Archive for January 2010
Tangis Tegar Karst Citatah Di Antara Debu Keangkuhan Manusia
Teks : galih sedayu
Zamannya Tersier kala Miosen Awal (sekitar 30 – 20 juta tahun yang silam). Ketika kawasan alam Karst Citatah yang merupakan perbukitan batu kapur yang membentang dari daerah Tagog Apu, Padalarang, Cipatat, hingga Rajamandala (sekitar km 22 & km 23 dari arah bandung menuju cianjur) terbentuk dari endapan hasil binatang laut dan kini menjadi sebuah memoar keajaiban fenomena alam. Dimana pada kawasan tersebut terdapat berbagai warisan karst yang perlu dilestarikan seperti Pr. Pabeasan dengan tebing 125-nya, Gunung Hawu, Gunung Manik dengan tebing 49-nya, Karang Panganten, Gunung Masigit dan Pr. Pawon dengan guanya yang telah diketahui merupakan situs hunian prasejarah pertama di Jawa Barat. Jauh sebelumnya kawasan Karst Citatah ini merupakan surga yang hijau nan damai di antara aroma segar rerumputan, kicau burung yang bebas lepas beterbangan serta semilir angin yang sejuk menyibakkan rambut. Hingga suatu saat kawasan ini ‘dieksplorasi’ oleh segelintir manusia yang berlindung di bawah secarik kertas yang bernama sertifikat resmi. Demi seonggok batu kapur sebagai bahan pembuat bangunan semisal gedung-gedung megah yang kerap menghiasi wajah metropolitan, pengolahan batu gamping yang kadang menggunakan bahan peledak itu pun diaminkan. Keberadaan karst sebagai pusaka alam tersebut makin lama semakin hilang tertelan gemuruh ledakan dan mesin-mesin raksasa yang haus akan penaklukan. Surga itu pun kini menjadi surga imajiner di antara debu-debu yang menyesakkan nafas.
Adalah Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB), sebuah kelompok kecil independen dan di dalamnya berisi orang-orang sederhana yang sangat peduli terhadap lingkungan alam (khususnya cekungan bandung), yang menggagas sebuah program edukasi visual yaitu Lomba Foto “Selamatkan Karst Citatah’. Program ini selain bertujuan untuk mengarsipkan foto-foto sejarah alam juga bertujuan untuk menyentuh hati masyarakat agar dapat menyuarakan lagu kepedulian terhadap kawasan Karst Citatah yang saat ini semakin mendekati ajal. Melalui media fotografi ini diharapkan agar masyarakat (yang umumnya lebih mudah mencerna sesuatu secara visual ketimbang tulisan) dapat membaca sebuah realitas pahit yang terjadi pada alam tempat mereka berpijak. Dengan harapan bahwa mulai saat ini, bersama-sama kita dapat menyumbangkan segala solusi maupun jawaban dari setiap permasalahan yang timbul akibat kegelisahan Karst Citatah. Meski kita sadar benar bahwa semuanya itu sudah terlambat. Lomba Foto “Selamatkan Karst Citatah” yang diadakan pada periode bulan November – Desember 2008 yang lalu ini diikuti oleh 68 Peserta dengan jumlah karya foto yang masuk sebanyak 575 karya. Agar masyarakat dapat melihat dan mengapresiasikan hasil-hasil karya lomba foto tersebut, Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) bekerjasama dengan Air Foto Network mengadakan sebuah Pameran Foto “Selamatkan Karst Citatah” yang berlangsung pada tanggal 18 Februari 2009 s/d 25 Februari 2009 di Museum Geologi Bandung. Sekitar 50 buah karya yang terdiri dari 9 karya foto para pemenang lomba dari semua kategori yaitu Keindahan, Kerusakan dan Human Interest serta beberapa karya foto yang masuk ke dalam nominasi turut dipamerkan kepada publik.
Sebagai sebuah paparan visual, Pameran Foto ini mudah-mudahan dapat menjadi renungan bersama untuk berbuat sesuatu bagi masa depan Karst Citatah. Jangan sampai suatu saat nanti Karst Citatah hanya menjadi totem kelam sejarah alam bangsa kita seperti halnya yang terjadi di Jogyakarta. Sekitar 4 km arah barat kota ini, di antara Kali Progo dan Kali Opak, bukit gunung kapur yang tadinya begitu luas, kini telah sirna dengan hanya menyisakan seonggok batu gamping sebagai simbol kebesaran alam yang pernah mengukir peradaban anak manusia. Walau sepertinya sulit untuk mencegah kerusakan alam yang terjadi di depan pelupuk mata kita, namun semangat optimis itu harus tetap berdenyut dan menular ke dalam hati sanubari semua orang yang memiliki mata jiwa. Dengan cara apapun, melalui media apapun. Untuk itulah fotografi yang terlahir ke bumi sejak tahun 1839 silam, dapat menjadi medium visual bagi lakon fotografer maupun insan fotografi yang memiliki peran tanggung jawab sosial. Yang tanpa lelah merekam imaji-imaji visual, yang tanpa gentar mengabadikan memori-memori visual, yang tanpa beban menyimpan bingkai-bingkai visual. Demi sebuah tujuan besar dari sebuah langkah kecil yang bernama perubahan. Seorang bijak dulu pernah berujar bahwa “Cara terbaik untuk meramalkan masa depan adalah dengan menciptakannya”. Karenanya marilah kita ciptakan masa depan bagi keabadian Karst Citatah. Agar tetap berdiri tegak dari mulai matahari terbit hingga terbenamnya sang surya. Agar selalu menjadi noktah alam yang tak terhapuskan dari tanah air kita. Yang selalu setia menemani dan menjadi monumen alam sejati bagi keberlangsungan hidup anak dan cucu kita selamanya. Selamatkan Karst Citatah!!
*Tulisan ini diberikan sebagai kata pengantar Pameran Foto “Selamatkan Karst Citatah” yang dilaksanakan oleh KRCB & air pada tanggal 19 s/d 25 Februari 2009 di Museum Geologi Bandung.
Bandung, 5 Februari 2009
copyright (c) Budi Hermawan
copyright (c) astadi priyanto
copyright (c) p meilan
copyright (c) tan nono rahardian
copyright (c) wiwit setyoko
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographers.
Fotografi Cermin Visual Bangsa
Teks : galih sedayu
Perlu disadari bahwa kontribusi disiplin fotografi dengan segala sifatnya yang realistik, praktis dan informatif bagi sejarah peradaban manusia di muka bumi ini tidaklah menjadi kerdil. Sejak ditemukannya fotografi pada tahun 1839 oleh Louis-Jacques-Mandé Daguerre, eforia penemuan yang revolusioner tersebut mulai terasa menjamur ke seluruh antero dunia. Bahkan 2 tahun setelahnya (1841), Bangsa Indonesia pun turut merasakan kehadiran fotografi tersebut dimana fotografer Jurrian Munich menggunakan media fotografi untuk mendokumentasikan temuan arkeologi, tanah dan masyarakat Hindia Belanda di Batavia pada waktu itu.
Fotografi dengan kemampuan optisnya dapat merekam segala peristiwa aktual yang menjadi lembaran sejarah dan mampu menyampaikan sebuah pesan sehingga dapat menciptakan inspirasi dan makna bagi manusia yang melihat meski secara kasat mata. Hal inilah yang menarik hati PT Pos Indonesia untuk membangun citra perusahaan serta memberikan edukasi positif kepada masyarakat Indonesia melalui fotografi. Melalui sebuah program Lomba Foto Nasional, PT Pos Indonesia turut berperan dalam mewarnai dunia fotografi di Indonesia. Dimana Lomba Foto Nasional Pos Indonesia ini telah berjalan selama 3 tahun terhitung sejak tahun 2006.
Lomba Foto Nasional Pos Indonesia pertama pada tahun 2006 yang bertemakan Wajah Optimisme Pos Indonesia Masa Kini diikuti oleh 204 peserta dan jumlah foto yang masuk sebanyak 817 karya (dengan waktu promosi selama 1,5 bulan). Lomba Foto Pos Indonesia 2006 ini menghadirkan Dewan Juri yaitu Andhika Prasetya (Dosen Fotografi) yang kini telah Almarhum, Dudi Sugandi (Redaktur Foto), Heru Agustianto (Pos Indonesia), Oscar Motuloh (Kurator Foto) & Wismanto (Fotografer). Pada tahun 2007 Pos Indonesia mulai memberikan pencerahan baru pada tema lomba foto yang diusungnya yaitu Etos Kerja Orang Indonesia. Tema ini mendapat respon dan tanggapan positif dari insan fotografi Indonesia, terbukti dengan jumlah karya yang masuk sebanyak 2234 karya foto dari 590 peserta (dengan waktu promosi selama 4 bulan). Dewan Juri Lomba Foto Pos Indonesia 2007 ini terdiri dari Prof.Dr. Bambang Sugiharto (Pakar Filsafat), Dudi Sugandi (Redaktur Foto), Heru Agustianto (Pos Indonesia), Julian Sihombing (Wartawan Foto) dan Oscar Motuloh (Kurator Foto). Tahun 2008, untuk ketiga kalinya Pos Indonesia menyelenggarakan Lomba Foto Nasional dengan tema Bumi Merah Putih Harus Hijau yang diikuti oleh 459 peserta dengan jumlah karya yang masuk sebanyak 1496 (dengan waktu promosi selama 1 bulan). Adapun yang menjadi Dewan Juri Lomba Foto Pos Indonesia 2008 ini adalah Dudi Sugandi (Redaktur Foto), Heru Agustianto (Pos Indonesia), Iwan Abdulrachman (Aktivitis Lingkungan Hidup), Kristupa Saragih (Fotografer) dan Oscar Motuloh (Kurator Foto).
Dari sekian banyak karya foto yang masuk panitia, Dewan Juri harus memilih hasil foto terbaik untuk 13 orang pemenang. Karena penilaian foto didasarkan pada 3 hal utama yaitu kesesuaian tema, orisinalitas ide dan eksekusi, maka proses penjurian yang dilakukan sangatlah selektif dan sangat ketat. Banyak hal unik yang terjadi pada saat penjurian. Misalnya saja ada seorang peserta yang mengirimkan karya foto yang menggambarkan foto diri / individu si pemotret beserta teman-temannya yang tengah berpose bagaikan selebritis (cenderung narsis). Dan lebih uniknya lagi bahwa foto tersebut dilaminasi seperti menu makanan warung tenda yang ada jalanan. Lalu ada juga peserta yang bukan mengirim karya foto, malahan mengirim sepucuk surat yang berisi tentang keinginan yang kuat dari si peserta untuk memenangkan hadiah lomba foto tersebut (yang mungkin mereka anggap sebagai sebuah undian berhadiah) dengan bercerita panjang lebar tentang kesulitan hidup yang dialaminya melalui tulisan yang dibuat. Atau ada juga peserta yang mengirimkan sebuah gambar hasil coretan pinsil warna di atas selembar kertas putih (lagi-lagi bukan mengirimkan karya foto).
Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawabnya sebagai suatu perusahaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, PT Pos Indonesia mengadakan sebuah Pameran Hasil Lomba Foto Nasional yang telah dibuat sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2008. Pameran ini berisi karya-karya foto terbaik yang menjadi pemenang lomba di setiap tahunnya. Pameran ini dibuat dengan harapan bahwa PT Pos Indonesia mencoba meninggalkan sebuah jejak langkah di Tanah Air ini melalui catatan visual fotografi yang merepresentasikan kearifan bangsa. Maka dari itu ketika muncul sebuah pertanyaan tentang bagaimana cara penyampaian visual yang terbaik kepada masyarakat, pada saat itulah fotografi hadir dan menjawab dengan lantang. Sehingga masyarakat pada akhirnya dapat menyadari bahwa fotografi sebenarnya merupakan salah satu bentuk budaya imaji lewat gambar, yang dewasa ini telah mengisi jutaan buku di seluruh perpustakaan dunia. Tentunya dengan sebuah harapan bahwa fotografi dapat menjadi cermin diri dan dapat menciptakan medium kontemplasi bagi bangsa kita untuk menjadi yang lebih baik.
*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto Hasil Lomba Fotografi Pos Indonesia (Wajah Optimisme Pos Indonesia, Etos Kerja Orang Indonesia & Bumi Merah Putih Harus Hijau) di Gedung Posindo Bandung tanggal 12 Februari 2008.
Bandung, 28 Januari 2008
Fotografi : Komunikasi & Citra Visual
Teks : galih sedayu
Dimulai dengan sebuah citra…
Saat fotografi hadir di tengah keberadaan umat manusia yang selalu haus akan setiap penemuan baru, fotografi yang dibawa oleh Louis-Jacques-Mandĕ Daguerre pada tahun 1839 telah menjadi sebuah displin ilmu yang menciptakan citra dari wajah dan semangat sejarah peradaban manusia. Melalui fotografi, manusia semakin aktif berkomunikasi lewat gambar-gambar visual yang ditimbulkan oleh buah teknologi yang bernama kamera. Dimensi waktu & ruang yang merupakan bagian dari sebuah peristiwa hidup (seolah-olah) dihadirkan kembali menjadi sebuah foto yang sarat dengan sebuah pesan maupun mampu memberi inspirasi kepada insan manusia yang melihatnya. Foto karya Joe Rosenthal misalnya. Foto yang menggambarkan pengibaran bendera star and stripes di puncak Gunung Suribachi pada pertempuran Iwo Jima yang menewaskan hampir 6000 jiwa serdadu AS tersebut, memberikan pesan yang berdampak positif terhadap masyarakat internasional. Bahkan menginspirasi seorang sutradara kenamaan dunia, Clint Eastwood untuk membuat film yang berjudul Flags of Our Father.
Bahkan fotografer sebagai orang yang mengeksekusi segala peristiwa maupun potret manusia di dunia pun mempunyai cerita tersendiri. Fotografer August Sander misalnya. Fotografer jerman yang lahir pada tahun 1876 ini banyak mengabadikan potret masyarakat jerman mulai dari petani,pekerja,pengusaha,militer,wanita,kalangan terpelajar dan kaum pinggiran tanpa membeda-bedakan derajat dan status sosial. Malangnya pada tahun 1934 Sander diberangus Gestapo, sebuah rezim penguasa pada masa perang dunia ke-II. Karya-karya fotonya disita & dimusnahkan. Maka tak heran bila sederet cendekiawan seperti Walter Benjamin, Thomas Mann, Roland Barthes, John Berger & Susan Sontaq banyak mengenang seorang August Sander lewat tulisan-tulisannya.
Saat ini ilmu fotografi memberikan peran yang sangat penting terutama dalam melahirkan berbagai macam profesi yang muncul, entah itu seorang fotografer komersil,pengajar fotografi,wartawan foto,kurator foto,editor foto,kolektor foto, penulis ataupun hanya sekedar menjadi seorang pedagang peralatan fotografi. Namun yang perlu kita sadari adalah apa yang dapat kita perbuat dengan ilmu fotografi tersebut dengan spirit komunikasi & citra visual yang dimilikinya.
Karena dalam fotografi tidak hanya sekedar apa yang kita kuasai, melainkan juga mengenai apa yang kita pelajari…apa yang kita hasilkan…dan apa yang kita bagi. Tentunya demi kehidupan yang lebih bermakna.
*Tulisan ini diberikan pada Seminar Fotografi “Photography: Communications & Branding” di Universitas Islam Bandung (Unisba).
Bandung, 22 Oktober 2008
Secangkir Teh Hangat Untuk Fotografi
Teks : galih sedayu
Agaknya Tuhan telah bersabda kepada Joseph Nicéphore Niépce dan Louis-Jacques-Mandé Daguerre yang berkat kolaborasi mereka berdua akhirnya dunia ini diberkahi sebuah penemuan besar lainnya pada tahun 1839 yaitu “Fotografi”. Sejak itu pula dunia akan selalu mengingat betapa berharganya penemuan fotografi tersebut khususnya dalam merekam sejarah perjalanan kehidupan dari masa ke masa beserta anak manusia yang turut menciptakan sebuah kehidupan baru di muka bumi.
Citra visual hasil sebuah rekaman fotografis ini menghasilkan kontribusi yang amat sangat berguna bagi segala aspek kehidupan di masa kini. Entah itu bagi media, para ilmuwan, dunia pendidikan sampai pada kebutuhan individu manusia itu sendiri. Sebuah foto bak sebuah medan magnet yang dapat menyampaikan sebuah pesan, memberikan kenangan, refleksi keberadaan sebuah waktu, simbol pengikat batin dan menghadirkan kembali sebuah peristiwa maupun cerita lampau.
Berangkat dari kesadaran bahwa (salah satu) esensi kehidupan itu adalah ‘memberi’, kami mencoba untuk memaknai filosofi tersebut dengan cara fotografi. Melalui fotografi, kami berusaha memberikan sebuah kreativitas, ilmu dan sikap untuk dibagikan kepada yang lain sehingga pada akhirnya kami menerima sesuatu (baik itu kepuasan, pengalaman dan materi) sesuai dengan hasil kerja yang telah diberikan.
Melalui fotografi pula kami mencoba mengakomodir dan menyediakan kebutuhan-kebutuhan manusia yang beragam. Mulai dari sekedar kebutuhan fotografi sebagai dokumentasi, kebutuhan fotografi sebagai alat promosi, maupun kebutuhan fotografi sebagai media untuk menyampaikan pesan tertentu kepada masyarakat. Oleh karena itu dengan semangat komunikasi kami mencoba hadir untuk mewarnai dunia fotografi lewat air foto network yang kami bentuk pada tanggal 17 Agustus 2004 di Kota Bandung. Kami berusaha menanam network dan bersinergi dengan yang lain kami agar dapat selalu aktif untuk menjadi lebih produktif ketimbang menjadi konsumtif dalam hidup bermasyarakat. Spirit inilah yang akan kami tularkan kepada semua orang demi fotografi dan sebuah kehidupan yang lebih baik di jagat raya ini.
Bandung, 17 Agustus 2004
Bentuk-Bentuk Pencitraan Dalam Fotografi
Teks : galih sedayu
Tidak dapat dipungkiri bahwa sejak fotografi ditemukan di jagat raya ini pada tahun 1839, bentuk pencintraan yang dihasilkannya melalui visual foto begitu banyak memberikan kontribusi terutama bagi pencatatan sejarah yang mengukir kehidupan umat manusia. Sebuah karya foto apapun menjadi sebuah pengikat komunikasi bagi setiap orang yang melihatnya entah itu foto yang menghiasi berita surat kabar, iklan, museum atau sekedar menjadi elemen estetis dinding sebuah kamar. Bahkan seseorang yang sudah tidak hidup lagi pun seolah-olah menjadi hidup kembali (atau mencoba dihidupkan) melalui sebuah foto. Misalnya saja foto vokalis legendaris John Lennon dari grup musik The Beatles, foto seorang tokoh pemberontak sekaligus pejuang dari Cuba Che Guevara, foto seorang pemimpin nazi asal jerman Adolf Hitler, dan foto artis kontroversial di Holywood Marlyn Monroe selalu saja menjadi langganan semua media cetak di dunia meski mereka semua telah tiada.
Agaknya foto dapat menjadi sebuah media perantara bagi yang melihat tentunya, sehingga muncul sebuah bentuk komunikasi melalui pesan yang ingin disampaikannya. Baik itu foto yang berdiri sendiri maupun foto yang dikombinasikan dengan elemen-elemen lainnya. Simak saja iklan-iklan cetak produsen rokok Marlboro yang selalu menggunakan foto seorang Cowboy dan Landscapes dunia country dalam mempromosikan produknya. Lalu kampanye bingkai merah majalah Time pada setiap fotonya, yang merupakan contoh menarik sebuah kekuatan emosi ikonografi untuk menghubungkan sebuah merk dengan target pasar yang ingin dibidiknya. Atau imej Kolonel Sanders yang merupakan pendiri Kentucky Fried Chicken, tak luput berasal dari sebuah foto yang kemudian diolah secara grafis.
Karena sejatinya sebuah foto adalah cermin visual dari sebuah benda, mahluk dan peristiwa maka dari itu fungsinya dapat diaplikasikan ke dalam beragam aspek dalam kehidupan. Fotografi sebagai alat komunikasi visual dapat memiliki fungsi sebagai foto dokumentasi, merekam sejarah dan peristiwa aktual, media kampanye, media iklan (advertising), media publikasi dan untuk kebutuhan dunia jurnalistik. Tapi yang lebih menarik lagi adalah bahwa sebenarnya fotografi dapat berfungsi sebagai ajang kreativitas dalam konteks yang lebih dirasakan oleh masyarakat. Hanya saja masih belum (banyak) yang menyadari bahwa sebuah citra kreatif dapat ditimbulkan oleh fotografi. Apalagi dewasa ini gelombang ekonomi kreatif menjadi isu yang sangat nyata dan berkembang di Negara Indonesia. Oleh karena itu, mari kita bergerak dan menghasilkan kreativitas melalui fotografi.
Bandung, 23 Januari 2010
Another Journey Of Andhika Prasetya
Teks : galih sedayu
Kehilangan seseorang di dalam suatu kehidupan selalu menjadi cerita yang haru biru. Seperti yang tengah kita alami saat ini, dunia fotografi kembali kehilangan salah satu tokoh panutan masyarakat foto yang kerap mengisi aktivitas kreatif khususnya di Kota Bandung . Setelah kepergian Bapak RM Soelarko, Bapak Leonardi dan Bapak KC Limarga beberapa tahun silam, kini Kota Bandung kembali kehilangan seorang figur bersahaja yang telah banyak berjasa terutama dalam hal mengajarkan ilmu fotografi. Ignatius Andhika Prasetya, dalam usianya yang ke 40 tahun, ayah dari 2 orang anak ini ternyata begitu cepat dipanggil oleh Sang Khalik ke RibaanNya. Tepat pada hari Minggu Tanggal 10 Agustus 2008 pukul 21.30 WIB, ia secara mendadak wafat di daerah Wangon (Jawa Tengah) dalam perjalanan dari Jogyakarta menuju Bandung setelah mengikuti acara sebuah seminar tentang film. Berawal dari keluhan perutnya yang tiba-tiba sakit sampai akhirnya ia meregang nyawa dalam waktu kurang lebih 20 menit kemudian. Entah karena sebab apa, yang pasti adalah bahwa kita sebagai anak manusia tidak memiliki kuasa apa-apa terhadap sebuah takdir yang bernama Kematian yang sering datang menjemput tanpa mengetuk pintu.
Berbicara tentang Andhika Prasetya, tidak pernah lepas dari imej kebaikan yang selalu menyertainya. Semasa hidupnya, ia adalah seorang pria sederhana yang berprofesi sebagai pengajar fotografi di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Widyatama. Kecintaannya pada fotografi dapat dilihat dalam kehidupannya sehari-hari. Putra keduanya yang baru berumur 5 tahun pun diberi nama Sebastian atas dasar kekagumannya pada fotografer kelas dunia, Sebastiao Salgado. Ia juga sangat peduli akan perkembangan sebuah komunitas foto, dimana ia sempat membantu menjadi Kurator Pameran Foto yang digagas oleh Komunitas Pemotret Bandung (KPB) bertajuk “Bandung Sehari” pada tahun 2001 di Bandung Indah Plaza (BIP). Ia pun memiliki pandangan yang luas terhadap sebuah karya foto. Dimana sisi konten, kedalaman dan hal-hal yang bersifat semiotik akan selalu menjadi wacana yang terus digali olehnya. Kedahagaan akan wawasan baru selalu muncul darinya bak makanan yang diperuntukkan bagi jiwa. Fotografi, film, musik, filsafat, desain, dan seni akan selalu menjadi topik perbincangan yang menarik kala kita sedang berdiskusi dengannya. Citra orang baik, mau tidak mau melekat di dalam dirinya karena begitu banyak pribadi yang telah ia sentuh hatinya. Baik melalui sopan santun, kesabaran, berbagi ilmu dan kecakapan yang dimilikinya. Sampai pada akhir hayatnya pun sepertinya ia tidak mau merepotkan keluarga dan para sahabatnya. Sebelum kepergiannya, ia sempat berpesan kepada istri yang sangat dicintainya bahwa bila kelak ia meninggal, ia tidak ingin jenasahnya dimakamkan atau dikubur di tanah. Ia lebih memilih agar tubuhnya dikremasi dengan alasan bahwa ia tidak mau merepotkan orang banyak. Pesan yang ia sampaikan tampaknya tertanam di benak keluarganya. Menjelang pelepasan jenasah di ruang kremasi, istri terkasihnya yang bernama Lita dan kedua anaknya pun tampak tegar melepas orang yang sangat mereka cintai tersebut. Itu semua terlihat pada senyuman keharuan sekaligus kebahagiaan yang dipancarkan oleh mereka. Ia seperti membisikkan kepada mereka semua bahwa tidak ada yang perlu ditangiskan karena ia selalu ada dan senantiasa memeluk mereka dengan erat. Meski, Lia putri pertamanya yang berumur 7 tahun sesekali memandangi foto ayahnya dalam bingkai dengan tatapan yang kosong. Pada saat sebelum proses kremasi, terlihat tubuhnya begitu rapih dan jelas meskipun dengan tubuh yang kaku ketika berada di dalam peti mati. Wajahnya menyinarkan senyum dan optimisme meski dengan kedua bola mata yang terpejam. Benda-benda yang ia sukai ketika masih hidup pun ikut menemani dan disimpan ke dalam peti matinya. Diantaranya sebuah buku yang berjudul “Principles of Visual Anthropology”, sepotong kaos oblong putih yang bolong-bolong, seuntai tas dari anyaman rotan dan sepasang sepatu coklat yang selalu dikenakannya.
Memang ia bukanlah seorang Alfred Stieglitz, Walker Evans, Henri Cartier-Bresson, Richard Avedon dan sederet nama fotografer kenamaan lainnya. Ia hanyalah seorang Andhika Prasetya, seorang pemuda asal Jember yang lahir pada Tanggal 2 Mei 1968. Tetapi kehidupannya banyak menginspirasi dan menggugah para sahabat yang pernah dekat dengannya. Sebagai wujud sebuah penghormatan yang paling dalam dari kami yang mewakili para sahabat, murid dan saudara dari seorang Andhika Prasetya, kami mencoba mengenang kepergian dan mengingat kembali kehadirannya dengan mempersembahkan Pameran Foto yang bertajuk “Another Journey of Andhika Prasetya”. Pameran foto yang bertepatan dengan 40 hari setelah kepergiannya ini merupakan beberapa kumpulan hasil rekaman imajinasi visual beliau dari mulai karya foto terdahulu sampai pada karya foto yang diambil beberapa waktu sebelum beliau wafat. Seperti foto seekor elang yang sedang terbang tinggi dan sendiri di angkasa. Bagi kami, seolah-olah foto tersebut merupakan titisan diri ruh seorang Andhika Prasetya yang meninggalkan jasadnya di bumi untuk berkelana kembali dalam keabadian waktu. Agaknya ia telah siap melangkahkan kakinya ke dalam sebuah kehidupan lain. Karena baginya kebahagiaan itu bukanlah sebuah perhentian akhir, melainkan sebuah perjalanan.
“So long to a simple man…our brother, our teacher and our friend. There is no death. There’s only a beginning of life. Enjoy your another journey!”
*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto “Another Journey of Andhika Prasetya” di Galeri Papyrus
Bandung, 11 September 2008
copyright (c) 2008
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from air foto network & photographer.











