I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Puing-Puing Harapan Candi Ratu Boko

leave a comment »

Artikel Berita di Bandungnewsphoto (1 Juli 2011)

leave a comment »

Written by Admin

July 4, 2011 at 1:28 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

Sang Visioner Visual

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Program Photo Rendezvous kembali dihadirkan oleh air foto network di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) pada hari kamis tanggal 30 Juni 2011. Photo Rendezvous kali keenam ini digelar berbarengan dengan Pameran Foto “Aku Melihat Indonesia” yang berisikan tentang foto-foto dokumenter salah seorang pemimpin Bangsa Indonesia, Bung Karno. Photo Rendezvous yang merupakan program edukasi fotografi bagi masyarakat umum ini mendatangkan dua orang pembicara yaitu Diah Pitaloka & Yurri Erfansyah. Diah Pitaloka merupakan kurator sekaligus ketua panitia penyelenggara Pameran Foto Bung Karno yang digelar dari tanggal 24 Juni 2011 s/d 30 Juni 2011 di GIM dalam rangka memperingati bulan Bung Karno. Sedangkan Yurri Erfansyah adalah seorang jurnalis atau wartawan foto yang saat ini bekerja di media online, “Bandungnewsphoto”.

Secara umum Diah Pitaloka telah mengkurasi foto-foto tentang Bung Karno yang jumlahnya sangat banyak sehingga terpilih 101 buah foto untuk dipamerkan. Foto-foto ini ada yang didapatnya dari IPPHOS, Koleksi DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Keluarga Megawati Soekarno Putri, maupun orang-orang yang menyumbangkan album foto tentang Bung Karno secara Sukarela. Hanya saja pada saat proses pemilihan foto tersebut, beberapa diantaranya telah rusak sehingga sulit direstorasi. Diah pun akhirnya mau tidak mau membaca buku-buku, literatur & sejarah perjalanan tentang Bung Karno agar pemilihan foto tersebut berkaitan dengan realitas sejarah yang telah ditulis. Faktor momentum menjadi salah satu kunci bagi Diah dalam memilih gambar-gambar tersebut.

Akhirnya foto-foto yang dipamerkan pun sangat beragam. Di sana banyak terlihat foto-foto Bung Karno yang bersanding dengan para tokoh dunia seperti Fidel Castro, Che Guevara & Mao-Tse Tung. Selain itu ada pula foto Bung Karno yang terlihat akrab dengan masyarakat kecil. Ada cerita yang menarik yaitu foto Bung Karno yang tengah menyalami Jenderal Sudirman. Menurut yang Diah baca dari berbagai sumber, banyak yang menyebutkan bahwa pada saat itu Bung Karno meminta adegan ia bersalaman dengan Jenderal Sudirman tersebut diulang. Mungkin Bung Karno merasa bahwa foto yang diambil sebelumnya kurang sempurna di mata beliau. Jadi pada intinya adalah Bung Karno sangat memperhatikan hal-hal kecil termasuk yang menyangkut citra visual tentang dirinya. Karena Ia sadar benar bahwa citra visual itu (foto) nantinya akan sangat berharga dan menjadi sejarah yang tak terlupakan di kemudian hari. Cerita ini tentunya mengingatkan kita pada karya foto Joe Rosenthal yang dibuat tahun 1945, yaitu foto para serdadu Amerika yang tengah mengibarkan bendera AS di bukit surobachi. Menurut sejarah, adegan foto inipun sebenarnya diulang agar kelihatan lebih heroik dan sempurna.

Yurri Erfansyah berbicara tentang konteks foto dokumenter jaman dahulu dibandingkan dengan masa kini. Yurri berpendapat seharusnya di era sekarang ini, para fotografer semakin dituntut untuk menciptakan karya-karya foto yang semakin berkualitas dibandingkan dengan jaman dahulu yang sarat dengan keterbatasan teknologi. Selain itu Yurri menampilkan beberapa karya foto dokumenter yang ia buat dari mulai demo, ariel peter pan, gubernur jabar sampai foto bencana.

Pada intinya, saat ini mesti dibangun kesadaran bersama untuk menyelamatkan karya-karya foto masa lalu terutama yang erat kaitannya dengan sejarah bangsa kita. Karena banyak sekali karya foto tentang bangsa kita yang disimpan secara apik & teratur oleh bangsa lain, bukan oleh bangsa kita. Tentunya juga perlu dibarengi dengan mengarsipkan karya foto masa kini sebagai kajian sejarah untuk masa yang akan datang. Hingga akhirnya bangsa kita memiliki “identitas visual” agar Bangsa Indonesia selalu tercatat di dalam sejarah peradaban dunia.

Bandung, 4 Juli 2011

Written by Admin

July 4, 2011 at 1:22 am

Refleksi & Jejak Jaman Di Gunung Padang

with one comment

Foto & Teks : galih sedayu

“History is a cyclic poem written by time upon the memories of man”
-Percy Bysshe Shelley-

Ketika umat manusia mengalami berbagai peradaban jaman di dunia yang sudah sangat tua ini, tentunya sebagian peradaban tersebut kerap menyisakan jejak-jejak fisik sebagai bukti keberadaannya sekaligus kebesaran yang diwariskan olehnya. Jaman Megalitikum misalnya. Sebuah jaman prasejarah dimana manusia pada saat itu menggunakan batu-batu besar sebagai wujud ekspresi kebudayaan yang tercipta. Beberapa Situs Megalitikum di dunia pun menjadi saksi bisu peradaban nenek moyang kita di masa silam. Sebut saja Stonehenge yang berada di Wiltshire, Inggris. Sebuah lingkaran yang terdiri dari batu-batu besar berdiri tegak menapak tanah tersebut menjadi salah satu tempat yang sering dikunjungi dan dijadikan bahan penelitian oleh para penjelajah kebudayaan.

Indonesia pun ternyata sedikit banyak menyisakan tempat yang mencatat jejak-jejak kebesaran jaman megalitikum tersebut. Salah satunya adalah Gunung Padang. Situs megalitik ini tepatnya berada di Desa Haryomukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Lokasi Gunung Padang ini berada di pedalaman perkebunan teh yang dikelilingi oleh empat buah gunung yaitu Gunung Emped, Gunung Karuhun, Gunung Pasir Malang dan Gunung Pasirpogor. Situs ini berada di puncak bukit dan merupakan sebuah area berupa punden berundak yang terdiri dari lima tingkat dengan hamparan bebatuan berbentuk persegi panjang. Sebagian batu-batu tersebut ada yang tidur tertanam dan ada pula yang berdiri tegak di atas tanah. Untuk mencapai situs tersebut dari dasar, jalan yang ditempuh mesti melalui ratusan tangga batu yang curam setinggi 95 meter. Luas area inti Situs Gunung Padang ini sekitar 4000 m dari luas area keseluruhan yaitu 10.000 meter. Usia Gunung Padang diperkirakan antara 2500 hingga 1500 Sebelum Masehi (SM).

Banyak versi yang menyebutkan tentang asal usul Situs Gunung Padang ini. Sebagian ada yang menyebutkan bahwa tempat tersebut dulunya merupakan tempat untuk pemujaan bagi arwah nenek moyang. Lalu menurut cerita masyarakat setempat bahwa Gunung Padang merupakan tempat yang digunakan oleh Prabu Siliwangi (Raja Kerajaan Sunda Padjajaran) sebagai tempat berkumpul dengan para raja pada masa itu. Sebenarnya catatan pertama kali tentang Situs Gunung Padang ini dibuat oleh seorang ilmuwan asal Belanda yang bernama Dr. N.J.Krom sekitar tahun 1914 sebagai bahan laporan tahunan Dinas Purbakala Hindia Belanda. Lalu pada tahun 1979, situs ini dilaporkan kembali oleh masyarakat setempat kepada pemerintah daerah. Setelah itu makin banyak para ahli arkeologi yang melakukan penelitian di Gunung Padang dengan berbagai kesimpulan yang tentunya masih menyisakan berbagai kontroversi tentang kebenarannya.

Bagi saya, Situs Gunung Padang ini sebenarnya merupakan sebuah refleksi & jejak jaman yang saya hadirkan kembali melalui cuplikan beku karya fotografi. Sebagai sebuah jeda agar kita dapat terus melangkah ke depan dengan tetap menghayati masa lampau. Karena fotografi tidak sekedar menyuguhkan gambar belaka melainkan sarat dengan pesan dan harapan bagi kelangsungan hidup umat manusia di muka bumi. Ratusan, ribuan & jutaan rekaman visual foto itu memang semestinya ada sebagai pengingat dan media kontemplasi bagi milyaran manusia yang terus menciptakan kebudayaan dunia. Sehingga dunia selalu melihat bahwa manusia lah yang mendiami bumi ini hingga berakhirnya sebuah peradaban.

Gunung Padang, Cianjur, 10 Juni 2011

copyright (c) 2011 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

June 18, 2011 at 3:17 pm

Dancing Foot

leave a comment »

“Dancing Foot” (c) galih sedayu – 2011

Written by Admin

May 14, 2011 at 3:55 pm

Imaji & Suguhan Visual Untuk Alam

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Berbagai upaya agaknya kerap dilakukan oleh sebagian umat manusia di bumi untuk terus menyuarakan kepedulian mereka terhadap alam semesta ini. Salah satunya adalah dengan menggunakan media visual sebagai jembatan yang sedikit banyak mempermudah pesan, harapan, dan dogma yang ingin disampaikan oleh sang kreator visual. Sebagai contoh, sejarah pun mencatat hadirnya beberapa karya film yang sarat dengan muatan dan ajakan untuk menghargai alam. Sebut saja film An Inconvenient Truth yang dirilis pada tahun 2006 yang disutradarai oleh Davis Guggenhein. Film dokumenter yang berisikan tentang kampanye wakil Presiden Amerika Serikat yang bernama Al Gore ini menyerukan tentang isu Global Warming atau Pemanasan Global kepada segenap masyarakat dunia. Alhasil AL Gore pun dianugerahI sebuah Penghargaan berupa Nobel Perdamaian untuk usahanya didalam membangun dan menyebar luaskan pengetahuan mengenai perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia serta upayanya untuk melawan perubahan tersebut. Lalu ada pula Film bergenre dokumenter lainnya berjudul Home karya Sutradara & Fotografer Aerial asal Perancis, Yann Arthus-Bertrand yang dirilis tahun 2009. Film ini pun mengisahkan tentang isu pelestarian alam yaitu Planet Bumi yang ditempati oleh manusia sebagai spesies yang paling berperan untuk mengubah bumi di masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Film-film ini setidaknya mampu untuk menampilkan berbagai fakta tentang bumi dengan segala isinya serta menyiratkan sebuah niatan positif untuk lebih memperhatikan isu-isu alam & lingkungan.

Fotografi dengan segala daya pikatnya secara visual, menjadi sebuah cara lain untuk bercerita tentang isu-isu yang berkaitan dengan alam. Karenanya fotografi dianggap mampu untuk membentuk sebuah citra yang relatif umum & sederhana. Bahasa visual yang diciptakan oleh fotografi ini tidak serta merta menjadi rumit tetapi sanggup menghadirkan sebuah dialog yang terus mengalir. Bahkan sejumlah imajinasi yang dimiliki oleh para pelaku kreatif pun dapat disuguhkan ke dalam sebuah karya kreatif lainnya melalui unsur-unsur fotografi tersebut. Salah satunya adalah karya Digital Imaging. Sebab itu pula dewasa ini karya Fotografi & Digital Imaging memiliki keterkaitan yang erat antara satu dengan yang lainnya terutama dalam hal yang menyangkut sebuah proses kreatif.

Untuk itulah Teh Kotak sebagai sebuah produk minuman segar yang berasal dari pucuk teh pilihan Alam Indonesia, menginisiasi sebuah program yang bertajuk “Tribute To Nature”. Program ini merupakan sebuah intrepretasi nilai ‘hayati’ dan ‘kebaikan dari & untuk alam’ yang dibalut melalui sebuah konsep universal yang diusung Teh KotakTribute to Nature ini merupakan rangkaian program yang terdiri dari Kompetisi Fotografi & Digital Imaging, dan ditutup oleh Pameran Fotografi. Kompetisi yang terdiri dari dua kategori ini (Fotografi & Digital Imaging) telah berlangsung sejak awal bulan januari 2011, dengan batas akhir pengiriman karya pada tanggal 9 Maret 2011. Penjurian kompetisi ini pun telah dilaksanakan dengan lancar pada tanggal 18-19 Maret 2011 di Kota Bandung. Adapun Dewan Juri kompetisi ini terdiri dari Achmad Sadikin (Fotografer, Desainer Grafis & Praktisi Digital Imaging), Adithya Zen (Fotografer & Praktisi Digital Imaging), Dudi Sugandi (Pewarta Foto, & Redaktur Foto Harian Umum Pikiran Rakyat), Ferry Ardianto (Fotografer & Pengajar Fotografi), dan Galih Sedayu (Fotografer, Pengajar & Pendiri air foto network). Sebanyak 359 peserta dari seluruh Indonesia (Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi & Papua) mengirimkan karya terbaiknya untuk diikutsertakan kedalam kompetisi ini. Jumlah foto yang masuk ke panitia sebanyak 1068 karya. Dari 1068 karya tersebut, para dewan juri kemudian memilih 30 buah karya foto yang menjadi finalis kompetisi ini. Dan untuk selanjutnya, dipilih 5 orang pemenang dari masing-masing kategori kompetisi (satu orang Juara ke-1,2,3 & dua orang juara harapan).

Akhirnya program Tribute To Nature ini akan dipertanggung jawabkan kepada masyarakat luas melalui sebuah suguhan Pameran karya fotografi & Digital Imaging. Pameran ini merupakan kumpulan karya terbaik dari para peserta kompetisi se-Indonesia yang telah bertarung dengan menampilkan ide & imajinasi masing-masing melalui kreativitas visual. Untuk itu kami ucapkan selamat kepada para pemenang kompetisi dan juga kepada para partisipan program Tribute To Nature. Karena atas kolaborasi yang terjalin di antara kita jua lah, program ini dapat terealisasi dengan baik. Kami pun mohon maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan program Tribute To Nature ini. Dengan senang hati, kami menanti saran & masukan dari para sahabat agar menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita semua tentunya. Tetaplah bergerak dalam kreativitas yang tak pernah mati.

Bandung, 27 April 2011

(c) Kristo Joelyanta – Bali

(c) Nur Efendi – Bali

(c) Diver Dantika – Bandung

copyright (c) 2011
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Tulisan tentang Pameran Foto karya Aisyah Nurahmah “Soul of Bandung” oleh Ahmad S

leave a comment »

Tulisan tentang Pameran Foto karya Aisyah Nurahmah “Soul of Bandung” oleh Ahmad S

http://madmadahmad.blogspot.com/2009/12/soul-of-bandung-by-aisyah-nurahmah.html

Written by Admin

March 20, 2011 at 3:42 am

Posted in Uncategorized