Archive for January 2010
Catatan Singkat Awal Kehadiran Fotografi Di Indonesia
Teks : galih sedayu
Era masuknya fotografi di Indonesia dimulai pada tahun 1840 (setahun setelah fotografi ditemukan di Perancis tahun 1839 oleh Louis Jaques Mande Daquerre) yaitu tatkala seorang petugas medis Jurrian Munnich yang berasal dari negeri kincir angin memboyong fotografi untuk pertama kalinya di bumi pertiwi. Menurut Anneke Groeneveld yang tertuang dalam buku “Toekang Potret” (Fragment Uitgeverij, Amsterdam dan Museum voor Volkenkunde, Rotterdam, 1989), Jurrian Munnich diutus oleh Kementrian Urusan Wilayah Jajahan Belanda untuk merekam obyek di daerah Jawa Tengah. Sehingga sejarah akhirnya menulis bahwa “Kali Madioen” menjadi salah satu karya foto Munnich yang dianggap paling sukses pada saat itu (meski foto yang dibuatnya sangat kabur). Setelah itu penugasan diteruskan kepada Adolph Schaefer yang tiba di Batavia (saat ini bernama Jakarta) pada tahun 1844. Schaefer pun berhasil memotret obyek-obyek seperti foto patung Hindu-Jawa dan foto Candi Borobudur. Hingga hadirnya dua bersaudara kebangsaan Inggris yang bernama Albert Walter Woodbury dan James Page ke Tanah Air pada tahun 1857 menjadi titik terang dimulainya sejarah pendokumentasian Indonesia secara lengkap. Foto kenang-kenangan (carte de-visite) hasil rekaman Woodbury & Page seperti upacara-upacara tradisional, suku-suku pedalaman dan bangunan-bangunan kuno di Indonesia sangat digandrungi oleh para pelancong dari Eropa kala itu.
Pesona Indonesia makin mengilhami masyarakat dunia untuk singgah di Bumi Nusantara kita terutama setelah terbitnya novel “Max Havelaar” karya Multatuli pada tahun 1860. Sebut saja nama tokoh Franz Wilhem Junghun seorang ahli fisika yang membuat sekitar 200 foto tentang bunga dan bebatuan Indonesia sejak tahun 1860-1863. Lalu ada pula Isidore van Kinsbergen yang menggantikan tugas Adolf Schaefer untuk memotret seluruh benda kuno yang ada di Indonesia sejak tahun 1862. Berbicara tentang fotografer pribumi pertama yang merekam citra Indonesia, mau tidak mau tidak bisa lepas dari keberadaan seorang tokoh yang bernama Kassian Cephas. Kehadiran Kinsbergen di Jawa Tengah memikat ketertarikan Cephas untuk menekuni profesi fotografer. Sejak Cephas ditunjuk oleh Sultan Hamengkubuwono VII sebagai fotografer resmi keraton Yogjakarta pada tahun 1870, citra Indonesia yang mempesona seumpama tarian tradisional, upacara grebeg, situs-situs Hindu-Jawa kuno dan Candi Borobudur di Jawa Tengah pun menjadi jejak karyanya yang tak terlupakan. Misalnya saja buku tentang kehidupan keraton dan masyarakat jawa, “In den Kedaton te Jogjakarta, Oepatjara en Tooneeldansen” (Leiden, 1888) dan “De Wajang Orang Pregiwa in den Kedaton Jogjakarta” (Semarang, 1899) yang dibuat oleh Cephas bersama seorang ahli fisika, Isaac Groneman. Buah karya Cephas akhirnya memunculkan minat masyarakat pribumi untuk mempelajari dunia fotografi. Pada tahun 1893, Raden Ngabehi Basah Tirto Soebroto, seorang juru bahasa Jawa di Pengadilan Lanraad Batavia menerbitkan tutorial fotografi bahasa melayu “Hikajat Ilmoe Menggambar Photographie” (Soebroto, 1893). Hingga kini fotografi di Indonesia menjadi sebuah kitab peradaban cahaya bagi orang-orang yang tak pernah lelah untuk terus mengabadikan segala peristiwa yang kelak menjadi sejarah bangsa.
*Tulisan ini diberikan untuk artikel lepas Majalah D’Jugend edisi Januari 2010 sebagai salah satu bagian dari edukasi kecil fotografi.
Bandung, 24 Januari 2010
Kamera Saku + Jelly Lens + Mata Hati = Karya Kreatif
Teks : galih sedayu
Tidak dapat dipungkiri bahwa akibat pertumbuhan pesat teknologi fotografi, sederet kreativitas visual pun bermunculan di negeri ini. Sejak fotografi ditemukan sekitar 170 tahun yang silam di Perancis oleh Louis Jacques Mande Daguerre, fotografi menjadi sesuatu yang terus melekat serta menjadi mata yang tak lelah merekam setiap peristiwa hidup kita sehari-hari. Dari mulai matahari terbit hingga terbenam. Dari mulai burung berkicau di pagi hari hingga suara jangkrik di waktu malam.
Aisyah Nurahmah. Seorang gadis belia yang berumur 18 tahun mencoba menjajal kreativitasnya dalam sebuah suguhan Pameran Foto yang bertajuk “Soul of Bandung”. Sekitar 35 buah karya foto tentang Kota Bandung yang dicuplik dengan mengunakan Kamera Saku dan “Jelly Lens” ditampilkan dengan sederhana olehnya. “Jelly Lens” sendiri merupakan sebuah lensa yang terbuat dari plastik dan memiliki sifat yang dapat menempel pada lensa kamera tetapi tidak akan mengotorinya. Model efek yang dihasilkan oleh “Jelly Lens” pada hasil karya foto pun berbeda-beda dari mulai Fish Eye, Strech, Hexa-image Mirage, Heart, Star, Polarized, Starbust, Shaking Vignette, Sparkle dan sebagainya.
Tetapi bagi seorang Aisyah, Kamera Saku dan “Jelly Lens” tersebut hanyalah sebuat alat semata yang digunakan sebagai media ekspresi kreatif. Efek-efek yang muncul dari hasil foto jepretannya hanya menjadi elemen unik lain yang memang cocok bagi selera dan jiwa mudanya. Baginya yang terpenting adalah mata personal dan kejujuran yang menangkap segala citra tentang Kota Bandung yang dicintainya. Sekelumit kejadian sederhana yang mengisi diari-diari visual hidupnya. Seorang polisi di sebuah taman, sepasang sahabat remaja yang tengah mengobrol hangat, sepenggal tulisan mars persib bandung di sebuah kaos, salah satu sudut bangunan heritage di braga dan sebagainya. Semua fotonya adalah cara melihat Aisyah tentang Kota Bandung. Terlebih karena Kota Bandung akan menginjak usianya yang ke dua abad pada tahun 2010 nanti. Ibarat kado kecil yang diperuntukkan bagi sebuah kota yang telah lama dipijak olehnya. Semoga kreativitas kecil ini selalu diasah dan tetap bergulir diantara kehausan-kehausan kreatif yang selalu menyelimuti Kota Bandung. Tak peduli oleh sang muda atau sang tua. Atas nama semangat dan cinta yang tak pernah kunjung padam.
*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto “Soul of Bandung” karya Aisyah Nurahmah yang berlangsung di Cafe Rumah 1930 Jalan Cibeunying Selatan No 37 Bandung tanggal 20-22 Desember 2009.
Bandung, 13 Desember 2009
(c) Aisyah Nurahmah
(c) Aisyah Nurahmah
copyright (c) 2009
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Fotografi Yang Merekam Warisan Bangsa
Teks : galih sedayu
Berbicara tentang keberadaan Bangsa Indonesia dalam kaitannya dengan sejarah perjalanan dan perkembangan warisan (budaya) bangsa, agaknya kehadiran seorang tokoh yang bernama Kassian Cephas (1844-1912) menjadi sangat penting. Sejarah pun mencatat bahwa Cephas adalah seorang fotografer pribumi pertama di Indonesia dan telah banyak mengabadikan momen-momen yang berkaitan dengan warisan bangsa. Sebut saja foto-foto tentang budaya jawa dalam buku yang berjudul In den Kedaton te Jogyakarta, foto-foto Candi Loro Jonggrang yang digunakan untuk kepentingan penelitian monumen kuno peninggalan zaman Hindu-Jawa dan foto-foto Candi Borobudur yang pada saat itu dasar tersembunyi candi tersebut baru saja ditemukan. Karya-karya foto Cephas pun kini menjadi jejak visual yang menjadi aset abadi bangsa kita.
Dengan melihat itu, agaknya sudah menjadi tanggung-jawab kita sebagai warga negara agar wajib memelihara serta menjaga segala warisan bangsa yang telah kita miliki sejak dulu kala. Dengan masuknya batik Indonesia dalam Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diumumkan dalam siaran pers di portal UNESCO pada 30 September 2009 lalu merupakan salah satu prestasi yang patut kita banggakan. Batik pun menjadi bagian dari 76 seni dan tradisi dari 27 negara yang diakui UNESCO dalam daftar warisan budaya tak benda melalui keputusan komite 24 negara yang pada saat itu tengah bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Oleh karena itu, sudah layak dan sepantasnyalah isu-isu yang mencuatkan tentang keberadaan warisan bangsa Indonesia perlu terus dikumandangkan oleh kita yang mengaku sebagai keturunan Bangsa Indonesia.
Sebagai salah satu wujud kepedulian terhadap Warisan (Kebudayaan) Bangsa Indonesia, PT Pos Indonesia bekerjasama dengan Air Photography Communications mengadakan program fotografi yang diberi nama Pos Indonesia Photo Contest 2009 dengan tema “Melestarikan Warisan Bangsa Yang Terlupakan”.
Karena disiplin fotografi yang salah satunya fungsinya adalah pencitraan, kami meyakini bahwa fotografi merupakan sebuah media komunikasi yang tepat secara visual untuk dapat memberikan sebuah edukasi yang positif kepada masyarakat luas bahwa betapa penting untuk menjaga kelestarian budaya yang telah menjadi warisan bangsa kita. Program ini juga merupakan rangkaian dari program “Fotografi Untuk Bandung 200 Tahun” dan “Helarfest 2009”.
*Tulisan ini diberikan pada saat acara Press Conference program “Pos Indonesia Photo Contest 2009” pada tanggal 23 November 2009 di Café The Palm Bandung.
Bandung, 10 November 2009





