Fiat Lux, Ridwan Kamil
Teks & Foto : galih sedayu
Kiranya selalu memberikan telinga
Kiranya selalu menjaga mulut
Kiranya selalu membukakan mata
Kiranya selalu melangkahkan kaki
Kiranya selalu mengulurkan tangan
Kiranya selalu mendinginkan kepala
Kiranya selalu membangkitkan badan
Kiranya selalu menenangkan hati
Kiranya selalu menguatkan jiwa
Kiranya selalu menuntun jalan
Kiranya selalu menempatkan kebenaran
Kiranya selalu menghadirkan damai
Kiranya selalu mencerminkan sederhana
Kiranya selalu menyembuhkan luka
Kiranya selalu menguduskan keadilan
Kiranya selalu memuliakan rakyat
Kiranya selalu mengutus persaudaraan
Kiranya selalu mengindahkan aturan
Kiranya selalu menyalipkan godaan
Kiranya selalu menjerat kezaliman
Kiranya selalu mempermandikan noda
Kiranya selalu menyanyikan pujian
Kiranya selalu menyempurnakan perbuatan
Kiranya selalu meraih pengetahuan
Kiranya selalu merajut asa
Kiranya selalu menjalin mimpi
Kiranya selalu mengucap syukur
Kiranya selalu membuang dengki
Kiranya selalu menghapus dosa
Kiranya selalu mengerti perbedaan
Kiranya selalu menumbuhkan semangat
Kiranya selalu menghamilkan perubahan
Kiranya selalu melahirkan kebaikan
Kiranya selalu menyediakan waktu
Kiranya selalu menambatkan cinta
Kiranya selalu membagikan ilmu
Kiranya selalu menggandeng sahabat
Kiranya selalu menggetarkan musuh
Kiranya selalu melompati tantangan
Kiranya selalu mengepakkan sayap
Kiranya selalu menghakimi kejahatan
Kiranya selalu meniadakan dusta
Kiranya selalu menabur benih
Kiranya selalu menanam manusia
Kiranya selalu membebaskan kemiskinan
Kiranya selalu mengendapkan sepi
Kiranya selalu menggembalakan keberagaman
Kiranya selalu mentahbiskan tindakan
Kiranya selalu mengalirkan kekuatan
Kiranya selalu menjurukan keselamatan
Kiranya selalu mewartakan harapan
Kiranya selalu mengikuti cahaya
Kiranya selalu menerangi kota…
Bandung, 16 September 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Dan Damai Itu Ada Di Kampung Naga
Teks & Foto : galih sedayu
Datang, lihat & rasakanlah Kampung Naga. Sebuah kampung tradisional masyarakat sunda nan sederhana yang berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Provinsi Jawa Barat. Pada kampung naga lah, jiwa yang haus dan penuh kerinduan bagai tanah tandus, kering dan tiada berair menjadi terobati. Rumah-rumahnya akan selalu memegahkan kita. Air yang mengalir darinya membuat kita mengucap syukur. Tanah gemburnya menciptakan sukacita bagi kita. Di kampung nagalah tempat terbitnya pagi dan petang yang bernyanyi-nyanyi. Selama ada matahari dan bulan, lanjut umurnya secara turun-temurun. Tuhan pastinya mengindahkan dan mengaruniai kelimpahan di sana. Yang mengairi alur bajaknya, yang membasahi gumpalan tanahnya, dan yang memberkati tumbuh-tumbuhannya. Dan sabda alam pun berikrar tanpa keraguan sedikitpun. Untuk kampung naga lah puji-pujian terus terucap. Berbahagialah kita yang mendekat dan diam di pelatarannya. Biarlah hanya kucing dan ayam yang menjadi pengawal setianya. Biarlah sapu lidi menjadi simbol pemersatunya. Biarlah jemuran baju menjadi kosmetikanya. Asalkan kasih setia warganya menjadikan kampung naga tetap berdiri tegak. Kiranya kita menjadi kenyang dengan segala yang baik di kampung naga. Demikianlah mereka memandang kampung naga.
Garut, Kampung Naga, 4 Juni 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Panjang Umurnya Serta Mulia Indonesia
Teks & Foto : galih sedayu
17 Agustus 2013. Usia nusantara kini genap beranjak menjadi 68 tahun. Sebuah usia yang sesungguhnya tidak bisa disebut masa pencapaian. Karena sesungguhnya bangsa ini masih banyak menyimpan segudang pekerjaan yang menumpuk. Namun demikian toh kita masih tetap merayakan hari raya kemerdekaan ini mesti tanpa euforia. Salah satu ritualnya adalah upacara bendera. Kadang kita kerap bertanya kepada diri sendiri. Apakah upacara bendera masih penting? Apakah upacara bendera mesti dilakukan? Apakah upacara bendera masih ada? Silakan saja dijawab oleh masing-masing. Kemudian muncul pertanyaan yang lebih penting sebenarnya. Sudahkah kita merdeka? Merdeka dari tirani kekuasaan yang merongrong. Merdeka dari korupsi yang membabi-buta. Merdeka dari kemiskinan yang mendera. Merdeka dari pendidikan yang rendah. Atau Merdeka dari diri sendiri yang kerap galau dan tak lekas move on. Mari kita bersama-sama membaca dan menyimak kembali teks pidato Pembukaan UUD 1945 yang selalu dikumandangkan dengan lantang di setiap upacara bendera.
Seraya bertanya “Sampai Kapan Indonesia?”
Teks Pembukaan UUD 1945
Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Garut, 17 Agustus 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
“Bandung : Sound of Silence” | A Photography Project by galih sedayu
Teks & Karya Foto : galih sedayu
Wahai kamu…
Kepada penguasakah keluhan ku tertuju?
Kepada tirankah protes ku terucap?
Yang membiarkan ku menjadi kelam
Yang menodakan ku menjadi sakit
Yang menggadaikan ku menjadi papa
Terang ku menjadi tak menyala sehingga umpat pun menyalak
Ruang ku menjadi tak bersih sehingga banjir pun menyerbu
Jalan ku menjadi tak teratur sehingga macet pun menjebak
Mereka telah menanggalkan kemuliaan ku
Mereka telah membongkar taman, sungai & hutan ku
Dan kesombongan mereka merampas mahkota ku
Ku berkata kebenaran, namun tak ada yang mendengar
Ku berteriak kelaliman, namun tak ada yang menjawab
Ku berseru minta tolong, namun tak ada keadilan
Sesungguhnya ku memimpikan sinar seperti fajar
Dan berharap pagi yang tak berawan
Yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah
Tetapi ku tahu, akan ada penebus yang hidup
Yang akan meneduhkan kita dengan kuasanya
Dan akhirnya ku akan bangkit di atas debu
Sebab ku akan menegakkan bagi kita sebuah pohon kekal
Sebab ku akan menjamin bagi kita sebuah tanah keselamatan
Sebab ku akan menumbuhkan bagi kita sebuah air harapan
Hingga ku akan menjadi mata bagi orang buta
Hingga ku akan menjadi kaki bagi orang lumpuh
Hingga ku akan menjadi bapa bagi orang miskin
Bandung, 8 Agustus 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Sel Nomor 5 Penjara Banceuy
Teks & Foto : galih sedayu
“Jadikanlah deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa”.
– Bung Karno –
Sunyi, sepi & sendiri. Barangkali rasa itulah yang dialami oleh seorang Bung Karno tatkala ia mendekam di sebuah penjara banceuy kota bandung sekitar 84 tahun yang silam. Tepatnya di bulan desember tahun 1929, Ir. Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia ini terpaksa meringkuk di sebuah sel kecil dengan nomor 5 yang hanya berukuran 2,5 x 1,5 meter. Atas tuduhan melakukan kegiatan subversif dan pergerakan nasional yang membuat ketar ketir pemerintahan Hindia Belanda kala itu, Bung Karno pun dengan tegar menjalani penderitaannya.
Selama kurun waktu 8 bulan, Bung Karno bersama ketiga rekannya yakni Gatot Mangkoepradja yang seorang guru, Maskun Somadiredja yang seorang administratur harian Banteng Priangan, dan Supriadinata yang seorang anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) cabang bandung, menjadi penghuni ruangan sempit dan kotor serta dikenakan jerat hukum yang terkenal dengan nama pasal-pasal karet atau Haazai Artikelen.
Namun ternyata dari sel yang gelap ini justru kelak melahirkan sebuah catatan terang bagi noktah sejarah bangsa indonesia, karena dari sinilah Bung Karno mulai menyalakan lilin terang yakni pidato pembelaan (pleidoi) yang terkenal dengan sebutan “Indonesia Menggugat” (Indonesie Klaagt Aan). Pleidoi ini dibacakan dengan lantang oleh Bung Karno pada saat sidang Pengadilan Hindia Belanda di Gedung Landraad dimana kini namanya menjadi Gedung Indonesia Menggugat (GIM) yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan No.5 Bandung.
Akhirnya sejarah pun mencatat bahwa setelah beberapa kali sidang, pada tanggal 22 Desember 1930, Bung Karno bersama ketiga rekannya dijatuhi hukuman penjara. Saat itu Tokoh Nasionalis tersebut divonis 4 tahun penjara. Setelah hakim mengetuk palu sebagai simbol putusan pengadilan, maka Bung Karno bersama para sahabatnya dijebloskan ke Penjara Sukamiskin di Jalan A.H.Nasution, sebuah penjara yang ironisnya dirancang oleh Bung Karno sendiri ketika ia masih bekerja di biro arsitek milik gurunya yaitu Prof. C.P. Wolff Schoemaker. Atas dasar cerita itulah kini bekas Penjara Banceuy tersebut menjadi monumen yang dibangun untuk mengenang keberadaan Bung Karno.
Bekas Penjara Banceuy ini terletak sekitar 100 meter dari sebelah utara alun-alun kota bandung yang dikelilingi oleh Jalan Banceuy di sebelah barat, Jalan ABC di sebelah utara, dan Jalan Belakang Factory di sebelah selatan. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Penjara Banceuy yang dulu bernama Bantjeujweg ini adalah sebuah penjara yang digunakan untuk menahan para pribumi yang melakukan tindakan kriminal dan menjadi tahanan politik.
Bangunan penjara ini didirikan pada akhir abad ke-19 tepatnya pada tahun 1871. Kemudian pada tahun 1985, bangunan penjara ini dibongkar mengingat kondisinya yang sudah rapuh karena sudah menginjak usia seratus tahun lebih. Penjara Banceuy yang baru kini berada di Jalan Soekarno Hatta. Bekas Penjara Banceuy ini lalu dijadikan kawasan pertokoan yang bernama Banceuy Permai. Sebagai penanda bahwa kawasan itu dulunya adalah bekas penjara, maka hanya disisakan dua unit bagian dari penjara tersebut. Yang pertama adalah menara pengawas sebelah timur yang terletak di Jalan ABC yang mengarah ke Jalan Naripan dan Jalan Cikapundung. Yang kedua adalah bekas Sel No. 5 yang pernah dihuni oleh Bung Karno, sekitar 200 meter dari menara pengawas tersebut.
Saat ini kita dapat melihat berbagai artefak sejarah dan sejuta memori yang tersisa dari sel kecil bernomor 5 tersebut. Di dalam sel tersebut terpasang sebuah bingkai yang bertuliskan kalimat yang pernah diujarkan oleh Bung Karno yaitu “Koe korbankan Dirikoe di Penjara ini Demi Bangsa dan Negaraku Indonesia. Ada pula bendera merah putih yang menutupi salah satu sudut ruang kecil sel tersebut. Kemudian dua buah foto Bung Karno ikut melekat pada salah satu sudut dinding sel itu tepat di bawah ukiran Burung Garuda dengan teks Pancasilanya. Tembok sel dengan warna cat hijau pun masih tetap dibiarkan sama seperti yang dulu. Pintu sel dari bahan besi baja berwarna hitam yang diberi celah untuk melihat berserta kunci-kuncinya pun tampak masih kokoh menyangga. Lalu bekas kamar mandi Bung Karno yang terletak di luar sel tersebut dijadikan sebuah tugu batu.
Barangkali sel ini lah yang semestinya dapat menjadi simbol sebuah kesadaran dan kebangkitan bagi kita semua. Bahwa sesungguhnya kita tidak diajarkan untuk mencintai yang jahat lebih dari pada yang baik. Dan mencintai yang dusta lebih dari pada perkataan yang benar. Meski jaring-jaring yang terpasang di dalam setiap langkah kita, meski sumpal-sumpal yang menutup mulut kita, meski tembok dan besi yang mengurung diri kita, namun kita harus percaya bahwa mereka tidak akan bisa menaklukkan jiwa kita. Jiwa-jiwa yang mematahkan busur panah, yang menumpulkan tombak dan yang membakar kereta-kereta perang dengan api. Sebuah jiwa yang merdeka.
Bandung, 25 Juli 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Menyapa Pagi Di Tahura
Teks & Foto : galih sedayu
Barangkali bumi akan bersorak sorai ketika alam beserta penghuninya tak pernah berhenti dikunjungi & dirawat oleh manusia. Begitupun dengan hutan. Sejatinya ia adalah bagian dari pusaka alam yang menjadikan manusia tetap hidup dan bernafas dengan udara segarnya. Karena Tuhan menciptakan terang di bumi, maka jadilah pagi. Dan rasa-rasanya pagi adalah waktu yang tepat untuk menyambangi hutan yang kita miliki. Salah satunya adalah hutan milik warga Kota Bandung yang bernama Taman Hutan Raya Ir.H.Juanda (TAHURA) atau yang sering disebut dengan Hutan Dago Pakar. Menikmati aroma pagi di hutan ini, pastinya akan selalu membuat hati ini ceria. Kawasan konservasi ini memang menyimpan berjuta kesegaran bagi para tamu yang datang. Dari mulai wanginya pohon pinus, merdunya suara kicau burung kutilang hingga tingkah polah tupai yang berlarian di atas pepohonan.
Taman Hutan Raya Ir.H.Juanda adalah sebuah hutan kota yang berjarak sekitar 7 km dari pusat kota bandung. Berada di ketinggian 800 sampai 1350 meter di atas permukaan laut, dulunya kawasan hutan yang dilalui aliran Sungai Cikapundung dan membentang mulai dari Curug Dago, Dago Pakar hingga Maribaya ini, merupakan bagian areal dari kelompok Hutan Lindung Gunung Pulosari yang kemudian diubah fungsinya menjadi Taman Wisata Alam Curug Dago. Kemudian bertepatan dengan kelahiran Bapak Ir.H.Juanda (seorang pahlawan Kota Bandung) yaitu pada tanggal 14 Januari 1985, secara resmi namanya berubah menjadi Taman Hutan Raya Ir.H.Juanda. Kawasan ini merupakan Taman Hutan Raya (TAHURA) pertama yang ada di Indonesia. Hutan dengan luas sekitar 590 hektar ini merupakan hutan alam sekunder dan hutan tanaman dengan susunan vegetasi campuran yang terdiri dari 2500 jenis pepohonan seperti pohon Mahoni (Switenia Macrophylla), Bungur (Lagerstroemia sp.), Ekaliptus (Eucalyptus Deglupta), Saninten (Castanopsis Argentea), Pasang (Quercus sp.), Damar (Agathis Damara), dan Waru Gunung (Hibiscus Similis) serta tumbuhan bawah seperti Teklan (Eupatorium Odoratum) yang paling dominan. Selain itu di hutan ini sengaja ditanam berbagai jenis tumbuhan yang berasal dari luar daerah agar kawasan ini dapat berfungsi sebagai laboratorium alam (Arboretum). Di area hutan inilah kita dapat memanjakan mata dan hati dengan menikmati berbagai wisata alam seperti Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Dago, Curug Omas, Curug Lalay & wisata air panas Maribaya.
Tidak baik memang bila hutan kita selalu merasa kesepian. Tidak baik pula bila kita sebagai manusia selalu kerap berdiam diri di rumah. Karena di hutanlah barangkali kita bisa kembali berdamai dan berikrar dengan alam yang sesungguhnya telah lama disakiti oleh manusia. Pohon yang ditebangi, air yang diracuni & udara yang dikotori menjadikan alam bak diperkosa oleh manusia sendiri. Maka dari itu jadikanlah kembali embun yang datang dari langit, udara pagi yang harum semerbak dan tanah-tanah yang gemuk di dalam hutan. Agar kita percaya bahwa hutan selalu menjadi berkat bagi manusia hingga berabad-abad dan menjadi kemah suci yang kekal abadi selamanya.
Bandung, 21 Juli 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. o part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.




































































































































