Posts Tagged ‘galih sedayu’
Refleksi & Jejak Jaman Di Gunung Padang
Foto & Teks : galih sedayu
“History is a cyclic poem written by time upon the memories of man”
-Percy Bysshe Shelley-
Ketika umat manusia mengalami berbagai peradaban jaman di dunia yang sudah sangat tua ini, tentunya sebagian peradaban tersebut kerap menyisakan jejak-jejak fisik sebagai bukti keberadaannya sekaligus kebesaran yang diwariskan olehnya. Jaman Megalitikum misalnya. Sebuah jaman prasejarah dimana manusia pada saat itu menggunakan batu-batu besar sebagai wujud ekspresi kebudayaan yang tercipta. Beberapa Situs Megalitikum di dunia pun menjadi saksi bisu peradaban nenek moyang kita di masa silam. Sebut saja Stonehenge yang berada di Wiltshire, Inggris. Sebuah lingkaran yang terdiri dari batu-batu besar berdiri tegak menapak tanah tersebut menjadi salah satu tempat yang sering dikunjungi dan dijadikan bahan penelitian oleh para penjelajah kebudayaan.
Indonesia pun ternyata sedikit banyak menyisakan tempat yang mencatat jejak-jejak kebesaran jaman megalitikum tersebut. Salah satunya adalah Gunung Padang. Situs megalitik ini tepatnya berada di Desa Haryomukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Lokasi Gunung Padang ini berada di pedalaman perkebunan teh yang dikelilingi oleh empat buah gunung yaitu Gunung Emped, Gunung Karuhun, Gunung Pasir Malang dan Gunung Pasirpogor. Situs ini berada di puncak bukit dan merupakan sebuah area berupa punden berundak yang terdiri dari lima tingkat dengan hamparan bebatuan berbentuk persegi panjang. Sebagian batu-batu tersebut ada yang tidur tertanam dan ada pula yang berdiri tegak di atas tanah. Untuk mencapai situs tersebut dari dasar, jalan yang ditempuh mesti melalui ratusan tangga batu yang curam setinggi 95 meter. Luas area inti Situs Gunung Padang ini sekitar 4000 m dari luas area keseluruhan yaitu 10.000 meter. Usia Gunung Padang diperkirakan antara 2500 hingga 1500 Sebelum Masehi (SM).
Banyak versi yang menyebutkan tentang asal usul Situs Gunung Padang ini. Sebagian ada yang menyebutkan bahwa tempat tersebut dulunya merupakan tempat untuk pemujaan bagi arwah nenek moyang. Lalu menurut cerita masyarakat setempat bahwa Gunung Padang merupakan tempat yang digunakan oleh Prabu Siliwangi (Raja Kerajaan Sunda Padjajaran) sebagai tempat berkumpul dengan para raja pada masa itu. Sebenarnya catatan pertama kali tentang Situs Gunung Padang ini dibuat oleh seorang ilmuwan asal Belanda yang bernama Dr. N.J.Krom sekitar tahun 1914 sebagai bahan laporan tahunan Dinas Purbakala Hindia Belanda. Lalu pada tahun 1979, situs ini dilaporkan kembali oleh masyarakat setempat kepada pemerintah daerah. Setelah itu makin banyak para ahli arkeologi yang melakukan penelitian di Gunung Padang dengan berbagai kesimpulan yang tentunya masih menyisakan berbagai kontroversi tentang kebenarannya.
Bagi saya, Situs Gunung Padang ini sebenarnya merupakan sebuah refleksi & jejak jaman yang saya hadirkan kembali melalui cuplikan beku karya fotografi. Sebagai sebuah jeda agar kita dapat terus melangkah ke depan dengan tetap menghayati masa lampau. Karena fotografi tidak sekedar menyuguhkan gambar belaka melainkan sarat dengan pesan dan harapan bagi kelangsungan hidup umat manusia di muka bumi. Ratusan, ribuan & jutaan rekaman visual foto itu memang semestinya ada sebagai pengingat dan media kontemplasi bagi milyaran manusia yang terus menciptakan kebudayaan dunia. Sehingga dunia selalu melihat bahwa manusia lah yang mendiami bumi ini hingga berakhirnya sebuah peradaban.
Gunung Padang, Cianjur, 10 Juni 2011
copyright (c) 2011 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Imaji & Suguhan Visual Untuk Alam
Teks : galih sedayu
Berbagai upaya agaknya kerap dilakukan oleh sebagian umat manusia di bumi untuk terus menyuarakan kepedulian mereka terhadap alam semesta ini. Salah satunya adalah dengan menggunakan media visual sebagai jembatan yang sedikit banyak mempermudah pesan, harapan, dan dogma yang ingin disampaikan oleh sang kreator visual. Sebagai contoh, sejarah pun mencatat hadirnya beberapa karya film yang sarat dengan muatan dan ajakan untuk menghargai alam. Sebut saja film An Inconvenient Truth yang dirilis pada tahun 2006 yang disutradarai oleh Davis Guggenhein. Film dokumenter yang berisikan tentang kampanye wakil Presiden Amerika Serikat yang bernama Al Gore ini menyerukan tentang isu Global Warming atau Pemanasan Global kepada segenap masyarakat dunia. Alhasil AL Gore pun dianugerahI sebuah Penghargaan berupa Nobel Perdamaian untuk usahanya didalam membangun dan menyebar luaskan pengetahuan mengenai perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia serta upayanya untuk melawan perubahan tersebut. Lalu ada pula Film bergenre dokumenter lainnya berjudul Home karya Sutradara & Fotografer Aerial asal Perancis, Yann Arthus-Bertrand yang dirilis tahun 2009. Film ini pun mengisahkan tentang isu pelestarian alam yaitu Planet Bumi yang ditempati oleh manusia sebagai spesies yang paling berperan untuk mengubah bumi di masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Film-film ini setidaknya mampu untuk menampilkan berbagai fakta tentang bumi dengan segala isinya serta menyiratkan sebuah niatan positif untuk lebih memperhatikan isu-isu alam & lingkungan.
Fotografi dengan segala daya pikatnya secara visual, menjadi sebuah cara lain untuk bercerita tentang isu-isu yang berkaitan dengan alam. Karenanya fotografi dianggap mampu untuk membentuk sebuah citra yang relatif umum & sederhana. Bahasa visual yang diciptakan oleh fotografi ini tidak serta merta menjadi rumit tetapi sanggup menghadirkan sebuah dialog yang terus mengalir. Bahkan sejumlah imajinasi yang dimiliki oleh para pelaku kreatif pun dapat disuguhkan ke dalam sebuah karya kreatif lainnya melalui unsur-unsur fotografi tersebut. Salah satunya adalah karya Digital Imaging. Sebab itu pula dewasa ini karya Fotografi & Digital Imaging memiliki keterkaitan yang erat antara satu dengan yang lainnya terutama dalam hal yang menyangkut sebuah proses kreatif.
Untuk itulah Teh Kotak sebagai sebuah produk minuman segar yang berasal dari pucuk teh pilihan Alam Indonesia, menginisiasi sebuah program yang bertajuk “Tribute To Nature”. Program ini merupakan sebuah intrepretasi nilai ‘hayati’ dan ‘kebaikan dari & untuk alam’ yang dibalut melalui sebuah konsep universal yang diusung Teh Kotak. Tribute to Nature ini merupakan rangkaian program yang terdiri dari Kompetisi Fotografi & Digital Imaging, dan ditutup oleh Pameran Fotografi. Kompetisi yang terdiri dari dua kategori ini (Fotografi & Digital Imaging) telah berlangsung sejak awal bulan januari 2011, dengan batas akhir pengiriman karya pada tanggal 9 Maret 2011. Penjurian kompetisi ini pun telah dilaksanakan dengan lancar pada tanggal 18-19 Maret 2011 di Kota Bandung. Adapun Dewan Juri kompetisi ini terdiri dari Achmad Sadikin (Fotografer, Desainer Grafis & Praktisi Digital Imaging), Adithya Zen (Fotografer & Praktisi Digital Imaging), Dudi Sugandi (Pewarta Foto, & Redaktur Foto Harian Umum Pikiran Rakyat), Ferry Ardianto (Fotografer & Pengajar Fotografi), dan Galih Sedayu (Fotografer, Pengajar & Pendiri air foto network). Sebanyak 359 peserta dari seluruh Indonesia (Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi & Papua) mengirimkan karya terbaiknya untuk diikutsertakan kedalam kompetisi ini. Jumlah foto yang masuk ke panitia sebanyak 1068 karya. Dari 1068 karya tersebut, para dewan juri kemudian memilih 30 buah karya foto yang menjadi finalis kompetisi ini. Dan untuk selanjutnya, dipilih 5 orang pemenang dari masing-masing kategori kompetisi (satu orang Juara ke-1,2,3 & dua orang juara harapan).
Akhirnya program Tribute To Nature ini akan dipertanggung jawabkan kepada masyarakat luas melalui sebuah suguhan Pameran karya fotografi & Digital Imaging. Pameran ini merupakan kumpulan karya terbaik dari para peserta kompetisi se-Indonesia yang telah bertarung dengan menampilkan ide & imajinasi masing-masing melalui kreativitas visual. Untuk itu kami ucapkan selamat kepada para pemenang kompetisi dan juga kepada para partisipan program Tribute To Nature. Karena atas kolaborasi yang terjalin di antara kita jua lah, program ini dapat terealisasi dengan baik. Kami pun mohon maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan program Tribute To Nature ini. Dengan senang hati, kami menanti saran & masukan dari para sahabat agar menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita semua tentunya. Tetaplah bergerak dalam kreativitas yang tak pernah mati.
Bandung, 27 April 2011
(c) Kristo Joelyanta – Bali
(c) Nur Efendi – Bali
(c) Diver Dantika – Bandung
copyright (c) 2011
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Fajar [Shincan] | Angklung Player
dago pojok kampoong, bandung – 2012
saung angklung udjo, bandung – 2006
saung angklung udjo, bandung – 2004
saung angklung udjo, bandung – 2003
saung angklung udjo, bandung – 2002
copyright (c) by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Article of National Entrepreneurship Forum AIESEC LC Bandung 2010
http://aiesecbandung.blogspot.com/2010/04/national-entrepreneurship-forum-aiesec.html
National Entrepreneurship Forum AIESEC LC Bandung 2010
Last month (March 17th 2010) we had an annual event National Entrepreneurship Forum LC Bandung 2010. This event was hold at Balarea Convention Center BTC Mall floor P1. At 9 AM event was opened by representative of AIESEC Indonesia Mia Dwi Agustina and from AIAO (Indonesia AIESEC Alumni Organization) Ardantya Syahreza. They were talking about NEF Introduction.

The main event begins with Avi Dwipayana (Founder & CEO Trimegah Securities) he was talking about why we should be an entrepreneur the lack of entrepreneurs in Indonesia. “15% concept, 85% is about implementation. A lot of people know, but it could never happen. It has to be a combination of Knowledge and Performance”, Mr. Avi said.

Next session was with Erlan Primansyah (CEO of PT. Digits Media, a Strategic Consultant about Innovation) he said He added, an entrepreneur does not always run smoothly they will be faced with many obstacles such as their self, family, enemies, competitors, vendors, financial institutions, the State, employees and others.
Rifky Amir Balfas one of the Sushi Boon owner, came up and explained about how to come upwith business idea,how to create such a unique idea and become a famous sushi brand. Next session with Peter Firmansyah (Owner Peter Says Denim Company) talked about how a young boy who is usually extravagant and always wanted a luxury lifestyle, but he can create the idea to make a business in Clothes Company (especially jeans). As you know Peter expensive than the international brand jeans Levi’s.


After the session is completed, participants are given a break for 45 minutes and continued with Galih Sedayu (Director of Air Photography Communications). He said when we love and enjoying doing something from our hobbies it will be easier for you to run your hobby into a business. Next speaker was from the banking practitioners Memet Slamet, he explained about how to obtain loans from banks.
Who does not know about Cipaganti travel? Everybody knows about this travel. But do you know who the man behind this Cipaganti travel? He is Andianto Setiabudi! He explained about the beginning of his company until now.
Mr. Chandra Tambayong (owner of The Majesty Hotel, Solo Grand Mall, BTC Mall, Jatinangor Town Square, Grand Setiabudi, Galeri Ciumbuleuit Hotel, Solo Paragon and Pinewood Apartment) he explained a lot how we can expand our business, our behavior after becoming successful person. He said that network is important to our business. Although you are busy every day never forget to God, family, and healthiness. These 3 points can be a big influence to your live in the future.
After hearing many experiences from successful people, it would be incomplete if we didn’t discuss how to make a good business plan. Ardanstya Syahreza (CEO of PT Marketing Communication Indonesia) was discussing how to develop your business plan and make it to your real business.
Break for 40 minutes was really enough to all participants to took dinner, pray n relax. So they could continue the seminar. Next session was with a high school student who became Young social Change makers ASHOKA, she was talking about social entrepreneurship based on environment that she’s doing now with her groups to take care of nature and the world.
The last speaker was Ridwan Kamil he is a young international design entrepreneur of the year2006 British Council and the owner of PT Urbane Bandung. He explained how to managing creative business and the other side of Bandung art.
The event then closed with giving placate to the speakers, and on 8 pm sharp the event finished.We are waiting for your presence at our next event! Thank you for your participation!
Contributor: Sheilla Tridestriana
Secercah Kearifan Di Kampung Naga
Foto & Teks : galih sedayu
Sejatinya sebuah Kampung Adat adalah cermin dari peradaban manusia yang telah diwariskan kepada kita sejak dulu kala. Karena di sanalah manusia belajar mengenal alam semesta, sesama dan dirinya sendiri. Kampung Naga adalah bukti peradaban salah satu kearifan lokal tersebut. Kampung ini terletak di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Penghuni kampung ini adalah masyarakat pedesaan Sunda yang telah ada sejak masa peralihan dari pengaruh agama Hindu menuju pengaruh agama Islam di Jawa Barat. Mereka mengaku telah mendiami perkampungan tersebut selama kurang lebih 600 tahun dan hingga kini masih memegang erat aturan-aturan adat yang diwariskan sejak turun temurun. Saat ini tercatat ada sekitar 109 Kepala Keluarga yang menghuni Kampung Naga. Luas total Kampung Naga ini sekitar 1,5 hektar. Di sebelah barat Kampung Naga terdapat hutan keramat yang tumbuh subur sebagai area pemakaman para leluhur masyarakat Kampung Naga, Sembah Eyang Singaparna. Di sebelah selatan Kampung Naga terbentang persawahan penduduk yang hijau dan asri sebagai lahan mereka untuk menanam padi. Dan di sebelah utara Kampung Naga mengalir aliran sungai Ci Wulan (Kali Wulan) dengan batu-batunya yang berserakan indah dimana sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.
Arti kata Kampung Naga sendiri bukan merupakan sebuah kampung yang dihuni oleh binatang mitos naga yang kerap kali dijumpai di film-film khayal atau yang sering didongengkan kepada anak kecil sebelum tidur. Kampung Naga berasal dari bahasa sunda yaitu “Kampung na Gawir” yang dalam bahasa indonesia memiliki pengertian “Kampung di Jurang”. Karena bila kita menyambangi Kampung Naga, kampung tersebut akan terlihat dari jalan seolah-olah terletak di dasar jurang. Perjalanan menuju Kampung Naga ini mengharuskan kita untuk menuruni kurang lebih 350 anak tangga dengan kemiringan 40 derajat dan setelah itu menyusuri sungai Ciwulan sebelum tiba di pemukiman penduduk. Seluruh bangunan rumah yang ada di Kampung Naga memiliki sebuah ciri berupa “Tanda Angin” yang digantung di setiap pintu depan rumah. Tanda Angin ini berasal dari tumbuh-tumbuhan yang telah dilengkapi dengan syarat-syarat ritual dengan tujuan untuk menolak bala atau pencegah musibah bagi penghuni rumah.
Saat ini masih ada sebagian masyarakat yang belum mengenal keberadaan Kampung Naga beserta masyarakat tradisional tersebut. Untuk itu saya mencoba untuk menghadirkan kembali segala bentuk bangunan fisik, nilai-nilai tradisi dan potret keseharian penduduk Kampung Naga ini melalui cuplikan-cuplikan fotografis. Tentunya dengan sebuah harapan bahwa Kampung Naga ini dapat terus diperkenalkan kepada masyarakat dunia agar segala kearifan yang melekat di sana akan selalu diingat, dimaknai dan ditularkan. Meski saat ini arus budaya modern merasuk begitu cepatnya, tetapi keberadaan Kampung Naga berserta masyarakatnya ini tetap menjadi sebuah tanda kebesaran alam yang selalu terjaga dan tak pernah sirna oleh kesombongan manusia modern.
Kampung Naga, Garut, 20 Januari 2011
copyright (c) 2011 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Warisan Nenek Moyang Yang Orang Pelaut
Teks & Foto : galih sedayu
Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda b’rani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai
Jakarta, 16 Januari 2011
copyright (c) 2011 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

































































