Posts Tagged ‘galih sedayu’
Kuasa Fotografi Atas Peradaban Di Bumi
Teks : galih sedayu
Tatkala fotografi diperkenalkan kepada manusia sejak tahun 1839 silam, sejak saat itulah bumi ini mulai terabadikan ke dalam bingkai-bingkai visual yang mengisi peradaban. Jutaan imaji foto yang tak henti-hentinya direkam hingga kini pun telah menjadi sejarah yang tertulis pada dinding-dinding peristiwa di jagat raya. Dari mulai momen kehidupan yang penuh misteri sampai pada momen kematian yang telah menjadi takdir. Agaknya fotografi telah menjadi sebuah cermin bagi manusia untuk melihat dunia yang terus berputar cepat.
Di Indonesia, kuasa fotografi dapat terlihat lewat tangan dua sekawan fotografer inggris yang bernama Walter Woodbury dan James Page yang menapakan kakinya ke tanah air pada tahun 1857 . Karena atas jasa merekalah, sejarah pendokumentasian di Indonesia mulai ditorehkan sehingga menjadi arsip visual yang begitu berharga bagi memori negeri ini. Begitu juga nama Mendur bersaudara, Abdul Wahab dan kawan-kawan, tidak bisa dilepaskan dari eksistensi bangsa ini terutama dalam pendokumentasian momen-momen bersejarah pada saat proklamasi kemerdekaan indonesia (17 agustus 1945).
Di negara lain, kuasa fotografi muncul salah satunya pada karya fotografer perang asal inggris Don McCullin yaitu “Corpse of North Vietnamese Soldier” (1968). Foto ini menggambarkan seorang tentara vietnam yang gugur dimana benda-benda pribadi miliknya seperti foto keluarga, surat dan butiran peluru turut mendampingi dengan sepi di samping tubuh yang terbujur kaku. Sebuah potret dari sepenggal episode perang yang tak pernah ada pemenangnya. Lain halnya dengan fotografer Lynn Johnson yang mencoba menyuarakan keprihatiannya kepada dunia melalui fotografi. Fotonya mengisahkan cerita seorang anak kecil yang tengah menderita akibat kekurangan gizi dengan harapan ada yang tergugah untuk membantunya. Tapi nasib tragis justru menimpa anak kecil yang malang tersebut. Beberapa saat setelah foto tersebut diterbitkan dalam sebuah majalah, anak kecil itu pun kemudian meninggal.
Pada akhirnya kita harus menyadari bahwa betapa fotografi dapat menjadi sebuah media untuk menyampaikan pesan, memberi inpirasi, melahirkan harapan dan pada akhirnya mampu melakukan perubahan terhadap segala permasalahan yang menimpa dunia. Meski semuanya itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kita dapat memulainya dengan sebuah kesadaran kecil. Bagaimana dengan kelebihan fotografi kita dapat mulai melihat, merekam, menyimpan dan membagikan kepada yang lain segala apa yang terjadi dalam hidup. Selama pikiran kita tetap merdeka, selama hati kita tetap mendengar dan selama mata kita tetap terbuka, sesungguhnya fotografi senantiasa hadir menyertai anak manusia yang berdiri di atas panji-panji kebenaran. Tentunya demi secercah kehidupan yang lebih baik bagi umat yang mendiami tata surya ini.
*Tulisan ini diberikan sebagai pengantar kepada para peserta seminar fotografi dan pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada tanggal 17 April 2009.
Bandung, 10 April 2009
Sepak Terjang Fotografi Mewarnai Dunia
Teks : galih sedayu
Fotografi yang disuguhkan kepada planet bumi ini sejak 170 tahun yang silam (tepatnya pada tahun 1839), menjadi sesuatu yang berharga bak berlian murni yang tak ternilai harganya. Terutama bagi setiap episode yang berlangsung dalam hidup sehingga terukir dalam sejarah manusia yang panjang. Sejak itulah fotografi semakin menjamur terutama saat era digital ini. Banyak hal yang dapat diberikan melalui fotografi. Bahkan diantaranya mampu merubah dunia.
Creating History. Melalui media fotografi, segala kejadian di bumi yang direkam oleh manusia mau tidak mau menjadi benang sejarah yang merajut peradaban. Foto karya Muhammad Sadiq “The Holy City” yaitu foto Kaabah di Mekah yang dibuat pada tahun 1880 disinyalir merupakan foto Kaabah pertama di dunia. Foto ini walau bagaimanapun menjadi artefak sejarah saat ini.
Telling the Messages. Secara disadari atau tidak, kita dapat menyampaikan sebuah pesan melalui media fotografi kepada masyarakat dunia yang melihat karya kita. Sebagai contoh karya fotografer Gerd Ludwig yang menggambarkan 8 orang anak kecil yang tengah berdiri sejajar dengan cacat tangan yang mereka miliki (1993). Foto ini dapat menyampaikan sebuah pesan akibat yang ditimbulkan dari pencemaran pabrik dan industri yang ada di kota Moscow.
Inspiring Good. Sebuah karya foto dapat menjadi pemicu kreativitas kita untuk kemudian menghasilkan sebuah karya baru. Meski karya baru itu tidak melulu harus karya foto lagi. Misalnya foto karya Robert Capa yang menggambarkan pendaratan tentara amerika di pantai normandia. Foto itu menginspirasi seorang sutradara kenamaan Steven Spielberg untuk membuat sebuah film “Saving Private Ryan”.
Selain itu pula kita bisa membuat sebuah aktivitas kreatif (Making Creative Activities) melalui fotografi. Penyelenggaraan Pameran Foto, Kompetisi Foto dan Seminar Foto merupakan bentuk-bentuk aktivitas kreatif dalam fotografi.
Melalui kegiatan-kegiatan kreatif itulah, kemudian kita dapat menjaring sejumlah komunitas. Dalam hal ini fotografi dapat berperan untuk membangun sebuah komunitas (Building Community). Sebagai catatan, di Kota bandung ini banyak terdapat komunitas fotografi yang sangat beragam. Diantaranya adalah Komunitas Kamera Lubang Jarum, Komunitas Kamera Lomografi, Komunitas Fotografi Infrared, Komunitas Foto Salon, Komunitas Foto Jurnalistik, Komunitas Foto Makro, Komunitas Foto Fine Art, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, marilah kita menciptakan gerakan aktivitas kreatif untuk turut mewarnai dunia melalui cara apapun juga. Dan fotografi senantiasa hadir menemani kita untuk menciptakan keajaiban-keajaiban.
*Tulisan ini diberikan kepada para peserta seminar fotografi & cyber public relation yang diadakan oleh Perhumas Jawa Barat di Cafe Prefere Jl Dago no 72 pada tanggal 4 April 2009.
Bandung, 27 Maret 2009
Pencarian Tak Berujung Demi Kelangsungan Peradaban Cahaya
Teks : galih sedayu
Kita tidak akan mempunyai cahaya tanpa ada kegelapan melekat di dalamnya
-Arlo Guthrie-
Tahunnya 1839, saat fotografi dipersembahkan ke dunia berkat penemuan seorang Louis Jacques-Mande Daguerre (1767-1851). Sejak itu dimulailah sebuah peradaban cahaya yang memiliki jutaan umat di muka bumi ini. Bangsa ini sangat beruntung karena 2 tahun setelah penemuan fotografi yang fenomenal tersebut (1841), kita dapat turut merasakannya lewat fotografer Jurian Munich yang membawanya ke Batavia kala itu. Hingga kini yang telah memasuki era digital, fotografi menjadi sebuah candu yang semakin banyak diminati terutama oleh kaum muda.
Daya magnet fotografi itulah yang menghipnotis sekelompok muda pecinta cahaya asal Universitas Islam Bandung (Unisba) yang menamakan dirinya “Jendela Edukasi Pemotret (Jepret)”, untuk menghelar sebuah kegiatan dalam bentuk Pameran Foto yang bertajuk “Jalan Cahaya”. Tajuk ini mereka ambil sebagai sebuah perayaan untuk mengingat kembali esensi cahaya dari disiplin fotografi. Lebih jauh lagi sesungguhnya mereka berusaha mengungkapkan rasa sukurnya kepada Sang Pencipta yang memegang kendali terhadap kuasa cahaya itu sendiri. Melalui Pameran Foto ini pula mereka berkontemplasi terhadap keberadaan cahaya yang hidup. Bagaimana mereka mendefinisikan cahaya melalui mata hatinya. Bagaimana mereka mengeksplorasi skill dan wawasan sesuai dengan ketertarikan visual yang mereka miliki. Juga bagaimana mereka bertanggung-jawab terhadap imaji-imaji yang mereka rekam. Ada sekitar 50 buah karya foto yang dipamerkan oleh mereka dan tentunya ikut memberikan kontribusi terhadap perkembangan fotografi khususnya di kalangan masyarakat pendidikan. Meski karya-karya foto yang dihasilkan oleh mereka belum sepenuhnya utuh tetapi harapannya adalah agar mereka dapat selalu belajar untuk membuat jejak sehingga langkah mereka tidak berhenti di sini saja.
Pada dasarnya fotografi yang tidak bisa lepas dari peran cahaya itu adalah sebuah cara melihat. Freeman Paterson dalam bukunya yang berjudul “Photography and the Art of Seeing”, mengungkapkan bahwa ‘melihat’ sesuatu (dalam konteks merekam gambar) berarti menggunakan rasa, intelektualitas dan emosi yang kita punya. Kita bisa memulainya dengan sebuah pengamatan yang cermat terhadap apa yang terjadi di sekitar kita. Bagaimana kita dapat mengelola cahaya-cahaya dalam bentuk benda maupun peristiwa untuk kemudian diabadikan oleh optis kamera. Oleh karena itu, gambar yang baik, foto yang baik tidak melulu dihasilkan dari sebuah perjalanan yang ribuan mil jauhnya dari rumah. Selama cahaya tetap menemani manusia, fotografi akan selalu menjadi saksi cahaya. Karenanya tetaplah merekam agar penggalan-penggalan visual yang selalu bergerak dalam drama kehidupan ini menjadi beku dan tercatat dalam sejarah peradaban cahaya. Selalu dan selamanya.
*Tulisan ini diberikan sebagai kata pengantar pada Pameran Foto “Jalan Cahaya” karya teman-teman JEPRET Universitas Islam Bandung yang berlangsung pada tanggal 30 maret s/d 5 april 2009 di Galeri Kita Jl RE Martadinata No 209 Bandung.
Bandung, 13 Maret 2009
Kegelisahan Visual VS Tembok Pembatas
Teks : galih sedayu
As the fascination that photographs exercise is a reminder of death, it is also an invitation to sentimentality
-Susan Sontag-
Sejak fotografi ditabiskan dan mewarnai dunia pada tahun 1839 berkat penemuan dua sekawan Joseph Nicephore Niepce (1765-1833) dan Louis Jacques-Mande Daguerre (1767-1851), berjuta imaji dalam hidup pun terus direkam tanpa henti oleh anak manusia yang mengatasnamakan dirinya pengikut cahaya. Foto-foto mereka tercatat dan menjadi jejak visual pada dinding sejarah peradaban fotografi dunia. Dari mulai karya fotografi solarisasi nya seorang Man Ray, karya fotogram nya seorang Laszlo Moholy-Nagy, karya studi multiple-exposure nya seorang Bragaglia, karya foto montase nya John Heartfield dan Alexander Rodchenko atau karya desicive moment nya Henri Cartier-Bresson. Semua aliran foto yang diusung oleh mereka menjadikan fotografi sebuah artefak visual yang utuh dan abadi adanya.Fotografi dapat menjadi media curahan hati yang sangat personal ketika apa yang dipikirkan ataupun apa yang dialami oleh seorang pemotret menyentuh kegelisahan yang hadir dalam relung sanubarinya masing-masing. Ketika rasa ini ada, fotografi tidak lagi berkompromi dengan hal-hal teknis semata. Tidak ada dogma yang mengharuskan bahwa komposisi foto yang baik itu adalah the rule of third, sudut gambar yang indah itu harus birds eye view, moment yang baik itu harus freeze atau tidak boleh shaking dan lain sebagainya. Di sini fotografi hanya menjadi sebuah medium perantara. Sama seperti yang dikatakan oleh fotografer Andre Kertesz bahwa kamera itu hanya sebuah alat dan melalui alat itu seorang fotografer memberikan makna dan alasan mengenai segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya. Pada saat itulah esensi mengenai isi, makna dan pesan pada sebuah karya foto menjadi hal yang utama untuk diperbincangkan.Adalah sekelompok anak muda yang tengah mengemban ilmu di Universitas Padjajaran Bandung Jalan Dago Pojok dan menamakan diri mereka Brigadepoto #, yang mencoba menyuarakan kegelisahan imajinasi dan curahan hatinya melalui sebuah Pameran Foto. “Just Kick The Wall”. Begitulah tajuk pameran foto yang dipersembahkan oleh mereka untuk kita. Berawal dari sebuah keinginan yang kuat untuk dapat menorehkan sesuatu melalui fotografi dengan melawan segala keterbatasan yang mereka miliki, Pameran Foto ini pun dimulai. Tujuh pendekar fotografi muda yang bernama Cholidzain, Doly Harahap, Erwin, Irwan, Ojik , Ricky ‘Emon’, Sandi ‘Usenk’ dan Thatha yang berkolaborasi dalam Pameran Foto ini, seolah-olah bertarung dengan dirinya masing-masing lewat karya-karya foto mereka.Cholidzain dengan karya fotonya yang berjudul “Apa Kabar Pocong?”, mencoba mendeskripsikan pocong yang tengah diwawancara oleh sejumlah media bak seorang selebritis. Sebuah parodi agaknya langsung terlintas ketika kita melihat foto tersebut. Sesungguhnya Cholidzain mencoba mengungkapkan persepsinya tentang film-film indonesia yang kerap sekali menyuguhkan film horor dengan tokoh pocongnya, tanpa ada sebuah edukasi yang berarti bagi masyarakat yang menontonnya. Selain tentunya mereka hanya sekedar mencoba menakut-nakuti kita dengan film tersebut (meski kadang kita tertawa saat melihatnya).
Lain halnya dengan Doly Harahap yang membuat karya-karya foto bagai sebuah fragmen dengan tema “Mencari Alamat”. Di sini Doly mencoba bermain batin dan mengekplorasi fotografi dengan menggunakan lukisan ibundanya (yang telah tiada). Unsur-unsur yang bersifat personal seperti tangan, kain ulos, kursi dan kamera menjadi ungkapan jiwa yang melankolik. Doly mencoba untuk berdialog dengan almarhum ibu yang sangat dicintainya tersebut dan berusaha untuk menghadirkan kembali figur ibundanya dengan harapan agar kerinduannya dapat terobati. Karena bagi Doly, satu-satunya yang nyata pada saat itu adalah rasa rindu yang membelutnya.
Begitu pula dengan karya-karya foto yang lain, masing-masing mempunyai interpretasi yang unik. Seperti Erwin yang cenderung mempertanyakan Hukum Tuhan dengan karya fotonya “Pilihan”, Irwan yang mengingatkan kita tentang bagaimana manusia yang konsumtif menghabiskan kertas dengan menghabiskan pohon-pohon dengan karya fotonya “Aku dan Sebelum Aku”, Ricky Emon yang memvisualkan pergumulan dirinya melawan rasa malas dengan karya fotonya “Picture of Me”, Ojik yang memaparkan tentang sebuah peperangan abadi dalam batin kita dengan karyanya “Baratayudha”, Thata yang mengusung tema gerak tubuh dalam menyikapi alam dan penderita schizophrenia dengan karyanya “The Harmony of Gesticulation” dan Usenk yang mengkontemplasikan segala perasaan yang kerap melekat dalam dirinya dengan karyanya “Antara Rasa, Estetika dan Presisi”.
Memang bila kita menyimak karya-karya foto yang dipamerkan oleh teman-teman Brigadepoto # ini, agaknya akan selalu ada dialog yang terus mengalir. Ketika karya mereka disuguhkan untuk publik, cara menerjemahkan sebuah kegelisahan masing-masing individu secara visual akan berhadapan dengan sejumlah pertanyaan yang mau tidak mau harus diladeni oleh setiap pemotret. Meski begitu, karya-karya kecil mereka patut diacungi jempol. Karena di tengah hingar bingarnya karya fotografi yang cenderung piktorial, eksploitasi model dan euforia digital, masih ada pelita kecil yang menerangi dan menawarkan sebuah genre fotografi yang lain. Oleh karena itu semangat yang muncul seperti ini perlu mendapat sebuah tempat baru. Agar fotografi dapat menjadi ajang kreativitas mahluk-mahluk yang ingin selalu berubah. Sama seperti tetesan air hujan yang dapat melubangi sebuah batu, tidak dengan kekerasan tetapi dengan tetesan yang sering. Mereka inilah yang suatu saat dapat menjadi pahlawan-pahlawan cahaya yang bukan ‘diwarnai’ melainkan ‘mewarnai’ dalam fotografi.
*Tulisan ini diberikan sebagai kata pengantar Pameran Foto “Just Kick The Wall” karya Brigadepoto di Sebuah Garasi Rumah Jalan Awiligar dan dibuka oleh Bapak Ketua RT setempat pada tanggal 28 Maret s/d 4 April 2009.
Bandung, 23 Maret 2009
Tangis Tegar Karst Citatah Di Antara Debu Keangkuhan Manusia
Teks : galih sedayu
Zamannya Tersier kala Miosen Awal (sekitar 30 – 20 juta tahun yang silam). Ketika kawasan alam Karst Citatah yang merupakan perbukitan batu kapur yang membentang dari daerah Tagog Apu, Padalarang, Cipatat, hingga Rajamandala (sekitar km 22 & km 23 dari arah bandung menuju cianjur) terbentuk dari endapan hasil binatang laut dan kini menjadi sebuah memoar keajaiban fenomena alam. Dimana pada kawasan tersebut terdapat berbagai warisan karst yang perlu dilestarikan seperti Pr. Pabeasan dengan tebing 125-nya, Gunung Hawu, Gunung Manik dengan tebing 49-nya, Karang Panganten, Gunung Masigit dan Pr. Pawon dengan guanya yang telah diketahui merupakan situs hunian prasejarah pertama di Jawa Barat. Jauh sebelumnya kawasan Karst Citatah ini merupakan surga yang hijau nan damai di antara aroma segar rerumputan, kicau burung yang bebas lepas beterbangan serta semilir angin yang sejuk menyibakkan rambut. Hingga suatu saat kawasan ini ‘dieksplorasi’ oleh segelintir manusia yang berlindung di bawah secarik kertas yang bernama sertifikat resmi. Demi seonggok batu kapur sebagai bahan pembuat bangunan semisal gedung-gedung megah yang kerap menghiasi wajah metropolitan, pengolahan batu gamping yang kadang menggunakan bahan peledak itu pun diaminkan. Keberadaan karst sebagai pusaka alam tersebut makin lama semakin hilang tertelan gemuruh ledakan dan mesin-mesin raksasa yang haus akan penaklukan. Surga itu pun kini menjadi surga imajiner di antara debu-debu yang menyesakkan nafas.
Adalah Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB), sebuah kelompok kecil independen dan di dalamnya berisi orang-orang sederhana yang sangat peduli terhadap lingkungan alam (khususnya cekungan bandung), yang menggagas sebuah program edukasi visual yaitu Lomba Foto “Selamatkan Karst Citatah’. Program ini selain bertujuan untuk mengarsipkan foto-foto sejarah alam juga bertujuan untuk menyentuh hati masyarakat agar dapat menyuarakan lagu kepedulian terhadap kawasan Karst Citatah yang saat ini semakin mendekati ajal. Melalui media fotografi ini diharapkan agar masyarakat (yang umumnya lebih mudah mencerna sesuatu secara visual ketimbang tulisan) dapat membaca sebuah realitas pahit yang terjadi pada alam tempat mereka berpijak. Dengan harapan bahwa mulai saat ini, bersama-sama kita dapat menyumbangkan segala solusi maupun jawaban dari setiap permasalahan yang timbul akibat kegelisahan Karst Citatah. Meski kita sadar benar bahwa semuanya itu sudah terlambat. Lomba Foto “Selamatkan Karst Citatah” yang diadakan pada periode bulan November – Desember 2008 yang lalu ini diikuti oleh 68 Peserta dengan jumlah karya foto yang masuk sebanyak 575 karya. Agar masyarakat dapat melihat dan mengapresiasikan hasil-hasil karya lomba foto tersebut, Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) bekerjasama dengan Air Foto Network mengadakan sebuah Pameran Foto “Selamatkan Karst Citatah” yang berlangsung pada tanggal 18 Februari 2009 s/d 25 Februari 2009 di Museum Geologi Bandung. Sekitar 50 buah karya yang terdiri dari 9 karya foto para pemenang lomba dari semua kategori yaitu Keindahan, Kerusakan dan Human Interest serta beberapa karya foto yang masuk ke dalam nominasi turut dipamerkan kepada publik.
Sebagai sebuah paparan visual, Pameran Foto ini mudah-mudahan dapat menjadi renungan bersama untuk berbuat sesuatu bagi masa depan Karst Citatah. Jangan sampai suatu saat nanti Karst Citatah hanya menjadi totem kelam sejarah alam bangsa kita seperti halnya yang terjadi di Jogyakarta. Sekitar 4 km arah barat kota ini, di antara Kali Progo dan Kali Opak, bukit gunung kapur yang tadinya begitu luas, kini telah sirna dengan hanya menyisakan seonggok batu gamping sebagai simbol kebesaran alam yang pernah mengukir peradaban anak manusia. Walau sepertinya sulit untuk mencegah kerusakan alam yang terjadi di depan pelupuk mata kita, namun semangat optimis itu harus tetap berdenyut dan menular ke dalam hati sanubari semua orang yang memiliki mata jiwa. Dengan cara apapun, melalui media apapun. Untuk itulah fotografi yang terlahir ke bumi sejak tahun 1839 silam, dapat menjadi medium visual bagi lakon fotografer maupun insan fotografi yang memiliki peran tanggung jawab sosial. Yang tanpa lelah merekam imaji-imaji visual, yang tanpa gentar mengabadikan memori-memori visual, yang tanpa beban menyimpan bingkai-bingkai visual. Demi sebuah tujuan besar dari sebuah langkah kecil yang bernama perubahan. Seorang bijak dulu pernah berujar bahwa “Cara terbaik untuk meramalkan masa depan adalah dengan menciptakannya”. Karenanya marilah kita ciptakan masa depan bagi keabadian Karst Citatah. Agar tetap berdiri tegak dari mulai matahari terbit hingga terbenamnya sang surya. Agar selalu menjadi noktah alam yang tak terhapuskan dari tanah air kita. Yang selalu setia menemani dan menjadi monumen alam sejati bagi keberlangsungan hidup anak dan cucu kita selamanya. Selamatkan Karst Citatah!!
*Tulisan ini diberikan sebagai kata pengantar Pameran Foto “Selamatkan Karst Citatah” yang dilaksanakan oleh KRCB & air pada tanggal 19 s/d 25 Februari 2009 di Museum Geologi Bandung.
Bandung, 5 Februari 2009
copyright (c) Budi Hermawan
copyright (c) astadi priyanto
copyright (c) p meilan
copyright (c) tan nono rahardian
copyright (c) wiwit setyoko
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographers.
Fotografi Cermin Visual Bangsa
Teks : galih sedayu
Perlu disadari bahwa kontribusi disiplin fotografi dengan segala sifatnya yang realistik, praktis dan informatif bagi sejarah peradaban manusia di muka bumi ini tidaklah menjadi kerdil. Sejak ditemukannya fotografi pada tahun 1839 oleh Louis-Jacques-Mandé Daguerre, eforia penemuan yang revolusioner tersebut mulai terasa menjamur ke seluruh antero dunia. Bahkan 2 tahun setelahnya (1841), Bangsa Indonesia pun turut merasakan kehadiran fotografi tersebut dimana fotografer Jurrian Munich menggunakan media fotografi untuk mendokumentasikan temuan arkeologi, tanah dan masyarakat Hindia Belanda di Batavia pada waktu itu.
Fotografi dengan kemampuan optisnya dapat merekam segala peristiwa aktual yang menjadi lembaran sejarah dan mampu menyampaikan sebuah pesan sehingga dapat menciptakan inspirasi dan makna bagi manusia yang melihat meski secara kasat mata. Hal inilah yang menarik hati PT Pos Indonesia untuk membangun citra perusahaan serta memberikan edukasi positif kepada masyarakat Indonesia melalui fotografi. Melalui sebuah program Lomba Foto Nasional, PT Pos Indonesia turut berperan dalam mewarnai dunia fotografi di Indonesia. Dimana Lomba Foto Nasional Pos Indonesia ini telah berjalan selama 3 tahun terhitung sejak tahun 2006.
Lomba Foto Nasional Pos Indonesia pertama pada tahun 2006 yang bertemakan Wajah Optimisme Pos Indonesia Masa Kini diikuti oleh 204 peserta dan jumlah foto yang masuk sebanyak 817 karya (dengan waktu promosi selama 1,5 bulan). Lomba Foto Pos Indonesia 2006 ini menghadirkan Dewan Juri yaitu Andhika Prasetya (Dosen Fotografi) yang kini telah Almarhum, Dudi Sugandi (Redaktur Foto), Heru Agustianto (Pos Indonesia), Oscar Motuloh (Kurator Foto) & Wismanto (Fotografer). Pada tahun 2007 Pos Indonesia mulai memberikan pencerahan baru pada tema lomba foto yang diusungnya yaitu Etos Kerja Orang Indonesia. Tema ini mendapat respon dan tanggapan positif dari insan fotografi Indonesia, terbukti dengan jumlah karya yang masuk sebanyak 2234 karya foto dari 590 peserta (dengan waktu promosi selama 4 bulan). Dewan Juri Lomba Foto Pos Indonesia 2007 ini terdiri dari Prof.Dr. Bambang Sugiharto (Pakar Filsafat), Dudi Sugandi (Redaktur Foto), Heru Agustianto (Pos Indonesia), Julian Sihombing (Wartawan Foto) dan Oscar Motuloh (Kurator Foto). Tahun 2008, untuk ketiga kalinya Pos Indonesia menyelenggarakan Lomba Foto Nasional dengan tema Bumi Merah Putih Harus Hijau yang diikuti oleh 459 peserta dengan jumlah karya yang masuk sebanyak 1496 (dengan waktu promosi selama 1 bulan). Adapun yang menjadi Dewan Juri Lomba Foto Pos Indonesia 2008 ini adalah Dudi Sugandi (Redaktur Foto), Heru Agustianto (Pos Indonesia), Iwan Abdulrachman (Aktivitis Lingkungan Hidup), Kristupa Saragih (Fotografer) dan Oscar Motuloh (Kurator Foto).
Dari sekian banyak karya foto yang masuk panitia, Dewan Juri harus memilih hasil foto terbaik untuk 13 orang pemenang. Karena penilaian foto didasarkan pada 3 hal utama yaitu kesesuaian tema, orisinalitas ide dan eksekusi, maka proses penjurian yang dilakukan sangatlah selektif dan sangat ketat. Banyak hal unik yang terjadi pada saat penjurian. Misalnya saja ada seorang peserta yang mengirimkan karya foto yang menggambarkan foto diri / individu si pemotret beserta teman-temannya yang tengah berpose bagaikan selebritis (cenderung narsis). Dan lebih uniknya lagi bahwa foto tersebut dilaminasi seperti menu makanan warung tenda yang ada jalanan. Lalu ada juga peserta yang bukan mengirim karya foto, malahan mengirim sepucuk surat yang berisi tentang keinginan yang kuat dari si peserta untuk memenangkan hadiah lomba foto tersebut (yang mungkin mereka anggap sebagai sebuah undian berhadiah) dengan bercerita panjang lebar tentang kesulitan hidup yang dialaminya melalui tulisan yang dibuat. Atau ada juga peserta yang mengirimkan sebuah gambar hasil coretan pinsil warna di atas selembar kertas putih (lagi-lagi bukan mengirimkan karya foto).
Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawabnya sebagai suatu perusahaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, PT Pos Indonesia mengadakan sebuah Pameran Hasil Lomba Foto Nasional yang telah dibuat sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2008. Pameran ini berisi karya-karya foto terbaik yang menjadi pemenang lomba di setiap tahunnya. Pameran ini dibuat dengan harapan bahwa PT Pos Indonesia mencoba meninggalkan sebuah jejak langkah di Tanah Air ini melalui catatan visual fotografi yang merepresentasikan kearifan bangsa. Maka dari itu ketika muncul sebuah pertanyaan tentang bagaimana cara penyampaian visual yang terbaik kepada masyarakat, pada saat itulah fotografi hadir dan menjawab dengan lantang. Sehingga masyarakat pada akhirnya dapat menyadari bahwa fotografi sebenarnya merupakan salah satu bentuk budaya imaji lewat gambar, yang dewasa ini telah mengisi jutaan buku di seluruh perpustakaan dunia. Tentunya dengan sebuah harapan bahwa fotografi dapat menjadi cermin diri dan dapat menciptakan medium kontemplasi bagi bangsa kita untuk menjadi yang lebih baik.
*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto Hasil Lomba Fotografi Pos Indonesia (Wajah Optimisme Pos Indonesia, Etos Kerja Orang Indonesia & Bumi Merah Putih Harus Hijau) di Gedung Posindo Bandung tanggal 12 Februari 2008.
Bandung, 28 Januari 2008




