I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Sekilas Foto Cerita

with 4 comments

Teks : galih sedayu

Di dalam dunia fotografi kita telah banyak mengenal istilah karya Single Photo (foto tunggal). Pada umumnya telah banyak para pemotret yang menghasilkan karya Single Photo tersebut misalnya saja foto seorang bocah kecil, sebuah bangunan tua ataupun sekilas pemandangan pagi. Ada istilah lain tentang karya foto dalam dunia fotografi yang berbeda dengan karya foto tunggal yaitu Photo Story. Ada juga yang menyebutnya dengan istilah Picture Story atau Photo Essay. Apa itu sebenarnya Photo Story?

Photo Story atau Foto Cerita adalah kumpulan karya foto yang dibuat dengan tujuan untuk menyampaikan sebuah cerita dari suatu tempat, peristiwa ataupun sebuah isu yang ada. Dimana foto-foto tersebut merepresentasikan karakter serta menyuguhkan emosi bagi yang melihatnya, berdasarkan sebuah konsep yang menggabungkan antara seni dan jurnalisme. Semua karya Photo Story merupakan kumpulan karya foto, tetapi tidak semua kumpulan karya foto merupakan karya Photo Story.

Ada dua Jenis Photo Story. Yang pertama adalah Foto Naratif yaitu kumpulan karya foto berdasarkan urutan dari sebuah kejadian atau peristiwa. Misalnya foto-foto tentang seorang ibu penjual jamu dimana si pemotret mengikuti dan merekam segala aktivitas ibu penjual jamu tersebut dari mulai mempersiapkan dagangan jamunya di rumah, berangkat keluar rumah untuk menjajakan jamunya hingga pulang kembali ke rumah. Jenis Photo Story yang kedua adalah Foto Tematik yaitu kumpulan karya foto yang memfokuskan pada sebuah tema sentral dimana foto-foto yang diambil tidak melulu mentitik-fokuskan pada sebuah tempat ataupun peristiwa tertentu. Tetapi foto-foto tersebut relevan dengan tema yang diambil misalnya isu pendidikan yang rendah, pengentasan kemiskinan, polusi pabrik dan lain sebagainya.

Adapun langkah- langkah yang dilakukan untuk membuat sebuah Photo Story yaitu:

  1. Tentukan sebuah topik atau tema

  2. Lakukan penelitian kecil

  3. Membuat sebuah cerita yang nyata

  4. Mencari emosi & karakter

  5. Eksekusi foto

Eksekusi Photo Story yang baik yaitu foto-foto yang   bercerita dimana foto-foto tersebut dapat berdiri sendiri, foto-foto dengan berbagai penyajian (sudut lebar, potret, detail), foto-foto yang memiliki urutan foto yang baik (menarik, logis & efektif bercerita), foto-foto yang memiliki Informasi & Emosi (mampu menyampaikan sebuah pesan yang baik) dan foto-foto yang menyertakan caption atau keterangan tentang foto.

Dalam proses pemilihan & penyusunan urutan Photo Story ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

  1. The Lead Photo, yaitu Foto yang paling menonjol dari seluruh rangkaian foto.

  2. The Scene, yaitu Foto yang menggambarkan suasana atau tempat dari tema sentral.

  3. The Portraits, yaitu Foto potret yang dramatik & menggugah emosi.

  4. The Details Photo, yaitu Foto yang terfokus pada detail sebuah obyek misalnya bangunan, wajah ataupun benda.

  5. The Semiotic Photo, yaitu Foto sederhana yang memiliki nilai simbolis dan makna tertentu dari sebuah cerita

  6. The Signature Photo, yaitu Foto yang menangkap sebuah kesimpulan dari sebuah cerita.

  7. The Clincher Photo, yaitu Foto yang menentukan akhir dari sebuah cerita berupa harapan, kebahagiaan atau sesuatu yang membangkitkan inspirasi.

Ketika kita membuat Photo Story ada beberapa hal lain yang dapat mempengaruhi hasil karya diantaranya adalah penguasaan teknis pemotretan, wawasan & kreativitas pemotret, kejelian pemotret dalam merekam obyek foto, dan totalitas pemotret. Sehingga ketika kita memiliki semua hal itu, niscaya foto-foto yang telah kita hasilkan akan mengeluarkan sebuah citra yang utuh dari peristiswa atau isu yang kita pilih.

Akhir kata semoga segala citraan yang dihadirkan kembali oleh mata fotografi kita dapat menjadi adegan-adegan beku bersejarah yang terus dikenang dan terus dibagikan bagi kelangsungan peradaban cahaya juga bagi kelangsungan hidup manusia sampai akhir hayatnya.

Bandung, 2 Juli 2010

Written by Admin

July 2, 2010 at 5:58 am

citra yang terhembus dari ruang, imaji & jiwa

leave a comment »

oleh galih sedayu

Berarsitektur yang sesungguhnya adalah tentang “Guna” dan “Citra” 
– Yusuf Bilyarta Mangunwijaya –

Sebelum munculnya peradaban yakni tatkala bumi ini gelap gulita, Tuhan sebagai Sang arsitektur kehidupan menjadikannya terang melalui tanganNya yang terus mencipta hingga detik ini. Sesungguhnya samudra biru yang luas, burung-burung yang beterbangan di udara, hutan belantara hijau yang menjadi oksigen dunia, hingga manusia yang terus beranak-cucu adalah buah karya arsitektur yang diciptakan olehNya dengan penuh cinta. Manusia yang menjadi mahluk kesayanganNya pun meneruskan proses penciptaan tersebut sehingga ruang-ruang kosong di permukaan bumi ini dengan cepat terisi. Dari mulai gubuk-gubuk kecil yang beratapkan jerami hingga sederet bangunan pencakar langit yang bak berlomba untuk menyentuh awan.

Arsitektur menjadi kata kunci yang tidak bisa lepas dari keberadaan sebuah ruang dan lingkungan dengan segala isinya. Pengertian kata arsitektur yang berasal dari Bahasa Yunani “Architectoon” yang memiliki arti tukang ahli bangunan yang utama, saat ini agaknya menjadi miskin dibanding dengan pemaknaan yang dapat digali secara lebih mendalam. Misalnya saja pemaknaan tentang arsitektur yang diusung oleh seorang Arsitek asal kota Ambarawa yang bernama Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau Romo Mangun (1929-1999). Bagi dia, arsitektur menjadi sebuah media perjuangan untuk tujuan kemanusiaan. Beliau pernah turun tangan dalam konflik sosial di kawasan Lembah Code Jogyakarta ketika muncul rencana penggusuran. Dimana beliau menggunakan arsitektur untuk membantu meredam konflik tersebut dengan mengajak masyarakat setempat untuk membersihkan serta membangun kawasan kali code yang kumuh. Dari hal tersebut kita melihat bagaimana sesungguhnya arsitek tidak hanya bertanggung jawab dalam hal mendesain rumah ataupun bangunan, tetapi juga bagaimana seorang arsitek dapat menjawab segala persoalan tentang kondisi lingkungan dan sosial yang ada di masyarakat.

Fotografi yang erat kaitannya dengan menciptakan sebuah citra, dapat menjadi sebuah media penyampaian pesan tentang segala hal yang terkait dengan citra arsitektur itu sendiri. Karenanya sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam wadah kreatif fotografi kampus Universitas Katolik Parahyangan yakni “Arsitektur Foto”, bermaksud menyampaikan citra dan pemaknaan arsitektur kepada publik melalui Pameran Foto yang mereka suguhkan dengan tajuk “Human & Architecture”. Ada sekitar 50 buah karya foto hasil kurasi yang dipamerkan yang berasal dari hasil bidikan berbagai komunitas kreatif fotografi yaitu Komunitas Kamera Lubang Jarum (KLJ), Kaskus Plastik & Toy Camera Community (Klastic), Komunitas poco-poco, Brigadepoto# dan Arsitektur Foto (AF).

Foto-foto seri dengan judul “Edifice Complex” karya Sandy Jaya Saputra, mencoba menggiring persepsi stereotipikal tentang arsitektur yang cenderung mewakili bentuk fisik menuju ke sebuah pemahaman psikologi, sosial dan budaya. Foto karya Salman Rimaldhi Zahrawan yang berjudul “I am where I live” dan “We are where we live”, mengajak kesadaran kita untuk memahami bahwa betapa erat korelasi antara arsitektur dengan individu, komunitas serta lingkungan yang menempatinya. Lain halnya dengan foto karya Anggoro yaitu “Straightlines”, yang mengkomposisikan secara sederhana tentang tangga yang memiliki pengertian filosofis tentang kehidupan yang kadang naik & turun.

Setidaknya beberapa gagasan tentang pencitraan manusia dan arsitektur yang dieksekusi melalui fotografi ini memberikan sebuah pemahaman lain. Bagaimana sebenarnya arsitektur dengan segala fungsinya selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Dimana arsitektur terjadi karena tuntutan dari jaman yang selalu berubah pula. Semisal isu pemanasan global yang menuntut desain arsitektur yang ramah lingungan. Ataupun isu lokalitas yang menuntut desain arsitektur yang kreatif sesuai kultur setempat. Sehingga kita semakin menyadari bahwa berarsitektur bukan hanya sekedar membangun secara fisik melainkan dengannya kita dapat menawarkan sejumlah solusi kepada dunia. Agar kehidupan di muka bumi ini semakin indah. Agar bumi ini selalu ada yang mempunyai. Dan tentunya fotografi selalu hadir untuk menyapa agar manusia tetap melihat bumi ini dengan keceriaan dan harapan.

*Tulisan ini diberikan sebagai kata pengantar Pameran Foto “Human and Architecture” yang diadakan oleh Arsitektur Foto (AF) Universitas Katolik Parahyangan pada tanggal 14 s/d 20 April 2010 di Galeri Kita, Jalan RE Martadinata 209 Bandung.

@galihsedayu | bandung, 18 mei 2010

Written by Admin

May 18, 2010 at 2:10 am

News at DetikBandung

with 2 comments

Kamis, 01/04/2010 10:03 WIB

Galih Sedayu, Buka Konsultasi Fotografi Gratis
Ema Nur Arifah – detikBandung

Bandung – Bagi penggiat fotografi, nama Galih Sedayu mungkin bisa ditempatkan sebagai pupuhunya komunitas fotografi. Pria kelahiran Bogor, 35 tahun silam ini, boleh dibilang sebagai motor penggerak bermunculannya acara-acara fotografi di Kota Bandung.

Galih pun tak enggan berbagi ilmu. Lewat Air Photography yang didirikannya 17 Agustus 2004 lalu, dia membuka konsultasi gratis untuk mahasiswa yang ingin menggelar acara-acara fotografi. Sebanyak 20-an relawan pun siap membantu sebagai konsultan.

Padahal pendidikan formal Galih tidak berasal dari fotografi. Secara otodidak, setelah lulus dari Tekhnik Indstri Unjani di tahun 1999, Galih belajar dari perusahaan-perusahaan foto tempatnya bekerja.

“Saya pernah bekerja di beberapa studio foto, kemudian berinisiatif untuk membuat usaha foto sendiri,” ujarnya.

Belajar dari pengalaman, dia membuka Air Photography bersama dua kawannya. Galih bisa membuktikan kalau membuka usaha tidak harus berpikir modal yang besar.

Dengan cara mencicil modal, satu per satu sarana dan pra sarana studio dilengkapi. Dalam perjalanannya kemudian, manajemen Air Photography dipegangnya sendiri dan dua kawannya kini hanya sebagai freelancer.

Keseimbangan atau balance manjadi filosofi Galih dalam mengembangkan Air Photography. Tidak semata-mata komersil tapi juga memunculkan sisi sosial.

“Antara komersil dan sosial harus balance,” ujar Galih usai gelaran Photo Speak di garasi Detikbandung Jalan Lombok 33, Rabu (31/3/2010).

Meski awalnya Air Photography didirikan untuk tujuan komersil. Namun keinginan berbagi Galih membuatnya tergerak untuk membuat program-program yang bisa menunjang sisi komersil tadi.

Salah satunya adalah Photo Speak, ajang sharing ilmu fotografi yang digelarnya sejak tahun 2005. Melalui Photo Speak, Galih bisa membangun jaringan komunitas di kalangan mahasiswa. Ruang terbuka konsultasi gratis diberikan pada mereka untuk yang berkaitan dengan event-event fotografi.

“Kalau dengan perusahaan-perusahaan, kita lakukan secara profesional,” jelas pria yang akan melepas masa lajangnya di bulan Mei mendatang ini.

Galih mencontohkan kerjasamanya dengan PT Pos Indonesia yang hampir setiap tahun mengelar photo contest. Setidaknya Galih ingin menunjukan kalau dunia akademisi mash memiliki pe er. Seharusnya, adalah tugas para pengajar untuk memberikan ilmu mengelola event fotografi untuk mahasiswanya.

(ema/avi)

Written by Admin

April 4, 2010 at 2:09 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

Longsor Di Kampung Dewata

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Apa yang kita bangun selama bertahun-tahun, mungkin akan hancur dalam semalam. Biar begitu, tetaplah membangun.

Kebaikan yang kita lakukan hari ini, mungkin akan dilupakan orang keesokan harinya. Biar begitu, tetaplah lakukan kebaikan.

Berikanlah pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak akan pernah cukup. Biar begitu, tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik.

-Mother Teresa-

Bandung, 23 Februari 2010

Copyright (c) 2010 by galih sedayu
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 10, 2010 at 4:50 pm

Antara Kata dan Citra

leave a comment »

Artikel berita Pameran Foto “Samar” (Terkadang samar itu jelas) di Pikiran Rakyat On Line…

http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=129555

Written by Admin

March 10, 2010 at 4:45 pm

Posted in Uncategorized

Menggugat “Bobotoh” Persib

leave a comment »

Artikel Berita kegiatan Pameran Foto “Hidup Persib” Di Koran Suara Pembaruan

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/08/03/Fotograf/foto01.htm

Menggugat “Bobotoh” Persib

SP/Adi Marsiela

Seorang pengunjung memperhatikan dua buah foto karya Andri Gurnita dalam pameran “Hidup Persib!!!” di Gedung Indonesia Menggugat, Kota Bandung, awal bulan Juli lalu.

Puluhan polisi berdiri berjejer di sisi Jalan Asia Afrika, jalan utama yang membelah sisi utara dan selatan Kota Bandung. Mereka berdiri sembari menenteng senjata laras panjang. Sebagian lain memegang tongkat rotan yang panjangnya kira-kira satu meter.

Di jalanan itu, ribuan bobotoh atau pendukung setia Persib “Maung” Bandung melakukan konvoi dengan kendaraan masing-masing. Tanpa memedulikan aturan, mereka melambai-lambaikan bendera, syal, dan atribut lainnya. Kebanyakan dari bobotoh itu berdiri sembari dibonceng di atas motor yang berjalan tanpa mengenakan helm.

Pemandangan itu, masih lebih baik dibandingkan dengan kelakuan mereka pada tahun 2003. Waktu itu, masih di jalan yang sama, mereka melampiaskan kekesalan, kekecewaan, dan kemarahannya dengan merusak sarana dan fasilitas umum.

Pot-pot bunga berukuran besar pun sengaja dihancurkan dan disimpan begitu saja di tengah jalanan. Batu-batu yang ukurannya sekepalan tangan orang dewasa pun berserakan di sana. Peristiwa itu mewarnai perjalanan Persib di Liga Indonesia (LI) IX yang melewati 12 pertandingan tanpa kemenangan sekalipun.

Rasa egois dari bobotoh itu tidak hanya ditunjukkan saat mereka seusai menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Buktinya, saat Persib menjamu Persija di Stadion Siliwangi, 22 Mei 2005, tidak sedikit anak kecil yang terpaksa dievakuasi oleh petugas dari tribun penonton. Mereka terdesak dan terimpit oleh penonton yang lebih dewasa.

Kebanyakan dari anak-anak itu diangkat setelah petugas berhasil menjebol kawat pagar yang membatasi tempat penonton dengan lapangan. Duel kedua tim memang berakhir imbang, tapi anak-anak itu bukanlah pihak yang harus dikorbankan dalam sebuah pertandingan sepakbola.

Ketiga potongan kejadian ini cukup mencuri perhatian. Pasalnya, dari 75 foto yang ditampilkan dalam pameran tunggal bertajuk “Hidup Persib!!!” karya Andri Gurnita itu, sekitar 10 persen menampilkan pencitraan serupa.

Pastilah ada pesan yang ingin disampaikan dalam pameran yang digelar sejak 1-10 Juli 2008 di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. “Kadang ada cara mencintai yang salah,” kata Galih Sedayu, salah satu dari tiga kurator dalam pameran foto itu.

Buat Gurni, begitu pewarta foto Harian Umum Pikiran Rakyat itu akrab dipanggil, membuat pameran tunggal dengan tema Persib itu sudah menjadi obsesinya sejak lama. “Semoga ini bisa menjadi motivasi buat Persib dalam Liga Super Indonesia 2008,” tuturnya.

Jarang Terjadi

Pameran yang menampilkan 75 foto itu diambil dari ribuan foto Persib dalam lima tahun terakhir. “Saya rasa ini cukup mewakili perjalanan Persib dengan berbagai dinamika, antusiasme bobotoh-nya, dan juga rasa bangga,” tutur Gurni, yang menekuni profesinya sejak tahun 1994.

Dalam pameran itu juga terekam semangat para pemain dalam berlatih. Sembari tertawa mereka beradu cepat. Tampak tidak ada beban dalam keseharian mereka di foto bertajuk Siapa Tercepat.

Padahal, jika dilihat latar belakangnya, latihan yang digelar pada 17 Juni 2007 itu cukup berat. Tim itu baru saja menyelesaikan putaran pertama liga, sehingga pelatih Arcan Iurie Anatolievici memberikan porsi tambahan latihan fisik. Kondisi itu terlihat juga dalam foto Tidur di Lapang, yang menggambarkan para pemain tidur telentang di lapangan seusai digenjot fisiknya.

Sangat disayangkan apabila perjuangan itu dibalas dengan tindakan yang merugikan Persib sendiri. Misalnya, saat penyerang asing Persib asal Kamerun, Christian Bekamenga, harus menenangkan bobotoh ketika menjamu Persema pada 14 Maret 2007. Penonton turun hingga ke sisi lapangan membuat pertandingan dihentikan selama 45 menit.

Hal itu berdampak ke Persib sendiri. Komisi Disiplin akhirnya memutuskan pertandingan melawan PSSB Bireun di Stadion Siliwangi harus diselenggarakan tanpa penonton. Padahal, penonton itu merupakan pemain ke-12 dalam sebuah tim sepakbola.

Gurni mengabadikan momentum itu dengan menggunakan lensa lebar yang memungkinkannya memotret dengan sudut pandang lebih luas. Dia memakai seorang petugas polisi yang duduk di salah satu kursi VIP stadion sebagai latar depan. Sedangkan lapangan hijau, kursi di bagian VIP, dan tribun bagian barat dan selatan, dia abadikan sebagai latar belakang untuk menggambarkan “kesunyian” sebuah pertandingan sepakbola.

Selain bobotoh, ayah satu orang anak itu juga berhasil mengabadikan sejumlah momentum menarik lainnya. Misalnya, gambaran kecemasan, kekhawatiran dari pelatih Arcan Iurie Anatolievici ketika timnya bertamu ke Stadion Persikabo, Cibinong, Kabupaten Bogor.

Gurni mengambil citra Iurie yang tengah mengisap rokoknya dalam-dalam di bawah guyuran hujan. Meski basah, sorot mata Iurie terlihat tajam mengikuti jalannya pertandingan. Mungkin karena keseriusannya itu pula, Persib meraih angka kemenangan dengan kedudukan akhir 1-2.

Bicara foto duel antarpemain ketika berebut bola, Gurni memang memiliki “amunisi” cukup lengkap untuk memotret pertandingan Persib baik di kandang maupun saat bertandang. Wajar jika foto-foto duelnya terdokumentasikan dengan baik. Lensa dengan titik fokus 300 milimeter dan bukaan diafragma 2,8 sangat mumpuni untuknya menghasilkan sebuah duel yang sangat tajam fokusnya dengan latar belakang buram.

Pameran itu memang sangat menarik diperhatikan. Selain pameran tunggal yang dibuat seorang pewarta foto memang jarang terjadi, tiga kurator dalam pameran itu pun berbeda latar belakangnya, Galih (pegiat foto), Andi Sopiandi (perupa sekaligus fotografer), dan Harry Surjana (pewarta foto).

“Semoga saja bisa memotivasi fotografer muda yang masih banyak kesempatan di lapangan agar tambah semangat. Persib juga bisa meraih prestasi tertingginya, dan memotivasi bobotoh untuk menjadi lebih baik lagi,” ujar Gurni mengomentari pameran tunggal pertamanya. [SP/Adi Marsiela]

Written by Admin

February 27, 2010 at 3:44 pm

Posted in Uncategorized

Pameran Foto Samar

leave a comment »

(c) detikBandung

Berita Pameran Foto Samar karya Andri Krisdianto di detikBandung

http://bandung.detik.com/read/2010/02/17/085134/1301079/682/membaca-fotografi-buram

Bandung – Dalam seni, sah-sah saja ada inovasi dalam bentuk apapun. Meski itu harus keluar dari jalur aturan baku yang umum di mata publik. Andri Krisdianto, fotografer muda asal Bandung mencoba menampilkan beragam visual yang tidak biasa. Tak jelas, muram, pudar, abstrak, juga samar.

“Samar, Terkadang Samar Itu Jelas”, demikian judul yang diambil Andri dalam pamerannya di Galeri Esp’Art CCF Bandung, Jalan Purnawarman. Bagi penikmat foto, sebanyak 24 karya Andri akan memberikan pandangan baru tentang fotografi. Bahwa foto ‘tak selalu begitu’.

Tak harus digambarkan utuh, tak masalah si objek menjadi muram atau menjadi sesuatu yang abstrak. Misalnya potret yang menampilkan bayangan, setengah badan, foto objek tanpa kepala, atau hanya bagian kaki saja.

Memang bukan hal baru. Diakui Andri, sebelumnya tekhnik ini sudah digelutinya bersama rekan-rekan sesama penggiat foto. Tapi kali ini dia memberanikan diri untuk menggelar pameran tunggal pertamanya.

“Potret-potret ini visualisasi dari prosa dan puisi,” ujarnya di sela-sela pembukaan pameran, Senin 15 Februari 2010. Setiap judul terinspirasi dari kalimat yang dipungutnya dari puisi karyanya atau lirik lagu.

Dalam setiap potretnya, Andri menggunakan model tunggal. Dengan sentuhan digital yang kental, karya ditampilkan dalam warna monotone, dualtone dan saturasi rendah.

Di mata Galih Sedayu, penggiat fotografi dari Air Photography, pameran Samar ini memang beda dibandingkan pameran fotografi lainnya. “Teknis dikesampingkan, memang harus berani untuk seperti ini,” tutur Galih ditemui di acara yang sama.

Di sini, lanjut Galih, Andri juga memanfaatkan teknologi photoshop dan tone warna yang unik sebagai ciri khas. Namun Galih menyayangkan tidak adanya kejelasan apa yang ingin disampaikan sang fotografer. Pesan yang ingin disampaikan tidak secara jelas terepresentasikan lewat karya-karya tersebut.

“Secara keseluruhan belum diketahui maksudnya apa?,” tuturnya.

Selanjutnya Galih menyanyangkan ketiadaan kurasi yang seharusnya bisa menjadi jembatan antara penikmat dan karya yang dipamerkan. Agar pameran ini maksudnya menjadi lebih jelas.(ema/bbn)

Written by Admin

February 27, 2010 at 3:39 pm

Posted in Uncategorized