafe (1930)” | Bandung, West Java, Indonesia | 18 June 2014

“Keraton Surakarta Hadiningrat (1744)” | Surakarta, Central Java, Indonesia | 4 March 2014

“Gedung Gas Negara (1930)” | Bandung, West Java, Indonesia | 15 November 2012

“Taman Sari Keraton Yogyakarta (1758-1765)” | Yogyakarta, Central Java, Indonesia | 12 October 2011

“Taman Sari Keraton Yogyakarta (1758-1765)” | Yogyakarta, Central Java, Indonesia | 12 October 2011

“Vila Isola (1933)” | Setiabudi Street, Bandung | 4 February 2008
Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
“It’s Oh So Quiet” | A Photography Project by galih sedayu
Pada mulanya berjalan.
Berjalan menapaki ruang interaksi manusia.
Manusia pun tak selalu mesti terlihat.
Terlihat hadir kadang menjadi jenuh.
Jenuh karna ada kalanya kita butuh ketenangan.
Ketenangan batin yang cukup hanya merasakan.
Merasakan bagaimana kosong bukan berarti hampa.
Hampa dari makna dan arti sebuah waktu.
Waktu terus berputar meniru bumi.
Bumi sebagai tempat menumbuhkan peradaban.
Peradaban mengubah pikiran dan pengetahuan.
Pengetahuan abadi bahwa jiwa akan senantiasa ada.
***
In the beginning was walking.
Walking through the interaction space of human.
Human is not always to be seen and looks.
Looks sometime can be bored.
Bored because all we need is peace.
Peace that only feels.
Feels how a blank doesn’t mean empty.
Empty for meaning of time.
Time keeps turning just like the earth.
Earth as a place to grow civilization.
Civilization can change a mindset and knowledge.
Knowledge that the soul will always exist eternally.
***
Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu
Thanks to Bjork for the Inspiring Song, “It’s Oh So Quiet”
#12KaryaFoto #12Photographs

Kupang, East Nusa Tenggara, Indonesia | 29 March 2022

Singkawang, West Kalimantan, Indonesia | 5 October 2021

Albert Dock, Liverpool, United Kingdom | 4 September 2019

Manchester, United Kingdom | 31 August 2019

Sanur, Bali, Indonesia | 19 August 2014

Malioboro, Jogjakarta, Indonesia | 20 August 2014

Malioboro, Jogjakarta, Indonesia | 20 August 2014

Malioboro, Jogjakarta, Indonesia | 20 August 2014

Penang, Malaysia | 3 August 2014

Solo, Indonesia | 5 March 2014

Ubud, Bali, Indonesia | 9 March 2013

Museum Sunda Kelapa, Jakarta, Indonesia | 13 March 2008
Salam Pesona Kota Nagoya
Teks & Foto : galih sedayu
Nagoya, kota terbesar keempat di negara Jepang setelah Tokyo, Yokohama, dan Osaka dalam jumlah penduduk ini memang menawarkan sebuah pesona tersendiri. Ibukota dari Prefektur Aichi ini letaknya di sekitar pesisir Samudra Pasifik Wilayah Chubu. Lokasi Nagoya menjadi strategis karena berada di antara Kota Tokyo & Kyoto. Beruntung saya bisa melangkahkan kaki di sana dan beroleh kesempatan untuk merekam denyut jantung Kota Nagoya yang sangat teratur. Kota yang bersih, bangunan yang sangat terawat, serta beragam makanan lezat yang dijajakan menjadikan saya kerasan untuk menghuni kota ini meski hanya beberapa saat saja. Tak seperti di Indonesia, kawanan burung gagak hitam yang dibiarkan hidup liar di kota ini tidak menjadikan Nagoya berkesan angker. Citra polisi pun menjadi lebih terhormat dan tidak mengintimidasi karena mereka hanya menggunakan sepeda saat melakukan patroli keamanan meski sesungguhnya sangat jarang sekali terjadi tindakan kriminal di sana. Seperti kultur orang jepang pada umumnya, hampir setiap waktu saya melihat aktivitas keseharian warga yang berjalan kaki dan bersepeda. Sesekali saya menangkap momen warga yang menggembalakan anjing piarannya di pagi hari. Di Nagoya saya seperti menghirup oksigen bersih tanpa polusi asap maupun polusi suara. Dan akhirnya hanya kalimat ini yang pantas menjadi penutup cerita singkatnya. Ke Nagoya aku kan kembali.
Nagoya, Jepang ; Februari, April, Mei 2018


















































Copyright (c) 2018 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.



