I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘Ridwan Kamil

Memimpikan Bandung Menjadi Kota Dunia

leave a comment »

“Memimpikan Bandung menjadi Kota Dunia”
Oleh : Ridwan Kamil

”Saya benci Bandung”, kata seorang pengusaha Jakarta di Sabtu sore. ”Semrawut, makin panas, sering macet dan sistem lalu lintasnya sering berubah, membingungkan”. Itulah sekelumit citra negatif yang sering diutarakan oleh sebagian pelancong dari luar kota. Terutama ketika mereka datang di akhir pekan.

”Kami menyukai Bandung”, ujar beberapa pelancong yang dijumpai di jalan Dago. ”Kotanya masih teduh, sekolahnya bagus-bagus, dekat dengan suasana pegunungan, anak-anak mudanya kreatif dan wisata belanjanya menyenangkan”. Cukup melegakan mendengar pujian mereka tentang Bandung.

Itulah yang terjadi. Bandung adalah paradoks. Kadang dirindu. Kadang dibenci. Bandung disukai karena suasana santainya, namun digerutui karena kemacetannya. Didatangi karena kualitas universitasnya, namun ditinggalkan karena minim peluang berkarirnya. Dipuji karena banyak ahli kota dan arsiteknya, namun diejeki karena minimnya inovasi dan kesemrawutan kotanya

Bandung adalah persilangan sebuah kota yang kaya dengan arsitektur bersejarah dengan lingkungan alam Parahyangan yang menenangkan hati. Di Bandung banyaknya perguruan tinggi yang didukung oleh stabilitas sosial yang terbuka dan kondusif adalah konteks unik yang melahirkan budaya kosmopolitan global yang berbeda dengan konteks kental religius ala Bali atau konteks patuh tradisi alaYogya.

Kosmopolitan dan kontemporer adalah karakter khas Bandung. Irisan dan persilangan unik khas Bandung ini melahirkan banyak peluang, terutama yang berkaitan dengan kekuatan ekonomi yang lahir dari tingginya kreativitas dan inovasi generasi mudanya. Ekonomi yang lahir dari kekuatan berpikir. Dari kekuatan ’human capital’ atau yang sering disebut dengan istilah’creative economy’.

***

Di tatar Parahyangan ini banyak tersembunyi kegiatan-kegiatan ekonomi berbasis inovasi dan kreativitas tanpa banyak kita hapal. Di Bandung terdapat pusat-pusat riset teknologi seperti LIPI, Pusat mikroelektronika, RISTI, MDIC, Eckman Center, Batan dan Microsoft Innovation Center at ITB. Di kota kreatif ini pula terdapat perusahaan teknologi seperti Omedata semikonduktor, LEN, INTI, CMI telkom, Harif Tunggal telekomunikasi, Daya Engineering, Quasar telekom dan PT Dirgantara.

Di Bandung pula, peluang-peluang ekonomi kreatif berbasis gaya hidup atau lifestyle tumbuh subur. Factory Outlet hadir dengan omset milyaran rupiah perbulan. Industri Distro (distribution store) anak muda Bandung yang kosmopolitan dengan desain clothing unik tumbuh dengan super cepat dan menjalar ke kota-kota lainnya.

Tidak heran, suasana kreatif dan alam yang unik di tatar Parahyangan ini membuat industri musik pun berkembang. Grup musik terkenal seperti Peterpan, Seurieus, Mocca, Laluna, PAS, Rif, Elfa, Krakatau hadir berbarengan dengan belasan grup musik Indie seperti Changcuters, Burgerkill, Besides, Pure Saturday dan komunitas underground musik yang produktif di Ujung Berung. Galeri-galeri seni kelas internasional juga tumbuh pesat di bandung, seperti Galeri Barli, Galeri Sumarja, Galeri Jehan, Galeri Padi, dan Selasar Sunaryo yang aktif dengan kegiatan seni internasionalnya sebagai agenda agenda rutinnya.

Di dunia arsitektur, progresivitas berpikir dan desain eksperimental arsitek-arsitek Bandung cukup jauh meninggalkan kota-kota lainnya. 70 persen-an pemenang sayembara nasional arsitektur selalu dari Bandung. Prestasi ini terjadi karena suasana komunitas, dialog dan iklim akademiknya yang kondusif dan inspiratif. Tahun 2007 URBANE menjadi satu-satunya firma kecil dari Bandung yang masuk 10 besar arsitek Indonesia verisi BCI awards, yang mengukur kerberhasilan firma arsitektur dari kuantitas nilai bisnisnya. Bahkan pemenang pertama Young Design Entrepreneur of the Year dari British Council, dimenangkan oleh warga Bandung 2 tahun beruturut-turut.

***

Di sisi lain, salah satu syarat menjadi kota kelas dunia adalah kualitas infrastruktur fisik kota dan ruang publiknya. Inilah kelemahan kota Bandung. Tidak ada kemajuan yang berarti dari segi pembanguan fisik dan sarana kota kecuali jembatan Pasupati. Sarana kota seperti Stadion Siliwangi yang sudah uzur, taman-taman kota yang tidak jelas konsepnya, Gelora Saparua yang sudah tidak layak pakai, adalah contoh-contoh buruknya. Dari sudut pandang prasarana, tragedi konser musik di Braga menjadi salah satu bukti, bagaimana aspirasi dan antusiasme kegiatan ekonomi kreatif tidak terwadahi oleh tempat yang layak.

Pemerintah kota dan propinsi seharusnya bisa melihat bagaimana investasi di fasilitas publik dengan arsitektur progresif bisa mengangkat ekonomi kota melompat ke level internasional. Seperti halnya kehadiran Museum Guggenheim di kota Bilbao Spanyol yang berdiri di bekas stasiun yang terbengkalai. Karena publikasi yang mendunia, sekitar empat jutaan pelancong datang ke kota tersebut hanya untuk melihat keunikan museum yang dirancang oleh superstar arsitek Frank Gehry. Jutaan pelancong itulah dalam 4 tahun yang membawa devisa 14 trilyun rupiah ke kota industri di Spanyol ini. Kesimpulannya, arsitektur publik yang baik dan progresif, seperti halnya Esplanade di Singapura atau Sydney Opera House di Australia, mampu menyumbangkan devisa yang besar bagi ekonomi kotanya.

Di sisi lain, pemerintah seringkali tidak mampu menahan pihak-pihak swasta yang tidak bertanggung jawab untuk berinvestasi namun merusak fisik kota Bandung atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi. Rencana Babakan Siliwangi yang akan dikomersilkan, kawasan Punclut yang digerus, beberapa Factory Outlet di Dago yang merusak karakter arsitektur Art Deco dan melanggar sempadan adalah contoh-contohnya.

Karenanya jangan heran jika banyak orang-orang pintar pergi dari Bandung setelah mereka lulus. Mereka hanya menumpang lewat. Mereka tidak melihat iklim kota Bandung dan sarana kotanya cukup kondusif untuk melakukan inovasi-inovasi dan bisnis yang selayaknya. Sementara otak-otak kreatif yang tinggal dan berbisnis di Bandung hanya bisa menggerutu dan bertahan semampunya tanpa bantuan dan dukungan yang signifikan dari pemerintah,

***

Kekuatan Bandung terbesar ada pada aset kualitas manusianya. Inilah kekuatan Bandung di masa depan. Inilah tiket bersaing global. Jangan sampai ribuan orang-orang kreatif dan pintar ini selalu pergi ke Jakarta atau Singapura setelah mereka lulus sekolah di Bandung, Mereka harus diakomodasi untuk berbisnis dan berkarir di Bandung. Mereka harus distimulasi untuk mencintai kota Bandung.

Karenanya pemerintah harus berinvestasi dengan 2 cara. Pertama, investasi dalam bentuk dukungan instrumen kebijakan ekonomi yang kondusif dan jangka panjang. Instrumen ini untuk mendorong investasi ekonomi kreatif mengalir dan eksis di Bandung. Sehingga orang-orang kreatif dan pintar dari luar kota pun mau dan tertarik untuk pindah ke Bandung dengan membawa kapital, ide-ide kreatif atau inovasi-inovasi bisnisnya.

Kedua, pemerintah harus berinvestasi memperbaiki infrastruktur dan sarana kota. Memperbaiki lalu lintas, memperbanyak gedung-gedung pertunjukan atau galeri, memelihara dan mempercantik bangunan-banguan bersejarah, berinovasi dalam ruang hijau kota atau menyuntikkan seni dalam penataan kawasan kota. Ingat, kreativitas dan inovasi mudah lahir dari wadah yang inspiratif.

Persaingan dunia bukan lagi antar negara, tapi antar kota. Karena itulah strategi-strategi perencanaan kota yang inovatif sudah dilakukan oleh kota London, Glasgow, Taipei, Singapura, Bangalore, Buenos Aires dalam merespon ekonomi baru ini. Kebijakan ekonomi kreatif yang responsif dan peningkatan kualitas sarana kota, bersatu kompak bagai dua sisi dalam satu koin uang. Pemerintah kota Bandung sudah saatnya berpikir inovatif diluar norma-norma standar pengelolaan kota-kota Indonesia. Kita harus berpikir dan berinovasi seperti kota-kota dunia.

”Bandung Kota Dunia” bukanlah hanya mimpi. Kita sudah punya modal awal yaitu aliran sumber daya manusia yang kreatif dan kompetitif berkelas dunia. Modal ini harus disempurnakan dengan kualitas sarana kota yang berkelas dunia pula. Inilah reposisi dan wajah baru Bandung di era milenium. Wajah baru yang menyempurnakan era Bandung sebagai wajah pemersatu Asia Afrika tahun 1955. Jangan biarkan mimpi ini mati sebagai mimpi. Mari sama-sama bekerja keras menghadiahkan masa depan yang indah untuk generasi cucu kita.

Written by Admin

September 5, 2018 at 2:57 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with

“Picture” | A Photography Project by galih sedayu

leave a comment »

Pada mulanya citra.

Citra manusia cerminan kesayangan Sang Semesta.

Semesta yang mencipta dan meniup nafas.

Nafas kuasa Ilahi sehingga membentuk rupa.

Rupa pun memancarkan cahaya.

Cahaya kehidupan yang menghantarkan sejuta cerita.

Cerita perkenalan serta persahabatan.

Persahabatan yang dikenang dalam cuplikan potret.

Potret mengingatkan akan hubungan yang tak lekang oleh waktu.

Waktu digunakan dengan bijak agar kita semakin menghargai manusia.

Manusia yang sudah selayaknya kita tanam agar kelak panen kebahagiaan menyertai.

Menyertai perjalanan hidup senantiasa selamanya. 

***

In the beginning was an image.

Image of human that reflecting a love from Universe.

Universe who create and provide a breath.

Breath of God that become a face.

Face that emits light.

Light of life that tells a million stories.

Stories about friendship.

Friendship that is remembered in portraits.

Portraits remain a connection of time.

Time is used wisely so that we appreciate more of humans.

Humans that we should plant so that the harvest of happiness will accompany.

Accompany the journey of life always forever.

***

#117Potret #117Portraits

Thanks to Kid Rock & Sheryl Crow for the Inspiring Song, “Picture”.

DSCF6588_blog_bw

Veronica / Kampung Wologai Citizen / Ende, Flores, East Nusa Tenggara  / 30 May 2022

DSCF6290_blog_bw

Rizky Handayani / Deputy for Tourism Products and Event Organizing of the Ministry of the Tourism and Creative Aconomy / Kelimutu, Flores, NTT  / 30 May 2022

DSCF2146_blog

Johanes Fendi (Koh Asiang) / Barista at Warung Kopi Asiang / Pontianak, West Kalimantan / 22 October 2021

eko supriyanto

Eko Supriyanto / Professional Dancer and Founder at Eko Dance Company / Depok, West Java / 11 April 2021

heru mataya

Heru Mataya / Artist & Founder at Mataya Art Heritage / Depok, West Java / 11 April 2021

IMG_2865_blog

Juniar Mekarina Rizkia Putri / Founder at Irish by Eastwood / Bogor, West Java / 25 March 2021

rendra

Rendra Manaba / Founder at Kendari Kreatif / Penglipuran Village, Bali / 28 November 2020

arief budiman

M Arief Budiman / CEO at Petakumpet Creativelab / Amahusu Beach, Ambon / 8 November 2020

ira

Ira Shintia / Founder at Ecoethno Adventure / Pintu Kota Beach, Ambon / 7 November 2020

anas

Abdullah Azwar Anas / Regent of Banyuwangi & Indonesian Politician / Banyuwangi, East Java / 6 Nov 2020

DSCF9269_bw_blog_01

Arief “Ayip” Budiman [RIP] / Founder at Rumah Sanur Creative Hub / Tidore, North Maluku / 21 Dec 2019

Mair_bw

Irma Kusumaningrum / Lawyer / Orchid Forest, Lembang / 28 September 2019

syifa

Syifa Shafira / Secretary at Ruang Kolaborasa / Gateway Apartment, Bandung / 19 September 2019

shitta

Shitta Natashia Mahachakri  / Founder at Kabeuki / Bukit Bintang, Bandung / 20 November 2018

walikota ternate

Burhan Abdurahman [RIP] / Mayor of the City of Ternate / Ternate, North Maluku / 17 November 2018

jokowi

Joko Widodo / President of Indonesia / Simpul Space, Braga, Bandung / 10 November 2018

DSCF6858_bw_blog

Ma Eha / Founder at Warung Eha / Cihapit, Bandung / 9 October 2018

DSCF1457_blog

Drs. Ukus Kuswara, MM [RIP] / The Secretary of Indonesia Ministry of Tourism / Orchid Forest, Lembang / 18 July 2018

azka

Aska Okamoto / Drummer at Sleaze Party / Nagoya, Japan / 29 April 2018

DSCF4655_bw_blog

Ricky Dermawan / Founder at Minen Leather / Cigadung, Bandung / 2 April 2018

windu

Windu Widjaya / CEO at Kinarya & Director at Be Indonesia / Shirakawa-go, Japan / 3 February 2018

alief bean

Alief Bean [RIP] / CEO at Bean Event Contractor / Shirakawa-go, Japan / 3 February 2018

DSCF9836_blog

Joseph Agus Kristian / Founder at Malang Amore Carnival / Bangkok, Thailand / 18 November 2017

DSCF8185_bw_blog

Buabucha / Thai Host & News Anchor / Westin Hotel, Bangkok, Thailand / 15 November 2017

DSCF6713_blog

Ricky Pesik / Head Deputy of Indonesian Agency for Creative Economy / Makassar – Gamarra Hotel / 8 September 2017

DSCF6125_blog

Dynand Fariz [RIP] / Founder at Jember Fashion Carnival / Bandung – Diponegoro Boulevard / 26 August 2017

dscf8200_bw_blog

Teresa Irene / My Sister In Law / Bandung – Bumi Sangkuriang / November 2016

shinta

Shinta S Putri / Architect, Urban Designer, Traveller & Coffee Adict / Seger beach – Lombok / 27 August 2016

dscf6635_blog

Zaini Alif / Artist & Founder at Hong Community / Lombok – Seger Beach / 27 August 2016

DSCF4959_blog

Adi Panuntun / Video Mapping Artist & Founder at Sembilan Matahari / Cicaheum – Bandung / 7 May 2016

lia_blog

Atalia Kamil / Wife of Ridwan Kamil / Bandung – Husein Airport / April 2016

dscf3773_bw_blog

Fiki Satari / Chairman at Bandung Creative City Forum / Sidoarjo  / 30 March 2016

dscf3911_blog

Gustaff H Iskandar / Artist & Founder at Common Room / Malang / 31 March 2016

dscf3411_blog

Herman Effendy [RIP] / Stage Photographer / Bandung – Braga City Walk / 27 February 2016

dscf3414_blog

Krisna Satmoko {Chees} / Photographer / Bandung – Braga City Walk / 27 February 2016

dscf3398_blog

Utami Dewi Godjali / Artist & Photographer / Bandung – AFN Library / 26 February 2016

dscf1536_blog

Aat Soeratin / Artist & Founder at Rumah Nusantara / Bandung – Roemah Enak Enak / 14 December 2015

dscf0532_blog

Obin Ousbourne / Artist & Founder at Tatanggaranda83 / Penang – Malaysia / 29 November 2015

dscf0529_blog

Dina Dellyana / Musian, Lecturer & Co-Founder at HMGNC / Penang – Malaysia / 29 November 2015

tya-07_blog_square

Christine Listya [RIP] / My Lovely Wife / Bali – Padang Padang Beach / 2015

pochang

Hari Pochang / Musician & Photographer / Bandung – Film Park / 21 April 2015

img_7130

Paul Tedjasurja [RIP] / Photographer of Asian African Conference 1955 / Bandung – Holis – Paul’s House / 2015

wulan

Dwi Wulan Nurmarliani / Deaf Student / Bandung – Surapati Core – AFN Office  / 2015

img_6201_blog

Jaka Balloeng / Diffable Illustrator Artist / Solo  / 2014

img_0242_blog

Ridwan Kamil / Bandung City Mayor / Hamamatsu – Japan / 2014

img_5230_blog

Tegep Octaviansyah [RIP] / Founder at Tegep Boots & Comrades Motocycle / Georgetown – Malaysia / 2014

img_4387_bw_blog

Irawati Durban / Traditional Dancer & Interior Designer / Bandung – Ciumbuleuit / 2014

img_8707_bw_low

Arin Dwihartanto Sunaryo / Painting Artist / Bandung – Cigadung / 2014

img_3605_blog

Ida Arimurti / Radio Host / Jakarta – Grand Mahakam Hotel / 2013

tata_blog

Tata Soemardi [RIP] / Urban Designer / Bandung – Babakan Siliwangi World City Forest / 2013

img_5607_blog

Dwinita Larasati / Lecturer & Graphic Diary Maker / Bandung – City Hall / 2013

img_2698_bw

Cicilia Shierley Ekawati Susila / My Mom In Law / Lembang – Floating Market / 2013

kiki-02

Kiki / College Student / Bandung – Bumi Sangkuriang / 2013

mamik-bali1

Ni Ketut Asmi / My Balinesse Mother & Antique Dealer / Bali – Celuk / 2013

IMG_0025_blog

Mang Han / Guardian of Citarum River / Kampung Pulosari – Bandung / 8 July 2013

img_5624_blog

Riza Marlon / Wildlife Photographer / Bandung – AFN Library / 2012

08

Gadis Azahra / Co-Founder at Bandung Cycle Chic / Bandung – Monumen Parjuangan Rakyat Jawa Barat / 2012

img_9672_blog

Ridwannulhakim {Wandut} / College Student / Bandung – Cikapundung Timur Boulevard / 2012

bottle-smoker_bw_blog

Bottlesmoker {Angkuy & Nobie} / Bedroom Musician / Bandung – Ciwalk / 2012

irvan-noeman_bw_blog

Irvan A.Noeman [RIP] / Designer & Founder at BD+A Design / Bandung – Sensa Hotel / 2012

pidibaiq

Pidi Baiq / Artist & Writer / Bandung – Purnawarman / 2012

img_0253_blog

Ginan Koesmayadi [RIP] / Founder at Rumah Cemara & Vocalis at Jeruji / Bandung – Lapangan Bawet / 2012

wiwie_bw_blog

Vilia Indahwati / My Childhood Friend / Jakarta / 2012

michelle_bw_blog

Michelle Ewers / My Childhood Friend / Jakarta / 2012

img_2896_blog

Dorothea Komyana / My Mother / Cipanas – Prameswari Hotel / 2012

eyang1

Eyang Memet / Environmental Activist / Soreang / 2011

shohei-matsunaga

Shohei Matsunaga / Football Player / Bandung – AFN Studio / 2011

dablo2

Dablo / Mime Artist / Bandung – AFN Studio / 2011

rama-surya_blog

Rama Surya / Photographer / Bandung – Surapati Core / 2011

don-hasman

Don Hasman / Photographer / Jakarta / 2011

tisna-sanjaya

Tisna Sanjaya / Artist & Founder at Imah Budaya {IBU} Cigondewah  / Bandung – Dago / 2011

atep

Atep Rizal / Football Player / Bandung – Padjajaran Boulevard – PT Daya Adira Mustika Office / 2011

airlangga-sucipto

Airlangga Sucipto / Football Player / Bandung – Padjajaran Boulecard – PT Daya Adira Mustika Office / 2011

nurul2

Nurulita / Fashion Photographer / Bandung / 2010

wawan-s

Wawan Sofwan / Actor / Bandung – Sasana Budaya Ganesha Roof Top / 2010

dsc_9077_bw_blog

Iwan Zein / Radio Host / Bandung – Taman Pramuka / 2010

ariani

Ariani Darmawan / Founder at Kineruku / Bandung – Hegarmanah Boulevard  / 2010

wawan-juanda

Wawan Juanda [RIP] / Founder at Republic of Entertainment / Bandung – Gedung Sate / 2010

ivana

Ivana Stojakovic / Artist / Bandung – Dago Tea House / 2010

dada-rosada1

Dada Rosada / Bandung Mayor [2003-2013] / Bandung – Pusdai / 2009

remi-silado

Remy Sylado / Author, Actor & Musician / Bandung – YPK Building / 2009

arman-jamparing

Arman Jamparing / Artist / Bandung – Dago Boulevard / 2009

vitha

Vitha / Vocalist & Musician / Bandung – Vila Isola / 2009

kris-takarbessy

Kris Takarbessy [RIP] / My Best Friend / Vocalist & Guitar Player at Cozy Street Corner / Bandung – Tahura Forest / 2009

sariban

Sariban / Environmental Activist / Bandung – Gasibu / 2009

sunu

Sunu / Pointilism Artist / Bandung – Gatot Subroto Boulevard / 2009

darso

Darso [RIP] / Artist & Musician / Bandung – Pusdai / 2009

ingriyanti

Ingriyanti [Tante Ing] / Founder at Jonas Photo / Bandung – Jonas Photo / 2009

dodi1

Dodi Suryanata Sukmana [RIP] / Photographer & Make Up Artist / Bandung / 2009

sonny-soeng

Sonny Soeng / Co-Founder at Toko You / Bandung – Toko You / 2009

anggie4

Anggie / Model / Bandung – Arjuna Hotel / 2009

rosid

Rosid / Artist / Bandung – Cigadung / 2009

agus1

Agus / Street Homeless / Bandung  / 2009

wiwit-setyoko1

Wiwit Setyoko / Photographer / Bandung  / 2009

mukti-mukti1

Mukti Mukti / Musician / Bandung – YPK Building / 2009

dewi

Dewi / Model / Bandung / 2008

marius-mamora

Marius Mamora / Visual Artist & Spiritual Consultant / Bandung – Taman Pramuka / 2008

audy2

Audy / Musian / Bandung – Cigadung / 2008

deni-vw

Denny F Kusumah / Founder at VW 100% / Bandung – Taman Pramuka Boulevard – AFN Office / 2008

oscar

Oscar Motuloh / Photo Journalist & Curator / Bandung – Cloud 9 Cafe / 2008

p1120671

Dudi Sugandi / Photographer / Jakarta – GFJA / 2008

marius-widiarto1

Marius Widiarto [Mas Wied] / Founder at C59 / Bandung – Riau Boulevard / 2008

Setiady Tanzil_blog

Setiady Tanzil [RIP] / Photographer / Bandung  / 27 April 2008

sudarsono-katam1

Sudarsono Katam / Writer / Bandung / 2008

bambang-sugiharto

Bambang Sugiharto / Philosopher & Lecturer / Bandung – Nias Boulevard / 2008

jusuf-kala1

Jusuf Kala / Vice President of Indonesia / Jakarta / 2008

faces (29)_blog

Toyip / Amateur Photographer / Bandung / 20 September 2007

my-grand-ma

Iyum Mariyum [RIP] / My Grand Mother / Cipanas – Home / 2007

istiono1

Istiono / Chief Police Officer / Pangalengan / 2004

kayat

Agustinus Michael Kayat / My Father / Cipanas – Home / 2004

laluna

Manik Prajana / Vocalist at Laluna Band / Bandung – Pasang Boulevard – AFN Studio / 2004

gus-dur

Abdurrahman Wahid / Gus Dur [RIP] / Indonesian President / Jakarta / 2004

fennica-02

Fennica Tresna / Model / Bandung – Mangga Boulevard – Papyrus Photo / 2003

sarah-01

Sarah Scott Ochsner / Model / Bandung – Braga / 2003

dira-sugandi

Dira Sugandi / Jazz Singer / Bandung – Progo Boulevard / 2002

tina

Tina Yekti Lestari / High School Student / Bandung – Mangga Boulevard – Papyrus Photo / 2002

marissa

Marissa / Model & College Student / Bandung – Progo Boulevard / 2001

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Jembatan Baru Antara Bandung dan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia

leave a comment »

Sebuah catatan kecil dari acara jorowok bdg (ngobrol santai “ekonomi kreatif sebagai daya kompetitif kota-kota dunia” bersama triawan munaf dan ridwan kamil) di simpul space BCCF

Teks oleh galih sedayu | Foto oleh Sandhana Andrio & Dudi Sugandi

Simpul Space, sebuah ruang jejaring komunitas yang dikelola oleh Bandung Creative City Forum (BCCF), kala itu terlihat ramai dan penuh sesak dipenuhi berbagai komunitas yang hadir dalam acara Jorowok Bdg. Tepatnya pada hari sabtu tanggal 21 Februari 2015, ratusan individu terlihat menyeruak hingga memadati Simpul Space BCCF sejak pukul satu siang. Acara rutin Jorowok Bdg yang diinisiasi oleh BCCF tersebut kali ini memang berbeda, dimana narasumber yang diundang adalah Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Triawan Munaf dan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil. Adapun topik yang dibahas dalam acara ngobrol santai saat itu adalah “Ekonomi Kreatif Sebagai Daya Kompetitif Kota-Kota Dunia”.

Acara akhirnya baru dimulai sekitar pukul setengah empat sore. Selain Triawan Munaf & Ridwan Kamil, terlihat beberapa tokoh kota bandung seperti Ipong Witono, Aat Soeratin, Hari Pochang, Irvan Noeman dan Taufik Hidayat Udjo turut meramaikan acara tersebut. Sebelum acara dimulai, seperti biasa lagu wajib Indonesia Raya berkumandang yang dinyanyikan oleh semua orang yang berada di sana. Setelah itu suguhan apik dari Saung Angklung Udjo berupa “Grand Angklung” dimainkan oleh Wildan, seorang pemain angklung pria sembari berduet harmonis dengan Eya Grimonia, seorang pemain biola wanita. Kemudian persembahan kedua dilanjut berupa penampilan kabaret dengan tema “World of Culture” dari siswa siswi SMA 11 yang tergabung di komunitas Forum Kabaret Bandung. Lalu setelah itu, video profil motion graphic tentang program BCCF pun ditampilkan di hadapan para pengunjung. Dan sesudahnya, wakil ketua BCCF sekaligus direktur Helarfest, Tegep Octaviansyah atau yang lebih beken disebut Tegep Boots menyampaikan paparannya mengenai rangkaian festival kota demi memeriahkan 60 tahun perayaan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada bulan april 2015 nanti.

Setelah semua seremoni selesai, acara utama Jorowok Bdg pun dimulai yang dimoderatori oleh direktur program BCCF, galih sedayu. Pada kesempatan pertama, Triawan Munaf memaparkan cerita perihal pembentukan Badan Ekonomi Kreatif. Triawan mengatakan bahwa ia dipilih langsung oleh “Rembug Kreatif”, sebuah kelompok yang terdiri dari para pelaku dan jejaring industri kreatif di Indonesia. Bila melihat riwayat hidupnya, Triawan Munaf lahir di kota Bandung pada tanggal 28 November 1958 yang silam. Di awal karirnya, ia sempat tergabung dengan sebuah band asal Bandung yang bernama “Giant Step”. Setelah itu ia mulai berkarir secara profesional di dunia periklanan. Triawan Munaf sendiri dilantik oleh Presiden Jokowi pada tanggal 26 Januari 2015 berdasarkan Keputusan Presiden No. 9/P Tahun 2015.

Dalam presentasinya, Triawan Munaf menyebutkan bahwa visi dari Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia adalah “INDONESIA menjadi salah satu kekuatan utama dunia dalam Ekonomi Kreatif di tahun 2030”. Triawan juga menyebutkan bahwa misi dari Badan Ekonomi Kreatif ini yaitu 1) Menyatukan seluruh aset dan potensi kreatif Indonesia untuk mencapai ekonomi kreatif yang mandiri ; 2) Menciptakan iklim yang konduksif bagi pengembangan industri kreatif ; 3) Mendorong inovasi di bidang kreatif yang memiliki nilai tambah dan daya saing di dunia internasional ; 4) Membuka wawasan dan apresiasi masyarakat terhadap segala aspek yang berhubungan dengan ekonomi kreatif ; 5) Membangun kesadaran dan apresiasi terhadap hak kekayaan intelektual, termasuk perlindungan hukum terhadap hak cipta ; 6) Merancang dan melaksanakan strategi yang spesifik untuk menempatkan Indonesia dalam peta ekonomi kreatif dunia.

Badan Ekonomi Kreatif ini sendiri bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Dimana Kepala Badan Ekonomi Kreatif ini membawahi Wakil Kepala, Sekretaris, dan beberapa Deputi yang terdiri dari Deputi Riset, Edukasi & Pengembangan ; Deputi Akses Permodalan ; Deputi Infrastruktur ; Deputi Pemasaran & Internasional ; Deputi HKI & Penegakan Hukum Karya Indonesia ; serta Deputi Hubungan Antar Lembaga & Wilayah. Kemudian para Deputi ini membawahi sebuah Team (War Room) yakni perwakilan dari 11 group sub sektor yang terdiri dari 33 s/d 55 orang. Agar program yang dijalankan oleh Badan Ekonomi Kreatif ini lebih fokus dan terarah, maka dari 16 sub sektor industri kreatif yang ada di Indonesia, akan diprioritaskan terlebih dahulu kepada sub sektor industri yang termasuk ke dalam program “Inisiatif Strategis” yaitu Film, Aplikasi Digital, Musik (FAM) serta sub sektor industri kuliner dengan jargonnya Rasa Indonesia Mendunia dan craft (kerajinan tangan) dengan jargonnya Kriya Indonesia Mendunia. Sedangkan untuk program “Infrastruktur”, akan lebih difokuskan kepada Pusat Data & Aset ; Pusat Logistik ; Pilot Project “Kota Kreatif” ; Sosialisasi Lembaga Manajemen Kolektif ; Pusat Pertunjukkan ; serta Pusat Permodalan Ekonomi Kreatif. Kemudian untuk program “Event”, yang menjadi prioritas adalah event Asian Games 2018 dan World Craft Festival. Ada berita baik yang disampaikan oleh Triawan Munaf pada acara Jorowok Bdg. Ia mengatakan bahwa saat ini yang namanya ide atau gagasan kreatif dapat dijadikan agunan untuk memperoleh modal. Meski demikian mekanismenya masih belum disusun secara tuntas. Dalam kesempatan tersebut, Triawan Munaf mengatakan bahwa Badan Ekonomi Kreatif sangat memerlukan kolaborasi Bandung beserta komunitasnya untuk menjalankan program-programnya terutama di program Pilot Project “Kota Kreatif”.

Sementara dalam acara Jorowok Bdg tersebut, Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil memaparkan perihal “Managing Bandung” yang dijabarkan melalui 3 hal utama yakni Innovation, Decentralisation dan Collaboration. Ia mengatakan bahwa Bandung berencana membangun “Creative Centre” dan “Innovative Centre” demi mendukung pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Dalam hal ini, rencana tersebut terpacu kepada Thailand Creative & Design Centre (TCDC) yang sudah ada di negara Thailand. Meski Thailand sudah selangkah lebih maju dari Indonesia, namun Ridwan Kamil mengatakan bahwa “kita tidak perlu kuatir, tapi kita harus mampu mengejar Thailand di pengkolan”, begitu ucapnya sambil bercanda. Creative Centre ini merupakan sebuah gedung bertingkat yang terdiri dari berbagai ruang yang diperuntukkan bagi komunitas, perpustakaan, kelas, toko yang menjual produk kreatif bandung, cafe, dan lain sebagainya. “Ground Breaking” gedung yang terletak di Jalan Laswi (sebelah rumah makan bumbu desa) ini rencananya akan dilakukan pada bulan April 2015 nanti. Karenanya ia berharap agar Presiden Jokowi dapat hadir untuk melihat salah satu contoh pembangunan Creative Centre yang baru pertama kali ada di Indonesia. Setelah pembangunan Creative Centre selesai, ia akan melanjutkan pembangunan Innovative Centre, yang berfungsi sebagai workshop atau laboratorium bagi para pelaku industri kreatif di kota bandung.

Selain itu Ridwan Kamil memperlihatkan slide perihal rencana pembangunan kawasan Bandung Technopolis di daerah Gedebage, yang akan menjadi sebuah kota baru di masa mendatang. Ia pun menyebutkan bahwa rencana yang telah dibuat olehnya bukanlah sebuah “mimpi” melainkan “visi”. Ia mengatakan perbedaan antara mimpi dan visi adalah bahwa mimpi itu masih sebatas angan-angan atau keinginan saja sedangkan visi adalah mimpi yang dipersiapkan dan dijalankan. Oleh karenanya ia pun sempat berujar bahwa batas kreativitas adalah imajinasi. Imajinasi inilah yang diharapkan dapat menjadi bahan bakar bagi perkembangan industri kreatif. Di akhir presentasinya, Ridwan Kamil mengatakan bahwa Bandung sangat siap dan terbuka untuk berkolaborasi dengan Badan Ekonomi Kreatif untuk membantu mewujudkan cita-cita demi mengembangkan ekonomi kreatif Indonesia.

Melihat hal ini semua, sudah semestinya kita patut memberikan kepercayaan penuh kepada Badan Ekonomi Kreatif yang saat ini dipimpin oleh Triawan Munaf, untuk menjalankan program-programnya ke depan. Setelah Trust ini terbentuk, hendaknya lah “kolaborasi” bahkan “kolaborasa” dapat terjalin agar ekonomi kreatif di Indonesia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Connection, Collaboration, Commerce. Kira-kira begitulah kata kunci untuk meraih cita-cita mulia ekonomi kreatif Indonesia. Akhir kata, tangan & hati Bandung selalu terbuka untuk membuktikan mimpi yang kini menjadi visi tersebut, sehingga karya dan jejak terbaik akan selalu dapat ditorehkan dengan manis ke dalam peradaban ekonomi kreatif Indonesia.

@galihsedayu | Bandung, 21 Februari 2015

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

Copyright (c) 2015 by bccf
All right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from writer & photographer.

Fiat Lux, Ridwan Kamil

with 7 comments

Teks & Foto : galih sedayu

Kiranya selalu memberikan telinga 
Kiranya selalu menjaga mulut
Kiranya selalu membukakan mata 
Kiranya selalu melangkahkan kaki 
Kiranya selalu mengulurkan tangan 
Kiranya selalu mendinginkan kepala 
Kiranya selalu membangkitkan badan
Kiranya selalu menenangkan hati 
Kiranya selalu menguatkan jiwa
Kiranya selalu menuntun jalan 
Kiranya selalu menempatkan kebenaran
Kiranya selalu menghadirkan damai
Kiranya selalu mencerminkan sederhana
Kiranya selalu menyembuhkan luka
Kiranya selalu menguduskan keadilan
Kiranya selalu memuliakan rakyat
Kiranya selalu mengutus persaudaraan
Kiranya selalu mengindahkan aturan
Kiranya selalu menyalipkan godaan
Kiranya selalu menjerat kezaliman 
Kiranya selalu mempermandikan noda
Kiranya selalu menyanyikan pujian
Kiranya selalu menyempurnakan perbuatan
Kiranya selalu meraih pengetahuan 
Kiranya selalu merajut asa
Kiranya selalu menjalin mimpi
Kiranya selalu mengucap syukur
Kiranya selalu membuang dengki 
Kiranya selalu menghapus dosa
Kiranya selalu mengerti perbedaan 
Kiranya selalu menumbuhkan semangat
Kiranya selalu menghamilkan perubahan
Kiranya selalu melahirkan kebaikan
Kiranya selalu menyediakan waktu 
Kiranya selalu menambatkan cinta
Kiranya selalu membagikan ilmu 
Kiranya selalu menggandeng sahabat
Kiranya selalu menggetarkan musuh
Kiranya selalu melompati tantangan 
Kiranya selalu mengepakkan sayap
Kiranya selalu menghakimi kejahatan
Kiranya selalu meniadakan dusta 
Kiranya selalu menabur benih 
Kiranya selalu menanam manusia
Kiranya selalu membebaskan kemiskinan
Kiranya selalu mengendapkan sepi 
Kiranya selalu menggembalakan keberagaman
Kiranya selalu mentahbiskan tindakan 
Kiranya selalu mengalirkan kekuatan 
Kiranya selalu menjurukan keselamatan
Kiranya selalu mewartakan harapan 
Kiranya selalu mengikuti cahaya
Kiranya selalu menerangi kota…

Bandung, 16 September 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

September 17, 2013 at 6:28 pm

Sang Terpilih Untuk Bandung | Buku Foto “Menuju Bandung Juara”

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Pada mulanya Bandung. Sebuah kota tercinta kelahiran Ridwan Kamil sekaligus kota yang menginspirasi bagi seorang pria sederhana yang kini namanya tercatat dalam noktah sejarah kota Bandung. Dimana warga Bandung dengan suara yang bulat, akhirnya memilih Ridwan Kamil sebagai pemimpin yang akan mengemudikan sebuah kapal layar bernama Bandung menuju pulau harapan untuk periode 2013-2018.

Dalam Rapat Pleno KPU kota Bandung pada tanggal 28 Juni 2013, Ridwan Kamil beserta pasangannya Oded Muhammad Danial ditetapkan menjadi pemenang dan unggul mutlak dari tujuh kandidat lainnya dengan meraih 45,24 % suara dalam Pemilihan Umum Wali Kota Bandung 2013. Hasil ini memang sudah diprediksi sebelumnya, karena pada tanggal 23 Juni 2013 melalui versi hitung cepat (quick count) dengan mengambil sampel dari 270 TPS, Pasangan Ridwan Kamil & Oded Muhammad Danial (RIDO) sudah jauh memimpin meninggalkan para lawannya.

Dan barangkali alam pun seperti ikut mentahbiskan keputusan tersebut bersamaan dengan datangnya fenomena “Super Moon” (Lunar Perigee) di kota Bandung, sebuah peristiwa alam yang terjadi ketika bulan berada pada titik di orbit yang terdekat dengan bumi.

Ridwan Kamil lahir dari pasangan Dr. Atje Misbach SH (alm.) dan Dra. Tjutju Sukaesih tepatnya pada tanggal 4 Oktober 1971 di kota Bandung. Pendidikan dasar hingga kuliah pun ditempuhnya di kota Bandung yang penuh dengan kejutan ini. TK Aisyiah di Jalan Dago Barat Bandung, SD Banjarsari III di Jalan Merdeka Bandung, SMPN 2 di Jalan Sumatera Bandung, SMA 3 di Jalan Belitung Bandung dan Institut Teknologi Bandung (ITB) di Jalan Ganesha Bandung, menjadi ruang-ruang tempat ia menuntut ilmu. Setelah itu Ridwan Kamil pun meninggalkan kota Bandung untuk melanjutkan kuliah S2 dalam bidang tata kota di University of California, Amerika Serikat dan kemudian bekerja di sebuah firma arsitektur di negara Paman Sam tersebut.

Namun pada akhirnya sebuah nasihat dari Sang Ibu lah yang membawanya pulang kembali ke pangkuan kota Bandung. “Ari neangan duit mah engke aya gantina, ari minterkeun batur moal terukur nilaina” (kalau mencari uang itu nanti bisa ada gantinya, tapi kalau membuat pintar orang lain tidak akan terukur nilainya), begitu kira-kira petuah yang disampaikan dengan penuh kasih oleh ibunda Ridwan Kamil.

Akhirnya Ridwan Kamil pun meneruskan profesinya sebagai dosen, arsitek dan aktivis sosial di kota Bandung. Di Bandung pula Ridwan Kamil turut mendirikan sebuah firma arsitektur yang bernama Urbane (Urban Revolution). Dari sanalah buah karya Ridwan Kamil sebagai arsitek mulai menebarkan keharuman bagi Bandung karna banyak mendapatkan penghargaan dari dunia.

Beserta istri tercinta, Atalia Praratya dan ditemani oleh kedua buah hatinya Laetetia dan Emmiril, Ridwan Kamil tinggal di sebuah rumah unik hasil rancangannya sendiri yang disebut “Rumah Botol”. Ventilasi rumah ini terbuat dari tiga puluh ribu botol Kratingdaeng. Ridwan Kamil ingin membuktikan bahwa limbah pun bisa disulap menjadi sebuah karya kreatif. Rumah Botol tersebut berada di Cigadung tidak jauh dari rumah ibunya. Karena Ridwan Kamil ingin agar ia selalu bisa tetap dekat dan berbakti pada ibunya sampai akhir hayatnya.

Sebagai wujud rasa cintanya untuk kota Bandung, Ridwan Kamil bersama sahabat komunitas yang mengedepankan prinsip kolaborasi, turut berperan aktif mendirikan berbagai gerakan dan komunitas sosial di masyarakat seperti Bandung Creative City Forum (BCCF), Indonesia Berkebun, Bike Sharing, Bandung Citizen Journal, One Village One Playground, dan sebagainya.

Untuk itulah Ridwan Kamil bersama para Relawan Kota Bandung mempersembahkan buku fotografi yang bertajuk MENUJU BANDUNG JUARA. Sebuah catatan visual & potret perjuangan Ridwan Kamil tatkala ia melakukan kampanye tiga bulan lamanya demi Bandung. Fotografer Dudi Sugandi & Satya Andhika (Aboenk) dengan seksama mengabadikan cerita dan himpunan adegan perihal energi Ridwan Kamil beserta para Relawannya hingga menjadi sebuah rangkaian cuplikan beku yang dituangkan ke dalam buku visual ini. Di sini fotografi menjadi sebuah fakta dan pernyataan bahwasanya keberhasilan Ridwan Kamil menjadi pemimpin kota Bandung bukanlah karena sebuah kebetulan ataupun melalui proses yang instan. Melainkan karena semangat & kebersamaan yang dihadirkan di sana.

Selangkah demi selangkah, mimpi Ridwan Kamil untuk mengangkat derajat kota Bandung pun direstui oleh Sang Pencipta. Berkat dukungan warga Bandung, doa kedua orang tua dan budi baik para sahabatnya, kini Ridwan Kamil harus menjalani takdir sebagai pemimpin kota Bandung. Namun takdir ini akan ia jalankan dengan sepenuh hati karena Ridwan Kamil percaya bahwa nasib kota Bandung bisa kita ubah bersama. Mari kita persiapkan jalan bagi Ridwan Kamil agar ia bisa meniupkan angin perubahan bagi kota Bandung. Tentunya dengan balutan kolaborasi semua warga Bandung. Hingga akhirnya Indonesia dan dunia akan berseru dengan lantang, BANDUNG JUARA!!! Pada akhirnya Bandung.

* Tulisan ini diberikan sebagai pengantar kurator dalam Buku Foto “Menuju Bandung Juara” yang diterbitkan pada saat Ridwan Kamil dilantik menjadi Wali Kota Bandung pada tanggal 16 September 2013.

Bandung, 7 September 2013

Spesifikasi Buku :
* Judul Buku : Ridwan Kamil “Menuju Bandung Juara”
* Fotografer : Dudi Sugandi & Satya Andhika (Aboenk)
* Kurator : galih sedayu
* Penerbit : air foto network (2013)
* Tebal : 154 Halaman
* ISBN : 978-602-14-4080-3

>> Buku Fotografi ini bisa didapatkan di kantor air foto network, Komplek Surapati Core Blok M32, Bandung. Para sahabat bisa menghubungi kami di nomor 022-20529070 atau kirim datanya via email berupa nama lengkap, alamat dan telepon ke airfotonetwork@gmail.com. Harga bukunya Rp 150.000,- (belum termasuk ongkos kirim).

Ridwan Kamil

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2013 air foto network
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographers.