I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘07) SEMESTA FOTO CERITA’ Category

Gua Pawon Memanggil

leave a comment »

Foto & Teks : galih sedayu

9 Desember 2000. Sudah layak & sepantasnya lah tanggal ini menjadi sebuah momen dan tonggak bersejarah bagi temuan dunia Arkeologi Indonesia khususnya di Jawa Barat. Tatkala Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) yaitu sebuah kumpulan kecil orang-orang sederhana yang merupakan peneliti independen, berhasil menemukan benda-benda prasejarah buah hasil penelitian mereka yang menggunakan metode geomagnetik di dalam sebuah situs hunian era manusia purba yang bernama Gua Pawon. Pasca awal penemuan tersebut, pada tahun 2003 Balai Arkeologi Bandung melakukan penggalian secara lebih sistematik dan berhasil mengungkap misteri kebesaran Gua Pawon dengan berbagai penemuan berharga. Salah satunya adalah kerangka manusia lengkap yang ditemukan dalam posisi meringkuk. Alhasil setelah temuan fenomenal itu, nama Gua Pawon pun kembali menjadi perbincangan yang hangat di kalangan para peneliti dan penjelajah sejarah. Sebenarnya keberadaan Gua Pawon itu sendiri sudah ada sejak lama dan pernah diberitakan oleh R. Prajatna Koesoemadinata (Guru Besar Emeritus & Ikatan Ahli Geologi Indonesia) dalam laporan survei geologi yang dilakukan pada tahun 1959. Meski begitu saat ini masih banyak masyarakat kita yang belum mengenal sama sekali atau bahkan mau peduli terhadap aset peradaban prasejarah tersebut.

Gua Pawon sebenarnya merupakan sebuah gua tebing yang berada di sekitar kawasan Danau Bandung Purba, tepatnya di daerah Pasir Pawon, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, sekitar 25 km sebelah Barat kota Bandung. Akses untuk menuju tempat ini sebenarnya relatif mudah meski harus memasuki kawasan karst citatah dengan kondisi jalan yang tidak mulus dan udara yang sangat berdebu akibat penggalian batu kapur di sekitarnya. Karena kondisinya yang gelap & lembab, Gua Pawon pun menjadi tempat bermukim yang menggembirakan bagi sekelompok binatang malam yaitu kelelawar. Tak heran maka sebagian masyarakat setempat masih ada yang menggantungkan nasib hidupnya demi sesuap nasi untuk mencari nafkah di Gua Pawon dengan cara mengambil pupuk dari kotoran kelelawar tersebut. Selain itu menurut masyarakat setempat, Gua Pawon juga menjadi salah satu persinggahan & daya magnet bagi para pencari ilmu gaib dengan melakukan tapa di situs prasejarah tersebut. Saat ini Gua Pawon menjadi salah satu obyek wisata yang menarik di daerah Jawa Barat berkat perjuangan gigih dari segelintir kelompok yang peduli terhadap pelestarian lingkungan diantaranya Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Bahkan tidak jauh dari lokasi Gua Pawon tersebut akhirnya pemerintah berinisiatif dan tengah dilakukan proses pembangunan Museum Gua Pawon.

Untuk itulah saya mencoba untuk menyampaikan melalui foto-foto ini, pesan visual yang menggema dari dinding-dinding batu Gua Pawon, yang tak pernah diam untuk selalu memanggil kita saat ini. Melalui fotografi, media yang sarat dengan keheningan ini, setidaknya ada sebuah suara kecil yang terdengar berupa cita & harapan besar bagi kelangsungan Gua Pawon. Sehingga muncul sejumlah kesadaran-kesadaran kecil manusia yang pada nantinya akumulasi kesadaran tersebut menjadi besar hingga mampu menciptakan sebuah sikap & tindakan nyata. Agar mereka selalu memiliki waktu untuk tetirah dan mencari jawaban dari misteri Gua Pawon yang kelak dapat kita wariskan kepada anak cucu kita. Kita akan selalu berharap, meskipun teriknya sinar matahari dan hujan badai yang menerjang tubuh Gua Pawon, namun ia akan tetap berdiri tegak dan menjadi saksi bisu bagi sebuah peradaban manusia yang panjang. Sampai suatu saat nanti.

Bandung, 7 Januari 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 12, 2012 at 6:22 am

Refleksi & Jejak Jaman Di Gunung Padang

with one comment

Foto & Teks : galih sedayu

“History is a cyclic poem written by time upon the memories of man”
-Percy Bysshe Shelley-

Ketika umat manusia mengalami berbagai peradaban jaman di dunia yang sudah sangat tua ini, tentunya sebagian peradaban tersebut kerap menyisakan jejak-jejak fisik sebagai bukti keberadaannya sekaligus kebesaran yang diwariskan olehnya. Jaman Megalitikum misalnya. Sebuah jaman prasejarah dimana manusia pada saat itu menggunakan batu-batu besar sebagai wujud ekspresi kebudayaan yang tercipta. Beberapa Situs Megalitikum di dunia pun menjadi saksi bisu peradaban nenek moyang kita di masa silam. Sebut saja Stonehenge yang berada di Wiltshire, Inggris. Sebuah lingkaran yang terdiri dari batu-batu besar berdiri tegak menapak tanah tersebut menjadi salah satu tempat yang sering dikunjungi dan dijadikan bahan penelitian oleh para penjelajah kebudayaan.

Indonesia pun ternyata sedikit banyak menyisakan tempat yang mencatat jejak-jejak kebesaran jaman megalitikum tersebut. Salah satunya adalah Gunung Padang. Situs megalitik ini tepatnya berada di Desa Haryomukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Lokasi Gunung Padang ini berada di pedalaman perkebunan teh yang dikelilingi oleh empat buah gunung yaitu Gunung Emped, Gunung Karuhun, Gunung Pasir Malang dan Gunung Pasirpogor. Situs ini berada di puncak bukit dan merupakan sebuah area berupa punden berundak yang terdiri dari lima tingkat dengan hamparan bebatuan berbentuk persegi panjang. Sebagian batu-batu tersebut ada yang tidur tertanam dan ada pula yang berdiri tegak di atas tanah. Untuk mencapai situs tersebut dari dasar, jalan yang ditempuh mesti melalui ratusan tangga batu yang curam setinggi 95 meter. Luas area inti Situs Gunung Padang ini sekitar 4000 m dari luas area keseluruhan yaitu 10.000 meter. Usia Gunung Padang diperkirakan antara 2500 hingga 1500 Sebelum Masehi (SM).

Banyak versi yang menyebutkan tentang asal usul Situs Gunung Padang ini. Sebagian ada yang menyebutkan bahwa tempat tersebut dulunya merupakan tempat untuk pemujaan bagi arwah nenek moyang. Lalu menurut cerita masyarakat setempat bahwa Gunung Padang merupakan tempat yang digunakan oleh Prabu Siliwangi (Raja Kerajaan Sunda Padjajaran) sebagai tempat berkumpul dengan para raja pada masa itu. Sebenarnya catatan pertama kali tentang Situs Gunung Padang ini dibuat oleh seorang ilmuwan asal Belanda yang bernama Dr. N.J.Krom sekitar tahun 1914 sebagai bahan laporan tahunan Dinas Purbakala Hindia Belanda. Lalu pada tahun 1979, situs ini dilaporkan kembali oleh masyarakat setempat kepada pemerintah daerah. Setelah itu makin banyak para ahli arkeologi yang melakukan penelitian di Gunung Padang dengan berbagai kesimpulan yang tentunya masih menyisakan berbagai kontroversi tentang kebenarannya.

Bagi saya, Situs Gunung Padang ini sebenarnya merupakan sebuah refleksi & jejak jaman yang saya hadirkan kembali melalui cuplikan beku karya fotografi. Sebagai sebuah jeda agar kita dapat terus melangkah ke depan dengan tetap menghayati masa lampau. Karena fotografi tidak sekedar menyuguhkan gambar belaka melainkan sarat dengan pesan dan harapan bagi kelangsungan hidup umat manusia di muka bumi. Ratusan, ribuan & jutaan rekaman visual foto itu memang semestinya ada sebagai pengingat dan media kontemplasi bagi milyaran manusia yang terus menciptakan kebudayaan dunia. Sehingga dunia selalu melihat bahwa manusia lah yang mendiami bumi ini hingga berakhirnya sebuah peradaban.

Gunung Padang, Cianjur, 10 Juni 2011

copyright (c) 2011 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

June 18, 2011 at 3:17 pm

Secercah Kearifan Di Kampung Naga

with 4 comments

Foto & Teks : galih sedayu

Sejatinya sebuah Kampung Adat adalah cermin dari peradaban manusia yang telah diwariskan kepada kita sejak dulu kala. Karena di sanalah manusia belajar mengenal alam semesta, sesama dan dirinya sendiri. Kampung Naga adalah bukti peradaban salah satu kearifan lokal tersebut. Kampung ini terletak di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Penghuni kampung ini adalah masyarakat pedesaan Sunda yang telah ada sejak masa peralihan dari pengaruh agama Hindu menuju pengaruh agama Islam di Jawa Barat. Mereka mengaku telah mendiami perkampungan tersebut selama kurang lebih 600 tahun dan hingga kini masih memegang erat aturan-aturan adat yang diwariskan sejak turun temurun. Saat ini tercatat ada sekitar 109 Kepala Keluarga yang menghuni Kampung Naga. Luas total Kampung Naga ini sekitar 1,5 hektar. Di sebelah barat Kampung Naga terdapat hutan keramat yang tumbuh subur sebagai area pemakaman para leluhur masyarakat Kampung Naga, Sembah Eyang Singaparna. Di sebelah selatan Kampung Naga terbentang persawahan penduduk yang hijau dan asri sebagai lahan mereka untuk menanam padi. Dan di sebelah utara Kampung Naga mengalir aliran sungai Ci Wulan (Kali Wulan) dengan batu-batunya yang berserakan indah dimana sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.

Arti kata Kampung Naga sendiri bukan merupakan sebuah kampung yang dihuni oleh binatang mitos naga yang kerap kali dijumpai di film-film khayal atau yang sering didongengkan kepada anak kecil sebelum tidur. Kampung Naga berasal dari bahasa sunda yaitu “Kampung na Gawir” yang dalam bahasa indonesia memiliki pengertian “Kampung di Jurang”. Karena  bila kita menyambangi Kampung Naga, kampung tersebut akan terlihat dari jalan seolah-olah terletak di dasar jurang. Perjalanan menuju Kampung Naga ini mengharuskan kita untuk menuruni kurang lebih 350 anak tangga dengan kemiringan 40 derajat dan setelah itu menyusuri sungai Ciwulan sebelum tiba di pemukiman penduduk. Seluruh bangunan rumah yang ada di Kampung Naga memiliki sebuah ciri berupa “Tanda Angin” yang digantung di setiap pintu depan rumah. Tanda Angin ini berasal dari tumbuh-tumbuhan yang telah dilengkapi dengan syarat-syarat ritual dengan tujuan untuk menolak bala atau pencegah musibah bagi penghuni rumah.

Saat ini masih ada sebagian masyarakat yang belum mengenal keberadaan Kampung Naga beserta masyarakat tradisional tersebut. Untuk itu saya mencoba untuk menghadirkan kembali segala bentuk bangunan fisik, nilai-nilai tradisi dan potret keseharian penduduk Kampung Naga ini melalui cuplikan-cuplikan fotografis. Tentunya dengan sebuah harapan bahwa Kampung Naga ini dapat terus diperkenalkan kepada masyarakat dunia agar segala kearifan yang melekat di sana akan selalu diingat, dimaknai dan ditularkan. Meski saat ini arus budaya modern merasuk begitu cepatnya, tetapi keberadaan Kampung Naga berserta masyarakatnya ini tetap menjadi sebuah tanda kebesaran alam yang selalu terjaga dan tak pernah sirna oleh kesombongan manusia modern.

Kampung Naga, Garut, 20 Januari 2011

copyright (c) 2011 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 21, 2011 at 6:31 am

Warisan Nenek Moyang Yang Orang Pelaut

leave a comment »

 

Teks & Foto : galih sedayu

Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda b’rani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai

Jakarta, 16 Januari 2011

copyright (c) 2011 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 20, 2011 at 3:37 pm

Tears Of The Cow

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Sebagian masyarakat menganggap bahwa seekor hewan yang bernama sapi memang ditakdirkan untuk mati disembelih demi simbol sebuah tradisi kurban bagi setiap umat muslim yang merayakan hari raya Idul Adha setiap tahunnya. Padahal kita sadari benar bahwa setiap hari pun sapi-sapi tersebut disembelih dan dengan mudahnya kita mendapatkan daging tersebut di pasar. Foto cerita tentang hewan sapi yang disembelih pada saat hari raya Idul Adha ini dibuat sebagai cuplikan realitas yang sungguh terjadi meski sebenarnya adegan-adegan tersebut dapat dilihat setiap harinya semisal di tempat-tempat penjagalan. Hanya saja cerita penyembelihan sapi ini menjadi berbeda tatkala ada sebuah hari yang dikenang oleh masyarakat muslim. Semoga tangisan para sapi ini menjadikan kita untuk lebih berani berkorban (lebih daripada sapi tentunya) demi sebuah langgengnya kehidupan yang damai di bumi. Sehingga tak ada lagi kata korban korupsi, korban ketidakadilan dan korban kesemena-menaan yang hingga kini masih saja terjadi di bumi pertiwi ini.

Bandung, 17 November 2010

copyright (c) 2010 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

November 19, 2010 at 8:47 am

Balada Para Anjing Tomohon

with 5 comments

Teks & Foto : galih sedayu

“Aku punya anjing kecil
Kuberi nama Helly
Dia senang bermain-main
Sambil berlari-lari
Helly! Guk! Guk! Guk!
Kemari! Guk! Guk! Guk!
Ayo lari-lari…
Helly! Guk! Guk! Guk!
Kemari! Guk! Guk! Guk!
Ayo lari-lari”

-Lagu Anjing Kecil-

Foto cerita tentang penjualan daging anjing ini diambil di daerah yang bernama Pasar Tomohon di Sulawesi Utara. Kota Tomohon sendiri berada pada 1°15′ Lintang Utara dan 124°50′ Bujur Timur. Letaknya yang diapit oleh tiga gunung aktif yaitu Lokon, Mahawu, dan Masarang menjadikan wilayah ini sebagai daerah yang subur dan menjadi daerah wisata karena hawanya yang sejuk. Pasar Tomohon merupakan salah satu pasar tradisional terbesar di Minahasa.

Sulawesi Utara, Tomohon, 16 November 2008

copyright (c) 2008 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

November 6, 2010 at 1:31 pm

Menunggu Sebuah Perayaan

with one comment

Teks & Foto : galih sedayu

Sejak tahun 2004 yang lalu, setiap tahunnya kota bandung selalu ditunjuk dan dipercaya oleh pemerintah indonesia lewat kementrian pariwisata dan budayanya sebagai tempat untuk dilangsungkannya sebuah helaran akbar seni & budaya tanah air yang bertajuk Kemilau Nusantara. Termasuk tahun 2010 ini ketika kota bandung merayakan hari jadinya yang ke-200 tahun. Helaran Kemilau Nusantara tahun ini diadakan di Monumen Perjuangan Jawa Barat tepatnya pada tanggal 23 Oktober 2010 yang hanya diikuti oleh 5 propinsi dari seluruh indonesia. Tentunya hal ini menjadi sorotan yang patut dipertanyakan karena data yang ada menunjukkan dari tahun ke tahun peserta helaran Kemilau Nusantara selalu cenderung menurun. Mengapa demikian? Sepertinya kita semua telah mengetahui apa jawaban pasti dari pertanyaan tersebut terlebih ketika menyangkut segala sesuatu yang erat kaitannya dengan urusan pemerintahan atau birokrasi. Tetapi biarlah kita kesampingkan sejenak masalah itu.

Agaknya segala permasalahan seni & budaya pun setidaknya ikut dipikirkan oleh para petualang cahaya atau yang lebih akrab dengan sebutan fotografer/pemotret. Setidaknya kaum ini tidak pernah bosan untuk merekam segala atraksi dan pertunjukkan yang digelar pada saat acara Kemilau Nusantara tersebut. Entah itu hanya sekedar hunting, mengikuti lomba foto, tugas liputan atau mungkin sebuah proyek pribadi sang pemotret. Termasuk oleh saya sendiri yang mencoba untuk membuat sebuah Photo Story tentang aktivitas lain para peserta helaran sebelum mereka tampil. Karena bagi saya di sanalah kerap hadir momen-momen menarik yang merangsang jari untuk menekan shutter kamera. Bagai melihat sebuah kehidupan lain di belakang layar. Seperti kasih sayang seorang kakek yang rela untuk mengantar cucunya melihat helaran kemilau nusantara. Pemanasan dan latihan para peserta sebelum mereka mendapat giliran tampil. Dan lain sebagainya.

Untuk itulah fotografi dengan kesederhanaannya membekukan semua adegan tersebut untuk dapat dibagikan kembali ke dalam bentuk visual foto yang abadi. Sehingga di dalamnya selalu ada informasi, komunikasi dan pesan dari sang pemotret agar terjadi dialog yang bergulir demi kelangsungan fotografi dan isu yang diangkatnya. Yang tidak pernah ada kata salah atau benar melainkan kata “yang selalu ada”. Yang kelak menjadi jejak, kenangan dan pertanda kehadiran dari sebuah peristiwa apapun di dunia. Hingga akhir menutup mata.

Bandung, 24 Oktober 2010

copyright (c) 2010 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 31, 2010 at 2:13 pm