Posts Tagged ‘galih sedayu’
Fiki Satari | Chairman of Indonesia Creative Cities Network & Special Staff of the Ministry of the Cooperatives and SMEs

Kastela Port, Ternate – 31 July 2019

Ternate – July 2019

Seger Beach, Lombok – August 2016

Sidoarjo, East Java – March 2016

Butcher’s Bill Cafe, Bandung – 2015
Studio of Air Foto Network, Bandung – 2015

Hamamatsu, Japan – 10 June 2014
Tokyo, Japan – 9 June 2014
Braga, Bandung – 2013
Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Fiat Lux, Ridwan Kamil
Teks & Foto : galih sedayu
Kiranya selalu memberikan telinga
Kiranya selalu menjaga mulut
Kiranya selalu membukakan mata
Kiranya selalu melangkahkan kaki
Kiranya selalu mengulurkan tangan
Kiranya selalu mendinginkan kepala
Kiranya selalu membangkitkan badan
Kiranya selalu menenangkan hati
Kiranya selalu menguatkan jiwa
Kiranya selalu menuntun jalan
Kiranya selalu menempatkan kebenaran
Kiranya selalu menghadirkan damai
Kiranya selalu mencerminkan sederhana
Kiranya selalu menyembuhkan luka
Kiranya selalu menguduskan keadilan
Kiranya selalu memuliakan rakyat
Kiranya selalu mengutus persaudaraan
Kiranya selalu mengindahkan aturan
Kiranya selalu menyalipkan godaan
Kiranya selalu menjerat kezaliman
Kiranya selalu mempermandikan noda
Kiranya selalu menyanyikan pujian
Kiranya selalu menyempurnakan perbuatan
Kiranya selalu meraih pengetahuan
Kiranya selalu merajut asa
Kiranya selalu menjalin mimpi
Kiranya selalu mengucap syukur
Kiranya selalu membuang dengki
Kiranya selalu menghapus dosa
Kiranya selalu mengerti perbedaan
Kiranya selalu menumbuhkan semangat
Kiranya selalu menghamilkan perubahan
Kiranya selalu melahirkan kebaikan
Kiranya selalu menyediakan waktu
Kiranya selalu menambatkan cinta
Kiranya selalu membagikan ilmu
Kiranya selalu menggandeng sahabat
Kiranya selalu menggetarkan musuh
Kiranya selalu melompati tantangan
Kiranya selalu mengepakkan sayap
Kiranya selalu menghakimi kejahatan
Kiranya selalu meniadakan dusta
Kiranya selalu menabur benih
Kiranya selalu menanam manusia
Kiranya selalu membebaskan kemiskinan
Kiranya selalu mengendapkan sepi
Kiranya selalu menggembalakan keberagaman
Kiranya selalu mentahbiskan tindakan
Kiranya selalu mengalirkan kekuatan
Kiranya selalu menjurukan keselamatan
Kiranya selalu mewartakan harapan
Kiranya selalu mengikuti cahaya
Kiranya selalu menerangi kota…
Bandung, 16 September 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Dan Damai Itu Ada Di Kampung Naga
Teks & Foto : galih sedayu
Datang, lihat & rasakanlah Kampung Naga. Sebuah kampung tradisional masyarakat sunda nan sederhana yang berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Provinsi Jawa Barat. Pada kampung naga lah, jiwa yang haus dan penuh kerinduan bagai tanah tandus, kering dan tiada berair menjadi terobati. Rumah-rumahnya akan selalu memegahkan kita. Air yang mengalir darinya membuat kita mengucap syukur. Tanah gemburnya menciptakan sukacita bagi kita. Di kampung nagalah tempat terbitnya pagi dan petang yang bernyanyi-nyanyi. Selama ada matahari dan bulan, lanjut umurnya secara turun-temurun. Tuhan pastinya mengindahkan dan mengaruniai kelimpahan di sana. Yang mengairi alur bajaknya, yang membasahi gumpalan tanahnya, dan yang memberkati tumbuh-tumbuhannya. Dan sabda alam pun berikrar tanpa keraguan sedikitpun. Untuk kampung naga lah puji-pujian terus terucap. Berbahagialah kita yang mendekat dan diam di pelatarannya. Biarlah hanya kucing dan ayam yang menjadi pengawal setianya. Biarlah sapu lidi menjadi simbol pemersatunya. Biarlah jemuran baju menjadi kosmetikanya. Asalkan kasih setia warganya menjadikan kampung naga tetap berdiri tegak. Kiranya kita menjadi kenyang dengan segala yang baik di kampung naga. Demikianlah mereka memandang kampung naga.
Garut, Kampung Naga, 4 Juni 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Panjang Umurnya Serta Mulia Indonesia
Teks & Foto : galih sedayu
17 Agustus 2013. Usia nusantara kini genap beranjak menjadi 68 tahun. Sebuah usia yang sesungguhnya tidak bisa disebut masa pencapaian. Karena sesungguhnya bangsa ini masih banyak menyimpan segudang pekerjaan yang menumpuk. Namun demikian toh kita masih tetap merayakan hari raya kemerdekaan ini mesti tanpa euforia. Salah satu ritualnya adalah upacara bendera. Kadang kita kerap bertanya kepada diri sendiri. Apakah upacara bendera masih penting? Apakah upacara bendera mesti dilakukan? Apakah upacara bendera masih ada? Silakan saja dijawab oleh masing-masing. Kemudian muncul pertanyaan yang lebih penting sebenarnya. Sudahkah kita merdeka? Merdeka dari tirani kekuasaan yang merongrong. Merdeka dari korupsi yang membabi-buta. Merdeka dari kemiskinan yang mendera. Merdeka dari pendidikan yang rendah. Atau Merdeka dari diri sendiri yang kerap galau dan tak lekas move on. Mari kita bersama-sama membaca dan menyimak kembali teks pidato Pembukaan UUD 1945 yang selalu dikumandangkan dengan lantang di setiap upacara bendera.
Seraya bertanya “Sampai Kapan Indonesia?”
Teks Pembukaan UUD 1945
Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Garut, 17 Agustus 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
“Bandung : Sound of Silence” | A Photography Project by galih sedayu
Teks & Karya Foto : galih sedayu
Wahai kamu…
Kepada penguasakah keluhan ku tertuju?
Kepada tirankah protes ku terucap?
Yang membiarkan ku menjadi kelam
Yang menodakan ku menjadi sakit
Yang menggadaikan ku menjadi papa
Terang ku menjadi tak menyala sehingga umpat pun menyalak
Ruang ku menjadi tak bersih sehingga banjir pun menyerbu
Jalan ku menjadi tak teratur sehingga macet pun menjebak
Mereka telah menanggalkan kemuliaan ku
Mereka telah membongkar taman, sungai & hutan ku
Dan kesombongan mereka merampas mahkota ku
Ku berkata kebenaran, namun tak ada yang mendengar
Ku berteriak kelaliman, namun tak ada yang menjawab
Ku berseru minta tolong, namun tak ada keadilan
Sesungguhnya ku memimpikan sinar seperti fajar
Dan berharap pagi yang tak berawan
Yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah
Tetapi ku tahu, akan ada penebus yang hidup
Yang akan meneduhkan kita dengan kuasanya
Dan akhirnya ku akan bangkit di atas debu
Sebab ku akan menegakkan bagi kita sebuah pohon kekal
Sebab ku akan menjamin bagi kita sebuah tanah keselamatan
Sebab ku akan menumbuhkan bagi kita sebuah air harapan
Hingga ku akan menjadi mata bagi orang buta
Hingga ku akan menjadi kaki bagi orang lumpuh
Hingga ku akan menjadi bapa bagi orang miskin
Bandung, 8 Agustus 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.





























































































































