I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘galih sedayu

Fiki Satari | Chairman of Indonesia Creative Cities Network & Special Staff of the Ministry of the Cooperatives and SMEs

with one comment

DSCF3629_bw_blog

Kastela Port, Ternate – 31 July 2019

DSCF3604_bw_blog

Ternate – July 2019

DSCF6658_bw_blog

Seger Beach, Lombok – August 2016

DSCF3773_bw_blog

Sidoarjo, East Java – March 2016

DSCF1032_blog

Butcher’s Bill Cafe, Bandung – 2015

fiki satari

Studio of Air Foto Network, Bandung – 2015

IMG_1118_bw_blog

Hamamatsu, Japan – 10 June 2014

fiki satari

Tokyo, Japan – 9 June 2014

Fiki Satari

Braga, Bandung – 2013

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

December 18, 2013 at 6:49 am

Musuh Baru Hutan Kota Dunia Babakan Siliwangi

with 6 comments

Teks & Foto : galih sedayu

Sudah dua tahun lebih lamanya sejak Forest Walk yakni jembatan hutan kota dunia Babakan Siliwangi dibangun dan terlahir dari semangat dan rasa peduli warga Bandung terhadap alamnya. Tepatnya pada tanggal 27 September 2011, jembatan yang kemudian menjadi simbol penghubung warga dengan hutannya ini diresmikan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui United Nations Environment Programme (UNEP). Dengan disaksikan oleh sekitar 1500 anak dan pemuda dari 111 negara di seluruh dunia yang hadir pada saat konferensi TUNZA International Children and Youth Conference on Environment di Sabuga Bandung, sejarah pun mencatat bahwasanya jembatan ini merupakan jejak fisik dan saksi bisu tatkala hutan kota Babakan Siliwangi dideklarasikan menjadi hutan kota dunia atau World City Forest.

Sudah sejak dulu warga Bandung berjuang untuk mempertahankan hutan dan dengan tegas menolak pembangunan atau alih fungsi lahan hutan oleh pihak-pihak yang ingin menjadikan hutan tersebut menjadi ruang komersil. Akhirnya berita baik pun tiba menghampiri warga kota Bandung. Pada hari kamis tanggal 31 Oktober 2013, PT Esa Gemilang Indah (EGI) akhirnya datang ke Balai Kota Bandung untuk menyerahkan perjanjian kerjasama yang sebelumnya telah disepakati oleh Wali Kota Bandung terdahulu untuk membangun sebuah restaurant. Momen ini sekaligus menjadi penanda penting yaitu kembalinya hutan kota dunia Babakan Siliwangi menjadi milik warga Bandung.

Namun ternyata perjuangan warga Bandung belum lah berakhir. Meski musuh lama telah dikalahkan namun secara disadari atau tidak, kini muncul musuh yang baru. Cobalah sempatkan sejenak untuk melihat Forest Walk atau jembatan hutan kota dunia Babakan Siliwangi sekarang. Di sanalah kita akan melihat jembatan hutan kota yang tadinya bersih dengan cat warna hijaunya yang terang, kini mulai terusik dan dirusak oleh coretan-coretan yang mengotori pagar-pagar yang menjadi penyangga jembatan tersebut. Sejauh mata kita memandang, saat ini Vandalisme dengan jelas mencoreng harkat dan martabat hutan yang kita cintai dan telah diperjuangkan sejak lama.

Tak perlu berlama-lama untuk mengetahui jabawan atas pertanyaan siapa pelaku vandalisme di jembatan hutan kota tersebut. Setiap hari kita dapat melihat dengan mata telanjang bahwa ruang publik ini kerap menjadi tempat nongkrong para pelajar tingkat SMU dan SMP yang biasanya mabal dari sekolah mereka masing-masing. Entah itu mereka datang berkelompok ataupun hanya berduaan sambil memadu kasih atas nama cinta monyet. Kadang mereka membawa serta amarah maupun hati yang galau. Sehingga tak ayal lagi bila jembatan kota ini akhirnya menjadi pelampiasan dari energi mereka yang tidak tersalurkan tersebut.

Untuk itu marilah kita bertindak. Karena musuh terbesar hutan kota dunia Babakan Siliwangi sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Diri kita yang membiarkan itu semua terjadi, diri kita yang tidak mau peduli dan diri kita yang hanya menjadi penonton bagi permasalahan yang muncul. Kota ini dibangun salah satunya oleh rasa empati kita terhadap lingkungan. Dari empati akan lahir tindakan. Dari tindakan akan lahir perubahan. Dan dari perubahan itu lah yang akan menciptakan peradaban.

Bandung, 5 November 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Fiat Lux, Ridwan Kamil

with 7 comments

Teks & Foto : galih sedayu

Kiranya selalu memberikan telinga 
Kiranya selalu menjaga mulut
Kiranya selalu membukakan mata 
Kiranya selalu melangkahkan kaki 
Kiranya selalu mengulurkan tangan 
Kiranya selalu mendinginkan kepala 
Kiranya selalu membangkitkan badan
Kiranya selalu menenangkan hati 
Kiranya selalu menguatkan jiwa
Kiranya selalu menuntun jalan 
Kiranya selalu menempatkan kebenaran
Kiranya selalu menghadirkan damai
Kiranya selalu mencerminkan sederhana
Kiranya selalu menyembuhkan luka
Kiranya selalu menguduskan keadilan
Kiranya selalu memuliakan rakyat
Kiranya selalu mengutus persaudaraan
Kiranya selalu mengindahkan aturan
Kiranya selalu menyalipkan godaan
Kiranya selalu menjerat kezaliman 
Kiranya selalu mempermandikan noda
Kiranya selalu menyanyikan pujian
Kiranya selalu menyempurnakan perbuatan
Kiranya selalu meraih pengetahuan 
Kiranya selalu merajut asa
Kiranya selalu menjalin mimpi
Kiranya selalu mengucap syukur
Kiranya selalu membuang dengki 
Kiranya selalu menghapus dosa
Kiranya selalu mengerti perbedaan 
Kiranya selalu menumbuhkan semangat
Kiranya selalu menghamilkan perubahan
Kiranya selalu melahirkan kebaikan
Kiranya selalu menyediakan waktu 
Kiranya selalu menambatkan cinta
Kiranya selalu membagikan ilmu 
Kiranya selalu menggandeng sahabat
Kiranya selalu menggetarkan musuh
Kiranya selalu melompati tantangan 
Kiranya selalu mengepakkan sayap
Kiranya selalu menghakimi kejahatan
Kiranya selalu meniadakan dusta 
Kiranya selalu menabur benih 
Kiranya selalu menanam manusia
Kiranya selalu membebaskan kemiskinan
Kiranya selalu mengendapkan sepi 
Kiranya selalu menggembalakan keberagaman
Kiranya selalu mentahbiskan tindakan 
Kiranya selalu mengalirkan kekuatan 
Kiranya selalu menjurukan keselamatan
Kiranya selalu mewartakan harapan 
Kiranya selalu mengikuti cahaya
Kiranya selalu menerangi kota…

Bandung, 16 September 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

September 17, 2013 at 6:28 pm

Sang Terpilih Untuk Bandung | Buku Foto “Menuju Bandung Juara”

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Pada mulanya Bandung. Sebuah kota tercinta kelahiran Ridwan Kamil sekaligus kota yang menginspirasi bagi seorang pria sederhana yang kini namanya tercatat dalam noktah sejarah kota Bandung. Dimana warga Bandung dengan suara yang bulat, akhirnya memilih Ridwan Kamil sebagai pemimpin yang akan mengemudikan sebuah kapal layar bernama Bandung menuju pulau harapan untuk periode 2013-2018.

Dalam Rapat Pleno KPU kota Bandung pada tanggal 28 Juni 2013, Ridwan Kamil beserta pasangannya Oded Muhammad Danial ditetapkan menjadi pemenang dan unggul mutlak dari tujuh kandidat lainnya dengan meraih 45,24 % suara dalam Pemilihan Umum Wali Kota Bandung 2013. Hasil ini memang sudah diprediksi sebelumnya, karena pada tanggal 23 Juni 2013 melalui versi hitung cepat (quick count) dengan mengambil sampel dari 270 TPS, Pasangan Ridwan Kamil & Oded Muhammad Danial (RIDO) sudah jauh memimpin meninggalkan para lawannya.

Dan barangkali alam pun seperti ikut mentahbiskan keputusan tersebut bersamaan dengan datangnya fenomena “Super Moon” (Lunar Perigee) di kota Bandung, sebuah peristiwa alam yang terjadi ketika bulan berada pada titik di orbit yang terdekat dengan bumi.

Ridwan Kamil lahir dari pasangan Dr. Atje Misbach SH (alm.) dan Dra. Tjutju Sukaesih tepatnya pada tanggal 4 Oktober 1971 di kota Bandung. Pendidikan dasar hingga kuliah pun ditempuhnya di kota Bandung yang penuh dengan kejutan ini. TK Aisyiah di Jalan Dago Barat Bandung, SD Banjarsari III di Jalan Merdeka Bandung, SMPN 2 di Jalan Sumatera Bandung, SMA 3 di Jalan Belitung Bandung dan Institut Teknologi Bandung (ITB) di Jalan Ganesha Bandung, menjadi ruang-ruang tempat ia menuntut ilmu. Setelah itu Ridwan Kamil pun meninggalkan kota Bandung untuk melanjutkan kuliah S2 dalam bidang tata kota di University of California, Amerika Serikat dan kemudian bekerja di sebuah firma arsitektur di negara Paman Sam tersebut.

Namun pada akhirnya sebuah nasihat dari Sang Ibu lah yang membawanya pulang kembali ke pangkuan kota Bandung. “Ari neangan duit mah engke aya gantina, ari minterkeun batur moal terukur nilaina” (kalau mencari uang itu nanti bisa ada gantinya, tapi kalau membuat pintar orang lain tidak akan terukur nilainya), begitu kira-kira petuah yang disampaikan dengan penuh kasih oleh ibunda Ridwan Kamil.

Akhirnya Ridwan Kamil pun meneruskan profesinya sebagai dosen, arsitek dan aktivis sosial di kota Bandung. Di Bandung pula Ridwan Kamil turut mendirikan sebuah firma arsitektur yang bernama Urbane (Urban Revolution). Dari sanalah buah karya Ridwan Kamil sebagai arsitek mulai menebarkan keharuman bagi Bandung karna banyak mendapatkan penghargaan dari dunia.

Beserta istri tercinta, Atalia Praratya dan ditemani oleh kedua buah hatinya Laetetia dan Emmiril, Ridwan Kamil tinggal di sebuah rumah unik hasil rancangannya sendiri yang disebut “Rumah Botol”. Ventilasi rumah ini terbuat dari tiga puluh ribu botol Kratingdaeng. Ridwan Kamil ingin membuktikan bahwa limbah pun bisa disulap menjadi sebuah karya kreatif. Rumah Botol tersebut berada di Cigadung tidak jauh dari rumah ibunya. Karena Ridwan Kamil ingin agar ia selalu bisa tetap dekat dan berbakti pada ibunya sampai akhir hayatnya.

Sebagai wujud rasa cintanya untuk kota Bandung, Ridwan Kamil bersama sahabat komunitas yang mengedepankan prinsip kolaborasi, turut berperan aktif mendirikan berbagai gerakan dan komunitas sosial di masyarakat seperti Bandung Creative City Forum (BCCF), Indonesia Berkebun, Bike Sharing, Bandung Citizen Journal, One Village One Playground, dan sebagainya.

Untuk itulah Ridwan Kamil bersama para Relawan Kota Bandung mempersembahkan buku fotografi yang bertajuk MENUJU BANDUNG JUARA. Sebuah catatan visual & potret perjuangan Ridwan Kamil tatkala ia melakukan kampanye tiga bulan lamanya demi Bandung. Fotografer Dudi Sugandi & Satya Andhika (Aboenk) dengan seksama mengabadikan cerita dan himpunan adegan perihal energi Ridwan Kamil beserta para Relawannya hingga menjadi sebuah rangkaian cuplikan beku yang dituangkan ke dalam buku visual ini. Di sini fotografi menjadi sebuah fakta dan pernyataan bahwasanya keberhasilan Ridwan Kamil menjadi pemimpin kota Bandung bukanlah karena sebuah kebetulan ataupun melalui proses yang instan. Melainkan karena semangat & kebersamaan yang dihadirkan di sana.

Selangkah demi selangkah, mimpi Ridwan Kamil untuk mengangkat derajat kota Bandung pun direstui oleh Sang Pencipta. Berkat dukungan warga Bandung, doa kedua orang tua dan budi baik para sahabatnya, kini Ridwan Kamil harus menjalani takdir sebagai pemimpin kota Bandung. Namun takdir ini akan ia jalankan dengan sepenuh hati karena Ridwan Kamil percaya bahwa nasib kota Bandung bisa kita ubah bersama. Mari kita persiapkan jalan bagi Ridwan Kamil agar ia bisa meniupkan angin perubahan bagi kota Bandung. Tentunya dengan balutan kolaborasi semua warga Bandung. Hingga akhirnya Indonesia dan dunia akan berseru dengan lantang, BANDUNG JUARA!!! Pada akhirnya Bandung.

* Tulisan ini diberikan sebagai pengantar kurator dalam Buku Foto “Menuju Bandung Juara” yang diterbitkan pada saat Ridwan Kamil dilantik menjadi Wali Kota Bandung pada tanggal 16 September 2013.

Bandung, 7 September 2013

Spesifikasi Buku :
* Judul Buku : Ridwan Kamil “Menuju Bandung Juara”
* Fotografer : Dudi Sugandi & Satya Andhika (Aboenk)
* Kurator : galih sedayu
* Penerbit : air foto network (2013)
* Tebal : 154 Halaman
* ISBN : 978-602-14-4080-3

>> Buku Fotografi ini bisa didapatkan di kantor air foto network, Komplek Surapati Core Blok M32, Bandung. Para sahabat bisa menghubungi kami di nomor 022-20529070 atau kirim datanya via email berupa nama lengkap, alamat dan telepon ke airfotonetwork@gmail.com. Harga bukunya Rp 150.000,- (belum termasuk ongkos kirim).

Ridwan Kamil

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2013 air foto network
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographers.

Dan Damai Itu Ada Di Kampung Naga

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Datang, lihat & rasakanlah Kampung Naga. Sebuah kampung tradisional masyarakat sunda nan sederhana yang berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Provinsi Jawa Barat. Pada kampung naga lah, jiwa yang haus dan penuh kerinduan bagai tanah tandus, kering dan tiada berair menjadi terobati. Rumah-rumahnya akan selalu memegahkan kita. Air yang mengalir darinya membuat kita mengucap syukur. Tanah gemburnya menciptakan sukacita bagi kita. Di kampung nagalah tempat terbitnya pagi dan petang yang bernyanyi-nyanyi. Selama ada matahari dan bulan, lanjut umurnya secara turun-temurun. Tuhan pastinya mengindahkan dan mengaruniai kelimpahan di sana. Yang mengairi alur bajaknya, yang membasahi gumpalan tanahnya, dan yang memberkati tumbuh-tumbuhannya. Dan sabda alam pun berikrar tanpa keraguan sedikitpun. Untuk kampung naga lah puji-pujian terus terucap. Berbahagialah kita yang mendekat dan diam di pelatarannya. Biarlah hanya kucing dan ayam yang menjadi pengawal setianya. Biarlah sapu lidi menjadi simbol pemersatunya. Biarlah jemuran baju menjadi kosmetikanya. Asalkan kasih setia warganya menjadikan kampung naga tetap berdiri tegak. Kiranya kita menjadi kenyang dengan segala yang baik di kampung naga. Demikianlah mereka memandang kampung naga.

Garut, Kampung Naga, 4 Juni 2012

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

August 18, 2013 at 4:02 pm

Panjang Umurnya Serta Mulia Indonesia

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

17 Agustus 2013. Usia nusantara kini genap beranjak menjadi 68 tahun. Sebuah usia yang sesungguhnya tidak bisa disebut masa pencapaian. Karena sesungguhnya bangsa ini masih banyak menyimpan segudang pekerjaan yang menumpuk. Namun demikian toh kita masih tetap merayakan hari raya kemerdekaan ini mesti tanpa euforia. Salah satu ritualnya adalah upacara bendera. Kadang kita kerap bertanya kepada diri sendiri. Apakah upacara bendera masih penting? Apakah upacara bendera mesti dilakukan? Apakah upacara bendera masih ada? Silakan saja dijawab oleh masing-masing. Kemudian muncul pertanyaan yang lebih penting sebenarnya. Sudahkah kita merdeka? Merdeka dari tirani kekuasaan yang merongrong. Merdeka dari korupsi yang membabi-buta. Merdeka dari kemiskinan yang mendera. Merdeka dari pendidikan yang rendah. Atau Merdeka dari diri sendiri yang kerap galau dan tak lekas move on. Mari kita bersama-sama membaca dan menyimak kembali teks pidato Pembukaan UUD 1945 yang selalu dikumandangkan dengan lantang di setiap upacara bendera.

Seraya bertanya “Sampai Kapan Indonesia?”

Teks Pembukaan UUD 1945

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Garut, 17 Agustus 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

August 17, 2013 at 5:00 am

“Bandung : Sound of Silence” | A Photography Project by galih sedayu

leave a comment »

Teks & Karya Foto : galih sedayu

Wahai kamu…
Kepada penguasakah keluhan ku tertuju?
Kepada tirankah protes ku terucap? 

Yang membiarkan ku menjadi kelam
Yang menodakan ku menjadi sakit
Yang menggadaikan ku menjadi papa

Terang ku menjadi tak menyala sehingga umpat pun menyalak
Ruang ku menjadi tak bersih sehingga banjir pun menyerbu
Jalan ku menjadi tak teratur sehingga macet pun menjebak

Mereka telah menanggalkan kemuliaan ku 
Mereka telah membongkar taman, sungai & hutan ku 
Dan kesombongan mereka merampas mahkota ku

Ku berkata kebenaran, namun tak ada yang mendengar
Ku berteriak kelaliman, namun tak ada yang menjawab
Ku berseru minta tolong, namun tak ada keadilan

Sesungguhnya ku memimpikan sinar seperti fajar 
Dan berharap pagi yang tak berawan 
Yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah

Tetapi ku tahu, akan ada penebus yang hidup 
Yang akan meneduhkan kita dengan kuasanya 
Dan akhirnya ku akan bangkit di atas debu

Sebab ku akan menegakkan bagi kita sebuah pohon kekal  
Sebab ku akan menjamin bagi kita sebuah tanah keselamatan  
Sebab ku akan menumbuhkan bagi kita sebuah air harapan

Hingga ku akan menjadi mata bagi orang buta 
Hingga ku akan menjadi kaki bagi orang lumpuh  
Hingga ku akan menjadi bapa bagi orang miskin

Bandung, 8 Agustus 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

August 9, 2013 at 3:23 pm