Posts Tagged ‘galih sedayu’
Jalan Solidaritas Dari Bandung Untuk Dunia | Asian African Carnival 2015 | Bandung The Capital of Asia Africa
Teks oleh galih sedayu | Foto oleh galih sedayu & Ruli Suryono
60 tahun perayaan Konferensi Asia Afrika (KAA) tentunya menjadi sebuah tonggak sejarah tersendiri bagi Kota Bandung. Di sinilah reuni akbar negara-negara Asia Afrika yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali, kembali menyambangi kota yang mengandung sejuta nafas dan energi kreatif tersebut. Berbagai kegiatan pun disumbangkan oleh warga Kota Bandung demi menguatkan citra Bandung sebagai ibu kota Asia Afrika. Total tercatat ada sekitar 60 kegiatan yang dipersembahkan bagi perayaan 60 tahun KAA tersebut.
Mewakili komunitas, Bandung Creative City Forum (BCCF) menghadirkan kegiatan Helarfest berupa rangkaian event yaitu Artefak.Bdg, Kampung Pande, Anak Bandung Berani Menggambar, Picnic Parenting, Lightchestra, Festival Kabaret, Pakoban 4-2015 Feat Gen-X, Festival Bioskop Rakyat, Sasab-Sprit of AA Youth, GameDev Bdg Gathering, Balik Bandung, Culture of Our Art, Start-Up Weekend, #1000 Wajah Bandung, Merchant of Emotion, Pride to Ride Heritage, Bandung Social Wave, Bandung Food Truck Festival, Culture Movement Project, Focal Point, SATU : Revolution of AA Sprit, Festival Taman Film Bandung, Ulinpiade-Colorful Harmony, Ulin-AAC Historical Treasure Hunt, The Last Colony Movie, Cibaduyut Mentas, Forte ITB, dan Creative Cities Conference.
Kemudian dari Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA) menggelar sejumlah kegiatan yakni Pengibaran 109 Bendera Negara KAA & PBB, Pawai Bendera Asia Afrika, Parade Asia Afrika, Kegiatan Pesta Rakyat, Kegiatan Peduli Lingkungan, Pameran Foto KAA 1955 bersama Arsip Nasional Republik Indonesia, Bandung Historical Study Games, Lomba & Pameran Foto Karya Perempuan bersama Komunitas Lubang Jarum, Indonesian International Photo Festival bersama Asian African Community, Senam 5000 Anak Asia Afrika, Afternoon Tea dan Asian African Students Conference.
Lalu ada sejumlah kegiatan berupa Asian African Solidarity Fun Run (Hijab Fun Run), Asian African Roadshow to School & Kampus, Asian African Gemstone Festival, Bandung Land Festival, Asia Africa NGO Summit, dan Festival Budaya Masyarakat Adat Jawa Barat yang turut dipersembahkan oleh kelompok masyarakat bandung serta Gelar Pesta Rakyat yang dilaksanakan oleh Kecamatan Se-Kota Bandung.
Mewakili pemerintah Kota Bandung, Bagian Ekonomi & Setda Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Creative Cities Network. Bagian Hukum & HAM Setda Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Human Rights City Conference. Dinas Komunikasi & Informasi Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Asia Africa Smart City Summit. Dinas KUKM & Perindag Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Bandung Art & Craft Expo. Terakhir dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung yang ditunjuk sebagai Leading Sector dan panitia perayaan 60 tahun KAA skala kota, menyuguhkan sebuah kegiatan puncak yang bernama Asian African Carnival.
Kegiatan Asian African Carnival ini sebenarnya merupakan rangkaian 6 buah event yang saling terintegrasi. Yang pertama adalah Bandung 1955 yang melahirkan jejak literasi visual perihal peristiwa KAA 1955 melalui pameran & buku fotografi karya Paul Tedja Surja (fotografer dan pelaku sejarah). Yang kedua adalah Solidarity Day (Tribute to Sukarno & Mandela) yang melahirkan jejak fisik gambar berupa mural karya Kampret Syndicate dan warga kampung setempat perihal tokoh-tokoh penggagas KAA dan tokoh-tokoh yang menjadi simbol solidaritas yang terlukis pada tiang-tiang jembatan di area taman Pasopati. Yang ketiga adalah Asian African Meet & Greet yang melahirkan jejak jejaring internasional. Yang keempat adalah Angklung for The World yang melahirkan jejak sejarah berupa rekor baru di dunia perihal permainan angklung dengan melibatkan 20 ribu orang. Yang kelima adalah Festival of Nations yang melahirkan jejak budaya berupa pertunjukkan seni skala internasional. Yang keenam dan yang menjadi puncak kegiatan perayaan 60 tahun KAA adalah Asian African Parade yang melahirkan jejak deklarasi berupa kegiatan tahunan bersifat internasional untuk pertama kalinya yang ada di Kota Bandung. Deklarasi ini diucapkan langsung oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia yang sekaligus disaksikan oleh ribuan warga Bandung yang memadati acara parade.
Parade ini diikuti oleh berbagai peserta baik dari dalam negeri maupun manca negara yang dilakukan sambil berjalan kaki dengan menggunakan kostum unik di sepanjang jalan Asia Afrika. Parade dibuka oleh pasukan berkuda, diikuti oleh pasukan pengibar bendera Asia Afrika dan disusul oleh Marching Band dari TNI AD. Gelombang parade pertama dimeriahkan oleh peserta manca negara yang turut hadir menyemarakkan acara ini yaitu Amman, Bangladesh, Cambodia, China (Liuzhou & Shenzen), Egypt, India, Iran, Japan, Myanmar, Phillipina, South Korea (Noreum Machi, Guk-Ak-Sa-Rang, Hansamo, Hanbapeh & Suwon City), Srilanka, dan Thailand. Kemudian gelombang parade kedua diisi oleh peserta dalam negeri. Selain Bandung, kota-kota seperti Cimahi, Denpasar, Kediri, Palembang, Pekalongan, Sukabumi, Solo, dan Yogyakarta turut memeriahkan acara tersebut. Sehingga kegiatan parade inilah yang barangkali dijadikan sebagai simbol puncak perayaan 60 tahun KAA di Kota Bandung.
Bila mengingat persiapan perayaan 60 tahun KAA yang hanya kurang lebih dua bulan lamanya, tentunya kita akan melihat pula sejumlah kekurangan dalam pelaksanaannya. Namun demikian, alangkah lebih bijaknya bila kekurangan tersebut tidak dijadikan celah untuk menurunkan derajat Kota Bandung. Biarlah segala kekurangan tersebut kita simpan sebagai bahan evaluasi ke depan dan menjadi otokritik bagi kita semua untuk tetap terus bergerak demi Bandung. Bukan untuk terus dipersoalkan dan diperdebatkan. Sudah saatnya kita bangkit untuk kemudian fokus menjaga berbagai jejak yang sekarang dimiliki oleh Kota Bandung baik itu jejak fisik, jejak sosial-budaya, dan jejak ekonomi.
Barangkali apa yang didapatkan oleh Bandung melalui perayaan 60 tahun KAA ini, merupakan jawaban dari seruan dan permohonan kita semua. Bahwa Sang Semesta selalu menaruh perhatiannya bagi kota ini. Sesungguhnya, yang kita butuhkan hanyalah kepedulian dan kekompakan untuk tetap bersama-sama menjaga kota ini. Kota dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Semoga selalu tangan keikhlasan yang ditadahkan oleh kita semua bagi kota ini dan semoga selalu doa kebaikan yang dibumbungkan oleh kita semua bagi kota ini. Sehingga segala apa yang diucapkan oleh mulut kita, kiranya selalu mewartakan kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Tentunya agar Kota Bandung yang kita cintai ini, selalu diselimuti oleh ruh solidaritas. Karena kita mesti percaya bahwa solidaritas itu membangun, bukan merusak.
@galihsedayu | Bandung, 25 April 2015
Copyright (c) 2015 by Air Foto Network
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from Air Foto Network.
Persekutuan Anak & Hutan
Teks & Foto oleh galih sedayu
“Mengajari anak-anak tentang alam bukanlah dengan bercerita kepada mereka tentang alam, melainkan mengajak dan membawa mereka langsung untuk merasakan alam”. Barangkali pesan itulah yang semestinya diwartakan setiap saat kepada anak-anak kita di era yang serba instan ini. Untuk itulah Bandung Creative City Forum (BCCF) menyelenggarakan sebuah program yang bernama Ulin Piade yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan Ulin Tepi Ka Sasab. Adapun Helarfest 2015 yang diinisiasi oleh BCCF sejak tahun 2008 menjadi ibu kegiatan yang menaunginya. Ulin Piade sendiri adalah bukti nyata kegiatan yang menghidangkan makanan edukasi kepada anak-anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak melalui sebuah permainan ketangkasan di dalam hutan. Komunitas Ecoethno, Picu Pacu dan Relawan Simpul Institute menjadi motor penggerak acara tersebut. Di sinilah hutan kota dunia Babakan Siliwangi menjadi ruang publik di Kota Bandung yang disentuh serta dirasa oleh sekelompok anak kecil yang bermain di alam. Anak-anak tersebut mencoba menjelajahi hutan dari mulai berjalan melewati pohon yang tumbang, berlari di sela-sela akar pohon yang menggantung, merayap di tanah yang lembab, bersepeda di jalur yang sempit, hingga mendaki di tanjakan yang lumayan curam. Namun demikian, kondisi seperti itulah yang justru dicari oleh anak-anak tersebut. Hati mereka justru merasa tertantang untuk dapat melampaui segala rintangan yang ada. Tentunya aksi mereka didampingi pula oleh orang tua masing-masing. Barangkali, apa yang dialami dan dilakukan oleh anak-anak tersebut di dalam hutan, justru dapat menjadi pelajaran bagi kita orang dewasa di dunia nyata. Bahwa kadang di dalam hidup nyata, kita sesungguhnya sangat membutuhkan keberanian seperti yang dimiliki oleh anak-anak kecil tersebut. Jiwa yang lepas, bebas dan tetap bergerak.
@galihsedayu | Bandung, 3 Mei 2015
Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Litani Paul Tedjasurya | Photo Book of “Bandung 1955”
Teks oleh galih sedayu | Foto oleh Paul Tedjasurya
Pada suatu malam yang dingin di Kota Bandung, di pertengahan bulan April tahun 1955, seorang pemuda sederhana berusia 25 tahun tengah mempersiapkan peralatan tempur fotografinya demi mengabadikan sebuah peristiwa yang sangat bersejarah yakni Konperensi Asia Afrika (KAA) Bandung. Kamera Leica III F seberat 1,5 kg, lampu kilat seberat 8 kg, perangkat aki untuk pencahayaan tambahan (blitz) serta sejumlah roll film hitam putih menjadi saksi bisu perhelatan KAA yang kini telah menjadi peristiwa legendaris di dunia. Di hari senin yang cerah, tanggal 18 April 1955, tepat pukul 07.00 pagi, pemuda tersebut langsung bergegas menuju Gedung Merdeka Bandung di Jalan Asia Afrika dengan menunggangi motor 250 cc merk Jawa (BSA) miliknya. Saat itu ratusan warga baik dari dalam Kota Bandung maupun dari luar Kota Bandung sudah berkerumun berdiri dan berbaris rapi di sisi-sisi jalan Asia Afrika sembari menunggu kedatangan para tamu delegasi KAA. Sekitar pukul 08.00 pagi, akhirnya para undangan yang dihadiri 29 negara peserta KAA tersebut mulai keluar dari persinggahannya di Hotel Savoy Homann yang juga terletak di Jalan Asia Afrika. Mereka semua berjalan kaki menuju Gedung Merdeka yang letaknya tidak terlalu jauh dari Hotel Savoy Homann. Kala itu sejumlah wajah para pemimpin dunia pun tercatat dan terekam oleh mata pemuda ini dari mulai Jawaharlal Nehru (India), Chou En Lai (Cina), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Norodom Sihanouk (Kamboja), U Nu (Birma) dan lain sebagainya. Sekira pukul 10.00 pagi, sebuah mobil buick buatan tahun 1945 berhenti di persimpangan Jalan Braga & Jalan Asia Afrika (Tepat di depan Apotek Kimia Farma Braga Sekarang). Tak lama kemudian muncul dari dalam mobil tersebut, Presiden & Wakil Presiden pertama negara Indonesia yakni Bung Karno & Bung Hatta, sebagai tuan rumah yang akan membuka kegiatan KAA. Kemudian pemuda itu pun mengikuti kedua tokoh tersebut hingga masuk ke dalam Gedung Merdeka yang menjadi tempat utama kegiatan KAA yang berlangsung dari tanggal 18 – 24 April 1955. Dan dari dalam gedung itulah, sejarah mencatat nama baik Bandung dan Indonesia kala itu. Rentetan kejadian dan momen yang sangat langka itu, secara apik berhasil dibekukan oleh pemuda yang penuh semangat tersebut. Dimana karya foto hasil bidikan pemuda itu kini telah menjadi bukti nyata keharuman dan kebesaran peristiwa KAA yang terjadi 60 tahun silam.
Paul Tedjasurya. Itulah nama pemuda tersebut yang kini telah menjadi tokoh legenda Kota Bandung, yang berhasil merekam sekitar 300 gambar perihal kegiatan KAA dari mulai suasana konperensi hingga para tokoh dunia yang hadir waktu itu. Saat peristiwa KAA berlangsung, Paul Tedjasurya yang akrab dipanggil dengan sebutan Om Paul ini masih menjadi fotografer lepas atau Freelance di berbagai media cetak. Salah satunya adalah Media Pikiran Rakyat (PR) yang kerap menggunakan kontribusi karya foto milik Paul. Menurut Paul, ada beberapa rekan fotografer lain yang turut pula mengabadikan momen KAA tersebut yakni Dr. Koo Kian Giap (Antara), Lan Ke Tung (PAF/Antara), Johan Beng (Antara), dan AS James. Namun kini mereka semua telah tiada. Sesungguhnya, pendokumentasian peristiwa KAA yang dilakukan Paul tersebut merupakan momen perdana atau pertama kalinya ia memotret kegiatan bertaraf internasional. Ketika Paul meliput acara pembukaan KAA, ia pun menuturkan bahwa selama di dalam Gedung Merdeka, para wartawan tulis dan foto diminta untuk tidak boleh terlalu dekat dengan para delegasi negara sehingga mereka ditempatkan di sebuah balkon khusus di sana. Acara pembukaan KAA tersebut berakhir sekitar pukul 13.00 siang yang dilanjutkan dengan penyelenggaraan sidang di Gedung Dwi Warna yang terletak di Jalan Diponegoro Bandung. Menjelang sore, Paul pun bergegas pergi untuk mencuci dan mencetak roll film hasil rekamannya yang dilakukan di kamar gelap sebuah ruangan, yang berlokasi di Jalan Naripan No.4 Bandung (Kini menjadi halaman parkir Bank Jabar). Untuk proses tersebut, Paul melakukannya dengan cepat selama kira-kira setengah jam agar hasil fotonya dapat segera dikirim ke redaksi PR sebelum pukul 4 sore. Kala itu pula, seorang fotografer AP sempat meminta tolong kepada Paul untuk dapat membantu mencetak foto-fotonya. Setelah semuanya selesai, Paul pun kembali mendatangi resepsi yang digelar untuk menjamu para tamu delegasi negara peserta KAA.
Surabaya menjadi kota kelahiran seorang Paul Tedjasurya, tepatnya pada tanggal 19 Agustus 1930. Ketika Indonesia merdeka tahun 1945, ia masih duduk di bangku sekolah MULO (sekolah belanda setingkat SMP) di daerah Praban yang kini terletak di sekitar SMP 3 Surabaya. Ia pun menuturkan bahwa pada tanggal 7 November 1945, Jenderal Mansergh NICA kala itu menjatuhkan ultimatum lewat selebaran yang dijatuhkan dari ketinggian pesawat di atas langit biru surabaya. Ia ingat benar dengan peristiwa tersebut karena saat itu ia pun ikut berebut memunguti selebaran tersebut bersama kawan-kawannya. Setelah ia lulus sekolah menengah pada tahun 1949, ia pun hijrah dari Kota Surabaya menuju Kota Bandung atas ajakan seorang pamannya dikarenakan ayahnya yang bekas tahanan Kenpeitai, Jepang meninggal dunia setelah menderita sakit-sakitan selama kurang lebih 5 tahun. Di Kota Bandung lah, ia mulai jatuh cinta kepada dunia fotografi dan mulai belajar memotret sejak berumur 21 tahun. Ia pun kemudian menjalani kehidupannya sebagai pewarta lepas di sebuah majalah yang bernama “Gembira” serta menjadi pewarta lepas di sebuah agensi yang bernama “Preanger Foto” yang bertugas memasok karya foto ke perusahaan Jawatan Penerangan Jawa Barat, dimana calon mertuanya yang bernama Njoo Swie Goan bekerja di sana. Njoo sendiri sebenarnya merupakan anggota Perhimpunan Amatir Foto (PAF), yaitu sebuah klub foto tertua di Indonesia yang hingga kini masih ada. Njoo terkenal dengan hasil karya fotonya yang berani tatkala merekam peristiwa keganasan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) dengan tokohnya Kapten Westerling yang terjadi di bandung pada bulan januari 1950. Berkat Njoo itulah, Paul muda mendapatkan ilmu fotografinya serta dibekali kamera Leica III F yang menjadi kamera pertama miliknya untuk digunakan dalam meliput kegiatan KAA tahun 1955. Ia menyebutkan bahwa kamera Leica tersebut saat itu merupakan satu-satunya tustel yang kecil dan bisa menghasilkan frame dalam format panjang atau format panorama. Sayangnya, pada tahun 2000 kamera tersebut ia jual kepada seorang kolektor seharga ratusan ribu rupiah saja dan ditukar dengan beberapa lensa. Yang lebih mengenaskan adalah pada saat peringatan 30 tahun KAA pada tahun 1985, dimana ia kehilangan sejumlah karya foto KAA 1955 beserta negatif miliknya, yang dipinjam oleh seseorang dari pemerintah dan hingga kini tidak pernah dikembalikan dan tidak pernah jelas rimbanya. Namun ia pun memiliki pengalaman yang menarik selama memotret KAA, yaitu tatkala seorang wartawan asing menjadikan pundaknya sebagai tripod atau penyangga kamera saat berada di bandara Hussein Sastranegara. Meskipun begitu ia tidak marah dan dengan senang hati melakukan hal tersebut demi solidaritas terhadap rekan seperjuangannya. Bila kita bayangkan peristiwa tersebut, barangkali momen itu adalah sebuah pemandangan langka yang jarang kita lihat dewasa ini.
Kiprah Paul Tedjasurya sebagai seorang pewarta foto sebenarnya sudah mulai tercium oleh berbagai media di jamannya. Terbukti ketika ia masih menyimpan dengan baik kliping dari sebuah majalah “Gembira” yang memuat profilnya pada tanggal 11 Februari 1956. Di dalam majalah tersebut, dimuat foto Paul muda yang terlihat sedang mengintip jendela pembidik kamera Leica miliknya. Dan di dalam majalah tersebut diberitakan seperti ini,
Memperkenalkan :
WARTAWAN FOTO KITA
Bagi penduduk kota Bandung dan sekitarnja ia sudah tjukup dikenal. Baik dikalangan djembel maupun dikalangan ningratnja. Atau bagi parapeladjari mahasiswa maupun diorganisasi bahkan sampai kepada kalangan Angkatan Perangnja.
Kemudian di bawah foto Paul Tedjasurya tertulis seperti ini,
Paul sedang beraksi ketika ada pertandingan poloair dipemandian Tjihampelas Bandung.
Lihat duduk seenaknja dispringlank jang paling atas, dan tjoba gojang sedikit sadja pangkal papan itu pasti ia akan terdjun kedasar pemandian.
Pun tjoba lihat persiapan jang selalu dibawanja kalau ia bertugas.
Toestel Leica dengan telelensanja dan resvre Super Ikonta tamabah satu tas berisi pilem2 dan lain jang diperlukan untuk melantjarkan kerdjanya.
Tahan tuh ………………………………………………………..
Lalu berita tentang Paul Tedjasurya tertulis seperti ini,
Sebab hampir pada tiap upatjara umum apa sadja atau pada kedjadian2 penting dia selalu muntjul dengan “sendjata”nja, untuk hilir mudik di tempat tsb. Guna “menembaki” sesuatunja jang dianggap djadi objek jang baik.
Itulah Sdr.Paul The jang selalu dipanggil oleh rekan wartawan lain dengan Bung Paul. Ia adalah wartawanfoto dari Preanger Studio Bdg, inklusip
wartawanfoto madjalah kita : “GEMBIRA”.
Makanja kalau selama ini Tuan atjap menemukan gambar2 jang tertera dihalaman madjalah kita ini, baik dihalaman tengah atau dihalaman lain jang tak bertanda, itu adalah hasil dari “tembakan2”nja.
Djadi wartafoto melelahkan sekali – katanja – dan kadangkala mendjemukan. Tjoba – katanja lagi – kalau sedang menghadiri suatu upatjara atau lain perajaan apa sadja, saja harus menunggu sampai babak terakhir. Beruntung kalau upatjara itu berdjalan dengan landjar, tapi paling mendjengkelkan kalau sudah djam karet jang dipergunakan dan ditambahi dengan pertelean yang bertele-tele. Kalau wartawan tulis bisa meninggalkan itu lalu esoknja bisa meminta berita selengkapnja, tapi bagi kami – wartawanfoto – hal ini tak mungkin, tertambah tak sampai hati meninggalkan upatjara itu atau lainnja sebelum habis.
Memang utjapan ini ada betulnja. Sebab tak djarang dia pulang larutmalam, kalau sudah menghadiri satu perajaan atau lainnja, jang mungkin termasuk upatjara jang memakai djam karet dan bertele-tele pula. Kadang lewat djam malam, sedang selalu pula ia pada siangnja hanja mengaso satu atau dua djam sadja. Malah tak djarang ia nonstop dari pagi sampai tengah malam terus2an tjetrak-tjetrek dengan alatnja. Bergantung dengan banyaknja undangan jang semua harus didatangi dan minta semua diabadikan.
Namun demikian Paul tidak pernah lelah kelihatan. Ia menjadari bahwa wartawan adalah trompet masjarakat. Abdi rakjat. Dan sama dimengerti bahwa wartawan tulis hanja bisa muat berita disuratkabar untuk dibatja, tapi tidak mendalam kesan akan sesuatunja kalau tidak ada gambar2nja.
Last but not least : bahwa wartawan fotolah jang paling berbahagianja diantara wartawan2 lainnja. Tjona sadja, kalau tiap menghadiri satu perajaan dll, baru sadja dia masuk sudah banjak – jang minta diopname walaupun simanusia itu bukan orang penting pada upatjara tsb. Dan jang begini ini sudah terang menimbulkan keirian pada wartawan2 tulis lainnja. (JW).
Meski Paul Tedjasurya sudah menjadi kontributor koran Pikiran Rakyat sejak tahun 1953, namun baru pada tahun 1985, ia secara resmi menjadi wartawan Pikiran Rakyat dan sejak saat itu telah mengabdi selama kurang lebih 20 tahun lamanya. Berkat dedikasinya terhadap PAF dan dunia fotografi pula, pada tahun 1997 bersamaan dengan HUT PAF ke-73, ia mendapat gelar kehormatan Honorary Perhimpunan Amatir Foto (Hon.PAF). Penghargaan ini diberikan oleh Dewan Pertimbangan Gelar PAF kepada Paul Tedjasurya yang bernomor anggota PAF 026, yang disaksikan oleh 217 anggota PAF yang hadir di Cisarua Lembang. Selain fotografi, ternyata ia pun memiliki hobi lain yaitu mengumpulkan perangko. Uniknya, ia menggabungkan kedua hobi antara fotografi dan mengumpulkan perangko ini yang sering disebut sebagai Foto-Filateli. Boleh jadi Paul Tedjasurya adalah orang pertama di Indonesia yang memadukan obyek foto dengan filateli dan autogram. Karenanya sebelum KAA berlangsung, ia pun sudah memotret Gedung Merdeka sebagai tempat berlangsungnya konperensi tersebut. Bertepatan dengan pembukaan konperensi, pihak Pos & Giro (Pos Telepon dan Telegram / PTT pada waktu itu), menerbitkan perangko seri KAA. Kemudian Paul pun membeli beberapa edisi perangko tersebut, untuk kemudian ditempelkan di belakang foto Gedung Merdeka yang telah ia persiapkan sekaligus meminta stempel hari pertama kepada petugas PTT setempat. Foto perangkonya ini tentunya memiliki nilai lebih dibandingkan dengan sampul hari pertama (first day cover) yang biasa. Tak heran bila Paul dapat membiayai kuliah anaknya di Universitas Katolik Parahyangan berkat menjual koleksi perangkonya tersebut. Paul Tedjasurya saat ini tinggal dan menetap di sebuah rumah sederhana nan nyaman yang terletak di Komplek Kopo Permai Bandung bersama istri tercintanya Nyonya Herawati. Ia pun telah dikarunia 3 orang anak dan saat ini telah menjadi kakek dari 6 orang cucu yang dimilikinya. Meski usianya kini genap 85 tahun, namun tubuhnya masih tampak sehat dan daya ingatnya pun masih cukup tajam.
Berbicara perihal Konperensi Asia Afrika yang dilaksanakan di Kota Bandung, tentunya dilatar-belakangi oleh berbagai peristiwa dunia yang mendahuluinya. Sebagaimana kita ketahui, sebelum perang dunia kedua terjadi, negara-negara dunia ketiga yang terletak di kawasan benua Asia dan Afrika pada umumnya adalah daerah jajahan. Namun setelah berakhirnya perang dunia kedua pada bulan Agustus 1945, negara-negara tersebut mulai bangkit dan semakin meningkatkan perjuangan mereka untuk meraih kemerdekaan. Hal itulah yang menyebabkan timbulnya konflik dan pergolakan di berbagai tempat seperti konflik di Semenanjung Korea, Vietnam, Palestina, Yaman, Daratan China, Afrika, termasuk Indonesia. Kondisi keamanan dunia yang masih belum stabil pasca berakhirnya perang dunia kedua tersebut semakin diperparah dengan munculnya perang dingin antara dua blok yang saling berseberangan yakni Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Sovyet. Kedua kekuatan besar yang saling berlawanan baik secara ideologis maupun kepentingan tersebut terus berkompetisi untuk membangun senjata modern, sehingga situasi dunia pada saat itu selalu diselimuti oleh kecemasan akan terjadinya perang nuklir. Kondisi itulah yang kemudian mendorong negara-negara yang baru merdeka untuk menggalang persatuan dan mencari jalan keluar demi meredakan ketegangan dunia yang kian memuncak dan turut menjaga perdamaian.
Sebelum Konperensi Asia Afrika (KAA) dilaksanakan di Bandung, sebenarnya telah terlebih dahulu dilaksanakan pertemuan pendahuluan di Colombo (Srilanka) pada tanggal 28 April s/d 2 Mei 1954. Pertemuan inilah yang dikenal dengan nama Konperensi Colombo. Hasilnya adalah kesepakatan untuk menyelenggarakan konperensi lanjutan antar negara-negara Asia Afrika. Kemudian pertemuan selanjutnya digelar di kota Bogor, Jawa Barat pada tanggal 28-31 Desember 1954. Dimana pertemuan ini membahas mengenai persiapan penyelenggaraan KAA. Konperensi di Bogor ini dikenal sebagai Konperensi Panca Negara yang menghasilkan beberapa kesepakatan yaitu Mengadakan Konperensi Asia Afrika di Bandung pada bulan April 1955, Menetapkan kelima negara peserta Konperensi Panca Negara (Konperensi Bogor) sebagai negara-negara sponsor, Menetapkan jumlah negara Asia Afrika yang akan diundang serta Menentukan tujuan pokok Konperensi Asia Afrika. Adapun para tokoh yang menjadi pelopornya adalah Ali Sastroamijoyo (Perdana Mentri Indonesia), Shri Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana Mentri India), Mohammad Ali Jinnah (Perdana Mentri Pakistan), Sir John Kotelawa (Perdana Mentri Srilanka) dan U Nu (Perdana Mentri Burma/Myanmar).
Selain isu kepentingan bersama negara-negara Asia Afrika dan juga isu peningkatan kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya, isu lain yang menjadi tujuan penyelenggaraan Konperensi Asia Afrika ini adalah masalah kedaulatan negara, imperialisme, dan masalah-masalah rasialisme serta masalah kedudukan negara-negara Asia Afrika dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. Oleh karenanya, Konperensi Asia Afrika yang dilaksanakan Bandung pada tanggal 18-25 April 1955 menjadi titik terang dalam upaya memecahkan berbagai persoalan bangsa tersebut dari mulai masalah irian barat, masalah rakyat yang masih terjajah di Afrika Utara, masalah pelucutan senjata, kerjasama internasional, rasialisme (perbedaan warna kulit), hak menentukan nasib sendiri, serta usaha untuk meningkatkan kerjasama bidang ekonomi, sosial, budaya dan hak asasi manusia. Konperensi yang dibuka secara resmi oleh Presiden Sukarno pada tanggal 18 April 1955 tersebut dihadiri oleh 29 negara, dan 6 diantaranya adalah negara-negara Afrika. Sejarah pun mencatat ada 29 negara yang terlibat dalam Konperensi Asia Afrika di Bandung yaitu Afganistan, Burma, Ethiopia, Filipina, Ghana, India, Indonesia, Irak, Iran, Jepang, Kamboja, Laos, Libanon, Liberia, Libya, Mesir, Nepal, Pakistan, RRC, Saudi Arabia, Srilanka, Sudan, Suriah, Thailand, Turki, Vietnam Selatan, Vietnam Utara, Yaman, dan Yordania.
Mengenai hasil utama Konperensi Asia Afrika yang terpenting adalah terjadinya sebuah kerjasama di antara negara-negara Asia Afrika. Selain itu, telah berhasil pula dirumuskan sepuluh asas yang tercantum dalam Dasasila Bandung yang berisi
poin-poin sebagai berikut 1) Menghormati hak-hak asasi manusia sesuai dengan Piagam PBB 2) Menghormati kedaulatan wilayah setiap bangsa 3) Mengakui persamaan semua ras dan persamaan semua bangsa baik besar maupun kecil 4) Tidak melakukan campur tangan dalam soal-soal dalam negara lain 5) Menghormati hak tiap-tiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian atau secara kolektif 6) Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain 7) Tidak melakukan agresi terhadap negara lain 8) Menyelesaikan masalah dengan jalan damai 9) Memajukan kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya 10) Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.
Di tahun 2015 ini, di era kepemimpinan Presiden Jokowi yang kini menjadi pemimpin Indonesia, tatkala Bandung dipimpin oleh Walikota Ridwan Kamil, peringatan Konperensi Asia Afrika kembali dirayakan secara istimewa karena menginjak usia yang ke-60 tahun. Tentunya kita semua masih ingat, bagaimana tokoh proklamator sekaligus Presiden Indonesia pertama, Soekarno, menyerukan pidato pentingnya di hadapan para pemimpin bangsa Asia Afrika dari 29 negara saat berlangsungnya Konperensi Asia Afrika di Bandung pada tanggal 18 April 1955. “Let a New Asia and a New Africa be Born” (Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru). Begitulah judul pidato Bung Karno yang begitu terkenal di seluruh dunia kala membuka kegiatan KAA tahun 1955. Kira-kira beginilah isi dari bagian akhir pidato Bung Karno tersebut,
“Saya berharap konferensi ini akan menegaskan kenyataan, bahwa kita, pemimpin-pemimpin Asia Afrika hanya dapat menjadi sejahtera, apabila mereka bersatu, dan bahkan keamanan seluruh dunia tanpa persatuan Asia Afrika tidak akan terjamin. Saya harap konferensi ini akan memberikan pedoman kepada umat manusia, akan menunjukkan kepada umat manusia jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai keselamatan dan perdamaian. Saya berharap, bahwa akan menjadi kenyataan, bahwa Asia dan Afrika telah lahir kembali. Ya, lebih dari itu, bahwa Asia Baru dan Afrika Baru telah lahir!”
Kini genap 60 tahun sudah, peristiwa bersejarah Konperensi Asia Afrika tersebut menjadi jiwa abadi yang tak terpisahkan dari raga Bangsa Indonesia dan Kota Bandung khususnya. Untuk itulah kita semua hadir dan berkumpul kembali di Bandung, untuk merayakan serta mengenang momen-momen dan nilai-nilai penting dari Konperensi Asia Afrika tersebut, yang ditunjukkan melalui sebuah Pameran & Buku Foto bertajuk “Bandung 1955” karya Paul Tedjasurya sebagai salah satu pencatat sejarah yang kini masih hidup. Anggaplah jejak visual ini sebagai sebuah persembahan murni yang diberikan oleh warga Kota Bandung bagi dunia. Sembari memohon, sudilah kiranya semangat persaudaraan Asia Afrika yang dulu pernah terpupuk, hadir kembali dan menjelma abadi di masa kini. Sebab kini hati Bandung haus dan rindu akan solidaritas, seperti tanah kering dan tandus merindukan air. Demikian kita ingin memandang Bandung di tempat kediamannya, untuk merasakan kekuatan dan kemuliaan Bandung seperti dulu. Sebab Bandung yang kini menjadi harapan, di bawah naungan tubuh kota Bandung kita dapat bersorak kembali pada dunia. Untuk menyatakan dengan lantang bahwa “Bandung adalah ibukota negara-negara Asia Afrika!”
Bandung, 26 Maret 2015
Data Buku
-
Judul : Bandung 1955 | Moments of Asian African Conference
-
Fotografer : Paul Tedjasurja
-
Editor Foto & Teks : galih sedayu
-
Desainer Grafis : Adhytia Rizkianto | Anjar Gumilar D | Muhammad Ihsanuddin
-
Penerbit : Air Foto Network
-
Ukuran : 21,5 x 15,5 cm
-
Tebal : 80 Halaman
-
Cetakan Pertama : April 2015 | 500 eksemplar
-
ISBN : 978-602-14408-3-4
-
Harga : Rp 150.000,- (Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah)
-
Pemesanan : Air Foto Network | Komplek Surapati Core Blok M32 | Jalan PHH. Mustofa 39 | Bandung 40192 | Telepon 022-87242729
-
Contact Person : Sdri. Putu (0896-87123300) dan Sdr. Anjar (0813-20030939)

Copyright (c) 2015
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Paul Tedjasurja, Mata Sejarah dan Sang Pewarta Kesetiaan
Teks & Foto oleh galih sedayu
Pada suatu malam yang dingin di Kota Bandung, di pertengahan bulan April tahun 1955, seorang pemuda sederhana berusia 25 tahun tengah mempersiapkan peralatan tempur fotografinya demi mengabadikan sebuah peristiwa yang sangat bersejarah yakni Konperensi Asia Afrika (KAA) Bandung. Kamera Leica III F seberat 1,5 kg, lampu kilat seberat 8 kg, perangkat aki untuk pencahayaan tambahan (blitz) serta sejumlah roll film hitam putih menjadi saksi bisu perhelatan KAA yang kini telah menjadi peristiwa legendaris di dunia. Di hari senin yang cerah, tanggal 18 April 1955, tepat pukul 07.00 pagi, pemuda tersebut langsung bergegas menuju Gedung Merdeka Bandung di Jalan Asia Afrika dengan menunggangi motor 250 cc merk Jawa miliknya. Saat itu ratusan warga baik dari dalam Kota Bandung maupun dari luar Kota Bandung sudah berkerumun berdiri dan berbaris rapi di sisi-sisi jalan Asia Afrika sembari menunggu kedatangan para tamu delegasi KAA. Sekitar pukul 08.00 pagi, akhirnya para undangan yang dihadiri 29 negara peserta KAA tersebut mulai keluar dari persinggahannya di Hotel Savoy Homann yang juga terletak di Jalan Asia Afrika. Mereka semua berjalan kaki menuju Gedung Merdeka yang letaknya tidak terlalu jauh dari Hotel Savoy Homann. Kala itu sejumlah wajah para pemimpin dunia pun tercatat dan terekam oleh mata pemuda ini dari mulai Jawaharlal Nehru (India), Chou En Lai (Cina), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Norodom Sihanouk (Kamboja), U Nu (Birma) dan lain sebagainya. Sekira pukul 10.00 pagi, sebuah mobil buick buatan tahun 1945 berhenti di persimpangan Jalan Braga & Jalan Asia Afrika (Tepat di depan Apotek Kimia Farma Braga Sekarang).
Tak lama kemudian muncul dari dalam mobil tersebut, Presiden & Wakil Presiden pertama negara Indonesia yakni Bung Karno & Bung Hatta, sebagai tuan rumah yang akan membuka kegiatan KAA. Kemudian pemuda itu pun mengikuti kedua tokoh tersebut hingga masuk ke dalam Gedung Merdeka yang menjadi tempat utama kegiatan KAA yang berlangsung dari tanggal 18 – 24 April 1955. Dan dari dalam gedung itulah, sejarah mencatat nama baik Bandung dan Indonesia kala itu. Rentetan kejadian dan momen yang sangat langka itu, secara apik berhasil dibekukan oleh pemuda yang penuh semangat tersebut. Dimana karya foto hasil bidikan pemuda itu kini telah menjadi bukti nyata keharuman dan kebesaran peristiwa KAA yang terjadi 60 tahun silam.
Paul Tedjasurja. Itulah nama pemuda tersebut yang kini telah menjadi tokoh legenda Kota Bandung, yang berhasil merekam sekitar 300 gambar perihal kegiatan KAA dari mulai suasana konperensi hingga para tokoh dunia yang hadir waktu itu. Saat peristiwa KAA berlangsung, Paul Tedjasurja yang akrab dipanggil dengan sebutan Om Paul ini masih menjadi fotografer lepas atau Freelance di berbagai media cetak. Salah satunya adalah Media Pikiran Rakyat (PR) yang kerap menggunakan kontribusi karya foto milik Paul. Menurut Paul, ada beberapa rekan fotografer lain yang turut pula mengabadikan momen KAA tersebut yakni Dr. Koo Kian Giap (Antara), Lan Ke Tung (PAF/Antara), Johan Beng (Antara), dan AS James. Namun kini mereka semua telah tiada. Sesungguhnya, pendokumentasian peristiwa KAA yang dilakukan Paul tersebut merupakan momen perdana atau pertama kalinya ia memotret kegiatan bertaraf internasional. Ketika Paul meliput acara pembukaan KAA, ia pun menuturkan bahwa selama di dalam Gedung Merdeka, para wartawan tulis dan foto diminta untuk tidak boleh terlalu dekat dengan para delegasi negara sehingga mereka ditempatkan di sebuah balkon khusus di sana. Acara pembukaan KAA tersebut berakhir sekitar pukul 13.00 siang yang dilanjutkan dengan penyelenggaraan sidang di Gedung Dwi Warna (sekarang menjadi kantor wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Jawa Barat) yang terletak di Jalan Diponegoro Bandung.
Menjelang sore, Paul pun bergegas pergi untuk mencuci dan mencetak roll film hasil rekamannya yang dilakukan di kamar gelap sebuah ruangan, yang berlokasi di Jalan Naripan No.4 Bandung (Kini menjadi halaman parkir Bank Jabar). Untuk proses tersebut, Paul melakukannya dengan cepat selama kira-kira setengah jam agar hasil fotonya dapat segera dikirim ke redaksi PR sebelum pukul 4 sore. Kala itu pula, seorang fotografer AP sempat meminta tolong kepada Paul untuk dapat membantu mencetak foto-fotonya. Setelah semuanya selesai, Paul pun kembali mendatangi resepsi yang digelar untuk menjamu para tamu delegasi negara peserta KAA.
Surabaya menjadi kota kelahiran seorang Paul Tedjasurja, tepatnya pada tanggal 19 Agustus 1930. Ketika Indonesia merdeka tahun 1945, ia masih duduk di bangku sekolah MULO (sekolah belanda setingkat SMP) di daerah Praban yang kini terletak di sekitar SMP 3 Surabaya. Ia pun menuturkan bahwa pada tanggal 7 November 1945, Jenderal Mansergh NICA kala itu menjatuhkan ultimatum lewat selebaran yang dijatuhkan dari ketinggian pesawat di atas langit biru surabaya. Ia ingat benar dengan peristiwa tersebut karena saat itu ia pun ikut berebut memunguti selebaran tersebut bersama kawan-kawannya. Setelah ia lulus sekolah menengah pada tahun 1949, ia pun hijrah dari Kota Surabaya menuju Kota Bandung atas ajakan seorang pamannya dikarenakan ayahnya yang bekas tahanan Kenpeitai, Jepang meninggal dunia setelah menderita sakit-sakitan selama kurang lebih 5 tahun. Di Kota Bandung lah, ia mulai jatuh cinta kepada dunia fotografi dan mulai belajar memotret sejak berumur 21 tahun. Ia pun kemudian menjalani kehidupannya sebagai pewarta lepas di sebuah majalah yang bernama “Gembira” serta menjadi pewarta lepas di sebuah agensi yang bernama “Preanger Foto” yang bertugas memasok karya foto ke perusahaan Jawatan Penerangan Jawa Barat, dimana calon mertuanya bekerja di sana.
Njoo Swie Goan adalah nama calon mertua Paul yang pertama kali mengajarinya ilmu fotografi. Njoo sendiri sebenarnya merupakan anggota Perhimpunan Amatir Foto (PAF), yaitu sebuah klub foto tertua di Indonesia yang hingga kini masih ada. Njoo terkenal dengan hasil karya fotonya yang berani tatkala merekam peristiwa keganasan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) dengan tokohnya Kapten Westerling yang terjadi di bandung pada bulan januari 1950. Berkat Njoo itulah, Paul muda dibekali kamera Leica III F yang menjadi kamera pertama miliknya untuk digunakan dalam meliput kegiatan KAA tahun 1955. Ia menyebutkan bahwa kamera Leica tersebut saat itu merupakan satu-satunya tustel yang kecil dan bisa menghasilkan frame dalam format panjang atau format panorama. Sayangnya, pada tahun 2000 kamera tersebut ia jual kepada seorang kolektor seharga ratusan ribu rupiah saja dan ditukar dengan beberapa lensa. Yang lebih mengenaskan adalah pada saat peringatan 30 tahun KAA pada tahun 1985, dimana ia kehilangan sejumlah karya foto KAA 1955 beserta negatif miliknya, yang dipinjam oleh seseorang dari pemerintah dan hingga kini tidak pernah dikembalikan dan tidak pernah jelas rimbanya. Kemudian malang kembali menimpanya, dimana semua album dan negatif foto yang dimilikinya, termasuk dokumentasi KAA 1955 ludes terbakar tatkala redaksi Pikiran Rakyat di Jalan Soekarno Hatta 147 Bandung mengalami musibah kebakaran pada tanggal 4 Oktober 2014. Beruntung ketika pada bulan April tahun 2005, sebagian file negatif miliknya telah disimpan dalam format file digital dan diselamatkan oleh beberapa sahabatnya untuk kemudian digunakan dalam Pameran 50 Tahun KAA.
Namun ajaibnya ia masih tetap bisa tersenyum atas segala kejadian pahit yang menimpanya. Ia pun merasa bersyukur dalam hidupnya bahwa ia masih memiliki pengalaman yang menyenangkan hati. Salah satunya selama memotret kegiatan KAA 1955, tatkala seorang wartawan asing menjadikan pundaknya sebagai tripod atau penyangga kamera saat berada di bandara Hussein Sastranegara. Meskipun begitu ia tidak marah dan dengan senang hati melakukan hal tersebut demi solidaritas terhadap rekan seperjuangannya. Bila kita bayangkan peristiwa tersebut, barangkali momen itu adalah sebuah pemandangan langka yang jarang kita lihat dewasa ini.
Kiprah Paul Tedjasurja sebagai seorang pewarta foto sebenarnya sudah mulai tercium oleh berbagai media di jamannya. Terbukti ketika ia masih menyimpan dengan baik kliping dari sebuah majalah “Gembira” yang memuat profilnya pada tanggal 11 Februari 1956. Di dalam majalah tersebut, dimuat foto Paul muda yang terlihat sedang mengintip jendela pembidik kamera Leica miliknya. Dan di dalam majalah tersebut diberitakan seperti ini,
Memperkenalkan :
WARTAWAN FOTO KITA
Bagi penduduk kota Bandung dan sekitarnja ia sudah tjukup dikenal. Baik dikalangan djembel maupun dikalangan ningratnja. Atau bagi parapeladjari mahasiswa maupun diorganisasi bahkan sampai kepada kalangan Angkatan Perangnja.
Kemudian di bawah foto Paul Tedjasurya tertulis seperti ini,
Paul sedang beraksi ketika ada pertandingan poloair dipemandian Tjihampelas Bandung.
Lihat duduk seenaknja dispringlank jang paling atas, dan tjoba gojang sedikit sadja pangkal papan itu pasti ia akan terdjun kedasar pemandian.
Pun tjoba lihat persiapan jang selalu dibawanja kalau ia bertugas.
Toestel Leica dengan telelensanja dan resvre Super Ikonta tamabah satu tas berisi pilem2 dan lain jang diperlukan untuk melantjarkan kerdjanya.
Tahan tuh ………………………………………………………..
Lalu berita tentang Paul Tedjasurya tertulis seperti ini,
Sebab hampir pada tiap upatjara umum apa sadja atau pada kedjadian2 penting dia selalu muntjul dengan “sendjata”nja, untuk hilir mudik di tempat tsb. Guna “menembaki” sesuatunja jang dianggap djadi objek jang baik.
Itulah Sdr.Paul The jang selalu dipanggil oleh rekan wartawan lain dengan Bung Paul. Ia adalah wartawanfoto dari Preanger Studio Bdg, inklusip
wartawanfoto madjalah kita : “GEMBIRA”.
Makanja kalau selama ini Tuan atjap menemukan gambar2 jang tertera dihalaman madjalah kita ini, baik dihalaman tengah atau dihalaman lain jang tak bertanda, itu adalah hasil dari “tembakan2”nja.
Djadi wartafoto melelahkan sekali – katanja – dan kadangkala mendjemukan. Tjoba – katanja lagi – kalau sedang menghadiri suatu upatjara atau lain perajaan apa sadja, saja harus menunggu sampai babak terakhir. Beruntung kalau upatjara itu berdjalan dengan landjar, tapi paling mendjengkelkan kalau sudah djam karet jang dipergunakan dan ditambahi dengan pertelean yang bertele-tele. Kalau wartawan tulis bisa meninggalkan itu lalu esoknja bisa meminta berita selengkapnja, tapi bagi kami – wartawanfoto – hal ini tak mungkin, tertambah tak sampai hati meninggalkan upatjara itu atau lainnja sebelum habis.
Memang utjapan ini ada betulnja. Sebab tak djarang dia pulang larutmalam, kalau sudah menghadiri satu perajaan atau lainnja, jang mungkin termasuk upatjara jang memakai djam karet dan bertele-tele pula. Kadang lewat djam malam, sedang selalu pula ia pada siangnja hanja mengaso satu atau dua djam sadja. Malah tak djarang ia nonstop dari pagi sampai tengah malam terus2an tjetrak-tjetrek dengan alatnja. Bergantung dengan banyaknja undangan jang semua harus didatangi dan minta semua diabadikan.
Namun demikian Paul tidak pernah lelah kelihatan. Ia menjadari bahwa wartawan adalah trompet masjarakat. Abdi rakjat. Dan sama dimengerti bahwa wartawan tulis hanja bisa muat berita disuratkabar untuk dibatja, tapi tidak mendalam kesan akan sesuatunja kalau tidak ada gambar2nja.
Last but not least : bahwa wartawan fotolah jang paling berbahagianja diantara wartawan2 lainnja. Tjona sadja, kalau tiap menghadiri satu perajaan dll, baru sadja dia masuk sudah banjak – jang minta diopname walaupun simanusia itu bukan orang penting pada upatjara tsb. Dan jang begini ini sudah terang menimbulkan keirian pada wartawan2 tulis lainnja. (JW).
Meski Paul Tedjasurja sudah menjadi kontributor koran Pikiran Rakyat sejak tahun 1953, namun baru pada tahun 1985, ia secara resmi menjadi wartawan Pikiran Rakyat dan sejak saat itu telah mengabdi selama kurang lebih 20 tahun lamanya. Berkat dedikasinya terhadap PAF dan dunia fotografi pula, pada tahun 1997 bersamaan dengan HUT PAF ke-73, ia mendapat gelar kehormatan Honorary Perhimpunan Amatir Foto (Hon.PAF). Penghargaan ini diberikan oleh Dewan Pertimbangan Gelar PAF kepada Paul Tedjasurja yang bernomor anggota PAF 026, yang disaksikan oleh 217 anggota PAF yang hadir di Cisarua Lembang. Selain fotografi, ternyata ia pun memiliki hobi lain yaitu mengumpulkan perangko. Uniknya, ia menggabungkan kedua hobi antara fotografi dan mengumpulkan perangko ini yang sering disebut sebagai Foto-Filateli. Boleh jadi Paul Tedjasurja adalah orang pertama di Indonesia yang memadukan obyek foto dengan filateli dan autogram. Karenanya sebelum KAA berlangsung, ia pun sudah memotret Gedung Merdeka sebagai tempat berlangsungnya konperensi tersebut. Bertepatan dengan pembukaan konperensi, pihak Pos & Giro (Pos Telepon dan Telegram / PTT pada waktu itu), menerbitkan perangko seri KAA. Kemudian Paul pun membeli beberapa edisi perangko tersebut, untuk kemudian ditempelkan di belakang foto Gedung Merdeka yang telah ia persiapkan sekaligus meminta stempel hari pertama kepada petugas PTT setempat. Foto perangkonya ini tentunya memiliki nilai lebih dibandingkan dengan sampul hari pertama (first day cover) yang biasa. Tak heran bila Paul dapat membiayai kuliah anaknya di Universitas Katolik Parahyangan berkat menjual koleksi perangkonya tersebut.
Paul Tedjasurja saat ini tinggal dan menetap di sebuah rumah sederhana nan nyaman yang terletak di Komplek Kopo Permai Bandung. Hidup damai bersama istri tercintanya Nyonya Herawati, seolah dibuktikan di dalam kartu namanya yang tertulis nama Paul Tedjasurja dan istri. Ia pun telah dikarunia 3 orang anak dan saat ini telah menjadi kakek dari 6 orang cucu yang dimilikinya. Meski usianya kini genap 85 tahun, namun tubuhnya masih tampak sehat dan daya ingatnya pun masih cukup tajam. Sekarang dan selamanya, Paul Tedjasurja adalah sebuah contoh sejati bagi pewarta kesetiaan. Nama dan karyanya akan selalu hidup dan menjadi berkat abadi dalam peradaban fotografi kita. Dengan pengantaraan cahaya yang menerangi Paul Tedjasurja, marilah kita selalu mengenangkannya dalam laku dan sikap kita.
Sumber Tulisan
– Wawancara dengan Paul Tedjasurya. Bandung, 25 Maret 2015.
– Media Indonesia. 25 April 2005. “Semangat Paul Setelah 50 Tahun”.
– Suara Pembaharuan. 20 April 2005. “Paul Ingin Hadir di Gedung Merdeka”.
– Pikiran Rakyat. 18 April 2005. “Jepretan Om Paul Abadikan KAA 1955”.
– Kompas. 18 September 1996. “Paul Tedja Surya : The Public Eye”.
– Majalah Fotomedia. Februari 1995. “Paul Tejasurya : Wartawan Foto Dari Kota Kembang”.
– Majalah Gembira. 11 Pebruari 1956. “Wartawan Foto Kita”.
@galihsedayu | bandung, 25 maret 2015
Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Nyanyian Pemersatu Dari Lubuk Hati Soeria Disastra
Teks & Foto oleh galih sedayu
Umurnya sudah genap berusia 72 tahun, namun tubuhnya masih kelihatan tegap dan perawakannya pun masih tergolong sehat dan bugar. Meski rambutnya sudah mulai memutih, namun raut wajahnya masih memancarkan keramahan yang menghangatkan. Penampilannya sangat sederhana, dengan kemeja tangan pendek bermotif garis lurus serta celana panjang berbahan kain yang dikenakannya. Teh hangat yang langsung dituangkan olehnya sendiri ke dalam gelas-gelas kecil serta suguhan pisang yang diberikan, menjadikan bukti bahwa betapa baiknya manusia satu ini. Itulah sosok seorang Soeria Disastra, tatkala saya dan beberapa teman berkesempatan menyambangi rumah sekaligus toko peralatan musik miliknya yang terletak di Jalan Kepatihan No.61 Bandung. Soeria Disastra adalah seorang tokoh Tionghoa yang kerap disebut sebagai “seniman pemersatu”. Ia sangat menyukai sastra, yang sekaligus digunakan olehnya sebagai jembatan untuk menyambungkan berbagai perbedaan budaya. Kesusastraan Tionghoa, Sunda & Indonesia dilebur olehnya menjadi sebuah entitas penting dalam upaya mempersatukan keberagaman. Beratus-ratus puisi dan puluhan prosa telah ia terjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa serta menerbitkannya ke dalam sejumlah buku. Diantaranya Antologi Prosa & Puisi, “Senja di Nusantara” (2004), Terjemahan Puisi Baru Tiongkok “Tirai Bambu” (2006), dan sebuah buku berbahasa Tionghoa yang berjudul “Tak Pernah Aku Melihat Bulan” (2010). Karena jejak-jejak karya yang lahir darinya, ia pun terpilih sebagai salah satu dari sepuluh finalis Danamon Awards pada tahun 2010, yakni sebuah ajang penghargaan bagi tokoh-tokoh yang dianggap penting dalam gerakan kemanusiaan di bumi pertiwi.
Dalam pertemuan tersebut, Soeria banyak bercerita perihal berbagai pengalamannya waktu kecil. Salah satu yang menarik adalah peristiwa yang ia alami ketika masih duduk di bangku sekolah menengah dasar. Kala itu ia bersama seorang temannya, sedang bermain di area sekitar gedung merdeka Kota Bandung. Meski momen itu bertepatan dengan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955, Soeria kecil melihat bahwa suasana pada saat itu tidaklah begitu ramai. Kemudian ia menuturkan bahwa saat itu pula ia bertemu secara tidak sengaja dengan Chou En Lai, yakni Perdana Mentri Republik Rakyat Tiongkok yang sedang berjalan ditemani oleh para pengawalnya di sekitar Gedung Merdeka. Karena Nama Chou En Lai begitu sangat populer dan sering diajarkan di sekolah-sekolah Tionghoa, Soeria pun langsung mengenali sosok perdana mentri tersebut dan dengan serta merta memanggil nama Chou En Lai. Menurut Soeria, saat itu Chou En Lai hanya menengok ke arahnya sekejap dan kemudian kembali berjalan bersama para pengawalnya. Meski peristiwa itu hanya berlangsung singkat, namun ingatan tersebut masih membekas hingga kini di dalam kepala seorang Soeria Disastra.
Soeria Disastra lahir dan menetap di Kota Bandung meskipun seringkali ia berpindah-pindah tempat. Ia banyak mengeyam pendidikan di sekolah-sekolah Tionghoa dari mulai tingkat sekolah dasar, menengah hingga umum. Karena minatnya yang tinggi terhadap budaya dan bahasa, ia pun akhirnya memilih kampus Akademi Bahasa Asing (ABA) di Jalan Cihampelas Bandung yang sekarang namanya menjadi Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA). Setelah lulus kuliah, ia mulai fokus untuk mengelola usaha pribadi yang digelutinya sampai saat ini. Ia pun turut aktif dalam Komunitas Sastra Tionghoa Indonesia dan mengelola Paduan Suara Kota Kembang yang sejak dulu didirikan. Kini, Soeria tengah membantu penyusunan buku sejarah yang akan dibuat dalam rangka memperingati Konferensi Asia Afrika yang ke-60 tahun. Bahkan ia pun sengaja menciptakan lirik lagu yang berjudul “Bangkit dan Terbang Asia Afrika” sebagai salah satu persembahan yang diberikan olehnya bagi warga Kota Bandung dan bangsa Asia Afrika. Soeria berharap bahwa nilai-nilai Dasa Sila Bandung yang telah dihasilkan dari Konferensi Asia Afrika tahun 1955, dapat diterapkan dan dilaksanakan dengan baik oleh kita semua. Ia pun sangat menaruh harapan bahwa Bandung dapat menjadi simbol pemersatu bangsa Asia Afrika meski dengan berbagai perbedaan budaya. Bila Kota Jakarta adalah ibukota negara Indonesia, namun Bandung adalah ibukota Asia Afrika. Tentunya tanggung-jawab besar itu mesti kita pikul bersama. Karena sesungguhnya kekuatan Bandung itu adalah Kolaborasi yang menjadi Aksi.
@galihsedayu | Bandung, 23 Maret 2015
Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Buku & Jurnal Foto karya galih sedayu
“Buku Foto adalah Mata, Cahya & Warta Hidup Seorang Penjala Waktu”
Setiap manusia tentunya mengalami sejumlah momen & peristiwa. Begitu pula dengan saya. Setiap hari mata saya melihat berbagai imaji dalam hidup. Namun tentunya hanya sebagian saja dari pengalaman melihat tersebut yang mampu saya catat dan bekukan melalui medium fotografi. Yang kemudian saya hidangkan dalam bentuk himpunan buku & jurnal foto agar bisa dinikmati serta dirasakan bagi semua orang yang ingin mencicipinya. Kegemaran saya untuk merekam & mengarsipkan visual barangkali menjadi pemantik diri sehingga literasi foto ini ada. Saya sangat bersyukur karena tapak visual yang saya hadirkan ini bisa terjadi karena sebuah kekuatan yang bernama kolaborasi. Dimana ini semua lahir berkat buah sinergi dari para sahabat yang menjalin simpul di sana. Dari mulai desainer grafis, ilustrator, desainer produk, penerjemah, editor foto hingga fotografer lain yang menjadi teman diskusi. Saat ini kumpulan buku & jurnal foto tersebut saya simpan dan bisa dibaca di ruang perpustakaan AFN yang beralamat di Komplek Surapati Core, Jalan PHH. Mustofa 39 Bandung. Kiranya buku foto ini dapat menjadi refleksi serta ingatan abadi sepenggal ide & opini saya yang dituturkan dalam bahasa fotografi. Agar saya tetap mengerti bahwa hidup itu sangat bernilai dan sudah semestinya kita selalu berbagi cerita kepada yang lain. Tentang diri kita, tentang hidup kita, tentang dunia kita.
– galih sedayu –
* Personal Photo Book [Published] : 2 buah ; Collaboration Photo Book [Published] : 4 buah ; Dummy Photo Book {Unpublished] : 26 buah
***
* PERSONAL PHOTO BOOKS {PUBLISHED}
Deus Providebit
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Anjar Gumie
Penerbit : Air Foto Network & Ruang Kolaborasa
Topik : A Love Book ; In Memoriam of Christine Listya
Terbit : Bandung, 30 Januari 2016 | 500 eks
Spesifikasi Buku : 15 x 20,5 cm ; 170 Halaman

Bandung From Spaces To Places
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Irman Nugraha
Penerbit : Air Foto Network
Topik : Ruang Publik Kota Bandung
Terbit : Bandung, Desember 2013 | 1000 eks
Spesifikasi Buku : 21,5 x 30 cm ; 158 Halaman
ISBN : 978-602-14408-1-0

***
* COLLABORATION PHOTO BOOKS {PUBLISHED}
Asian African Parade
Fotografer : galih sedayu, Ruli Suryono & Sudarmanto Edris
Desain Grafis : Anjar Gumilar
Penerbit : Air Foto Network
Topik : Parade Kostum Asia Afrika
Terbit : Bandung, April 2015 | 500 eks
Spesifikasi : 21 x 14,5 cm ; 78 Halaman

Home of Creative Minds
Fotografer : galih sedayu & Dudi Sugandi
Desain Grafis : Irman Nugraha
Illustration : Benny Prabowo & Taufan Aditya
Penerbit : Air Foto Network
Topik : Bandung Tourism
Terbit : Bandung, April 2015 | 1000 eks
Keterangan : Buku suvenir ekslusif bagi para delegasi KAA 2015
Spesifikasi : 21 x 14,5 cm ; 94 Halaman

Bandung Nu Urang
Fotografer : galih sedayu, Amirudin Fuad Ridlo, Ardiles Klimarsen, Arya Magindra, Arya Marta, Ayi Rahmat Hidayat, Barly Isham Arsatadany, Eligius Adi Darma, Endras Septiano, Fitra Ananta Sujawoto, Gunawan Winata, Ivan Arsiandi, Jakobus Gunawan, Julius Tomasowa, Krisna Satmoko, Lestari Perangin Angin, Mia Sjahir, Myke Jeanneta, Refa I Adiredja, Rifan Wahyudi, Satya Andhika, Siti Desintha, Sjuaibun Iljas, Sudarmanto Edris, Walgi Efriyan & Wiwit Setyoko
Desain Grafis : Maulin Tohir
Penerbit : Air Foto Network
Topik : Industri Kreatif Bandung
Terbit : Bandung, 19 Juli 2014 | 1000 eks
Spesifikasi : 21 x 14,5 cm ; 94 Halaman

Creative Indonesia | A Nation In Change
Fotografer : Agus Bebeng, Ahmad Subaidi, Akbar Nugroho Gumay, Andika Betha, Andika Wahyu, Ari Bowo Sucipto, Basrul Haq, Bhakti Pundhowo, Dudi Sugandi, Eric Ireng, Fanny Octavianus, galih sedayu, Herry Hermawan, Irsan Mulyadi, Ismar Patrizki, Jefri Aries, John Suryaatmadja, Maulana Surya Tri Utama, Noveradika, Nyoman Budhiana, Prasetyo Utomo, Puspa Perwitasari, R. Rekotomo, Rahmad Gunawan, Regina Safri, Rezza Estily, Rosa Panggabean, Sahrul Manda Tikupadang, Saptono, Tchandra Moh Amin, Teresia May, Wahyu Putro, Widodo S. Jusuf, Wildan Anjarbakti, Yori Antar, Yudi Mahatma, Yusran Uccang
Penerbit : Pusat Hubungan Masyarakat Kementrian Perdagangan Republik Indonesia
Penasehat : Mari Elka Pangestu (Menteri Perdagangan)
Terbit : Jakarta, Oktober 2011 | 1000 eks
Spesifikasi : 21,5 x 28,5 cm ; 208 Halaman
ISBN : 978-602-9179-02-6

***
* DUMMY PHOTO BOOKS {UNPUBLISHED}
Beroleh Hijau di Pasar Cijaringao
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Karlina Dian Agustina
Topik : Festival Pasar Cijaringao
Lokasi & Waktu : Cijaringao Hejo Udjo, Jawa Barat |12 Agustus 2018
Spesifikasi : 14,5 x 21,5 cm ; 68 Halaman

Warisan Leluhur Dunia Di Shirakawa-go
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Karlina Dian Agustina
Topik : Desa Tradisional Shirakawa-go
Lokasi & Waktu : Shirakawa-go, Jepang |4 Februari 2018
Spesifikasi : 14,5 x 21,5 cm ; 46 Halaman

He(Art) of Silence
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Agung Yunia
Editor & Supervisi Foto : Ruli Suryono
Topik : Silent Bandung
Lokasi & Waktu : Bandung | 2011 – 2016
Spesifikasi : 19 x 25,5 cm ; 218 Halaman


Selewat Mata Merasakan Penang
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Rizkia Noviarianti
Topik : “Street Photography” di Penang
Lokasi & Waktu : Penang, Malaysia | 26 November 2015
Spesifikasi : 15 x 20,5 cm ; 33 Halaman

Pesona Dunia Pantai Padang-Padang
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Resti Diah
Topik : Foto Cerita Perihal Pantai Padang-Padang
Lokasi & Waktu : Bali, 7 Juli 2015
Spesifikasi : 13 x 14,5 cm ; 18 Halaman

Hutan Mangrove Pagar Penguat Pantai Bali
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Nur Arif Sifa Fadilah
Topik : Foto Cerita Perihal Hutan Mangrove
Lokasi & Waktu : Bali, 6 Juli 2015
Spesifikasi : 14,5 x 21,5 cm ; 22 Halaman

Mencari Surga Di Pantai Balangan
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Fauzi Satria
Topik : Foto Cerita Perihal Pantai Balangan
Lokasi & Waktu : Bali, 2 Juli 2015
Spesifikasi : 13 x 18,5 cm ; 18 Halaman

Geliat Bergerak Industri Kreatif Tasikmalaya
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Demas Pradama
Topik : Foto Cerita Perihal UKM Di Sentra Industri Tasikmalaya
Lokasi & Waktu : Tasikmalaya, 10 Desember 2014
Spesifikasi : 15,5 x 22 cm ; 40 Halaman

Gegap Gembita Bobotoh Menyambut Sang Juara Maung Bandung
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Adhytia Rizkianto
Topik : Foto Cerita Perihal Perayaan Kemenangan Persib Dalam Final Liga Super Indonesia
Lokasi & Waktu : Bandung, 9 November 2014
Spesifikasi : 14,5 x 21,5 cm ; 16 Halaman

Pokok Hidup Temanggung Di Lahan Perkebunan Tembakau
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Anjar Gumilar D
Tema : Foto Cerita Perihal Perkebunan Tembakau
Lokasi & Waktu : Temanggung, Jawa Tengah | 19 Agustus 2014
Spesifikasi : 15 x 20 cm ; 56 Halaman

Mengintip Penang, Mengetuk George Town
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Adhytia Rizkianto
Topik : “Street Photography” Perihal George Town
Lokasi & Waktu : George Town, Penang, Malaysia | 1-4 Agustus 2014
Spesifikasi : 14 x 21 cm ; 26 Halaman

Japan In Some Moment | Pandangan Pertama Di Negeri Matahari Terbit & Senandung
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Anjar Gumilar D
Topik : “Street Photography” & Foto Cerita Perihal Pedestrian
Lokasi & Waktu : Tokyo & Hamatsu, Jepang | 9-12 Juni 2014
Spesifikasi : 15 x 20,5 cm ; 46 Halaman

Detak Jantung Di Danar Hadi
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Fauzi Satria
Topik : Foto Cerita Perihal Para Pekerja Batik Di Danar Hadi
Lokasi & Waktu : Solo | 5 Maret 2014
Spesifikasi : 14,5 x 21,5 cm ; 29 Halaman

Oh Borobudur
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Resti Diah
Topik : Foto Cerita Perihal Candi Borobudur Yang Dirusak
Lokasi & Waktu : Jogyakarta | 4 Maret 2014
Spesifikasi : 11 x 14,5 cm ; 29 Halaman

Antara Ketenangan & Kekuatiran Raja Di Taman Sari Yogyakarta
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Amalia Nurbayti
Topik : Foto Cerita Perihal Situs Sejarah Taman Sari
Lokasi & Waktu : Jogyakarta | 2 Maret 2014
Spesifikasi : 10,5 x 14,5 cm ; 25 Halaman

Kita Selfie Maka Kita Ada
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Riyan Putra Lesmana
Topik : Foto Cerita Perihal Kegiatan “Selfie & Welfie”
Lokasi & Waktu : Bandung, Bali, Jepang, Puncak | Periode 2014-2015
Spesifikasi : 14 x 14 cm ; 54 Halaman

Demonstrasi Hening Para Pengawal Hutan
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Anjar Gumilar
Topik : Foto Seri Perihal Lukisan Mural Oleh Para Seniman Bandung Di Pagar Seng Hutan
Lokasi & Waktu : Hutan Kota Dunia Babakan Siliwangi, Bandung | 10 April 2013
Spesifikasi : 20 x 20 cm ; 54 Halaman

15 Days
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Cintya Nur Ramadhian
Topik : Foto Cerita Perihal Perayaan Cap Go Me
Lokasi & Waktu : Bandung, Periode Tahun 2012-2013
Spesifikasi : 15 x 21,5 cm ; 51 Halaman

Anjing Blues
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Riyan Putra Lesmana
Topik : Foto Cerita Perihal Kehidupan Anjing Di Pantai
Lokasi & Waktu : Bali & Pangandaran ; Periode Tahun 2013-2015
Spesifikasi : 10 x 12 cm ; 30 Halaman

Kampung Taman Sari
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis & Ilustrasi : Intan Daniar
Topik Karya Foto : Foto Cerita Perihal Kampung Taman Sari
Lokasi & Waktu : Bandung ; Periode Tahun 2011-2012
Spesifikasi Jurnal : 25,5 x 18 cm ; 55 Halaman

Simpul Kebersamaan Di Kampung Dago Pojok
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Dyah Hastiasa Chidmawati
Topik : Foto Cerita Perihal Kampung Kreatif Dago Pojok
Lokasi & Waktu : Kampung Dago Pojok, Bandung | 10 Juni 2012
Spesifikasi : 15 x 21 cm ; 36 Halaman

Membaca Sunda
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Aulia C. Islamy
Topik : Foto Cerita Festival Budaya Masyarakat Adat Sunda
Lokasi & Waktu : Pasir Impun, Bandung | 3 Juni 2012
Spesifikasi : 15,5 x 22,5 cm ; 36 Halaman

Dalam Nama Kuda
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Syifa Nadzifa
Topik : Foto Seri Perihal Nama-Nama Kuda
Lokasi & Waktu : Cilaki, Bandung | 13 Mei 2012
Spesifikasi : 14,5 x 21,5 cm ; 40 Halaman

Kampung Akustik Cicadas
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Cintya Nur Ramadhian
Topik : Foto Cerita Perihal Kampung Kreatif Cicadas
Lokasi & Waktu : Kampung Cicadas, Bandung | 6 April 2012
Spesifikasi : 14,5 x 21,5 cm ; 43 Halaman

Refleksi & Jejak Jaman Di Gunung Padang
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Dyah Hastiasa Chidmawati
Topik : Foto Cerita Perihal Situs Megalitikum Gunung Padang
Lokasi & Waktu : Cianjur, Jawa Barat | Periode Tahun 2011-2012
Spesifikasi : 14,5 x 22 cm ; 35 Halaman

Secercah Kearifan Di Kampung Naga
Fotografer : galih sedayu
Desain Grafis : Varren Vilamizar
Topik Karya Foto : Foto Cerita Perihal Kehidupan Kampung Naga
Lokasi & Waktu : Tasikmalaya, Jawa Barat ; Periode Tahun 2011 – 2013
Spesifikasi Jurnal : 14,5 x 21 cm ; 102 Halaman

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.






























































































