I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Fiat Lux, Ridwan Kamil

with 7 comments

Teks & Foto : galih sedayu

Kiranya selalu memberikan telinga 
Kiranya selalu menjaga mulut
Kiranya selalu membukakan mata 
Kiranya selalu melangkahkan kaki 
Kiranya selalu mengulurkan tangan 
Kiranya selalu mendinginkan kepala 
Kiranya selalu membangkitkan badan
Kiranya selalu menenangkan hati 
Kiranya selalu menguatkan jiwa
Kiranya selalu menuntun jalan 
Kiranya selalu menempatkan kebenaran
Kiranya selalu menghadirkan damai
Kiranya selalu mencerminkan sederhana
Kiranya selalu menyembuhkan luka
Kiranya selalu menguduskan keadilan
Kiranya selalu memuliakan rakyat
Kiranya selalu mengutus persaudaraan
Kiranya selalu mengindahkan aturan
Kiranya selalu menyalipkan godaan
Kiranya selalu menjerat kezaliman 
Kiranya selalu mempermandikan noda
Kiranya selalu menyanyikan pujian
Kiranya selalu menyempurnakan perbuatan
Kiranya selalu meraih pengetahuan 
Kiranya selalu merajut asa
Kiranya selalu menjalin mimpi
Kiranya selalu mengucap syukur
Kiranya selalu membuang dengki 
Kiranya selalu menghapus dosa
Kiranya selalu mengerti perbedaan 
Kiranya selalu menumbuhkan semangat
Kiranya selalu menghamilkan perubahan
Kiranya selalu melahirkan kebaikan
Kiranya selalu menyediakan waktu 
Kiranya selalu menambatkan cinta
Kiranya selalu membagikan ilmu 
Kiranya selalu menggandeng sahabat
Kiranya selalu menggetarkan musuh
Kiranya selalu melompati tantangan 
Kiranya selalu mengepakkan sayap
Kiranya selalu menghakimi kejahatan
Kiranya selalu meniadakan dusta 
Kiranya selalu menabur benih 
Kiranya selalu menanam manusia
Kiranya selalu membebaskan kemiskinan
Kiranya selalu mengendapkan sepi 
Kiranya selalu menggembalakan keberagaman
Kiranya selalu mentahbiskan tindakan 
Kiranya selalu mengalirkan kekuatan 
Kiranya selalu menjurukan keselamatan
Kiranya selalu mewartakan harapan 
Kiranya selalu mengikuti cahaya
Kiranya selalu menerangi kota…

Bandung, 16 September 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

September 17, 2013 at 6:28 pm

Sang Terpilih Untuk Bandung | Buku Foto “Menuju Bandung Juara”

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Pada mulanya Bandung. Sebuah kota tercinta kelahiran Ridwan Kamil sekaligus kota yang menginspirasi bagi seorang pria sederhana yang kini namanya tercatat dalam noktah sejarah kota Bandung. Dimana warga Bandung dengan suara yang bulat, akhirnya memilih Ridwan Kamil sebagai pemimpin yang akan mengemudikan sebuah kapal layar bernama Bandung menuju pulau harapan untuk periode 2013-2018.

Dalam Rapat Pleno KPU kota Bandung pada tanggal 28 Juni 2013, Ridwan Kamil beserta pasangannya Oded Muhammad Danial ditetapkan menjadi pemenang dan unggul mutlak dari tujuh kandidat lainnya dengan meraih 45,24 % suara dalam Pemilihan Umum Wali Kota Bandung 2013. Hasil ini memang sudah diprediksi sebelumnya, karena pada tanggal 23 Juni 2013 melalui versi hitung cepat (quick count) dengan mengambil sampel dari 270 TPS, Pasangan Ridwan Kamil & Oded Muhammad Danial (RIDO) sudah jauh memimpin meninggalkan para lawannya.

Dan barangkali alam pun seperti ikut mentahbiskan keputusan tersebut bersamaan dengan datangnya fenomena “Super Moon” (Lunar Perigee) di kota Bandung, sebuah peristiwa alam yang terjadi ketika bulan berada pada titik di orbit yang terdekat dengan bumi.

Ridwan Kamil lahir dari pasangan Dr. Atje Misbach SH (alm.) dan Dra. Tjutju Sukaesih tepatnya pada tanggal 4 Oktober 1971 di kota Bandung. Pendidikan dasar hingga kuliah pun ditempuhnya di kota Bandung yang penuh dengan kejutan ini. TK Aisyiah di Jalan Dago Barat Bandung, SD Banjarsari III di Jalan Merdeka Bandung, SMPN 2 di Jalan Sumatera Bandung, SMA 3 di Jalan Belitung Bandung dan Institut Teknologi Bandung (ITB) di Jalan Ganesha Bandung, menjadi ruang-ruang tempat ia menuntut ilmu. Setelah itu Ridwan Kamil pun meninggalkan kota Bandung untuk melanjutkan kuliah S2 dalam bidang tata kota di University of California, Amerika Serikat dan kemudian bekerja di sebuah firma arsitektur di negara Paman Sam tersebut.

Namun pada akhirnya sebuah nasihat dari Sang Ibu lah yang membawanya pulang kembali ke pangkuan kota Bandung. “Ari neangan duit mah engke aya gantina, ari minterkeun batur moal terukur nilaina” (kalau mencari uang itu nanti bisa ada gantinya, tapi kalau membuat pintar orang lain tidak akan terukur nilainya), begitu kira-kira petuah yang disampaikan dengan penuh kasih oleh ibunda Ridwan Kamil.

Akhirnya Ridwan Kamil pun meneruskan profesinya sebagai dosen, arsitek dan aktivis sosial di kota Bandung. Di Bandung pula Ridwan Kamil turut mendirikan sebuah firma arsitektur yang bernama Urbane (Urban Revolution). Dari sanalah buah karya Ridwan Kamil sebagai arsitek mulai menebarkan keharuman bagi Bandung karna banyak mendapatkan penghargaan dari dunia.

Beserta istri tercinta, Atalia Praratya dan ditemani oleh kedua buah hatinya Laetetia dan Emmiril, Ridwan Kamil tinggal di sebuah rumah unik hasil rancangannya sendiri yang disebut “Rumah Botol”. Ventilasi rumah ini terbuat dari tiga puluh ribu botol Kratingdaeng. Ridwan Kamil ingin membuktikan bahwa limbah pun bisa disulap menjadi sebuah karya kreatif. Rumah Botol tersebut berada di Cigadung tidak jauh dari rumah ibunya. Karena Ridwan Kamil ingin agar ia selalu bisa tetap dekat dan berbakti pada ibunya sampai akhir hayatnya.

Sebagai wujud rasa cintanya untuk kota Bandung, Ridwan Kamil bersama sahabat komunitas yang mengedepankan prinsip kolaborasi, turut berperan aktif mendirikan berbagai gerakan dan komunitas sosial di masyarakat seperti Bandung Creative City Forum (BCCF), Indonesia Berkebun, Bike Sharing, Bandung Citizen Journal, One Village One Playground, dan sebagainya.

Untuk itulah Ridwan Kamil bersama para Relawan Kota Bandung mempersembahkan buku fotografi yang bertajuk MENUJU BANDUNG JUARA. Sebuah catatan visual & potret perjuangan Ridwan Kamil tatkala ia melakukan kampanye tiga bulan lamanya demi Bandung. Fotografer Dudi Sugandi & Satya Andhika (Aboenk) dengan seksama mengabadikan cerita dan himpunan adegan perihal energi Ridwan Kamil beserta para Relawannya hingga menjadi sebuah rangkaian cuplikan beku yang dituangkan ke dalam buku visual ini. Di sini fotografi menjadi sebuah fakta dan pernyataan bahwasanya keberhasilan Ridwan Kamil menjadi pemimpin kota Bandung bukanlah karena sebuah kebetulan ataupun melalui proses yang instan. Melainkan karena semangat & kebersamaan yang dihadirkan di sana.

Selangkah demi selangkah, mimpi Ridwan Kamil untuk mengangkat derajat kota Bandung pun direstui oleh Sang Pencipta. Berkat dukungan warga Bandung, doa kedua orang tua dan budi baik para sahabatnya, kini Ridwan Kamil harus menjalani takdir sebagai pemimpin kota Bandung. Namun takdir ini akan ia jalankan dengan sepenuh hati karena Ridwan Kamil percaya bahwa nasib kota Bandung bisa kita ubah bersama. Mari kita persiapkan jalan bagi Ridwan Kamil agar ia bisa meniupkan angin perubahan bagi kota Bandung. Tentunya dengan balutan kolaborasi semua warga Bandung. Hingga akhirnya Indonesia dan dunia akan berseru dengan lantang, BANDUNG JUARA!!! Pada akhirnya Bandung.

* Tulisan ini diberikan sebagai pengantar kurator dalam Buku Foto “Menuju Bandung Juara” yang diterbitkan pada saat Ridwan Kamil dilantik menjadi Wali Kota Bandung pada tanggal 16 September 2013.

Bandung, 7 September 2013

Spesifikasi Buku :
* Judul Buku : Ridwan Kamil “Menuju Bandung Juara”
* Fotografer : Dudi Sugandi & Satya Andhika (Aboenk)
* Kurator : galih sedayu
* Penerbit : air foto network (2013)
* Tebal : 154 Halaman
* ISBN : 978-602-14-4080-3

>> Buku Fotografi ini bisa didapatkan di kantor air foto network, Komplek Surapati Core Blok M32, Bandung. Para sahabat bisa menghubungi kami di nomor 022-20529070 atau kirim datanya via email berupa nama lengkap, alamat dan telepon ke airfotonetwork@gmail.com. Harga bukunya Rp 150.000,- (belum termasuk ongkos kirim).

Ridwan Kamil

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2013 air foto network
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographers.

Dan Damai Itu Ada Di Kampung Naga

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Datang, lihat & rasakanlah Kampung Naga. Sebuah kampung tradisional masyarakat sunda nan sederhana yang berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Provinsi Jawa Barat. Pada kampung naga lah, jiwa yang haus dan penuh kerinduan bagai tanah tandus, kering dan tiada berair menjadi terobati. Rumah-rumahnya akan selalu memegahkan kita. Air yang mengalir darinya membuat kita mengucap syukur. Tanah gemburnya menciptakan sukacita bagi kita. Di kampung nagalah tempat terbitnya pagi dan petang yang bernyanyi-nyanyi. Selama ada matahari dan bulan, lanjut umurnya secara turun-temurun. Tuhan pastinya mengindahkan dan mengaruniai kelimpahan di sana. Yang mengairi alur bajaknya, yang membasahi gumpalan tanahnya, dan yang memberkati tumbuh-tumbuhannya. Dan sabda alam pun berikrar tanpa keraguan sedikitpun. Untuk kampung naga lah puji-pujian terus terucap. Berbahagialah kita yang mendekat dan diam di pelatarannya. Biarlah hanya kucing dan ayam yang menjadi pengawal setianya. Biarlah sapu lidi menjadi simbol pemersatunya. Biarlah jemuran baju menjadi kosmetikanya. Asalkan kasih setia warganya menjadikan kampung naga tetap berdiri tegak. Kiranya kita menjadi kenyang dengan segala yang baik di kampung naga. Demikianlah mereka memandang kampung naga.

Garut, Kampung Naga, 4 Juni 2012

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

August 18, 2013 at 4:02 pm

Panjang Umurnya Serta Mulia Indonesia

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

17 Agustus 2013. Usia nusantara kini genap beranjak menjadi 68 tahun. Sebuah usia yang sesungguhnya tidak bisa disebut masa pencapaian. Karena sesungguhnya bangsa ini masih banyak menyimpan segudang pekerjaan yang menumpuk. Namun demikian toh kita masih tetap merayakan hari raya kemerdekaan ini mesti tanpa euforia. Salah satu ritualnya adalah upacara bendera. Kadang kita kerap bertanya kepada diri sendiri. Apakah upacara bendera masih penting? Apakah upacara bendera mesti dilakukan? Apakah upacara bendera masih ada? Silakan saja dijawab oleh masing-masing. Kemudian muncul pertanyaan yang lebih penting sebenarnya. Sudahkah kita merdeka? Merdeka dari tirani kekuasaan yang merongrong. Merdeka dari korupsi yang membabi-buta. Merdeka dari kemiskinan yang mendera. Merdeka dari pendidikan yang rendah. Atau Merdeka dari diri sendiri yang kerap galau dan tak lekas move on. Mari kita bersama-sama membaca dan menyimak kembali teks pidato Pembukaan UUD 1945 yang selalu dikumandangkan dengan lantang di setiap upacara bendera.

Seraya bertanya “Sampai Kapan Indonesia?”

Teks Pembukaan UUD 1945

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Garut, 17 Agustus 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

August 17, 2013 at 5:00 am

“Bandung : Sound of Silence” | A Photography Project by galih sedayu

leave a comment »

Teks & Karya Foto : galih sedayu

Wahai kamu…
Kepada penguasakah keluhan ku tertuju?
Kepada tirankah protes ku terucap? 

Yang membiarkan ku menjadi kelam
Yang menodakan ku menjadi sakit
Yang menggadaikan ku menjadi papa

Terang ku menjadi tak menyala sehingga umpat pun menyalak
Ruang ku menjadi tak bersih sehingga banjir pun menyerbu
Jalan ku menjadi tak teratur sehingga macet pun menjebak

Mereka telah menanggalkan kemuliaan ku 
Mereka telah membongkar taman, sungai & hutan ku 
Dan kesombongan mereka merampas mahkota ku

Ku berkata kebenaran, namun tak ada yang mendengar
Ku berteriak kelaliman, namun tak ada yang menjawab
Ku berseru minta tolong, namun tak ada keadilan

Sesungguhnya ku memimpikan sinar seperti fajar 
Dan berharap pagi yang tak berawan 
Yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah

Tetapi ku tahu, akan ada penebus yang hidup 
Yang akan meneduhkan kita dengan kuasanya 
Dan akhirnya ku akan bangkit di atas debu

Sebab ku akan menegakkan bagi kita sebuah pohon kekal  
Sebab ku akan menjamin bagi kita sebuah tanah keselamatan  
Sebab ku akan menumbuhkan bagi kita sebuah air harapan

Hingga ku akan menjadi mata bagi orang buta 
Hingga ku akan menjadi kaki bagi orang lumpuh  
Hingga ku akan menjadi bapa bagi orang miskin

Bandung, 8 Agustus 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

August 9, 2013 at 3:23 pm

Sel Nomor 5 Penjara Banceuy

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Jadikanlah deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa”. 
– Bung Karno –

Sunyi, sepi & sendiri. Barangkali rasa itulah yang dialami oleh seorang Bung Karno tatkala ia mendekam di sebuah penjara banceuy kota bandung sekitar 84 tahun yang silam. Tepatnya di bulan desember tahun 1929, Ir. Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia ini terpaksa meringkuk di sebuah sel kecil dengan nomor 5 yang hanya berukuran 2,5 x 1,5 meter. Atas tuduhan melakukan kegiatan subversif dan pergerakan nasional yang membuat ketar ketir pemerintahan Hindia Belanda kala itu, Bung Karno pun dengan tegar menjalani penderitaannya.

Selama kurun waktu 8 bulan, Bung Karno bersama ketiga rekannya yakni Gatot Mangkoepradja yang seorang guru, Maskun Somadiredja yang seorang administratur harian Banteng Priangan, dan Supriadinata yang seorang anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) cabang bandung, menjadi penghuni ruangan sempit dan kotor serta dikenakan jerat hukum yang terkenal dengan nama pasal-pasal karet atau Haazai Artikelen.

Namun ternyata dari sel yang gelap ini justru kelak melahirkan sebuah catatan terang bagi noktah sejarah bangsa indonesia, karena dari sinilah Bung Karno mulai menyalakan lilin terang yakni pidato pembelaan (pleidoi) yang terkenal dengan sebutan “Indonesia Menggugat” (Indonesie Klaagt Aan). Pleidoi ini dibacakan dengan lantang oleh Bung Karno pada saat sidang Pengadilan Hindia Belanda di Gedung Landraad dimana kini namanya menjadi Gedung Indonesia Menggugat (GIM) yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan No.5 Bandung.

Akhirnya sejarah pun mencatat bahwa setelah beberapa kali sidang, pada tanggal 22 Desember 1930, Bung Karno bersama ketiga rekannya dijatuhi hukuman penjara. Saat itu Tokoh Nasionalis tersebut divonis 4 tahun penjara. Setelah hakim mengetuk palu sebagai simbol putusan pengadilan, maka Bung Karno bersama para sahabatnya dijebloskan ke Penjara Sukamiskin di Jalan A.H.Nasution, sebuah penjara yang ironisnya dirancang oleh Bung Karno sendiri ketika ia masih bekerja di biro arsitek milik gurunya yaitu Prof. C.P. Wolff Schoemaker. Atas dasar cerita itulah kini bekas Penjara Banceuy tersebut menjadi monumen yang dibangun untuk mengenang keberadaan Bung Karno.

Bekas Penjara Banceuy ini terletak sekitar 100 meter dari sebelah utara alun-alun kota bandung yang dikelilingi oleh Jalan Banceuy di sebelah barat, Jalan ABC di sebelah utara, dan Jalan Belakang Factory di sebelah selatan. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Penjara Banceuy yang dulu bernama Bantjeujweg ini adalah sebuah penjara yang digunakan untuk menahan para pribumi yang melakukan tindakan kriminal dan menjadi tahanan politik.

Bangunan penjara ini didirikan pada akhir abad ke-19 tepatnya pada tahun 1871. Kemudian pada tahun 1985, bangunan penjara ini dibongkar mengingat kondisinya yang sudah rapuh karena sudah menginjak usia seratus tahun lebih. Penjara Banceuy yang baru kini berada di Jalan Soekarno Hatta. Bekas Penjara Banceuy ini lalu dijadikan kawasan pertokoan yang bernama Banceuy Permai. Sebagai penanda bahwa kawasan itu dulunya adalah bekas penjara, maka hanya disisakan dua unit bagian dari penjara tersebut. Yang pertama adalah menara pengawas sebelah timur yang terletak di Jalan ABC yang mengarah ke Jalan Naripan dan Jalan Cikapundung. Yang kedua adalah bekas Sel No. 5 yang pernah dihuni oleh Bung Karno, sekitar 200 meter dari menara pengawas tersebut.

Saat ini kita dapat melihat berbagai artefak sejarah dan sejuta memori yang tersisa dari sel kecil bernomor 5 tersebut. Di dalam sel tersebut terpasang sebuah bingkai yang bertuliskan kalimat yang pernah diujarkan oleh Bung Karno yaitu “Koe korbankan Dirikoe di Penjara ini Demi Bangsa dan Negaraku Indonesia. Ada pula bendera merah putih yang menutupi salah satu sudut ruang kecil sel tersebut. Kemudian dua buah foto Bung Karno ikut melekat pada salah satu sudut dinding sel itu tepat di bawah ukiran Burung Garuda dengan teks Pancasilanya. Tembok sel dengan warna cat hijau pun masih tetap dibiarkan sama seperti yang dulu. Pintu sel dari bahan besi baja berwarna hitam yang diberi celah untuk melihat berserta kunci-kuncinya pun tampak masih kokoh menyangga. Lalu bekas kamar mandi Bung Karno yang terletak di luar sel tersebut dijadikan sebuah tugu batu.

Barangkali sel ini lah yang semestinya dapat menjadi simbol sebuah kesadaran dan kebangkitan bagi kita semua. Bahwa sesungguhnya kita tidak diajarkan untuk mencintai yang jahat lebih dari pada yang baik. Dan mencintai yang dusta lebih dari pada perkataan yang benar. Meski jaring-jaring yang terpasang di dalam setiap langkah kita, meski sumpal-sumpal yang menutup mulut kita, meski tembok dan besi yang mengurung diri kita, namun kita harus percaya bahwa mereka tidak akan bisa menaklukkan jiwa kita. Jiwa-jiwa yang mematahkan busur panah, yang menumpulkan tombak dan yang membakar kereta-kereta perang dengan api. Sebuah jiwa yang merdeka.

Bandung, 25 Juli 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

July 25, 2013 at 7:00 am

Menyapa Pagi Di Tahura

with 2 comments

Teks & Foto : galih sedayu

Barangkali bumi akan bersorak sorai ketika alam beserta penghuninya tak pernah berhenti dikunjungi & dirawat oleh manusia. Begitupun dengan hutan. Sejatinya ia adalah bagian dari pusaka alam yang menjadikan manusia tetap hidup dan bernafas dengan udara segarnya. Karena Tuhan menciptakan terang di bumi, maka jadilah pagi. Dan rasa-rasanya pagi adalah waktu yang tepat untuk menyambangi hutan yang kita miliki. Salah satunya adalah hutan milik warga Kota Bandung yang bernama Taman Hutan Raya Ir.H.Juanda (TAHURA) atau yang sering disebut dengan Hutan Dago Pakar. Menikmati aroma pagi di hutan ini, pastinya akan selalu membuat hati ini ceria. Kawasan konservasi ini memang menyimpan berjuta kesegaran bagi para tamu yang datang. Dari mulai wanginya pohon pinus, merdunya suara kicau burung kutilang hingga tingkah polah tupai yang berlarian di atas pepohonan.

Taman Hutan Raya Ir.H.Juanda adalah sebuah hutan kota yang berjarak sekitar 7 km dari pusat kota bandung. Berada di ketinggian 800 sampai 1350 meter di atas permukaan laut, dulunya kawasan hutan yang dilalui aliran Sungai Cikapundung dan membentang mulai dari Curug Dago, Dago Pakar hingga Maribaya ini, merupakan bagian areal dari kelompok Hutan Lindung Gunung Pulosari yang kemudian diubah fungsinya menjadi Taman Wisata Alam Curug Dago. Kemudian bertepatan dengan kelahiran Bapak Ir.H.Juanda (seorang pahlawan Kota Bandung) yaitu pada tanggal 14 Januari 1985, secara resmi namanya berubah menjadi Taman Hutan Raya Ir.H.Juanda. Kawasan ini merupakan Taman Hutan Raya (TAHURA) pertama yang ada di Indonesia. Hutan dengan luas sekitar 590 hektar ini merupakan hutan alam sekunder dan hutan tanaman dengan susunan vegetasi campuran yang terdiri dari 2500 jenis pepohonan seperti pohon Mahoni (Switenia Macrophylla), Bungur (Lagerstroemia sp.), Ekaliptus (Eucalyptus Deglupta), Saninten (Castanopsis Argentea), Pasang (Quercus sp.), Damar (Agathis Damara), dan Waru Gunung (Hibiscus Similis) serta tumbuhan bawah seperti Teklan (Eupatorium Odoratum) yang paling dominan. Selain itu di hutan ini sengaja ditanam berbagai jenis tumbuhan yang berasal dari luar daerah agar kawasan ini dapat berfungsi sebagai laboratorium alam (Arboretum). Di area hutan inilah kita dapat memanjakan mata dan hati dengan menikmati berbagai wisata alam seperti Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Dago, Curug Omas, Curug Lalay & wisata air panas Maribaya.

Tidak baik memang bila hutan kita selalu merasa kesepian. Tidak baik pula bila kita sebagai manusia selalu kerap berdiam diri di rumah. Karena di hutanlah barangkali kita bisa kembali berdamai dan berikrar dengan alam yang sesungguhnya telah lama disakiti oleh manusia. Pohon yang ditebangi, air yang diracuni & udara yang dikotori menjadikan alam bak diperkosa oleh manusia sendiri. Maka dari itu jadikanlah kembali embun yang datang dari langit, udara pagi yang harum semerbak dan tanah-tanah yang gemuk di dalam hutan. Agar kita percaya bahwa hutan selalu menjadi berkat bagi manusia hingga berabad-abad dan menjadi kemah suci yang kekal abadi selamanya.

Bandung, 21 Juli 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. o part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

July 21, 2013 at 2:11 pm